The Mummy (2017)

Sejak berdiri pada 1912, Universal Studios sudah beberapa kali menelurkan film-film bertemakan monster seperti The Hunchback of Notre Dame (1923), The Phantom of the Opera (1925), Dracula (1931), Frankenstein (1931), The Mummy (1932), The Invisible Man (1933), Bride of Frankenstein (1935), Werewolf of London (1935), Abbott and Costello Meet Dr. Jekyll and Mr. Hyde (1953), Creature from the Black Lagoon (1954), The Mummy (1999) dan lain-lain. Nah tokoh-tokoh dari film tersebut akan dibuat ulang ke dalam beberapa film layar lebar yang saling berkaitan dan disebut Dark Universe. Jadi ceritanya ini mau dibuat seperti Marvel Universe dan DC Comics Universe yang cukup populer akhir-akhir ini.

The Mummy (2017) hadir sebagai film Dark Universe pertama yang hadir bioskop-bioskop tanah air. Apakah cerita film ini akan seperti Trilogi The Mummy yang dibintangi oleh Brendan Fraser di era 90-an dan awal 2000-an? The Mummy (2017) merupakan reboot dari Trilogi tersebut, tapi saya rasa hanya ada sedikit unsur yang mirip, sisanya jauh berbeda.

Pada The Mummy (1999), Nick Morton (Tom Cruise) secara tidak sengaja membebaskan Mumi Putri Ahmanet (Sofia Boutella) dari tidur panjangnya. Tindakan Nick membuatnya memperoleh sebuah kutukan. Ahmanet memilih dan menandai tubuh Nick sebagai tubuh yang pantas menampung Seth, dewa kematian pada mitologi Mesir.

Disini terjadi kejar mengejar karena Ahmanet harus menyelesaikan ritual untuk memasukkan Seth ke dalam tubuh Nick. Seperti pada Trilogi Mummy-nya Brendan Fraser, terdapat organisasi atau pasukan rahasia yang ikut membantu sang tokoh utama. Tapi pada The Mummy (2017), organisasi tersebut agak berbeda sebab organisasi inilah yang akan dijadikan benang merah Dark Universe. Yaaaah mirip S.H.I.E.L.D. kalau di Marvel Universe ;).

Pada organisasi tersebut, terdapat Henry Jeckyll (Russell Crowe) dan Jenny Halsey (Annabelle Wallis). Keduanya sama-sama ingin membantu Nick untuk lepas dari kutukan Ahmanet, tapi cara yang Henry usulkan bertolakbelakang dengan Jenny. Bagi yang pernah menonton atau membaca cerita mengenai Dr. Jeckyll, maka pastilah tahu kisah dan kutukan apa yang Henry Jeckyll derita ;).

The Mummy (2017) memang mengangkat tema mistik yang erat hubungannya dengan horor, tapi rasanya film ini bukanlah film horor. Adegan aksi nampak dominan pada film ini. Sesekali terdapat humor pula di sana. Sayangnya, walaupun dibumbui oleh adegan aksi yang bagus, saya agak mengantuk ketika menonton film ini, aksinya yaa mayoritas kejar-kejaran saja. Selentingan humor yang terkadang Nick munculkan pun tidak terlalu lucu.

Saya lihat karakter Nick di sini dimaksudkan sebagai seorang bajingan yang baik hati. Tapi kok ya rasanya agak janggal dan aneh jadinya. Kemudian saya tidak melihat “cinta” antara Nick dan Jenny. Tanpa adanya romansa yang menonjol di antara keduanya, bagian akhir film ini nampak kurang masuk akal.

Tidak ada rasa penasaran yang dapat memukau saya ketika menonton The Mummy (2017). Semuanya dibeberkan dari awal film, sama sekali tidak ada misteri di sana. Padahal kalau dipikir-pikir, materi film ini cukup bagus lho, hanya saja penyampaiannya terlalu “to the point”. Film bertemakan hal-hal mistik seperti ini seharusnya memiliki unsur misteri disetiap bagian. Saya rasa film ini dibuat seperti seolah-olah ini merupakah kisah awal seorang superhero dalam wujud monster. Tapi pendekatannya kurang pas sehingga film pertama Dark Universe ini gagal menunjukkan keunikan Dark Universe itu sendiri.

Rasanya The Mummy (2017) hanya dapat memperoleh nilai 2 dari skala maksimum 5 yang artinya “Kurang Bagus”. Merupakan awal yang mengecewakan bagi Dark Universe, tapi terus terang saya tetap menantikan dan akan menonton film Dark Universe berikutnya. Mungkin pada akhirnya kumpulan monster-monster dari beberapa film Dark Universe akan bergabung melawan sesuatu yang besar, hal ini tetap menarik untuk diikuti.

Sumber: http://www.themummy.com

Iklan

Planet Hulk (2010)

Setelah tampil pada beberapa film layar lebar The Avengers, saya mendengar bahwa Marvel akan menghadirkan film solo Hulk kembali. Film tersebut kemungkinan akan mengambil cerita komik Planet Hulk sebagai latar belakangnya. Namun berita tersebut menghilang dengan sendirinya dan proyek film Hulk semakin hari semakin menghilang, terkubur dengan proyek-proyek film superhero Marvel lainnya seperti Captain America, Guardians of the Galaxy, Black Panther, Thor dan lain-lain. Menjelang rilis Thor: Ragnarok (2017), kata-kata Planet Hulk kembali menggema. Banyak yang meramalkan bahwa cerita Thor: Ragnarok (2017) akan seperti Planet Hulk. Planet Hulk lagi, Planet Hulk lagi, cerita tentang apa itu?

Akhirnya saya memilih untuk menonton Planet Hulk (2010), sebuah film animasi Marvel yang dibuat berdasarkan komik Planet Hulk. Di sana dikisahkan bahwa Hulk (Rick D. Wasserman) diasingkan oleh Iron Man (Marc Worden) dan kawan-kawan karena Hulk dianggap terlalu berbahaya bagi penduduk Bumi. Hulk memang sangat kuat terutama disaat ia sedang marah sekali, nah amarah itulah yang terkadang membuat Hulk hilang kendali.

Pesawat luar angkasa yang mengantarkan Hulk menuju pengasingan, gagal menahan Hulk. Dengan penuh amarah, Hulk mampu merobek-robek pesawat tersebut hingga akhirnya ia terdampar di planer Sakaar. Planet Sakaar sedang dikuasai oleh Red King (Mark Hildreth), seorang raja yang menggunakan pertarungan ala gladiator sebagai hiburannya. Pasukan sang raja menangkap Hulk dan menjadikan Hulk sebagai gladiator di arena berdarah milik Red King. Dengan kekuatan Hulk yang amat besar, sudah dapat ditebak bahwa kemenangan akan selalu memihak Hulk. Tapi ternyata ada karakter dari komik Thor yang terdampar pula di sana. Seorang lawan yang dapat menyamai Hulk.

Di luar arena gladiator, praktis tak ada yang dapat menghalangi Hulk selain Caiera (Lisa Ann Beley). Sayang Caiera berada di pihak Red King. Kenapa kok karakter yang satu ini mampu menandingi Hulk, tidak terlalu dijelaskan padahal dia bukanlah tokoh yang terkenal di dunia Marvel, saya sendiri baru kali ini mengetahui keberadaan Caiera. Pada perkembangan cerita selanjutnya, Caiera melakukan perpindahan dukungan dan pergeseran hubungan dengan Hulk. Perubahan keberpihakan Caiera dapat saya pahami, jelas alasannya. Nah kalau perubahan hubungannya dengan Hulk, itu agak aneh, terlalu instan dan terkesan dipaksakan. Mungkin durasi filmnya kurang lama yah hehehe.

Terlepas dari kelemahan di atas, saya tetap dapat menikmati film ini. Melihat Hulk melawan lawannya satu per satu, tetap mampu memberikan hiburan yang lumayan bagus :D. Memang sih sudah hampir dipastikan Hulk akan menang, tapi proses dan alurnya tidak membosankan untuk dilihat.

Secara keseluruhan, rasanya Planet Hulk (2010) masih layak untuk memperoleh nilai 3 dari skala maksimum 5 yang artinya “Lumayan”. Menonton film ini dapat dikatakan sebagai solusi tepat bagi yang ingin mengetahui mengenai Planet Hulk tanpa harus membaca serial komiknya satu per satu ;).

Sumber: marvel.com/movies/movie/140/planet_hulk

The Girl on the Train (2016)

The Girl on the Train (2016) merupakan film yang diadaptasi dari novel misteri karya Paula Hawkins dengan judul yang sama. Bagaimana kira-kira kisahnya? Pada film ini dikisahkan bahwa hampir setiap hari, Rachel Watson (Emily Blunt) pulang pergi menggunakan kereta api. Dalam perjalanan tersebut, ia harus melewati rumah penuh kenangan tempat dahulu ia dan mantan suaminya tinggal. Mantan suami Rachel, Tom Watson (Justin Theroux), sekarang tinggal di rumah tersebut bersama Anna Watson (Rebecca Ferguson) dan anak semata wayang mereka. Anak memang dijadikan alasan Tom untuk selingkuh dengan Anna ketika Tom masih menikah dengan Rachel. Ditambah lagi kebiasan mabuk-mabukan Rachel semakin mempertajam tekad Tom untuk bercerai. Aahhh, alasan tetaplah alasan, Tom sudah sukses menjadi tokoh paling brengsek di film ini. Tapi kok ya pemerannya nampak seperi orang yang  serius, pendiam dan kurang gagah. Secara fisik rasanya kurang cocok untuk memerankan tokoh Tom hehehehe.

Di samping rumah tempat keluarga Tom tinggal, terdapat rumah lain yang menarik perhatian Rachel. Di rumah tersebut tinggal pasangan suami istri Scott Hipwell (Luke Evans) dan Megan Hipwell (Haley Bennett). Setiap melewati rumah tersebut, Rachel melihat bagaimana rukunnya pasangan ini meskipun mereka belum dikaruniai anak. Semua terlihat sempurna sampai pada suatu hari Rachel sekilas melihat Megan bermesraan dengan laki-laki lain di rumah tersebut.

Merasa kecewa dan teringat akan kegagalan rumah tangganya plus pengaruh minuman keras, Rachel memutuskan untuk datang ke rumah Megan dan menegur Megan. Rachel ingin mengungkapkan betapa kurang bersyukurnya Megan karena telah dikaruniai keluarga yang sepenglihatan Rachel, nampak bahagia. Aaahhh padahal tidak semuanya nampak seperti apa yang kita lihat dipermukaan. Setiap keluarga dan individu pasti memiliki masalah masing-masing.

Entah apa yang terjadi, Rachel tiba-tiba terbangun di rumahnya dalam keadaan berlumuran darah. Ia tidak dapat mengingat kejadian di saat ia hendak berbicara dengan Megan. Keadaan semakin buruk ketika Megan dilaporkan hilang dan Rachel menjadi salah satu tersangka. Rachel kemudian berniat untuk menyelidiki kasus ini sendirian. Semakin ia menyelidiki latar belakang Megar dan orang-orang sekitarnya, semakin banyak pula rahasia gelap yang terungkap. Rumput tetangga memang belum tentu lebih sehat daripada rumput sendiri.

Kalau dilihat dalam bentuk tulisan, kisah The Girl on the Train (2016) seolah menarik dan bagus. Tapi sayang pengisahannya dalam bentuk film, jauh dari ekspektasi saya. Alur maju mundur yang disajikan terbilang kurang greget dan membuat saya bosan. Melalui alur maju mundur tersebut memang rahasia tokoh-tokohnya semakin terkuak, tapi tetap saja entah bagaimana Girl on the Train (2016) tetaplah membosankan. Akting Emily Blunt dengan raut muka yang melankolis tidak mampu menyelamatkan film ini. Penyelamat film ini justru adalah pada kisahnya yang sebenarnya memang bagus :). Siapa yang bertanggung jawab terhadap hilangnya Megan pun agak di luar dugaan saya :).

Saya rasa Girl on the Train (2016) masih layak untuk memperoleh nilai 3 dari skala maksimum 5 yang artinya “Lumayan”. Sepertinya lebih baik membaca versi novelnya daripada menonton versi filmnya deh.

Sumber: http://www.thegirlonthetrainmovie.com

Justice League: The Flashpoint Paradox (2013)

Melihat pembahasan mengenai film seri The Flash musim kedua, saya sering mendengar kata-kata Flashpoint Paradox, aaahhh ternyata itu judul seri komik dan film animasi DC Comics yang cukup populer dengan Flash sebagai tokoh sentralnya, tumben bukan Superman atau Batman hehehe. Biasanya film-film animasi DC didominasi oleh 2 nama tersebut.

Pada Justice League: The Flashpoint Paradox (2013), Batman dan Superman tetap ada kok, judulnya saja mengandung kata-kata Justice League. Tak hanya Flash alias Barry Allen (Justin Chambers), Superman alias Clark Kent (Sam Daly) dan Batman alias Bruce Wayne (Kevin Conroy), hadir pula Wonder Woman alias Diana (Vanessa Marshall), Aquaman alias Arthur Curry (Cary Elwes), Cyborg alias Victor Stone (Michael B. Jordan) dan Green Lantern alias Hal Jordan (Nathan Fillion), wah lengkap juga yahhh. Dikisahkan bahwa Flash dengan dibantu Justice League, berhasil menangkap Professor Eobard “Zoom” Thawne atau Reverse-Flash (C. Thomas Howell) dan beberapa supervillain lain yang ikut mengeroyok Flash. Baik di komik maupun di film, Zoom sering hadir sebagai musuh besar Flash, tak terkecuali pada Justice League: The Flashpoint Paradox (2013).

Setelah Zoom tertangkap, Barry Allen beristirahat dan kemudian terbangun dari tidur pendeknya. Setelah Barry bangun, ia menemukan dirinya berada di dunia yang berbeda. Barry mendadak kehilangan kekuatannya dan semua anggota Justice League mengalami takdir yang berbeda sehingga mereka pun bukan superhero yang Barry kenal. Batman bukanlah Bruce Wayne, Superman tidak dibesarkan oleh keluarga Kent, Hal Jordan tidak terpilih menjadi Green Lantern dan Cyborg menjadi tangan kanan presiden Amerika. Bagaimana dengan Wonder Woman dan Aquaman? Keduanya terlibat cinta segitiga dan perselingkuhan yang mengakibatkan perang besar antara bangsa Amazon dan Atlantis. Dunia yang satu ini diambang kehancuran akibat perseteruan antara kedua bangsa super tersebut. Manusia biasa hanya dapat menonton dan pasrah sebab superhero lain nampak tak berdaya. Di tengah-tengah kebingungan ini, Barry melihat ibunya yang seharusnya sudah meninggal. Pada dunia ini, ibu Barry ternyata masih hidup, aaah ada secercah kebahagiaan di sana.

Bagaimana semua ini bisa terjadi? Barry yakin bahwa Zoom telah pergi ke masa lalu dan mengubah masa lampau sehingga dunia menjadi sekacau ini. Dengan dibantu Batman, Barry berusaha mereplikasi kecelakaan yang merubah Barry menjadi Flash. Barry harus berlari sekencang mungkin, menembus kecepatan cahaya untuk pergi ke masa lalu untuk memperbaiki ini semua. Rencana hanyalah rencana, hal itu tak mudah diraih. Dalam perjalanannya, banyak tokoh-tokoh superhero yang tewas. Beberapa adegannya agak sadis ya bagi anak-anak. Justice League: The Flashpoint Paradox (2013) lebih cocok untuk ditonton oleh orang dewasa meskipun berwujud film animasi atau kartun.

Perbedaan akan nasib para superhero dan supervillain menarik untuk diikuti, beberapa bahkan mencengangkan untuk dilihat. Saya lihat terdapat kesedihan pada hubungan antara Flash dengan ibunya dan hubungan antara Bruce Wayne dengan keluarganya. Jadi film ini bukan hanya film kartun yang sarat adegan pukul-pukulan atau tembak-tembakan saja :). Apalagi terdapat sedikit kejutan pahit pada bagian akhir film ini, asalkan teman-teman tidak membaca sinopsis di beberapa tulisan yang tidak bertanggung jawab yaa. Entah kenapa untuk film yang satu ini, banyak orang memasukkan spoiler ke dalam sinopsis mereka. Sesuatu yang harusnya terungkap di akhir film justru diumbar di sinopsis :P.

Saya rasa Justice League: The Flashpoint Paradox (2013) layak untuk memperoleh nilai 4 dari skala maksimum 5 yang artinya “Bagus”. Ternyata, walaupun sejauh ini film-film DC Comics di layar lebar relatif kalah dibandingkan film-filmnya Marvel, DC Comics mampu menelurkan film animasi yang berkualitas. Ahhh kenapa yang seperti ini tidak saya lihat pada film-film bioskop DC Comics terbaru? ;’)

Sumber: http://www.dccomics.com/movies/justice-league-the-flashpoint-paradox-2013

The Boss Baby (2017)

Memiliki adik kecil terkadang bukanlah suatu hal yang disukai oleh si kakak. Si kakak bisa saja menganggap bahwa adik kecil akan merebut semua kasih sayang orang tuanya. Hal itulah yang dirasakan oleh Tim Templeton (Miles Christopher Bakshi) ketika pada suatu pagi, Theodore “The Boss Baby” Templeton (Alec Baldwin) hadi di tengah-tengah kehidupan keluarga Templeton.

Tim yang tadinya merupakan anak tunggal dan memperoleh 100% perhatian orang tuanya, sekarang harus membagi perhatian tersebut dengan Theodore yang masih bayi. Merasa kesal dan cemburu, Tim merasa bahwa Theodore alias Boss Baby adalah saingan dalam memperebutkan kasih sayang orang tua mereka. Sampai sini saya dapat menebak arah cerita The Boss Baby (2017), yaaa pastilah perseteruan antara Tim dan Boss Baby akan berakhir baik dimana keduanya akan semakin kompak sebagai kakak-adik. Bagus juga nih bagi anak-anak, ada nilai-nilai positif yang dapat dipetik :). Tapi apakah ini hanya kisah mengenai perseteruan kakak-adik saja? Apa bedanya The Boss Baby (2017) dengan film lain dengan tema serupa?

Sesuai judulnya, Boss Baby adalah faktorp pembedanuaya, ia ternyata bukanlah bayi biasa. Boss Baby adalah bayi yang bekerja di Baby Corp, sebuah perusahaan yang berisikan bayi. Jadi, bayi-bayi yang dihasilkan oleh Baby Corp diseleksi apakah bayi tersebut akan dikirim kepada keluarga atau masuk ke dalam manajemen Baby Corp. Bayi yang masuk ke dalam manajemen seperti Boss Baby, memiliki pengetahian dan tingkah laku seperti orang dewasa meskipun wujudnya tetap bayi.

Di sini Boss Baby dikirim menyamar ke dalam keluarga Theodore untuk menghentikan Puppy Corp merusak kelangsungan Baby Corp. Puppy Corp akan meluncurkan produk anak anjing jenis baru yang akan meningkatkan popularitas anak anjing sehingga masyarakat akan memilih anak anjing ketimbang bayi. Sebagai produsen dan distributor bayi, Baby Corp akan hancur apabila Puppy Corp berhasil.

Ok, kisah soal Boss Baby yang bertingkah seperti orang dewasa plus perseteruannya dengan Tim, memang lumayan lucu dan enak untuk diikuti. Tapi ketika Baby Corp dan Puppy Corp hadir, film animasi yang satu ini kok agak aneh yaaa. Selain itu banyak sekali adegan yang terlalu “menggampangkan” sehingga kurang seru.

Sorry to say tapi saya rasa The Boss Baby (2017) masih beberapa langkah di belakang Moana (2016) atau Zootopia (2016). The Boss Baby (2017) hanya mampu memperoleh nilai 2 dari skala maksimum 5 yang artinya “Kurang Bagus”.

Sumber: http://www.dreamworks.com/thebossbaby/

Dredd (2012)

Ketika masih SD dulu saya pernah menonton film dengan tema futuristik yang berjudul Judge Dredd (1995) yang diperankan oleh Sylvester Stallone. Film tersebut menampilkan aksi yang terbilang bagus untuk film keluaran tahun 1995, meskipun konon Judge Dredd (1995) dianggap sebagai salah satu film terburuk Sylvester Stallone, aktor laga yang sangat populet diera 90-an. Jauh 7 tahun kemudian, film mengenai Judge Dredd dihadirkan kembali melalui Dredd (2012).

Mirip seperti versi komik dan versi film tahun 1995, latar belakang Dredd (2012) adalah Bumi di masa depan yang penuh kehancuran. Di tengah-tengah wilayah yang tandus, terdapat Mega City 01, salah satu kota besar yang dapat dihuni manusia. Keterbatasan sumber daya dan kemiskinan menyebabkan kejahatan merajalela di dalam kota tersebut. Untuk mengatasi masalah ini, pihak pemerintah mengerahkan hakim jalanan yang berfungsi sebagai polisi, hakim, juri dan eksekutor.

Judge Joseph Dredd (Karl Urban) adalah salah satu hakim jalanan yang datang ke Peach Trees Tower untuk menyelidiki sebuah pembunuhan sadis. Di sana, Dredd berhasil menangkap seorang tersangka yang akan Dredd jebloskan ke penjara. Tapi sayang, sebelum Dredd beserta tawanannya dapat keluar dari Peach Trees, tiba-tiba gedung tersebut masuk ke mode darurat dan terkunci. Tidak ada yang dapat masuk atau keluar dari Peach Trees.

Gedung apa sebenarnya Peach Trees itu? Peach Trees adalah gedung kumuh yang dihuni oleh ratusan penduduk. Gedung yang dulunya dikuasai oleh beberapa geng ini, sekarang dikuasai oleh 1 geng yang dipimpin oleh Madeline “Ma-Ma” Madrigal (Lena Headey). Sekarang, Ma-Ma mengunci Dredd di dalam Peach Trees agar orang-orang suruhan Ma-Ma dapat membunuh Dredd.

Beruntung Dredd tidak sendirian, ia ditemani seorang mutant, Judge Cassandra Anderson (Olivia Thirlby). Cassandra dapat membaca pikiran dan memanipulasi pikiran orang lain. Tapi tetap saja, Dredd dan Cassandra hanya 2 hakim jalanan yang terjebak di dalam sarang geng sadisnya Ma-Ma. Gedung Peach Trees dihuni oleh banyak sekali anggota geng Ma-Ma, sementara itu sisanya hanyalah penduduk sipil biasa yang terlalu takut untuk menolong Dredd.

Aaahhh, Dredd (2012) sebenarnya mengingatkan saya kepada The Raid (2011). Jalan ceritanya mirip sekali, hanya saja penyampain Dredd (2012)  lebih bagus dan tidak terkesan hanya dar der dor saja. Saya rasa Dredd (2012) mampu memberikan cerita yang jelas dan tidak membosankan walaupun latar belakang lokasinya hanya di Prach Trees saja.

Untuk urusan action Dredd (2012) banyak menampilkan adegan yang keren tapi agak sadis sehingga tak layak ditonton anak-anak. Kostum pada film ini relatif lebih baik ketimbang kostum pada Judge Dredd (1995) tapi ya rasanya agak mengganjal terutama bagian helm Dredd yang secara logika harusnya menghalangi pandangan Dredd, helm begitu kok ya dipakai :’P.

Secara keseluruhan, Dredd (2012) masih layak untuk memperoleh nilai 3 dari skala maksimum 5 yang artinya “Lumayan”.  Tapi jangan ajak ana kecil tuk menonton film ini yaaa ;).

Sumber: http://www.dreddthemovie.com

Gods of Egypt (2016)

Cerita mengenai dewa Zeus, Hera, Hercules dan segala sesuatu terkait mitologi Yunani sudah sering sekali hadir dalam bentuk film. Kali ini Holywood mencoba peruntungan dengan mengangkat mitologi Mesir sebagai tema cerita melalui Gods of Egypt (2016). Kisah atau film mengenai Mesir selalu dikaitkan dengan Mumi dan Piramid, jarang sekali dewa-dewi Mesir diangkat ke layar lebar. Hal inilah yang membuat saya tertarik untuk menonton Gods of Egypt (2016).

Dikisahkan bahwa Mesir mengalami masa-masa penuh kedamaian di bawah kekuasaan Dewa Osiris (Bryan Brown), anak dari Dewa Ra (Geoffrey Rush). Sebagai pencipta manusia, Ra memilih untuk melindungi umat manusia dari angkasa. Sementara ini penguasaan atas Bumi diatur oleh anak-anak Ra yang hidup berdampingan dengan manusia.

Anak Ra memang bukan hanya Osiris seorang. Osiris memang memimpin Mesir dan para Dewa di Bumi, tapi ada dewa lain yang iri dan melakukan kudeta. Pada suatu kesempatan, Dewa Set (Gerard Butler) berhasil membunuh dan memutilasi Osiris. Tidak hanya itu, Set pun mengambil mata Dewa Horus (Nikolaj Coster-Waldau), anak Osiris.

Hidup buta dan terasing di padang pasir, Horus akhirnya memperoleh secercah harapan ketika Bek (Brenton Thwaites) berhasil membawakan salah satu mata Horus. Di sini, bagian tubuh dewa itu seolah seperti onderdil mobil yang dengan mudah dapat di bongkar pasan, Horus dapat langsung memasang dan menggunakan mata yang Bek bawa.

Dimanakah mata Horus yang satunya lagi? Bek bersedia membantu Horus untuk mencuri mata tersebut sekaligus merebut Mesir kembali, asalkan Horus bersedia menghidupkan kembali kekasih Bek, Zaya (Courtney Eaton). Horus menyetujui sesuatu yang belum tentu dapat ia penuhi. Terbutakan dengan api dendam, Horus melakukan apapun demi membunuh Set dan merebut kembali Mesir. Padahal esensi dari menjadi penguasa Mesir adalah peduli terhadap rakyat kecil dan melakukan perbuatan yang benar. Akankah Horus belajar?

Setahu saya, kisah pertikaian Horus dan Set tidak seperti ini yaaa. Agak melenceng dari sejarah aslinya, yaaaahh anggap saja Gods of Egypt (2016) sebagai kisah fantasi yang menggunakan mitologi Mesir sebagai temanya. Mirip yang sudah sering kali Hollywood lakukan pada mitologi Yunani.

Pada film-film mitologi Yunani, tokoh utama dan dewa-dewinya sering diperangkan oleh aktor/aktris kulit putih, itu masih ok-lah, Yunani kan bangsa yang mayoritas penduduknya orang kulit putih. Lha kalau Mesir? Saya pernah ke Mesir dan logat beserta fisik mereka jauh dari orang kulit putih. Bukannya sara yaaa, tapi agak aneh saja kok dalam Gods of Egypt (2016) tidak ada satupun dewa atau pemeran utama yang memiliki fisik bangsa Mesir. Padahal pemeran tentara, budak dan rakyatnya banyak diisi oleh aktor Mesir sepertinya :’D.

Semua rakyat pada film ini mirip orang Mesir kecuali Bek dan Zaya yang notabene menjadi tokoh utama pada film ini, aneeeehhh :P. Tokoh Bek dan Zaya pun rasanya kok mirip Aladin dan Yasmin yaaa? Hohohoho. Selain itu tokoh Set yang Gerard Butler perankanpun rasanya mirip dengan tokoh Raja Leonidas pada film 300 (2006) yaaa.

Beruntung Gods of Egypt (2016) masih memiliki cerita yang lumayan menarik meski agak klise dan mudah ditebak :). Saya tidak merasakan kantuk ketika menonton film ini, terlebih lagi ketika saya melihat beberapa special effect CGI (Computer-generated imagery) pada film ini. Sebagian memang keren, ambisi pembuatan film ini dapat saya lihat. Namun sebagian lagi. . . . . membuat saya tertawa, terutama terkait kostum para dewa Mesir yang super mengkilat, tak lupa darah emas yang keluar dari tubuh ketika terluka. Yaaa ampuun, kualitasnya terbilang buruk untuk film keluaran tahun 2016 yaaa. Ini dananya yang terbatas atau dananya dikorupsi yah kok bisa begini :’D.

Aaahhhh, dengan berat hati saya hanya mampu memberikan Gods of Egypt (2016) nilai 2 dari skala maksimum 5 yang artinya “Kurang Bagus”. Untunglah saya tidak menontonnya di Bioskop hehee.

Sumber: http://www.lionsgate.com/movies/godsofegypt/