Alita: Battle Angel (2019)

Era manga sudah berakhir bagi saya. Jadi, saya betul-betul tidak mengetahui apa Alita itu. Begitu mendengar kata Alita, yang terbesit di pikiran saya justru malah sebuah perusahaan telekomunikasi, bukan film. Alita kebetulan merupakan nama sebuah perusahaan telekomunikasi yang menjadi vendor beberapa operator telekomunikasi di Indonesia :’D. Lah kok ingetnya malah kerjaan yah :P.

Jadi, Alita: Battle Angel (2019) adalah film yang diadaptasi dari manga atau komik Jepang berjudul Gunnm (銃夢). Sebenarnya sih Gunnm itu sudah terbit di tahun 90-an, tapi sepertinya di tahun-tahun tersebut saya sibuk membaca manga Kungfu Boy, Dragon Ball dan Saint Seiya :’D. Selepas itu, saya agak terputus dari manga, saya lebih banyak membaca DC Comics dan Marvel Comics.

Alita: Battle Angel (2019) mengambil latar belakang Bumi di tahun 2563, yaitu 300 tahun setelah “The Fall” terjadi. “The Fall” sendiri merupakan sebuah perang besar yang melanda Zarem. Zarem merupakan sebuah kota kaya raya yang mengapung di udara. Konon, hanya masyarakat kelas ataslah yang dapat hidup di Zarem. Di bawah Zarem, terdapat kota Iron yang miskin. Sampah-sampah dari Zarem, dibuang ke kota Iron yang berada di bawahnya.

Dari berbagai sampah yang turun dari Zarem, Dr. Dyson Ido (Christoph Waltz) menemukan potongan dari sebuah cyborg unik yang inti dan otaknya masih bekerja. Dengan menggunakan suku cadang cyborg yang Ido miliki, ia memperbaiki cyborg tersebut dan menamainya Alita (Rosa Salazar). Kenapa nama Alita yang dipilih? Ahhh, ternyata ada makna sentimental bagi Ido di sana, bukan karena Ido pernah kerja di Perusahaan Alita yah :P.

Alita memiliki wujud seperti remaja wanita yang mungil dan imut. Karena Alita hilang ingatan, ia tidak dapat mengingat kenapa ia bisa berada di pembuangan sampah Zarem. Padahal sebenarnya masa lalu Alita sangatlah kelam dan berhubungan dengan “The Fall”, perang besar yang legendaris. Perlahan tapi pasti, Alita dapat mengingat siapa dia sebenarnya, yaitu sebuah mesin pembunuh paling mematikan yang pernah dibuat, sebuah cyborg dengan teknologi tua yang misterius.

Di kota Iron, Alita mengumpulkan uang dengan mengikuti kompetisi olahraga dan menjadi pemburu bayaran. 2 buah profesi berbahaya yang dapat Alita jalani dengan tubuh mungilnya. Tubuh memang mungil, tetapi pikiran Alita masih menyimpan memori dan refleks seorang pembunuh. Aaahhh, buat apa Alita susah-susah mengumpulkan uang??

Alita terlibat romansa dengan Hugo (Keean Johnson). Agar Alita dan Hugo dapat migrasi bersama-sama ke Zarem, mereka berdua harus mengumpulkan sejumlah uang. Saya rasa disinilah titik terlemah dari Alita: Battle Angel (2019). Saya tidak melihat chemistry antara Alita dan Hugo. Hugo hanya nampak seperti karakter tak berguna yang kalaupun tewas atau hilang, saya sebagai penonton tidak akan sedih atau kecewa :P. Sayang beberapa bagian dari plot utama film ini dibentuk dari romansa Alita dan Hugo. Rasanya chemistry Alita-Hugo masih kalah dengan chemistry bapak-anak antara Igo dan Alita.

Beruntung film ini memiliki jalan cerita yang tidak membosankan. Dunia yang dibangun di sekitar Alita pun nampak elok dan cukup kuat untuk mendukung cerita. Alita hidup dimana tubuh manusia dapat diperbaharui dengan mesin. Cyborg semacam Alita pun dapat hidup relatif normal bak manusia biasa.

Saya suka dengan latar belakang film ini. Tokoh Alita pun nampak keren dan cocok sebagai protagonis utama. Hal-hal ini masih dapat menambal kekurangan film ini di sisi romansa Alita dan Hugo yang hambar. Cerita tentang seorang prajurit tangguh yang lupa ingatan memang sudah banyak diangkat di film-film lain, tapi ramuan topik tersebut nampak jauh lebih baik dan menarik ketika diangkat lagi pada Alita: Battle Angel (2019). Saya rasa Alita: Battle Angel (2019) masih layak untuk memperoleh nilai 4 dari skala maksimum 5 yang artinya “Bagus”. Film ini memang mirip dengan Ghost in the Shell (2017), tapi Alita: Battle Angel (2019) tetap lebih menarik ;).

Sumber: http://www.alitatickets.com

Iklan

Ghost in the Shell (2017)

攻殻機動隊 atau Mobile Armored Riot Police atau Ghost in the Shell merupakan manga asal Jepang, karya Masamune Shirow, yang sudah hadir pula dalam wujud film animasi dan video games. Mengikuti Parasyte, Crows Zero, Rurouni Kenshin dan lain-lain, Ghost in the Shell kali ini hadir versi film layar lebarnya. Sebenarnya saya belum pernah membaca manga atau menonton versi animasinya. Tapi saya tertarik begitu melihat trailer-nya yang memukau :).

Dikisahkan bahwa di masa depan, batas pembeda antara mesin dan manusia semakin memudar. Dengan semakin majunya teknologi, semakin banyak manusia yang mengganti atau membalut organ tubuhnya dengan mesin untuk berbagai keperluan. Hanka Robotics, sebagai salah satu perusahaan teknologi terbesar di dunia, melakukan terobosan baru dengan menggabungkan mesin dan otak manusia. Jadi, semua organ yang disebut shell, adalah mesin. Yang mengendalikan organ tersebut adalah otak manusia, bukan lagi AI yang pada saat itu sudah lazim dilakukan. Dengan penggabungan ini, Hanka Robotics mengharapkan terjadinya kesempurnaan. Sebuah tubuh mesin dengan kemampuan mengambil keputusan layaknya manusia biasa.

Dari berbagai percobaan gagal, akhirnya Mira Killian (Scarlett Johansson) berhasil menjadi karya Hanka Robotics pertama yang stabil dan nampak normal. Mira kemudian ditugaskan untuk bergabung dengan Section 9, sebuah unit antiteroris yang beroperasi di Jepang. Karena kemampuannya, Mira memperoleh promosi sampai ia memperoleh pangkat Mayor di sana, julukan Mira pun berubah menjadi Mayor.

Pada Ghost in the Shell (2017) Mayor dan Section 9 berhadapan dengan teroris misterius yang membunuh ilmuwan-ilmuwan Hanka Robotics. Semakin lama, Mayor menemukan fakta bahwa kasus ini ternyata berkaitan erat dengan masa lalu Mayor. Kebohongan demi kebohongan akhirnya terkuak. Sayang kebohongan yang terkuak bukanlah kejutan bagi saya. Semuanya klise dan mudah sekali ditebak. Semuanya terasa datar tanpa klimaks. Sayang sekali, padahal Robocop versi Jepang ini memiliki peluang untuk menampilakn cerita yang lebih baik lagi. Robocop (2014) saja bisa, kenapa yang ini tidak?

Beruntung Ghost in the Shell (2017) didukung dengan visual yang memukau. Gambaran latar belakang tempat Mayor dan kawan-kawan beraksi nampak bagus sekali. Adegan aksinya pun terbilang bagus karena terdapat efek yang bagus di mana-mana. Kostumnya juga dapat mendukung semua itu sehingga Ghost in the Shell (2017) terlihat futuristik tapi tetap realistis.

Dari tampilannya, sepertinya latar belakang Ghost in the Shell (2017) adalah Jepang di masa depan. Tapi kok protagonis utamanya justru bukan orang Jepang, yang dipilih justru wajah Amerika-nya Scarlett Johansson. Hal ini tambah lagi dengan dipergunakannya aktor-aktor non Jepang lain yang mengisi mayoritas peran-peran pembantu utama. Whitewashing benar-benar terasa kental pada film ini. Apakah hal ini dilakukan karena wajah kulit putih Hollywood dianggap lebih komersil? Ah kalau berlebihan seperti ini ya justru agak aneh jadinya hehehe. Selain itu saya tidak melihat karakter yang kuat dari film ini. Seperti jalan ceritanya, tidak ada emosi atau sesuatu yang greget dari tokoh-tokoh yang ada.

Berkat visual, kostum dan aksi yang di atas rata-rata, Ghost in the Shell (2017) masih terselamatkan dan masih dapar memperoleh nilai 3 dari skala maksimum 5 yang artinya “Lumayan”.

Sumber: www.ghostintheshellmovie.com