Confession of Murder (2012)

Kali ini saya akan membahas film detektif asal Korea Selatan yang berjudul Confession of Murder (2012) atau 내가 살인범이다. Film ini berhasil memenangkan berbagai penghargaan dan sudah pernah dibuat ulang oleh sutradara Jepang. Memoirs of Muder (2017) bisa dikatakan merupakan versi Jepang dari Confession of Murder (2012). Jarang-jarang nih ada film Korea yang sampai dibuat ulang oleh orang Jepang. Apakah Confession of Murder (2012) memang semenarik itu?

Konflik utama pada Confession of Murder (2012) diawali ketika Lee Doo-seok (Park Si-hoo) meluncurkan buku terbarunya yang berjudul I Am the Murderer. Buku tersebut mengisahkan secara detail bagaimana Lee melakukan beberapa pembunuhan antara tahun 1986 sampai 1990. Pada rentang tahun tersebut, memang terdapat pembunuh berantai yang gagal polisi tangkap. Lee secara terbuka mengakui bahwa ia adalah pelaku pembunuhan tersebut. Buku tersemut memuat detail-detail yang belum pernah diketahui oleh publik. Hal inilah yang menguatkan klaim Lee atas kejahatan-kejahatan tersebut.

Peraturan di Korea saat itu, menetapkan bahwa kasus yang sudah melewati 15 tahun, akan diputihkan alias dihapus. Hal inilah yang membuat hukum tidak dapat menyentuh Lee sebab pengakuan Lee dilakukan 17 tahun setelah pembunuhan berantai terjadi. Wajah tampan dan pencitraan yang baik membuat popularitas Lee semakin menanjak. Ia berhasil meraih simpati dari mayoritas publik Korea.

Tentunya, tidak semua orang senang dengan sepak terjang Lee. Choi Hyeong-goo (Jung Jae-young) merupakan salah satu pihak yang terlihat paling tidak berkenan dengan hal-hal yang Lee lakukan. Sebagai detektif yang dulu memimpin penyelidikan kasus pembunuhan berantai Lee, kasus tersebut menjadi sesuai yang bersifat pribadi bagi Choi. Namun sebagai seorang anggota kepolisian, Choi tetap patuh dengan hukum yang ada. Ia bahkan ikut mencegah upaya pembunuhan dari pihak keluarga korban.

Sekilas, Confession of Murder (2012) seolah hanya akan bercerita mengenai pergolakan antara Lee dan Choi. Adegan aksinya yah begitulah, ada beberapa yang tidak masuk akal. Apakah film ini hanyalah film aksi dengan latar belakang kriminal dam detektif saja?

Ternyata semakin lama film tersebut berhasil memberikan kejutan atau twist yang menarik. Arah cerita seakan bergeser-geser dan memberikan berbagai alternatif. Saya suka dengan bagaimana kisah ini disajikan.

Saya rasa, film yang satu ini merupakan salah satu film detektif terbaik dari Korea Selatan. Masuk akal kalau ada produser dari Jepang, bersedia me-remake Confession of Murder (2012). Film ini layak untuk memperoleh nilai 4 dari skala maksimum yang artinya “Bagus”.

Sumber: http://www.showbox.co.kr/Movie/Detail?keyword=&modate=2012&mvcode=JA120151

Serial Mindhunter

Saya sering menonton film-film detektif, beberapa diantaranya mengisahkan kasus pembunuhan berantai. dimana terdapat beberapa tindak kriminal dengan satu atau sekelompok pelaku yang sama. Pada beberapa film yang saya tonton, penyelidikan pembunuhan berantai, tentunya melibatkan FBI. Lembaga Amerika yang satu ini memiliki istilah dan prosedur tertentu ketika melakukan investigasi. Nah Serial Mindhunter mengisahkan asal mula bagaimana FBI mulai mengembangkan cara dan metode untuk memburu para pembunuh berantai beserta penanganan FBI terhadap berbagai kasus-kasus legendaris.

Semua diawai oleh ketertarikan Agen FBI Holden Ford (Jonathan Groff) terhadap isi pikiran dari seorang pembunuh berantai. Holden percaya bahwa dengan mempelajai perilaku dan pikiran pembunuh berantai yang ada di penjara, FBI dapat mendeteksi dan menangkap lebih banyak lagi pembunuh berantai. Daripada para pembunuh berantai tersebut membusuk di penjara, bukankah lebih baik kalau mereka digunakan untuk menangkap pembunuh berantai lain yang masih bebas di luar sana.

Memulai sesuatu yang tak lazim di zamannya, bukanlah hal yang mudah. Holden memperoleh penolakan dari berbagai sisi. Di sini saya melihat keuletan karakter Holden, sebab ia tetap berusaha mewujudkan idenya dengan berbagai cara.

Setelah melalui proses yang berliku-liku, mimpi Holden perlahan terwujud. Ia bersama dengan Agen FBI Bill Tench (Holt McCallany) dan Proffesor Wendy Carr (Anna Torv), berhasil memperoleh izin untuk mewawancarai beberapa narapidana populer. Dari sana, mereka berhasil membantu pihak kepolisian lokal dalam menghadapi berbagai kasus kriminal.

Mayoritas kasus kriminal yang muncul pada film seri ini dibuat berdasarkan kisah nyata. Pada Mindhunter, penonton akan disuguhkan berbagai tokoh dan kasus kriminal legendaris seperti kasus Edmund Kemper, John Wayne Gacy, Charles Manson, Ted Bundy, Pembunuhan Anak Kecil Atalanta, Sang Pembunuh BTK (Bind Torture, Kill), Montie Ralph Rissell, Shoe-Fetish Slayer, Richard Speck dan lain-lain. Modus operasi sampai ciri-ciri fisik si pelaku utama dari kasus-kasus tersebut ditampilkan dengan sangat mirip seperti aslinya.

Keaslian memang menjadi kelebihan dari Mindhunter, tapi terkadang hal tersebut menjadi sebuah kekurangan kalau dilihat dari sisi hiburan. Karena dibuat berdasarkan kisah nyata, maka beberapa kasus yang disuguhkan oleh Mindhunter terkadang seperti  memiliki akhir yang kurang spektakuler dan mengejutkan. Yaah, kehidupan nyata memang tidak sefantastis cerita karangan manusia bukan?

Film ini ternyata bercerita pula mengenai kehidupan pribadi Holden, Bill, Wendy dan kawan-kawan. Semuanya tentunya berkaitan dengan pekerjaan yang mereka lakukan di FBI. Semua dibuat berkaitan dan kadang menimbulkan konflik internal yang sangat mengena.

Saya pribadi terkadang terkagum-kagum dengan Mindhunter, tapi terkadang saya pun mengantuk kebosanan. Dengan demikian Mindhunter memperoleh nilai 3 dari skala maksumum 5 yang artinya “Lumayan”. Film ini cocok ditonton bagi teman-teman yang tertarik akan sejarah dan menginginkan sebuah film yang terasa asli dan mampu membuat penontonnya berfikir. Oh iya, Mindhunter mengandung beberapa konten dewasa yang tidak pantas ditonton oleh anak-anak.

Sumber: http://www.netflix.com/id-en/title/80114855