Mortal Engine (2018)

Mortal Engine (2018) bercerita mengenai keadaan Bumi di masa depan. Semua yang kita miliki saat ini dianggap sebuah artefak dari masa lampau. Dunia yang kita temui di abad 21 ini hancur karena penggunaan energi kuantum. Dunia beserta manusianya pun mengalami perubahan gaya hidup. Manusia di masa depan harus bertahan hidup di tengah-tengah Bumi yang beracun.

Di wilayah Eropa, manusia tidak lagi tinggal di wilayah yang berdiri di atas tanah. Mereka tinggal di kota-kota yang berupa kendaraan raksasa. Kota-kota tersebut berpindah-pindah untuk berdagang dan menghindari kota-kota lain yang berniat buruk. Awalnya, Mortal Engine (2018) memberikan gambaran akan sebuah masa depan yang berbeda dan unik. Sebuah dunia yang luas, megah dan menarik untuk dilihat. Namun apakah itu cukup untuk membuat Mortal Engine (2018) tampil sebagai film yang menarik?

London adalah sebuah kota besar yang berpindah-pindah melahap kota-kota kecil yang mereka ditemui. Di kota inilah terdapat sebuah rencana besar yang dapat membuat dunia kembali hancur. Seperti biasa, tentunya terdapat beberapa tokoh protagonis yang mencoba menghentikan bencana tersebut. Sebuah jalan cerita yang sudah sering saya lihat pada film-film mengenai dunia di masa depan yang tidak sempurna.

Belum lagi terdapat sub plot yang cukup panjang dan … ternyata tidak terlalu berhubungan dengan plot utama x_x. Semuanya hanya ingin mengisahkan masa lalu si tokoh utama. Tokoh utama yang tidak terlalu saya pedulikan. Mortal Engine (2018) gagal membuat saya peduli dengan tokoh-tokoh yang mereka perkenalkan. Film ini memperkenalkan beberapa tokoh tanpa memberikan penekanan bahwa inilah tokoh yang sangat penting. Tokoh yang kalau dilihat ternyata tidak terlalu berpengaruh terhadap plot utama, seolah memperoleh porsi yang terlalu besar. Potensi-potensi akan konflik pun sepertinya kurang ditonjolkan dengan baik, sehingga semua hanya lewat seperti angin lalu saja.

Semuanya sedikit terselamatkan oleh latar belakang yang terlihat megah. Sebuah dunia yang nampak unik sampai …. menjelang akhir cerita. Mortal Engine (2018) sukses mempekenalkan kota-kota nomanden yang berpindah-pindah dengan mesin-mesinnya yang megah. Namun film ini gagal memperkenalkan jenis kota-kota lain yang ternyata ada di dalam cerita. Semua terasa terburu-buru dan kurang pas.

Bisa saja ini terjadi karena Mortal Engine (2018) berusaha menceritakan kisah utama pada novel Mortal Engine karangan Philip Reeve yang terdiri dari 4 buku. Bayangkan saja, 4 buku novel mau dikisahkan hanya dalam waktu sekitar 2 jam. Ini bukan hal yang tidak mungkin, tapi sopasti ini bukanlah hal yang mudah.

Dahulu kala Peter Jackson pernah berhasil memfilmkan Lord of the Rings yang diadaptasi dari sebuah novel legendaris. Campur tangan Jackson dalam Mortal Engine (2018) sebenarnya sudah terlihat ketika film ini menunjukkan latar belakang yang megah dan fantastis. Namun, kehadiran Jackson yang kali ini hadir sebagai salah satu produser, gagal mengangkat Mortal Engine (2018) menjadi sebuah adaptasi novel yang menarik.

Cerita yang basi dan pendalam karakter yang kurang membuat saya tak heran kalau Mortal Engine (2018) gagal di tanggal Box Office. Maaf seribu maaf, Mortal Engine (2018) hanya mampu memperoleh nilai 2 dari skala maksimum 5 yang artinya “Kurang Bagus”. Film yang kurang ok, bukan berarti novelnya juga kurang ok loh. Keempar seri novel Mortal Engine berhasil memenangkan berbagai penghargaan loh. Berbanding terbalik dengan versi filmnya.

Sumber: http://www.universalpictures.com/movies/mortal-engines

Murder at the Oriont Express (2017)

Orient Express

Novel-novel Trio Detektif -nya Alfred Hitchcock dan Agatha Christie menjadi bacaan saya ketika remaja. Saya memang senang membaca novel-novel misteri karya opa Alfred dan Oma Agatha. Novel-novel Agatha Christie yang saya baca, sering sekali menggunakan detektif eksentrik asal Belgia, Hercule Poirot, sebagai karakter utamanya :). Oleh karena itu, begitu salah satu karya Agtha Christie yang mengusung Poirot sebagai protagonis utamanya, dihadirkan ke layar lebar, saya berusaha menyempatkan diri untuk menontonya. Ahhh sayang sekali, karena berbagai kesibukan, saya baru sempat menontonnya di pesawat, menemani 8 jam perjalanan menuju Abu Dhabi @_@. Suasana pesawat yang kala itu gelap, dingin dan sedikit bergoyang, sepertinya cocok sekali untuk menonton film misteri yang latar belakangnya sebuah perjalanan jauh pula. Perjalanan Hercule Poirot (Kenneth Branagh) dari Istambul menuju London dengan menggunakan kereta api pada Murder at the Oriont Express (2017).

Judul film ini sama persis dengan judul salah satu novel Agatha Christie yang pernah saya baca. Otomatis sebenarnya kurang lebih saya tahu siapa pembunuh di dalam film tersebut. Tapi saya sudah lupa motif dan prosesnya, maklum versi novelnya saya baca dahulu kala.

Orient Express

Pada Murder at the Oriont Express (2017), Poirot bepergian dari Istambul menuju London dengan menggunakan kereta api mewah, Oriont Express, yang diprediksi akan memakan waktu selama 3 hari. Wew, kok 3 hari yah? itu kereta mewah atau kereta siput? ;P Yaaaah maklum, latar belakang Murder at the Oriont Express (2017) adalah tahun 1934, Indonesia saja belum merdeka. Oriont Express merupakan kereta api berbahan batu bara yang mewah dan dilengkapi berbagai sarana seperti ruang makan yang luas, ruang duduk santai, meja bartender dan ruang tidur penumpang.

Orient Express

Oriont Express terus berjalan di tengah badai salju sampai akhirnya ia tergelincir dari jalurnya. Otomatis Oriont Express beserta penumpangnya, untuk sementara tidak dapat pergi kemana-mana sampai bantuan tiba. Justru di saat inilah Poirot menemukan sebuah kasus pembunuhan. Samuel Rattchet (Johnny Depp), salah satu penumpang Oriont Express, ditemukan tewas terbunuh di dalam kamar tidurnya dengan beberapa luka tusuk. Otomatis para penumpang dan kru Oriont Express menjadi tersangka utama kasus ini. Di sana terdapat Mary Hermoine Debenham (Daisy Ridley), Dr. Arbuthnot (Leslie Odom Jr.), Hector MacQueen (Josh Gad), Edward Henry Masterman (Derek Jacobi), Bouc (Tom Bateman), Pilar Estravados (Penélope Cruz), Princess Dragomiroff (Judi Dench), Gerhard Hardman (Willem Dafoe), Caroline Hubbard (Michelle Pfeiffer), Hildegarde Schmidt (Olivia Colman), Count Rudolph Andrenyi (Sergei Polunin), Countess Helena Andrenyi (Lucy Boynton), Pierre Michel (Marwan Kenzari), Biniamino Marquez (Manuel Garcia-Rulfo), Sonia Armstrong (Miranda Raison) dan Hercule Poirot sendiri. Wah banyak juga yaaaa.

Orient Express

Orient Express

Orient Express

Orient Express

Ajaibnya, semakin lama, Poirot menemukan kenyataan bahwa mayoritas karakter-karakter yang ia temui di Oriont Express, memiliki motif untuk membunuh Ratchett. Ratchett memang bukan orang baik-baik. Ia memiliki banyak musuh dan terlibat sebuah kasus pembunuhan keji di masa lalu. Karena saya pernah membaca versi novelnya, kurang lebih saya ingat akan kasus yang melibatkan Ratchett di masa lalu. Bagaimana dengan penonton yang belum pernah membaca novelnya? Nah kalau di film ini, keterlibatan Rachett pada sebuah kasus di masa lampau, kurang dapat dijelaskan dengan gamblang. Kok ya tiba-tiba Poirot secara ajaib dapat mengaitkan Rachett dengan sebuah kasus di masa lalu? Ironisnya, penjelasan berikutnya adalah bagimana kasus tersebut menimbukan luka bagi banyak pihak. Penjelasan mengenai bagaimana kok Rachett lolos dan sebagainya relatif tidak jelas. Saya rasa ini merupakan benang merah yang tidak terjelaskan dengan baik.

Orient Express

Orient Express

Orient Express

Orient Express

Orient Express

Orient Express

Selain kekurangan di atas, saya rasa Murder at the Oriont Express (2017) dapat menampilkan rasa penasaran akan kasus pembunuhan di atas kereta api tersebut. Pengambilan gambar di sudut-sudut kereta api yang sempit, nampak baik dan dapat mendukung isi cerita. Akhir ceritanya pun, sama seperti versi novelnya, relatif mengejutkan. Poirot yang sangat perfeksionis dan maniak akan keseimbangan, harus merelakan ketidaksempurnaan dan ketidakseimbangan terjadi di dalam kasus yang ia tangani. Saya lihat di sana terdapat beberapa aktor dan aktris senior yang terkenal seperti Michelle Pfeiffer, Penélope Cruz dan Willem Dafoe. Saya rasa hal ini dapat mengaburkan tebakan penonton akan siapa si pembunuh sebenarnya karena begitu melihat aktor atau aktris terkenal memerankan sebuah tokoh, hampir dapat dipastikan bahwa tokoh tersebut memegang peranan penting. Logikanya, mereka dibayar mahal tidak untuk memerankan peran figuran bukan? ;).

Orient Express

Dengan demikian, saya rasa Murder at the Oriont Express (2017) layak untuk memperoleh nilai 3 dari skala maksimum 5 yang artinya “Lumayan”. Saya harap akan ada lagi kisah Hercule Poirot yang diangkat ke layar lebar. Jangan Sherlock Holmes saja, bosan.

Sumber: http://www.cluesareeverywhere.com

The Girl on the Train (2016)

The Girl on the Train (2016) merupakan film yang diadaptasi dari novel misteri karya Paula Hawkins dengan judul yang sama. Bagaimana kira-kira kisahnya? Pada film ini dikisahkan bahwa hampir setiap hari, Rachel Watson (Emily Blunt) pulang pergi menggunakan kereta api. Dalam perjalanan tersebut, ia harus melewati rumah penuh kenangan tempat dahulu ia dan mantan suaminya tinggal. Mantan suami Rachel, Tom Watson (Justin Theroux), sekarang tinggal di rumah tersebut bersama Anna Watson (Rebecca Ferguson) dan anak semata wayang mereka. Anak memang dijadikan alasan Tom untuk selingkuh dengan Anna ketika Tom masih menikah dengan Rachel. Ditambah lagi kebiasan mabuk-mabukan Rachel semakin mempertajam tekad Tom untuk bercerai. Aahhh, alasan tetaplah alasan, Tom sudah sukses menjadi tokoh paling brengsek di film ini. Tapi kok ya pemerannya nampak seperi orang yang  serius, pendiam dan kurang gagah. Secara fisik rasanya kurang cocok untuk memerankan tokoh Tom hehehehe.

Di samping rumah tempat keluarga Tom tinggal, terdapat rumah lain yang menarik perhatian Rachel. Di rumah tersebut tinggal pasangan suami istri Scott Hipwell (Luke Evans) dan Megan Hipwell (Haley Bennett). Setiap melewati rumah tersebut, Rachel melihat bagaimana rukunnya pasangan ini meskipun mereka belum dikaruniai anak. Semua terlihat sempurna sampai pada suatu hari Rachel sekilas melihat Megan bermesraan dengan laki-laki lain di rumah tersebut.

Merasa kecewa dan teringat akan kegagalan rumah tangganya plus pengaruh minuman keras, Rachel memutuskan untuk datang ke rumah Megan dan menegur Megan. Rachel ingin mengungkapkan betapa kurang bersyukurnya Megan karena telah dikaruniai keluarga yang sepenglihatan Rachel, nampak bahagia. Aaahhh padahal tidak semuanya nampak seperti apa yang kita lihat dipermukaan. Setiap keluarga dan individu pasti memiliki masalah masing-masing.

Entah apa yang terjadi, Rachel tiba-tiba terbangun di rumahnya dalam keadaan berlumuran darah. Ia tidak dapat mengingat kejadian di saat ia hendak berbicara dengan Megan. Keadaan semakin buruk ketika Megan dilaporkan hilang dan Rachel menjadi salah satu tersangka. Rachel kemudian berniat untuk menyelidiki kasus ini sendirian. Semakin ia menyelidiki latar belakang Megar dan orang-orang sekitarnya, semakin banyak pula rahasia gelap yang terungkap. Rumput tetangga memang belum tentu lebih sehat daripada rumput sendiri.

Kalau dilihat dalam bentuk tulisan, kisah The Girl on the Train (2016) seolah menarik dan bagus. Tapi sayang pengisahannya dalam bentuk film, jauh dari ekspektasi saya. Alur maju mundur yang disajikan terbilang kurang greget dan membuat saya bosan. Melalui alur maju mundur tersebut memang rahasia tokoh-tokohnya semakin terkuak, tapi tetap saja entah bagaimana Girl on the Train (2016) tetaplah membosankan. Akting Emily Blunt dengan raut muka yang melankolis tidak mampu menyelamatkan film ini. Penyelamat film ini justru adalah pada kisahnya yang sebenarnya memang bagus :). Siapa yang bertanggung jawab terhadap hilangnya Megan pun agak di luar dugaan saya :).

Saya rasa Girl on the Train (2016) masih layak untuk memperoleh nilai 3 dari skala maksimum 5 yang artinya “Lumayan”. Sepertinya lebih baik membaca versi novelnya daripada menonton versi filmnya deh.

Sumber: http://www.thegirlonthetrainmovie.com