The Hitman’s Bodyguard (2017)

Hitman

Apa yang terjadi apabila seorang pengawal pribadi harus mengawal seorang pembunuh bayaran? Hal inilah yang menjadi dasar cerita pada The Hitman’s Bodyguard (2017). Tugas utama pengawal pribadi adalah melindungi kliennya dari segala bahaya terutama intaian para pembunuh bayaran. Pembunuh bayaran dan pengawal pribadi memang merupakan 2 profesi yang saling bertentangan. Yang satu harus membunuh target, dan yang satunya lagi harus melindungi target. Hal inilah yang membuat saya tertarik untuk menonton The Hitman’s Bodyguard (2017).

Pada film tersebut, Michael Bryce (Ryan Reynolds) merupakan pengawal pribadi yang harus melindungi Darius Kincaid (Samuel L. Jackson), seorang pembunuh bayaran. Bryce dan Kincaid sudah berkali-kali saling baku tembak ketika bertugas. Keduanya merupakan salah satu dari yang terbaik di bidangnya masing-masing. Sekarang, mereka harus bekerja sama agar Kincaid dapat hidup untuk maju ke meja hijau sebagai saksi sebuah kejahatan genosida yang dilakukan oleh seorang diktator. Hal ini tidaklah mudah sebab Bryce dan Kincaid sudah bertahun-tahun berada di pihak yang berseberangan. Secara nalar, profesi pembunuh bayaran memang nampak lebih buruk dibandingkan profesi pengawal pribadi. Tapi film ini berhasil menyelipkan logika dari sisi pembunuh bayaran bahwa tidak semua klien yang pengawal pribadi lindungi, merupakan orang baik-baik yang layak dilindungi ;).

Hitman

Hitman

Konflik antara 2 profesi yang saling bertolak belakang memang dominan tapi tidak terlalu kental. Ternyata, terdapat pula komedi dan romansa pada The Hitman’s Bodyguard (2017). Bryce dan Kincaid yang awalnya kurang akur, justru saling “curhat” mengenai masalah percintaan yang masing-masing mereka hadapi. Ada wanita di balik semua tindakan dan akibat yang mereka hadapi. Semuanya dibalut dengan komedi yang tidak terlalu lucu, agak “garing” malahan.

Hitman

Bagaimana dengan adegan aksinya? Mayoritas adegan aksi yang ditampilkan, termasuk adegan yang masuk akal dan tidak berlebihan. Semuanya nampak lebih keren dan seru ketika beberapa adegannya diiringi oleh lagu alternatif dan rock yang pas. Memang sih di sana terdapat banyak kata-kata kasar, tapi paling tidak di sana tidak terdapat adegan yang terlalu sadis. Tapi saya tetap tidak menyarankan untuk menonton film ini bersama anak kecil.

Hitman

Hitman

Hitman

Hitman

Hitman

Dengan demikian, saya rasa The Hitman’s Bodyguard (2017) layak untuk memperoleh nilai 3 dari skala maksimum 5 yang artinya “Lumayan”. Lumayanlaaaaa, bisa dijadikan hiburan.

Sumber: www.thehitmansbodyguard.movie

Iklan

Happy Death Day (2017)

 

Happy Death Day (2017) secara mengejutkan sempat merajai tangga box office beberapa minggu yang lalu, mengalahkan beberapa film dengan pemain ternama dan anggaran yang besar.  Film yang diproduksi oleh Universal Studio ini merupakan gabungan antara Scream (1996) dan Groundhog Day (1993). Di sana terdapat nuansa film slasher remaja yang sempat populer di era 90-an yang dipadukan dengan terjebaknya Tree Gelbman (Jessica Rothe) di dalam sebuah putaran waktu.

Pada suatu pagi, Tree terbangun di dalam kamar asrama milik Carter Davis (Carter Broussard). Tree menjalani hari tersebut sampai akhirnya ia tewas dibunuh sosok misterius yang menggunakan topeng bayi, maskot kampus tempat Tree kuliah. Setelah tewas, Tree kembali terbangun di pagi hari, di dalam kamar asrama milik Carter, di hari ulang tahunnya. Kejadian ini sepertinya akan terus Tree alami berulang-ulang sampai ia menemukan sosok misterius yang berulang kali berhasil membunuhnya.

Aksi kejar-kejaran antara Tree dan si pembunuh, menggunakan bantuan lagu dan suara agar nampak mengejutkan. Andaikata kita menonton Happy Death Day (2017) tanpa suara, praktis film ini tidak terlalu mengejutkan. Yaaa tak apalah, paling tidak film ini bukan termasuk film horor yang menjijikan.

Slasher merupakan subkategori dari jenis film horor, tapi terus terang tipe film horor seperti ini relatif lebih saya suka ketimbang tipe film horor lainnya. Aroma film slasher memang relatif kental terasa pada Happy Death Day (2017). Seperti film slasher di era 90-an, misteri akan siapa si pembunuh, tetap mampu membuat penonton penasaran. Latar belakang ala film slasher remaja pun nampak jelas pada film ini, mulai dari lorong gelap, rumah sakit sampai parkiran kosong. Akhir filmnya pun cukup memuaskan dengan sebuah kejutan di belakang. Tapi saya lihat ada hal yang membedakan Happy Death Day (2017) dengan berbagai film slasher yang pernah saya lihat yaitu penggunaan looping waktu dan terlihatnya unsur komedi romantis di sana.

Dengan adanya perulangan waktu, semakin lama, penonton dapat melihat siapa Tree yang sebenarnya. Karakter Tree yang pada awalnya nampak “brengsek”, perlahan mulai “insaf” dan memiliki ketertarikan dengan Carter. Alasan mengapa Tree menjadi “brengsek” pun dimunculkan di saat yang tepat sehingga Happy Death Day (2017) nampak semakin menarik untuk ditonton. Sayang, sampai akhir film, terdapat beberapa hal yang belum terjawab. Apa sih yang tidak terjawab? Saya tidak akan membeberkan spoiler di sini hehehe.

Setelah menonton Happy Death Day (2017), saya tak heran film ini berhasil merajai tangga box office beberapa minggu yang lalu. Happy Death Day (2017) layak untuk memperoleh nilai 4 dari skala maksimum 5 yang artinya “Bagus”.

Sumber: http://www.happydeathdaymovie.com

Get Out (2017)

Bertemu dengan orang tua pujaan hati tentunya menjadi saat yang menegangkan bagi seorang pria. Apakah bapaknya galak? Apakah ibunya cerewet? Apakah adiknya bandel? Tidak seperti perkiraan, hal di atas tidak dialami oleh Chris Washington (Daniel Kaluuya) yang pergi ke pinggiran kota untuk bertemu dengan keluarga Rose Armitage (Allison Williams), pacar Chris. Ayah Rose adalah dokter bedah dan ibu Rose adalah psikiater. Keduanya nampak menerima Chris apa adanya meskipun Chris berkulit hitam dan Rose bwrkulit putih, beda ras.

Semua seakan sempurna sampa Chris melihat tingkah laku janggal dari tukang kebun dan pembantu rumah tangga yang kebetulan berkulit hitam. Entah kenapa, semua orang kulit hitam yang Chris temui di sana bertingkah agak aneh. Bahkan ada salah satunya yang mendadak kehilangan kontrol emosi dan dengan histeris berteriak kepada Chris, “Get Out!”. Wah sama seperti judul filmnya yaa. Melihat ini, saya semakin penasaran, ada apa dengan orang-orang kulit hitam itu yaaa? Apakah Chris akan benar-benar melarikan diri?

Saya lihat Get Out (2017) mampu memberikan suguhan yang mampu membuat saya penasaran sekaligus sedikit tersenyum, film ini sepertinya bergenre misteri komedi. Dari awal saya sudah yakin bahwa lingkungan di sekitar keluarga Armitage pasti agak abnormal seperti The Stepford Wives (2004). Toh genrenya sa-sama mengandung komedi hehehe. Ternyata saya salah, apa yang terjadi di lingkungan keluarga Armitage lebih menyerupai The X-Files: I Want to Believe (2008) dengan pendekatan yang berbeda dan lebih baik karena ada selentingan humor di sana :D.

Dengan demikian, saya rasa Get Out (2017) layak untuk memperoleh nilai 4 dari skala maksimum 5 yang artinya “Bagus”. Misterinya lebih ke arah ilmiah kok, tidak ada setan-setanan di sana :).

Sumber: http://www.universalpictures.com/movies/get-out

Ghostbusters: Answer the Call (2016)

ghostbusters1

Ghostbusters merupakan judul komik yang saya baca ketika masih SD dulu. Disana dikisahkan bagaimana sekelompok ilmuwam menggunakan energi proton untuk menangkap hantu yang mengganggu warga New York. Selain itu Ghostbusters kemudiam hadir pula dalam bentuk film kartun di TV-TV. Ternyata baik Ghostbusters versi komik maupun film seri, keduanya dibuat berdasarkan film layar lebar Ghostbusters (1984) yang menuai berbagai pujian dan berhasil memperoleh nominasi piala Oscar. Kemudian beberapa tahun kemudian hadir sekuelnya yaitu Ghostbusters II (1989).

ghostbusters3Lama tak terdengar suaranya, Ghostbusters kembali hadir ke layar lebar melalui Ghostbusters: Answer the Call (2016). Tapi film ini tidak ada hubungannya dengan kedua film pendahulunya. Ghostbusters: Answer the Call (2016) lebih ke arah reboot sehingga tidak ada yang namanya trilogi Ghostbusters. Karakternya saja berbeda, tokoh utama yang dahulu diisi oleh 4 laki-laki, kini digantikan oleh 4 wanita.

ghostbusters10Dikisahkan bahwa Dr. Jillian Holtzmann (Kate McKinnon), Dr. Erin Gilbert (Kristen Wiig) dan Dr. Abigail “Abby” Yates (Melissa McCarthy) merupakam ilmuwan yang dicibir karena penelitian mereka mengenai hantu. Komunitas ilmuwan tidak menganggap bahwa hantu itu ada dan pantas untuk diteliti sampai pada suatu hari Abby dan kawan-kawan menemukan bahwa terjadi peningkatan kemunculan hantu di kota New York. Dalam perjalanannya mereka bertemu dengan Patty Tolan (Leslie Jones) yang memang tidak memiliki gelar doktoral namun memiliki pengetahuan akan sejarah dan keadaan kota New York. Keempatnya kemudian semakin sering melihat penampakan hantu-hantu di sekitar New York. Ada apa dengan New York? Apakah hantu-hantu ini muncul secara acak dengan tiba-tiba? Tentu tidak, ada seseorang yang memang sengaja membangkitkan hantu-hantu untuk menguasai kota New York.

ghostbusters7ghostbusters17

ghostbusters4

GHOSTBUSTERS

ghostbusters5

ghostbusters16

Abby, Holtzmann, Erin dan Patty akhirnya menggunakan senjata proton dan berbagai senjata modifikasi ciptaan Holzmann untuk menangkap hantu-hantu yang menteror New York. Kemudian mereka pun dikenal dengan nama Ghostbusters. Tak lupa keempat wanita ini merekrut Kevin Beckman (Chris Hemsworth) sebagai sekretaris untuk mengangkat telefon dan memgatur perjanjian dari pelanggan.

ghostbusters6ghostbusters9ghostbusters13ghostbusters11ghostbusters14ghostbusters15 Langkah Ghostbusters dalam menangkap hantu memperoleh perlawanan dari pihak pemerintah yang selalu menutup-nutupi keberadaan hantu-hantu dan selalu mendiskreditkan Ghostbusters di berbagai media masa. Sebuah masalah yang pernah diangkat pula pada Ghostbusters II (1989).

Mirip seperti 2 film pendahulunya, Ghostbusters: Answer the Call (2016) bukan termasuk film horor, genrenya lebih ke arah komedi. Saya beberapa kali tertawa melihat tingkah konyol pada film ini, terutama terkait kebodohan Kevin sang sekretaris :D. Pantas saja judul filmnya menggunakan kata-kata “answer the call” yang memang merupakan pekerjaan Kevin.

Kelucuan-kelucuan pada film ini dibalut dengan kostum dan special effect yang lumayan keren. Pada awalnya saya sempat sangsi akan kualitas adegan action film ini ketika tokoh utamanya diganti wanita semua. Ternyata saya salah sebab Ghostbusters masih mampu menampilkan berbagai keseruan ketika mereka berusaha menyelamatkan New York.

Di luar dugaan saya. Ghostbusters: Answer the Call (2016) ternyata masih layak untuk memperoleh nilai 4 dari skala makaimum 5 yang artinya “Bagus”. Who you gonna call? Ghostbusters! 🙂.

Sumber: www.ghostbusters.com

Bad Words (2013)

BadWords1

Nun jauh di Amerika sana, kegiatan mengeja telah menjadi sebuah kompetisi yang cukup bergengsi. Setiap peserta harus menyebutkan huruf dari sebuah kata yang diucapkan oleh si pembawa acara. Kompetisi ini lazim diikuti oleh anak-anak dengan orang tua mereka yang tidak segan-segan untuk membayar biaya les agar anak-anaknya dapat memenangkan kompetisi tersebut. Betapa kesalnya para orang tua tersebut ketika mereka menemui kenyataan bahwa anak mereka harus berlomba dengan seorang pria dewasa berumur 40-an. Pada Bad Words (2013), Guy Trilby (Jason Bateman) menjadi satu-satunya pria dewasa yang berhasil masuk ke dalam kompetisi mengeja yang bergengsi dan diliput oleh media masa, National Golden Quill Spelling Bee.

BadWords9

BadWords4

BadWords3

Dengan dibantu oleh Jenny Widgeon (Kathryn Hahn), seorang wartawan, Trilby berhasil mengakali pasal-pasal yang mengatur batasan peserta kompetisi mengeja. Trilby pun menggunakan cara-cara licik untuk mengalahkan lawan-lawannya yang notabene masih anak-anak (x__x). Walaupun dibenci oleh mayoritas peserta kompetisi beserta orang tuanya, Trilby ternyata mampu memperoleh teman baru di sana. Ia menjalin persahabatan dengan anak kecil sesama peserta kompetisi, Chaitanya Chopra (Rohan Chand). Di sini sebenarnya Trilby banyak mengajarkan hal-hal yang kurang baik bagi Chaitanya, hal ini yang membuat Bad Words (2013) rasanya kurang pantas ditonton anak-anak.

BadWords10

BadWords6

BadWords5

BadWords11

BadWords7

BadWords8

Selain itu perilaku dan kata-kata Trilby memang agak kasar juga. Komedi yang Bad Words (2013) tampilkan merupakan komedi dewasa yang sebenarnya agak lucu dan cukup mengena sindirannya. Trilby harus menghadapi kesinisan dan kekasaran orang lain, dan lucunya Trilby membalas mereka dengan lebih sinis dan lebih kasar lagi. Yaaah sebenarnya konflik utama dari semua ini adalah keikutsertaan Trilby pada kompetisi mengeja tingkat nasional yang lazim diikuti oleh anak-anak. Entah kenapa diskriminasi yang Trilby dapat karena ulah Trilby sendiri ternyata cukup menarik untuk diikuti. Para petinggi organisasi mengeja dan para orang tua peserta lainnya pasti akan melakukan segala cara agar Trilby tersingkir. Alasan sesungguhnya kenapa Trilby rela mengikuti kompetisi tersebut pun, agak misterius sampai bagian akhir film.

 

Saya pribadi cukup terhibur dengan prilaku tercela Trilby dan kecerian Chaitanya :). Terlepas dari perilaku kurang baik yang Bad Words (2013) contohkan, jalan cerita Bad Words (2013) sebenarnya terbilang bagus dan tidak membosankan, terkadang mampu membuat saya tersenyum. Secara keseluruhan, Bad Words (2013) masih layak untuk memperoleh nilai 4 dari skala maksimum 5 yang artinya “Bagus”.

Sumber: www.badwordsmovie.com

Can’t Hardly Wait (1998)

Can't Hardly Wait 1

Ada yang bilang bahwa masa-masa SMA adalah masa-masa indah yang tak tergantikan. Sebagian orang setuju, dan sebagian lagi kurang setuju, saya termasuk yang kurang setuju sih karena masa-masa kuliah saya jauh lebih menyenangkan dibandingkan masa-masa SMA saya hehehe :P. Setuju tak setuju, diakhir masa SMA biasa diadakan perayaan atau pesta. Nah Can’t Hardly Wait (1998) bercerita mengenai kejadian-kejadian yang berlangsung pada malam pesta perpisahan sebuah SMA di pinggiran kota Philadelphia. Para siswa SMA tersebut berpesta di rumah salah satu siswa yang kaya raya sebelum mereka mungkin harus berpisah demi mengejar mimpi masing-masing.

Pesta ini merupakan kesempatan terakhir Preston Meyers (Ethan Embry) untuk menyatakan perasaannya kepada Amanda Beckett (Jennifer Love Hewitt) sebelum Preston harus pergi ke kota lain untuk kuliah. Preston datang ke pesta ditemani oleh sahabatnya yang agak skeptis terhadap pesta perpisahan, Denise Fleming (Lauren Ambrose). Denise yang awalnya tidak sudi datang ke pesta perpisahan justru bertemu dengan orang yang bisa jadi akan Denise paling benci atau paling suka, Kenny Fisher (Seth Green). Kenny adalah anak konyol yang berniat untuk memperoleh pacar di pesta perpisahan tersebut. Namun Kenny malah terjebak di dalam toilet bersama Denise yang awalnya benci dengan Kenny. Denise pun tidak dapat membantu Preston menemukan Amanda padahal Preston telah membuat surat khusus bagi Amanda, . . . aaahhh ABG jaman lawas nih, masih maen surat-suratan, maklum inikan film tahun 1998 :P.

Can't Hardly Wait 15

Can't Hardly Wait 8

Can't Hardly Wait 14

Amanda sendiri sedang gundah dan tak tahu mau ke mana setelah ia dicampakkan oleh Mike Dexter (Peter Facinelli), siswa kurang cerdas yang berhasil mendapat beasiswa atas prestasinya di bidang olah raga. Tingkah Mike selama SMA terbilang kurang baik terutama terhadap sekelompok kutu buku. Diam-diam para kutu buku merencanakan aksi balas dendam pada pesta perpisahan yang akan Mike datangi.
Rencana hanyalah rencana, karena pada saat pesta berlangsung, semua rencana yang masing-masing karakter di atas rencanakan menjadi berantakan.

Can't Hardly Wait 9

Can't Hardly Wait 12

Can't Hardly Wait 13

Can't Hardly Wait 10

Can't Hardly Wait 11

Saya melihat banyak lelucon yang lucu pada Can’t Hardly Wait (1998), sayang beberapa diantaranya terbilang lelucon dewasa. Walaupun Can’t Hardly Wait (1998) mengangkat kisah pesta perpisahan anak-anak SMA, tapi banyak hal-hal yang tidak sesuai dengan budaya Indonesia sehingga Can’t Hardly Wait (1998) bukanlah film untuk anak sekolahan, ini film dewasa.

Can't Hardly Wait 3

Can't Hardly Wait 2

Can't Hardly Wait 4

Can't Hardly Wait 7

Can't Hardly Wait 5

Tapi bagaimanapun juga, Can’t Hardly Wait (1998) berhasil menyuguhkan tontonan yang menghibur walaupun film ini memang bukanlah film komedi remaja terbaik yang pernah saya tonton. Bagi saya pribadi film ini pantas untuk memperoleh nilai 4 dari skala maksimum yang artinya “Bagus”.

The God Must Be Crazy (1980) & The God Must Be Crazy 2 (1989)

Gods Must Crazy 1

The God Must Be Crazy (1980) merupakan film komedi Afrika Selatan tersukses sepanjang masa. Sekuelnya, The God Must Be Crazy 2 (1989), sama suksesnya sehingga keduanya masih menjadi karya tersukses Jamie Uys, sutradara kawakan asal Afrika Selatan.

The God Must Be Crazy (1980) dan The God Must Be Crazy 2 (1989) mengisahkan petualangan Xi (N!xau), anggota sebuah suku primif di Gurun Kalahari. Xi dan sukunya hidup sederhana dan terisolasi dari dunia luar.

Gods Must Crazy 9

Gods Must Crazy 5

Pada The God Must Be Crazy (1980), Xi dan sukunya menemukan botol Coca Cola yang dibuang oleh seorang pilot pesawat ketika ia sedang melewati Gurun Kalahari. Xi dan sukunya mengira bahwa botol tersebut berasal dari Tuhan dan mulai menggunakan botol tersebut untuk berbagai keperluan. Karena botol tersebut hanya ada satu, lama kelamaan muncul perebutan dan perkelahian akan botol tersebut di antara sesama anggota suku. Akhirnya Xi memulai petualangan menuju ujung dunia untuk mengembalikan botol tersebut kepada Tuhan. Padahal kita semua tahu bahwa Bumi itu bulat, tidak datar, mana ada ujungnya? Yaaaah namanya juga suku primitif :’D.

Gods Must Crazy 3

Pada The God Must Be Crazy 2 (1989), anak-anak Xi tidak sengaja terjebak di dalam truk pengangkut air yang sedang melewati Gurun Kalahari. Maka dimulailah petualangan Xi menyelamatkan anak-anaknya dari sebuah mahluk buas alias truk pengangkut air :’D.

Gods Must Crazy 7

Gods Must Crazy 10

Baik pada The God Must Be Crazy (1980) maupun The God Must Be Crazy 2 (1989), Xi bertemu dengan beberapa karakter unik yang mampu memancing tawa mulai dari tentara bodoh, ahli biologi yang tertarik dengan guru sekolah, pemburu ilegal, zoologist yang terdampar bersama dengan seorang pengacara dan lain-lain. Keluguan Xi dan ketidakmengertian Xi akan dunia luar berhasil membuat saya tertawa ketika menonton kedua film ini :D.

Gods Must Crazy 2

Gods Must Crazy 8

Gods Must Crazy 4

Gods Must Crazy 6

Sampai saat ini, The God Must Be Crazy (1980) dan The God Must Be Crazy 2 (1989) menjadi salah satu film terlucu yabg pernah saya tonton dan layak untuk memperoleh nilai 5 dari skala maksimum 5 yang artinya “Bagus Sekali”. Kepopuleran The God Must Be Crazy (1980) dan The God Must Be Crazy 2 (1989) di wilayah Asia menarik produser film Hongkong untuk membuat film-film tentang petualangan Xi yang tidak ada hubungannya dengan The God Must Be Crazy (1980) dan The God Must Be Crazy 2 (1989) karya Jamie Uys. Film-film produksi Hongkong tersebut kurang lucu dan kurang bagus, level-nya masih di bawah The God Must Be Crazy (1980) dan The God Must Be Crazy 2 (1989).

Sumber: www.godsmustbecrazy.com