Perempuan Tanah Jahanam (2019)

Pada tahun 2019 lalu, Joko Anwar kembali hadir dengan sebuah film yang beraroma thriller, horor dan misteri yaitu Perempuan Tanah Jahanam (2019). Hhhmmm, judul yang aneh, kalau dibaca, ritme judul tersebut memang pas, tapi bagaimana dengan maknanya? Setelah saya menonton filmnya, yahhh memang sih perempuan dan tanah menjadi bagian dari film tersebut. Kejahanaman pun memang ada pula pada Perempuan Tanah Jahanam (2019).

Judul internasional dari film inipun tidak kalah uniknya, Impetigore. Jangan coba-coba mencari arti kata Impetigore di kamus bahasa manapun. Karena kata-kata ini adalah buatan Joko Anwar yang menggabungkan 2 kata yaitu impetigo dan gore. Impetigo merupakan penyakit kulit berupa nanah dan bercak merah yang diderita oleh anak-anak. Sedangkan gore merupakan sebuah kata yang identik dengan kesadisan yang luar binasaaa. Perempuan Tanah Jahanam (2019) memang memiliki adegan sadis di dalamnya, tapi masih di dalam batas yang wajar ya. Yaaah tingkat kesadisannya jauh di bawah Saw (2004), A Serbian Film (2010) dan kawan-kawan.

Kalau saya rangkum, kata perempuan, tanah, impetigo, gore dan jahanam memang menjadi bagian penting dari film ini. Tapi ada 1 lagi kata yang penting tapi tidak ada dalam judul. Kata tersebut adalah keluarga. Keluarga? Yaaaa, betul sekali. Film yang proses pembuatannya memakan waktu sampai 10 tahun ini, sebenarnya merupakan film mengenai intrik keluarga yang dibalut dengan ilmu hitam.

Maya (Tara Basro) tidak pernah ingat siapa keluarga dia sebenarnya. Ia hanya mengetahui bahwa ia diasuh oleh seseorang yang mengaku sebagai bibinya. Siapa ayah dan ibu Maya? Maya pun tidak ingat. Ia hanya mengetahui bahwa keluarganya memiliki rumah besar di Desa Harjosari. Rumah besar itulah yang menjadi harapan Maya untuk keluar dari krisis keuangan yang ia hadapi. Siapa tahu ada harta yang masih bisa dijual untuk modal usaha.

Maka Maya pun berangkat ke desa tersebut. Ia pun ditemani oleh sahabat sekaligus rekan bisnisnya, Dini (Marissa Anita). Harjosari ternyata merupakan desa yang sangat terpencil, tidak semua orang mengetahui keberadaan desa tersebut. Dini dan Maya pun menyaksikan berbagai peristiwa aneh di desa tersebut.

Terdapat sebuah kutukan yang ternyata berhubungan erat dengan keluarga tokoh utama kita. Di sana, saya melihat beberapa twist atau kejutan, yang bagus dan jauh dari kesan murahan. Banyak loh, film-film horor Indonesia yang asal membuat twist-twist, tanpa peduli alur logika dari filmnya sendiri. Well, Perempuan Tanah Jahanam (2019) berhasil memberikan sesuatu yang berbeda di sana.

 

 

Misteri dan horor psikologis memang menjadi daya tarik film ini. Jangan harap untuk melihat banyak perwujudan setan-setanan dan jump scare di film ini. Kengerian dari Perempuan Tanah Jahanam (2019) dibangun dengan halus dan rapi dari alur ceritanya. Yah walaupun pada akhirnya ternyata sedikit klise & tidak terlalu horor. Saya rasa kadar misteri pada film ini, relatif lebih dominan. Nuansa horornya tidak terlalu kental.

Mayoritas nuansa horornya, disumbangkan oleh latar belakang pedesaan yang terpencil dan suram. Pada bagian itulah, film ini memang berhasil memberikan kengerian tersendiri. Saya kagum dengan bagaimana Harjosari digambarkan. Semua terasa nyata apa adanya, saya berhasil diyakinkan bahwa Harjosari itu memang benar-benar ada. Tapi ada di mana?

 

 

Hhhhmm. Ini menimbulkan masalah baru sebab kalau dilihat, Harjosari sepertinya terletak di daerah Jawa Tengah atau Jawa Timur. Tapi karakter-karakter penduduk desa tersebut tidak seperti orang Jawa. Padahal latar belakang dan kostumnya sudah Jawa banget loh.

Saya rasa Perempuan Tanah Jahanam (2019) pantas untuk memperoleh nilai 3 dari skala maksimum 5 yang artinya “Lumayan”. Saya rasa, untuk saat ini, Perempuan Tanah Jahanam (2019) adalah salah satu film horor Indonesia terbaik yang layak untuk ditonton.

Sumber: base-ent.com/portfolio/perempuan-tanah-jahanam-impetigore/

 

Scoob! (2020)

Entah sudah berapa banyak episode film kartun Scooby-Doo yang sejak kecil saya tonton. Film-film tersebut memang nampak seperti film jadul, tapi tetap berhasil menjadi hiburan bagi saya, di era tahun 90-an dulu. Melihat jauh ke belakang, film-film Scooby-Doo ternyata sudah diproduksi oleh Hanna-Barbera sejak tahun 1969. Bahkan sampai sekarang pun Hanna-Barbera terus memproduksi serial dan film layar lebar Scooby-Doo.

Baik versi serial klasiknya, maupun versi-versi terbarunya, film-film Scooby-Doo selalu menampilkan penyelidikan kasus-kasus misteri oleh sekelompok detektif muda bernama Mystery Inc. Scooby-Doo adalah bagian dari adalah satu-satunya anjing di Mystery Inc. Ia dapat berbicara dan sering melakukan kekonyolan bersama dengan sahabatnya, Shaggy. Scooby & Shaggy adalah anggota Mystery Inc yang paling penakut dan sering dijadikan umpan bagi para lawan Mysteri Inc. Biasanya, lawan Mystery Inc adalah manusia yang melakukan tindak kejahatan dengan menggunakan kostum hantu atau monster. Apakah Scoob! (2020) akan melakukan hal yang sama?

Film animasi terbaru Scooby-Doo tersebut mengisahkan awal pertemuan Shaggy Rogers (Will Forte) dengan Scooby-Doo (Frank Welker). Kemudian dikisahkan pula bagaimana keduanya bergabung dengan Mystery Inc. Cerita kemudian bergerak jauh ke depan dimana Mystery Inc harus menghadapi sebuah kasus yang menguji tali persahabatan Scooby dan Shaggy.

Kasus yang diselidiki pula oleh Blue Falcon Junior (Mark Wahlberg) dan rekan-rekannya ini, menempatkan Scooby-Doo dalam sebuah posisi yang sangat penting. Semua mata tertuju kepada Scooby. Hal ini menjadi masalah ketika Shaggy merasa seperti dibuang.

Persahabatan antara anjing dan manusia menjadi tema utama Scoob! (2020). Tidak hanya persahabatan antara Shaggy dengan Scooby-Doo saja, melainkan persahabatan antara Blue Falcon dengan anjing robotnya, serta persahabatan antara tokoh antagonis dengan anjing kesayangannya. Jalan ceritanya berjalan seperti film animasi yang mengajarkan mengenai persahabatan, Sebuah topik yang baik untuk ditonton bersama dengan keluarga.

 

Loh bagaimana dengan unsur misterinya? Lupakan itu, semuanya seolah tenggelam dan tidak terlihat. Peranan anggota Mystry Inc lainnya jauh menciut dibandingkan biasanya. Tokoh antagonis pada film Scooby-Doo yang satu ini pun agak berbeda. Kemudian teknologi terkini dan hal-hal yang bersifat kekinian, nampak dipaksakan masuk ke dalam cerita.

 

Perubahan mengenai tokoh antagonis dan bagaimana film ini berakhir merupakan membaharuan yang bagus. Tapi bagaimana dengan yang lainnya? Saya melihat bahwa Scoob! (2020) mencoba hal-hal baru agar tidak ketinggalan zaman. Tapi sayang sekali sebagian dilakukan dengan kurang halus. Kekhasan film-film Scooby-Doo seakan sengajar dipudarkan melalui Scoob! (2020). 

Saya rasa Scoob! (2020) hanya dapat memberikan Scoob! (2020) nilai 3 dari skala maksimum 5 yang artinya “Lumayan”. Perlu diingat, dari segi animasi, film ini memang bagus sekali. inti ceritanya pun memberikan nilai postif bagi penontonnya. Tapi, menonton Scoob! (2020) rasanya seperti bukan menonton film Scooby-Doo hohohohoho.

Sumber: http://www.scoob.movie

The Invisible Man (2019)

Sejak pertama kali hadir melalui novel karya H. G. Wells tahun 1897, karakter The Invisible Man sudah hadir di dalam berbagai film. Semuanya bercerita mengenai keberhasilan seorang peneliti dalam membuat tubuhnya menghilang. Sayangnya, penemuan tersebut dipersalahgunakan untuk memenuhi kepentingan pribadi si peneliti. Jadi jelas sudah, Invisible Man selalu hadir sebagai tokoh antagonis.

Hal serupa terjadi kembali pada The Invisible Man (2019), hanya saja saya melihat beberapa usaha sehingga film tersebut memiliki jalan cerita yang tidak sama persis. Kisah pada The Invisible Man (2019) dilihat dari sisi Cecilia Kass (Elisabeth Moss). Cecilia bukanlah seorang ilmuwan. Ia hanyalah seorang gadis yang melarikan diri dari sebuah hubungan yang buruk.

Mantan pacar Cecilia merupakan seorang ilmuwan jenius yang kaya raya, namun ia sangat keras dan posesif. Wajar bila Cecilia melarikan diri dan mengalami trauma akibat hubungan tersebut. Namun sang ilmuwan sepertinya tidak dapat melupakan Cecilia dan rela melakukan berbagai tindakan nekat untuk mendapatkan Cecilia kembali. Ada sesuatu di dalam diri Cecilia yang sangat ia dambakan.

Bagi Cecilia sendiri, ini merupakan mimpi buruk yang tidak berujung. Bahkan ketika ada kabar bahwa sang ilmuwan tewas, teror yang Cecilia hadapi justru semakin memburuk. Mantan pacar Cecilia seolah-olah selalu ada di dekat Cecilia dan membuat Cecilia nampak buruk dihadapan orang banyak. Cecilia bahkan harus menjadi terdakwa bagi kejahatan yang tidak ia lakukan.

Penderitaan yang Cecilia hadapi nampak jelas dari akting Elisabeth Moss yang prima. Ia berhasil memerankan seseorang yang terus menerus mengalami teror dan trauma. Masalahnya, The Invisible Man (2019) seolah-olah berikan teror dan fitnah saja. Gangguan-gangguan yang Cecilia hadapi memenuhi sebagian besar porsi film ini.

Semua gangguan tersebut membuat Saya benar-benar tidak sadar bahwa The Invisible Man (2019) ternyata merupakan film from zero to hero. Semua tragedi yang Cecilia hadapi telah mengubahnya menjadi seseorang yang berbeda. Tapi saya tidak melihat evolusi dari seorang Cecilia. Semua seolah-olah terjadi dengan tiba-tiba. Akhir dari The Invisible Man (2019) memang terbilang bagus sekali, sayang momen tersebut terasa singkat.

Masih ingat dengan The Mummy (2017)? Aaahhh, ternyata The Invisible Man (2019) merupakan bagian dari Dark Universe besutan Universal Pictures. Pantas saja kisah The Invisible Man (2019) seolah seperti mengisahkan pembentukan sebuah karakter. Meski tidak sebombastis The Mummy (2017), The Invisible Man (2019) nampak lebih berkualitas dan menarik untuk ditonton. Saya rasa The Invisible Man (2019) layak untuk memperoleh nilai 3 dari skala maksimum 5 yang artinya “Lumayan”. Sebuah denyut nadi baru bagi masa depan Dark Universe.

Sumber: http://www.universalpictures.com/movies/the-invisible-man

 

 

Guns Akimbo (2019)

Guns Akimbo (2019) menggunakan sebuah judul yang aneh bagi saya pribadi. Apa arti Guns Akimbo? Ternyata Guns Akimbo dapat dikatakan merupakan posisi menodongkan senjata di masing-masing tangan saat sedang bertempur. Posisi seperti itulah yang terpaksa Miles Lee Haris (Daniel Redcliffe) lakukan ketika tedapat pistol terpaku di kedua tangannya. Akibatnya, Miles pun memperoleh julukan Guns Akimbo dari para penonton.

Penonton apa?? Sebelum Miles menjadi seseorang yang terkenal di internet, ia hanyalah orang biasa. Pada awalnya, Miles adalah karyawan di perusahaan game, tidak ada yang menarik dari hidupnya. Semua berubah ketika pada suatu malam ia menghina seseorang di dalam sebuah situs. Terkadang, orang memang dapat berkata sesuka hati ketika sedang berada di internet. Mereka merasa dapat melakukan semuanya secara anonim. Ahhh, kali ini Miles sedang sial. Ia menghina orang salah…

Tiba-tiba pintu Apartemen Miles diketuk dan datanglah sekelompok anggota Skizm yang memaku pistol ke tangan Miles dan memasukkan Miles ke dalam sebuah kompetisi maut. Skizm merupakan organisasi kriminal yang menayangkan sebuah kompetisi maut di internet. Mereka membuat beberapa psikopat dan tokoh kriminal, untuk saling bunuh. Lalu kenapa Miles? Ia hanya orang sial yang menghina orang yang salah :’D.

Plot film ini memiliki beberapa lubang. Kemudian, kekonyolan film aksi ala Hollywood pun masih terlihat di sana. Ada karakter yang kadang tampil bak Rambo yang tidak terkena tembakan peluru walaupun ia sedang berhadapan dengan 1 kompi pasukan bersenjata. Kemudian ada pula karakter yang terlalu banyak bicara ketika ia memiliki kesempatan tuk menghabisi lawannya (x_x).

Tapi Guns Akimbo (2019) memang bukan film terlalu serius dan mengandalkan logika. Film ini bisa dibilang memberikan adegan aksi bertempo cepat dengan sedikit humor diantaranya. Melihat Guns Akimbo (2019), sangat mengingatkan saya pada Crank (2006) dan Crank: High Voltage (2009). Hanya saja saya pribadi lebih dapat menikmati Guns Akimbo (2019) dibandingkan kedua film Jason Statham tersebut. Hiburan yang Guns Akimbo (2019) berikan terasa lebih ringan, enak dilihat, dan tidak terlalu kasar.

Dari segi hiburan, Guns Akimbo (2019) mampu memberikan sebuah hiburan ringan yang segar yang seru. Jangan pikirkan mengenai logika ketika menonton film ini, sebab film ini memang tidak bermaksud membuat penontonnya untuk berfikir. Saya rasa Guns Akimbo (2019) layak untuk memperoleh nilai 3 dari skala maksimum 5 yang artinya “Lumayan”.

Sumber: http://www.lionsgate.com/movies/guns-akimbo

Serial The Boys

Apa jadinya kalau Superman tidak dterjadiibesarkan di dalam sebuah laboratorium yang dingin dan minim kasih sayang? Apa jadinya kalau Wonder Woman adalah seorang lesbian? Apa jadinya kalau The Flash adalah seorang pecandu? Yaaah, hal-hal unik dan berbeda itulah yang muncul pada Serial The Boys. Di tengah-tengah semakin populernya film seri keluaran Netflix, ternyata Amazon mampu memproduksi film seri seunik The Boys :).

Serial The Boys sebenarnya dibuat berdasarkan buku-buku komik dengan judul yang sama. Sebenarnya komik The Boys sempat menjadi bagian dari DC Comics, sebelum akhirnya transmisgrasi ke Dynamite Entertainment pada 2007. Cerita The Boys memang berkisar pada kisah superhero yang kemampuan supernya memang sangat mirip dengan beberapa karakter superhero keluaran DC Comics. Ada yang memilki kekuatan sama persis dengan Superman, Wonder Woman, The Flash, Aquaman, Stargirl dan lain-lain.

Namun berbeda dengan superhero mainstream ala DC Comics atau Marvel Comics, The Boys justru membahas jalan kelam yang diambil oleh individu-individu berkekuatan super. Biasanya, film-film seperti ini mengisahkan bahwa seseorang yang memiliki kekuatan super, menggunakan kekuatannya untuk memberantas kejahatan. Karakter idealis seperti ini ada juga di The Boys, tapi ia hanyalah salah satu dari beberapa karakter super yang ditampilkan. Sisanya justru memiliki berbagai perangai buruk yang sangat tidak patut tuk dicontoh.

Mayoritas superhero pada The Boys justru ditampilkan dengan lebih logis, mereka nampak sangat manusiawi. Ketika seseorang memiliki kekuatan super dan nampak lebih superior dibandingkan manusia pada umumnya, tentunya berbagai kemungkinan akan muncul. Tidak semuanya memiliki moral yang sangat sempurna dan memiliki hati nurani yang super bersih. Terkadang mereka justru melakukan hal yang tidak patut tanpa sepengetahuan publik.

Pada awal cerita, dunia dikisahkan bahwa terdapat sekumpulan superhero The Seven yang sangat terkenal. Publik mengenal The Seven sebagai superhero yang sangat baik dan bersedia melakukan apapun demi bumi dan umat manusia. Padahal dibalik itu, semuanya hanyalah pencitraan. The Seven bukanlah orang suci, beberapa diantaranya justru busuk dan melakukan berbagai tindakan yang keji dan bejat.

Apa yang busuk tentunya meninggalkan bau. Hal itulah yang terjadi pada The Seven. Pada akhirnya, terdapat orang-orang yang mencium kebusukan The Seven. Orang-orang inilah yang pada akhirnya membentuk The Boys. Perkumpulan The Boys berusaha menjatuhkan The Seven dengan berbagai usaha. Mayoritas The Boys tidak memiliki kekuatan super. Mereka hanya berusaha menggunakan apa yang mereka miliki dengan segala keterbatasan yang ada. The Boys memang melakukan aksinya di luar batas koridor hukum. Tapi sebagain besar dari anggota The Boys bukanlah orang jahat atau tokoh kriminal. Selain itu, mayoritas anggota The Boys pun masih memiliki sifat heroik dan moral yang baik.

Saya suka dengan berbagai keunikan yang The Boys tampilkan. Film seri besutan Amazon ini berhasil mengangkat sisi lain dari superhero dengan caranya sendiri. FIlm ini bukan film superhero atau anti-hero biasa. The Boys berhasil memberikan gambaran, apa yang mungkin terjadi ketika manusia berkekuatan super benar-benar ada di dunia. Semua itu dibungkus tidak hanya dari sisi si manusia super, melainkan dari sisi karakter-karakter manusia biasa.

Saya rasa film seri yang satu ini layak untuk memperoleh nilai 4 dari skala maksimum 5 yang artinya “Bagus”. Film ini cocok untuk dijadikan tontonan bagi teman-teman yang menginginkan sebuah hiburan yang menantang tanpa harus berfikir keras. Alur cerita film seri ini mudah difahami dan tidak terlalu kompleks :).

Sumber: http://www.amazon.com/dp/B07QQQ52B3

Serial Stranger Things

Film seri Stranger Things merupakan film yang mengambil latar belakang Amerika Serikat di tahun 80-an. Setidaknya dari season pertama sampai season ketiga, saat saya menulis tulisan ini, Stranger Things masih menggunakan Kota Hawkins sebagai lokasi utamanya. Hawkins adalah kota kecil di wilayah Indiana, Amerika Serikat. Semua terasa tenang dan damai sampai pada suatu hari, ada seorang anak yang hilang. Mulai saat itulah muncul berbagai kejadian aneh di kota tersebut.

Ini merupakan misteri yang menarik saya untuk mulai menonton episode-episode awal dari Stranger Things. Awalnya film seri ini seolah hendak menyuguhkan berbagai misteri besar yang kompleks. Ternyata setelah beberapa episode, terkuak bahwa semua hal aneh tersebut terkait dengan eksperimen rahasia pemerintah dan lubang ke dimensi lain. Kemudian cerita berkembang ke arah dimana terdapat masalah perang dingin dengan Uni Soviet dan monter-monster yang hadir dalam berbagai bentuk. Semuanya merupakan plot yang biasa kita temukan pada novel dan film keluaran tahun 80’an. Berbagai masalah tersebut, disuguhkan dengan sederhana dan mudah dimengerti. Ternyata Stranger Things tidak sekompleks yang saya kira. Bahkan lama kelamaan saya merasa bahwa Stranger Things relatif tidak ada misterinya sama sekali.

Lalu, apa daya tarik dari Stranger Things? Film seri ini berhasil membangkitkan nuansa 80-an yang memberikan nostalgia tertentu bagi yang pernah mengalami era 80-an. Tidak hanya musik, kostum dan lokasi saja, tapi cerita yang disuguhkan pun sangat berbau 80-an.

Selain itu, Stranger Things berhasil membangun karakter-karakter yang terlihat nyata dan berkembang dari episode satu ke episode lainnya. Mayoritas dari tokoh utama serial ini adalah anak-anak. Dialog mereka nampak natural seperti dialog anak-anak, tidak disensor atau dibuat oleh orang dewasa. Saya melihat memang ada candaan yang sedikit kasar di sana, tapi bukankah pada kenyataannya hal tersebut memang terjadi?

Saya hanya mengalami bagian ujung dari era tahun 80-an. Saya lebih banyak mengalami era 90-an ketika masih kecil dulu. Maka, nostalgia yang Stranger Things berikan, tidak terlalu berpengaruh bagi saya pribadi. Kenyataan bahwa misteri yang diberikan relatif sederhana pun, terkadang membuat saya berpaling dari film ini. Keberadaan karakter-karakter kuatlah yang membuat saya kembali lagi menonton Stranger Things. Dengan demikian, saya pribadi memberikan Stranger Things nilai 3 dari skala maksimum 5 yang artinya “Bagus”. Film ini sangat cocok bagi rekan-rekan yang menginginkan film misteri ringan bernuansa tahun 80-an.

Sumber: http://www.strangerthingsfilm.com

Don’t Let Go (2019)

Di tengah-tengah kesibukan saya di rumah, saya menemukan sebuah film dengan tema yang unik, Don’t Let Go (2019). Film ini mengingatkan saya pada Frequency (2000), sebuah film yang dulu saya tonton bersama orangtua saya. Keduanya sama-sama mengisahkan mengenai komunikasi unik yang terjadi antara 2 orang di jalur waktu yang berbeda. Frequency (2000) berhasil mengisahkan dengan baik, hubungan ayah-anak yang terpisah oleh waktu dan kematian. Apakah Don’t Let Go (2019) berhasil melakukan hal yang sama?

Agak sedikit berbeda, Don’t Let Go (2019) mengisahkan hubungan antara seorang paman dengan keponakannya. Detektif Jack Radcliff (David Oyelowo) kaget bukan main ketika ia menerima sebuah telefon dari Ashley Radcliff (Storm Reid) yang sudah meninggal dunia. Beberapa minggu yang lalu, Jack sendiri menemukan Ashley dan kedua orangtuanya, menjadi korban pembunuhan. Sebuah peristiwa yang membuat Jack stres berat.

Jack seolah memperoleh kesempatan kedua ketika ia menerima telefon dari Ashley. Ashley di masa lalu, dapat berkomunikasi dengan Jack di masa depan melalui sebuah telefon genggam. Keduanya berusaha mengubah masa depan dengan menyelidiki siapa yang membunuh Ashley.

Misteri dan penyelidikan pada Don’t Let Go (2019) memang sangat menarik untuk diikuti. Namun hal ini hanya bertahan sampai separuh film. Don’t Let Go (2019) seakan kehilangan daya tariknya pada pertengahan film. Film ini terasa terlalu bertele-tele dan pelaku kejahatannya sudah mulai terkuak di pertengaham film. Selanjutnya, semua berlangsung dengan sangat klise.

Sayang sekali, Don’t Let Go (2019) sebenarnya memiliki potensi yang besar untuk menjadi sebuah film yang lebih menarik dibandingkan Frequency (2000). Hubungan paman dan keponakan pada Don’t Let Go (2019), terasa kurang memukau. Saya tidak merasakan kekhawatiran yang dalam dari Jack, ketika Ashley dalam bahaya besar.

Terlepas dari beberapa kelemahan yang ada, film ini masih layak untuk memperoleh nilai 3 dari skala maksimum 5 yang artinya “Lumayan”. Masih ok-laaah untuk dijadikan hiburan ringan, film ini tidak terlalu kompleks kok.

Sumber: http://www.dontletgomovie.com

 

Da 5 Bloods (2020)

Beberapa minggu yang lalu, terjadi peristiwa berdarah berbau rasial nun jauh di Amerika sana. Mungkin teman-teman sudah pernah membaca bagaimana kematian George Floyd membuahkan demonstrasi di penjuru Amerika. Kasus tersebut di nilai berbau diskriminasi kepada orang-orang berkulit hitam dan berhasil semakin mempopulerkan gerakan “Black Lives Matters”. Gerakan ini merupakan buah dari diskriminasi rasial warga Amerika berkulit hitam atau Afro-Amerika, yang terjadi sudah sejak lama sekali.

Kehadiran Da 5 Blood (2020) terasa relevan dengan kondisi saat ini. Film karya Spike Lee ini berbicara lantang mengenai diskriminasi yang dialami oleh warga Amerika berkulit hitam di era Perang Vietnam. Spike Lee yang juga merupakan sutradara Amerika berkulit hitam seolah ingin membeberkan berbagai kenyataan pahit yang terjadi pada saat perang Vietnam berlangsung.

Mirip seperti beberapa film Spike sebelumnya, Da 5 Blood (2020) memberikan sedikit cuplikan dan foto terkait kejadian yang benar-benar terjadi. Saya rasa hanya satu atau dua saja yang terlihat sadis, tapi hal itu cukup untuk membuat saya teringat bahwa Da 5 Blood (2020) bukanlah film keluarga.

Aw kenapa film keluarga? Bagian awal Da 5 Blood (2020) membuat saya mengira bahwa film ini hanya akan mengisahkan nostalgia dan kekeluargaan diantara veteran perang Vietnam berkulit hitam. Dikisahkan bahwa terdapat 4 veteran perang Vietnam yang datang kembali ke Vietnam untuk mengambil jasad kawan mereka. Itulah mengapa judul film ini Da 5 Blood. Yang dimaksud dengan 5 Blood ada 5 prajurit Amerika berkulit hitam yang berpuluh-puluh tahun lalu bertempur bersama di Vietnam. Sayang pimpinan mereka gugur, dan keempat prajurit yang tersisa hanya dapat mundur dan menyelamatkan diri.

Belakangan keempat veteran tersebut ternyata memiliki motif lain, yaitu mencari emas batang yang dahulu mereka simpan di tengah hutan. Yaaah, mengambil jasad sekaligus mengambil emas :).

Di sana terlihat bahwa masing-masing individu memiliki masalah masing-masing yang dapat memicu konflik internal. Emas dan harta memang dapat mempengaruhi seseorang. Belum lagi terdapat karakter-karakter lain yang baru berdatangan di pertengahan cerita. Seketika Da 5 Blood (2020) seakan berubah menjadi film petualangan perburuan harta karun yang menguji persahabatan di antara tokoh-tokoh utama.

Diskriminasi dan konflik internal yang mereka alami memang menjadi topik utama Da 5 Blood (2020). Namun saya lihat ada 1 pesan lagi yang film ini coba angkat. Keberadaan ladang ranjau di wilayah bekas perang, masih terus memakan korban. Banyak korban kehilangan organ tubuhnya akibat ranjau. Yang lebih memilukan lagi adalah apabila korbannya merupakam anak-anak kecil yang tak berdosa.

 

Da 5 Blood (2020) berhasil menyampaikan berbagai pesan dengan baik, rapi dan tidak membosankan. Film ini berhasil membuat saya tertarik untuk mengikuti ceritanya sampai habis. Saya rasa pesan yang Spike Lee coba sampaikan, cukup mengena. Banyak hal-hal yang mengenai perang Vietnam yang baru saya ketahui, terutama terkait peranan tentara Amerika berkulit hitam di sana. Film ini layak untuk memperoleh nilai 4 dari skala maksimum 5 yang artinya “Bagus”.

Sumber: http://www.netflix.com/id-en/title/81045635

Sebelum Iblis Menjemput (2018)

May the Devil Take You atau Sebelum Iblis Menjemput (2018) merupakan film horor Indonesia yang megisahkan sebuah bencana akibat pesugihan yang dilakukan oleh Lesmana Wijaya (Ray Sahetapy). Pada awalnya, Lesmana menjelma menjadi seorang pengusaha properti yang sangat sukses. Setelah kematian istri pertamanya, Lesmana menikah dengan seorang mantan artis ibukota, Laksmi Surya (Karina Suwandi). Beberapa tahun kemudian, Lesmana jatuh miskin dan mengalami sebuah penyakit yang misterius.

Lesmana memiliki 4 orang anak. Alfie Wijaya (Chesea Islan) adalah anak pertama Lesmana dari mendiang istri pertama Lesmana. Semetara itu, Maya Wijaya (Pevita Pearce), Ruben Wijaya (Samo Rafael) dan Nara Wijaya (Hadijah Shahab) adalah anak Lesmana dari Laksmi Surya. Hubungan Alfie dengan ayah dan ibu tirinya kurang harmonis. Hal itu sangat terlihat sejak awal film. Saya pikir konflik keluarga ini akan menjadi benang merah cerita Sebelum Iblis Menjemput (2018).

Ternyata semua itu hanya pemanis saja sebab berikutnya, Sebelum Iblis Menjemput (2018) benar-benar hanya mengisahkan teror demi teror yang dialami Alfie dan keluarganya. Teror-teror tersebut berlangsung di sebuah rumah tua milik Lesmana. Usaha Lesmana yang terus merugi membuat keluarga Lesmana menjual berbagai aset Lesmana. tersisa hanya 1 aset Lesmana yang belum tersentuh, sebuah rumah tua di daerah Bogor. Rumah tersebut merupakah satu-satunya properti Lesmana yang menggunakan nama Alfie sebagai pemiliknya. Oleh karena itulah Alfie ikut serta melihat properti Lesmana tersebut. Karina dan ketiga anaknya pun hadir di sana untuk melihat aset-aset Lesmana lain yang kira-kira dapat dijual.

Yaaah, di rumah tersebutlah, berbagai teror datang menimpa, Laksmi, Alfie, Maya, Ruben, dan Nara. Praktis hampir tidak ada misteri di sana. Yang ada hanyalah adegan kejar-kejaran dan bunuh-bunuhan saja. Kenapa semua itu terjadi? Ironisnya semuanya sudah dijelaskan pada awal film, pesugihan Lesmana.

Saya melihat terdapat beberapa adegan sadis di sana. Film ini memang bercerita mengenai teror dari iblis yang seperti datang menagih hutang. Bagi teman-teman yang suka dengan film setan dan monster yang sadis, Sebelum Iblis Menjemput (2018) sopasti merupakan film yang menakjubkan. Saya akui nuansa kelam dan horor dari Sebelum Iblis Menjemput (2018) memang sangat terasa. TMemang sih Sebelum Iblis Menjemput (2018) masih tidak sesadis Macabre atau Rumah Dara (2009), tapi jenis film seperti ini memang bukan film yang terlalu saya suka. Saya lebih suka dengan film horor yang masih mampu memberikan rasa penasaran sampai akhir. Sebuah kejutan dan sedikit drama yang konsisten mungkin dapat semakin menarik perhatian saya.

Maaf seribusatu maaf, Sebelum Iblis Menjemput (2018) tetap hanya dapat memperoleh nilai 2 dari skala maksimum yang artinya “Kurang Bagus”. Semua karena film ini relatif tidak memiliki unsur misteri dan hanya berisi teror saja. Hal ini sudah sering saya lihat pada film-film lainnya. Tapi dibandingkan dengan sebagian besar film horor Indonesia lainnya, Sebelum Iblis Menjemput (2018) tetap setingkat lebih bagus.

Sumber: http://www.netflix.com/id-en/title/81030893

The Boy (2016)

Ketika melihat trailer dari The Boy (2016), saya yakin bahwa film ini adala film setan-setanan. Ahhh paling film ini seperti film Child’s Play (1988) atau Annabelle (2014), boneka kesurupan setan hehehehe. Apakah dugaan saya meleset?

Film ini diawali ketika Greta Evans (Lauren Cohan) datang ke pedesaan nun jauh di sana untuk bekerja sebagai pengasuh anak. Majikan baru Greta tinggal di rumah kuno yang besar sekali. Ahhhh, latar belakang sebuah rumah kuno yang besar dan terletak jauh di pedesaan tentunya sudah menjadi stereotype latar belakang film setan-setanan.

Greta terkejut bukan main ketika ia mengetahui bahwa ia harus mengasuh sebuah boneka yang bernama Brahms. Berhubung Greta sangat membutuhkan perkejaan tersebut dan ia pun memang sedang melarikan diri dari pengalaman buruk di kota, maka Greta menyanggupi pekerjaan aneh ini.

Greta diharuskan memperlakukan Brahms seperti anak-anak pada umumnya, mulai dari memandikan, menggatikan baju, membacakan dongeng dan lain-lain. Berbagai keanehan muncul di sini sebab ternyata Brahms seolah dapat bergerak sendiri ketika Greta sedang tidak memperhatikan.

Keluarga majikan Greta ternyata memang menyimpan sebuah rahasia yang membuat seluruh dugaan saya mengenai The Boy (2016), meleset. The Boy (2016) ternyata memiliki sebuah kejutan yang tidak terduga. Namun eksekusi dari kejutan tersebut kurang ok sehingga semua terasa biasa saja.

Dengan demikian The Boy (2016) memperoleh nilai 3 dari skala makskmum 5 yang artinya “Lumayan”. Potensi yang The Boy (2016) miliki sebenarnya cukup besar. Awalnya saya pikir hal tersebut akan dimanfaatkan lebih jauh lagi pada Bhrams: The Boy 2 (2020). Wew, sebuah sekuel? Atau prekuel? Salah, walaupun memang menggunakan angka 2, menampilkan boneka yang sama, rumah produksi yang sama, sutradara yang sama dengan The Boy (2016). Bhrams: The Boy 2 (2020) lebih baik dianggap sebagai film yang berdiri sendiri. Kenapa? Sebab inti cerita yang dikisahkan oleh Bhrams: The Boy 2 (2020), sangat berbeda dan bertolakbelakang dengan The Boy (2016). Kalau anda sedang ingin menonton film setan-setanan standard yang menteror seorang ibu dan anak kecilnya, yah silahkan tonton Bhrams: The Boy 2 (2020), tidak ada kejutan di sana, hehehehee.

Sumber: stxmovies.com/theboy