Warcraft: The Beginning (2016)

Warcraft1

Ketika masih SD dulu, saya sering bermain game komputer yang berjudul Warcraft II: Tides of Darkness. Permainan ini cukup menarik pada masanya karena konsep RTS (Real-time Strategy) masih baru pada saat itu. Dengan didukung dengan grafis dan cerita yang menarik, saya pun sering memainkan permainan ini dan sudah beberapa kali menamatkan Warcraft II: Tides of Darkness dan expansion set-nya :). Setelah berjaya di era 90-an, hadir Warcraft III: Reign of Chaos pada tahun 2002 dengan jalan cerita yang lebih detail dan kompleks. Gameplay-nya mirip seperti Warcraft II: Tides of Darkness, seri ketiga Warcraft ini menghadirkan RTS dengan gtafis yang lebih bagus ditambah lagi mulai diperkenalkannya konsep hero sehingga mulailah muncul nama karakter-karakter seperti Arthas, Thall, Kel’Thuzad, Malfurion dan lain-lain.

Warcraft2

Warcraft3

Bertahun-tahun kemudian, Warcraft: The Beginning (2016), versi film dari permainan komputer masa kecil saya tersebut hadir ke layar lebar. Namun ternyata karakter-karakter Warcraft yang saya kenal sama sekali tidak ada. Loh kok bisa? Warcraft: The Beginning (2016) ternyata dibuat berdasarkan game Warcraft pertama yang hadir pada 1994, Warcraft: Orc & Human. Saya sendiri sempat memainkan permainan ini tapi tidak terlalu lama karena pada saat itu sudah ada Warcraft II: Tides of Darkness yang lebih populer.

Warcraft4

Warcraft5

Di sana dikisahkan bahwa Draenor, dunia bangsa orc, sedang berada diambang kehancuran. Maka dengan dipimpin Gul’dan (Daniel Wu), sepasukan orc pergi ke dunia lain dengan menggunakan gerbang yang dibuka dengan menggunakan Fel. Sebagai sihir hitam yang jahat, membangkitkan Fel membutuhkan pengorbanan berupa nyawa mahluk hidup. Nyawa seolah dijadikan sebagai bahan bakar bagi Fel.

Warcraft16

Warcraft7

Apakah sesatu yang jahat akan dapat melahirkan sesuatu yang baik? Tidak semua orc percaya bahwa menggunakan Fel merupakan solusi bagi masalah yang orc hadapi. Durotan (Toby Kebbell), kepala suku frostwolf, termasuk orc yang kurang yakin bahwa menggunakan Fel untuk mengungsi bukanlah keputusan yang tepat sebab semua bentuk kehidupan yang Fel sentuh akan layu dan mati. Durotan memang ikut menyeberang bersama Gul’dan, namun semakin lama Durotan semakin khawatir akan konsekuensi dari keikutsertaannya pergi ke dunia lain.

Warcraft14

Warcraft22

Dunia lain yang Durotan dan kawan-kawan datangi adalah Azeroth. Di sana terdapat berbagai ras yang sudah lama hidup rukun dan damai. Kerajaan Stormwind yang dihuni oleh ras manusia merupakan kerajaan pertama yang harus berhadapan dengan orc. Penculikan terhadap para penduduk Stormwind yang Gul’dan perintahkan, tentunya membuat hubungan antara orc dan manusia memanas. Apalagi Gul’dan bermaksud untuk membangkitkan Fel dengan mengorbankan penduduk yang diculik tersebut. Diperlukan Fel yang besar untuk membawa seluruh orc dari Draenor ke Azeroth.

Penguasa Stormwind, Raja Llane Wrynn (Dominic Cooper), tidak tinggal diam. Ia mengutus tangan kanannya, Anduin Lothar (Travis Fimmel) untuk menangani masalah ini. Lothar merupakan kesatria terbaik Stormwind dengan jiwa kepemimpinan yang tinggi. Masalah yang kali ini Stormwind hadapi cukup mengkhawatirkan sehingga Lothar didukung pula oleh beberapa individu yang sebenarnya bukan sekutu Stormwind seperti Garona Halforcen (Paula Patton) dan Khadgar (Ben Schnetzer). Garona merupakan kesatria wanita berdarah campuran setengah orc sehingga ia mampu memahami bahasa orc dan bahasa manusia, dimana kesetiaan Garona selalu menjadi tanda tanya bagi Lothar. Khadgar merupakan ahli sihir muda yang mangkir dari pelatihannya di Kirin Tor, padahal ia dianggap sebagai penerus Mediv (Ben Foster). Mediv sendiri merupakan ahli sihir terkuat di Stormwind yang sudah bertahun-tahun menyendiri sampai kedamaian Azeroth terganggu oleh kehadiran Gul’dan dan kawan-kawan. Mediv ikut membantu prajurit-prajurit Stormwind ketika mereka sedang terdesak, namun Lothar tidak percaya juga terhadap Mediv, apa saja yang Mediv lakukan selama bertahun-tahun?

Warcraft6

Warcraft15

Cybernatural

Cybernatural

Warcraft9

Warcraft10

Warcraft23

Cybernatural

Diluar dugaan, Warcraft: The Beginning (2016) ternyata mampu menampilkan jalan cerita yang menarik, variatif dan tidak membosankan. Unsur permainan Warcraft: Orc & Human cukup kental dan terlihat pada film ini, bisa dibilang inilah film berdasar permainan komputer yang berhasir menampilkan sebuah cerita yang baik tanpa menanggalkan unsur permainan yang menjadi dasar pembuatan film tersebut. Sudah jelas Warcraft: The Beginning (2016) bukanlah buatan produser kelas teri seperti Uwe Boll :P, aaahhh para pecinta film dan video games pastilah kenal dengan tokoh yang hobi sekali membuat film dari video game. 

Saya tahu bahwa tokoh-tokoh pada permainan Warcraft 3 dan World of Warcraft memang tidak hadir pada Warcraft: The Begining (2016). Yaaaa iyalaaahh, bukankah film ini memang dibuat berdasarkan permainan Warcraft: Orc & Human yang sudah hadir jauh sebelum Warcraft III dan World of Warcraft lahir? Mau merengek 1000 kalipun yaaa mereka tidak akan hadir, silahkan menangis di rumah masing-masing yaaa :’P. Saya rasa permainan lawas yang hadir pada tahun 90-an masih berhak dibuat versi filmnya, apalagi kalau adaptasinya bagus seperti Warcraft: The Beginning (2016).

Selain cerita, film ini didukung pula oleh special effect yang halus dan memikat, kurang lebih mengingatkan saya pada Avatar (2009). Cara ilmu sihir ditampilkan terbilang keren sehingga karakter Khadgar dan Mediv praktis menjadi tokoh favorit saya pada film ini. Hanya saja saya agak bingung dengan warna kulit orc yang tidak stabil, kadang hijau dan kadang agak kecokelatan, bukankah pada versi video game warnanya hijau? Aaahh entahlah, saya masih tetap dapat menikmati film ini tanpa terlalu terganggu dengan warna kulit orc.

Warcraft11

Warcraft12

Warcraft13

Warcraft8

Warcraft17

Cybernatural

Secara keseluruhan, Warcraft: The Beginning (2016) layak dijadikan sebagai tontonan yang bermutu. Film ini layak untuk memperoleh nilai 4 dari skala maksimum 5 yang artinya “Bagus”. Sayang bagian akhirnya tidak tuntas, sedikit menggantung, yaah judulnya saja ada kata-kata Beginning, entah kapan ada kelanjutannya. Semoga kelanjutan film ini dibuat berdasarkan permainan Warcraft II: Tides of Darkness, hohohoho.

Sumber: http://www.warcraft-movie.co.uk

Iklan

Batman V Superman: Dawn of Justice (2016)

Superman Batman 1

Setelah penantian panjang, akhirnya pada tahun 2016 ini DC Comics menghadirkan 2 superhero mereka yang paling terkenal dalam 1 film layar lebar. Superman dan Batman tidak hanya menjadi icon DC Comics yang paling terkenal, namun rasanya kedua superhero tersebut merupakan 2 superhero paling terkenal dan terpopuler sepanjang masa. Bagi saya pribadi, nama besar keduanya mampu mengalahkan deretan superhero-superhero keluaran Marvel mulai dari Spiderman, Iron Man, Hulk, Deadpool, X-Men, Punisher, Ant Man sampai Thor :).

Kali ini Superman dan Batman hadir dalam Batman V Superman: Dawn of Justice (2016) yang mengambil latar belakang keadaan beberapa bulan setelah pertempuran maha dahsyat pada Man of Steel (2013) berakhir. Pemeran Superman atau Clark Kent masih sama seperti pada Man of Steel (2013) yaitu Henry Cavill. Sedangkan Batman atau Bruce Wayne tidak diperankan lagi oleh Christian Bale yang sebelumnya suskes memerankan Batman pada Trilogi Dark Knight. Ben Affleck lah yang kali ini hadir sebagai Batman.

Superman Batman 12

Superman Batman 11

Superman Batman 15

Dikisahkan bahwa perkelahian antara Superman dan Jendral Zod (Michael Shannon) pada Man of Steel (2013) memakan banyak korban jiwa. Sebagian masyarakat menganggap Superman sebagai pahlawan, namun sebagian lagi sangat membenci Superman dan menyalahkan Superman atas kehancuran dan kematian yang terjadi pada Man of Steel (2013).

Superman Batman 9

Superman Batman 13

Superman Batman 7

Superman Batman 6

Hal ini dimanfaatkan oleh Lex Luthor (Jesse Eisenberg) untuk memperburuk hubungan antara Superman dan Batman. Batman memang beraksi di Gotham dan Superman beraksi di Metropolis, dua kota yang berbeda. Namun keduanya saling melihat dan mengamati aksi satu sama lain. Beberapa tindakan Batman tidak sesuai dengan pemikiran Superman, sebaliknya Batman pun kurang setuju dengan beberapa tindakan Superman meskipun keduanya sama-sama membela kebenaran dan memerangi kejahatan. Pada bagian ini, saya rasa alasan kenapa Batman dan Superman kurang suka satu sama lain tidak setajam alasan perseteruan Superman dan Batman yang dikisahkan pada komik The Dark Knight Returns karya Frank Miller pada 1986 :(.

Superman Batman 8

Superman Batman 10

Superman Batman 2

Superman Batman 16

Superman Batman 14

Superman Batman 5

Well, pada akhirnya, sesuai judulnya, Superman memang akan berkelahi dengan Batman pada Batman V Superman: Dawn of Justice (2016). Perkelahian yang lumayan seru namun tidak seheboh dan sedahsyat perkelahian mereka berdua melawan . . . . . . Doomsday.

Superman Batman 3

Bagi teman-teman yang membaca komik Superman pasti tau siapa Doomsday. Bagian akhir dari film ini pun pasti hampir bisa ditebak arahnya kemana. Kemunculan Doomsday merupakan akhir sekaligus awal dari sesuatu, sesuatu itu merupakan alasan kenapa saya sudah pasti akan menonton sebuah film DC Comics berikutnya ;).

Tapi terus terang saya agak heran, fisik Doomsday pada film ini memang keren dan menyerupai komiknya, namun asal mula kelahiran Doomsday pada Batman V Superman: Dawn of Justice (2016) rasanya jauh melenceng dibandingkan asal mula kelahiran Doomsday pada versi komik. Alasan kenapa Lex Luthor menginginkan kematian Superman pun tidak terlihat jelas. Selain itu ceritanya terkadang nampak lompat-lompat karena film ini ingin menampilkan jalan cerita dari beberapa tokoh tapi perpindahannya kurang halus.

Berbicara soal tokoh, ternyata selain Batman dan Superman, ada tokoh-tokoh superhero lain yang muncul di Batman V Superman: Dawn of Justice (2016). Kita dapat melihat Wonder Woman (Gal Gadot), The Flash (Ezra Miller), Aquaman (Jason Momoa) dan Cyborg (Ray Fisher). Diantara keempatnya, Wonder Woman memperoleh porsi yang cukup besar. Lagu pengiring ketika Wonder Woman hadir dan ikut berkelahi pun merupakan lagu pengiring yang keren dan mampu membuat adegan perkelahian semakin seru. Adegan perkelahian yang melibatkan Wonder Woman merupakan bagian paling seru dari film ini.

Superman Batman 19

Superman Batman 18

Superman Batman 17

Saya nilai adegan perkelahian pada Batman V Superman: Dawn of Justice (2016) memang tidak sebanyak Man of Steel (2013), namun rasanya lebih proporsional. Adegan perkelahian pada Man of Steel (2013) memang keren tapi agak terlalu banyak, overdosis :’D. Dengan didukung oleh special effect d an kostumyang keren, Batman V Superman: Dawn of Justice (2016) mampu memberikan visualisasi yang cantik dan bagus untuk ditonton :).

Superman Batman 4

Film superhero DC Comics kali ini memang seru dan keren, namun beberapa kelemahan pada plot ceritanya membuat saya hanya mampu untuk memberikan nilai 3 dari skala maksimum 5 yang artinya “Lumayan”. Bagaimanapun juga, film Batman V Superman: Dawn of Justice (2016) tetap layak untuk dijadikan hiburan dan kita tidak rugi kalau menontonnya di bioskop, durasinya 2 jam lewat gitu loh hehehehehe.

Sumber: batmanvsuperman.dccomics.com

Mad Max: Fury Road (2015)

Mad Max 1

Setelah menjadi film Australia paling terkenal di masanya, Mad Max (1979) sampai sekarang telah memiliki 3 sekuel yakni Mad Max 2: The Road Warrior (1981), Mad Max Beyond Thunderdome (1985) dan Mad Max: Fury Road (2015). Pada Mad Max (1979), Mad Max 2: The Road Warrior (1981) dan Mad Max Beyond Thunderdome (1985), karakter Mad Max diperankan oleh Mel Gibson. Sedangkan pada sekuel Mad Max terbaru, Mad Max: Fury Road (2015), karakter Mad Max diperankan Tom Hardy yang tempo lalu memerankan Bane pada The Dark Knight Rises (2012). Walaupun pemeran utamanya berbeda, Mad Max: Fury Road (2015) tetap mengambil latar belakang masa depan yang serba kekurangan dan kesusahan.

Dikisahkan bahwa sumber daya yang Bumi miliki semakin menipis. Keserakahan dan perebutan sumber daya telah mengakibatkan perang yang menghancurkan kehidupan manusia. Minyak, air bersih, makanan dan penunjang kehidupan manusia lainnya menjadi hal yang sulit ditemui. Setelah perang, terjadi kekacauan di mana-mana dan jalanan dikuasai oleh geng-geng motor yang jahat.

Pada Mad Max (1979) diceritakan bahwa  Max Rockatansky adalah seorang polisi yang hidup bersama anak dan istrinya di tengah-tengah kekacauan yang melanda dunia. Akibat perseteruan Max dengan salah satu geng motor, anak dan istri Max terbunuh. Kehilangan anak dan istri membuat Max pergi berkelana tanpa tujuan yang jelas, hanya untuk bertahan hidup hari demi hari. Dalam pengembaraannya, Max bertemu berbagai masalah dan karakter lain yang dikisahkan pada Mad Max 2: The Road Warrior (1981) dan Mad Max Beyond Thunderdome (1985). Bagaimana dengan Mad Max: Fury Road (2015)?

Tidak jauh berbeda dengan film-film Mad Max sebelumnya, Max berpapasan dengan sekelompok komunitas sesat di tengah-tengah pengembaraannya. Kali ini Max tertangkap dan ditawan oleh sebuah komunitas yang dipimpin oleh Immortan Joe (Hugh Keays-Byrne). Joe sangat diagung-agungkan oleh para pengikutnya termasuk war boys, kelompok fanatik pemuda-pemuda ababil (abg labil) botak yang bersedia berbuat apapun demi Joe. Joe seolah Tuhan bagi anggota war boys. Menurut kepercayaan war boys, mereka akan dapat mencapai Valhala atau surga apabila mereka mati demi Joe (x__x).

Mad Max 4

Mad Max 18

Nux (Nicholas Hoult) merupakan salah satu war boys yang tetap ingin maju menjalankan misi dari Joe walaupun ia terluka dan kekurangan darah. Kebetulan saat itu istri-istri Joe melarikan diri bersama Imperator Furiosa (Charlize Theron), tangan kanan Joe yang berhianat. Nux ikut berangkat mengejar Furiosa dengan mengikatkan Max di depan kendaraannya selagi darah Max dialirkan ke dalam pembuluh darah Nux. Max diperlakukan sebagai kantong darah portable bagi Nux.

Mad Max 3

Mad Max 14

Aksi kejar-kejaran di jalanan yang tandus ini mendominasi sebagian besar Mad Max: Fury Road (2015). Saya rasa Mad Max: Fury Road (2015) agak mirip dengan Mad Max 2: The Road Warrior (1981) tapi Mad Max 2: The Road Warrior (1981) masih memiliki kejutan di bagian akhir cerita. Kalau dilihat dari segi jalan cerita, Mad Max: Fury Road (2015) cenderung dangkal dan mudah sekali ditebak apalagi bagi para penonton yang pernah menonton film-film Mad Max lainnya.

Mad Max 5

Mad Max 11

Mad Max 10

FRD-25474.TIF

Keunggulan Mad Max: Fury Road (2015) adalah dari segi adegan aksinya yang keren, kreatif dan memukau. Sejak awal para penonton disuguhkan oleh berbagai adegan aksi yang tidak monoton, padahal film ini tidak terlalu banyak menggunakan special affect lhooo, mantabbb. Selain itu kegilaan war boys dan konsep kepercayaan yang komunitas Immortan Joe miliki pun terbilang unik dan kreatif. Pemeran Immortan Joe pun ternyata merupakan pemeran Toecutter, tokoh antagonis utama pada Mad Max (1979). Sayang wajahnya tidak terlalu dapat dikenali karena faktor usia dan Opa Joe lebih sering menggunakan penutup mulut dan hidung sepanjang film.

Mad Max 16

Mad Max 13

Mad Max 9

Mad Max 6

Mad Max 12

Mad Max 20

Mad Max 17

Mad Max 19

Mad Max 2

Walaupun dari segi jalan cerita film ini terbilang sederhana, adegan aksi dan keunikan komunitas Opa Joe berhasil menjadi nilai plus yang sangat menonjol di mata saya. Dengan demikian, Mad Max: Fury Road (2015) layak untuk memperoleh nilai 4 dari skala maksimum 5 yang artinya “Bagus”. Mad Max: Fury Road (2015) merupakan film Mad Max terbaik yang pernah dibuat.

Sumber: www.madmaxmovie.com

Rear Window (1954)

Rear Window 1

Rear Window adalah film lawas karya Alfred Hitchcock yang mengisahkan “kekepoan” Jefferies (James Stewart) ketika ia terpaksa harus beristirahat di dalam unit apartemennya. Jeff terluka ketika sedang bekerja sehingga kakinya harus digips dan ia harus menggunakan kursi roda.

Jendela apartemen Jeff yang lebar menghadap ke arah jendela-jendela apartemen lain, jalan dan bagian halaman apartemen lain. Karena pada waktu itu sedang musim panas, sebagian tetangga Jeff membuka lebar-lebar jendela mereka sehingga Jeff dapat melihat kegiatan para tetangganya. Mengamati kegiatan para tetangganya itulah kegiatan Jeff selama ia terjebak di kursi roda. Karena latar belakang Rear Window (1954) adalah tahun 1950-an, maka tidak semua penghuni apartemen memiliki AC. Hal ini sangat jauh berbeda dengan keadaan sekarang. Saya sendiri tinggal di apartemen yang jendelanya menghadap ke arah jendela tetangga-tetangga saya. Karena di apartemen tersebut sudah ada AC, maka hampir tidak ada jendela tetangga saya yang terbuka. Tapi sekalinya ada yang terbuka, terus terang saya merasa penasaran dan ingin melihat sedang apakah tetangga saya :’D. Dengan demikian saya dapat memahami rasa penasaran yang karakter Jeff rasakan, apalagi Jeff tidak memiliki kegiatan atau hiburan, pastilah ia merasa bosan.

Rear Window 6

Rear Window 5

Rear Window 4

Masalah terjadi ketika Jeff menyaksikan perilaku yang mencurigakan dari salah satu tetangganya. Menurut Jeff, telah terjadi pembunuhan di dalam unit apartemen salah satu tetangganya, Lars Thorwald (Raymond Burr). Karena kurangnya bukti, polisi tidak mempercayai Jeff. Penasaran, Jeff mengajak Lisa Carol Fremont (Grace Kelly) dan Stella (Thelma Ritter) untuk membantunya dalam melakukan penyelidikan.

Rear Window 2

Rear Window 3

Penyelidikan yang mereka lakukan cukup menarik tapi menurut saya daya tarik dari Rear Window (1954) adalah bagaimana film ini menggambarkan kegiatan Jeff yang mengamati kegiatan tetangga-tetangganya tanpa membuat saya mengantuk. Latar belakang Rear Window (1954) tidak pernah berpindah dari apartemen Jeff, semuanya terjadi di sana. Peristiwa yang terjadi di apartemen para tetangga Jeff pun hanya diperlihatkan dari jendela unit apartemen Jeff, ini adalah karya Hitchcock yang original dan kreatif. Oleh karena itulah Rear Window (1954) layak untuk memperoleh nilai 4 dari skala maksimum 5 yang artinya “Bagus”.

Serial The Listener

Listener1

Bagaimana kalau kita dianugrahi kemampuan untuk membaca pikiran orang lain? Brisik? Keren? Atau justru menyeramkan? Anugrah inilah yang Toby Logan (Craig Olejnik) miliki pada serial The Listener, serial yang sering saya tonton di Fox. Film seri asal Kanada ini telah tayang sejak 2009 dan episode barunya masih terus keluar sampai sekarang.

Alkisah pada awalnya Toby bekerja sebagai paramedis di Toronto. Di sana ia menjalin pesahabatan dengan rekan sesama paramedis, Osman “Oz” Bey (Ennis Esmer). Dengan didukung oleh Oz, Toby menggunakan kemampuannya untuk menyelesaikan permasalahan yang ia temui. Dalam perjalanannya, permasalahan yang Toby temui semakin berbahaya dan menyangkut kasus-kasus kriminal sehingga Toby semakin sering berinteraksi dengan pihak kepolisian Toronto dan IIB.

Listener9

Listener11

Listener3

Listener10

Listener8

Lama kelamaan, Toby menjadi semakin sering membantu IIB sampai pada akhirnya Toby keluar dari pekerjaannya sebagai paramedis dan bergabung dengan IIB sebagai konsultan luar biasa, yaahh posisinya mirip Patrick Jane di CBI pada serial The Mentalist :). Tunggu dulu, IIB itu apa ya? IIB atau Integrated Investigation Bureau adalah sebuah organisasi khayalan yang menangani berbagai kasus-kasus penting. Yaaah semacam FBI tapi IIB ini hanya khayalan saja jadi aslinya tak ada IIB di Kanada sana. Di IIB, Toby tidak sendiri, ia dibantu oleh agen IIB senior yang berpengalaman di lapangan yaitu Michelle McCluskey (Lauren Lee Smith). Bagaimanapun juga, pada awalnya Toby belum bisa berkelahi atau menembakkan senjata padahal masalah yang Toby hadapi di IIB lebih berbahaya ketimbang masalah yang ia hadapi di rumah sakit dan ambulan. Kombinasi antara pengalaman Michelle di lapangan dan kemampuan membaca pikiran yang dimiliki Toby, berhasil membantu IIB dalam memecahkan berbagai kasus yang semakin hari semakin menantang. Toby bahkan sempat bertemu dengan orang-orang yang tidak dapat ia baca pikirannya.

Listener13

Listener4

Listener12

Listener6

Listener5

Listener2

Listener7

Episode-episode pada musim pemutaran perdana The Listener memang kurang menarik bagi saya karena pada episode-episode tersebut, Toby masih berkutat dengan masalah-masalah yang ia temui di sekitar rumah sakit dan ambulan. Bagaimanapun juga saya lebih senang melihat aksi Toby sebagai konsultan IIB dibandingkan aksi Toby sebagai paramedis. Masalah yang Toby tangani di IIB lebih menarik dan variatif. Saya pun mulai betah menonton The Listener pada waktu serial ini sudah mulai masuk ke musim pemutaran yang kedua. Secara keseluruhan, The Listener layak untuk mendapat nilai 4 dari skala maksimum 5 yang artinya “Bagus”. Tidak semua film seri bagus harus berasal dari Amerika, ternyata ada juga yang berasal dari Kanada, Indonesia kapan?

Reclaim (2014)

Reclaim 1

Bencana terjadi dimana-mana tanpa memandang batas negara. Anak-anak yatim piatu semakin bertambah jumlahnya ketika bencana besar hadir di Bumi ini. Beberapa keluarga yang tergolong mampu, tergerak hati nuraninya untuk mengadopsi satu atau beberapa anak yatim piatu tersebut. Hal inilah yang dilakukan oleh pasangan suami istri Steven (Ryan Phillippe) dan Shannon (Rachelle Lefevre). Mereka datang ke Puerto Rico untuk mengadopsi Nina (Briana Roy), anak yatim piatu dari sebuah bencana besar di Haiti.

Reclaim 2

Reclaim 3

Reclaim 4

Ketika sedang menyelesaikan surat-surat adopsi dan kepindahan Nina, Steven dan Shannon bertemu dengan Benjamin (John Cusack), Salo (Jandrez Burgos) dan Paola (Veronica Faye Foo). Pertemuan tersebut ternyata membawa Steven & Shannon ke dalam lingkaran hitam jaringan penipuan. Terjadilah aksi kucing-kucingan di Puerto Rico yang memiliki alam yang sangat mirip dengan Indonesia.

Reclaim 8

Reclaim 6

Reclaim 7

Reclaim 5

Reclaim 9

Saya melihat banyak sekali kelemahan dalam jalan cerita Reclaim (2014) seperti buat apa ada perkenalan antara Steven dan Shannon dengan Benjamin dan kawan-kawannya? Buat apa ada perkelahian di bar? Hal-hal ini tidak terlalu penting dan tidak memiliki korelasi yang nyata dengan taktik penipuan yang terjadi.

Reclaim (2014) sama sekali tidak menegangkan atau penuh kejutan sebab ceritanya memang sederhana. Saya rasa Reclaim (2014) hanya mampu untuk mendapatkan nilai 2 dari skala maksimum 5 yang artinya “Kurang Bagus”. Ternyata poster iklan Reclaim (2014) memang sama kurang bagusnya dengan filmnya. Nama besar John Cusack gagal menyelamatkan Reclaim (2014).

Jupiter Ascending (2015)

Jupiter Ascending

Awal tahun 2015 ini hadir film Jupiter Ascending (2015) hasil besutan Wachowski bersaudara, sutradara The Matrix (1999) yang merupakan salah satu film favorit saya :). Mirip dengan The Matrix (1999) yang mengisahkan bagimana seorang biasa bertransformasi menjadi seseorang yang luar biasa, Jupiter Ascending (2015) mengisahkan bagaimana Jupiter Jones (Mila Kunis) berubah dari seorang pembersih rumah menjadi salah satu penguasa planet-planet yang di alam semesta.

Jupiter Jones adalah seorang anak yatim yang hidup bersama ibu, om, tante dan sepupunya di Bumi. Jupiter bekerja sebagai pembersih rumah, yaaah kalau di Indonesia istilah kerennya pembantu rumah tangga paruh waktu :’). Nasib Jupiter berubah 180 derajat ketika pada suatu hari ada beberapa mahluk asing berusaha membunuh Jupiter. Beruntung Caine Wise (Channing Tatum) datang menolong tepat sebelum Jupiter tewas. Apa motif dari usaha pembunuhan ini?

Jupiter Ascending 11

Jupiter ternyata memiliki DNA yang sama persis dengan DNA mendiang ibu dari Balem Abrasax (Eddie Redmayne), Kalique Abrasax (Tuppence Middleton) & Titus Abrasax (Douglas Booth). Keluarga Abrasax adalah keluarga bangsawan dari mahluk luar angkasa yang memiliki beberapa planet di alam semesta termasuk Bumi. Tanpa manusia sadari, Bumi ternyata dimiliki oleh mahluk luar angkasa dan manusia ternyata diperlakukan sebagai ternak sekaligus investasi jangka panjang keluarga Abrasax. Pada saatnya nanti, keluarga Abrasax akan menghancurkan kehidupan di Bumi dan menciptakan suatu komoditi yang terbuat dari manusia.

Jupiter Ascending 8

Bumi adalah planet paling berharga yang dimiliki keluarga Abrasax karena padatnya populasi manusia di Bumi. Sebelum keberadaan Jupiter diketahui, Bumi menjadi milik Balem Abrasax. Namun dengan hadirnya Jupiter, Bumi otomatis akan menjadi milik Jupiter karena hierarki DNA Jupiter berada di atas Balem.

Untuk mengklaim Bumi sebagai miliknya, Jupiter harus melalui berbagai proses birokrasi. Selama proses pengangkatan ini berlangsung, Balem, Titus dan Kalique melancarkan berbagai manuver licik dengan tujuan personal masing-masing. Manuver-manuver licik ketiga mahluk tersebut beberapa kali menempatkan Jupiter pada keadaan yang berbahaya. Beberapa kali pula Caine hadir untuk menyelamatkan calon ratu keluarga Abrasax tersebut.

Jupiter Ascending 17

Jupiter Ascending 18

Jupiter Ascending 15

Jupiter Ascending 7

Jupiter Ascending 23

Taktik-taktik licik keluarga Abrasax memang bermacam-macam dan lumayan menarik untuk ditonton, namun tidak terlalu “wah”. Apalagi penyelesainnya pasti bagitu-begitu saja, Caine datang dan semua beressss, solved x__x.

Jupiter Ascending 6

Jupiter Ascending 1

Jupiter Ascending 16

Jupiter Ascending 19

Walaupun jalan ceritanya tergolong biasa dan sedikit membosankan, kostum & special effect yang dihadirkan Jupiter Ascending (2014) termasuk kereeeeen. Mendengar nama Wachowski, saya yakin Jupiter Ascending (2015) pasti menampilkan special effect yang memukau. Sayapun baru minggu lalu menonton Jupiter Ascending (2015) di Studio IMAX XXI 8-). Tidak rugi saya menontonnya di Studio IMAX XXI yang berlayar lebar dan 3D, puassss.

Jupiter Ascending 10

Jupiter Ascending 3

Jupiter Ascending 4

Jupiter Ascending 22

Jupiter Ascending 21

Jupiter Ascending 9

Jupiter Ascending 13

Jupiter Ascending 12

Jupiter Ascending 2

Jupiter Ascending 5

Jupiter Ascending 20

Jupiter Ascending 14

Dengan demikian, Jupiter Ascending (2015) layak untuk mendapat nilai 3 dari skala maksimum 5 yang artinya “Lumayan”. Walaupun Jupiter Ascending (2015) memiliki kelebihan dari sisi special effect, kelebihan tersebut tidak mampu mengangkat penilaian saya. Menurut saya The Matrix (1999) masih menjadi karya terbaik Wachowski bersaudara.

Sumber: http://www.jupiterascending.com