Hari Keempat Wisata Korea – Gunung Seorak & Naksansa

Setelah kemarin berjalan-jalan di dalam kota Seoul pada Hari Ketiga Wisata Korea – Ihwa, Ewha, Itaewon & Banpo, hari ini kami akan pergi agak jauh di timur laut dari Seoul. Kami bermaksud untuk berkelana ke Gunung Seorak. Untuk mencapai Gunung Seorak, sebenarnya kami bisa saja naik kereta sampai Stasiun Express Bus Terminal yang kemarin kami lewati. Dari sana, kami bisa naik bis nomor 7 atau 7-11 jurusan Sakcho dan turun di pemberhentian terakhir yaitu Halte Bus Mount Seorak. Mengingat kami membawa bayi yang belum genap berumur 2 tahun, agak riskan kalau kami nekad pulang pergi naik bis umum ke sana.

Kami akhirnya memutuskan untuk membeli paket land tour melalui aplikasi Klook yang pada saat itu sedang promo hehehehe. Konsekuensinya adalah kami harus datang tepat waktu dan tidak bisa sesuka hati berlama-lama atau cepat-cepat di dalam sebuah area. Semua sudah ada itenarinya sendiri yang sudah diatur oleh rekanan Klook di sana yaitu Ktourstory.

Kami sudah membeli paket ini beberapa hari sebelum kami berangkat ke Korea. Berdasarakan petunjuk pada aplikasi, kami diharuskan berkumpul di depan Exit 10 Stasiun Dongdaemun History & Culture Park pada pukul 08:10. Setelah sarapan dan bersiap-siap, kami tiba sekitar 20 menit sebelum 08:10 di Exit 10 Stasiun Dongdaemun History & Culture Park. Di sana, kami bertemu dengan orang-orang Indonesia yang membeli land tour melalui Klook juga. Wah ternyata banyak juga yang seperti kami yaaah :).

Tak lama waktu berselang, Ktourstory datang dengan sebuah bis dan mini SUV. Dari sekian banyak orang yang menunggu di Exit 10, ternyata semuanya ikut rombongan menuju Pulau Nami :’D. Semua naik bis kecuali kami dan seorang warga Amerika Serikat bernama Dan. Kami kemudian naik mini SUV dari Ktourstory dan memuai perjalanan kami menuju Taman Nasional Seorak :D.

Rute kami cukup sederhana tapi lumayan jauh. Kami akan berwisata di Gunung Seorak dan Kuil Naksansa yang membutuhkan kurang lebih 3 jam perjalanan dari Seoul. Kali ini kami dapat melihat pemandangan luar kota Seoul yang indah. Jalanan yang kami tempuh, beberapa kali melewati bagian tengah bukit. Jadi, ada beberapa bukit yang dilubangi untuk jalan raya sehingga dapat menghemat waktu tempuh.

Di tengah-tengah perjalanan, kami berhenti sejenak di rest area. Di sanalah saya melihat banyak sekali warga lokal yang menggunakan jaket anti angin. Hiking ternyata memang menjadi hobi bagi mayoritas masyarakat Korea. Banyak orang-orang tua yang gemar hiking terutama di musim semi. Mereka datang lengkap dengan atribut jaket anti angin, sepatu hiking dan tongkat hiking. Identitas kami sebagai turis asing terlihat jelas karena kami hanya menggunakan jaket dan sepatu alakadarnya :’D.

Semakin lama di Korea, semakin kami sadari bahwa kami jarang sekali melihat anak kecil di sana, lebih banyak orang tuanya. Selama kami berjalan-jalan di dalam kota Seoul, kami hampir tidak melihat 1 anak kecil pun. Pantas saja anak kami sering menjadi pusat perhatian. Dalam 1 hari, paling tidak ada 1 atau 2 warga lokal yang meminta ijin saya untuk memberikan sesuatu kepada anak kami. Baik di kereta atau di jalan, anak kami kadang mendapatkan coklat, permen, makanan ringan atau mainan kecil. Semua nampak tulus diberikan kepada anak kami.

Dari obrolan sepanjang perjalanan menuju Taman Nasional Seorak, saya mendengar bahwa banyak kaum muda Korea Selatan memilih untuk menunda kehamilan karena membesarkan anak di sana itu mahal. Dampak dari keadaan ini adalah menurun drastisnya angka kelahiran di sana. Ternyata, angka kelahiran dan pertumbuhan penduduk Korea Selatan, adalah salah satu yang paling rendah di dunia. Jumlah penduduk usia muda semakin menurun dan jumlah penduduk usia tua terus naik. Saya salut dengan penduduk tua di sana. Mereka senang sekali hiking dan naik sepeda. Terkadang saya melihat mereka membawa sepeda ke dalam Stasiun untuk bersepeda di luar kota. Tangga-tangga Stasiun kereta yang curam dan panjang saja, sering digunakan oleh kakek-kakek dan nenek-nenek. Dengan gaya hidup sehat dan gemar berolahraga, penduduk usia tua memiliki usia yang semakin panjang. Hal ini sangat mirip dengan yang saya temui di Jepang beberapa tahun yang lalu. Kurang lebih, Jepang juga sedang menghadapi keadaan yang mirip seperti ini.

Tak terasa kami sudah masuk ke dalam area Taman Sogongwon yang merupakan bagian dari Taman Nasional Seorak. Gunung Seorak atau Seoraksan merupakan bagian dari Pegunungan Taebaek yang terletak di dalam area Taman Nasional Seorak. Sampai sana, kami memiliki beberapa opsi rute hiking, yaitu Jalur Benteng Gwongeumseong, Jalur Biseondae Rock, Jalur Heundeulbawi Rock, Jalur Ulsanbawi Rock, dan Jalur Biryong Waterfall & Towangseong Falls Oservatory.

Karena kami membawa bayi, Jalur Benteng Gwongeumseong tentunya menjadi jalur yang pertama kami pilih. Jalur ini adalah jalur yang paling mudah karena ada pilihan untuk menggunakan bantuan kereta gantung pada sebagian besar perjalanannya. Sesuai namanya, jalur ini merupakan jalur menuju reruntuhan Benteng Gwongeumseong di salah satu puncak Gunung Seorak. Benteng Gwongeumseong (설악산 권금성) atau Istana Gunung Onggeumsan atau Istana Toto konon berdiri pada pemerintahan Raja ke-23 Kerajaan Goryeo untuk menghadang invasi bangsa Mongol.

Untuk menuju Benteng Gwongeumseong, kami memutuskan untuk menggunakan Kereta Gantung meskipun dikenai biaya tambahan. Yaaaah kapan lagi, jarang-jarang naik yang seperti ini heheheheh. Dari Taman Sogongwon, kami berjalan menuju Stasiun Kereta Gantung Seorak-dong. Dari sana, kami menaiki sebuah Kereta Gantung yang dapat menampung sampai 50 orang sekali jalan. Kereta buatan Doppelmayr Ropeways of Switzerland ini nyaman untuk melihat pemandangan sekitar. Dari Kereta Gantung tersebut, kami dapat melihat Taman Sogongwon, Kota Sokcho, Jeohangnyeong, Laut Jepang, Ulsanbawi Rock dan Gwongeumseong dari ketinggian. Sayang, kami datang di awal musim semi, sehingga dedaunan di sana masih berwarna hijau. Konon, pemandangan dari Kereta Gantung ini akan sangat indah di saat dedaunan sudah berubah warna pada musim semi.

Perjalanan selama kurang lebih 10 menit yang menyenangkan, tak terasa sudah berakhir. Kami turun di Stasiun Kereta Gantung Gwongeumseong. Dari Stasiun tersebut, kami berjalan meniti jalan menanjak selama sekitar 20 menit. Beberapa bagian dari rute ini sudah dilengkapi dengan jalan bebatuan, tangga bebatuan dan pengaman yang rapi. Tapi, semakin ke atas, semuanya semakin terjal dan jalanan yang rapi perlahan berubah menjadi bebatuan yang tidak beraturan. Karena medan yang kurang bersahabat dan kencangnya angin, istri dan anak saya berhenti pada titik di mana puncak dari Benteng Gwongeumseong dapat terlihat. Saya meneruskan perjalanan ke atas sendirian hingga akhirnya tiba di puncak. Pada perjalanan hiking ini, saya membawa tas punggung dan depan berisi baju anak, perbekalan dan lain-lain. sementara itu istri saya menggendong anak kami dengan gendongan bayi. Memang sebaiknya istri dan anak saya tidak ikut ke atas karena jalan bebatuannya terlalu curam.

Ada apa di sana? Pada dasarnya area ini adalah reruntuhan dari Benteng tersebut. Kami tidak melihat bangunan di sana. Hanya bebatuan yang berwarna coklat keputihan. Warna bebatuan seperti inilah yang menjadi asal mula nama Gunung Seorak yang berarti gunung salju. Dari kejauhan, bebatuan yang membentuk gunung ini, nampak sepertu salju abadi yang terus ada sepanjang tahun. Pemandangan di atas sana benar-benar berbeda dengan gunung di Indonesia. Semakin ke atas, pepohonan semakin berkurang. Pemandangan berganti dengan semakin banyaknya formasi batu di sana. Laut Jepang dan Kota Sokcho kembali dapat dilihat dari Benteng Gwongeumseong. Pemandangan alam yang layak untuk dikunjungi.

Selesai dari puncak Benteng Gwongeumseong, kami kembali turun menuju Stasiun Gwongeumseong, lalu naik Kereta Kabel menuju Taman Sogongwon. Nah, dari sini kami harus memilih apakah mau hiking lagi atau bersantai di taman saja. Karena stamina kami masih ok dan putri kami tidak rewel, maka kami memutuskan untuk memilih salah satu dari 4 jalur hiking lain yang belum kami lalui. Mendatangi keempatnya dalam 1 hari merupakan hal yang hampir mustahil bagi kami. Mana ya yang akan kami pilih?

Jalur Biseondae Rock dan Jalur Heundeulbawi Rock adalah jalur yang pendek dan ringan. Pada kedua jalur ini kita sama-sama melewati Kuil Sinheungsa, Patung Jwabul Buddha pada awal perjalanannya. Kemudian, dari area Kuil Sinheungsa, kita harus memilih apakah hendak meneruskan menuju Jalur Biseondae Rock atau Jalur Heundeulbawi Rock. Jarak keduanya kurang lebih mirip, tapi tingkat kesulitan Jalur Heundeulbawi Rock relatif diatas tingkat kesulitan Jalur Biseondae Rock.

Pada bagian akhir Jalur Biseondae Rock kita akan menemui Biseondae Rock, formasi bebatuan pipih dengan ukiran puisi di atasnya. Nama Biseondae sendiri berasal dari dongeng mengenai peri-peri yang setiap malam turun dari surga untuk bernyanyi di tempat tersebut. Mereka datang karena mengagumi keindahan deretan batu pipih di dekat perairan yang jernih. Para seniman kemudian mengukir berbagai puisi pada batu-batu tersebut. Konon, sampai sekarang, keaslian dan keindahan lokasi tersebut masih terjaga dengan baik. Kalau mau tantangan lebih, dari ujung Jalur Biseondae Rock, kita dapat meneruskan perjalanan ke atas untuk mengunjungi Gua Geumgagul yang seingat saya tidak ada di dalam peta penunjuk jalan di Taman Seugongwon.

Bagaimana dengan Jalur Heundeulbawi Rock? Pada akhir perjalanannya, kita tentukan akan menemukan Heundeulbawi Rock, sebuah batu besar yang bentuknya agak bulat tapi tidak dapat didorong sampai menggelinding ke tempat lain. Konon, para pengunjung hanya dapat menggoyangkan batu tersebut saja walaupun sudah beramai-ramai mendorongnya.

Kalau masih memiliki waktu dan stamina, kita dapat melanjutkan menuju Jalur Ulsanbawi Rock. Dari Heundeulbawi Rock, terdapat jalur menanjak ke atas menuju Ulsanbawi Rock. Jalur ini secara keseluruhan merupakan jalur yang paling menantang dan paling tinggi puncaknya. Ulsanbawi Rock terdiri dari dereran 6 batu granit yang sangat panjang. Dari sana, konon kita dapat melihat Reservoir Haksapyeong, Laut Jepang dan Puncak Dalma dari kejauhan.

Terakhir, Jalur Biryong Waterfall & Towangseong Falls Oservatory merupakan jalur yang memiliki 3 air terjun yaitu Biryong, Yukdam dan Towangseong. Biryong sendiri merupakan air terjun yang paling terkenal karena bentuknya yang mirip dengan naga terbang. Itulah kenapa air terjun tersebut diberinama Biryong yang artinya naga terbang.

Hhhhmmmm, mana yang akan kami pilih? Maunya sih kami coba semua hehehehe. Karena kali ini kami ikut rombongan tour, maka mau tak mau kami harus disiplin mengikuti jadwal yang ada. Karena jarak dan waktu tempuh yang panjang, Jalur Ulsanbawi sudah pasti tidak kami pilih. Jalur Biseondae Rock dan Jalur Heundeulbawi Rock memang cukup menggoda karena melewati Kuil Sinheungsa dan Patung Jwabul Buddha, selain formasi bebatuan pada masing-masing puncaknya. Tapi karena toh setelah dari Taman Nasional Gunung Seorak, kami hendak mengunjungi Kuil Nakansa, kedua jalur ini tidak kami pilih. Cukup 1 kuil saja dalam sehari, tidak perlu 2. Air terjun pada Jalur Biryong Waterfall & Towangseong Falls Oservatory nampaknya lebih menggoda. Air terjun bukan buatan manusia, lebih alami dan kami sudah lama tidak melihat air terjun ;).

Kami memulai perjalanan sejauh 2 km dari Taman Sogongwon sampai Air Terjun Yukdam dengan jalur yang tidak terlalu sulit. Di awal-awal perjalanan, kami melalui daerah yang masih hijau dan jalan setapak yang landai. Semakin lama, terdapat sungai-sungai dari yang kering sampai yang penuh. Jalanan pun semakin curam tapi masih terdapat tangga pengaman di sana. Jalanan yang curam tersebut, dibentuk oleh bebatuan yang sudah disusun sehingga mirip dengan tangga sehingga tidak terlalu berbahaya. Semakin mendekati Yukdam, tangga pengaman kadang mulai hilang dan susunan bebatuan yang harus kami lalui semakin curam. Tapi memandangan semakin indah karena mulai terdapat sungai yang sangat jernih dengan latar belakang pegunungan yang asri. Kami beberapa kali berhenti untuk beristirahat meminum air yang kami bawa. Air Terjun Yukdam sendiri ternyata hanya air terjun kecil yang tidak terlalu istimewa.

Perjalanan sekitar 0,4 km berikutnya, dari Air Terjun Yukdam sampai Air Terjun Biryong, cukup menantang. Kami melawati banyak jembatan yang pajang dan kokoh. Di luar area jembatan, tangga pengaman sudah semakin sering tak ada dan jalanan curam yang kami lalui tidak dalam bentuk bebatuan yang seperti tangga lagi. Tapi hal tersebut sepadan karena Air Terjun Biryong memang nampak lebih panjang dan berkelok. Kami dapat menyaksikan separuh dari air terjun tersebut dari sebuah jembatan. Kemudian separuh sisanya dari bagian paling bawah dari deretan jembatan yang kami lalui. Air terjun ini memang tidak terlalu lebar, tapi agak panjang dan landai bentuknya.

Kami kemudian beristirahat dan menyantap bekal kami di bagian bawah Air Terjun Biryong. Anak dan istri saya memilih untuk tidak melanjutkan sampai ke Air Terjun Towangseong karena jalur yang nampak lebih ajaib. Saya melanjutkan perjalanan ini sendirian dan ternyata ini lebih melelahkan dari perjalanan sebelumnya karena jalur sejauh 0,4 km ini berisikan tangga semua. Jalur menuju air tersebut berupa tangga dari bebatuan yang tidak terlalu curam, lengkap dengan pengaman untuk berpegangan. Tapi jalur ini hampir tak ada landainya, semuamua tanggaaaaaaaa saja, gile benerrr ×_÷. Jalur yang saya lalui ini bukanlah jalur yang langsung menuju air terjunnya, melainkan menuju titik terbaik untuk melihat Air Terjun Towangseong secara keseluruhan dari atas sampai bawah. Air terjun ini adalah air terjun terpanjang di Korea Selatan loh. Semakin ke atas, pemandangan memang semakin indah dan unik. Sayang saya kehabisan waktu sehingga saya harus balik badan sebelum sampai ke puncak :(. Yaaaah inilah resiko ikut paket tour, ada batasan waktu.

Kami tergopoh-gopoh berjalan kembali menuju Taman Sogongwon. Beruntung kami datang pada hari kerja sehingga Taman Nasional Gunung Seorak tidak terlalu ramai. Andaikan kami datang di saat akhir pekan, jalan cepat atau berlari di jalanan yang kami lalui, hampir mustahil. Warga Korea nampaknya sudah biasa melakukan hiking sebagai arena rekreasi yang sehat dan menyenangkan. Saya pribadi tidak heran karena Gunung Seorak memang sangat rapi, bersih dan teratur. Hampir tidak ada sampah di sana. Saya kagum dengan bagaimana mereka dapat menjaga alam yang mereka miliki dengan sangat baik. Sebuah hal yang seharusnya dapat Indonesia contoh.

Sayangnya, kami sendiri memberikan nama yang kurang baik bagi Indonesia karena kami tiba di Taman Sogongwon sekitar 30 menit lebih lambat dibandingkan waktu yang sudah ditentukan. Turis Amerika sudah datang tepat waktu dan menunggu kami di sana, maaap ya mister hehehehe :’D. Andaika ingin puas di Gunung Seorak, kita memang sebaiknya mengambil paket tour di Klook yang tujuannya hanya Gunung Seorak saja, buka Gunung Seorak plus Kuil Naksansa.

Apa itu Kuil Naksansa? Kuil Naksansa (낙산사) merupakan kuil Buddha yang terletak di antara Kota Sokcho dan Wilayah Yangyang. Sebenarnya, kuil ini sudah berdiri sejak masa pemerintahan Raja Munmu dari Kerajaan Silla, sekitar 1300 tahun yang lalu. Pada perjalannya, sebagian kuil ini sudah sempat terbakar pada masa invasi bangsa Mongol, perang Korea dan kebakaran hutan. Kuil ini terus diperbaiki dan dibangun ulang karena konon di tempat inilah Avalokitesvara Bodhisattva dahulu sempat hidup, sesuatu hal yang penting bagi umat Buddha Korea.

Kini, Kuil tersebut nampak bersih dan luas walaupun sudah beberapa kali terbakar. Dari sana, kami dapat melihat Laut Jepang dari jarak dekat, di sela-sela bebatuan karang dengan latar belakang paviliun-paviliun dari Kuil Naksansa, sebuah pemandangan yang indah.

Tak jauh dari salah satu bagian kuil yang dekat dengan Laut Jepang, terdapat patung granit raksasa dari Haesugwaneumsang setinggi 15 meter. Patung ini berdiri tegak memandang ke arah Laut Jepang. Patung ini merupakan salah satu patung tertinggi untuk jenisnya. Pemandangan dari patung tersebut nampak indah. Anak kami sempat jajan es krim di area tersebut. Kamipun istirahat sejenak melepas lelah di sana.

Sebelum pulang, kami memutari seluruh kompleks kuil. Satu lagi bangunan yang unik dan penting di sana adalah Naksansa Chilcheung Seoktap, bangunan pagoda tingkat 7 yang didirikan pada masa pemerintahan Raja Sejo dari dinasti Joseon. Sekilas, pagida tersebut nampak sederhana dan tidak terlalu besar, namun ternyata bangunan tersebut dianggap penting bagi umat Buddha Korea karena mereka percaya bahwa di dalamnya terdapat rosario Buddha dan manik-manik ajaib.

Kami pulang menjelang sore dan diantarkan kembali sampai Exit 10 Stasiun Dongdaemun History & Culture Park oleh mobil SUV Ktourstory. Pada perjalanan pulang inilah untuk pertama kalinya kami merasakan apa yang orang Korea sebut “macet”. Jalanannya memang agak tersendat, tapi ini tidak ada apa-apanya dibandingkan macetnya Jakarta pada jam pulang kantor :’D.

Apakah dari Stasiun kami langsung pulang ke penginapan? Oh tentu tidak :D. Kami mengelilingi apM Place, hello apM, Migliore, Doota dan pertokoan sekitarnya. Daerah tersebut memang seperti Tanah Abangnya Seoul. Banyak warga lokal yang membeli baju dan kain dalam jumlah banyaaaaak sekali. Hilir mudik membawa troli bukanlah hal yang aneh di sana.

Setelah belanja, kami sempat singgah di kedai kaki lima yang menjual sushi. Di sana serba instant dan tidak ada tempat duduk. Tapi sushinya enak dan harganya bersahabat ;). Setelah itu, barulah kami pulang ke apartemen untuk kembali berpetualang dikeesokan hari pada Hari Kelima Wisata Korea – One Mount Snow Park, The War Memorial of Korea & Myeong-dong.

Baca juga:
Persiapan Wisata Korea 2017
Ringkasan Objek Wisata Korea Selatan
Hari Pertama Wisata Korea – Incheon, Namsan Tower & K Star Road
Hari Kedua Wisata Korea – Naminara Republic, Petite France & The Garden of Morning Calm
Hari Ketiga Wisata Korea – Ihwa, Ewha, Itaewon & Banpo
Hari Kelima Wisata Korea – One Mount Snow Park, The War Memorial of Korea & Myeong-dong
Hari Keenam Wisata Korea – Gyeongbokgung, Bukchon & Changdeokgung
Hari Ketujuh Wisata Korea – Gwangjang & Cheonggyecheon
Hari Kedelapan & Kesembilan Wisata Korea – Everland & Incheon

Iklan

Persiapan Wisata Korea 2017

Maksud hati hendak berangkat tahun 2018, apadaya dapatnya tahun 2017 :D. Awal 2017 lalu saya, istri dan anak kami baru saja pulang dari Thailand pada …. Kemudian kami merencanakan untuk pergi lagi tahun depannya. Tapi karena sesuatu hal, akhirkan kami kembali berpetualang ke negeri orang pada akhir 2017, berdekatan dengan ulang tahun kedua anak kami.

Waktu itu kami memutuskan untuk pergi ke Korea Selatan. Bukan karena kami maniak K-Pop yaaaa. Tapi karena kami memang belum pernah ke sana dan pasti ada banyak hal unik di sana ….. daaaan tiket promonya adanya yang tujuannya ke sana hehehehehe. Biaya transportasi bisa jadi menjadi salah satu hal yang sangat dipertimbangkan ketika kami akan berangkat ke suatu negara. Tiket pesawat selalu menjadi sesuatu yang pertama kali kami beli. Kemudian barulah disusul dengan visa, passport penginapan dan lain-lain. Berikut hal-hal yang kami persiapkan ketika akan berwisata ke Korea Selatan.

  1. Tiket Pesawat

Awalnya kami datang ke sebuah Travel Fair yang konon banyak tiket murahnya. Calon tujuan kami antara lain adalah Hongkong & Korea Selatan. Kalau dihitung-hitung, dapat dikatakan bahwa Hongkong adalah opsi yang relatif lebih ekonomis. Saya sudah mereka-reka bahwa kalau memang jadi memilih tiket pesawat Hongkong, maka Macau akan diikutsertakan. Macau itu relatif dekat dari Hongkong dan rasanya kurang seru kalau hanya ke Hongkong saja, apalagi saya sendiri sudah pernah ke Hongkong sebelumnya.

Ketika kami melakukan komparasi tiket di Travel Fair dengan tiket yang dijual on-line, kami menemukan bahwa Asiana Airlines (아시아나항공) sedang memberikan promo. Yaitsss, kami langsung berniat membeli tiket promo Asiana menuju Seoul dengan mempertimbangkan ramalan cuaca dan daftar hari raya di Korea Selatan sana, berdasarkan pengalaman kami pada Persiapan Wisata Singapura 2016 dan Persiapan Wisata Thailand 2017. Datang di musim hujan dan hari raya, terkadang memberikan rintangan tambahan lho.

Bisa dibilang, ini adalah pilihan yang paling sreg bagi kami. Kami berangkat dan pulang tepat sebelum anak kami berumur 2 tahun, hitungan tiketnya masih gratis heheheh. Perjalanan kali ini tentunya akan lebih jauh ketimbang perjalanan menuju Singapura atau Bangkok tempo lalu. Mau bagaimana juga, membawa bayi ke negeri orang memang agak menantang pastinya. Karena Korea Selatan adalah negara 4 musim, maka kami harus memperhitungkan agar tidak ke sana di saat musim dingin. Dulu, saya pernah ke Jepang di saat masih ada salju dan kondisinya sangat tidak bersahabat untuk membawa bayi keluar luar rumah -__-. Wah pertimbangan tanggal kedatangannya bertambah rumit yaaa.

Akhirnya kami membeli tiket promo Asiana sedemikian rupa sehingga kami tidak datang di musim gugur, curah hujan hampir tak ada dan tidak ada hari raya apa-apa. Taaaapi, yaaa taaapii, kami hanya memiliki waktu untuk mempersiapkan segalanya dalam waktu 1,5 bulan O_O.

  1. Passport dan Visa

Passport bukanlah masalah bagi kami. Passport yang dulu saya urus pada Perpanjang Passport di Kanim Bekasi, masih berlaku sampai lebih dari 8 bulan. Sayang oh sayang, Korea Selatan bukan negara bebas Visa bagi passport Indonesia. Saya pun hanya memiliki 1,5 bulan untuk mengurus ini semua. Pengurusan Visa Korea Selatan sebenarnya tidak sesulit pengurusan Visa Australia, tapi waktu yang hanya 1,5 bulan ini benar-benar singkat. Maka, kami menggunakan jasa Dwidaya Tour untuk mengurus permohonan Visa kami ke Konsulat Korea Selatan.

Berikut persyaratan yang harus kami lengkapi:

  1. Passport dengan masa berlaku minimal 8 bulan.
  2. Fotocopy bagian passport yang pernah ada Visa dan stempel imigrasinya, kalau ada.
  3. Pas Foto warna 4 x 6 sebanyak 2 lembar dengan latar belakang warna putih.
  4. Bukti keuangan dalam bentuk rekening koran atau print tabungan di bank yang sudah dilegalisir oleh bank. Ini bukan cetakan atau fotocopy buku tabungan lhoo. Sebaiknya datang langsung ke bank dan minta buatkan. Tidak ada ketentuan pasti harus ada dana berapa di sana, tapi setahu saya dana yang ada harus cukup untuk hidup di Korea Selatan dan pulang ke Indonesia. Kemudian, mereka juga melihat cashflow-nya. Jangan ada membom 1 rekening dengan dana yang banyak agar ketika memohon Visa, dana terlihat banyak. Saya sendiri memberikan print tabungan dari rekening tempat saya biasa menerima gaji dan rekening tempat saya biasa belanja, plus fotocopy deposito.
  5. Surat Referensi Bank Asli. Ini saya peroleh juga dari bank, relatif mudah kok, hanya ke Costumer Service saja langsung dibuatkan.
  6. Karena status saya karyawan, maka diperlukan Surat Sponsor atau Surat Keterangan Kerja dari Perusahan dalam bahasa Inggris lengkap dengan Kop Surat Perusahaan. Isinya mencantumkan jabatan, masa kerja, alamat perusahaan dan no telefon perusahaan. Biasanya ada kata-kata yang menjamin bahwa karyawan akan pulang ke Indonesia. Umumnya, HRD perusahaan sudah punya template-nya kok, mudah ini ;).
  7. Karena saya bukan pengusaha, maka saya tidak perlu melampirkan Fotocopy S.I.U.P.
  8. Fotocopy Kartu Keluarga & KTP.
  9. Fotocopy Akte Nikah bagi yang sudah menikah. Bagi yang belum, jangan “baper” :’D.
  10. Fotocopy Kartu Pelajar, serta Surat Keterangan Pelajar bagi yang masih sekolah atau kuliah.
  11. Fotocopy Akte Lahir Anak bagi yang membawa bayi seperti saya.
  12. Untuk anak yang bepergian sendiri harus ada surat ijin dari orang tua. Untuk istri yang bepergian sendiri harus ada surat ijin dari suami.
  13. Fotocopy Surat Ganti Nama kalau pernah ganti nama.
  14. Print out tiket pesawat.
  15. Print out booking penginapan.
  16. Bukti potong pajak SPT PPH 21 atau Slip Gaji. Yang ini saya lengkapi juga walaupun tidak wajib dan hanya diperlukan bila pada passport kita, belum ada riwayat perjalanan atau data tabungan kita kurang meyakinkan.

Persyaratannya memang kadang terkesan agak mengambang. Tapi pada dasarnya permohonan Visa Korea Selatan ini relatif mudah kok. Mereka sedang menggalakan sektor periwisata mereka. Visa kami sendiri, terbit setelah seminggu menunggu. Horee, jadi juga deh ke Seoul :D.

  1. Booking Penginapan

Pada perjalanan kali ini, kami akan mengambil waktu yang sedikit lebih panjang dibandingkan perjalanan kami sebelumnya, cukup 8 hari saja hehehehehe. Kami pun bermaksud untuk mencuci dan memasak bekal kami sendiri di sana. Dengan membawa bekal, kami tidak akan khawatir dalam mencari makanan halal di Korea. Dengan mencuci sendiri, maka kami tidak perlu membawa terlalu banyak pakaian atau membayar uang laundry di sana. Olehkarena itulah maka kami mencari penginapan lengkap dengan air panas, setrika, mesin cuci dan kompor, serta dekat dengan Stasiun. TV dan kolam renang tidak kami cari sebab kami tidak jauh-jauh datang ke Seoul untuk wisata hotel ;).

Tunggu sebentar, kenapa kok dekat masjid atau lokasi restoran halal tidak masuk ke dalam bahan pertimbangan? Pada prakteknya, kami akan lebih sering berkeliling di luar penginapan. Menginap di dekat masjid tidak telalu menambah nilai plus. Berdasarkan pengalaman yang sudah-sudah, makanan halal di negeri orang, tetap akan lebih mahal dibandingkan kalau kita masak atau bawa sendiri. Itulah alasan kenapa kok kami tidak mencari penginapan di daerah Ittaewon yang merupakan daerah komunitas muslim terbesar di Seoul.

Agak berbeda dengan perjalanan kami sebelumnya, akhirnya kami memilih untuk menyewa Apartemen studio di tengah kota melalui Airbnb. Kami memilih sebuah unit Apartemen di Time Castle, gedung di seberang Dongdaemun Design Plaza, tak jauh dari Halte Bus Limo Bandara dan Stasiun Dongdaemun History & Culture Park. Melalui chatting dengan si pemilik unit Apartemen, kami memperoleh cara mudah untuk mencapai Apartemen dari Bandara. Kami pun memperoleh informasi tempat penitipan koper karena ada selisih antara waktu kedatangan dengan check-in Apartemen. Bonussss, kami memperoleh Unlimited Internet Egg Wi-Fi dari si pemilik. Pemilihan kami terhadap unit Apartemen ini ditentukan pula oleh faktor keramahan dan helpfull tidaknya si tuan rumah pemilik unit. Mau bagaimana juga, kita pasti memerlukan petunjuk dan tips ketika sedang menuju penginapan atau menggunakan aneka peralatan asing yang ada di dalam penginapan. Sebelum booking, kita bisa chatting dulu dengan pemilik unit di Airbnb, di sinilah kami melakukan seleksi. Lucunya, baik sebelum sampai di Korea maupun selama kami di Korea, kami tidak pernah bertemu langsung dengan si tuan rumah, semua via on-line :D. Tentunya ini akan menjadi petualangan baru yang sangat berbeda dibandingkan petualangan kami sebelumnya.

  1. Perbekalan

Mencari makanan halal di Seoul nampaknya akan sesulit mencari makanan halal di Bangkok. Maka kali ini kami membawa perbekalan berupa beras dan makanan siap goreng untuk dimasak di Apartemen. Ada rendang, ayam goreng, serundeng dan tempe. Tak lupa kami membawa pula rice cooker super mungil untuk menanak nasi ;).

  1. SIM Card

Karena kami memperoleh bonus Egg Wi-Fi dari tempat kami menginap, maka kami tidak membeli SIM Card di Seoul sana. Mayoritas pemilik Flat atau Apartemen yang menyewakan unit mereka di Airbnb, memberikan bonus berupa Egg Wi-Fi yang dapat dibawa kemana-mana dan berfungsi sebagai hotspot portable. Internetnya memang unlimited, tapi kecepatannya hanya 3G. Yaaaah lumayanlah untuk browsing dan membuka peta hohohoho.

  1. Peta

Dengan bantuan Egg Wi-Fi, kami tentunya dapat menggunakan peta on-line dengan lebih mudah dan akurat. Nama gedung pada peta on-line Seoul memang banyak menggunakan huruf hangeul yang terkadang sulit kami pahami. Tapi untunglah untuk objek wisata dan Stasiun ada huruf latih dan bahasa Inggrisnya. Tak lupa kami pun meyimpan peta off-line dari jaringan kereta di Seoul sebagai contekan, ini wajib hukumnya supaya tidak tersesat di dalam Stasiun yang luas.

  1. Transportasi

Seoul memiliki pilihan transportasi berupa bus, taksi dan kereta yang sebenarnya sama-sama nyaman. Tapi kalau dihitung, kereta merupakan pilihan yang ekonomis dan cepat. Terlebih lagi kebanyakan objek wisata di Seoul memiliki pintu masuk yang berdekatan dengan Stasiun. Maka, kereta menjadi pilihan transportasi kami selama di Seoul. Kalau sudah terdesak, kami mungkin akan memilih taksi.

Sistem perkeretaan Seoul nampak rapih, bersih, tepat waktu dan semua Stasiunnya nampak sudah terintegrasi. Kita tidak perlu keluar dari gedung untuk pindah jalur kereta. Tapi tangga menuju Stasiun di sana sangat curam dan banyak Stasiun tidak menyediakan lift O_O. Saya sendiri harus beberapa kali menggotong stroller portable yang kami bawa ketika naik turun tangga. Beruntung Stasiun-Stasiun besar yang merupakan persimpanga jalur atau dekat dengan objek wisata populer, memiliko lift di sebuah pojok. Semua dapat dilihat dari peta Stasiun yang komunikatif, mudah sekali dipahami.

Di sana nanti, kami akan memiliki pilihan untuk membeli tiket transportasi secara prabayar atau single trip. Kami memilih untuk membeli kartu prabayar T-Money langsung di Seoul, karena ada promosi dan kartu ini dapat dipergunakan untuk membayar kereta, bus dan taksi. Kartu ini dapat dibeli di loket tiket kereta Stasiun, cabang 7-Eleven atau loket-loket lainnya yang memiliki logo T-Money. Setelah membeli kartunya, kita dapat mengisi kartu di Card Recharge Vending Machine. Proses pengisian menggunakan instruksi berbahasa Inggris yang sangat mudah dipahami loh, tidak ada masalah di sana. Sebenarnya ada kopetitor lain seperti kartu Bee, tapi ketika kami di sana, hanya T-Money yang membeli potongan harga 100 Won per perjalanan, lumayanlaaah :).

  1. Stroller & Gendongan Bayi

Gendongan bayi dan stroller portable yang ringan, wajib dibawa bila hendak membawa bayi ke Korea Selatan. Keduanya merupakan barang yang terus kami bawa kemana-mana. Pastikan gendongan bayi yang dibawa adalah gendongan yang nyaman digunakan, penampilan boleh sama, tapi kualitasnya beda. Untuk stroller, pastikan untuk membawa stroller yang ringan dam dapat dilipat menjadi kecil. Saya pribadi kemarin menggunakan Ergobaby dan Chocolate Pocket Recline.

  1. Sepatu

Sepatu? Yaaaa, saya tidak salah tulis. Perjalanan ke Bangkok beberapa bulan yang lalu pada …. menyebabkan kaki saya terkena plantar fasciitis. Karena terlalu banyak jalan dan membawa beban berat secara tiba-tiba dalam jangka waktu tertentu, daerah tumit saya menjadi kurang enak ketika digunakan berjalan. Permasalahan ini dapat dicegah andaikata saya menggunakan sepatu khusus untuk berjalan dengan sol yang agak tebal. Kali ini, saya membawa 2 sepatu yang saya rasa nyaman hohohoho.

  1. Itenari

Pada kunjungan wisata kali ini, kami berniat untuk mengunjungi berbagai objek wisata di Seoul, Seorak dan Nami. Kami tentunya berniat untuk mengunjungi pusat perbelanjaan yang khas dan memiliki sesuatu yang berbeda. Acara-acara seperti les membuat kimchi dan mengunjungi desa pengrajin akan kami lewatkan. Dengan mengatur semuanya sendiri, kami dapat memilih objek wisata yang ingin kami kunjungi sendiri dengan durasi waktu sesuka hati. Dengan membawa anak di bawah 2 tahun, terkadang ada waktu dimana kami tidak dapat berangkat pagi, hal ini akan menimbulkan masalah tersendiri kalau ikut travel. Itenari mereka pukul 8 sudah berangkat, kalau kami sampai tidak ikut ya rugi juga, apalagi anak di bawah 2 tahun, sering dihitung bayar setengah harga oleh travel. Padahal pada kenyataannya, pesawat dan beberapa objek wisata menggratiskan tiket masuk untuk anak di bawah 2 tahun. Perjalanan 8 hari di Korea ini, akan lebih longgar dan jauh lebih hemat dibandingkan kalau ikut travel, tapi yaa jelas lebih rumit dan repot. Berikut itenari atau rencana perjalanan yang kami susun sejak masih di Indonesia:

Hari Jam Kegiatan
Jumat, 15 Sep 2017 08:00 – 10:00 Tiba di Bandara Incheon, mengurus imigrasi dan menguus penginapan di Dongdaemun
11:30 – 12:00 Perjalanan ke Namsan Tower
12:00 – 14:30 Wisata di Namsan Tower
14:30 – 15:10 Perjalanan ke  K Star Road
15:10 – 16:10 Wisata di K Star Road
16:10 – 16:40 Perjalanan pulang ke Dongdaemun
16:40 – Lelah Wisata di Dongdaemun Design Plaza (DDP) & Doota Mall
Sabtu, 16 Sep 2017 07:30 – 09:30 Perjalanan ke Gapyeong
10:00 – 10:10 Perjalanan ke Nami Island
10:10 – 13:00 Wisata di Pulau Nami
13:00 – 13:10 Perjalanan ke Petite France
13:10 – 14:55 Wisata di Petite France
14:55 – 15:05 Perjalanan ke Morning Calm Garden
15:05 – 16:20 Wisata di Morning Calm Garden
16:30 – 17:00 Perjalanan pulang ke Gapyeong
17:00 – 19:00 Perjalanan pulang ke Seoul
Minggu, 17 Sep 2017 09:00 – 09:45 Perjalanan ke Ihwa Mural Village
09:45 – 11:30 Wisata di Ihwa Mural Village
11:30 – 13:15 Perjalanan ke Ewha Woman University
13:15 – 15:00 Wisata di Ewha Woman University
15:00 – 15:45 Perjalanan ke Itaewon
15:45 – 17:00 Wisata di Itaewon
17:00 – 17:45 Perjalanan ke Banpo Bridge
17:45 – Lelah Wisata di Banpo Bridge
Senin, 18 Sep 2017 08:00 – 17:00 Pergi ke Dongdaemun History Culture Park Station Exit 10 untk ikut land tour Klook ke Gunung Seorak & Kuil Naksansa
19:00 – Lelah Diantarkan ke Dongdaemun History Culture Park Station Exit 10 oleh pihak Klook untuk acara bebas
Selasa, 19 Sep 2017 09:00 – 10:00 Perjalanan ke Onemount Snow Park
10:00 – 12:00 Wisata di Onemount Snow Park
12:00 – 13:10 Perjalanan ke The War Memorial of Korea
13:10 – 14:00 Wisata di The War Memorial of Korea
13:00 – Lelah Bebas
Rabu, 20 Sep 2017 07:00 – 07:20 Perjalanan ke Bukcheon Hanok Village
07:20 – 08:30 Wisata di Bukcheon Hanok Village
08:30 – 09:00 Perjalanan ke Gwanghamun Square
09:00 – 10:00 Wisata di Gwanghamun Square
10:00 – 10:15 Perjalanan ke Gyeongbokgung Palace
10:15 – 11:30 Wisata di Gyeongbokgung Palace
11:30 –12:30 Perjalanan ke Cheongdokgung Palace
12:30 – 13:45 Wisata di Cheongdokgung Palace
13:45 – Lelah Bebas
Kamis, 21 Sep 2017 09:00 – 09:30 Perjalanan ke Gwanjang Market
09:30 – 12:00 Wisata di Gwanjang Market
12:00 – 12:10 Perjalanan ke Insadong
12:10 – 14:00 Wisata di Insadong
14:00 – 14:10 Perjalanan ke Cheonggyecheon Steream
14:10 – 16:00 Wisata di Chenggyecheon Stream
16:00 – 16:30 Perjalanan ke Yeouido Hangang Park
16:30 – 18:00 Wisata di Yeouido Hangang Park
18:00 – Lelah Bebas
Jumat, 22 Sep 2017 08:00 – 10:30 Perjalanan ke Everland
10:30 – Puas Wisata di Everland
Sabtu, 23 Sep 2017 07:00 – 08:15 Perjalanan ke Bandara Incheon
08:15 – Selesai Pulang ke Jakarta
  1. Contekan & Coretan

Menemani itenari yang sudah kami susun, kami pun menbawa coretan dan contekan yang berisi informasi singkat dari beberapa objek wisata yang ada di sana sebagaimana saya tulis pada Ringkasan Objek Wisata Korea Selatan. Beberapa objek yang tidak masuk ke dalam itenari pun kami masukkan sebagai objek wisatan cadangan.

  1. Tiket Atraksi

Kami membeli secara tiket masuk Onemount Snow Park dan Everland on-line. Harganya memang lebih murah, tapi tanggal kedatangan otomatis sudah ditentukan dan tidak dapat diubah. Untuk mempermudah perjalanan, kami pun membeli land tour via Klook ketika mengunjungi wilayah Gunung Seorak. Tiket dan transportasi selama 1 hari di sana, akan kami peroleh dari rekanan Klook di Seoul.

Untuk objek atau atraksi lainnya, kami akan membeli tukit masuknya langsung di tempat saja. Kalau semua dibeli lewat on-line dan tanggal kedatangannya kurang fleksibel, kemungkinan akan menimbulkan kesulitan ketika ada sesuatu hal yang membuat rencana perjalanan kami berubah. Terkadang, perjalanan kami agak bergeser dan sedikit tidak sesuai dengan itenari yang sudah kami susun. Kamu masih membutuhkan objek-objek yang waktu kedatangannya dapat digeser-geser ;).

Semua sudah siap, maka kami pun memulai petualang kami pada Hari Pertama Wisata Korea – Incheon, Namsan Tower & K Star Road.

Baca juga:
Ringkasan Objek Wisata Korea Selatan
Hari Pertama Wisata Korea – Incheon, Namsan Tower & K Star Road
Hari Kedua Wisata Korea – Naminara Republic, Petite France & The Garden of Morning Calm
Hari Ketiga Wisata Korea – Ihwa, Ewha, Itaewon & Banpo
Hari Keempat Wisata Korea – Gunung Seorak & Naksansa
Hari Kelima Wisata Korea – One Mount Snow Park, The War Memorial of Korea & Myeong-dong
Hari Keenam Wisata Korea – Gyeongbokgung, Bukchon & Changdeokgung
Hari Ketujuh Wisata Korea – Gwangjang & Cheonggyecheon
Hari Kedelapan & Kesembilan Wisata Korea – Everland & Incheon