Hari Kelima Wisata Korea – One Mount Snow Park, The War Memorial of Korea & Myeong-dong

Setelah lelah hiking di Gunung Seorak pada Hari Keempat Wisata Korea – Gunung Seorak & Naksansa kemarin, maka pada hari kelima ini kami berangkat agak santai. Perjalanan wisata pada hari keempat kemarin ternyata memang melelahkan sekali. Periode menstruasi istri saya saja sampai kacau setelah pulang dari sana. Maklum, hiking dengan menggedong anak yang hampir berumur 2 tahun tentunya cukup menguras stamina. Faktor kelelahan memang dapat menjadi faktor kacaunya periode mens. Tapi untuk kasus ini, ada hal tak terduga yang harus kami terima dan baru kami ketahui di akhir perjalanan kami, yaitu pada hari kesembilan.

Pagi itu kami mulai kehabisan pakaian hehehehe. Maka, istri saya menyetrika beberapa pakaian yang kemungkinan akan digunakan keluar apartemen. Sisanya cukup dilipat saja, toh tidak kelihatan orang hohohoho ;). Seperti hari-hari sebelumnya, kami menyiapkan bekal sarapan di sana. Setelah siap, kami kembali berjalan menuju Stasiun :D.

Tujuan utama kami hari itu hanya 2 yaitu One Mount Snow Park dan The War Memorial of Korea. One Moung Snow Park yang lebih jauh agak keluar kota, menjadi tujuan pertama kami. Perjalanan di mulai dari Stasiun Dongdaemun History & Culture Park. Dari sana, kami naik Kereta Seoul Metro jalur 4 (biru muda) arah Stasiun Chungmoro untuk turun di Stasiun Chungmoro. Dari Stasiun Chungmoro, kami naik Kereta Seoul Metro jalur 3 (oranye) arah Stasiun Euljiro3(sam)-ga untuk turun di Stasiun Juyeop yang letaknya cukup jauuuuuuh :D. Kami melewati banyak Stasiun sebelum tiba di sana.

Keluar dari Stasiun Juyeop, kami sudah tidak lagi merasakan suasana Seoul yang metropolis. Stasiun ini memang terletak di Gyeonggi-do, sebuah propinsi terpadat dan terbesar di Korea Selatan yang mengelilingi ibukota Seoul. Di sana, kami melihat taman dan deretan rumah susun. Kami tiba di tengah-tengah jam kerja, dan keadaan di sekitar Stasiun nampak sepi. Sesekali kami melihat manula dan anak-anak lalulalang di sana.

Dari Stasiun, kami berjalan kaki menuju One Mount Snow Park dengan bantuan GPS. Untuk pertama kalinya kami melihat sekolahan SD di Korea, pantas saja sepanjang jalan mulai terlihat anak-anak, meskipun tetap sedikit hitungannya. Di taman yang kami lewati, kami pun bertemu dengan seorang ibu yang sedang mendorong stroller. Sepertinya, daerah pinggir kota seperti inilah yang menjadi tempat tinggal bagi keluarga-keluarga muda.

Udara yang segar dan taman yang hijau, membuat perjalanan kami tidak terasa melelahkan. Kami akhirnya tiba di Hallyuworld. Tempat ini besar dan seperti baru selesai dibuat. Keadaannya sepi sekali, 1 mall seolah jadi milik kami bertiga. Di dalam Hallyuworld inilah terdapat One Mount Snow Park, One Mount Water Park dan aneka pertokoan. Konon pemerintah Korea Selatan ingin menjadikan tempat tersebut sebagai pusat lokasi konser K-Pop. Tempat yang luas ini mungkin nampak sepi karena kami datang di tengah-tengah jam kerja.

Kami naik ke lantai 2 dan masuk ke dalam One Mount Snow Park dengan menggunakan tiket yang sudah saya beli di Aplikasi Klook sejak masih di Indonesia, biasaaaaa, mumpung ada diskonan ;). Di sana, kami memasukkan tas dan stroller lipat kami ke dalam loker. Barang-barang yang besar dan makanan memang tidak diperbolehkan masuk ke dalam. Hanya ada pengeculian khusus bagi makanan bayi. Barang-barang yang kecil dan bisa masuk ke kantong ya tetap saya bawa. Tongsis saja masih bisa lolos masuk ke dalam kok ;).

Kemudian, kami menggunakan perlengkapan musim dingin lengkap dari jaket bertudung sampai sepatu. Kalau tidak bawa, kita diperbolehkan menyewa atau membelinya di sana. Kalau tidak mau beli atau sewa juga tak apa, asal kuat dengan suhu minus di dalam sana :’D. Suhu minus? Tempat apa ini? One Mount Snow Park (원마운트 스노우파크) merupakan taman hiburan dengan tema musim dingin. Berbeda dengan area ice skating atau area salju-saljuan yang ada di Indonesia, One Mount Snow Park terdiri dari hamparan es yang luas dengan tata cahaya yang cantik.

Di atas hamparan es tersebut, terdapat mainan anak dan berbagai jenis kereta luncur yang lucu dan unik. Setelah menemani anak kami bermain dengan mainan anak yang ada, kami mencoba kereta luncurnya. Kami dapat meluncur menggunakan kereta luncur tersebut dengan menggunakan sepatu kets biasa. Arena ini memang bukan khusus area ice skating sehingga kita bebas mau masuk pakai jenis sepatu apa saja, tidak harus sepatu khusus ice skating.

Kami melunjur mengelilingi area es dengan mudah. Kereta-kereta luncur tersebut mudah sekali dikendalikan. Setelah bosan meluncur berputar-putar di tengah, kami pun mencoba meluncur melewati terowongan-terowongan panjang yang berada di pinggir arena. Terowongan tersebut sungguh cantik dan menyenangkan untuk dilewati dengan kereta luncur. Kami berputar di sana beberapa kali sampai bosan. Sebuah pengalaman yang menyenangkan, apalagi pengunjung One Mount Snow Park sedang sepi-sepinya, arena es seluas ini seakan jadi milik kami bertiga hehehehe ;).

Awalnya, kami berniat untuk menyewa kereta luncur yang ditarik oleh segerombolan anjing-anjing sejenis siberian huskies. Tapi setelah dipikir-pikir, kami khawatir anak kami jadi ketakutan dan moodnya rusak padahal perjalanan masih panjang.

Kami akhirnya memutuskan untuk naik ke lantai 2 One Mount Snow Park untuk melihat rumah-rumahan dan melihat arena ea dari atas. Anak kami yang sedang belajar jalan, senang berputar di sana. Saya sendiri sudah kelelahan mendorong kereta luncur tadi hehehe.

Setelah itu, kami pergi ke area Outdoor Rainbow Slope yang terdapat di atap gedung. Arena ini merupakan seluncur raksasa yang menggunakan ban pelampung. Mirip dengan seluncur yang ada di kolam renang Water Bom atau Atlantis Ancol, hanya saja yang One Mount Snow Park miliki ini kering dan berada di atas gedung ;D. Meluncur di sana tidak terlalu menakutkan, hanya saja untuk naiknya lumayan melelahkan karena tangganya landai dan tinggi sehingga perjalanan naiknya terasa jauh. Saya rasa, landainya tangga tersebut dimaksudkan agar anak-anak dapat dengan mudah melewatinya.

Di sepanjang tangga tersebut pun terdapat taman-taman cantik penuh karakter kartun yang anak kami sukai. Setelah melewati taman-taman tersebut, anak kami pun dengan senangnya ikut meluncur dari atas ;). Karena kami datang di musim semi, seluncur tersebut terlihat berwarna-warni. Keadaannya mungkin berbeda ketika musim dingin tiba. One Mount Snow Park memang buka di semua musim termasuk musim dingin sekalipun.

Sekitar pukul 1 siang kami keluar dari One Mount Snow Park dan berjalan turun ke lantai 1 Hallyuworld. Kami menyantap bekal kami di dalam pendopo-pendopo yang terletak berjajar di tengah Hallyuworld yang luas tapi sedang sepi-sepinya. Setelah kenyang, kami mengganti popok anak kami, lalu kami langsung kembali berjalan menuju Stasiun Juyeop. Kami tidak terlalu menaruh minat untuk belanja di Hallyuworld hehehehe.

Dari Stasiun Juyeop, kami kembali naik Kereta Seoul Metro jalur 3 (oranye) arah Stasiun Daegok untuk turun di Stasiun Chungmoro. Dari Stasiun Chungmoro, kami naik Kereta Seoul Metro jalur 4 (biru muda) arah Stasiun Seoul Station untuk turun di Stasiun Samgaki.

Dari Stasiun Samgaki, kami berjalan selama kurang lebih 10 menit menuju The War Memorial of Korea (전쟁기념관). Objek wisata ini merupakan markas besar tentara Korea Selatan di era Perang Korea (1950-1953). Perang tersebut dimulai ketika tentara Korea Utara menerobos masuk ke dalam wilayah Korea Selatan. Pada perkembangannya, perang ini ikut pula menyeret beberapa negara sehingga ikut berperang. Korea Utara di dukung oleh mayoritas negara-negara komunis dan sosialis seperti Uni Soviet, Republik Rakyat Cina, Jerman Timur, Polandia dan lain-lain. Sementara itu, Korea Selatan didukung oleh Amerika Serikat, NATO dan negara-negara lain yang mayoritas cenderung menganut ideologi liberal. Perang saudara beda ideologi ini menumpahkan banyak korban di kedua belah pihak. Semua terhenti ketika ditandatangi perjanjian damai pada tahun 1953. Korea pun terbelah dua dengan Zona Demiliterisasi sebagai pemisahnya.

Kedua Korea masih sama-sama waspada satu sama lain sampai sekarang. Warga Korea Selatan sendiri diwajibkan untuk mengikuti wajib militer. Melihat anak muda Korea berpakaian militer bukanlah pemandangan yang ganjil. Kami sendiri sering melihat pemuda-pemuda berumur 20 tahun-an menggunakan seragam militer di dalam kereta.

Kami sendiri datang pada hari dimana Korea Utara melakukan uji coba nuklir. Jadi, masalah konflik antara 2 Korea tersebut sedang menjadi topik hangat di hari tersebut. Tapi tidak ada nuansa ketegangan di sana. Warga lokal seakan sudah biasa membicarakan hal ini tanpa rasa khawatir. Kondisi Seoul sendiri tetap ramai seakan tidak ada apa-apa :).

Harapan akan penyatuan dan perdamaian masih tetap ada di sana. Hal ini terlihat dari patung Saudara yang terletak di dekat salah satu gerbang masuk menuju The War Memorial of Korea. Patung setinggi 18 meter ini menunjukkan seorang tentara Korea Utara berpelukan dengan tentara Korea Selatan di atas Bumi yang retak terbelah 2. Di bagian bawah patung tersebut, kami menemukan berbagai gambar terkait Perang Korea termasuk pasukan PBB yang dulu ikut membantu Korea Selatan.

Di sisi gerbang masuk lainnya terdapat patung Defending the Fatherland yang menunjukkan 2 deret patung yang menunjukkan bagaimana seluruh rakyat Korea Selatan dan Korea Utara dari berbagai kalangan ikut mempertahankan tanah air mereka masing-masing. Kami dapat melihat bagaimana kedua pihak nampak berjuang untuk menang. Sebuah hal yang sampai saat ini belum dapat dicapai oleh kedua belah pihak.

Selain patung-patung yang mencolok tersebut, terdapat berbagai monumen lain yang dikelilingi oleh taman yang indah. Pada salah satu bagian dari taman tersebut, terdapat kolam yang dihuni oleh ikan-ikan yang besar. Pada area sekitar kolam, terdapat banyak burung yang hinggap dan berkumpul. Kami beristirahat dan menyantap bekal kami di kursi-kursi yang terletak di pinggir kolam. Setelah kenyang, anak kami masih asik bermain dengan burung dan ikan. Apalagi ada yang menjual makanan binatang di sana, semakin betahlah anak kami bermain sambil memberi makan ikan dan burung. Yah, sah sudah, area menjadi lokasi favorit anak saya di hari tersebut :’D.

Akhirnya, istri dan anak kami bermain di area taman, sedangkan saja berjalan terus ke dalam. Dari area taman, sudah terlihat bangunan utama The War Memorial of Korea yang dipenuhi oleh bendera-bendera dari berbagai negara yang terlibat Perang Korea. Bangunan tersebut merupakan ruangan eksibisi yang berisikan informasi dan benda-benda bersejarah terkait perang-perang yang pernah bangsa Korea hadapi. Mulai dari zaman prasejarah, invasi Jepang, sampai Perang Korea. Di dalam sama terdapat pula informasi mengenai tokoh-tokoh militer dan pahlawan yang Korea Selatan miliki selama Perang Korea berlangsung. Andaikata hari belum mulai sore, saya pasti berminat untuk melihat semua ruangan eksibisi di sana. Tapi sayang, saya tiba di saat The War Memorial of Korea hampir tutup. Saya langsung berjalan bagian eksebisi luar yang terletak di samping bangunan utama The War Memorial of Korea. Di sanalah terdapat jip, tank, kapal laut, helikopter, pesawat temput, rudal dan peralatan militer besar lain yang pernah terlibat di dalam Perang Korea. Saya dapat masuk ke dalam beberapa kendaraan tempur ada di sana. Sebuah ruang eksibisi yang kereeeeen :D. Yaaah, ruang eksibisi ini memang “laki-laki banged”. Sebagian besar pengunjung yang berlama-lama di sana adalah kaum Adam. Saya sendiri berputar dan berfoto di sana, sampai The War Memorial of Korea dinyatakan tutup, hehehehehe.

Hari sudah menjelang sore tapi matahari belum sepenuhnya terbenam. Kami belum memutuskan hendak berkunjung ke mana. Yang pasti acara berikutnya adalah acara bebas. Kalau dilihat dari posisi, The War Memorial of Korea sebenarnya dekat dengan Itaewon. Tapi berhubung kami sudah berkeliling di sana pada Hari Ketiga Wisata Korea – Ihwa, Ewha, Itaewon & Banpo, akhirnya kami memutuskan untuk pergi menuju Myeong-dong.

Dari Stasiun Samgaki, kami naik Kereta Seoul Metro jalur 4 ( biru muda) arah Stasiun Seoul untuk turun di Stasiun Myeong-dong. Sebenarnya, ini adalah kedua kalinya kami mampir di Stasiun Myeong-dong. Pada Hari Pertama Wisata Korea – Incheon, Namsan Tower & K Star Road, kami tidak berjalan ke arah pusat pertokoan, melainkan langsung menuju Namsan. Nah, kali ini kami berjalan ke arah pusat pertokoan yang dipenuhi oleh barang-barang kaum Hawa :’D. Di sana, mayoritas pedagangnya adalah pedagang kosmetik dan atribut wanita.

Di Seoul sendiri, banyak brand kosmetik dan perawatan tubuh yang memiliki cabang di mana-mana. Tapi, antara 1 cabang dengan cabang yang lain ternyata memberikan promosi yang berbeda-beda. Di Myeong-dong sendiri, promosinya bukanlah yang paling murah di segala tipe brand. Tapi di sanalah semua toko memiliki cabang yang berdekatan dan sangat royal dalam memberikan sample gratian hehehehe. Selama kami berputar-putar di sana saja, tas kecil saya sudah lumayan penuh dengan barang sample ;’D.

Di antara toko-toko tersebut, terdapat toko musik yang menjual album K-Pop. Kami pun membelikan album-album K-Kop keponakan saya. Sejak dari Indonesia, kami sudah dinfokan tentang lokasi toko yang menjual dan album yang dititipi, lengkap dengan fotonya. Kalau tidak ada info seperti itu, yah wassalam, mungkin tidak ketemu :’D. Kami membeli pernak pernik K-Pop di dekat Exit 7 Stasiun Myeong-dong, dekat area toko kaus kaki.

Hari sudah malam dan kami mulai berjalan menuju Stasiun Myeong-dong untuk naik Kereta Seoul Metro jalur 4 (biru muda) arah Stasiun Chungmoro untuk turun di Stasiun Dongdaemun History & Culture Park. Sebelum pulang ke penginapan dan beristirahat, kami singgah terlebih dahulu di kedai sushi kaki 5 untuk makan malam. Ini menjadi kedai kaki 5 halal yang biasa kami datangi karena lokasinya yang tak jauh dari Stasiun Dongdaemun History & Culture Park. Setelah makan malam, kami pulang, mandi, sholat dan tidur. Esok hari pada Hari Keenam Wisata Korea – Gyeongbokgung, Bukchon & Changdeokgung akan menjadi hari yang lebih padat dan melelahkan ;).

Baca juga:
Persiapan Wisata Korea 2017
Ringkasan Objek Wisata Korea Selatan
Hari Pertama Wisata Korea – Incheon, Namsan Tower & K Star Road
Hari Kedua Wisata Korea – Naminara Republic, Petite France & The Garden of Morning Calm
Hari Ketiga Wisata Korea – Ihwa, Ewha, Itaewon & Banpo
Hari Keempat Wisata Korea – Gunung Seorak & Naksansa
Hari Keenam Wisata Korea – Gyeongbokgung, Bukchon & Changdeokgung
Hari Ketujuh Wisata Korea – Gwangjang & Cheonggyecheon
Hari Kedelapan & Kesembilan Wisata Korea – Everland & Incheon

Iklan

Hari Keempat Wisata Korea – Gunung Seorak & Naksansa

Setelah kemarin berjalan-jalan di dalam kota Seoul pada Hari Ketiga Wisata Korea – Ihwa, Ewha, Itaewon & Banpo, hari ini kami akan pergi agak jauh di timur laut dari Seoul. Kami bermaksud untuk berkelana ke Gunung Seorak. Untuk mencapai Gunung Seorak, sebenarnya kami bisa saja naik kereta sampai Stasiun Express Bus Terminal yang kemarin kami lewati. Dari sana, kami bisa naik bis nomor 7 atau 7-11 jurusan Sakcho dan turun di pemberhentian terakhir yaitu Halte Bus Mount Seorak. Mengingat kami membawa bayi yang belum genap berumur 2 tahun, agak riskan kalau kami nekad pulang pergi naik bis umum ke sana.

Kami akhirnya memutuskan untuk membeli paket land tour melalui aplikasi Klook yang pada saat itu sedang promo hehehehe. Konsekuensinya adalah kami harus datang tepat waktu dan tidak bisa sesuka hati berlama-lama atau cepat-cepat di dalam sebuah area. Semua sudah ada itenarinya sendiri yang sudah diatur oleh rekanan Klook di sana yaitu Ktourstory.

Kami sudah membeli paket ini beberapa hari sebelum kami berangkat ke Korea. Berdasarakan petunjuk pada aplikasi, kami diharuskan berkumpul di depan Exit 10 Stasiun Dongdaemun History & Culture Park pada pukul 08:10. Setelah sarapan dan bersiap-siap, kami tiba sekitar 20 menit sebelum 08:10 di Exit 10 Stasiun Dongdaemun History & Culture Park. Di sana, kami bertemu dengan orang-orang Indonesia yang membeli land tour melalui Klook juga. Wah ternyata banyak juga yang seperti kami yaaah :).

Tak lama waktu berselang, Ktourstory datang dengan sebuah bis dan mini SUV. Dari sekian banyak orang yang menunggu di Exit 10, ternyata semuanya ikut rombongan menuju Pulau Nami :’D. Semua naik bis kecuali kami dan seorang warga Amerika Serikat bernama Dan. Kami kemudian naik mini SUV dari Ktourstory dan memuai perjalanan kami menuju Taman Nasional Seorak :D.

Rute kami cukup sederhana tapi lumayan jauh. Kami akan berwisata di Gunung Seorak dan Kuil Naksansa yang membutuhkan kurang lebih 3 jam perjalanan dari Seoul. Kali ini kami dapat melihat pemandangan luar kota Seoul yang indah. Jalanan yang kami tempuh, beberapa kali melewati bagian tengah bukit. Jadi, ada beberapa bukit yang dilubangi untuk jalan raya sehingga dapat menghemat waktu tempuh.

Di tengah-tengah perjalanan, kami berhenti sejenak di rest area. Di sanalah saya melihat banyak sekali warga lokal yang menggunakan jaket anti angin. Hiking ternyata memang menjadi hobi bagi mayoritas masyarakat Korea. Banyak orang-orang tua yang gemar hiking terutama di musim semi. Mereka datang lengkap dengan atribut jaket anti angin, sepatu hiking dan tongkat hiking. Identitas kami sebagai turis asing terlihat jelas karena kami hanya menggunakan jaket dan sepatu alakadarnya :’D.

Semakin lama di Korea, semakin kami sadari bahwa kami jarang sekali melihat anak kecil di sana, lebih banyak orang tuanya. Selama kami berjalan-jalan di dalam kota Seoul, kami hampir tidak melihat 1 anak kecil pun. Pantas saja anak kami sering menjadi pusat perhatian. Dalam 1 hari, paling tidak ada 1 atau 2 warga lokal yang meminta ijin saya untuk memberikan sesuatu kepada anak kami. Baik di kereta atau di jalan, anak kami kadang mendapatkan coklat, permen, makanan ringan atau mainan kecil. Semua nampak tulus diberikan kepada anak kami.

Dari obrolan sepanjang perjalanan menuju Taman Nasional Seorak, saya mendengar bahwa banyak kaum muda Korea Selatan memilih untuk menunda kehamilan karena membesarkan anak di sana itu mahal. Dampak dari keadaan ini adalah menurun drastisnya angka kelahiran di sana. Ternyata, angka kelahiran dan pertumbuhan penduduk Korea Selatan, adalah salah satu yang paling rendah di dunia. Jumlah penduduk usia muda semakin menurun dan jumlah penduduk usia tua terus naik. Saya salut dengan penduduk tua di sana. Mereka senang sekali hiking dan naik sepeda. Terkadang saya melihat mereka membawa sepeda ke dalam Stasiun untuk bersepeda di luar kota. Tangga-tangga Stasiun kereta yang curam dan panjang saja, sering digunakan oleh kakek-kakek dan nenek-nenek. Dengan gaya hidup sehat dan gemar berolahraga, penduduk usia tua memiliki usia yang semakin panjang. Hal ini sangat mirip dengan yang saya temui di Jepang beberapa tahun yang lalu. Kurang lebih, Jepang juga sedang menghadapi keadaan yang mirip seperti ini.

Tak terasa kami sudah masuk ke dalam area Taman Sogongwon yang merupakan bagian dari Taman Nasional Seorak. Gunung Seorak atau Seoraksan merupakan bagian dari Pegunungan Taebaek yang terletak di dalam area Taman Nasional Seorak. Sampai sana, kami memiliki beberapa opsi rute hiking, yaitu Jalur Benteng Gwongeumseong, Jalur Biseondae Rock, Jalur Heundeulbawi Rock, Jalur Ulsanbawi Rock, dan Jalur Biryong Waterfall & Towangseong Falls Oservatory.

Karena kami membawa bayi, Jalur Benteng Gwongeumseong tentunya menjadi jalur yang pertama kami pilih. Jalur ini adalah jalur yang paling mudah karena ada pilihan untuk menggunakan bantuan kereta gantung pada sebagian besar perjalanannya. Sesuai namanya, jalur ini merupakan jalur menuju reruntuhan Benteng Gwongeumseong di salah satu puncak Gunung Seorak. Benteng Gwongeumseong (설악산 권금성) atau Istana Gunung Onggeumsan atau Istana Toto konon berdiri pada pemerintahan Raja ke-23 Kerajaan Goryeo untuk menghadang invasi bangsa Mongol.

Untuk menuju Benteng Gwongeumseong, kami memutuskan untuk menggunakan Kereta Gantung meskipun dikenai biaya tambahan. Yaaaah kapan lagi, jarang-jarang naik yang seperti ini heheheheh. Dari Taman Sogongwon, kami berjalan menuju Stasiun Kereta Gantung Seorak-dong. Dari sana, kami menaiki sebuah Kereta Gantung yang dapat menampung sampai 50 orang sekali jalan. Kereta buatan Doppelmayr Ropeways of Switzerland ini nyaman untuk melihat pemandangan sekitar. Dari Kereta Gantung tersebut, kami dapat melihat Taman Sogongwon, Kota Sokcho, Jeohangnyeong, Laut Jepang, Ulsanbawi Rock dan Gwongeumseong dari ketinggian. Sayang, kami datang di awal musim semi, sehingga dedaunan di sana masih berwarna hijau. Konon, pemandangan dari Kereta Gantung ini akan sangat indah di saat dedaunan sudah berubah warna pada musim semi.

Perjalanan selama kurang lebih 10 menit yang menyenangkan, tak terasa sudah berakhir. Kami turun di Stasiun Kereta Gantung Gwongeumseong. Dari Stasiun tersebut, kami berjalan meniti jalan menanjak selama sekitar 20 menit. Beberapa bagian dari rute ini sudah dilengkapi dengan jalan bebatuan, tangga bebatuan dan pengaman yang rapi. Tapi, semakin ke atas, semuanya semakin terjal dan jalanan yang rapi perlahan berubah menjadi bebatuan yang tidak beraturan. Karena medan yang kurang bersahabat dan kencangnya angin, istri dan anak saya berhenti pada titik di mana puncak dari Benteng Gwongeumseong dapat terlihat. Saya meneruskan perjalanan ke atas sendirian hingga akhirnya tiba di puncak. Pada perjalanan hiking ini, saya membawa tas punggung dan depan berisi baju anak, perbekalan dan lain-lain. sementara itu istri saya menggendong anak kami dengan gendongan bayi. Memang sebaiknya istri dan anak saya tidak ikut ke atas karena jalan bebatuannya terlalu curam.

Ada apa di sana? Pada dasarnya area ini adalah reruntuhan dari Benteng tersebut. Kami tidak melihat bangunan di sana. Hanya bebatuan yang berwarna coklat keputihan. Warna bebatuan seperti inilah yang menjadi asal mula nama Gunung Seorak yang berarti gunung salju. Dari kejauhan, bebatuan yang membentuk gunung ini, nampak sepertu salju abadi yang terus ada sepanjang tahun. Pemandangan di atas sana benar-benar berbeda dengan gunung di Indonesia. Semakin ke atas, pepohonan semakin berkurang. Pemandangan berganti dengan semakin banyaknya formasi batu di sana. Laut Jepang dan Kota Sokcho kembali dapat dilihat dari Benteng Gwongeumseong. Pemandangan alam yang layak untuk dikunjungi.

Selesai dari puncak Benteng Gwongeumseong, kami kembali turun menuju Stasiun Gwongeumseong, lalu naik Kereta Kabel menuju Taman Sogongwon. Nah, dari sini kami harus memilih apakah mau hiking lagi atau bersantai di taman saja. Karena stamina kami masih ok dan putri kami tidak rewel, maka kami memutuskan untuk memilih salah satu dari 4 jalur hiking lain yang belum kami lalui. Mendatangi keempatnya dalam 1 hari merupakan hal yang hampir mustahil bagi kami. Mana ya yang akan kami pilih?

Jalur Biseondae Rock dan Jalur Heundeulbawi Rock adalah jalur yang pendek dan ringan. Pada kedua jalur ini kita sama-sama melewati Kuil Sinheungsa, Patung Jwabul Buddha pada awal perjalanannya. Kemudian, dari area Kuil Sinheungsa, kita harus memilih apakah hendak meneruskan menuju Jalur Biseondae Rock atau Jalur Heundeulbawi Rock. Jarak keduanya kurang lebih mirip, tapi tingkat kesulitan Jalur Heundeulbawi Rock relatif diatas tingkat kesulitan Jalur Biseondae Rock.

Pada bagian akhir Jalur Biseondae Rock kita akan menemui Biseondae Rock, formasi bebatuan pipih dengan ukiran puisi di atasnya. Nama Biseondae sendiri berasal dari dongeng mengenai peri-peri yang setiap malam turun dari surga untuk bernyanyi di tempat tersebut. Mereka datang karena mengagumi keindahan deretan batu pipih di dekat perairan yang jernih. Para seniman kemudian mengukir berbagai puisi pada batu-batu tersebut. Konon, sampai sekarang, keaslian dan keindahan lokasi tersebut masih terjaga dengan baik. Kalau mau tantangan lebih, dari ujung Jalur Biseondae Rock, kita dapat meneruskan perjalanan ke atas untuk mengunjungi Gua Geumgagul yang seingat saya tidak ada di dalam peta penunjuk jalan di Taman Seugongwon.

Bagaimana dengan Jalur Heundeulbawi Rock? Pada akhir perjalanannya, kita tentukan akan menemukan Heundeulbawi Rock, sebuah batu besar yang bentuknya agak bulat tapi tidak dapat didorong sampai menggelinding ke tempat lain. Konon, para pengunjung hanya dapat menggoyangkan batu tersebut saja walaupun sudah beramai-ramai mendorongnya.

Kalau masih memiliki waktu dan stamina, kita dapat melanjutkan menuju Jalur Ulsanbawi Rock. Dari Heundeulbawi Rock, terdapat jalur menanjak ke atas menuju Ulsanbawi Rock. Jalur ini secara keseluruhan merupakan jalur yang paling menantang dan paling tinggi puncaknya. Ulsanbawi Rock terdiri dari dereran 6 batu granit yang sangat panjang. Dari sana, konon kita dapat melihat Reservoir Haksapyeong, Laut Jepang dan Puncak Dalma dari kejauhan.

Terakhir, Jalur Biryong Waterfall & Towangseong Falls Oservatory merupakan jalur yang memiliki 3 air terjun yaitu Biryong, Yukdam dan Towangseong. Biryong sendiri merupakan air terjun yang paling terkenal karena bentuknya yang mirip dengan naga terbang. Itulah kenapa air terjun tersebut diberinama Biryong yang artinya naga terbang.

Hhhhmmmm, mana yang akan kami pilih? Maunya sih kami coba semua hehehehe. Karena kali ini kami ikut rombongan tour, maka mau tak mau kami harus disiplin mengikuti jadwal yang ada. Karena jarak dan waktu tempuh yang panjang, Jalur Ulsanbawi sudah pasti tidak kami pilih. Jalur Biseondae Rock dan Jalur Heundeulbawi Rock memang cukup menggoda karena melewati Kuil Sinheungsa dan Patung Jwabul Buddha, selain formasi bebatuan pada masing-masing puncaknya. Tapi karena toh setelah dari Taman Nasional Gunung Seorak, kami hendak mengunjungi Kuil Nakansa, kedua jalur ini tidak kami pilih. Cukup 1 kuil saja dalam sehari, tidak perlu 2. Air terjun pada Jalur Biryong Waterfall & Towangseong Falls Oservatory nampaknya lebih menggoda. Air terjun bukan buatan manusia, lebih alami dan kami sudah lama tidak melihat air terjun ;).

Kami memulai perjalanan sejauh 2 km dari Taman Sogongwon sampai Air Terjun Yukdam dengan jalur yang tidak terlalu sulit. Di awal-awal perjalanan, kami melalui daerah yang masih hijau dan jalan setapak yang landai. Semakin lama, terdapat sungai-sungai dari yang kering sampai yang penuh. Jalanan pun semakin curam tapi masih terdapat tangga pengaman di sana. Jalanan yang curam tersebut, dibentuk oleh bebatuan yang sudah disusun sehingga mirip dengan tangga sehingga tidak terlalu berbahaya. Semakin mendekati Yukdam, tangga pengaman kadang mulai hilang dan susunan bebatuan yang harus kami lalui semakin curam. Tapi memandangan semakin indah karena mulai terdapat sungai yang sangat jernih dengan latar belakang pegunungan yang asri. Kami beberapa kali berhenti untuk beristirahat meminum air yang kami bawa. Air Terjun Yukdam sendiri ternyata hanya air terjun kecil yang tidak terlalu istimewa.

Perjalanan sekitar 0,4 km berikutnya, dari Air Terjun Yukdam sampai Air Terjun Biryong, cukup menantang. Kami melawati banyak jembatan yang pajang dan kokoh. Di luar area jembatan, tangga pengaman sudah semakin sering tak ada dan jalanan curam yang kami lalui tidak dalam bentuk bebatuan yang seperti tangga lagi. Tapi hal tersebut sepadan karena Air Terjun Biryong memang nampak lebih panjang dan berkelok. Kami dapat menyaksikan separuh dari air terjun tersebut dari sebuah jembatan. Kemudian separuh sisanya dari bagian paling bawah dari deretan jembatan yang kami lalui. Air terjun ini memang tidak terlalu lebar, tapi agak panjang dan landai bentuknya.

Kami kemudian beristirahat dan menyantap bekal kami di bagian bawah Air Terjun Biryong. Anak dan istri saya memilih untuk tidak melanjutkan sampai ke Air Terjun Towangseong karena jalur yang nampak lebih ajaib. Saya melanjutkan perjalanan ini sendirian dan ternyata ini lebih melelahkan dari perjalanan sebelumnya karena jalur sejauh 0,4 km ini berisikan tangga semua. Jalur menuju air tersebut berupa tangga dari bebatuan yang tidak terlalu curam, lengkap dengan pengaman untuk berpegangan. Tapi jalur ini hampir tak ada landainya, semuamua tanggaaaaaaaa saja, gile benerrr ×_÷. Jalur yang saya lalui ini bukanlah jalur yang langsung menuju air terjunnya, melainkan menuju titik terbaik untuk melihat Air Terjun Towangseong secara keseluruhan dari atas sampai bawah. Air terjun ini adalah air terjun terpanjang di Korea Selatan loh. Semakin ke atas, pemandangan memang semakin indah dan unik. Sayang saya kehabisan waktu sehingga saya harus balik badan sebelum sampai ke puncak :(. Yaaaah inilah resiko ikut paket tour, ada batasan waktu.

Kami tergopoh-gopoh berjalan kembali menuju Taman Sogongwon. Beruntung kami datang pada hari kerja sehingga Taman Nasional Gunung Seorak tidak terlalu ramai. Andaikan kami datang di saat akhir pekan, jalan cepat atau berlari di jalanan yang kami lalui, hampir mustahil. Warga Korea nampaknya sudah biasa melakukan hiking sebagai arena rekreasi yang sehat dan menyenangkan. Saya pribadi tidak heran karena Gunung Seorak memang sangat rapi, bersih dan teratur. Hampir tidak ada sampah di sana. Saya kagum dengan bagaimana mereka dapat menjaga alam yang mereka miliki dengan sangat baik. Sebuah hal yang seharusnya dapat Indonesia contoh.

Sayangnya, kami sendiri memberikan nama yang kurang baik bagi Indonesia karena kami tiba di Taman Sogongwon sekitar 30 menit lebih lambat dibandingkan waktu yang sudah ditentukan. Turis Amerika sudah datang tepat waktu dan menunggu kami di sana, maaap ya mister hehehehe :’D. Andaika ingin puas di Gunung Seorak, kita memang sebaiknya mengambil paket tour di Klook yang tujuannya hanya Gunung Seorak saja, buka Gunung Seorak plus Kuil Naksansa.

Apa itu Kuil Naksansa? Kuil Naksansa (낙산사) merupakan kuil Buddha yang terletak di antara Kota Sokcho dan Wilayah Yangyang. Sebenarnya, kuil ini sudah berdiri sejak masa pemerintahan Raja Munmu dari Kerajaan Silla, sekitar 1300 tahun yang lalu. Pada perjalannya, sebagian kuil ini sudah sempat terbakar pada masa invasi bangsa Mongol, perang Korea dan kebakaran hutan. Kuil ini terus diperbaiki dan dibangun ulang karena konon di tempat inilah Avalokitesvara Bodhisattva dahulu sempat hidup, sesuatu hal yang penting bagi umat Buddha Korea.

Kini, Kuil tersebut nampak bersih dan luas walaupun sudah beberapa kali terbakar. Dari sana, kami dapat melihat Laut Jepang dari jarak dekat, di sela-sela bebatuan karang dengan latar belakang paviliun-paviliun dari Kuil Naksansa, sebuah pemandangan yang indah.

Tak jauh dari salah satu bagian kuil yang dekat dengan Laut Jepang, terdapat patung granit raksasa dari Haesugwaneumsang setinggi 15 meter. Patung ini berdiri tegak memandang ke arah Laut Jepang. Patung ini merupakan salah satu patung tertinggi untuk jenisnya. Pemandangan dari patung tersebut nampak indah. Anak kami sempat jajan es krim di area tersebut. Kamipun istirahat sejenak melepas lelah di sana.

Sebelum pulang, kami memutari seluruh kompleks kuil. Satu lagi bangunan yang unik dan penting di sana adalah Naksansa Chilcheung Seoktap, bangunan pagoda tingkat 7 yang didirikan pada masa pemerintahan Raja Sejo dari dinasti Joseon. Sekilas, pagida tersebut nampak sederhana dan tidak terlalu besar, namun ternyata bangunan tersebut dianggap penting bagi umat Buddha Korea karena mereka percaya bahwa di dalamnya terdapat rosario Buddha dan manik-manik ajaib.

Kami pulang menjelang sore dan diantarkan kembali sampai Exit 10 Stasiun Dongdaemun History & Culture Park oleh mobil SUV Ktourstory. Pada perjalanan pulang inilah untuk pertama kalinya kami merasakan apa yang orang Korea sebut “macet”. Jalanannya memang agak tersendat, tapi ini tidak ada apa-apanya dibandingkan macetnya Jakarta pada jam pulang kantor :’D.

Apakah dari Stasiun kami langsung pulang ke penginapan? Oh tentu tidak :D. Kami mengelilingi apM Place, hello apM, Migliore, Doota dan pertokoan sekitarnya. Daerah tersebut memang seperti Tanah Abangnya Seoul. Banyak warga lokal yang membeli baju dan kain dalam jumlah banyaaaaak sekali. Hilir mudik membawa troli bukanlah hal yang aneh di sana.

Setelah belanja, kami sempat singgah di kedai kaki lima yang menjual sushi. Di sana serba instant dan tidak ada tempat duduk. Tapi sushinya enak dan harganya bersahabat ;). Setelah itu, barulah kami pulang ke apartemen untuk kembali berpetualang dikeesokan hari pada Hari Kelima Wisata Korea – One Mount Snow Park, The War Memorial of Korea & Myeong-dong.

Baca juga:
Persiapan Wisata Korea 2017
Ringkasan Objek Wisata Korea Selatan
Hari Pertama Wisata Korea – Incheon, Namsan Tower & K Star Road
Hari Kedua Wisata Korea – Naminara Republic, Petite France & The Garden of Morning Calm
Hari Ketiga Wisata Korea – Ihwa, Ewha, Itaewon & Banpo
Hari Kelima Wisata Korea – One Mount Snow Park, The War Memorial of Korea & Myeong-dong
Hari Keenam Wisata Korea – Gyeongbokgung, Bukchon & Changdeokgung
Hari Ketujuh Wisata Korea – Gwangjang & Cheonggyecheon
Hari Kedelapan & Kesembilan Wisata Korea – Everland & Incheon

Hari Ketiga Wisata Korea – Ihwa, Ewha, Itaewon & Banpo

Setelah kemarin kami berkelana ke Pulau Nami, Petite France dan The Garden of Morning Calm pada Hari Kedua Wisata Korea – Naminara Republic, Petite France & The Garden of Morning Calm, di hari ketiga ini kami bangun sedikit siang. Hari ini kami akan berkeliling di tengah kota Seoul saja, tidak jauh-jauh. Kami akan mengunjungi Ihwa Mural Village, Itaewon dan Jembatan Banpo.

Mirip seperti hari-hari sebelumnya, kami sarapan menyantap hidangan yang istri saya masak di dalam Apartemen. Tak lupa ia memasak untuk bekal nanti, siapa tahu kami tidak menemukan makanan halal di jalan ;). Selain itu, pakaian yang semalam kami masukkan ke mesin cuci kemarin, sudah dapat kami gantungkan di dalam apartemen untuk selanjutnya disetrika apabila ada waktu ;).

Tujuan pertama kami pagi itu adalah Ihwa Mural Village. Dari Stasiun Dongdaemun History & Culture Park, yang terletak tak jauh dari tempat kami menginap, kami naik kereta Seoul Metro jalur 4 (biru muda) arah Stasiun Dongdaemun untuk turun di Stasiun Hyehwa. Kami keluar melalui Exit 2 dan berjalan kaki sekitar 500 meter ke arah Ihwa Mural Village, sesuai arahan GPS kami.

Ihwa Mural Village yang terletak di daerah Jungno ini memiliki kontur yang berbukit-bukit. Banyak sekali tangga yang tinggi dan curam di sana. Kami bahkan dapat menyaksikan Taman Namsan dari ketinggian di sana. Ini memang menarik untuk dilihat, tapi mana muralnya???? Namanya Ihwa Mural Village, tapi kok muralnya sedikit sekali ya? Mural ikan koi dan bunga raksasa yang menjadi icon tempat ini nampak lenyap ditelan Bumi.

Pada tahun 2006, Pemerintah Korea Selatan mengundang seniman lokal dan mahasiswa untuk membuat mural di sekitar Desa Jongno. Mural-mural yang unik berhasil menyulap desa kumuh, menjadi lingkungan yang lebih hidup secara ekonomi dan menjadi salah satu landmark kota Seoul. Semakin banyaknya turis yang datang ke sana, ternyata membuat kaum tua merasa berisik. Mereka akhirnya melakukan vandalisme dengan menghapus beberapa mural yang ikonik di sana. Sekarang, turis yang datang semakin sepi, tidak ada suara berisik lagi, tapi omset toko-toko di sana turun drastis. Saya pribadi tidak terlalu menyarankan untuk datang ke Ihwa Mural Village yaaa. Kalau mau lihat mural, datang saja ke Penang, di sana juga banyak kok ;).

Kami kemudian kembali berjalan menuju Stasiun Hyehwa untuk selanjutnya berkelana menuju Ehwa Women University. Di tengah-tengah perjalanan, kami singgah di 7-Eleven untuk membeli kartu T-Money yang dapat dilakukan untuk naik kereta, bis dan taksi di sana. Selama ini, kami selalu membeli tiket single trip untuk naik kereta. Setelah kami melihat dan merasakan, perjalanan menggunakan kereta ternyata cukup efisien dan tidak terlalu berat. Kalaupun ternyata kurang ok, toh T-Money dapat dipergunakan untuk membayar bis dan taksi juga ;). Yang paling menggoda kami untuk membeli T-Money adalah potongan harganya hehehehehe. Jadi, kalau naik kereta menggunakan T-Money, kita tinggal melakukan tapping saja, tidak perlu menukarkan deposit setiap keluar dari peron, dan mendapat potongan harga ;). Semua dapat dilakukan selama pulsa T-Money masih mencukupi. Kalau kurang, yaaa tinggal beli di loket atau di Ticket Vending and Card Reaload Device saja, beressss :D.

Kartu T-Money yang kami beli adalah T-Money edisi K-Pop, lengkap dengam gambar artis K’Pop yang sama sekali tidak saya kenal hehehe :’D. kenapa kok K-Pop? Kartu jenis ini dapat dijadikan sebagai oleh-oleh loh, saya saja sudah ada yang menitip. Pantas saja, kok di pertokoan dekat penginapan, saya sering melihat pedagang kaki lima menawarkan kami 1 pak kartu T-Money edisi K-Pop. Awalnya saya heran, buat apa turis seperti kami membeli kartu T-Money sebanyak itu :’D.

Keluar dari 7-Eleven, kami kembali berjalan menuju Stasiun Hyehwa untuk menggunakan kartu T-Money baru kami :D. Dari Stasiun Hyehwa, kami kembali naik kereta Seoul Metro jalur 4 (biru muda) arah Stasiun Dongdaemun untuk turun di Stasiun Dongdaemun History & Culture Park. Dari Stasiun Dongdaemun History & Culture Park, kami naik kereta Seoul Metro jalur 2 (hijau) arah Stasiun Euljiro 4(sa)-ga untuk turun di Stasiun Ewha Women University. Penjalanan keluar dari Stasiun ini dilengkapi dengan tangga berjalan yang panjaaaaaaang sekali.

Ewha Women University (이화여자대학교) berdiri sejak 1886 pada masa pemerintahan Kaisar Gojong dari dinasti Joseon. Universitas swasta ini merupakan salah satu Universitas favorit dan mayoritas muridnya adalah wanita. Institusi ini pada awalnya memang dimaksudkan untuk memberdayakan kaum hawa sehingga hanya menerima wanita saja. Namun saat ini, Ewha sudah menerima murid pria meskipun jumlahnya tak banyak.

Ada apa di Ewha? Di sana terdapat jalan masuk ke area bawah tanah yang unik. Bentuk seperti bukit yang dibelah. Inilah yang menjadi landmark dari Ewha Women University. Selain itu terdapat pula taman-taman dan bangunan-bangunan yang bentuknya dipengaruhi oleh Eropa di sana. Area Kampus ini dijadikan oleh turis untuk berwisata dan melepas lelah sejenak. Saya sendiri sibuk mengejak-ngejar putri kami yang berlarian di sana. Karena kampus ini sangat besar dan berbukit-bukit, kami hanya menjelajahi bagian depannya saja.

Satu lagi yang terkenal dari Ewha adalah deretan pertokoan di bagian depannya. Lokasi ini dipenuhi oleh toko oleh-oleh, kosmetik, pakaian dan kebutuhan wanita. Untuk menarik pemgunjung, beberapa toko memasang boneka atau pernak-pernik yang unik. Pada waktu itu, yang sedang populer adalah boneka Line Brown raksasa. Orang-orang mengantri hanya untuk melihat atau berfoto dengan boneka raksasa tersebut. Yang banyak orang kurang sadari adalah, sebenarnya ada 2 toko yang memasang boneka tersebut. Kami memilih mampir ke Elcube Store yang relatif lebih sepi, lokasinya di kanan jalan sebelum gerbang Ewha Women University ;).

Setelah selesai belanja, kami melanjutkan perjalanan menuju daerah Ittaewon yang terkenal sebagai daerah muslim di Seoul. Kami kembali berjalan menuju Stasiun Ewha Women University. Dari sana, kami kembali naik kereta Seoul Metro jalur 2 (hijau) arah Stasiun Chungjeongno untuk turun di Stasiun Chungjeongno. Dari Stasiun Chungjeongno kami naik kereta S.M.R.T. jalur 6 (ungu) arah Stasiun Gongdeok untuk turun di Stasiun Gongdeok. Dari Stasiun Gongdeok, kami naik kereta S.M.R.T. jalur 6 (coklat) arah Stasiun Samgaki untuk turun di Stasiun Ittaewon.

Keluar dari Stasiun Ittaewon, kami melihat sebuah daerah yang berbeda dengan daerah lain di Seoul yang pernah kami kunjungi. Bentuk jalan dan toko-tokonya agak berbeda. Orang-orang yang hilir mudik pun didominasi oleh orang asing, tidak didominasi oleh warga lokal seperti di daerah tempat kami menginap. Sayang menurut saya pribadi, Ittaewon sedikit kurang bersih untuk ukuran Seoul. Kalau dibandingkan dengan Jakarta sih ya Ittaewon hitungannya tetap bersih dan rapi.

Berjalan di Itaewon serasa berjalan di tempat yang paling beda di Seoul. Di sana, sangat mudah menemukan makanan halal. Tentunya, kami berani jajan dan makan siang dengan lebih leluasa di sana. Bahan makanan dari Indonesia pun banyak dijual pada beberapa toko yang kami kunjungi. Setelah kenyang jajan, kami berjalan menuju Seoul Central Mosque, masjid terbesar di Seoul yang sudah berdiri sejak 1976. Letak Masjid tersebut ternyata agak jauh dari Stasiun Ittaewon, dan jalanannya naik-turun seperti perbukitan. Di sana, kami sholat dan istirahat sejenak melepas penat.

Setelah segar, kami kembali berkeliling Ittaewon dan menemukan kenyataan bahwa barang-barang di sana itu murah-murah. Saya sarankan, bagi teman-teman yang sedang ke Seoul dan sempat ke Ittaewon, sebaiknya beli souvenir atau oleh-oleh di sana saja, bisa ditawar dan murah. Tapi jangan harap untuk menemukan deretan toko kosmetik, toko perawatan tubuh, toko pernak-pernik K-Pop di sana yaaaaa. Sepengetahuan saya, itu susah di cari di Ittaewon.

Tak terasa hari sudah sore, maka kami mulai berjalan kembali ke Stasiun Ittaewon. Tujuan kami selanjutnya adalah Banpo Bridge atau Jembatan Banpo. Dari Stasiun Ittaewon, kami naik naik kereta S.M.R.T. jalur 6 (coklat) arah Stasiun Yaksu untuk turun di Stasiun Yaksu. Dari Stasiun Yaksu, kami naik kereta Seoul Metro jaur 3 (oranye) arah Stasiun Oksu untuk turun di Stasiun Express Bus Terminal. Stasiun Express Bus Terminal ini luas sekali dan terletak di tengah-tengah GoTo Mall. Kami pun berjalan-jalan sejenak melihat toko-toko di sana.

Setelah selesai jalan-jalan, kami berusahan berjalan menuju Jembatan Banpo dengan bantuan GPS. Kali ini, perjalanan kami agak sulit karena area Stasiun Express Bus Terminal bergabung dengan pertokan dan Terminal Bis juga, jadi banyak pintu keluar dan sinyal GPS terkadang kurang akurat. Anak kami yang nampaknya kelelahan, mulai menangis dan marajuk, gaswat daaahhh x_x.

Berjalan kaki dari Stasiun Express Bus Terminal sampai Jembatan Banpo ternyata cukup jauh dan melelahkan. Kami sempat berhenti untuk jajan di GS25 dan 7-Eleven yang kami lewati. Beruntung anak kami mulai tenang setelah mendapat es krim, dan udara di luar ternyata cukup sejuk. Kami melewati deretan perkantoran yang lama-kelamaan berganti menjadi deretan rumah susun. Lalu, sesuai dengan petunjuk jalan, kami masuk melewati terowongan bersama rombongan turis lain, sampai di Taman Banpo Hangang yang terletak di pinggir Sungai Han, bagian bawah Jembatan Banpo. Ahhhhh, akhirnya sampai juga :D.

Jembatan Banpo atau lengkapnya Jembatan Banpodaegyo adalah jembatan yang menghubungkan Distrik Seocho dan Distrik Yongsan yang dipisahkan oleh Sungai Han. Pada malam hari, kedua sisi jembatan ini memberikan pertunjukkan yang disebut Moonlight Rainbow Fountain (달빛무지개 분수). Pertunjukkan ini dimulai sekitar pukul 8 malam dan berlangsung selama 20 menit.

Karena kami tiba lebih awal, maka kami duduk dulu sambil menyantap bekal yang sudah istri saya siapkan. Kami dapat makan sambil memasukkan kaki kami ke dalam Sungai Han. Taman Banpo Hangang memang benar-benar terletak di tepi Sungai Han. Kami menyaksikan matahari terbenam di sana. Pemandangan sore itu sungguh indah.

Tak lama kemudian, pertunjukan Moonlight Rainbow Fountain. Air mancur keluar dari samping Jembatan Banpo diiringi dengan musik dan lampu warna-warni. Bentuk air berubah-ubah seperti seolah-olah sedang menari. Kami menonton pertunjukkan sambil berjalan menyusuri Taman Banpo Hangang terus menyeberang ke pusat perbelanjaan yang terletak di pulau kecil dekat Taman tersebut. Tidak ada hal yang terlalu spesial dari pusat perbelanjaan tersebut, selain pemandangan Sungai Han dan Jembatan Banpo yang indah apabila dilihat dari bagian luar pusat perbelanjaan tersebut.

Setelah puas berjalan-jalan di sekitar Jembatan Banpo, kami kembali berjalan menuju Stasiun Express Bus Terminal. Dari sana, kami naik kereta Seoul Metro jaur 3 (oranye) arah Stasiun Oksu untuk turun di Stasiun Dongdaemun History & Culture Park. Kami kemudian langsung berjalan menuju penginapan untuk beristirahat. Kami belum ada waktu untuk menyetrika dan pakaian bersih kami masih banyak. Maka kami, hanya memasukkan pakaian kotor ke mesin cuci, menyalakannya dan langsung tidur. Esok akan menjadi hari yang panjang pada Hari Keempat Wisata Korea – Gunung Seorak & Naksansa.

Baca juga:
Persiapan Wisata Korea 2017
Ringkasan Objek Wisata Korea Selatan
Hari Pertama Wisata Korea – Incheon, Namsan Tower & K Star Road
Hari Kedua Wisata Korea – Naminara Republic, Petite France & The Garden of Morning Calm
Hari Keempat Wisata Korea – Gunung Seorak & Naksansa
Hari Kelima Wisata Korea – One Mount Snow Park, The War Memorial of Korea & Myeong-dong
Hari Keenam Wisata Korea – Gyeongbokgung, Bukchon & Changdeokgung
Hari Ketujuh Wisata Korea – Gwangjang & Cheonggyecheon
Hari Kedelapan & Kesembilan Wisata Korea – Everland & Incheon