Serial Detektif Peet

Saya suka sekali dengan film-film detektif. Maka tak heran kalau saya tertarik untuk menonton film seri kartun Detektif Peet atau kalau di Korea sana berjudul Peet, The Forest Detective. Film kartun besutan EBS dan Big Star ini memang berasal dari Korea Selatan sana, bukan Indonesia ya. Detektif Peet sepertinya merupakan judul versi TV nasional kita supaya lebih komunikatif bagi penontonnya. Sasaran Serial Detektif Peet memang anak-anak usia 3 sampai 7 tahun. Saya pun menontonnya bersama-sama dengan anak-anak saya.

Tokoh utama film seri ini adalah sekelompok detektif hutan yang dipimpin oleh Detektif Peet. Kasus apa yang Detektif Peet tangani? Bak detektif dunia manusia, Detektif Peet menangani kasus kematian, kehilangan dan lain-lain. Tapi semuanya terkait dengan fenomena yang ada pada hewan dan tumbuhan ;). Di sini Detektif Peet mengajarkan kepada penontonnya mengenai berbagai hal terkait hewan dan tumbuhan, mulai dari perilaku, organ sampai rantai makanan dari mahluk-mahluk penghuni hutan. Semua dirangkai dengan kisah dan animasi yang menarik.

Tokoh-tokoh utama Detektif Peet hadir dalam bentuk animasi 3D yang digabungkan dengan latar belakang hewan dan tumbuhan sungguhan. Uniknya, semua berhasil ditampilkan dengan sangat rapi. Penggabungan antara gambar kartun dengan gambar nyata pada serial ini, patut diacungi jempol.

Animasi yang unik dengan pesan moral dan pendidikan yang kental, tentunya membuat saya ikhlas untuk memberikan Detektif Peet nilai 4 dari skala maksimum 5 yang artinya “Bagus”. Serial ini sangat cocok untuk ditonton bersama si kecil.

Sumber: http://www.ebs.co.kr

Serial PJ Mask

PJ Mask adalah film superhero anak-anak yang dibuat berdasarkan buku komik asal Prancis, Les Pyjamasques. Jangan harap superhero ini ada di dalam dunia superhero-nya Marvel Comics atau DC Comics, genrenya jauh berbeda. PJ Mask jauh lebih sederhana karena sasaran memang penonton anak-anak.

Anggota PJ Mask yang sudah ada sejak awal adalah Connor / Catboy (Jacob Ewaniuk), Amaya / Owlette (Addison Holley) dan Greg / Gekko (Kyle Harrison Breitkopf). Catboy dapat bergerak secepat kilat. Owlette dapat terbang dan melihat sangat jauh. Gekko memiliki kekuatan super, dapat menghilang dan dapat merayap di tembok. Connor, Greg dan Amaya merupakan anak sekolah biasa di siang hari. Tapi ketika malam tiba, mereka berubah menjadi PJ Mask dan menyelamatkan kota dari berbagai kejahatan yang mengintai.

Setiap malam, PJ Mask harus berhadapan dengan berbagai penjahat seperti Gadis Luna (Brianna Daguanno), Ninja Malam (Trek Buccino) dan Romeo (Alex Thorne). Gadis Luna dapat terbang dan memindahkan objek. Romeo menggunakan kejeniusannya dengan menciotakan berbagai peralatan canggih. Ninja Malam dapat berlari dan melompat dengan sangat cepat. Seiring dengan berjalannya waktu, penjahat-penjahat pada film seri anak inipun bertambah terus menerus.

Karena PJ Mask memang untuk anak- anak, jadi yaaa antagonisnya pun anak-anak. Walaupun lawan-lawan PJ Mask memiliki kemampuan super, mereka tetap anak-anak. Jadi, kejahatan yang mereka lakukan, beserta modus operasinya pun, terkadang sangat sepele dan sederhana. Penyelesaian yang dilakukan oleh PJ Mask pun cukup sederhana dan mudah dipahami oleh anak-anak. Terkadang PJ Mask harus mengatasi sikap kekanak-kanakan mereka demi menyelamatkan kota. Pesan moral yang PJ Mask berikan biasanya memang terkait sifat dan masalah yang dimiliki oleh anak-anak. Anak-anak ditunjukkan bagaimana agar mereka tidak manja, impulsif, egois dan sifat-sifat kurang baik lainnya lainnya.

Tapi dengan latar belakang kota dan lawan yang itu-itu saja, PJ Mask terasa sangat membosankan. Itulah mengapa saat ini anggota PJ Mask dan lawan-lawannya terus ditambah. Tapi, bagi penonton dewasa seperi saya, yaaa PJ Mask itu tetap membosankan hehehehehe. Yah paling tidak animasinya lumayan baguslah untuk film kartun di tahun 2019.

Sayang nuansa warna yang tidak terlalu cerah, bisa jadi membuat PJ Mask tidak terlalu menarik bagi anak perempuan. Tapi itu bukan dosa PJ Mask juga sih, karena konsep PJ Mask adalah superhero anak di malam hari, jadi wajar kalau nuansa warnanya tidak terlalu cerah :’D.

Dengan demikian, serial kartun yang satu ini masih layak untuk memperoleh nilai 3 dari skala maksimum 5 yang artinya “Lumayan”. Anak perempuan saya terkadang masih menonton PJ Mask meskipun ini bukanlah film kartun favoritnya.

Sumber: pjmask.com

The Lion King (2019)

Disney kembali membuat ulang salah satu film animasinya yang sangat populer di era 90-an. Kali ini giliran The Lion King (1994) yang pernah saya tonton ketika SD dan menjadi salah satu film animasi kesukaan saya pada waktu itu. Dengan menggunakan teknologi terbaru, Disney menghidupkan kembali The Lion King (1994) dalam sebuah film yang penuh special effect pada The Lion King (2019). Singkat kata, The Lion King (2019) adalah versi live action dari The Lion King (1994).

Kisah yang disuguhkan sama persis. Di sebuah area hutan Afrika yang disebut Tanah Kebanggaan, para singa memerintah dengan adil sesuai lingkaran kehidupan hewan yang ada sejak dahulu kala. Raja Mufasa (James Earl Jones) yang telah lama memerintah, dibunuh oleh saudaranya sendiri, Scar (Chiwetel Ojiofor). Kemudian melalui tipu daya dan fitnah, Scar mengasingkan Sang Putra Mahkota, Simba (Donald Glover), jauh keluar dari Tanah Kebanggaan.

Simba tumbuh besar diasuh oleh Pumbaa (Seth Rogen) dan Timon (Billy Eichner). Timon yang seekor merkaat dan Pumbaa yang seekor babi hutan, memberikan rumah baru bagi Simba. Semua nampak indah sampai Nala (Beyonce Knowles) datang dan memberitahukan keadaan Tanah Kebanggaan yang Simba tinggalkan. Di bawah kekuasaan Scar, para singa berada di bawah kendali para hyena. Sesuatu yang tidak sesuai dengan rantai makanan dan lingkaran kehidupan. Ibu dari Simba pun masih hidup di sana dan hidup dalam tekanan dan ancaman.

Walau awalnya menolak, Simba akhirnya kembali ke Tanah Kebanggaan untuk merebut tahta dan mengembalikan lingkaran kehidupan yang Scar rusak. Jika salah satu lingkaran kehidupan diubah dengan paksa, maka semuanya akan terpengaruh.

Klise? Yaah betul sekali. Film ini memang pada dasarnya mengisahkan mengenai seorang pangeran yang datang untuk membalas dendam dan menyelamatkan keluarganya. Tapi The Lion King (1994) lebih berhasil menghasilkan sebuah eksekusi yang menarik dan berkesan. Hadir dengan teknologi terkini yang indah, The Lion King (2019) seperti tidak ada jiwanya. Ceritanya terasa datar dan standard.

Karakter Pumbaa dan Timon yang seharusnya lucu dan konyol, gagal membuat saya tertawa. Soundtrack film ini pun sepertinya terlalu dibuat ke-Afrika-an dan kurang cocok di telinga saya. Sumpah saya lebih suka dengan yang versi tahun 1994 meskipun hadir dengan animasi yang tidak sebagus The Lion King (2019).

Kelebihan yang sangat terlihat pada The Lion King (2019) sopasti adalah pada visualnya. Binatang dan alam yang ditampilkan memang nampak indah dan mengagumkan. Semuanya seperti sungguhan dan sangaaaat halus. Kalau untuk masalah visual, The Lion King (2019) sayah kasih 2 jempok deh :). Tapi disini pulalah letak hilangnya jiwa pada The Lion King (2019). Karena visualnya yang sangat realistis, saya tidak dapat melihat mimik kesedihan atau kemarahan pada film ini. Berbeda dengan yang versi tahun 1994 dimana raut muka karakter-karakter masih dapat digambarkan dengan jelas. Aahhh kenapa sih kok selalu dibandingkan dengan The Lion King (1994)? Tentu saja, karena The Lion King (2019) adalah sebuah remake, bukan reboot, jadi saya mengharapkan adanya keunggulan lain dari aspek-aspek yang ada. Dari segi cerita dan karakter saja sudah sama persis.

Dengan begitu, saya rasa The Lion King (2019) masih layak untuk mendapatkan nilai 3 dari skala maksimum 5 yang artinya “Lumayan”. Film tersebut aman ditonton semua umur, tidak ada cium-ciuman di sana meski tak ada satu karakter pun yang menggunakan baju. Yaaa jelas isinya binatang semua :P.

Sumber: http://www.lionking.com

Serial Super Wings

Super Wings merupakan film seri kartun anak produksi Korea, Cina dan Amerika yang anak saya tonton di rumah. Film ini bercerita mengenai Super Wings, sekelompok pesawat yang dapat berubah menjadi robot. Mereka menggunakan kekuatan dan kelebihan masing-masing untuk menolong anak-anak di penjuru dunia.

Pada umumnya, setiap episode Super Wings dimulai dengan pengiriman paket kepada anak-anak oleh Jett (Hudson Loverro), Super Wings berwarna merah yang ramah dan suka menolong. Jett tidak berhenti sampai pengiriman paket saja, ia selalu berhenti dan ikut menolong anak-anak yang ia kunjungi. Sayangnya Jett justru sering terjebak di dalam masalah yang tidak dapat ia selesaikan sendiri.

Nah disinilah Jett biasa memanggil bantuan dari rekan-rekan Super Wings lain sesuai masalah yang dihadapi. Jadi Super Wings yang datang adalah Super Wings yang memiliki kemampuan untuk menyelesaikan masalah. Jadi setiap episode Super Wings tidaklah terlalu monoton sebab kemungkinan akan hadir robot-robot yang berbeda, paling yaaa hanya Jett saya yang sopasti selalu ada.

Film ini tidak hanya memberikan pesan moral mengenai tolong menolong, tapi di sana terdapat pula edukasi mengenai letak geografis dan budaya berbagai kota dan negara yang Jett kunjungi. Sampai saat ini saya tidak melihat adanya hal-hal yang tidak baik pada film kartun anak ini. Tapi yaaa karena Super Wings memang ditujukan untuk anak PAUD dan TK, yah jadi masalahnya terkadang sangat sederhana.

Tapi walaupun begitu, animasi yang ditampilkan cukup bagus untuk film kartun yang saya tonton di tahun 2019. Saya suka melihat bagaimana Super Wings berubah dari pesawat menjadi robot hehehehe. Karena karakternya robot dan kebanyakan laki-laki, jadi wajar kalau mayoritas penonton serial ini adalah anak laki-laki. Karakter robot berwarna merah jambu hanya ada sesekali saja, sehingga anak perempuan saya paling hanya tahan menonton 3 episoode-nya saja.

Melihat hal-hal di atas, saya rasa serial Super Wings layak untuk memperoleh nilai 3 dari skala maksimum 5 yang artinya “Lumayan”. Lumayanlaaah, bisa dijadikan selingan sambil menemani si kecil ;).

Sumber: web.littleairplane.com

Serial Abby Hatcher

Abby Hatcher merupakan film seri kartun asal Kanada yang mengisahkan keseharian seorang anak yang bernama Abby Hatcher (Macy Drouin). Abby tinggal di hotel milik orang tuanya. Di sana, ia berkenalan dengan mahluk-mahluk imut yang disebut Fuzzly. Setiap Fuzzly memiliki wujud dan kemampuan yang berbeda. Terkadang hal ini membuahkan berbagai masalah. Di sinilah, Abby menggunakan kemampuannya untuk memecahkan berbagai masalah tersebut dengan caranya sendiri.

Abby dilengkapi dengan sepeda roda tiga, kacamata pelacak Fuzzly, sarung tangan lengket, jaket balon, sepatu per, jam serbaguna dan lain-lain. Perlengkapan-perlengkapan, tersebut harus Abby padukan dengan kekuatan unik Fuzzly untuk memecahkan berbagai masalah yang Abby temui di hotel dan sekitarnya. Hotel tempat tinggal Abby bukan hotel biasa, hotel tersebut memiliki lorong-lorong rahasia yang sering Abby lewati. Entah mengapa, melihat Abby menggunakan sepeda roda 3 melewati lorong-lorong hotel yang sepi, terkadang mengingatkan saya pada sebuah adegan ikonik dari The Shining (1980), hehehehehe.

Yaaah karena memang Fuzzly sendiri digambarkan sebagai mahluk imut yang karakter seperti anak-anak, maka masalah beserta pemecahannya terbilang sangat sederhana. Film ini memang lebih cocok untuk ditonton oleh anak kecil. Dunia Abby yang penuh dengan warna-warna cerah, plus nyanyian di mana-mana, memang akan sangat menghibur bagi anak-anak. Animasi dan suara film ini memang terbilang bagus dan berhasil memikat anak saya. Sampai-sampai, Abby Hatcher menjadi tema ulang tahun anak sulung saya :’D.

Walaupun sukses besar kalau dilihat dari segi hiburan, sayang, pesan moral yang ditampilkan agak minim dan itu-itu saja. Isinya tidak jauh dari persahabatan dan pentang menyerah memecahkan segala rintangan. Sampai saat ini saya tidak melihat karakter antagonis pada film seri ini. Semuanya nampak baik, hanya saja terkadang ada keinginan dan kekuatan dari beberapa karakter yang sedikit bersinggungan. Dengan demikian, film seri yang baru mengudara tahun 2019 ini, pantas untuk memperoleh nilai 3 dari skala maksimum 5 yang artinya “Lumayan”.

Sumber: http://www.nickjr.tv

Serial Upin & Ipin

Berawal dari serial singkat di bulan Ramadhan pada 2007 lalu, Ipin & Upin saat ini telah berhasil menjadi film seri animasi dengan musim pemutaran terpanjang di Malaysia. Sampai tahun 2019 ini saja, Ipin & Upin telah melampaui 12 musim pemutaran dan menghadirkan 4 film layar lebar. Latar belakang budaya dan bahasa Malaysia yang mirip dengan Indonesia, membuat Ipin & Upin meraih popularitas pula di Indonesia.

Alkisah hiduplah 2 anak kembar bernama Ipin & Upin (Asyiela Putri) di Kampung Durian Runtuh. Mereka berdua hidup bersama kakak mereka, Ros (Siti Kahirunnisa), dan nenek mereka, Opah (Ainon Ariff). Keduanya masih TK (Taman Kanak-Kanak) dan sehari-hari bermain dengan anak-anak dengan latar belakang suku, agama dan budaya yang berbeda. Di sana ada Ehsan (Muhammad Fareez), Fizi (Rufaidah), Mei Mei (Tang Ying Sowk), Jarjit Singh, Mail (Muhammad Musyrif Azzat) dan Susanti (Andhika Astari). Kawan-kawan Ipin & Upin mewakili suku-suku dan agama yang hadir di Malaysia, agak sedikit berbeda denham Indonesia ya. Karena kepopulerannya di Indonesia, film seri ini menampilkan tokoh Susansi yang dikisahkan sebagai orang Indonesia yang tinggal di Malaysia :).

Pesan moral dari film seri Ipin & Upin terbilang banyak dan baik, mulai dari toleransi, setia kawan, sampai beribadah. Tidak jarang saya melihat tayangan azdan Magrib diisi oleh tokoh Ipin & Upin yang berwudhu dan Sholat di Masjid. Serial inipun mengangkat tema perayaan hari raya agama lain pada beberapa episodenya. Hanya saja, memang ada beberapa hal yang kurang disetujui oleh beberapa kalangan dan menganggap bahwa toleransi pada Ipin & Upin terlampau berlebihan. Saya rasa, segala hal terkait agama memang termasuk isu sensitif. Jadi, walaupun Ipin & Upin bebas dari adegan kekerasan dan dewasa, orang tua tetap harus mendampingi putra putrinya ketika menonton Ipin & Upin.

Tak heran kalau banyak anak-anak yang senang dengan serial yang satu ini. Jalan ceritanya tidak membosankan dan animasinya lumayan bagus. Ceritanya memang berkutat pada keseharian Ipin, Upin dan kawan-kawan, termasuk ketika mereka berimajinasi. Imajinasi tersebut berhasil ditampilkan dengan baik ;). Jadi ada kalanya mainan yang Ipin, Upin dan kawan-kawan bergerak seperti mobil balam sungguhan atau pesawat perang sungguhan. Pada beberapa kesempatan pun, Ipin, Upin dan kawan-kawan menggunakan kostum detektif, astronot dan lain-lain. Film seri yang satu ini bahkan sempat berkolaborasi dengan Ultraman loh.

Animasi yang bagus disertai dengan cerita dan karakter yang menarik dan mendidik, tentunya membuat saya ikhlas untuk memberikan Ipin & Upin nilai 4 dari skala maksimum 5 yang artinya “Bagus”.

Sumber: http://www.lescopaque.com

Serial Doc McStuffins

Berhubung film yang akhir-akhir ini saya tonton adalah film anak, jadi hari ini saya akan kembali membahas salah satu film seri anak yang saya dan putri saya tonton. Kali ini, giliran film seri Doc McStuffins, sebuah film seri produksi Walt Disney.

Kalau dililihat dari segi gambar, film seri ini terbilang lumayan baguslahhhh untuk film seri yang mulai muncul sejak tahun 2012. Pada setiap episodenya terdapat nyanyian-nyanyian yang lumayan enak untuk didengar. Nah bagaimana kalau dilihat dari segi cerita? Sesuai judulnya, film seri ini mengisahkan kegiatan sehari-hari seorang anak kulit hitam bernama Dottie McStuffins (Kiara Muhammad). Pada suatu hari, nenek Dottie memberikan Dottie stetoskop dokter yang sekilas seperti mainan anak. Ternyata stetoskop tersebut adalah stetoskop ajaib yang dapat membuat mainan-mainan di sekitar Dottie menjadi hidup. Dengan berkomunikasi dengan mainan-mainan tersebut, Dottie dapat menetapkan sebuah diagnosa ketika ada mainan yang rusak atau sakit. Inilah awal mula Dottie mendapat sebutan Doc.

Pada perkembangan cerita berikutnya, sang nenek kembali mengunjungi Doc dengan membawa jam tangan ajaib. Dengan jam tangan ini, Doc dapat berkelana ke Kota McStuffinsville yang dihuni oleh berbagai mainan. Ini adalah kota tempat para mainan dapat menjadi dirinya sendiri. Di tengah kota tersebut, berdiri Rumah Sakit McStuffinsville tempat dimana berbagai mainan dari penjuru dunia datang untuk berobat. Setiap mainan yang sakit atau rusak, dapat pergi menuju kotak portal untuk masuk ke dalam UGD Rumah Sakit McStuffinsville.

Dimanapun Doc singgah, ia siap menolong mainan yang rusak. Kerusakan-kerusakan yang muncul, terbilang sederhana dan mudah dipahami anak-anak. Para penonton cilik diajarkan agar tidak takut dengan dokter dan rumah sakit. Berbagai pesan moral lain yang dihadirkan pun cukup beragam pada setiap episodenya.

Sayang sekali, ada 1 episode yang kontroversial, yaitu episode “In Case if an Emergency” pada musim ke-4. Pada episode ini, ditampilkan seorang anak yang memilki 2 ibu-ibu sebagai orang tuanya. Sekilas memang nampak tidak ada yang salah, tapi kalau ditelaah lebih dalam lagi, apakah ini berarti ada pasangan lesbian pada film seri anak-anak ini? Saya pribadi tidak memusuhi kaum LGBT, tapi konsep LGBT janganlah diperkenalkan secepat ini kepada anak-anak kecil. Untunglah hal ini terjadi hanya pada 1 episode itu saja sehingga hal ini tidak terlalu terlihat. Andaikata hal ini diulangi terus menerus, sudah pasti saya memilih untuk melarang anak saya untuk menonton Doc McStuffins.

Dengan animasi yang lumayan bagus, nyanyian yang bagus dan pesan moral yang baik (kecuali di 1 episode), saya menilai Doc McStuffins pantas untuk memperoleh nilai 3 dari skala maksimum 5 yang artinya “Lumayan”. Jangan lupa untuk mendampingi anak-anak ketika menonton film seri yang 1 ini, ceritanya lumayan menghibur orang dewasa juga kok.

Sumber: disneynow.go.com/shows/doc-mcstuffins