Hari Keenam Wisata Korea – Gyeongbokgung, Bukchon & Changdeokgung

Setelah pada Hari Kelima Wisata Korea – One Mount Snow Park, The War Memorial of Korea & Myeong-dong kami mengunjungi jejak Perang Korea, pada hari keenam petualangan kami ini, kami mengunjungi beberapa jejak peninggalan Korea di era feodal. Jauh sebelum Korea terpecah 2 akibat perang ideologi, Korea dikuasai oleh satu atau beberapa kerajaan. Hari itu kami akan mengunjungi Istana Gyeongbokgung, Kampung Hanok Bukchon dan Istana Changdeokgung.

Kami memulai hari itu pagi-pagi sekali. Setelah sarapan, kami pergi keluar penginapan menuju Stasiun Dongdaemun History & Culture Park. Dari sana, kami naik Kereta Seoul Metro jalur 5 (ungu) ke arah Stasiun Euljiro 4(sa)ga untuk turun di Stasiun Gwanghwamun. Kami kemudian berjalan cukup panjang untuk keluar di Exit 9. Kenapa kok Exit 9 yang agak jauh? Keluar dari Exit 9, kami langsung berada di tengah-tengah area Gwanghwamun Square, tak pakai acara menyeberang, langsung di tengah ;).

Gwanghwamun Square (광화문광장) merupakan area hijau di seberang Istana Gyeongbokgung. Di sana terdapat patung raksasa dari Laksamana Yi Sun-Shin (이순신) dan Raja Sejong (세종대왕). Nama Raja Sejong sudah sangat terkenal. Tapi, siapa pula Yi Sun-Shin itu? Sekilas ia seperti salah satu panglima perang Tiongkok pada film Red Cliff :’D. Ternyata, Yi Sun-Shin merupakan pahlawan nasional Korea yang memimpin peperangan di laut pada era Perang Imjin atau Perang 7 Tahun melawan Jepang. Ketika Korea menolak untuk memberikan jalan bagi Jepang untuk menginvasi Cina, Jepang melakukan serangan darat dan laut ke dalam wilayah Korea. Mayoritas wilayah darat Korea dapat dengan mudah dikuasai. Berkat kepemimpinan Laksamana Yi Sun-Shin, wilayah laut Korea sulit untuk dikalahkan. Armada Jepang bahkan akhirnya mundur dan dinyatakan kalah. Kisah kepahlawanan Yi Sun-Shin ini ternyata sudah beberapa kali di angkat ke layar kaca, sayanya saja yang kurang gaul nih hohoho.

Lantas, apakah Raja Sejong ada hubungannya juga dengan Perang 7 Tahun? Raja Sejong merupakan raja keempat dari Dinasti Joseon yang bertahta jauh sebelum Jepang menginvasi Korea. Ia merupakan raja yang sangat terkenal karena kemajuan ilmu pengetahuan Korea di era pemerintahaanya. Aksara Korea yang di sebut hangeul merupakan hasil karyanya yang termashur. Itulah mengapa di depan patung Raja Sejong yang terletak di Gwanghwamun Square, terdapat patung yang menggambarkan alfabet hangeul, bola dunia selestial, alat pengukur hujan dan jam bayangan matahari. Keempatnya merupakan simbol kemajuan Korea di era Raja Sejong.

Kami mengamati patung-patung tersebut disela-sela tenda putih yang sedang dipasang. Pagi itu, terdapat bazar atau eksebisi yang baru saja buka di Gwanghwamun Square. Karena semua dalam tulisan dalam tulisan hangeul, kami kurang paham itu acara apa. Di sana, mereka menjual aneka makanan kecil dan minuman ringan. Kemudian terdapat pula video games virtual reality di pasang di sana. Entah apa maksudnya, kami memilih untuk berjalan ke arah Istana Gyeongbokgung.

Kami tidak langsung masuk ke dalam Gyeongbokgung karena kami ingin mencari tempat penyewaan hanbok. Whoaaw, apa itu hanbok? Baju hanbok merupakan baju tradisioanal Korea yang dapat disaksikan pada beberapa drama Korea berlatar belakang dinasti Joseon. Tentunya akan menjadi sebuah pengalaman yang seru kalau kami dapat berkeliling Istana menggunakan baju tradisional tersebut. Sebenarnya, kami bisa saja mem-booking hanbok sejak di Indonesia, tapi lokasi penyewaan dan perhitungan waktu membuat kami batal melakukan booking. Kami memilih untuk mencari penyewaan hanbok yang lokasinya dekat dengan pintu gerbang Gyeongbokgung di hari kedatangan saja ;). Saya sadar, resikonya adalah kami gagal menyewa hanbok yang keren ;). Di dalam kompleks Istana Gyeongbokgung, terdapat menyewaan hanbok gratis. Tapi yaaaaa, ada harga, ada rupa, bentuk hanboknya kurang bagus :’D.

Kami terus berjalan ke arah barat Gyeongbokgung dan menemukan jejeran gerai penyewaan habok, tepatnya di sekitar Jahamun-ro 2-gil. Aaaahhh, ternyata banyak penyewaan habok di sana, tak perlu pakai acara booking lewat online. Di sana, kami dapat mendapatkan banyak pilihan hanbok yang siap untuk disewa. Ada tipe hanbok klasik dan tipe modern, semuanya bagus-bagus loh, tinggal pilih sesuai selera ;).

Di dalam penyewaan hanbok, kita hanya dapat mencoba 2 hanbok saja. Kemudian, pada 1 paket biasanya kita memperoleh juga pelayanan make-up dan hair stylist. Sepatu, tas dan aksesoris tambahan lainnya, biasanya tidak termasuk ke dalam paket. Kita harus membayar biaya tambahan bila ingin menambahkan aksesoris. Saya pribadi menggunakan sepatu Wakai yang sudah saya bawa dari rumah. Bentul dan modelnya masih cocoklah kalau bertemu dengan hanbok. Oh yaaa, hanbok itu bukan hanya milik wanita loh, kaum Adam juga ada versi hanboknya. Kalau canggung menggunakan hanbok, terdapat pula kostum pejabat negara atau kaisar di sana. Namun saya pribadi pernah menyewa kostum pejabat negara atau kaisar ketika berkunjung ke Tembok Cina beberapa tahun yang lalu. Aaahh, bentuknya mirip, tak jauh berbeda. Itulah mengapa saya memilih mengenakan hanbok laki-laki ketimbang baju kaisar atau pejabat kerjaan ;).

Penyewaan hanbok biasanya dihitung per-jam dan kita biasanya diharuskan membayar 2 jam pertama di muka plus uang deposit. Kami pun memperoleh loker untuk menitipkan barang bawaan kami. Tidak seru juga kan kalau menggunakan hanbok sambil menggendong tas-tas ransel. Selain berat, hambok juga bisa kusut atau rusak. Kerusakan akibat penggunaan bisa dipotong dari uang deposit yang kita bayar di muka loh.

Kami bertiga berjalan keluar menuju Istana tanpa rasa malu karena menggunakan hanbok bukanlah hal aneh di sana. Kami berjalan menyusuri penyewaan hanbok yang berada di sekitar dinding barat Gyeongbokgung. Semakin siang, semakin banyak yang terlihat buka. Menjamurnya bisnis penyewaan hanbok di sekitar Istana Gyeongbokgung, Kampung Hanok Bukchon dan Istana Changdeokgung sebenarnya tak lepas dari usaha Pemerintah untuk melestarikan budayanya. Siapa saja yang datang dengan menggunakan hanbok, diperbolehkan gratis masuk ke dalam beberapa Istana yang tersebar di dalam Kota Seoul. Program pemerintah Korea Selatan ini dapat dibilang berhasil karena selain memberikan bisnis baru bagi masyarakat lokal, kaum muda Korea pun ada yang ikut menggunakan hanbok di sekitar area Istana. Kapan yah Indonesia bisa seperti ini? 😀

Kami tiba di Gerbang Gwanghwamun, gerbang utama Istana Gyeongbokgung, pada sekitar pukul 10 siang. Pada sekitar jam inilah biasanya terdapat atraksi pergantian penjaga ;). Pergantian penjaga ini diawali dengan bunyi gong yang besar. Kami melihat sekumpulan penjaga, lengkap dengan atributnya berbaris dan melakukan serangkaian atraksi dengan senjata mereka :D.

Setelah pergantian penjaga berakhir, kami dapat berfoto dengan komandan penjaga yang membawa rantai dan golok hohohoho. Di sana, kami pun menjadi objek foto bersama, oleh backpaker-backpaker asal Indonesia yang tidak tahu perihal sewa menyewa hanbok :’D. Setelah menginformasikan tempat menyewaan hanbok, kami berpisah dengan mereka, dan kami berjalan ke dalam area Kompleks Istana Gyeongbokgung yang luas ;).

Istana Gyeongbokgung (경복궁) adalah istana terbesar dari 5 istana yang pernah dibangun pada era Dinasti Joseon. Istana megah ini dibangun pada tahun 1935 dan sempat hancur pada era Perang Imjin, invasi Jepang di tahun 1500-an. Istana ini kemudian direstorasi lagi oleh Raja Gojong hingga sebagian bentuknya masih dapat kami saksikan saat itu. Setelah era Raja Gojong, terdapat beberapa perubahan karena Jepang melakukan perombakan terhadap Gyeongbokgung ketika mereka berhasil menjajah Korea pada tahun 1900-an.

Bentuk istana di Seoul ini agak berbeda dengan istana-istana di Jepang yang bentuknya vertikal ke atas. Saya rasa bentuk istana milik Korea lebih mirip dengan istana milik Cina yang melebar dengan banyak pintu di mana-mana. Korea di era feodal memang banyak dipengaruhi oleh dinasti Ming dan Qing dari Cina.

Kami berputar-putar kompleks istana mengagumi keindahan arsitektur khas Korea yang ada di depan mata. Istana ini luas sekali sehingga pengunjung tidak perlu berdesak-desakan seperti pada Hari Ketiga Membawa Bayi Ketika Wisata Bangkok & Pattaya di Bangkok dulu :’D. Di sana banyak sekali ruangan dan pintu-pintu unik yang indah. Pada bagian tengah, terdapat ruangan tempat raja bertahta. Ruangan tersebut tidak terlalu besar, tapi nampak beda dan keren, seperti di film-film kerajaan.

Ketika kami berjalan-jalan di sana, Istana Gyeongbokgung dikunjungi pula oleh satu atau dua rombongan dharmawisata sekolahan. Bisa dibilang ini adalah record kami melihat gerombolan anak-anak selama di Korea. Negeri tersebut angka kelahirannya memang sangat kecil sehingga jumlah anak-anak di sana dikabarkan terus menurun. Anak kami sendiri, dengan riangnya berlari-lari dengan hanboknya, di dalam kompleks istana :). Dengan banyaknya pengunjung yang berpakaian hanbok ke sana, kami seperti sedang benar-benar berkunjung ke Istana Gyeongbokgung di masa lampau.

Setelah selesai berputar-putar di bagian depan dan tengah kompleks, kami menemukan National Folktale Museun pada halaman belakang Istana. Di sana, terdapat berbagai alat-alat yang masyarakat Korea pernah gunakan di masa lampau. Kami tidak terlalu lama di sana karena keterbatasan waktu, masih banyak objek wisata yang hendak kami kunjungi.

Kalau ke arah belakang istana lagi, wilayah di seberang tembok belakang istana tepatnya, terdapat Cheong Wa Dae atau Blue House. Rumah tradisional Korea bergenting biru ini merupakan kediaman resmi presiden Korea Selatan. Namun karena kepergian kami ke Seoul memang agak singat waktu persiapannya, kami tidak meneruskan untuk berkunjung ke Blue House. Untuk masuk ke dalam Blue House, kita diharuskan mengisi form di situs resmi kepresidenan paling tidak 3 minggu sebelum rencanan kedatangan. Wah, rumit, sudahlah, kapan-kapan saja kalau ada kesempatan ;).

Dari Istana Gyeongbokgung, kami kembali ke tempat penyewaan hanbok untuk berganti pakaian dan mengambil barang bawaan kami. Demi efisiensi waktu dan biaya, kami memilih untuk menggunakan baju biasa saja pada kunjungan kami ke Kampung Hanok Bukchon dan Istana Changdeokgung ;). Dari tempat penyewaan, kami berjalan ke arah timur, menyusuri Yukgok-ro, arah tempat Kampung Hanok Bukchon dan Istana Changdeokgung berada. Di tengah-tengah perjalanan, kami berhenti di sebuah halte bus untuk menyantap bekal dan mengganti popok anak kami hehehehe. Setelah itu, kami kembali berjalan menyusuri trotoar Kota Seoul yang ramah pejalan kaki. Dengan bantuan GPS, kami akhirnya tiba di Istana Changdeokgung. Loh? Bukankah Kampung Hanok Bukchon berada diantara Istana Gyeongbokgung dan Istana Changdeokgung? Betul, tapi lokasi Kampung Hanok Bukchon agak berbelok ke utara, sedangkan untuk menuju Istana Changdeokgung kami dapat dengan mudahnya berjalan lurus mengikuti Yukgong-ro saja. Selain itu, Istana Changdeokgung ada jam tutupnya, sedangkan Kampung Hanok Bukchon tak ada jam tutupnya. Kami masih dapat mengunjungi Kampung Hanok Bukchon di sore hari.

Kami tiba di Istana Changdeokgung sekitar pukul 1 siang. Istana ini relatif lebih sepi dibandingkan Gyeongbokgung. Ketika kami tiba di sana, sebagian besar pengunjung pun tidak menggunakan hanbok, sedikit berbeda dengan kondisi di Gyeongbokgung. Kami sendiri memasuki Istana Changdeokgung dengan membayar tiket karena kami sudah tidak menggunakan hanbok lagi di sana.

Istana Changdeokgung (창덕궁) merupakan salah satu istana yang paling disukai oleh keluarga kerajaan. Istana ini memang bukan pusat pemerintahan, tapi keadaannya yang lebih menyatu dengan alam, membuat para putri raja betah untuk tinggal di sana. Raja Sujong, raja terakhir dinasti Joseon, hidup di dalam istana ini sampai ajal menjemputnya. Bahkan sampai saat ini, anak dan keturunan Raja Sujong masih tinggal di dalam salah satu bagian dari istana ini. Apa istimewanya Istana Changdeokgung? Arsitektur dan dekorasi dari istana ini sangat mirip dengan Istana Gyeongbokgung. Bangunan istana utamanya sendiri sebenarnya tidak terlalu luas, tapi kompleks istana tersebut jadi nampak luaaaas karena menjadi satu dengan Kuil Jongmyo dan Huwon.

Kuil Jongmyo (종묘) merupakan salah satu kuil Konfusius tertua di dunia. Sebagai penguasa yang berkepercayaan Konfusianisne, raja dan ratu dinasti Joseon menyimpan tablet-tablet memorial mereka di dalam ruangan-ruangan yang terdapat di dalam kuil tersebut. Praktis semua upacara keagaaman yang berhubungan dengan nenek moyang keluarga kerjaan dipusatkan di kuil ini. Kami melihat banyak sekali ruangan-ruangan kecil tempat menyimpan tablet, di dalam area kuil tersebut. Konon, dahulu ruangannya lebih panjang dan banyak. Tapi sebagian sudah dihancurkan Jepang untuk membangun jalan. Kemudian, di sana terdapat pula rumah-rumah hanok yang dulu dijadikan tempat tinggal para pemuka agama. Rumah-rumah hanok tersebut agak memanjang dengan banyak kamar dengan halaman atau taman kecil di tengah, lebih mirip seperti penginapan dibandingkan rumah.

Huwon adalah sebuah taman di belakang istana yang terdiri dari pepohonan, kolam dan pendopo-pendopo khas dinasti Joseon. Di sanalah keluarga kerjaan biasa berkumpul, belajar, bermeditasi dan mengadakan perjamuan makan malam. Ada suatu masa di mana hanya raja yang boleh memasuki taman ini, sehingga taman ini disebut juga Biwon atau Taman Rahasia. Untuk memasuki Huwon, kita harus didampingi oleh pemandu wisata resmi sesuai jadwal yang ada. Karena kami tiba di sana di waktu yang kurang tepat, maka kami memutuskan untuk tidak masuk ke dalam Huwon. Kami tiba di saat sebuah rombongan baru memasuki Huwon. Kami harus menunggu rombongan berikutnya untuk masuk, wahh pasti lama ini. Kalau dari luar sih, terlihat bahwa dedaunan di dalam sana masih hijau, belum berubah warna. Andaikan kami tiba di tengah-tengah musim semi, kami akan menunggu dan mengantri untuk masuk ke dalam Huwon.

Kalau saya lihat, keberadaan Huwon dan Kuil Jongmyo jelas membuat keluarga raja senang tinggal di Istana Changdeokgung. Itulah mengapa, pihak kerajaan terus menerus merestorasi istana ini walaupun istana tersebut pernah hancur pada invasi Jepang, penyerangan Manchu dan insiden internal Korea. Keberadaan tablet nenek moyang membuat keluarga merasa lebih dekat dengan keluarga yang telah wafat. Keberadaan taman dan lingkungan yang asri, membuat istana terasa lebih teduh.

Setelah selesai berwisata di di Istana Changdeokgung, kami berjalan ke arah barat laut menuju Kampung Hanok Bukchon. Kalau di peta sih, masuknya ke daerah Bukchon-ro 11-gil. Tempatnya memang agak masuk ke dalam jalan yang sempit. Kami sempat beberapa kali memperoleh petunjuk jalan yang salah dari warga lokal. Bagi teman-teman yang hendak berkunjung ke Kampung Hanok Bukchon, sebaiknya percaya saja kepada GPS dalam hal ini. Banyak warga lokal yang kurang paham bahasa Inggris :’D.

Kampung Hanok Bukchon (북촌한옥마을) sudah ada sejak 600 tahun yang lalu. Daerah ini dulunya merupakan tempat tinggal pejabat dan bangsawan dari dinasti Joseon. Lebar jalan yang kecil memang menggambarkan keadaan perkampungan Korea di era feodal. Tapi rumah-rumah yang agak kecil sebenarnya merupakan hasil dari penjajahan Jepang pada tahun 1900-an. Untuk memecah dan merusak martabat dinasti Joseon, Jepang membagi-bagi rumah yang pada awalnya besar, menjadi kecil-kecil. Yaaah, pada dasarnya, Jepang-lah yang mengakhiri kekuasaan dinasti Joseon di Korea Selatan. Setelah dinasti tersebut runtuh, praktis runtuh pulalah era feodal di Korea Selatan.

Kami tiba di Kampung Hanok Bukchon sekitar pukul setengah empat sore. Sinar matahari sudah tidak terlalu terasa panas dan angin musim semi bertiup cukup kencang saat itu. Kampung Hanok Bukchon pun tidak terlalu padat :D. Kami mengelilingi area yang penuh dengan rumah tradisional Korea tersebut dengan tetap menjaga ketertiban dan kebersihan karena rumah-rumah yang ada di sana bukan rumah-rumahan. Rumah-rumah tersebut masih dijadikan tempat tinggal oleh warga Korea. Beberapa rumah ada yang dijadikan penginapan dan restoran, tapi bentuk aslinya tetap tidak diubah sehingga bentuknya yaa tetap seperti rumah, tidak seperti toko modern. Karena keasliannya, area ini berhasil memberikan atmosfer perkampungan di era dinasti Joseon. Apalagi ketika terdapat pengunjung berpakaian hanbok lalu lalang di sana.

Sebenarnya, terdapat 2 kampung hanok di Seoul, yaitu Kampung Hanok Bucheon dan Kampung Hanok Namsagol. Keduanya sama-sama terdiri dari rumah-rumah tradisional Korea yang disebut hanok. Hanya saja, Kampung Hanok Namsagol bukanlah tempat tinggal seperti yang Kampung Hanok Bucheon miliki. Hanok-hanok yang Kampung Hanok Namsagol miliki, khusus dibangun pada tahun 1998 untuk memperlihatkan budaya Korea di masa lampau. Kampung Hanok Namsagol tentunya lebih luas dan lebih lenggang dibandingkan dengan Kampung Hanok Bucheon, tapi lokasi yang kurang pas dengan itenari kami dan kekurang-original-an, membuat kami memilih untuk berkunjung ke Kampung Hanok Bucheon saja. Toh lokasi diantara 2 istana yang menjadi tujuan kami di hari tersebut. Pilihan ini tentunya lebih efisien dari segi waktu.

Dari Kampung Hanok Bucheon, kami kembali berjalan ke arah Stasiun Anguk dengan bantuan GPS. Dari sana, kami naik Kereta Seoul Metro jalur 3 (oranye) arah Stasiun Jongno 3(sam)ga untuk turun di Stasiun Jongno 3(sam)ga. Kemudian kami naik Kereta Seoul Metro jalur 5 (ungu) arah Stasiun Euljiro 4(sa)ga untuk turun di Stasiun Dongdaemun History & Culture Park.

Karena hari belum terlalu malam, maka kami kembali berjalan-jalan di pertokoan dan pusat perbelanjaan yang ada di daerah Dongdaemun. Yaaahh inilah keuntungan dari menginap di dekat pusat perbelanjaan ;). Kami pun kembali mampir di pedagang kaki lima sushi yang hampir setiap malam kami kunjungi hehehehe. Setelah makan malam, kami bermaksud mencari baju anak dan menemukan baju-baju berbentuk aneh. Sebenarnya kami sudah melihat ini selama di Seoul tapi baru kali ini kami melihat dengan jelas bahwa baju tersebut adalah baju anjing :’D. Selama di Seoul kami memang sering melihat anjing-anjing lucu yang berjalan menggunakan baju dan aksesoris layaknya manusia. Pemilik anjing-anjing tersebut adalah kaum muda Korea. Melihat menurunnya jumlah bayi dan angka kelahiran di sana, apakah kaum muda Korea beralih ke anjing? Apakah mereka lebih memilih memiliki anjing sebagai pengganti bayi yang sulit mereka miliki? Berdasarkan obrolan saya dengan salah satu warga lokal, ia menganggap bahwa menikah dan memiliki anak itu mahal. Siapa sih yang tak ingin punya anak. Sayang biaya hidup di Korea itu tak murah. Akhirnya, kaum muda sana lebih memilih memundurkan usia menikah mereka. Setahu saya, semakin tua usia kita, semakin sulit memiliki anak. Wah jadi ingat film The Boss Baby (2017). Sekejap, film tak masuk akal tersebut, menjadi sangat masuk akal.

Setelah lelah dan mengantuk, kami berjalan pulang ke penginapan dan langsung beristirahat. Esok hari akan menjadi hari yang lebih santai karena tujuan wisatanya jauh lebih sedikit pada Hari Ketujuh Wisata Korea – Gwangjang & Cheonggyecheon. Hal ini memang disengaja karena kami membawa anak di bawah 2 tahun. Tidak mungkin kalau setiap hari kami berangkat pukul 7 pagi.

Baca juga:
Persiapan Wisata Korea 2017
Ringkasan Objek Wisata Korea Selatan
Hari Pertama Wisata Korea – Incheon, Namsan Tower & K Star Road
Hari Kedua Wisata Korea – Naminara Republic, Petite France & The Garden of Morning Calm
Hari Ketiga Wisata Korea – Ihwa, Ewha, Itaewon & Banpo
Hari Keempat Wisata Korea – Gunung Seorak & Naksansa
Hari Kelima Wisata Korea – One Mount Snow Park, The War Memorial of Korea & Myeong-dong
Hari Ketujuh Wisata Korea – Gwangjang & Cheonggyecheon
Hari Kedelapan & Kesembilan Wisata Korea – Everland & Incheon

Iklan

Serial Extra History

 

Extra History merupakan sebuah serial produksi Extra Credits yang mengisahkan mengenai sejarah dari seorang tokoh, sebuah kerajaan, sebuah sistem, sebuah benda dan sebuah peristiwa penting dari seluruh penjuru dunia. Semua ditampilkan dalam bentuk kartun sederhana yang menarik. Tapi jangan harap untuk melihat kartun sekelas kartun-kartunnya Pixar atau Walt Disney yaa. Kartun di sini merupakan kartun sederhana yang informatif. Ditambah dengan narasi yang enak didengar dan santai, Extra History dapat menampilkan potongan sejarah dengan cara yang tidak membosankan.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Memang, karena yang ditampilkan Extra History merupakan potongan, jadi terdapat beberapa hal yang tidak diceritakan. Bagaimanapun juga, penonton Extra History tidak semuanya mahasiswa jurusan Sejarah bukan ;). Detail yang terlalu berlebih atau terlalu kurang, dapat membuat semuanya menjadi membosankan. Dari serial ini, saya memperoleh tontonan santai yang dapat mempertajam pengetahuan saya.

Pada setiap episodenya, terdapat sentilan dan ungkapan yang memancing penontonnya untuk berpikiran kritis. Bukankah sejarah biasanya ditulis oleh pemenang? Mungkinkah ini benar kalau dilihat pakai logika? Terkadang sejarah memang diambil dari sebuah sumber yang mana ditulis berdasarkan sudut pandang sumber tersebut. Jadi, ya memang akan selalu ada sedikit ruang untuk perdebatan.

Terkadang, di sana terdapat pula celetukan mengenai hal-hal yang digambarkan oleh film-film Hollywood terkadang tidak sesuai dengan catatan sejarah. Yaaah, selama ini saya sendiri memang sering menonton film yang kisahnya diambil dari potongan sejarah. Terkadang film-film seperti ini sudut pandang dan kisahnya agak digeser-geser agar lebih menarik. Namanya juga film komersil, bukan film dokumenter ;). Kalau terlalu kaku dengan catatan sejarah, yah nanti tidak laku di bioskop dong.

Nah Extra History sendiri, sebenarnya dapat dikatakan sebagai kartun dokumenter yang bercerita tentang sejarah. Serial ini tentunya tidak hadir di bioskop atau stasiun TV lokal kita. Setelah sempat berpindah-pindah “rumah”, saat ini Extra History dapat ditemukan di patreon, youtube.com dan beberapa saluran TV on-line/off-line luar negeri lainnya. Saya pribadi biasa menonton serial ini di youtube saja, gratis hehehehe.

Sangat jarang saya dapat menemukan sebuah tontonan yang dapat menghibur sekaligus memperluas pengetahuan saya. Serial Extra History layak untuk memperoleh nilai 4 dari skala maksimum 5 yang artinya “Bagus”. Teman-teman yang belum pernah menontonnya, coba tonton episode mengenai Senguku Jidai, itu episode Extra History favorit saya ;).

Sumber: becausegamesmatter.com

King Arthur: Legend of the Sword (2017)

Kerajaan Camelot yang dipimpin oleh Raja Arthur dan kesatria meja bundar sudah menjadi legenda paling terkenal di wilayah Inggris Raya. Walaupun keberadaannya yang masih diperdebatkan, sudah banyak cerita-cerita bertemakan legenda Camelot dengan berbagai pendekatan.

Salah satu yang pernah hadir di bioskop tanah air dan menjadi favorit saya adalah King Arthur (2004) yang menggunakan pendekatan sejarah sehingga Arthur dan kawan-kawan hadir di tengah-tengah konflik dan kerajaan lain yang memang ada di dalam sejarah dunia. Saya pribadi senang dengan jalan ceritanya, tapi film ini habis tak bersisa dikritik oleh para kritikus. Pendekatan film yang ke arah sejarah menimbulkan pro-kontra karena sampai saat ini saja kebenaran akan keberadaan Arthur masih diperdebatkan oleh para ahli sejarah. Tetapi saya tetap suka dengan King Arthur (2004) sebab pendekatannya yang berbeda, tidak mengikuti alur klasik dongeng Camelot, cinta segitiga Arthur-Guinevere-Lancelot yang memuakkan seperti pada First Knight (1995), blahhh. Bagi saya, King Arthur (2004) tetap menjadi salah satu film terbaik diantara film-film lain yang bertemakan Camelot.

Sudah banyak film bertemakan Camelot yang dianggap gagal. Tapi hal tersebut tidak membuat sineas Hollywood kapok menggarap film bertemakan Camelot. Pada tahun 2017, Guy Ritchie menelurkan film bertemakan legenda Camelot, King Arthur: Legend of the Sword (2017). Kali ini tidak ada unsur sejarah dibawa-bawa. Semuanya bersifat fantasi dengan dukungan kostum dan special effect yang lumayan bagus. Saya suka dan menikmati adegan pertarungan pada film ini, keren dan seru :D.

Tidak hanya itu, cara penceritaan pada film ini tidak monoton. Gabungan alur maju-mundur beberapa kali dilakukan tanpa membuat penonton bingung. Semua cukup informatif dan menambah nilai plus film ini. Bagaimana dengan ceritanya?

Syukurlah King Arthur: Legend of the Sword (2017) tidak mengangkat cinta segitiga klasik Camelot. Fokusnya lebih ke arah bagaimana Bang Arthur (Charlie Hunnam) bisa merebut kembali tahta kerajaan yang direbut pamannya sendiri, Vortigern (Jude Law). Vortigern menggunakan sihir jahat untuk membunuh ayah dan ibu Arthur. Arthur pun berhasil melarikan diri dan tumbuh menjadi pribadi yang cuek, sedikit selengehan tapi bijak dan baik hati. Sangat jauh berbeda dengan Arthur pada King Arthur (2004) yang terlihat lebih serius. Tapi kedua versi Arthur ini sama-sama tidak memiliki ambisi untuk menjadi raja, sama-sama “zero to hero story”, dari bukan siapa-siapa, mampu menjadi raja. Hanya saja Arthur pada King Arthur: Legend of the Sword (2017) dikisahkan sebagai keturunan ningrat dan pangeran terbuang yang direbut tahtanya.

Aroma fantasi pada King Arthur: Legend of the Sword (2017) terasa lebih kental karena memang banyak adegan sihir-sihirnya. Pedang Arthur pun bukan pedang sembarangan, pedang tersebut dapat memberikan Arthur kekuatan untuk melawan Vortigern dan sihir jahatnya.

Rasanya King Arthur: Legend of the Sword (2017) berhasil menggeser King Arthur (2004) sebagai film Camelot favorit saya. Kelebihan utama King Arthur: Legend of the Sword (2017) lebih ke arah alur penceritaan yang unik dan pembawaan Arthur yang lebih menarik. Meskipun kembali habis dibenci para kritikus film, bagi saya pribadi, film ini layak untuk memperoleh nilai 4 dari skala maksimum 5 yang artinya “Bagus”

Sumber: kingarthurmovie.com

Beauty and the Beast (2017)

Beauty & The Beast

Ketika masih kecil dulu, saya sempat menonton film seri Beauty and the Beast yang dibintangi oleh Linda Hamilton dan Ron Perlman, tanpa mengetahui bahwa film seri tersebut diambil dari sebuah dongeng karya Gabrielle-Suzanne Barbot de Villeneuve. Dongeng yang diterbitkan pada tahun 1740 ini kemudian hadir dalam berbagai versi dengan perubahan jalan cerita di sana dan di sini. Pada tahun 1991, Studio Walt Disney ikut merilis film animasi Beauty and the Beast yang terbilang cukup sukses. Berharap untuk mengulang kembali kesuksesan tersebut, Disney menghadirkan kembali dongeng Beauty and the Beast ke layar lebar melalui Beauty and the Beast (2017).

Beauty & The Beast

Kali ini dongeng tersebut tidak hadir dalam bentuk animasi, melainkan dalam bentuk film yang diperankan langsung oleh aktor dan aktris lengkap dengan special effect terbaik untuk film keluaran 2017. Dikisahkan Belle (Emma Watson) hidup bersama ayahnya, Maurice (Kevin Kline), di desa Villeneuve, Prancis. Berbeda dengan gadis-gadis di desa tersebut, Belle sangat gemar membaca dan senang sekali dengan buku. Perbedaan ini tidak menghalangi Gaston (Luke Evans) untuk berkali-kali menyatakan cintanya kepada Belle. Belle pun tak segan-segan untuk berkali-kali menolak cinta Gaston. Padahal Gaston merupakan pemuda pujaan hati gadis-gadis lain di desa tersebut. Pria seperti apakah yang Belle cari? Jawabannya akan Belle dapatkan melalui deretan peristiwa yang kurang mengenakkan.

Beauty & The Beast

Beauty & The Beast

Pada suatu hari Belle pergi keluar desa untuk mencari ayahnya yang tak kunjung pulang. Ayah Belle ternyata dipenjara oleh Beast (Dan Stevens) karena mencuri bunga dari taman milik Beast. Belle kemudian rela menggantikan ayahnya untuk menjalani hukuman di dalam istana Beast yang suram. Dulu, istana tersebut tidaklah sesuram sekarang. Akibat keangkuhan Sang Pangeran penguasa istana tersebut, seorang penyihir murka dan mengutuk Sang Pangeran, istana beserta seluruh menghuninya. Sang Pangeran berubah menjadi sebuah mahluk buruk rupa yang disebut Beast. Para penghuni istana berubah menjadi berbagai perlengkapan istana seperti lilin, cangkir, lemari dan piano. Kutukan tersebut akan diangkat apabila Beast dapat menemukan seorang wanita yang mau mencintai Beast apa adanya. Semua ini harus dilakukan sebelum seluruh kelopak sebuah bunga mawar berjatuhan. Bungan mawar tersebut Beast simpan baik-baik di salah satu bagian istananya yang besar. Para pelayan Beast melihat kedatangan Belle sebagai sebuah kesempatan untuk mematahkan kutukan. Mereka berusaha sekuat tenaga untuk menjodohkan Belle dengan Beast.

Beauty & The Beast

Beauty & The Beast

Beauty & The Beast

Beauty & The Beast

Beauty & The Beast

Di lain tempat, Gaston berusaha menemukan Belle tapi dengan cara yang salah dan kurang baik. Sesalah dan seangkuh apapun Gaston, ia selalu didukung dan didampingi oleh LeFou (Josh Gad) sahabat setianya. Nah tokoh LeFou inilah yang sempat menjadi perdebatan mengenai pantas atau tidaknya Beauty and the Beast (2017) ditonton anak-anak. Tokoh LeFou yang sepanjang film memang nampak “melambai” dikabarkan sebagai karakter gay di film tersebut. Selain gayanya yang agak melambai, saya tidak melihat perkataan atau jalan cerita yang mengekspos LeFou sebagai gay. Memang di bagian akhir, sekilas terlihat bahwa LeFou berdansa berpasangan dengan pria sementara pria lainnya berpasangan dengan wanita, tapi itu hanya sepersekian detik saja kok. Adegan tersebut rasanya tidak dapat dikatakan sebagai justifikasi ke-gay-an LeFou. Dari beberapa adegan bernyanyi dan menari yang ada pada film ini, tidak ada adegan yang ke arah sana kok.

Beauty & The Beast

Beauty & The Beast

Saya rasa Beauty and the Beast (2017) masih aman ditonton anak-anak tapi dengan pengawasan orang tua. Toh mayoritas film ini diisi dengan adegan bernyanyi dan menari dengan visual yang cantik. Sayang bagi saya pribadi, lagu-lagu yang diperdengarkan terlalu asing dan agak membosankan. Selain itu dari segi cerita, pada dasarnya kisah pada Beauty and the Beast (2017) sangat mirip dengan Beauty and the Beast (1991), mudah ditebak.

Beauty & The Beast

Walaupun pada dasarnya saya kurang suka dengan film yang banyak nyanyi-nyanyinya, secara keseluruhan, Beauty and the Beast (2017) masih layak untuk memperoleh nilai 3 dari skala maksimum 5 yang artinya “Lumayan”. Bagi yang senang menonton film musikal dengan visul yang cantik, silahkan tonton film ini, pasti suka.

Sumber: movies.disney.id/beauty-and-the-beast-2017

The Huntsman: Winter’s War (2016) 

huntsman1

Dari berbagai dongeng yang semasa kecil pernah saya dengar, rasanya dongeng mengenai Putri Salju sampai saat ini masih merupakan salah satu dongeng anak-anak paling terkenal. Cerita tersebut diceritakan berulang-ulang dalam berbagai bentuk dan versi. Nah salah satu adaptasi dari dongeng tersebut sempat hadir ke layar lebar melalui Snow White and the Huntsman (2012). Lain dari yang lain, peranan sang pemburu atau huntsman, memperoleh porsi yang besar. Pada cerita aslinya, sang pemburu diutus oleh ibu tiri Putri Salju untuk membunuh Putri Salju, namun sang pemburu tak tega dan mengurungkan niatnya, ia pun melepaskan Putri Salju. Sudah sampai di sana saja peranan sang pemburu pada versi dongengnya. Nah pada Snow White and the Huntsman (2012), Eric (Chris Hemsworth), sang pemburu, ikut berperan dalam usaha Putri Salju (Kristen Stewart) merebut kembali tahta kerajaan dari Ravenna (Charlize Theron), si penyihir jahat. Di sana Putri Salju digambarkan sebagai wanita pemberani yang pada akhirnya ikut maju di garis terdepan bersama para pengikutnya. Terus terang film ini tidak ada gregetnya sama sekali, Kristen Stewart rasanya kurang pas memerankan Putri Salju. Ahhh, ini merupakan salah satu adaptasi Putri Salju terburuk yang pernah saya lihat. Yang saya ingat dari film tersebut hanyalah drama perselingkuhan antara Kristen Stewart dengan Rupert Sanders, sutradara Snow White and the Huntsman (2012) hehehehehe.

huntsman2

Pada tahun 2016, petualangan Eric sang pemburu berlajut pada The Huntsman: Winter’s War (2016). Film ini merupakan pekuel sekaligus sekuel dari Snow White and the Huntsman (2012). Di sana dikisahkan bagaimana Eric kecil diculik dan dilatih untuk menjadi pemburu yang handal oleh Ratu Freya (Emily Blunt), adik  dari Ravenna. Freya berubah menjadi penyihir jahat setelah kematian bayinya. Freya benci sekali dengan segala sesuatu yang berhubungan dengan cinta, ia menyalahkan cinta atas kematian bayinya yang malang. Maka tak heran bila Freya murka ketika Eric jatuh cinta dengan Sara (Jessica Chastain). Eric dan Sara akhirnya berhasil Freya pisahkan. Eric berhasil melarikan diri ke negeri di luar wilayah kekuasaan Freya.

huntsman8

huntsman6

Bertahun-tahun kemudian, setelah kejadian pada Snow White and the Huntsman (2012), Eric memperoleh tugas untuk merebut kembali cermin Ravenna yang hilang. Perburuan Eric ini membawa Eric kembali ke wilayah kekuasaan Ratu Freya. Masa lalu Eric kembali hadir karena Eric mau tak mau harus berhadapan dengan Freya dan teman-teman masa kecilnya. Tabir akan rahasia cermin Ravenna dan masa lalu Freya pun akan ikut terbuka pada The Huntsman: Winter’s War (2016).

huntsman3

huntsman4

huntsman7

huntsman9

huntsman12

huntsman11

huntsman10

Saya rasa The Huntsman: Winter’s War (2016) memiliki jalan cerita yang lebih menarik dibandingkan Snow White and the Huntsman (2012). Karakter-karakternya relatif lebih kuat dan meyakinkan. Penempatan sang pemburu sebagai karakter utama yang dominan dirasa lebih tepat dibandingkan ketika ia harus berbagi tempat dengan Putri Salju pada film terdahulu. Action, special effect dan kostumnya terbilang lumayan, not bad but not special.

Hanya saja The Huntsman: Winter’s War (2016)  seolah seperti cerita “tambalan” yang tidak terencana sebelumnya. Pada Snow White and the Huntsman (2012) dikisahkan bahwa istri Eric dibunuh oleh adik Ravenna, eh tiba-tiba pada The Huntsman: Winter’s War (2016)  dikisahkan bahwa Ravenna punya seorang adik lagi yang bernama Freya. Kemudian ternyata sebelum menikah, Eric ternyata memiliki kekasih lain. Semua ini seolah-olah baru dikarang setelah Snow White and the Huntsman (2012)  selesai dibuat.

Terlepas dari kekurangsukaan saya terhadap Snow White and the Huntsman (2012), menurut saya The Huntsman: Winter’s War (2016) merupakan sekuel merangkap prekuel yang relatif lebih berkualitas. Dengan demikian maka The Huntsman: Winter’s War (2016) layak untuk memperoleh nilai 3 dari skala maksimum 5 yang artinya “Lumayan”.

Sumber: http://www.huntsmanmovie.co.uk

Serial Game of Thrones

Game Thrones 10

Serial Game of Thrones sebenarnya sudah hadir sejak 2011 lalu, tapi saya sendiri baru mulai menontonnya pada awal 2016 ini. Awalnya saya memang agak malas menonton serial produksi HBO ini karena konon serial ini tidak memiliki tokoh utama dan selalu bersambung x__x. Namun setelah mendengar rekomendasi dari teman-teman sekantor saya, akhirnya saya tergoda untuk mulai menontonnya. Pada waktu itu saya menonton marathon mulai season pertama sampai season terbaru yang sudah keluar. Satu setengah bulan, dapat 5 season hohohoho.

Bercerita tentang apa sih film seri ini? Film seri Game of Thrones diadaptasi dari seri novel Song of Ice and Fire karangan George R. R. Martin. Sama seperti versi novelnya, Game of Thrones mengambil latar belakang perebutan kekuasaan sebuah wilayah fantasi yang disebut Westeros. Wilayah tersebut memiliki latar belakang kurang lebih seperti keadaan kerajaan-kerajaan Eropa tempo dulu.

Game Thrones 27

Game Thrones 32

Game Thrones 40

Game Thrones 38

Wilayah Westeros yang luas ini terpecah-pecah ke dalam 7 kerajaan besar. Kemudian, dengan dibantu oleh 3 ekor naga, Aegon I Targaryen berhasil menguasai semua wilayah Westeros kecuali kerajaan Dorne yang diperintah oleh keluarga Martell. Pada akhirnya keturunan Aegon I Targaryen berhasil menguasai Dorne tapi tidak melalui jalur kekerasan, melainkan melalui pernikahan. Lengkap sudah, keluarga Targaryen berhasil menguasai Westeros seutuhnya.

Raja-raja dari keluarga Targaryen memerintah dari singgasana iron throne yang terletak di daerah King’s Landing. Iron throne merupakan lambang kekuasaan Westeros, siapa yang duduk di sana, dialah raja Westeros, raja dari 7 kerajaan. Mereka duduk dengan nyaman di iron throne sampai sekumpulan pemberontak yang dipimpin oleh Robert Baratheon (Mark Addy) dan Eddard “Ned” Stark (Sean Bean), berhasil merebut iron throne dan menyingkirkan keluarga Targaryen.

Robert kemudian naik sebagai raja dan duduk di iron throne. Sedangkan Ned mewakili Robert untuk berkuasa di seluruh wilayah utara Westeros yang sangat luas namun terkenal keras dan sulit diatur. Persahabatan Robert dan Ned berhasil menjaga perdamaian di seluruh Westeros sehingga tidak terjadi perang besar untuk waktu yang cukup lama.

Selama Robert Baratheon memerintah, Westeros dikuasai oleh 7 keluarga yaitu keluarga Stark dipimpin oleh Ned memerintah Kerajaan Utara di Winterfell, keluarga Arryn dipimpin oleh Jon Arryn (John Standing) memerintah Kingdom of the Mountain and the Vale di Eyrie, keluarga Lannister dipimpin oleh Tywin Lannister (Charles Dance) memerintah Kingdom of the Rock di Casterly Rock, keluarga Tully dipimpin oleh Hoster Tully memerintah wilayah Riverlands (bekas wilayah Kingdom of the Isles and Rivers yang dulu ibukotanya di Harrenhal) di Riverun, keluarga Baratheon dipimpin Robert Bataheon sendiri (memerintah wilayah Kingdom of the Stormlands yang dikuasakan kepada Renly Baratheon (Gethin Anthony) di Storm’s End), keluarga Tyrell dipimpin Mace Tyrell (Roger Ashton-Griffiths) memerintah Kingdom of the Reach di Highgarden dan keluarga Martell dipimpin oleh Doran Martell (Alexander Siddig) memerintah Principality of Dorne di Sunspear. Di bawah ketujuh keluarga kerajaan di atas terdapat keluarga-keluarga bangasawan lain seperti Mormont, Bolton, Greyjoy dan lain-lain. Mereka membantu keluarga kerajaan dalam memerintah dan mengelola wilayah masing-masing. Namun pada perkembangannya terjadi beberapa perubahan sikap dan penghianatan antar keluarga-keluarga penguasa Westeros. Robert Baratheon sendiri dikelilingi oleh orang-orang yang siap sedia merebut iron throne apabila ada kesempatan.

Game Thrones 15

Game Thrones 39

Bagaimana dengan keluarga Targaryen? Salah satunya menyepi jauh ke utara dan sisanya terusir keluar dari Westeros. Dalam dunia Game of Thrones, sebenarnya tidak hanya bercerita mengenai Westeros saja, ada benua-benua lain lho. Di sebelah timur dari Westeros terdapat benua Essos, di sebelah selatan terdapat Sothoryos. Nah keturunan keluarga Targaryen sendiri pada awalnya terdampar di Essos. Perlahan tapi pasti, mereka mengumpulkan kekuatan untuk kembali merebut iron throne. Diam-diam, para simpatisan keluarga Targaryen pun mempersiapkan kembalinya Targaryen ke Westeros.

Game Thrones 30

Game Thrones 31

Game Thrones 33

Game Thrones 9

Game Thrones 23

Di Westeros sendiri, terjadi berbagai peristiwa yang berujung pada perebutan iron thrones. Perdamaian yang selama ini terjaga akan musnah karena ambisi beberapa individu untuk menjadi raja.

Game Thrones 13

Game Thrones 37

Game Thrones 29

Game Thrones 2

Game Thrones 17

Game Thrones 12

Game Thrones 3

Game Thrones 25

Game Thrones 26

Game Thrones 28

Game Thrones 21

Game Thrones 34

Game Thrones 35

Game Thrones 4

Game Thrones 16

Game Thrones 36

Game Thrones 1

Ancaman datang pula dari mahluk-mahluk mistik nun jauh di utara Kerajaan Utara. Terdapat kekuatan kuno dan jahat yang akan menginvansi Westeros ketika musim dingin tiba. Kalaupun seluruh keluarga kerajaan yang sedang berseteru bersatu, belum tentu umat manusia akan menang.

Game Thrones 18

Game Thrones 22

Game Thrones 6

Game Thrones 5

Game Thrones 8

Masyarakat Westeros terlanjur lama terlena akan perdamaian setelah dinasti Targaryen jatuh. Dengan menghilangnya keluarga Targaryen dari Westeros, hilang pulalah naga dan dunia sihir. Sebagai keluarga yang memiliki kemampuan untuk mengendalikan naga, Targaryen memang identik dengan naga, beberapa diantara mereka bahkan tidak dapat dibakar oleh api. Penduduk Westeros mulai lupa akan naga dan hal-hal mistik lainnya. Mereka mulai sibuk berkecimpung dengan hal-hal duniawi yang logis. Agak sulit bagi warga Westeros untuk percaya bahwa sihir, raksasa, monster dan lain-lain masih ada di dunia.

CS 61 18th October 2010

Game Thrones 19

Game Thrones 20

Saya lihat serial Game of Thrones mampu menyuguhkan konflik yang menarik untuk ditonton sehingga saya betah menonton serial ini walaupun setiap episodenya selalu bersambung. Tidak seperti serial-serial lain pada umumnya, episode terakhir dari setiap season-nya Game of Thrones tidaklah memberikan semacam penyelesaian atau separuh penyelesaian, konfliknya tidak semakin mereda, bahkan semakin meruncing dipenghujung season.

Konflik yang disuguhkan Game of Thrones sangat beragam dan beberapa diantaranya tergolong sadis, tabu dan 17 tahun ke atas. Pada serial ini kita dapat melihat perkelahian, pembunuhan, fitnah, perbudakan, penyiksaan, fanatisme agama, pelacuran, anak haram, pemerkosaan, pedophilia, BDSM, LGBT, inces dan lain-lain. Semua masalah-masalah dan kelainan-kelainan yang mencuat di dunia saat ini, dimasukkan ke dalam Game of Thrones sehingga konflik yang muncul nampak segar dan beda. Namun akibatnya, sejak season 1 episode 1, saya melihat banyak adegan dewasa dan sadis yang sebenarnya kalaupun tidak ditampilkan, tidak akan mengurangi intisari dari cerita, mungkin supaya terlihat asli? @__@.

Konflik-konflik di atas disajikan dengan menarik, penuh kejutan dan tidak terlalu membingungkan walaupun melibatkan banyak karakter dan tempat. Gambaran dari setiap karakter dan tempat pada Game of Thrones terbilang detail dan masuk akal. Mulai dari kostum, suku, budaya sampai agama di suatu kota atau tempat pun terlihat detail. Tidak hanya itu, latar belakang para penguasa Westeros digambarkan dengan detail, mereka memiliki keterkaitan satu sama lain entah dari pernikahan, persahabatan atau permusuhan. Terkadang hal-hal ini ditunjukkan dari dialog antar karakter sehingga saya sering menemukan kisah atau cerita akan latar belakang sesuatu pada dialog antar karakter.

Rasanya kekuatan utama dari Game of Thrones adalah pada dramanya, perkelahiannya pun tidak terlalu banyak, bahkan saya lihat serial ini tidak menunjukkan secara detail proses dari beberapa perang besar yang terjadi. Jadi terkadang hanya diloncat ke bagian pentingnya saja atau diloncat ke bagian akhirnya saja. Meskipun bertemakan perebutan kekuasaan sebuah wilayah, adegan action tidak terlalu dieksploitir oleh serial yang satu ini.

Soal karakter, saya tidak melihat satupun karakter yang termasuk hero atau anti-hero, semuanya memiliki sifat baik dan buruk. Jarang ada karakter yang mampu tampil dominan sejak season 1 hingga sekarang karena karakter-karakter datang-pergi silih berganti pada serial ini. Disinilah unsur kejutannya, kalau pada film seri lain, kita melihat si jagoan berkelahi, maka kita pasti akan yakin bahwa si jagoan tidak akan kalah, kalaupun kalah maka ia tidak akan mati. Nah kalau di Game of Thrones, tidak ada jagoannya. Siapa yang akan menang? Siapa yang berikutnya akan tewas?

Agar tidak terlalu bingung, gambar di bawah ini menunjukkan silsilah beberapa karakter yang ada pada Game of Thrones. Tentunya, gambar tersebut hanya valid untuk season 1 saja karena pada season-season berikutnya ada yang tewas dan muncul pula karakter-karakter baru yang memperkaya silsilah penguasa Westeros.

Game Thrones 7

Game of Thrones menunjukkan bahwa setiap manusia memiliki sifat baik dan buruk, kekuatan dan kelemahan dengan kadar yang masing-masing tidaklah sama. Tidak ada manusia yang sempurna. Hal-hal yang menyebabkan seorang karakter menjadi memiliki sifat atau kelebihan atau kelemahan tertentu pun kadang dikisahkan dengan detail, tidak melalui flashback, tapi melalui dialog yang tidak membosankan. Diantara sekian banyak karakter-karakter pada Game of Thrones, saya memiliki karakter yang paling saya benci dan karakter yang relatif paling saya sukai.

Mulai dari karakter yang paling saya benci adalah:
1. Joffrey Baratheon (Jack Gleeson)
Anak hasil perselingkuhan sekaligus hubungan sedarah antar Cersei Lanister (Lena Headey) dan Jaime Lannister (Nikolaj Coster-Waldau) ini, merupakan pewaris dari iron throne apabila Robert Baratheon tewas. Bukan status atau asalmuasal Si Joffrey yang membuat saya benci karakter ini, namun sifatnyalah yang membuat saya benci dengan karakter ini. Joffrey memiliki sifat sombong, arogan, sadis, narsis, pengecut, pembohong, cengeng, tidak tahu malu, tidak sopan, licik, kasar, tak punya empati, bodoh dan takabur. Rasanya, Joffrey adalah satu-sarunya karakter di Game of Thrones yang tidak memiliki sifat baik sama sekali, parah. Saya rasa adegan kematian Joffrey akan menjadi salah satu adegan paling memuaskan yang pernah saya lihat di TV hehehehe.

Game Thrones G5

Game Thrones G2

Game Thrones G1

Game Thrones G4

Game Thrones G3

Selanjutnya untuk karakter yang paling saya sukai yaitu:
1. Jon Snow (Kit Harington)
Anak dari hasil perselingkuhan antara Eddard Stark, raja Kerajaan Utara, dengan seorang wanita biasa ini tumbuh dibesarkan bersama anak-anak resmi Eddard Stark lainnya di Winterfell. Namun karena Jon tidak lahir dari rahim Catelyn Stark (Michelle Fairley), istri resmi Eddark, maka Jon tidak dapat menyandang nama Stark. Jon sadar bahwa ia hanyalah anak haram, ia berusaha melakukan pembuktian dengan mencapai sebuah prestasi yang dapat membanggakan keluarganya dan mungkin akan memperoleh semacam pengakuan pada akhirnya. Saya rasa Jon Snow merupakan tokoh favorit sebagian besar penonton Game of Thrones karena Jon memiliki sifat yang menyerupai seperti tokoh hero sebuah film yaitu baik hati, bertanggung jawab, pekerja keras, bijaksana dan terhormat. Sayangnya Jon hidup di dunia Westeros yang kejam dan penuh tipu daya sehingga kebaikan hati Jon terkadang membawa petaka bagi Jon, bahkan kematian. Sayang Jon tidak tampil dominan pada serial Game of Thrones, pada season-season awal ia nampak masih “mentah” baik dari kemampuan bertarung maupun memimpin. Perlahan Jon mampu memperoleh pamor seorang pemimpin dan kemampuan bertarung yang semakin baik. Akankah kisah Jon Snow menjadi kisah from hero to zero? Ahhhh tak ada yang tahu.

Game Thrones 14

Game Thrones J2

Game Thrones J1

2. Daenerys Targaryen (Emilia Clarke)
Putri dari Aegon Tatgaryen dan Ella Martell ini hidup tersingkir di Essos setelah dinasti Targaryen digulingkan oleh Robert Baratheon dan kawan-kawan. Daenerys berambisi untuk kembali ke Westeros dan merebut kembali iron throne. Pada dasarnya Daenerys memiliki sifat baik hati, suka menolong, ramah dan bertanggung jawab, namun ambisi dan beban mental dari kewajiban atas jabatan yang disandang kadang membuat Daenerys memutuskan sebuah keputusan yang salah dan kurang tepat. Kelebihan utama dari Daenarys dibandingkan Jon Snow adalah sejak season pertama ia memiliki sebuah kemampuan yang keren dan tidak akan saya sebutkan disini karena akan menjadi spoiler ;), Rasanya pada season-season awal, Daenerys nampak cukup dominan dan semakin kuat serta semakin banyak pula pengikutnya, entah apakah akhirnya ia dapat mengibarkan bendera Targaryen di King’s Landing atau tidak.

Game Thrones D4

Game Thrones D3

Game Thrones D2

Game Thrones 24

Game Thrones D1

Tidak ada satupun dari karakter-karakter di atas yang menjadi tokoh protagonis utama atau antagonis utama sebab semua karakter saling berkaitan antara satu dengan lainnya menghasilkan kejadian-kejadian yang berkaitan pula antara satu dan lainnya. Hal ini berhasil dikemas dengan baik sehingga jalan cerita Game of Thrones tidak nampak seperti benang kusut meskipun saya rasa Game of Thrones akan menjadi serial yang teruuuuus bersambung sampai rating-nya turun :,D. Bagaimanapun juga, saya tetap nyaman menonton serial ini sehingga saya ikhlas untuk memberikan Game of Thrones nilai 4 dari skala maksimum 5 yang artinya “Bagus”.

Sumber: www.hbo.com/game-of-thrones

Seventh Son (2014)

Seventh Son 1

Diambil dari novel The Spooks’s Apprentice karangan Joseph Delaney, Seventh Son (2014) hadir di bioskop-bioskop pada akhir tahun 2014 dan awal tahun 2015. Pada Seventh Son (2014), dikisahkan perseteruan antara manusia dengan mahluk-mahluk supranatural yang jahat di era kerajaan Eropa dahulu kala.

Di antara bangsa manusia yang hidup di masa tersebut, terdapat kesatria-kesatria yang mengabdikan hidupnya untuk memburu & memusnahkan mahluk-mahluk supranatural jahat yang mengganggu kehidupan manusia. Semua kesatria-kesatria tersebut merupakan anak ketujuh dari anak ketujuh. Menjadi anak ketujuh dari anak ketujuh merupakan syarat mutlak untuk bergabung. John Gregory (Jeff Bridges) adalah salah satu kesatria yang baru saja mengangkat Tom Ward (Ben Barnes) sebagai muridnya. Tom memang masih sangat muda namun Tom bukan anak ketujuh dari anak ketujuh biasa. Tom lain dari yang lain, ia memiliki kemampuan-kemampuan khusus yang tidak dimiliki Gregory. Dari mana ia memperoleh kekuatannya akan kita diketahui pada bagian akhir Seventh Son (2014) ;).

Seventh Son 8

Seventh Son 5

Seventh Son 13

Seventh Son 9

Kali ini Gregory & Tom memiliki misi untuk membasmi Malkin (Julianne Moore), penyihir jahat paling kuat yang dulu pernah Gregory tangkap. Sekarang Malkin berhasil meloloskan diri dan mengumpulkan kembali para pengikut setianya untuk membalaskan dendamnya kepada Gregory dan umat manusia.

Seventh Son 11

Seventh Son 12

Seventh Son 6

Seventh Son 7

Bagi Malkin, perseteruannya dengan Gregory bersifat sangat pribadi karena mereka berdua memiliki sejarah yang panjang. Malkin menghalalkan segala cara untuk membunuh Gregory. Untuk memudahkan usahanya, seorang mata-mata dikirim untuk memata-matai Gregory dan Tom. Mata-mata yang merupakan keponakan Malkin, Alice Deane (Alicia Vikander), berhasil merayu Tom. Tom jatuh cinta kepada Alice meskipun Tom mengetahui siapa Alice sebenarnya, cinta memang buta ;). Perjalanan Gregory & Tom menuju sarang Malkin semakin sulit dengan hadirnya Alice.

Seventh Son 4

Sebenarnya Seventh Son (2014) memiliki beberapa elemen kejutan, suatu hal tak terduga yang belakangan baru diketahui, tapi sayang eksekusinya kurang greget sehingga semuanya nampak datar-datar saja. Untunglah terdapat kelucuan-kelucuan dari Jeff Bridges yang terkadang mampu menghilangkan rasa bosan saya. Special effect yang ditampilkan pun lumayan bagus, begitu pula dengan adegan perkelahiannya. . . yaaaa lumayanlaaah.

Seventh Son 2

Seventh Son 14

Seventh Son 10

Dengan demikian, Seventh Son (2014) hanya dapat memperoleh nilai 3 dari skala maksimum 5 yang artinya “Lumayan”. Ini di luar ekspektasi saya, sebelum menonton Seventh Son (2014), saya pikir film ini akan memperoleh nilai 4 dari saya.

Sumber: www.seventhson-film.com/ww/