Atomic Blonde (2017)

Mengambil era menjelang keruntuhan tembok Berlin di tahun 1989, Atomic Blonde (2017) mengisahkan perebutan sebuah daftar nama mata-mata yang aktif beroperasi di Berlin. Konon daftar tersebut mencantumkan pula detail mengenai Satchel, seorang mata-mata yang bekerja untuk KGB/Rusia dan MI6/Inggris. Identitas Satchel lah yang membuat KGB dan MI6 saling bunuh demi daftar tersebut.

MI6 mengirim Lorraine Broughton (Charlize Theron) untuk mengambil daftar tersebut. Di Berlin, Lorraine akan didukung oleh agen MI6 lainnya, David Percival (James McAvoy). Bukannya bekerja sama, Lorraine dan David justru saling adu licik. Keduanya ternyata memiliki agenda dan kepentingan sendiri. Padahal keduanya harus berhadapan dengan agen-agen KGB yang dipimpin oleh Aleksander Bremovych (Roland Møller).

Pada akhirnya, setiap agen bertindak demi kepentingannya masing-masing. Arah dan keberpihakan tokoh-tokoh utama pada Atomic Blonde (2017) dibuat blur demi memunculkan kejutan. Sayang kejutan-kejutan yang berusaha ditampilkan, terbilang mudah ditebak. Sejak awal film pun saya sudah dapat menebak siapa Satchel itu sebenarnya.

Walaupun ceritanya relatif dapat ditebak, Charlize Theron berhasil memerankan seorang agen wanita yang tangguh yang rela menghalalkan segala cara demi meraih keinginannya. Penampilannya cukup meyakinkan lengkap dengan gaya rambut tahun 80-an yang khas. James McAvoy tetap mampu menampilkan akting yang prima seperti yang pernah ia berikan pada film-film lainnya.

Dengan demikian, saya rasa Atomic Blonde (2017) masih layak untuk memperoleh nilai 3 dari skala maksimum 5 yang artinya “Lumayan”. Saran saya, film ini jangan ditonton bersama anak-anak sebab pada film ini ada beberapa hal yang jauh melenceng dari budaya Indonesia.

Sumber: http://www.iamatomic.com

Iklan

Split (2017)

Kali ini saya akan membahas film psikopat karya sutradara keturunan India, M. Night Shyamalan. Tenaaang, mentang-mentang sutaradaranya keturunan India, bukan berarti Split (2017) termasuk film musikal yang ada joget-jogetnya :,D. Shyamalan selama ini terkenal akan film-film supranatural dan misteri dengan kejutan di bagian akhirnya

Split (2017) mengisahkan penculikan Casey Cooke (Anya Taylor-Joy), Claire Benoit (Haley Lu Richardson) dan Marcia (Jessica Sula) yang dilakukan oleh Kevin Wendell Crumb (James McAvoy). Kevin menderita DID (Dissociative Identity Disorder) sehingga ia memiliki 23 kepribadian di dalam tubuhnya. Di sana ada Barry, Dennis, Patricia, Hedwig dan lain-lain. Rasanya hanya 4 kepribadian itulah yang dominan dan sering muncul. Kemana yang lainnya ya? Mungkin durasi filmnya akan terlalu panjang ya kalau semuanya dimunculkan di Split (2017) :’).

Semua keperibadian di dalam tubuh Kevin sama-sama percaya akan kehadiran The Beast, sebuah sosok misterius yang ganas dan menyeramkan.Penculikan yang dilakukan pun dilakukan terkait kehadiran The Beast. Dr. Karen Fletcher (Betty Buckley), psikiater Kevin, tidak sepenuhnya yakin apakah Beast termasuk kepribadian ke-24 atau hanya khayalan belaka atau mahluk yang ada di sekitar Kevin. Karen percaya bahwa penderita DID seperti Kevin kemungkinan memiliki  kemampuan supranatural misterius yang tidak dimiliki manusia normal. Apakah Karen benar?

Aaahhh sosok Beast memamg menjadi misteri sampai bagian akhir film. Mirip seperti film-film Shyamalan lainnya, Split (2017) minim lagu atau suara latar, agak sunyi senyaplahhh. Ditambah latar belakang yang itu-itu saja, terkadang Split (2017) terasa sedikit membosankan. Tapi terus terang Split (2017) adalah film karya Shyamalan paling tidak membosankan. Saya bukan fans Shyamalan dan saya relatif kurang suka dengan film-filmnya, ketika menonton film-film tersebut, rasanya saya ingin menonton bagian akhirnya saja supaya dapt melihat ada kejutan apa di film ini. Bagaimana dengan Split (2017), saya tidak merasakan “kesenyapan” yang pekat pada film ini. Shyamalan patut berterima kasih kepada James McAvoy yang mampu memerankan berbagai karakter gilanya Kevin dengan baik :). Berkat James, rasa bosan yang hinggap sedikit sekali jumlahnya, saya dibuat penasaran sepanjang film tanpa tertidur. Sayangnya hanya rasa penasaran saja yang saya rasakan, tidak ada ketegangan yang berarti di sepanjang film.

Sebagai film Shyamalan terbaik yang pernah saya tonton, Split (2017) layak untuk memperoleh nilai 3 dari skala maksimum 5 yang artinya “Lumayan”. Oh yaaa, Split (2017) ternyata terjadi di dunia yang sama dengan salah satu film lawas Shyamalan lhooo, apakah ini akan menjadi franchise seperti X-Men atau Friday The 13th?

Sumber: http://www.uphe.com/movies/split

X-Men: Days of Future Past (2014)

X-Men Future Past 1

X-Men termasuk franchise komik superhero-nya Marvel yang sampai saat ini sudah beberapa kali diangkat ke layar lebar, yaitu X-Men (2000), X2 (2003), X-Men: The Last Stand (2006), X-Men: First Class (2011) dan X-Men: Days of Future Past (2014). Film X-Men (2000), X2 (2003) dan X-Men: The Last Stand (2006) masih bercerita dengan 1 runtutan alur cerita yang searah dengan bagian akhir yang kurang saya sukai, sebagian besar anggota X-Men tewas. Kemudian tiba-tiba muncul film X-Men: First Class (2011) yang tidak melanjutkan kisah pada  X-Men: The Last Stand (2006), tapi justru kembali ke masa lampau menceritakan asalmuasal Professor X dan Magneto sebelum kedua sahabat ini berseteru. Professor X nantinya akan menjadi pemimpin dari X-Men yang berusaha menjaga perdamaian antara mutant dan manusia. Sementara itu Magneto nantinya akan memimpin sekelompok mutant untuk membunuh umat manusia karena berbagai sikap diskriminatif yang dilakukan beberapa manusia kepada mutant. Kalau begitu, bagaimana dengan X-Men: Days of Future Past (2014)? X-Men: Days of Future Past (2014) merupakan kelanjutan dari X-Men: The Last Stand (2006) sekaligus X-Men: First Class (2011).

Pada film X-Men: Days of Future Past (2014), dikisahkan bahwa manusia menciptakan Sentinel, mesin pembunuh mutant yang mampu meniru & mereplikasi kemampuan unik berbagai mutant. Sentinel didesain khusus untuk memburu mutant, Sentinel dapat dimenemukan mutant, dimanapun mutant bersembunyi. Banyak mutant diburu dan dibunuh. Kisah ini terjadi setelah kisah pada X-Men: The Last Stand (2006) usai sehingga anggota X-Men senior yamg tersisa tinggal Professor X (Patrick Steward), Wolverine (Hugh Jackman), Storm (Halle Berry) & Rogue (Anna Paquin). Sisanya adalah mutant murid Professor X yang sudah mulai tumbuh dewasa plus Magneto (Ian McKellen), mantan musuh X-Men yang sudah tua dan sadar akan kesalahannya di masa lampau.

X-Men Future Past 10 X-Men Future Past 12 X-Men Future Past 14

Kelelahan dan kekurangan personel, posisi X-Men semakin terpojok. Kekalahan telak dari para Sentinel tinggal menunggu waktu saja. Akhirnya, seluruh anggota X-Men setuju untuk mengirim Wolverine kembali ke masa lampau, tahun 1973. Tahun setelah kisah pada film X-Men: First Class (2011) usai. Kenapa Wolverine yang dikirim? Karena Wolverine memiliki kemampuan untuk sembuh sendiri, hanya Wolverine-lah mutant yang cukup kuat untuk di kirim jauh ke masa lampau, 1973. Kenapa 1973? Karena pada tahun itulah Mistique (Jennifer Laurence) membunuh Bolivar Trask (Peter Dinklage), pencipta Sentinel generasi pertama. Trask memang tewas, namun riset pengembangan Sentinel tidak dihentikan, pembunuhan Trask justru memacu para pemimpin dunia untuk mendukung proyek Sentinel. Pada tahun 1973 jugalah Mistique berhasil ditangkap dan dijadikan bahan eksperimen, eksperimen yang akhirnya membuat Sentinel semakin kuat karena berhasil merekayasa kemampuan Mistique, replikasi.

X-Men Future Past 5 X-Men Future Past 15

Andaikan Mistique tidak tertangkap dan Trask “disingkirkan” dengan cara yang lebih “baik”, mungkin kehancuran yang terjadi di masa depan dapat dihentikan. Masalahnya apakah mungkin seseorang yang dikirim ke masa lalu dapat mengubah masa depan? Ada teori quantum yang menjelaskan bahwa mengubah masa depan dengan datang ke masa lalu adalah mustahil, seseorang yang datang ke masa lalu hanya akan menjalani lagi takdir yang memang akan terjadi di masa depan, hal ini pernah dijelaskan pada filmnya Opa Bruce Wilis, 12 Monkeys (1995). Masalahnya, Wolverine bukan seorang manusia biasa, ia adalah mutant yang akan dibantu oleh Professor X muda atau Charles Xavier (James McAvoy), Magneto muda atau Erik Lehnsherr (Michael Fassbender), Beast muda atau Hank McCoy (Nikholas Hoult) dan terakhir, Quicksilver muda atau Peter Maximoff (Evan Peters). Di tahun 1973, mereka memang belum memiliki nickname mutant yang keren atau kostum yang canggih, tapi sekelompok mutant ini akan bahu membahu menyelamatkan masa depan mereka dengan mengubah sejarah.

X-Men Future Past 17

X-Men Future Past 2 X-Men Future Past 4 X-Men Future Past 6 X-Men Future Past 8 X-Men Future Past 9 X-Men Future Past 11 DF-06049.JPG X-Men Future Past 13

X-Men Future Past 16

Cerita-cerita yang diambil dari komik Amerika memang sarat dengan dunia paralel dan mesin waktu, beda dengan komik Jepang. Jadi, saya tidak kaget kalau kisah X-Men direset melalui usaha merubah masa depan yang berat sebelah. Kisah-kisah X-Men relatif kompleks karena seolah tidak ada musuh abadi atau teman abadi, semua dapat berubah demi mencapai keseimbangan. Mutant & manusia dikisahkan sama-sama ada yang jahat & ada yang baik. Misi atau tujuan yang dituju pun dapat sama, namun cara untuk mencapai tujuannya dapat berbeda, hal ini sudah sering diperagakan oleh Professor X dan Magneto.

X-Men Future Past 7

Walaupun ada beberapa intrik dan sedikit kejutan pada X-Men: Days of Future Past (2014), rasanya film ini tetap standar-standar saja, kurang ada gregetnya. Sayang porsi kehadiran Quicksilver muda atau Peter tidak terlalu banyak padahal karakter tesebut cukup konyol dan membawa kesegaran baru bagi X-Men: Days of Future Past (2014). Special effect yang cukup banyak dan terlihat bagus pun tidak terlalu menolong penilaian saya terhadap film ini. Menurut saya, X-Men: Days of Future Past (2014) relatif lebih bagus daripada film Godzilla (2014) yang saya tonton minggu lalu. Kalau Godzilla (2014) hanya mendapat nilai 2, maka X-Men: Days of Future Past (2014) layak mendapat nilai 3 dari skala maksimal 5 yang artinya “Lumayan”.

Sumber: www.x-menmovies.com