Serial Legion

Setelah beberapa kali memunculkan berbagai karakter komiknya ke dalam serial TV, kali ini Marvel kembali menghadirkan serial superhero yang berkaitan erat dengan X-Men, yaitu serial Legion. Apa kaitan Legion dengan X-Men? Tokoh utama Legion, David Haller (Dan Stevens), adalah kerabat dari salah satu anggota tetap X-Men.

Pada awalnya David tidak menyadari akan kekuatan supernya. Semua peristiwa aneh yang ia alami sejak kecil, didiagnosa sebagai penyakit kejiwaan oleh para dokter. David dirawat disebuah rumah sakit jiwa sampai sebuah insiden terjadi di sana. Seketika itu juga pihak pemerintah dan sekelumpok organisasi mutant misterius, datang mencari David.

Sama seperti pada X-Men, perlakuan pihak pemerintah kepada mutant tidaklah menyenangkan. David akhirnya melarikan diri dari rumah sakit dan berlindung di dalam organisasi mutant misterius yang dipimpin oleh Melanie Bird (Jean Smart). Mereka bermukim di Summerland yang dikelilingi oleh hutan. Di sana David bertemu dengan mutant-mutant lain seperti Sydney Barrett (Rachel Keller), Ptonomy Wallace (Jeremie Harris), Cary Loudermilk (Bill Irwin), Kerry Loudermilk (Amber Midthunder), Oliver Bird (Jermaine Clement) dan lain-lain. Masing-masing memiliki kekuatan yang unik, namun konon kekuatan David lah yang terbesar.

Di Summerland, David mempelajari akan kekuatan supernya. Melanie dan kawan-kawan menduga bahwa diagnosa para dokter jiwa yang memeriksa David, salah besar. Gejala kejiwaan yang David alami adalah kekuatan super David yang belum David pahami. Untuk mahami kekuatannya, David harus menyelami alam pikirannya. Semua ada di dalam pikiran David, alam bawah sadar yang banyak sekali ditampilkan pada serial ini. Terkadang David sendiri tidak dapat membedakan antara khayalan, alam pikiran dan dunia nyata.

Berbeda dengan film superhero Marvel lainnya, serial Legion banyak mengeksplorasi dan menggabungkan dunia alam bawah sadar. Terkadang saya pikir, Serial Legion relatif lebih mirip dengan serial Twin Peaks ketimbang serial Agent of S.H.I.E.L.D. atau Daredevil. Sebuah serial superhero yang unik dengan visual, editing dan jalan cerita yang dibuat sedemikian rupa sehingga penonton tidak terlalu bingung meskipun memiliki cerita yang sebenarnya membingungkan, banyak dunia khayalan di sana.

Pada umumnyanya, saya kurang cocok dengan tipe film yang seperti Legion ini, penuh dunial surealis yang blur dan tak jelas. Seolah membawa saya ke dalam pikiran ajaib si tokoh utama. Tapi untuk Legion, saya dapat menikmati serial ini, menanti siapa lawan utama David sebenarnya. Saya rasa visualisasi Legion patut diacungi jempol. Tidak terlalu menggunakan banyak special effect tapi penempatannya pas sehingga terlihat bagus.

Saya rasa serial Legion layak untuk memperoleh nilai 4 dari skala maksimum 5 yang artinya “Lumayan”. Tapi perlu diingat bahwa serial Legion bukanlah tontonan anak-anal walaupun kisahnya didasarkan dari cerita komik ;).

Sumber: http://www.fxnetworks.com/region-fx

Iklan

Logan (2017)

Sejak tahun 2000 sampai 2017 ini, karakter Wolverine alias James “Logan” Howlett (Hugh Jackman) selalu hadir dalam semua film X-Men, baik hanya sebagai cameo ataupun sebagai salah satu pemain utama. Dalam berbagai dimensi dan timeline, anggota X-Men lainnya boleh berganti wujud atau pemerannya, tapi Wolverine selalu hadir dengan diperankan oleh Hugh Jackman. Hal ini terbilang masuk akal karena, seperti Deadpool, kelebihan Wolverine adalah memiliki tubuh yang dapat menyembuhkan luka apapun dengan sangat cepat. Dengan demikian, Wolverine tidak menua dan sudah hidup dalam berbagai zaman sebagaimana yang pernah dikisahkan pada X-Men Origins: Wolverine (2009). Film X-Men Origins: Wolverine (2009) yang menunjukkan asal mula Wolverine tersebut adalah film solo Wolverine pertama. Kepopuleran Wolverine memang melebihi kepopuleran anggota X-Men lainnya sehingga ia memiliki judul komik dan judul film sendiri :).

Namun, seindah apapun itu, semua pasti ada akhirnya. Film solo ketiga Wolverine yaitu Logan (2017) konon akan menjadi akhir dari karakter Wolverine yang diperankan oleh Hugh Jackman. Pada film ini dikisahkan bahwa Wolverine atau Logan hidup dipelarian bersama-sama dengan Professor X (Patrick Stewart). Kedua mutant tersebut sudah menua dan melemah. Kemampuan sembuh dari Logan sudah memudar sehingga ia nampak tua dan tidak bugar. Professor X terkena alzheimer sehingga ia sering mengingau dan kehilangan kontrol atas kekuatannya apabila tidak meminum obat. Mereka hidup di era dimana mutant hampir punah dan anggota X-Men lainnya sudah gugur.

Latar belakang pada Logan (2017) mirip dengan latar belakang pada komik Old Man Logan. Hanya saja pada Logan (2017) tidak dibahas siapa penguasa dunia saat itu, yang ada hanyalah perusahaan jahat bernama Essex yang sekilas sempat muncul pada X-Men: Apocalypse (2016). Pada komik Old Man Logan, dunia dikuasai oleh para supervillain seperti Red Skull, Magneto dan Doctor Doom. Pada Logan (2017), ketiga supervillain tersebut sama sekali tidak disebutkan, semua hanya berfokus kepada Logan yang seolah menunggu mati di tengah-tengah pelarian.

Setelah lama bersembunyi, Logan dan Proffesor X akhirnya terpaksa keluar dari persembunyiannya ketika mereka harus menyelamatkan Laura Kinney atau X-23 (Dafne Keen). Bagi yang sudah membaca komik X-Men era-era tahun 2000-an tentunya sudah tahu siapa X-23 itu. Ia adalah mutant dengan kemampuan yang sama persis dengan Wolverine lengkap dengan kemampuan sembuh dan tulang adamantium.

Terus terang kehadiran Laura yang muda, kuat dan bringas mampu membuat saya semangat lagi menonton Logan (2017). Saya awalnya sedikit malas menonton film ini karena pada bagian awal film, Logan justru nampak lemah dan kehabisan tenaga, apalagi sudah ada pengumuman dimana-mana bahwa Logan (2016) adalah film Wolverine terakhir Hugh Jackman. Saya lihat Hugh Jackman mampu menampilkan sosok Logan yang “terluka” dengan baik. Tidak hanya fisiknya yang melemah, secara mental pun Logan seolah menjadi mutant yang putus asa. Tentunya perlahan Logan berubah karena Laura, anak kecil yang bisa jadi merupakan anak Logan.

Yang saya suka dari Logan (2017) adalah adegan aksinya yang realistis dan bagus, meskipun agak sadis. Aksi, drama dan akting Hugh yang bagus, semuanya diramu dengan baik sehingga Logan (2017) adalah perpisahan yang manis bagi Hugh Jackman. Film ini tentunya layak untuk menperoleh nilai 4 dari skala maksimum 5 yang artinya “Bagus”. Rasanya Logan (2017) termasuk salah satu film superhero keluaran Marvel terbaik yang pernah saya tonton.

Sumber: www.foxmovies.com/movies/logan