Knives Out (2019)

Kisah detektif selalu menjadi sesuatu yang menarik bagi saya. Ketika masih sekolah dulu, novel detektif dari Alfred Hitchcock dan Agatha Christie sudah menjadi bacaan saya. Sayang beberapa kisah detektif yang diangkat ke layar kaca, tidak sebagus novelnya. Mungkin juga hal ini dikarenakan saya sudah tahu jalan cerita beserta akhir ceritanya :’D. Knives Out (2019) tidak dibuat berdasarkan novel apapun. Jadi saya benar-benar buta akan film ini. Trailer-nya saja belum pernah lihat hehehee.

Berbeda dengan beberapa film detektif yang pernah saya lihat, mayoritas sudut pandang Knives Out (2019) justru dilihat dari sisi seorang Marta Cabrera (Ana de Armas), salah satu tersangka pembunuhan. Marta adalah perawat dari seorang penulis novel misteri terkenal, Harlan Thrombey (Christopher Plummer). Harlan tewas meninggalkan anak-anak dan cucu-cucunya yaitu Walter “Walt” Thrombey (Michael Shannon), Donna Thrombey (Riki Lindhome), Jacob Thronbey (Jaeden Martell), Joni Thrombey (Toni Collete), Megan “Meg” Thrombey (Katherine Langford), Linda Drysdale (Jamie Lee Curtis), Richard Drysdale (Don Johnson), dan Hugh Ransom Drysdale (Chris Evans). Tak lupa pula ibu Harlan yang sudah sangat uzur, Wanetta Thrombey (Katherine Elizabeth Borman). Yahh itulah nama-nama tersangka atas sebuah kasus yang masih dipersebatkan apakah itu merupakan kasus kriminal atau murni hanya bunuh diri saja.

Detektif Benoit Blanc (Daniel Craig) beserta kepolisian setempat datang ke TKP dan melakukan penyelidikan. Melihat bagaimana Blanc melakulan penyelidikan, sungguh unik apalagi kalau dilihat dari sudut pandang salah satu tersangka. Setiap tersangka pada kasus ini memiliki ketergantungan finansial terhadap Harlan. Bahkan tersangka yang pada awalnya minim motif, tiba-tiba memiliki motif.

 

Saya suka dengan bagaimana Knives Out (2019) memutar-mutar fakta yang ada. Film ini sukses membuat saya penasaran dan sama sekali tidak mengantuk sampai akhir film. Akhir film ini ya sebenarnya biasa saja dan tidak terlalu mengejutkan, tapi jalan ceritanya sungguh menarik. Banyaknya karakter yang terlibat sama sekali tidak membuat saya kebingungan. Latar belakang dan motif setiap tersangka berhasil disampaikan dengan sangat informatif. Komedi hitam yang ada di dalamnya pun mengena meski agak sedikit basi :’D.

Tanpa saya duga, ternyata akting Daniel Craig terbilang sangat baik. Ketila melihat karakter detektif yang ia perankan, saya sama sekali tidak melihat James Bond di sana. Craig seolah menjadi detektif handal dengan aksen koboy yang kental.

Saya rasa, Knives Out (2019) adalah film detektif terbaik sepanjang tahun 2019. Film arahan Rian Johnson ini sudah sepantasnya untuk memperoleh nilai 4 dari skala maksimum 5 yang artinya “Bagus”.

Sumber: knivesout.movie

Contagion (2011)

Virus Corona atau COVID-19 merupakan virus yang pada awalnya memakan banyak korban di Kota Wuhan, Cina Daratan sana. Karena penyakit ini mudah sekali menular, maka COVID-19 berhasil menjalar ke negara-negara lain. Tak terelekan, Indonesia pada akhirnya terkena juga. Full Work from Home sampai-sampai diberlakukan di kantor saya. Hal ini tentunya menimpa kantor-kantor lain. Isu hoax dan kekhawatiran akan ekonomi Indonesia turut menjadi teror tambahan bagi warga biasa seperti saya.

Corona

Melihat dan merasakan keadaan seperti ini, membuat saya teringat akan sebuah film lama yang pernah saya tonton duluuuu sekali. Segala hal yang ada pada film Contagion (2011), kembali hinggap di benak saya. Beberapa hal yang dikisahkan pada film tersebut, memang sedang terjadi saat ini.

Corona

Corona

Corona

Pada Contagion (2011) dikisahkan bahwa dunia dihebohkan oleh sebuah virus mematikan yang menular dengan sangat cepat. Asal mula virus tersebut melibatkan kelelawar di daerah Cina yang pada akhirnya mampu membuat manusia sakit. Dengan gejala awal pilek, batuk, demam, lama kelamaan virus ini dapat membuat orang-orang mengalami sesak nafas dan meninggal.

Dengan penyebaran yang sangat cepat, korban berjatuhan dimana-mana. Tidak hanya korban karena penyakit yang ditimbulkan, akantetapi dampak sosial dan ekonomi pun dihadirkan di sini. Semua dihadirkan dari berbagai sudut pandang. Mulai dari korban, keluarga korban, satgas penanganan bencana, militer, pedagang obat palsu dan lain-lain. Masing-masing harus berhadapan dengan social distance dan lockdown selama virus ini masih belum ada obat dan vaksinnya. Hanya saja fokus dari Contagion (2011) sepertinya hanyalah pengaruh virus di Amerika dan Cina saja. Negara-negara lain memang tidak terlalu terlihat. Yah mungkin durasinya akan terlalu panjang ya kalau tidak terlalu fokus.

Corona

Corona

Corona

Corona

 

Beda wilayah, beda pula kondisinya. Mungkin hal ini pulalah yang membuat Contagion (2011) tidak 100% menggambarkan kondisi penyebaran virus di Indonesia. Ada beberapa hal pula yang memang tidak atau belum terjadi. Kalau dibandingkan dengan COVID-19, virus pada Contagion (2011) terlihat lebih mematikan dan penyebarannya super cepat. Jadi dampaknya pun memang lebih ekstrim. Syukurlah COVID-19 tidak seganas virus pada film tersebut. Banyak konflik-konflik yang pada awalnya terlihat menarik. Apakah awal yang menarik ini akan terus bertahan sepanjang film?

Awal dan tengah cerita yang membuat penasaran dan mengharukan, kurang dapat dimanfaatkan dengan baik sehingga saya merasa sedikit mengantuk ketika menonton Contagion (2011) menjelang bagian akhirnya. Entah kenapa, sampai menjelang akhir, saya tidak melihat klimaks yang menegangkan. Sayang sekali, padahal bagian awal film ini sangat menjanjikan loh. Beberapa konflik yang muncul memiliki penyelesaian yang sangat biasa dan tidak menarik, yah paling hanya begitu-begitu saja. Tapi tetap harus saya akui bahwa pesan moral akan pengorbanan, saling tolong menolong dan saling menghargai sangat kental pada film ini.

Corona

Yaah saya tahu bahwa banyak film-film lain yang mengangkat tema penularan virus, tapi sementara ini Contagion (2011) tetaplah yang terbaik. Dengan berbagai kelebihan dan kekurangannya, film ini layak untuk memperoleh nilai 3 dari skala maksimum 5 yang artinya “Lumayan”.

Bagi teman-teman yang sedang stres atau khawatir akan COVID-19, sebaiknya jangan menonton film ini. Di dalamnya terdapat beberapa hal yang saat ini belum tentu terjadi di dunia nyata, tapi mungkin saja terjadi. Memang ada beberapa hal pada Contagion (2011) yang saya harapkan tidak terjadi di dunia nyata, tapi ada beberapa hal baik pula yang saya sangat berharap dapat terjadi secepatnya di dunia nyata. Akhir kata, semoga COVID-19 dapat ditemukan vaksin dan obatnya. Sampai saat saya menulis tulisan ini, jumlah pasien dan korban COVID-19 terus bertambah, beberapa malah berasal sangat dekat dari rumah saya. Stay safe everyone …

Sumber: http://www.warnerbros.com/movies/contagion/

Fast & Furious: Hobbs & Shaw (2019)

Tak terasa franchise Fast & Furous sudah menelurkan lebih dari 8 film. Pada tahun 2019, franchase ini menelurkan spin-off pertama mereka Fast & Furious: Hobbs & Shaw (2019). Jangan harap Vin Diesel akan muncul pada film ini karena sesuai judulnya, Lucas Rebecca “Luke” Hobbs (Dwayne Johnson) dan Deckard Shaw (Jason Statham) akan menjadi bintang utamanya.

Hal ini tentunya menarik sebab Deckard Shaw adalah karakter antagonis utama pada Furious 7 (2015), film ketujuh dari franchise Fast & Furious. Pada film tersebut pun Hobbs hadir sebagai pihak yang berseberangan dengan Shaw. Bagaimana keduanya dapat bekerja sama? Konflik antara Hobbs dan Shaw berhasil diramu dengan baik hingga menghasilkan kelucuan dimana-mana. Sayangnya, sepertinya hanya inilah keunggulan dari Fast & Furious: Hobbs & Shaw (2019). Kedua karakter utama berhasil memberikan suasana yang menyenangkan, tapi hanya sampai di sana saja.

Jalan cerita yang hanya begitu-begitu saja, aksi yang juga begitu-begitu saja, tidak memberikan nilai tambah lagi bagi film ini. Sudah dapat ditebak, Hobbs & Shaw harus menyelamatkan Bumi dari sebuah virus yang hendak dicuri oleh Brixton Lore (Idris Elba) dan kawan-kawan. Karena ini merupakan spin-off dari Fast & Furious, tentunya terdapat barbagai aksi yang melibatkan mobil, motor dan bahkan helikopter. Well, bagia saya pribadi, tidak ada yang “wah” disana.

Tapi ya Fast & Furious: Hobbs & Shaw (2019) tetap berhasil menyuguhkan sebuah tontonan yang menyenangkan. Maka, film ini masih layak untuk memperoleh nilai 3 dari skala maksimum 5 yang artinya “Lumayan”

Sumber: http://www.hobbsandshaw.com

John Rambo (2008)

Melalui First Blood (1982), Rambo: First Blood Part II (1985) dan Rambo III (1988), Rambo berhasil menjadi salah satu karakter terpopuler ketika saya kecil dulu. Dengan hanya seorang diri, Rambo dapat mengalahkan banyak pasukan musuh. Yaah saya tahu ini sangat tidak masuk akal. Tapi Rambo memang hadir di era ketika film action sedang berjaya dimana banyak sekali film-film action dengan tokoh utama yang sakti mandraguna :’D. Bahkan saya yang ketika film Rambo pertama saja belum lahir, masih dapat mendengar gaum kesaktian Rambo.

Terus terang ketiga film pertama Rambo gagal menjadi film favorit saya. Saya kurang suka dengan First Blood (1982). Sementara itu Rambo: First Blood Part II (1985) dan Rambo III (1988) nampak lebih seru dan menyenangkan. Semua sama-sama bercerita mengenai John Rambo (Sylvester Stalone) yang menggunakan keahliannya sebagai anggota pasukan khusus, untuk bergerilya di hutan dengan panah dan senjata seadanya, membunuh semua yang dia anggap sebagai musuh.

Bertahun-tahun kemudian, hadir Rambo (2008) atau John Rambo (2008) atau Rambo IV (2008) atau Rambo: The Fight Continues (2008). Wuaaah, 20 tahun setelah film ketiga Rambo, barulah muncul film Rambo lagi. Pada film ini, Rambo tentunya sudah uzur yah hehehehe.

Setelah terlibat perang Vietnam dan Afganistan, John Rambo hidup damai di pinggiran Thailand, jauh dari hiruk pikuk perkotaan. Di sini tentunya tidak akan ada lagi karakter Kolonel Sam Trautman yang datang membawa misi atau bimbingan bagi Rambo. Nampaknya karakter tersebut ikut hilang seiring dengan tewasnya aktor yang memerankan Trautman.

Masalah mendatangi Rambo melalui Sarah Miller (Julie Benz). Sarah berhasil mengajak Rambo untuk mengantarkan sekelompok misionaris dalam sebuah misi kemanusiaan ke dalam wilayah Myanmar yang pada saat itu masih di bawah kekuasaan junta militer.

Ketidakstabilan politik Myanmar menjadikan negara tersebut sebagai negara yang kurang aman, terutama bagi warga asing seperti Rambo dan kawan-kawan. Sudah bisa ditebak, misi kemanusiaan Sarah mengalami kekerasan dari bandit dan oknum militer Myanmar. Sebagai satu-satunya anggota rombongan yang memiliki latar belakang militer, praktis hanya Si Rambo uzur inilah yang dapat melakukan perlawanan :’D.

Diluar dugaan saya, Rambo di sini memang tetap nampak superior tapi dengan kapasitas yang lebih masuk akal. Ada titik dimana Rambo terlihat masih manusia, bukan dewa perang yang sakti mandraguna.

Ada beberapa pihak yang menyayangkan kenapa kok John Rambo (2008) menampilkan adegan kekerasan yang relatif vulgar? Saya rasa, John Rambo (2008) memang bukan film anak-anak karena hal tersebut. Namun kekerasan yang ditampilkan masih tidak terlalu gory atau memuakan kok. Porsinya masih dapat diterima dan behasil membuat peperangan pada John Rambo (2008) nampak lebih realistis dan seru, terutama pada bagian dimana Rambo memegang senapan mesin, yahhh inilah adegan favorit saya pada John Rambo (2008).

Karena adegan peperangan yang seru, saya rasa John Rambo (2008) berhasil menjadi film Rambo favorit saya dan layak untuk memperoleh nilai 4 dari skala maksimum 5 yang artinya “Bagus”. Lucunya, 11 tahun setelah John Rambo (2008) dirilis, hadir Rambo: Last Blood (2019). Sayapun memutuskan untuk menulis mengenai John Rambo (2008), setelah menonton Rambo: Last Blood (2019). Loh kok begitu?

Yahhh, menonton ton Rambo: Last Blood (2019) membuat saya teringat bahwa saya pernah suka dengan film Rambo. Sungguh mengecewakan, Rambo: Last Blood (2019) adalah salah satu film terburuk yang pernah saya tonton. Dengan plot cerita yang absurd dan membosankan, Opa Rambo hadir kembali membantai mafia Meksiko dengan bergerilya di gua bawah tanah. Apaaa?? Kemana hutannya?? Mana unsur militernya?? Ini benar nama karakter utamanya Rambo atau Ambo atau Ram mungkin? Ahh salah ketik itu :P. Ini seperti film balas dendam biasa yang karakter utamanya diberi nama Rambo supaya ada yang tertarik untuk menontonnya :P. Daripada saya menulis mengenai film terburuk Rambo, lebih baik saya menulis mengenai film terbaik Rambo yang saya ingat saja. Semoga Rambo: Last Blood (2019) benar-benar menjadi the last.

Sumber: http://www.lionsgate.com/franchises/rambo-franchise

Dora and the Lost City of Gold (2019)

Beberapa tahun yang lalu film seri animasi anak Dora the Exploler sempat populer. Pada setiap serinya, Dora berpetualang dengan ditemani oleh Boots si monyet, ransel ajaib dan peta ajaib. Dalam perjalanannya, Dora menghadapi berbagai rintangan yang dapat dipecahkan sambil mengajak penontonnya berfikir. Dora sering mengajak penonton untuk berbicara dan memecahkan masalah bersama-sama. Pemecahan masalah ini mengajarkan anak-anak mengenai angka, huruf dan bahasa. Hal-hal positif itulah yang membuat Dora the Exploler mampu untuk terus mengeluarkan episode baru selama 8 musim pemutaran, sejak 1999. Pada sekitar 2014, nampaknya Dora the Exploler harus berakhir dan berhenti menelurkan episode baru. Meskipun begitu, episode-episode lama Dora the Exploler masih diputar ulang di beberapa Stasiun TV loh.

Mendengar Dora the Exploler hadir di layar lebar, tentunya menjadi sesuatu yang menarik bagi saya. Dora the Exploler hadir kembali melalui Dora and the Lost City of Gold (2019), tapi dalam bentuk live action, bukan film kartun.

Setelah bertahun-tahun home schooling di tengah hutan bersama dengan kedua orangtuanya, Dora Maquez (Isabela Moner) pergi ke kota untuk melanjutkan pendidikannya. Keluguan Dora membuat berbagai kelucuan di sana. Kecerdasan Dora belum sebaik kemampuan Dora bergaul dengan anak-anak kota, makluum Dora sudah bertahun-tahun hidup di tengah hutan. Sampai di sini, saya banyak tersenyum melihat berbagai humor yang ditampilkan.

Aaahhhh kemudian sampailah kita dimana Dora terlibat dengan sebuah perburuan harta karun. Petaka terjadi ketika sekelompok pemburu harta karun hendak menculik Dora. Alih-alih menculik Dora seorang, mereka justru menculik Dora bersama ketiga rekan sekolahnya. Di sana terdapat Sammy Moore (Madeleine Madden), Randy Warren (Nicholas Combee), dan tentunya sepupu Dora, Diego Marquez (Jeff Wahlberg). Setelah berhasil kabur keempatnya baru menyadari bahwa mereka terjebak di pedalaman Amerika Latin. Wah ada apa ini? Semua karena kedua orang tua Dora hampir menemukan Parapata, sebuah kota yang penuh dengan emas, tersembunyi di balik rimbunnya hutan.

Dora dan kawan-kawan pun berpetualang memecahkan berbagai teka-teki demi menemukan kedua orang tua Dora dan Parapata. Saya berharap sebuah tontonan penuh misteri yang menegangkan. Tapi sayang yang saya dapatkan hanyalah teka-teki ringan dengan jalan cerita yang agak klise dan mudah ditebak.

Walaupun begitu, Dora and the Lost City of Gold (2019) berhasil menggunakan beberapa materi dari film seri kartun Dora the Exploler sehingga Dora and the Lost City of Gold (2019) seolah-olah merupakan bagian dari film seri kartun pendahulunya tersebut. Bagi penggemar Dora the Exploler di luar sana, a Dora and the Lost City of Gold (2019) tentunya akan menjadi sebuah film yang penuh nostalgia.

Yaaah, saya pribadi hanya dapat memberikan a Dora and the Lost City of Gold (2019) nilai 3 dari skala maksimum 5 yabg artinya “Lumayan”. Terus terang saya lebih senang melihat bagian dimana Dora masih di kota, ketimbang bagian ketika ia berpetualang di hutan.

Sumber: http://www.paramountmovies.com/movies/dora-and-the-lost-city-of-gold

Star Wars: The Rise of Skywalker (2019)

Pada penghujung 2019 ini, hadir penutup dari sebuah trilogi sekuel dari Trilogi Star Wars, yaitu Star Wars: The Rise of Skywalker (2019). Seperti kedua film pendahulunya, Star Wars: The Force Awakens (2015) dan Star Wars: The Last Jedi (2017), film yang kembali disutradarai oleh J. J. Abrams ini mengambil latar belakang bertahun-tahun setelah Trilogi Star Wars berakhir. Trilogi Star Wars terdiri dari 3 film karya George Lucas yang legendaris. Bertahun-tahun kemudian, Disney membeli hak cipta Star Wars dan mulai membuat trilogi sekuel sebagai kelanjutan dari Trilogi Star Wars. Diawali dari Star Wars: The Force Awakens (2015), kemudian dilanjutkan oleh Star Wars: The Last Jedi (2017), lalu ditutup oleh Star Wars: The Rise of Skywalker (2019). Sayang sekali kedua film Star Wars sebelum Star Wars: The Rise of Skywalker (2019), sudah memperoleh kritikan pedas dari mayoritas fans garis keras Star Wars. Beberapa justru lebih memilih Star Wars tamat pada Trilogi Star Wars dan tidak ada trilogi kedua. Wah wah wah, mampukah Star Wars: The Rise of Skywalker (2019) menjawab semua kritikan dan keraguan yang telah muncul?

Pada Star Wars: The Rise of Skywalker (2019), Rey (Daisy Ridley), Poe Dameron (Oscar Issac) & Finn (John Boyega) berburu sebuah alat yang dapat menemukan lokasi Kaisar Palpatine (Ian McDiarmid), biang keladi dari segala kekacauan terjadi selama ini. Palpatine kembali muncul ke permukaan setelah menjadi antagonis utama pada Trilogi Prekuel Star Wars dan Trilogi Star Wars.

Dalam perjalanannya tentunya terjadi petempuran hebat antara pasukan pemberontak pimpinan Leia Organa (Carrie Fisher) dengan pasukan First Order pimpinan Kylo Ren (Adam Driver). Tak lupa Kylo pun terus mengejar Rey baik lewat telepati maupun langsung. Ia berusaha mempengaruhi agar Rey berbalik arah menjadi Sith. Rey pun masih berharap agar Kylo menemukan kebaikan dan kembali menjadi Jedi. Pertarungan antara Jedi dan Sith sangat kental mewarnai film yang satu ini.

Pada dunia Star Wars, terdapat individu-individu yang memiliki bakat atau sensitif terhadap sebuah kekuatan yang disebut The Force. Sith adalah mereka-mereka yang memanfaatkan The Force dengan kebencian dan segala sesuatu yang berhubungan dengan sifat jahat mahluk hidup. Sedangkan Jedi adalah mereka-mereka yang memanfaatkan The Force dengan kasih sayang dan segala sesuatu yang berhubungan dengan kebaikan. Pada Star Wars: The Force Awakens (2015) dan Star Wars: The Last Jedi (2017) dikisahkan bahwa Rey dan Leia bisa dibilang merupakan Jedi terakhir yang masih hidup. Kylo dan Palpatine merupakan Sith kuat yang terus merekrut orang-orang baru agar bergabung menjadi Sith.

Para Jedi dan tokoh utama pada Trilogi Star Wars, berguguran pada sekuel kedua trilogi ini. Tentunya seorang tokoh legendaris Star Wars akan tewas lagi pada Star Wars: The Rise of Skywalker (2019). Siapa tokohnya sih mudah sekali ditebak, lha hanya dia seorang saja yang masih tersisa :’D. Yang ternyata gagal saya tebak adalah siapakah Rey sebenarnya. Pada film penutup ini, identitas Rey mulai terkuak dan agak mengejutkan. Terjawab sudah mengapa kekuatan The Force milik Rey kuat sekali.

Pada film ini, saya menikmati pertarungan fisik dan mental antara Sith dan Jedi. Semuanya tersaji dengan visual yang cantik dan memukau. Dari segi cerita, film ini mengingatkan saya pada film terakhir pada Trilogi Star Wars. Agak mirip tapi dengan pendekatan yang sedikit berbeda. Hal ini menjadi perdebatan karena banyak kritikus yang kurang suka dengan hal ini. Saya pribadi? Suka sekali, bagus dan masuk akal kok alurnya.

Kalau dilihat sebagai sebuah film Star Wars, Star Wars: The Rise of Skywalker (2019) memang seolah mampu berdiri sendiri dengan sebuah cerita yang lumayan bagus. Namun kalau disatukan dengan dua film sebelumnya sebagai sebuah trilogi sekuel, maka kesan yang saya dapat adalah … berantakan.

Trilogi sekuel Star Wars terdiri dari 3 film yaitu Star Wars: The Force Awakens (2015), Star Wars: The Last Jedi (2017) dan Star Wars: The Rise of Skywalker (2019). Star Wars: The Force Awakens (2015) dan Star Wars: The Rise of Skywalker (2019) disutradarai oleh J. J. Abrams, sedangkan Star Wars: The Last Jedi (2017) disutradarai oleh Rian Johnson. Lucunya, ada beberapa hal yang “ditanamkan” oleh J. J. Abrams pada Star Wars: The Force Awakens (2015), tidak dilanjutkan atau digunakan oleh Rian Johnson pada Star Wars: The Last Jedi (2017). Nah kini, pada film penutupnya, J. J. Abrams seperti membalas Rian Johnson dengan tidak menyentuh beberapa hal yang sudah “ditanamkan” oleh Rian Johnson pada Star Wars: The Last Jedi (2017). Lihat saja berapa lama karakter Rose Tico (Kelly Marie Tran) muncul pada Star Wars: The Rise of Skywalker (2019) :P. Rose seolah seperti pemain figuran saja di sana hohohohoho. Bukankah ketiga film tersebut seharusnya saling berkesinambungan? Perbedaan siapa yang menyutradarai seharusnya tidak menjadi alasan. Coba saja lihat film-film MCU (Marvel Cinematics Universe). Film-film tersebut sukses besar menghasilnya kesinambungan dibawah bendera Disney. Disney sukses besar ketika membuat film-film MCU. Kenapa mereka gagal pada Star Wars? Disney seolah-olah beberapa kali merubah roadmap atau rancangan besar dari trilogi sekuel Star Wars. Mungkinkah ini karena kritikan pedas fans berat Star Wars.

Kylo Ren adalah satu-satunya karakter yang konsisten dan berkesinambungan pada ketiga film tersebut. Finn dan Rey nampak sekali berubah-ubah arahannya. Misteri akan identitas Rey pun dibuat sebagai sebuah senjata pamungkas. Well, itu memang berhasil bagi saya pribadi. Meskipun setelah menonton Star Wars: The Rise of Skywalker (2019), saya jadi kurang setuju dengan judulnya :’D.

Secara garis besar, Star Wars: The Rise of Skywalker (2019) berhasil memberikan hiburan yang menyenangkan bagi saya. Kekurangan dalam plot dan ketidaksinkronan dengan film sebelumnya, cukup impas terbayar dengan adegan aksi yang menyenangkan dan akhir yang lumayan diluar dugaan saya. Saya bulan penggemar berat franchise Star Wars, saya hanya dapat memberikan Star Wars: The Rise of Skywalker (2019) nilai 4 dari skala maksimum 5 yang artinya “Bagus”. Saya sadar betul J. J. Abrams mengubah dan tidak memanfaatkan beberapa hal baru dari film Rian Johnson, tapi justru itulah yang saya suka. Terus terang saya kurang suka dengan kemana sekuel trilogi ini dibawa oleh Rian Johnson. Syukurlah J. J. Abrams tidak melanjutkannya :P.

Sumber: http://www.starwars.com

Serial Detektif Peet

Saya suka sekali dengan film-film detektif. Maka tak heran kalau saya tertarik untuk menonton film seri kartun Detektif Peet atau kalau di Korea sana berjudul Peet, The Forest Detective. Film kartun besutan EBS dan Big Star ini memang berasal dari Korea Selatan sana, bukan Indonesia ya. Detektif Peet sepertinya merupakan judul versi TV nasional kita supaya lebih komunikatif bagi penontonnya. Sasaran Serial Detektif Peet memang anak-anak usia 3 sampai 7 tahun. Saya pun menontonnya bersama-sama dengan anak-anak saya.

Tokoh utama film seri ini adalah sekelompok detektif hutan yang dipimpin oleh Detektif Peet. Kasus apa yang Detektif Peet tangani? Bak detektif dunia manusia, Detektif Peet menangani kasus kematian, kehilangan dan lain-lain. Tapi semuanya terkait dengan fenomena yang ada pada hewan dan tumbuhan ;). Di sini Detektif Peet mengajarkan kepada penontonnya mengenai berbagai hal terkait hewan dan tumbuhan, mulai dari perilaku, organ sampai rantai makanan dari mahluk-mahluk penghuni hutan. Semua dirangkai dengan kisah dan animasi yang menarik.

Tokoh-tokoh utama Detektif Peet hadir dalam bentuk animasi 3D yang digabungkan dengan latar belakang hewan dan tumbuhan sungguhan. Uniknya, semua berhasil ditampilkan dengan sangat rapi. Penggabungan antara gambar kartun dengan gambar nyata pada serial ini, patut diacungi jempol.

Animasi yang unik dengan pesan moral dan pendidikan yang kental, tentunya membuat saya ikhlas untuk memberikan Detektif Peet nilai 4 dari skala maksimum 5 yang artinya “Bagus”. Serial ini sangat cocok untuk ditonton bersama si kecil.

Sumber: http://www.ebs.co.kr