The Shining (1980)

Banyak orang-orang yang mengalami masa remaja atau dewasa di tahun 80-an, memuji The Shining (1980) sebagai film paling menakutkan di eranya. Film ini dirilis jauh sebelum saya lahir dan saya baru menontonnya beberapa minggu yang lalu. Agak penasaran juga sih, seperti apa ya filmnya.

Pada The Shining (1980), dikisahkan bahwa Jack Torrance (Jack Nicholson) baru saja memperoleh pekerjaan sebagai penjaga Hotel Overlook yang terletak di pengunungan Colorado yang terpencil. Karena alasan ekonomi, hotel mewah tersebut akan tutup selama musim dingin berlangsung, dan akan buka kembali setelah musim dingin berakhir. Tugas Jack di sana adalah memastikan bahwa hotel tetap dalam keadaan baik dan siap beroperasi kembali ketika musim dingin berakhir.

Selama musim dingin berlangsung, semua tamu dan petugas hotel akan pergi meninggalkan hotel tersebut. Jack tidak akan sendirian, ia diperbolehkan membawa keluarganya di sana. Keluarga kecil Jack terdiri dari istri Jack yaitu Wendy Torrance (Shelley Duvall), anak Jack yaitu Danny Torrance (Danny Lloyd), dan Jack sendiri sebagai kepala keluarga. Jack, Wendy dan Danny akan tinggal di dalam sebuah hotel yang mewah, megah, namun terisolasi selama musim dingin, tak akan ada orang lain yang bermukim di dekat mereka. Jalanan dan jalur telefon pun biasanya terputus selama musim dingin. Apakah mereka akan baik-baik saja?

Ooooh tentu tidak :’D. Hotel Overlook ternyata menyimpan sejarah kelam di setiap sudutnya. Perlahan tapi pasti, hotel tersebut mulai mempengaruhi Jack untuk membunuh anak dan istrinya. Sejak awal film, karakter Jack Torrance memang sudah nampak jahat. Jack Nicholson berhasil menunjukkan ini dengan gerakan alisnya yang khas. Opa yang satu ini memang pandai memerankan karakter antagonis. Bertolak belakang dengan Jack, karakter Wendy justru nampak lemah walaupun Wendy pantang menyerah untuk menyelamatkan dirinya dan Danny. Danny sendiri beberapa kali nampak ketakutan tapi tidak berlebih seperti ibunya. Danny justru nampak relatif lebih tenang dan stabil dibandingkan kedua orang tuanya. Belakangan diketahui bahwa ternyata ia memiliki kemampuan supranatural yang pada film ini disebut shining.

Apa itu shining akan dijelaskan dengan gamblang pada film ini. Tapi untuk beberapa hal lain justru dibiarkan menggantung agar para penonton menerka-nerka sendiri. Beberapa fans berat The Shining (1980) bahkan membuat film dokumenter yang membahas makna-makna tersembunyi pada The Shining (1980). Sesuatu yang dianggap omong kosong oleh Stephen King. Pada tahun 1977, Stephen King merilis novel horor berjudul The Shining. Novel inilah yang diangkat oleh Stanley Kubrick ke layar lebar melalui The Shining (1980). Sayang sekali, King tidak suka dengan The Shining (1980). Menurut King, Kubrick menggambarkan Jack sebagai karakter yang terlalu jahat dan Wendy sebagai karakter yang terlalu lemah. Menurut King, seharusnya Jack digambarkan sebagai karakter yang sebenarnya baik dan sayang keluarga, tapi berubah karena pengaruh hotel. Wendy yang terlihat terlalu lemah dianggap kurang logis kalau mampu terus berjuang menghadapi Jack. Untuk poin ini saya setuju dengan Opa King. Tapi bukan berarti The Shining (1980) tidak memiliki kelebihan loh. Kubrick dengan cerdik memodifikasi The Shining (1980) agar filmnya tidak harus menggunakan special affect ala tahun 80-an yang tentunya akan nampak aneh bila ditonton pada tahun 2018. Beberapa adegan horor yang digambarkan King pada novelnya memang sangat sulit untuk ditunjukkan pada versi filmnya karena keterbatasan teknologi saat itu. Dengan demikian, Kubrick memodifikasi beberapa bagian cerita termasuk bagian akhirnya. Mungkin hal ini pulalah yang membuat King tidak suka dengan The Shining (1980). Pada tahun 1997, The Shining sempat dihadirkan kembali dalam bentuk mini seri dan menggunakan cerita yang lebih sesuai dengan keinginan King. Hasilnya? Para penonton lebih suka The Shining (1980) :’D.

The Shining (1980) memang berhasil menghadirkan beberapa kengerian tanpa campur tangan special affect modern. Bagian yang saya anggap paling menakutkan dari The Shining (1980) adalah bagian dimana Danny bersepeda mengelilingi lorong hotel. Cara mengambil gambar dan kondisi lorong hotel yang terang namun sepi, mampu memberikan efek tegang. Kehadiran 2 anak kembar misterius pun dapat mengejutkan walaupun film ini tidak menggunakan teknik jump scare. Ditambah lagi lagu latar belakangnya yang menutut saya agak mengerikan.

Sayang adegan dimana seorang ayah berbalik ingin membunuh keluarganya sendiri sudah beberapa kali saya jumpai pada film horor lain. Jadi, tidak ada yang spesial atau menyeramkan di sana. Penokohan Jack dan Wendy rasanya kurang tepat untuk menghasilkan kengerian sekaligus intrik yang maksimal. Saya lebih suka karakter Jack dan akhir dari Hotel Overlook pada versi novelnya. Untuk hal-hal lainnya, saya tidak terlalu masalah.

Mohon maaf bagi penggemar garis keras The Shining (1980), saya hanya mampu memberikan The Shining (1980) nilai 3 dari skala maksimum 5 yang artinya “Lumayan”. King dan Kubrick tetap sama-sama patut diacungi jempol atas karya mereka :).

Iklan

It (2017)

IT

Film mini seri TV, It (1990), merupakan film horor pertama yang saya tonton secara utuh, dari awal sampai akhir. Film yang dibuat berdasarkan novel karya Stephen King ini, hadir di TV dalam bentuk mini seri yang terdiri dari 2 episode. Episode pertama bercerita di era 80-an ketika tokoh utama masih anak-anak. Sedangkan episode kedua bercerita ketika tokoh utama sudah beranjak dewasa. Pada tahun 2017 ini, kisah pada It (1990) episode pertama, dibuat ulang pada It (2017).

Mirip seperti mini seri It (1990), It (2017) berkisah mengenai sekelompok anak-anak yang harus berhadapan dengan sebuah mahluk misterius. Mahluk tersebut sudah ratusan tahun menggunakan trik dan ilusi untuk menakut-nakuti korbannya. Ia “memakan” rasa takut anak-anak untuk menjadi lebih kuat, semakin takut si korban, semakin kuatlah mahluk tersebut jadinya. Karena korbannya adalah anak-anak, mahluk tersebut sering menggunakan wujud Pennywise si badut sebagai wujud fisiknya. Tapi badut bukanlah wujud permanen mahluk ini. Ia sebenarnya tidak memiliki wujud dan nama yang jelas. Maka mahluk ini sering pula disebut “It”, sebuah kata umum dalam bahasa Inggris yang mengarah kepada suatu hal.

IT

IT

Lawan It (Bill Skarsgard) pada It (2017) adalah sekelompok anak-anak yang menamakan diri mereka The Losers Club. Kelompok ini terdiri dari William “Bill” Denbrough (Jaeden Lieberher), Stanley “Stan” Uris (Wyatt Oleff), Benjamin “Ben” Hanscom (Jeremy Ray Taylor), Beverly “Bev” Marsh (Sophia Lillis), Richard “Richie” Tozier (Finn Wolfhard), Edward “Eddie” Kaspbrak (Jack Dylan Grazer), Michael “Mike” Hanlon (Chosen Jacobs). Stan merupakan anak pemuka agama Yahudi yang enggan mendalami ajaran agamanya tapi terlalu takut untuk mengakuinya, ia termasuk anak yang mudah panik dan agak canggung. Richie merupakan anak paling cerewet yang takut badut … hhmmmm … mangsa yang sempurna bagi It. Eddie merupakan anak yang sangat dilindungi oleh ibunya karena penyakit yang Eddie derita, walaupun sebenarnya Eddie tidak sesakit dan selemah itu. Mike merupakan anak kulit hitam yang ditekan agar mampu menjadi tukang jagal hewan seperti almarhum ayahnya, Ben merupakan anak baru yang gemar membaca dan akhirnya mampu memberikan beberapa informasi terkait It kepada teman-temannya. Bev merupakan satu-satunya anak perempuan di dalam The Loosers Club yang mengalami berbagai pelecehan baik di sekolah maupun di rumah. Terakhir, Bill merupakan anak yang paling berpengaruh di dalam The Loosers Club walaupun ia bukan yang paling pintar, bukan yang paling supel dan bukan yang paling kuat. Bill seolah menjadi pemimpin perkumpulan anak-anak tersebut. Atas ajakan Bill pulalah, The Loosers Club melakukan penyelidikan terhadap hilangnya anak-anak di kota mereka yang ternyata sudah terjadi selama ratusan tahun. Bill sangat terobsesi dengan kasus-kasus tersebut karena adik Bill merupakan salah satu dari anak-anak yang hilang tersebut. Ahhhh, nasib buruk yang menimpa adik Bill ini dikisah pada bagian awal film, jadi penonton sopasti tahu siapa yang Bill dan kawan-kawan buru.

IT

IT

IT

IT

IT

IT

IT

Saya melihat It (2017) menyajikan aneka masalah yang dihadapi oleh masing-masing anggota The Loosers Club dengan berimbang. Hanya kasus Bill saja yang sedikit dominan tapi masih dalam takaran yang wajar. Semua masalah tersebut dapat terangkai menjadi satu dengan tema film ini sehingga semuanya nampak sebagai satu kesatuan yang utuh :). Bumbu masalah yang akan hadir di masa depan (andai film ini sekuelnya jadi dibuat), sudah terlihat sejak dini. Saya melihat benih-benih cinta segitiga antara Bill, Bev dan Ben. Kalau di versi novel dan mini seri It (1990), hal ini akan menjadi masalah besar yang memecahbelah persahabatan mereka.

Yang saya paling suka dari It (2017) adalah bagaimana The Loosers Club dapat berubah dari pecundang yang diburu, menjadi kelompok anak-anak yang kuat dan pemberani. Saya sangat suka dengan bagian klimaks dari film ini, jarang-jarang ada film horor yang akhirnya seperti ini. Yaah memang sih sedikit menggantung, tapi hal itu wajar karena pada mini seri It (1990) saja, film ini memang dibagi ke dalam 2 film.

IT

IT

IT

Penampakan It sebagai badut cukup menyeramkan tapi teknik jump scare yang dipergunakan terkadang sedikit hambar. Teknik yang si badut It lakukan untuk menakut-nakuti pun, kadang tidak terlihat menakutkan. Yang saya syukri dari It (2017) adalah tidak terlalu banyaknya adegan sadis yang menjijikkan seperti yang pernah saya lihat pada Saw (2004), sebuah film horor penuh kejutan tapi sangat sadis.

IT

IT

Saya suka dengan film horor yang satu ini. It (2017) tentunya layak untuk memperoleh nilai 4 dari skala maksimum 5 yang artinya “Bagus”. Puas rasanya melihat nasib si jahat It pada bagian akhir film ini :).

Sumber: itthemovie.com

Happy Death Day (2017)

 

Happy Death Day (2017) secara mengejutkan sempat merajai tangga box office beberapa minggu yang lalu, mengalahkan beberapa film dengan pemain ternama dan anggaran yang besar.  Film yang diproduksi oleh Universal Studio ini merupakan gabungan antara Scream (1996) dan Groundhog Day (1993). Di sana terdapat nuansa film slasher remaja yang sempat populer di era 90-an yang dipadukan dengan terjebaknya Tree Gelbman (Jessica Rothe) di dalam sebuah putaran waktu.

Pada suatu pagi, Tree terbangun di dalam kamar asrama milik Carter Davis (Carter Broussard). Tree menjalani hari tersebut sampai akhirnya ia tewas dibunuh sosok misterius yang menggunakan topeng bayi, maskot kampus tempat Tree kuliah. Setelah tewas, Tree kembali terbangun di pagi hari, di dalam kamar asrama milik Carter, di hari ulang tahunnya. Kejadian ini sepertinya akan terus Tree alami berulang-ulang sampai ia menemukan sosok misterius yang berulang kali berhasil membunuhnya.

Aksi kejar-kejaran antara Tree dan si pembunuh, menggunakan bantuan lagu dan suara agar nampak mengejutkan. Andaikata kita menonton Happy Death Day (2017) tanpa suara, praktis film ini tidak terlalu mengejutkan. Yaaa tak apalah, paling tidak film ini bukan termasuk film horor yang menjijikan.

Slasher merupakan subkategori dari jenis film horor, tapi terus terang tipe film horor seperti ini relatif lebih saya suka ketimbang tipe film horor lainnya. Aroma film slasher memang relatif kental terasa pada Happy Death Day (2017). Seperti film slasher di era 90-an, misteri akan siapa si pembunuh, tetap mampu membuat penonton penasaran. Latar belakang ala film slasher remaja pun nampak jelas pada film ini, mulai dari lorong gelap, rumah sakit sampai parkiran kosong. Akhir filmnya pun cukup memuaskan dengan sebuah kejutan di belakang. Tapi saya lihat ada hal yang membedakan Happy Death Day (2017) dengan berbagai film slasher yang pernah saya lihat yaitu penggunaan looping waktu dan terlihatnya unsur komedi romantis di sana.

Dengan adanya perulangan waktu, semakin lama, penonton dapat melihat siapa Tree yang sebenarnya. Karakter Tree yang pada awalnya nampak “brengsek”, perlahan mulai “insaf” dan memiliki ketertarikan dengan Carter. Alasan mengapa Tree menjadi “brengsek” pun dimunculkan di saat yang tepat sehingga Happy Death Day (2017) nampak semakin menarik untuk ditonton. Sayang, sampai akhir film, terdapat beberapa hal yang belum terjawab. Apa sih yang tidak terjawab? Saya tidak akan membeberkan spoiler di sini hehehe.

Setelah menonton Happy Death Day (2017), saya tak heran film ini berhasil merajai tangga box office beberapa minggu yang lalu. Happy Death Day (2017) layak untuk memperoleh nilai 4 dari skala maksimum 5 yang artinya “Bagus”.

Sumber: http://www.happydeathdaymovie.com

Don’t Breathe (2016)

Jangan bernafas atau tahan nafas, kenapa kok film yang satu ini judulnya begitu? Don’t Breathe (2016) ternyata merupakan film horor dimana tokoh utamanya terperangkap di dalam rumah seorang veteran tentara. Lawan mereka bukan setan kok, hanya seorang pria tua yang buta….

Kisah pada film ini diawali dengan rencana pencurian yang akan dilakukan oleh Rocky (Jane Levy), Alex (Dylan Minnette) dan Money (Daniel Zovatto). Mereka hendak masuk dan mencuri harta benda milik Norman Nordstrom (Stephen Lang), seorang mantan tentara yang buta dan tinggal di sebuah lingkungan yang kumuh, rawan dan sepi. Norman menjadi target karena kabarnya Norman baru saja memperoleh uang ganti rugi dari keluarga kaya yang tidak sengaja membunuh puteri Norman. Selain itu, Norman adalah tunanetra yang hidup sendirian di rumahnya, waaahhh sepertinya Norman adalah sasaran empuk nih.

Rocky dan kawan-kawan salah besar, ternyata Norman itu seperti Zatoichi atau Si Buta Dari Goa Hantu, apalagi tempat tinggal Norman itu miskin pencahayaan, sangat menguntungkan Norman yang sehari-hari mengandalkan indra pendengarannya yang superrr sekali :’D. Rocky, Alex dan Money harus bergerak dengan hati-hati dan pelan-pelan, bernafaspun harus pelan-pelan kalau mau selamat dari Norman.

Di dalam rumah Norman, Rocky dan kawan-kawan menemukan sisi gelap dari Norman yang tidak banyak orang ketahui. Bukan hanya memiliki kemampuan tempur yang mumpuni, Norman ternyata menyimpan sesuatu yang buruk di dalam rumahnya, sesuatu yang cukup mengejutkan :’D. Norman ternyata memang bukan orang yang 100% baik, tapi apakah Rocky dan kawan-kawan lebih baik dari Norman? Mau bagaimanapun juga, mencuri bukanlah hal yang benar. Pada Don’t Breathe (2016) terlihat seolah-olah, si maling itu orang baik dan si buta adalah orang jahat. Penggambaran latar belakang keluarga Rocky yang berantakan rasanya ditampilkan untuk menjustifikasikan aksi kriminal dari Rocky. Padahal baik si maling maupun si buta, mereka semua sama-sama kotor. Hanya karena si buta fisiknya kurang ganteng, bukan berarti dia lebih buruk dari Rocky yang cantik lhooo.

Melihat aksi kejar-kejaran di dalam rumah Norman terbilang cukup seru meskipun ada beberapa bagian yang sedikit tidak masuk akal dan plotnya terkesan agak melompat-lompat. Kejutan akan aksi kotor si buta terbilang psikopat sekaligus menyedihkan :’D. Dengan demikian rasanya Don’t Breathe (2016) layak untuk memperoleh nilai 3 dari skala maksimum 5 yang artinya “Lumayan”.

Sumber: sites.sonypictures.com/dontbreathe/site/

World War Z (2013)

World War Z 1

Film World War Z (2013) merupakan adaptasi dari sebuah novel dengan judul yang sama. Z pada judul film tersebut adalah sebutan bagi manusia yang sudah terinfeksi sebuah virus. Virus ini mengubah manusia menjadi zombie yang sangat agresif. Berbeda dengan zombie-zombie yang ada pada film-film lain, zombie pada World War Z (2013) dapat berlari seperti orang kesurupan dan sangat sensitif dengan bunyi-bunyian. Mereka tidak segan-segan berlari dan melompat untuk menghampiri sumber dari bunyi-bunyian yang mereka dengar. Hal inilah yang membuat World War Z (2013) sukses menghadirkan suasana mencekam di kamar saya kemarin malam.

World War Z 4 World War Z 2

World War Z 7

World War Z 3

World War Z 10

World War Z 6

Melihat World War Z (2013) sebagai film bergenre horor yang mengangkat tema zombie, awalnya saya sama sekali tidak tertarik untuk menonton film tersebut. Yaaaelaah film zombie-nya Amerika yaaa paling begitu-begitu saja. Ceritanya hanya menceritakan seseorang atau beberapa tokoh utama yang berlari & bersembunyi dari kejaran zombie. Ending-nya pun paling dibuat sangat menggantung dengan kemenangan di pihak zombie atau dibuat zombienya yang kalah karena ditembak oleh sepasukan angkatan bersenjata sebuah negara, boring :(.

Setelah menonton World War Z (2013) kemarin malam, saya sadar bahwa saya salah. World War Z (2014) menceritakan bagaimana Gerry Lane (Brad Pitt), seorang mantan prajurit PBB, berkelana ke Korea, Israel dan Wales untuk mencari vaksin yang dapat menyembuhkan manusia-manusia yang sudah berubah menjadi Z. Walaupun pada akhirnya bukan vaksin penawar wabah Z yang ia temukan, petualangan Gerry ini cukup keren dan membuat saya penasaran.

WORLD WAR Z WORLD WAR Z World War Z 5

WORLD WAR Z

Kalau harus dibandingkan dengan film-film zombie lainnya seperti I am Legend (2007) atau Dawn of The Dead (2004), World War Z (2013) memiliki jalan cerita yang lebih menyenangkan untuk diikuti. Film zombie klasik seperti Dawn of The Dead (2004) tentunya sudah umum dan mudah ditebak seperti apa ceritanya, sedangkan film zombie yang mengambil jalan cerita yang unik seperti I am Legend (2007) memang menampilkan sesuatu yang berbeda namun belum tentu bagus. Tidak semua yang berbeda itu bagus lhooo, I am Legend (2007) adalah contohnya, film ini termasuk film terburuk yang pernah saya tonton, payaaaaahh :(. Rasanya World War Z (2013) layak mendapat nilai 4 dari skala maksimum 5 yang artinya “Bagus”, film horor bertemakan zombie pertama yang mendapat nilai 4 dari saya ;).

Sumber: worldwarzmovie.com

The Pact (2012)

The Pact 1

Entah kenapa beberapa hari yang lalu saya tertarik untuk menonton film The Pact (2012) yang katanya sih termasuk film horor, whaaa jarang-jarang nih saya nonton film horor. Film The Pact (2012) diawali dengan peristiwa meninggalnya seorang ibu. Ibu tersebut memiliki 2 orang anak, Nicole Barlow (Agnes Bruckner) & Annie Barlow (Caity Lotz). Nicole yang pulang ke rumah ibu mereka, tempat Nicole & Annie dulu tinggal, sedang mempersiapkan upacara pemakaman ibu mereka. Sementara itu Annie menolak untuk datang ke rumah tersebut karena ia memiliki kenangan buruk akan rumah tersebut, ibu mereka memperlakukan mereka dengan kurang baik.

Ketika upacara pemakaman berlangsung, Nicole tidak ada di tempat. Anak Nicole & sepupu Nicole yang mengasuh anak Nicole pun tidak tahu di mana Nicole berada. Annie yang menghadiri pemakaman, awalnya tidak menganggap serius ketidakhadiran Nicole. Menurutnya Nicole memang punya kebiasaan untuk lari kabur dari masalah ketika masalah yang datang sangat besar. Namun lama kelamaan, Annie menyadari bahwa Nicole benar-benar hilang, bukan kabur.

Annie akhirnya kembali ke rumah mendiang ibunya. Bukan kenangan indah yang diperoleh tapi justru peristiwa supranatural & mimpi-mimpi buruk. Annie meminta bantuan polisi & seorang kawan SMA-nya yang dapat melihat mahluk gaib, Annie ingin mengetahui nasib Nicole & arwah siapa yang sering mengganggunya di rumah mendiang ibunya. Penyelidikan Annie semakin lama semakin dalam, semakin besar rahasia kelam keluarganya yang terungkap.

The Pact 6

The Pact 2 The Pact 4

The Pact 7

The Pact 9 The Pact 5

The Pact 3 The Pact 8

Meskipun dikategorikan film horor, The Pact (2012) tidaklah penuh dengan adegan mengejutkan seperti film horor Amerika pada umumnya. The Pact (2012) cocok ditonton bagi penonton yang ingin menonton film horor dengan kadar horor yang rendah, mungkin ada sedikit adegan sadis, tapi kadarnya masih sangatlah jauh bila dibandingkan dengan Saw (2004) :’D.

The Pact 10

Jalan cerita The Pact (2012) agak berantakan, kurang beraturan & gagal membuat saya penasaran. Olehkarena itulah The Pact (2012) hanya layak mendapat nilai 2 dari skala maksimum 5 yang artinya “Kurang Bagus”.

Gallowwalkers (2013)

Gallowwalkers

Secara tidak sengaja pada masa liburan lebaran ini saya menemukan filmnya Wesley Snipes yang agak asing namanya, galow galau apaaaa gituu, hehhehehehe, judul filmnya adalah Gallowwalkers. Bukankah Om Snipes saat ini sedang dipenjara? masih aja ada filmnya yang keluar. Gallowwalkers ternyata sudah mulai syuting sejak 2006 dan pertama kali tayang pada akhir 2012 di festival FILM4 FrightFest Inggris. Kemudian baru pada 2013 inilah theatrical dan DVD-nya di-release ke pasaran.

Gallowwalkers 2 Gallowwalkers 3 Gallowwalkers 4 Gallowwalkers 5

Pada Gallowwalkers, Wesley Snipes tampil sebagai Aman, seorang koboy negro yang misterius dan agak sadis. Snipes muncul dengan karakter yang sok’ cool, karakter yang sering Snipes mainkan di film-filmnya yang lain, cuek, diem tapi jago berkelahi dan menggunakan senjata. Aman adalah koboy yang terkutuk, ia dikutuk karena perbuatan ibunya yang telah membuat perjanjian terlarang demi menyelamatkan nyawa Aman. Kutukan Aman adalah setiap manusia yang Aman bunuh, akan hidup kembali menjadi mayat hidup. Nah, lawan Aman yang utama adalah sekelompok koboy mayat hidup yang dulu pernah Aman bunuh karena memperkosa kekasih Aman.

Gallowwalkers 6

GallowWalker Principal Photography Day 20 Gallowwalkers 8 Gallowwalkers 9

Singkat kata, film ini jelek, sadissss, 17 tahun ke atas. Wewwww, saya pikir saya akan melihat Blade (1998) versi koboy, ternyata saya salah. Kualitas Blade (1998) masih beberapa level di atas Gallowwalkers (2013). Adegan action-nya biasa-biasa saja, tidak terlalu bagus dan tidak jelek sekali. Special effect pun sangat minim saya lihat di film ini, sederhana sekali. Gallowwalkers banyak menampilkan kekerasan dan kesadisan, pemenggalam beberapa bagian tubuh dan darah menyembur di mana-mana tanpa ada kesatuan cerita yang jelas. Saya tidak ada masalah dengan film yang sadis, film seperti Ninja Assasin (2009) yang penuh darah saja saya suka. Tapi untuk Gallowwalkers, saya tidak menemukan unsur menariknya dari film ini. Ceritanya dangkal dan penuh khayalan yang …. tidak ada keren-kerennya, aneh. Pada bagian awal film, saya memang sempat dibuat penasaran, tapi kok semakin lama, semakin tidak menarik. Menurut saya Gallowwalkers hanya layak mendapat nilai 2 dari skala maksimum 5 yang artinya jelek. Mungkin bagi pecinta film sadis atau horor akan berkata lain :).