No Time to Die (2021)

Terhitung sejak 2006 sampai 2015, sudah lebih dari 15 tahun Daniel Craig memerankan James Bond, agen mata-mata Inggris legendaris karangan Ian Fleming. Sudah banyak aktor-aktor terkenal silih berganti memerankan James Bond, mulai dari Roger Moore, Sean Connery, Pierce Brosnan dan lain-lain. Masing-masing memiliki ciri khasnya sendiri. Namun sampai saat ini hanya film-film James Bond era Daniel Craig yang memiliki kesinambungan. Antara 1 film Bond dengan film Bond lainnya memiliki 1 benang merah yang sama.

Hanya saja hal ini terkadang membuat penonton agak kebingungan di awal film. Termasuk saya ketika menonton film terakhir dari James Bond era Daniel Craig, No Time to Die (2021). Padahal saya tidak pernah absen menonton film-filmnya James Bond loh.

Sebagai pengantar, James Bond (Daniel Craig) adalah agen rahasia IM6 dengan kode 007. Ia berkali-kali menyelamatkan dunia dari berbagai tokoh jahat. Ketika dirunut, ternyata semuanya bermuara pada Spectre, sebuah organisasi kriminal yang dipimpin oleh Ernst Stavro Bloveld (Christoph Waltz). Pada film James Bond sebelumnya, Bloveld berhasil ditangkap meskipun M harus gugur dan digantikan oleh M yang lain. M adalah sebutan atau kode bagi pimpinan James Bond di IM6. Setelah ini, Bond pun pensium meninggalkan IM6. Sedangkan Spectre masih tetap berdiri meskipun pimpinan mereka sudah dipenjara.

Untuk urusan asmara, Bond jatuh cinta kepada Vesper Lynd (Eva Green) yang Bond temui pada Casino Royale (2006), film pertamanya Bond versi Daniel Craig. Sayang Vesper tewas, dan hal-hal terkait Vesper selalu ada dalam setiap film Bond era Daniel Craig.

Dengan informasi di atas, maka semua karakter di awal No Time to Die (2021) adalah karakter yang baru diperkenalkan. Ketika saya menonton No Time to Die (2021), saya lupa dengan karakter-karakter pada film Bond sebelumnya. Maka, saya agak kebingungan melihat awal film yang menggunakan 2 kali flashback. Tanpa saya sadari kedua flashback tersebut ternyata merupakan perkenalan dari 2 karakter yang benar-benar baru.

Agak klise dengan berbagai film agen rahasia yang pernah saya tonton. Bond harus kembali menyelidiki sebuah kasus besar setelah sebelumnya ia pensiun dari IM6. Sebuah virus yang sangat berbahaya telah dicuri. Tentunya, di tangan yang salah, virus ini dapat membunuh ratusan atau bahkan ribuan umat manusia. Hilangnya virus ini terkait dengan Spectre, Bloveld dan Vesper. Maka Bond pun kembali beraksi menyelamatkan dunia dari seorang penjahat misterius.

Pada awalnya kelupaan saya mengenai kisah Bond sebelumnya dan hadirnya tokoh antagonis baru ini, berhasil membuat film ini seolah penuh misteri. Sebuah misteri yang membuat saya nyaman untuk mengikuti alur cerita sambil mengingat-ingat siapa saja karakter yang muncul. Entah siapa yang benar-benar berbahaya di sini. Apakah Spectre, IM6 atau sebuah organisasi kriminal baru. Saya akui penghianatan berlapis pada No Time to Die (2021) terbilang menghibur. Ini adalah nilai plus yang sangat besar. Saya suka dengan bagaimana berbagai kejutan hadir pada film ini.

Sayang di pertengahan film, semua terungkap dengan sangat jelas. Seorang tokoh antagonis kehilangan kemisteriusannya hehehehe. Tokoh antagonis yang pada awalnya menjanjikan, kemudian menjadi tokoh antagonis standard. Sekilas ia seolah seperti digambarkan seperti Dr. Julius No pada Dr. No (1962), tokoh antagonis pada film James Bond pertama. Lama kelamaan terlohat bahwa motif penjahat Bond kali ini agak absurd dan kurang menarik. Yaaah begitu-begitu saja.

Tokoh jahat pada No Time to Die (2021) melakukan kesalahan-kesalahan klasik. Ia terlalu banyak berbicara ketika memiliki kesempatan untuk membunuh Bond. Kemudian beberapa adegan aksinya masih seperti film aksi tahun 90-an. Ketika lawan Bond menembak dengan jangkauan yang baik dan jelas, tembakannya meleset. Tapi kalau giliran Bond, …. yah begitulah.

Terlepas dari beberapa kelemahan No Time to Die (2021), saya tetap suka dengan plot yang penuh misteri dengan berbagai kejutan yang tidak saya duga. No Time to Die (2021) masih layak untuk memperoleh nilai 3 dari skala maksimum 5 yang artinya “Lumayan”. Ini merupakan film James Bond terakhir yang diperankan Daniel Craig. Tapi sayang ini bukanlah sebuah film penutup yang spektakuler. Kita tunggu saja, siapa yang akan memerankan James Bond berikutnya.

Sumber: http://www.mgm.com

Encanto (2021)

Pada pergantian tahun 2021 menuju 2022 ini Disney dan Pixar melahirkan film animasi dengan judul Encanto (2021). Kali ini film animasinya tidak mengisahkan mengenai kerajaan atau putri-putrian. Dengan latar belakang daerah Kolombia pada era peperangan, Encanto (2021) mengisahkan keluarga Madrigal. Karena kerusuhan dan peperangan, keluarga Madrigal mengungsi ke sebuah wilayah terpencil di balik pegunungan. Melalui sebuah peristiwa menyedihkan, mereka menemukan sebuab rumah dan sebuah lilin ajaib.

Rumah baru keluarga Madrigal seolah hidup dan memiliki nyawa. Di dalamnya terdapat banyak kamar dengan pintu yang unik. Mayoritas pintu-pintu tersebut bercahaya dan menunjukkan kekuatan si pemilik kamar. Keluarga Madrigal memang memiliki kekuatan unik secara turun temurun. Ketika sudah mencapai umur tertentu, setiap anggota keluarga Madrigal menjalankan sebuah upacara. Upacara tersebut dilakukan di dalam rumah dan di depan lilin ajaib. Ini bukan upacara pesugihan atau babi ngepet yah :’D.

Setelah upacara selesai, anak-anak keluarga Madrigal memiliki kekuatan ajaib dan pintu kamar mereka pun akan bercahaya terang. Setiap keturunan keluarga Madrigal memiliki kekuatan yang berbeda. Ada yang super kuat, ada yang dapat menumbuhkan berbagai tanaman, ada yang mampu melihat masa depan, ada yang dapat mengendalikan cuaca, ada yang dapat menyembuhkan berbagai penyakit, ada yang dapat merubah wujud, ada yang memiliki pendengaran super, dan ada yang dapat berbicara dengan hewan. Mereka semua menggunakan keajaiban tersebut untuk membantu masyarakat sekitarnya.

Tak lama, lingkungan sekitar keluarga Madrigal dapat tumbuh dan berkembang. Keluarga Madrigal pun menjadi pilar penyangga kehidupan masyarakat. Seluruh penduduk menghormati keluarga Madrigal.

Tinggal di tengah-tengah keluarga terpandang yang memiliki kekuatan ajaib, akan menjadi beban bagi Mirabel Madrigal (Stephanie Beatriz). Ia adalah satu-satunya anggota keluarga Madrigal yang nampak tidak memiliki kekuatan ajaib. Tanpa Mirabel sadari, saudara-saudarinya pun memikul beban karena kekuatan ajaib yang mereka miliki. Memiliki kekuatan ajaib atau tidak, setiap individu mengalami tekanan tertentu dalam mengarungi badai kehidupan. Apakah mereka menjadi seseorang karena keajaiban mereka atau karena kualitas diri sendiri?

Tidak banyak yang tahu, tapi rumah keluarga Madrigal memiliki keretakan yang semakin hari semakin banyak. Kepala keluarga Madrigal sendiri diam-diam merasa bahwa keajaiban keluarga mereka sedang sekarat. Mirabel pun harus bertindak untuk menyelamatkan keajaiban keluarga Madrigal. Berdasarkan penglihatan pamannya Mirabel yang dapat meramal, kehancuran dan keberlangsungan keajaiban ini berkaitan erat dengan Mirabel. Sayangnya, sang paman menghilang tak lama setelah ia melihat masa depan Mirabel.

Alur cerita Encanto (2021) berhasil membuat saya penasaran karena misteri bagaimana cara Mirabel menyelamatkan keajaiban keluarganya, kemudian mengapa paman Mirabel yang dapat meramal justru menghilang tanpa jejak, terakhir … sepanjang film saya ingin mengetahui apa sih kekuatan atau keistimewaan Mirabel. Lha masak tokoh utamanya malah tidak memiliki kekuatan apa-apa, hehehehehe. Pada akhirnya semua dapat terjawab dengan sederhana. Film ini memang mengandung misteri tapi misterinya tidak rumit kok. Semua sangat mudah dipahami dan agak mudah ditebak di pertengahan film.

Film ini didukung oleh aneka nyanyian yang bersahabat bagi kuping saya. Encanto (2021) memang terbilang film animasi yang banyak menggunakan nyanyian. Di tengah-tengah film akan banyak sekali nyanyian. Biasanya saya kurang suka dengan hal ini. Tapi spesial untuk Encanto (2021), nyanyian-nyanyian tersebut mampu menghibur dan enak di kuping saya :).

Ditambah dengan animasi yang cantik, Encanto (2021) semakin nyaman untuk dilihat. Kali ini Disney dan Pixar bermain dengan warna-warni yang cerah dan sangat halus. Film ini nampak dipersiapkan dengan sangat serius.

Saya sendiri ikhlas untuk memberikan Encanto (2021) nilai 4 dari skala maksimum 5 yabg artinya “Bagus”. Dengan pesan moral akan keluarga dan kemampuan diri sendiri, Encanto (2021) sangat layak untuk ditonton bersama seluruh anggota keluarga.

Sumber: http://www.encantoencines.com

Venom: Let There Be Carnage (2021)

Ketika masih kecil dulu, saya sering memainkan Spider-Man and Venom: Separation Anxiety di console Sega Mega Drive 2. Sebenarnya, permainan itulah yang memperkenalkan Venom kepada saya. Tak lupa, lawan terakhir permainan tersebut pun ikut memperkenalkan saya kepada Carnage. Begitu Venom: Let There Be Carnage (2021), tentunya film ini lanngsung masuk ke dalam daftar tonton saya.

Carnage sebenarnya memiliki kemampuan yang sangat mirip dengan Venom. Hanya saja, kali ini Carnage bersimbiosis dengan Cletus Kasady (Woody Harrelson), seorang pembunuh berantai. Dengan demikian Carnage dan Cletus hidup di dalam 1 tubuh yang sama. Baik Carnage mapun Venom, memang merupakan mahluk luar angkasa yang membutuhkan inang atau tubuh manusia untuk hidup. Carnage sendiri lahir dari ketika bagian dari Venom tercampur dengan darah Cletus melalui gigitan. Terlahir dan hidup di dalam tubuh seorang pembunuh berantai melahirkan seorang Carnage yang kejam dan tega berbuat apa saja tanpa batasan apapun.

Sangat jauh berbeda dengan Venom yang hidup di dalam tubuh Eddie Brock (Tom Hardy). Eddie memang tidak ramah atau baik hati seperti Peter Parker. Namun, Eddie maih memiliki moral dan kebaikan jauh di dalam lubuk hatinya. Hal inilah yang membuat Venom terpengaruh untuk membatasi diri dari berbuat semena-mena. Venom selalu lapar dan haus akan daging dan darah manusia. Selama ini, Eddie selalu menahan Venom dari berbuat kejam. Ia bahkan berusaha mengganti hidangan makan malam Venom dari manusia menjadi ayam atau coklat.

Lama kelamaan Venom merasa bahwa Eddie membelenggunya. Bila terus menerus bersama dengan Eddie, Venom tidak dapat menjadi diri sendiri. Eddie sendiri sudah muak dengan berbagai kekacauan yang Venom lakukan. Padahal tanpa Venom dan Eddie sadari, mereka memang saling membutuhkan satu sama lain. Hubungan benci tapi sayang inilah yang menjadi inti dari Venom: Let There Be Carnage (2021).

Eddie dan Venom pun berusaha memperbaiki hubungan mereka ketika Cletus dan Carnage memburu Eddie. Ternyata Eddie adalah reporter yang bertanggung jawab dalam menyingkap lokasi para korban dari kekejaman Cletus. Tak lupa Cletus dan Carnage dibantu pula oleh Frances Barrison / Shriek (Naomie Harris). Walau nampak seperti 2 lawan 1, sebenarnya duo Venom dan Eddie jauh lebih kuat bila mereka bisa bersatu.

Komedi segar antara Eddie dan Venom, menghiasi jalannya film ini. Semua hadir disaat yang tepat sehingga Venom: Let There Be Carnage (2021) berhasil membuat saya tertawa beberapa kali. Akting Tom Hardy dalam memerankan Eddie yang praktis banyak berbicara sendiri, sunggu prima dan menonjol. Saya sadar betul bahwa formula ini sudah pernah dilakukan pada Venom (2018). Tapi saya masih tetap menikmatinya dan sama sekali tidak merasa bosan.

Jalan cerita yang mudah ditebal dan akhir yang sudah jelas terlihat pun, seolah tidak membuat film ini menjadi membosankan. Eddie pada semesta yang satu ini jauh lebih menyenangkan dibandingkan Eddie pada semesta Trilogi Spider-Man versi Sam Raimi yang hadir pada tahun 2007 lalu.

Saya ikhlas untuk memberikan Venom: Let There Be Carnage (2021) nilai 4 dari skala maksimum 5 yang artinya “Bagus”. Akibat film pertama dan kedua Venom sukses di pasaran, kabarnya akan ada film kerita Venom yang melibatkan Multiverse. Konon pada akhirnya Venom akan kembali bertemu dengan Spider-Man. Wah, kemungkinan saya akan menonton kerjasama Venom dan Spider-Man seperti permainan yang saya mainkan di console e Sega Mega Drive 2 dahulu kala ;).

Sumber: http://www.venom.movie

Dune (2021)

Novel dan film Dune sebenarnya sudah saya kenal tapi saya enggan menonton atau membacanya. Terus terang franchise Dune kalah populer dibandingkan dengan Star Wars yang bergenre kurang lebih sama. Kalau fanchise Star Wars diawali oleh film, maka Dune diawali oleh novel karangan Frack Herbert yang populer dan memenangkan berbagai penghargaan di era tahun 60-an. Kemudian Dune pun diangkat ke layar lebar pada 1984 oleh David Lynch. Karena Dune (1984) kurang mendapatkan sambutan yang baik, maka film ini tidak ada kelanjutannya. sampai pada tahun 2000 mulai hadir mini seri Dune yang terbilang cukup sukses. Saya sendiri belum lahir dan masih kecil ketika novel dan film-film Dune hadir. Apalagi saya lebih mengenal Star Wars dan Star Trek dibanding Dune. Maka saya pun tidak terlalu antusias dengan kehadiran Dune (2021). Apakah Dune (2021) akan mengulang kesalahan Dune (1984)?

Sekilas, saya pikir Dune (2021) akan mengisahkan Novel pertama Dune dari awal sampai akhir. Apalagi durasi Dune (2021) adalam lebih dari 2 jam. Namun, beberapa saat setelah Dune (2021) dimulai, terdapat tulisan kecil yang berbunyi “part one”. Ahahahahaha, ini merupakan keterangan kecil yang menyatakan bahwa Dune (2021) tidak akan mengisahkan semuanya. Paling tidak film ini merupakan awalan dari sebuah kisah yang panjang dengan intrik di mana-mana. Sisi negatifnya, sopasti akhir dari Dune (2021) seolah masih separuh menggantung. Sisi positifnya, Dune (2021) belajar dari kesalahan Dune (1984) yang berusaha mengisahkan 1 novel ke dalam 1 film. Kisah Dune terlalu kompleks, maka sangat mustahil untuk mengisahkan semuanya hanya dalam 1 film saja. Memimal dan memilih bagian mana saja yang dikisahkan tentunya tetap menjadi tantangan tersendiri bagi Denis Vileneuve, sang sutradara Dune (2021).

Sebagai pengantar, Dune sebenarnya adalah sebutan bagi Planet Arrakis yang dipenuhi oleh gurun pasir. Di dalam pasir-pasir Planet tersebut terdapat rempah-rempah yang sangat berharga. Hal inilah yang membuat Arrakis dikuasai oleh sebuah kekaisaran antar galaksi. Kekaisaran ini di pimpin oleh beberapa keluarga bangsawan. Keluarga Corino, Ateides dan Harkonnen adalah 3 keluarga bangsawan yang paling berpengaruh di dalam kekaisaran.

Keluarga Corino merupakan keluarga dengan kekuatan militer terkuat dan sudah ratusan tahun memimpin kekaisaran. Kemudian, sejak ratusan tahun yang lalu pula, Keluarga Ateides mengusai Planet Caladan yang penuh dengan laut dan menjadikan planet tersebut sebagai rumah mereka. Sementara itu keluarga Harkonnen pun sudah ratusan tahun menguasai Planet Arrakis dan menjadikan Planet tersebut seolah seperti planet jajahan. Selama itu pulalah penduduk asli Arrakis pun diperlakukan sewenang-wenang. Harapan para penduduk lokal ini hanyalah pada sebuah ramalan akan kebebasan.

Konon, pada suatu masa, akan hadir seseorang dari luar Planet Arrakis dengan ciri-ciri tertentu yang akan membebaskan Arrakis dari belenggu penjajahan. Sang pembebas Planet Arrakis ini bahkan disebut Mahdi. Dune memang menggunakan beberapa istilah Islam seperti Mahdi dan jihad. Namun Dune bukanlah kisah mengenai Islam. Dune tetap merupakan kisah fiksi ilmiah yang tidak ada hubungannya dengan Islam. Apakah film ini menyinggung Islam? Sepenglihatan saya sih tidak. Dune (2021) justru banyak sekali memangkas unsur kultur Islam yang ada pada versi novelnya. Mungkin hal ini disebabkan karena agama berpotensi menjadi isu yang sensitif. Dari pada mencari masalah, lebih baik mencari aman saja hehehe.

Tapi bagaimanapun juga, Dune (2021) kerap menggunakan istilah jihad yang kelak akan Mahdi pimpin. Harapan akan kedatangan Mahdi semakin terlihat ketika Keluarga Ateides mulai menguasai Arrakis. Film Dune (2021) sendiri diawali dengan bagimana Keluarga Ateides datang ke Arrakis.

Bagaimana awal Keluarga Ateides menguasai Arrakis? Hal ini diawali oleh persaingan politik di dalam kekaisaran. Kiprah keluarga Ateides belakangan sangat menonjol. Hal ini menimbulkan kecemburuan dari Kaisar Shaddam dari Keluarga Corino yang menguasai kekaisaran. Maka, secara mengejutkan, Sang Kaisar menyerahkan penguasaan dan pengelolaan Planet Arrakis kepada keluarga Ateides. Keluarga Harkonnen pun harus menyingkir dan melepaskan Planet tersebut. Keluarga Ateides sadar bahwa ini bukanlah anugerah. Bisa jadi ini merupakan manuver Sang Kaisar untuk menyingkirkan Keluarga Ateides.

Di dalam rombongan keluarga Ateides yang datang ke Arrakis, terdapat Paul Atteides (Timothée Chalamet). Paul adalah anak dari kepala Keluarga Ateides dan seorang Bene Gesserit. Di dalam Dune, Bene Gesserit semacam Jedi di Star Wars. Bene Gesserit pada dasarnya merupakan perkumpulan persaudaraan wanita yang memiliki kemampuan psikis di luar nalar manusia. Perkumpulan ini mendesain pernikahan agar menghasilkan garis keturunan yang unggul. Hal ini dilakukan bertahun-tahun hingga ibu dari Paul Ateides menutuskan untuk mengajarkan kemampuan Bene Gesserit kepada Paul. Para tetua Bene Gesserit pun khawatir akan hal ini karena mereka melihat bahwa Paul menyimpan sebuah potensi yang sangat besar. Mereka pun ragu apakah Paul akan mampu mengendalikan kekuatannya di masa depan. Kekuatan yang besar, tentunya tanggung jawabnya besar pula.

Paul tentunya menjadi karakter utama pada Dune (2021). Kalau di Star Wars, Paul itu seperti Luke Skywalker. Otomatis, from zero to hero sopasti menjadi bagian yang melekat pada Dune (2021). Saya suka bagaimana Paul berkembang dan semakin kuat.

Dunia Dune yang kompleks pun berhasil dijelaskan dengan sangat baik. Tidak ada kebingungan ketika sedang menonton Dune (2021). Film ini berhasil memberikan informasi yang tepat sehingga saya sendiri ikut tertarik dengan keanekaragaman yang ada pada Dune (2021).

Akhir Dune (2021) yang agak menggantung, bukanlah masalah besar. Karena jalan ceritanya menarik, tak terasa 2 jam lewat sudah dilalui. Pada akhirnya saya sudah tak sabar untuk menonton kelanjutan Dune (2021).

Saya pribadi ikhlas untuk memberikan Dune (2021) nilai 4 dari skala maksimum 5 yang artinya “Bagus”. Ini merupakan awal yang baik bagi film-film Dune berikutnya.

Sumber: http://www.dunemovie.com

Serial What If…?

Melalui Serial Loki, kita diperkenalkan lebih jauh mengenai multiverse-nya MCU (Marvel Cinematic Universe). Multiverse dapat diartikan bahwa setiap peristiwa dan segala hal memiliki alternatif lain di dunia lain yang berjalan bersamaan. Jadi, kisah para superhero Marvel Comics bisa saja memiliki alur yang berbeda di dunia paralel yang berbeda. Semua ini diawasi oleh karakter yang bernama The Watcher.

Melalui mata The Whatcher inilah Serial What If…? dikisahkan. Serial ini mengambil jalur alternatif dari potongan peristiwa pada berbagai film-film superhero Marvel Comics. Perbedaan sedikit saja, dapat membuat jalan hidup sebuah dunia berubah 180 derajat.

Tidak semua kisah pada What If…? berakhir bahagia. Beberapa berakhir tragis atau bahkan menggantung. Bagi penonton yang mengikuti setiap film layar lebarnya superhero Marvel, Serial What If…? memiliki daya tarik tersendiri. Melihat alternatif yang sangat berbeda dari sebuah kisah di 1 film Marvel, maka terbayang sudah perubahan yang terjadi pada kisah-kisah di film Marvel lainnya, kalau ada. Film-film superhero Marvel memang selalu saling berkaitan.

Sayang, kisahnya terkadang agak klise dan membosankan. What If…? kadang terkesan hanya menjual kisah alternatif dari berbagai tokoh Marvel Comics yang sudah difilmkan. Kisah alternatifnya sendiri ada yang terasa seperti pengulangan dan mudah ditebak. Penonton pun sering dibuat menebak sendiri akhir dari kisahnya. Yah syukur-syukur semua penonton hafal dengan cerita film MCU yang berkaitan dengan kisah tersebut. Kalau tidak, ketertaringan akan kisah alternatif tersebut bisa jadi berkurang.

Oh yaaa, serial ini merupakan film animasi yaaa. Animasinya sih terbilang bagus dan unik. Gayanya merupakan perpaduan anatar anime dengan kartun Amerika Klasik. Saya suka dengan bagaimana animasinya berjalan.

Dengan demikian, saya rasa Serial What If…? masih layak untuk memperoleh nilai 3 dari skala maksimum 5 yang artinya “Lumayan”. Bisalaaah dijadikan selingan sambil menunggu film MCU berikutnya.

Sumber: http://www.marvel.com

Free Guy (2021)

Dunia video game terus berkembang hingga melahirkan berbagai fitur yang canggih. Permainan pun lama kelamaan semakin terlihat nyata bagi para pemainnya. Hal inilah yang terjadi pada permainan Free City pada film Free Guy (2021).

Free City digambarkan sebagai sebuah video game yang sangat populer. Di sana, semua pemain diperbolehkan melakukan apa saja. Pemain bahkan sampai diperbolehkan melakukan hal-hal yang tidak boleh dilakukan di dunia nyata seperti merampok, membunuh, mencuri dan lain-lain. Singkat kata, Free City adalah sama persis dengan Grand Theft Auto hehehehe.

Dalam setiap petualangan, seorang pahlawan tentunya membutuhkan korban, penjahat atau figuran. Disinilah peran NPC (Non Playable Character) dibutuhkan. NPC merupakan karakter-karakter yang dikendalikan oleh komputer agar membuat permainan terasa lebih seru.

Sebut saja Guy (Ryan Reynolds) adalah salah satu NPC dari video game Free City. Setiap hari, setiap saat, Guy dan kawan-kawan NPC-nya melakukan rutinitas yang sama, berulang-ulang. Pada suatu waktu, Guy tiba-tiba memiliki keinginan untuk melakukan hal yang berbeda. Ia bahkan menggunakan kemampuannya untuk menyelesaikan misi-misi yang dilakukan oleh pemain. Seketika, Guy menjadi tokoh video game terpopuler di dunia nyata. Namun tak lama lagi, dunia Guy akan hancur dan ia harus menyelamatkannya.

Pada awalnya, ketika melihat trailer-nya, saya merasa bahwa Free Guy (2021) agak mengada-ada. Namun, ketika saya melihat filmnya secara keseluruhan, semua sangat masuk akal. Alasan mengapa dunia Guy akan hancur dan mengapa Guy seketika memiliki keinginan, sangat logis dan menarik untuk diikuti. Di dunia nyata, di luar Free City, ternyata memang ada perseteruan lain yang melibatkan keserakahan dan penghianatan.

Semuanya dibalut oleh komedi segar yang menghibur. Jadi, Free Guy (2021) tidak terasa terlalu serius dan membosankan. Saya suka dengan penempatan komedi yang tepat pada film ini.

Fakta bahwa Free City dibuat sangat mirip dengan Grand Theft Auto membuat saya dapat lebih relate dengan film ini. Kok bisa? Saya sering bermain video game Grand Theft Auto ketika masih kuliah dulu. Permaian tersebut memang sempat populer dahulu kala. Sampai sekarang pun masih banyak yang memainkan Grand Theft Auto.

Saya pribadi ikhlas memberikan Free Guy (2021) nilai 4 dari skala maksimum 5 yang artinya “Bagus”. Konon film yang satu ini akan ada sekuelnya. Kita tunggu saja ;).

Sumber: http://www.20thcenturystudios.com

Shang-Chi and the Legend of the Ten Rings (2021)

Shang-Chi dan organisasi Ten Rings terasa agak asing di telingan saya. Sebagai superhero, nama Shan-Chi tidak terlalu terkenal meskipun konon Shang-Chi berasal dari Asia. Ten Rings pun kalah pamor kalau dibandingkan dengan S.H.I.E.L.D. dan Hydra.

Ten Rings merupakan organisasi rahasia yang dipimpin oleh Xu Wenwu (Tony Leung). Ia memperoleh kekuatan dahsyat dan keabadian dari 10 gelang yang melingkar di tangannya. Teman-teman yang suka membaca komik Marvel tentunya langsung sadar bahwa Xu Wenwu ini lebih populer dengan nama Mandarin. Mandarin adalah tokoh antagonis yang sering berseteru dengan Iron Man.

Kalau dirunut, Ten Rings sebenarnya sudah lama hadir di dalam MCU (Marvel Cinematics Universe). Organisasi ini diselipkan pada Iron Man (2008), Iron Man 3 (2013) dan Ant-Man (2015). Wah kok bisa?? Pada Iron Man (2008), Teng Rings adalah organisasi yang menculik Tony Stark di gurun pasir pada awal film. Kemudian pada Iron Man 3 (2013) nama Ten Rings beserta Mandarin kembali muncul. Tapi sayang, yang muncul kali ini adalah Ten Rings dan Mandarin Palsu. Kemudian, pada Ant-Man (2015) Ten Rings kembali hadir sebagai organisasi rahasia yang berbisnis dengan Yellowjacket, lawan Ant-Man.

Namun, Ten Rings memang terasa sangat tersembunyi sekali. Setelah pertama kali muncul pada 2013 melalui Iron Man (2008), baru 8 tahun kemudianlah Ten Rings dikisahkan dengan sangat terbuka pada Shang-Chi and the Legend of the Ten Rings (2021).

Loh, lalu siapakah Sang-Chi? Sang-Chi (Simu Liu) merupakan anak dari Xu Wenwu, pendiri sekaligus pemimpin Ten Rings. Sejak kecil, Sang-Chi sudah dididik dengan keras. Kemampuan ilmu bela diri Sang-Chi jauh di atas rata-rata anggota Ten Rings lainnya. Namun, Sang-Chi memilih untuk kabur dan keluar dari Ten Rings. Ia kurang setuju dengan bagaimana Ten Rings dijalankan.

Sang-Chi hidup di Amerika dengan menggunakan nama samaran Shaun. Di sana ia menjalin persahabatan dengan Katy (Nora Lum). Keduanya lalu harus berhadapan dengan para anggotan Ten Rings yang mendadak datang dan hendak menangkap Sang-Chi. Tak disangka hal ini berkaitan dengan mendiang ibu Sang-Chi, dan sebuah desa misterius yang tersembunyi pada dimensi lain.

Semua serba-serbi misteri ini gagal membuat saya penasaran. Inti dari Shang-Chi and the Legend of the Ten Rings (2021) memang bukanlah penyelidikan sebuah misteri. Film ini sebenarnya ingin berbicara mengenai keluarga. Tapi sayangnya, hubungan keluarga pun kurang terasa di sana. Saya sendiri tidak terlalu peduli dengan hubungan antara Sang-Chi dengan ayahnya.

Yang saya lihat adalah bagaimana terjadi perubahan pada Sang-Chi. Mulai dari ahli beladiri biasa. Perlahan berubah menjadi superhero dengan berbagai kekuatan magis. Yaaah semacam “common to hero” lah, bukan “zero to hero”.

Adegan perkelahian pada film ini mengigatkan saya kepada film-film kung-fu tahun 90-an yang dibintangi Jet Lee dan Andy Law. Apalagi pemeran ayah Sang-Chi adalah Tony Leung, pemeran Thio Bu Ki pada Serial Golok Pembunuh Naga yang sempat hadir di Indosiar pada sekitar tahun 1995. Waaah, nostalgila sekali hehehehe. Rasanya, adegan aksi menjadi keunggulan utama dari Shang-Chi and the Legend of the Ten Rings (2021).

Seperti film-film superhero Marvel Comics lainnya, unsur komedi ikut dihadirkan. Kali ini semua itu hadir melalui tokoh Katy yang diperankan Nora Lum atau Awkwafina. Akting Nora sebagai pembawa kejenakaan sudah tidak diragukan lagi. Beruntung akting Tony Leung dan Simu Liu pun mampu membuat film ini enak untuk diikuti.

Akhir kata, saya ikhlas memberikan film MCU Asia pertama ini nilai 3 dari skala maksimum 5 yang artinya “Lumayan”. Sekali lagi, Marvel berhasil menanamkan sesuatu hal yang membuat film-filmnya dapat berhubungan tanpa harus dibuat seperti sinetron yang terus bersambung.

Sumber: http://www.marvel.com

The Suicide Squad (2021)

Masih ingat dengan Suicide Squad (2016)? Film superhero DC Comics yang tidak terlalu sukses, meskipun sudah ada aktor sekelas Will Smith di dalamnya. Saya sendiri tidak berharap banyak terhadap sekuelnya, yaitu The Suicide Squad (2021). Apalagi, sekilas kok sepertinya mirip yah. The Suicide Squad (2021) masih mengisahkan Task Force X yang dipimpin oleh Amanda Waller (Viola Davis). Amanda merekruit berbagai narapidana berkekuatan khusus untuk melaksanakan misi yang sangat berbahaya. Film ini kembali menampilkan berbagai karakter DC Comics yang tidak terlalu terkenal. Captain Boomerang (Jai Courtney), Kolonel Rick Flag (Joel Kinnaman) dan Harley Quinn (Margot Robbie) kembali hadir di sini. Sementara ini karakter Deadshot (Will Smith) pada Suicide Squad (2016), tidak hadir dan digantikan oleh Bloodsport (Idris Elba). Deadshot dan Bloodsport memiliki atribut, kisah dan kemampuan yang sangat mirip. Keduanya pun sama-sama menjadi figur pemimpin Task Force X, pada 2 film yang berbeda tentunya.

Bagaimana dengan lawan dari Task Force X kali ini? Agak standard siy, sebuah monster super besar & super kuat yang dapat menghancurkan dunia. Bagaimana pertemmpuran terjadi pun sebenarnya agak mudah ditebak. Sudah banyak sekali film-film superhero yang mengambil topik seperti ini. Apakah The Suicide Squad (2021) akan sedatar Suicide Squad (2016)?

Kali ini pihak DC Comics melakukan sesuatu yang berbeda. Kursi sutradara The Suicide Squad (2021) kali ini diduduki oleh James Gunn yang sukses menggarap film superhero Marvel seperti Guardians of the Galaxy (2014). Dengan demikian, The Suicide Squad (2021) hadir dengan nuansa komedi yang lebih kental. film ini pun tidak segelap atau sekelam film-film DC Comics sebelumnya. Jalan ceritanya memang sangat mudah ditebak, namun eksekusinya terbilang unik.

James Gunn tidak segan-segan mematikan berbagai karakter DC Comics pada film ini. Semua dilakukan tanpa melihat apakah karakter tersebut diperankan oleh aktor/aktris ternama atau tidak. Sepanjang film, saya merasa bahwa siapapun bisa saja tiba-tiba tewas. Toh mereka semua memang ibaratnya hanya karakter kelas B, bukan kelas premium seperti Superman atau Batman hehehehe.

Saya suka dengan komedi dan berbagai hal unik yang James Gunn bawa ke dalam The Suicide Squad (2021). Tapi film ini tetap saja menghadirkan adegan aksi yang tidak spesial dan jalan cerita yang tetap begitu-begitu saja. Maka, The Suicide Squad (2021) hanya dapat memperoleh nilai 3 dari skala maksimum 5 yang artinya “Lumayan”. Kali ini DC Comics menghadirkan film komedi superhero yang tidak terlalu serius, sesuatu yang layak untuk ditonton sedari menunggu film Batman terbaru dirilis ;).

Sumber: http://www.thesuicidesquad.net

The Hunt (2020)

The Hunt (2020) mengisahkan perburuan manusia oleh sekelompok orang kaya. Entah apa alasannya, terjadu penculikan terhadap sekelompok orang yang tidak saling kenal. Mereka kemudian dilepaskan di sebuah area misterius untuk diburu.

Para memburu menggunakan berbagai taktik. Mulai dari yang langsung tembak menggunakan senjata api, granat dan panah. Sampai ada yang melakukan penyamaran sebelum membunuh demi kesenangan semata.

Perlahan, siapa dan kenapa semua ini terjadi dapat terkuak. Para pemburu yang pada awalnya seolah mengetahui segalanya, ternyata melakukan kesalahan fatal. Kesalahan fatal yang tidak disadari sejak awal. Sesuatu yang membuat acara perburuan mereka kacau balau.

Bagaimana para pemburu melakukan perburuan ada yang menarik, tapi ada pula yang klise dan membosankan. Tapi saya suka bagaimana para karakter antagonis termakan permainan mereka sendiri. Pada akhirnya, The Hunt (2020) memang berhasil memberikan akhir yang memuaskan.

Sayang unsur misteri pada film ini seilah menguap dan kurang menarik pada pertengahan film. Saya sendiri menjadi kurang peduli mengenai alasan di balik perburuan tersebut.

Maka, saya rasa The Hunt (2020) layak untuk memperoleh nilai 3 dari skala maksimum 5 yang artinya “Lumayan”. Not bad laaaah, dapat dijadikan selingan setelah WFH ;).

Sumber: http://www.uphe.com

My Little Pony: A New Generation (2021)

Masih ingat dengan Putri Twilight Sparkle dan kawan-kawan pada My Little Pony? Franchise My Little Pony telah beberapa kali mengalami reinkarnasi dan sukses menarik perhatian anak-anak. Dengan tema persahabatan yang terus diusung, Twilight dan kawan-kawan berhasil menjadi idola yang baik.

Pada 2021 ini, franchise My Little Pony melakukan reinkarnasi yang cukup berani. Mereka mencoba mengubah latar belakang beserta karakter utamanya dengan lebih frontal. Hal ini tentunya dapat memberikan peluang bagi cerita yang lebih segar dan berbeda.

Twilight dan kawan-kawan tidak akan hadir secara langsung pada My Little Pony: A New Generation (2021). Latar belakang film My Little Pony ini adalah keadaan dunia jauh di masa setelah era Twilight dan kawan-kawan. Sebuah era dimana persahabatan Twilight dan karakter My Little Pony lainnya telah menjadi legenda. Sayang, legenda Twilght dan kawan-kawan ini lama kelamaan sudah merubah menjadi mitos. Sebuah mitos yang diragukan kebenarannya.

Kok bisa? Agak berbeda dengan dunia My Little Pony yang lama. Dunia My Little Pony yang baru ini adalah dunia dimana pony tidak lagi bersatu dan hidup berdampingan. Pada dasarnya pony terbagi 3 yaitu pony bumi, unicorn dan pegasus. Semua hanya karena perbedaan ciri fisik dan legenda akan kemampuan dan kebiasaan yang berbeda. Perbedaan yang berhasil memecah belah para pony.

Sang karakter utama hadir sebagai seorang pony yang percaya bahwa era Twilight dan kawan-kawan dapat terjadi kembali. Ia percaya bahwa semua pony dapat bersahabat tanpa saling curiga.

Belakangan, semakin terlihat bahwa semua pony sama-sama hidup dibalik rasa curiga dan berbagai kebohongan. Sesuatu yang dapat diperbaiki hanya dengan persahabatan. Mirip seperti pendahulunya, My Little Pony: A New Generation (2021) berbicara lantang mengenai persahabatan.

Hanya saja, My Little Pony: A New Generation (2021) didukung oleh animasi yang sangat cantik. Saya suka sekali dengan animasinya yang lebih 3 dimensi dan sangat halus. Untuk film animasi keluaran 2021, film ini terbilang bagus sekali kualitas animasinya.

Sayang cerita film ini mudah ditebak dan ada beberapa bagian film yang agak bertele-tele. Semua karakternya dibuat relatif baik semua. Tidak ada karakter yang mutlak jahat pada film ini. Yang ada hanyalah karakter yang khilaf saja hehehehehehe. Yahhhh, pada intinya semua hanyalah salah faham saja.

Secara keseluruhan, film My Little Pony generasi terbaru ini masih layak untuk memperoleh nilai 3 dari skala maksimum 5 yang artinya “Lumayan”. Sementara ini, anak saya masih tetap lebih senang dengan Pinky Pie, karakter My Little Piny generasi yang sebelumnya. Karakter-karakter pada My Little Pony: A New Generation (2021) masih belum ada yang bisa menggantikannya.

Sumber: mylittlepony.hasbro.com