Pride and Prejudice and Zombies (2016)

Pride and Prejudice and Zombies (2016) merupakan modifikasi dari sebuah novel romatis karya Jane Austen. Dikisahkan bahwa pada abad ke-19, Inggris berhasil menguasai banyak negara dan memperoleh harta yang melimpah. Banyak dari kalangan bangsawan Inggris pada saat itu, mengambil dan mempelajari seni, budaya dan ilmu beladiri Asia untuk memperkaya ilmu pengetahuan mereka.

Ditengah-tengah kejayaannya, hadir sebuah wabah misterius yang membuat manusia menjadi zombie. Penyakit ini menular melalui gigitan dan luka. Manusia yang tertular akan menjadi agresif dan memiliki naluri untuk menyantap otak manusia. Akibat wabah ini, Inggris membangun parit dan tembok besar di sekitar ibukota London. Tentara Inggris terus mendesak dan memburu para zombie hingga seakan-akan zombie akan kalah.

Melihat situasi yang semakin aman dan menguntungkan, para bangsawan keluar dari London untuk kembali menjalankan roda pemerintahan di wilayah-wilayah Inggris. Masa dan kondisi seperti inilah yang menjadi latar belakang Pride and Prejudice and Zombies (2016). Di tengah-tengah kewaspadaan akan bangkitnya para zombie, hadir drama romantis dengan Elizabeth Bennet (Lily James) sebagai tokoh sentralnya.

Elizabeth adalah anak dari salah bangsawan di wilayah Inggris. Hukum dan tradisi Inggris saat itu mengatur agar harta keluarga hanya akan jatuh ke tangan laki-laki. Sayangnya, semua adik-adik Elizabeth adalah perempuan, sehingga apabila ayah mereka tiada, seluruh harta keluarga mereka akan jatuh ke tangan sepupu laki-laki tertua mereka. Sang ibu kemudian melakukan berbagai usaha agar anak-anaknya dapat dipersunting oleh laki-laki dari keluarga kaya. Ooohhh lalu apakah Elizabeth justru akan jatuh cinta dengan laki-laki miskin seperti cerita-cerita sinetron Indonesia?

Ooo syukurlah tidak. Elizabeth justru berhasil menarik perhatian Fitzwilliam Darcy (Sam Riley), salah satu anggota keluarga terkaya di Inggris. Walaupun Elizabeth sebenarnya tertarik juga dengan Darcy, semakin hari citra Darcy di mata Elizabeth semakin memburuk. Darcy dikabarkan sebagai aktor dibalik berpisahnya Charles Bingley (Douglas Booth) dan Jane Bennet (Bella Heathcote). Jane adalah adik Elizabeth, sedangkan Bingley adalah pria kaya raya yang sudah lama bersahabat dengan Darcy. Selain itu, Darcy dikabarkan telah melakukan tindakan kurang terpuji kepada Letnan George Wickham (Jack Huston) dimasa lalu.

Semua drama di atas, dibalut dengan perang besar antara manusia dengan zombie. Tak lupa terdapat beberapa adegan perkelahian dengan pistol dan senjata tajam karena para bangsawan dikisahkan telah menguasai ilmu beladiri dari Cina dan Jepang. Tapi lucunya, di sana dikisahkan bahwa terdapat perbedaan kasta antara bangsawan yang belajar di Jepang dengan di Cina. Padahal ketika mereka semua berkelahi, tidak ada pembeda yang jelas antara lulusan Jepang dengan Cina. Beberapa adegan perkelahiannya diambil dengan jarak yang terlalu dekat, sempit dan gelap. Saya sendiri terkadang tidak tahu gerakan apa yang mereka lakukan :’D. Walaupun begitu, melihat Elizabeth dan adik-adiknya membawa pisau dan siap tempur, terbilang cukup bagus untuk dilihat. Metode yang Darcy pakai untuk melawan zombie pun nampak cerdas dan pantas untuk disaksikan.

Sayang kehadiran para zombie beserta teror yang mereka bawa tidak terlalu terasa, padahal ini merupakan perbedaan utama antara Pride and Prejudice and Zombies (2016) dengan Pride and Prejudice versi aslinya. Jalan cerita yang ditampilkan terkadang seperti terpisah dan agak dipaksakan terutama pada bagian akhir film, pada bagian setelah kebenaran akan semua yang menimpa Darcy. Sedikit kejutan memang muncul pada Pride and Prejudice and Zombies (2016), sebuah kejutan bagi saya yang belum pernah mengetahui cerita Pride and Prejudice sama sekali ;).

Mungkin zombie memang kurang dapat menyatu dengan baik dengan kisah romantisnya Pride and Prujudice. Tapi terus terang saya sepertinya akan tertidur pulas kalau saya harus menunton unsur Pride dan Prejudice saja, tanpa adanya zombie dan Elizabeth yang ahli Kungfu. Dengan demikian, saya memberikan Pride and Prejudice and Zombies (2016) nilai 3 dari skala maksimum 5 yang artinya “Lumayan”.

Sumber: sites.sonypictures.com/prideandprejudiceandzombies/discanddigital/

Iklan

Dunkirk (2017)

Dunkirk

Sudah banyak film yang mengangkat tema Perang Dunia II. Terus terang saya agak bosan dengan tema yang satu itu. Oleh karena itu, saya agak telat menontom Dunkirk (2017) sebab film ini tidak masuk ke dalam daftar film yang hendak saya tonton. Mendengar banyaknya pujian bagi Dunkirk (2017), akhirnya saya memilih untuk menonton Dunkirk (2017) di tengah-tengah sebuah perjalanan panjang. Ahhhh, daripada melamun, toh saat itu saya tidak dapat tidur x__x.

Siapa atau apa itu Dunkirk? Awalnya saya kira itu nama tokoh utamanya hehehehe. Ternyata Dunkirk merupakan bagian dari wilayah Perancis yang dilanda peperangan pada tahun 1940. Pada tahun 1940, pasukan sekutu yang terdiri dari pasukan Inggris dan Perancis, terpukul mundur oleh pasukan Jerman. Pasukan sekutu terus mundur ketika berusaha mempertahankan wilayah Perancis agar tidak dikuasai Jerman. Di daerah Dunkirk-lah banyak pasukan sekutu yang terjebak di sekitar pesisir pantainya. Mereka harus bertahan menghadapi gempuran angkatan darat dan udara Jerman yang terus menghalangi mereka untuk menaiki kapal ke wilayah yang masih dikuasai sekutu. Misi evakuasi pasukan sekutu dari Dunkirk-lah yang menjadi tema utama Dunkirk (2017). Uniknya, evakuasi ini dikisahkan dari 3 sudut pandang, yaitu darat, laut dan udara.

Di darat, Tommy (Fionn Whitehead), seorang serdadu Inggris yang kehilangan semua rekan satu timnya, berusaha untuk menaiki kapal dan pulang ke Inggris. Masalahnya, antrian untuk meniki kapal penjemput sangat panjang. Jumlah prajurit sekutu yang hendak dievakuasi, jauh lebih banyak ketimbang jumlah kapal penjemput. Belum lagi terdapat pesawat tempur Jerman yang terkadang datang dan menyerang dari udara. Tommy dan prajurit sekutu lainnya membutuhkan bantuan dari pihak lain, mereka tidak akan selamat kalau hanya mengandalkan kapal penjemput yang ada saja.

Dunkirk

Dunkirk

Dunkirk

Dunkirk

Dunkirk

Dunkirk

Dunkirk

Dunkirk

Bantuan bagi Tommy datang dari laut. Pihak Inggris meminta bantuan nelayan-nelayan untuk membantu menjemput para prajurit sekutu yang terjebak di Dunkirk. Diantara para nelayan pemberani tersebut, Dawson (Mark Raylance), Peter (Tom Glynn-Carney) dan George (Barry Keoghan). Ketiganya menaiki kapal mereka, Moostone, dari Weymouth menuju Dunkirk untuk mengevakuasi para prajurit sekutu. Dalam perjalanannya, mereka menyelamatkan seorang prajurit sekutu yang mengalami shock dan trauma. Konflik di laut terjadi ketika si prajurit panik ketika mengetahui bahwa kapal yang ia naiki bukan mengarah pulang, melainkan ke arah sebaliknya. Masalah bertambah ketika kapal nelayan mereka mendekati wilayah pantai Dunkirk. Di sana mereka harus menyelamatkan pasukan-pasukan sekutu yang berenang sambil ditembaki oleh pesawat Jerman dari udara. Beruntung, di udara ada pesawat tempur Inggris yang berusaha memuluskan proses evakuasi.

Dunkirk

Dunkirk

Dunkirk

Dunkirk

Dunkirk

Di udara terdapat 3 pesawat tempur Inggris yang berusaha menembak jatuh pesawat Jerman yang terus menerus menembaki prajurit sekutu di Dunkirk. Sayang hanya pesawat tempur yang dikemudikan Farrier (Tom Hardy) saja yang dapat terus melanjutkan misi.

Dunkirk

Dunkirk

Dunkirk

Dunkirk

Tommy yang berusaha pulang, nelayan kapal Moonstone yang berusaha menjemput, dan pesawat tempur Farrier yang berusaha memberikan dukungan dari udara, pada akhirnya saling berpapasan pada adegan klimaks Dunkirk (2017). Hebatnya, aroma tegang dan teror dapat dimunculkan tanpa karakter antagonis utama. Saya hanya melihat beberapa serdadu Jerman dan pilot Jerman yang tidak nampak terlalu dominan pada Dunkirk (2017). Adegan peperangan pada film ini pun terbilang seru dan lengkap. Ada peperangan di darat, laut dan udara. Konflik-konflik yang adapun dapat disuguhkan dengan apik. Saya sangat setuju kalau Dunkirk (2017) layak untuk mendapatkan nilai 4 dari skala maksimum 5 yang artinya “Bagus”. Satu karya spektakuler lagi dari Om Christopher Nolan sebagai sang sutradara. Ia berhasil meramu sebuah peritiwa yang benar-benar pernah terjadi, menjadi suguhan yang menarik untuk ditonton.

Sumber: http://www.dunkirkmovie.com

Wonder Woman (2017)

Kehadiran “dadakan” Wonder Woman (Gal Gadot) pada Batman V Superman: Dawn of Justice (2016) dengan diiringi musik karya Hans Zimmer, cukup menyita perhatian karena pertarungan dengan iringan musik tersebut terasa keren. Andaikata saya belum menonton Batman V Superman: Dawn of Justice (2016), sudah pasti saya malas menonton Wonder Woman (2017). Terus terang saya tidak suka dengan Wonder Woman setelah bermain Injustice dan menonton Justice League: The Flashpoint Paradox (2013). Di sana, Wonder Woman nampak terlalu emosional dan menyebalkan :(. Apakah Wonder Woman pada Wonder Woman (2017) akan nampak seperti itu? Semoga saja tidak hehehe.

Kisah pada Wonder Woman (2017) diawali dengan sebuah foto masa lalu Wonder Woman atau Diana (Gal Gadot). Pada Batman V Superman: Dawn of Justice (2016), kita memang diperlihatkan foto-foto Wonder Woman di masa lampau. Nah setelah peristiwa pada Batman V Superman: Dawn of Justice (2016), cetakan asli foto tersebut dikirim kepada Wonder Woman. Wonder Woman kemudian mulai bercerita akan masa lalunya, bagaimana ia pertama mengenal dunia manusia. Aaaahhh film Wonder Woman (2017) ternyata mengisahkan asal mula Wonder Woman, bukan kisah setelah pertarungan besar pada Batman V Superman: Dawn of Justice (2016).

Berbeda dengan Superman dan Batman, ternyata tokoh Wonder Woman erat sekali dengan mitologi Yunani. Sejak kecil, Diana atau Wonder Woman, tinggal di pulau Themyscira bersama dengan ibunya, ratu suku Amazon. Pulau Themyscira hanya dihuni wanita dan pulau tersebut selalu diselimuti kabut dan perisai kasat mata sehingga tidak dapat dilihat oleh manusia biasa. Itu adalah anugrah Zeus, raja para dewa Olimpus, kepada suku Amazon yang menghuni pulau Themyscira. Zeus melakukan ini agar suku Amazon dapat tersembunyi dari Ares, dewa perang. Alasan utama kenapa Zeus melakukan ini akan terjawab pada bagian akhir film lho hohohoho.

Tumbuh di tengah-tengah suku Amazon yang perkasa membuat Diana ikut tumbuh menjadi pejuang Amazon yang handal. Namun Diana selalu saja berbeda, seolah ada sesuatu yang lain di dalam diri Diana. Aaahhhh ini juga akan dijelaskan pada bagian akhir film. Saya tidak akan membeberkan spoiler di sini.

Kehidupan Diana dan suku Amazon berlangsung penuh kedamaian sampai Steve Trevor (Chris Pine) terdampar di pesisir pantai Themyscira. Dari mulut Steve, diperoleh informasi bahwa dunia sedang mengadapi perang, terjadi perang di mana-mana. Setting Wonder Woman (2017) memang di era perang dunia pertama di mana terjadi perang antara blok sekutu dan blok sentral. Pada saat itu Steve yang berasal dari Inggris (bagian dari blok sekutu) menemukan informasi bahwa Jerman (bagian dari blok sentral) mengembangkan senjata pemusnah masal padahal sebentar lagi pemimpin Jerman akan menyatakan pernyataan menyerah. Apabila Jerman menyerah, maka dapat dikatakan bahwa perang dunia berakhir dan dunia kembali damai.

Pengembangan senjata pemusnah masal terus dilakukan oleh Jendral Erich Ludendorff (Danny Huston) dan Doctor Poison (Elena Ayala), untuk menggagalkan acara deklarasi pernyataan menyerah Jerman kepada Sekutu. Usaha keduanya membuahkan hasil ketika senjata pemusnah masal yang dikembangkan, telah berhasil dan siap untuk diujicobakan.

Steve dan Diana beserta beberapa rekan Steve, pergi menuju garis depan peperangan untuk menghentikan perang. Steve dan Diana pergi bersama-sama tapi dengan target yang sedikit berbeda. Steve pergi untuk menghentikan rencana Doctor Poison dan Jendral Lodendorff. Sementara itu Diana pergi untuk menemukan dan membunuh Ares. Diana yakin bahwa perang yang terjadi merupakan ulah Ares, Ares mempengaruhi manusia untuk saling bunuh. Apabila Ares mati, maka dunia akan damai tanpa ada bunuh membunuh. Tapi, bukankah setiap manusia sebenarnya memiliki hawa nafsu dan sisi kelam? Konsep kehidupan tersebut nampaknya tidak Diana ketahui sebab sejak kecil Diana memang tidak pernah pergi dari pulau Themyscira. Perjalanan bersama Steve adalah perjalan pertama Diana di luar pulau.

Ketidaktahuan Diana mengenai kondisi dan kenyataan dunia luar berhasil dimanfaatkan dengan baik sehingga mampu membuat saya tertawa. Sangat berbeda dengan film layar lebar superhero DC Comics sebelumnya, Wonder Woman (2017) tidak terlalu kelam dan diselingi oleh beberapa adegan komedi yang lucu. Hal ini didukung dengan baik sekali oleh Christ Pine sebagai pemeran Steve Trevor. Romansa antara Wonder Woman dan Steve pun nampak apik di sana. Jadi di Wonder Woman (2017) tidak hanya aksi bak bik buk saja, ada komedi dan romansa di sana.

Dengan didukung oleh special effect dan kostum yang bagus, adegan aksi pada Wonder Woman (2017) terbilang bagus dan enak dilihat :). Tapi menurut saya adegan aksinya terlihat bagus sekali ketika diiringi oleh lagu tema Wonder Woman karya Hans Zimmer. Ketika lagu pengiringnya diubah ke lagu lain, rasanya agak berbeda. Pertarungan puncak pada Wonder Woman (2017) justru menggunakan lagu pengiring lain yang biasa-biasa saja sehingga pertarungan tersebut terasa seperti antiklimaks.

Semuanya berhasil mendukung sebuah cerita yang nyaman untuk diikuti meskipun memakan waktu sekitar 2 jam. 2 jam? Ya, durasi film ini sekitar 2 jam hohohoho. Tapi jalan ceritanya tetap ok kok, fakta tentang Ares-pun tidak saya duga sebelumnya, ternyata Ares itu . . . . . 🙂

Secara keseluruhan, DC Comics telah melakukan perbaikan kualitas film superhero-nya melalui Wonder Woman (2017). Film ini layak untuk memperoleh nilai 4 dari skala maksimum 5 yang artinya “Bagus”. Penilaian saya ini dibuat terlepas dari kenyataan bahwa pemeran utama Wonder Woman (2017), Gal Gadot, merupakan seorang Israel yang pernah melakukan wajib militer selama 2 tahun. Pemutaran film ini di bioskop ditolak keras oleh pemerintah Lebanon. Yaaahhh, menonton film kan tidak selalu harus di bioskop bukan? Walaupun rasanya Wonder Woman (2017) termasuk film yang lebih bagus kalau ditonton di bioskop ;).
Sumber: wonderwomanfilm.com

Ghost in the Shell (2017)

攻殻機動隊 atau Mobile Armored Riot Police atau Ghost in the Shell merupakan manga asal Jepang, karya Masamune Shirow, yang sudah hadir pula dalam wujud film animasi dan video games. Mengikuti Parasyte, Crows Zero, Rurouni Kenshin dan lain-lain, Ghost in the Shell kali ini hadir versi film layar lebarnya. Sebenarnya saya belum pernah membaca manga atau menonton versi animasinya. Tapi saya tertarik begitu melihat trailer-nya yang memukau :).

Dikisahkan bahwa di masa depan, batas pembeda antara mesin dan manusia semakin memudar. Dengan semakin majunya teknologi, semakin banyak manusia yang mengganti atau membalut organ tubuhnya dengan mesin untuk berbagai keperluan. Hanka Robotics, sebagai salah satu perusahaan teknologi terbesar di dunia, melakukan terobosan baru dengan menggabungkan mesin dan otak manusia. Jadi, semua organ yang disebut shell, adalah mesin. Yang mengendalikan organ tersebut adalah otak manusia, bukan lagi AI yang pada saat itu sudah lazim dilakukan. Dengan penggabungan ini, Hanka Robotics mengharapkan terjadinya kesempurnaan. Sebuah tubuh mesin dengan kemampuan mengambil keputusan layaknya manusia biasa.

Dari berbagai percobaan gagal, akhirnya Mira Killian (Scarlett Johansson) berhasil menjadi karya Hanka Robotics pertama yang stabil dan nampak normal. Mira kemudian ditugaskan untuk bergabung dengan Section 9, sebuah unit antiteroris yang beroperasi di Jepang. Karena kemampuannya, Mira memperoleh promosi sampai ia memperoleh pangkat Mayor di sana, julukan Mira pun berubah menjadi Mayor.

Pada Ghost in the Shell (2017) Mayor dan Section 9 berhadapan dengan teroris misterius yang membunuh ilmuwan-ilmuwan Hanka Robotics. Semakin lama, Mayor menemukan fakta bahwa kasus ini ternyata berkaitan erat dengan masa lalu Mayor. Kebohongan demi kebohongan akhirnya terkuak. Sayang kebohongan yang terkuak bukanlah kejutan bagi saya. Semuanya klise dan mudah sekali ditebak. Semuanya terasa datar tanpa klimaks. Sayang sekali, padahal Robocop versi Jepang ini memiliki peluang untuk menampilakn cerita yang lebih baik lagi. Robocop (2014) saja bisa, kenapa yang ini tidak?

Beruntung Ghost in the Shell (2017) didukung dengan visual yang memukau. Gambaran latar belakang tempat Mayor dan kawan-kawan beraksi nampak bagus sekali. Adegan aksinya pun terbilang bagus karena terdapat efek yang bagus di mana-mana. Kostumnya juga dapat mendukung semua itu sehingga Ghost in the Shell (2017) terlihat futuristik tapi tetap realistis.

Dari tampilannya, sepertinya latar belakang Ghost in the Shell (2017) adalah Jepang di masa depan. Tapi kok protagonis utamanya justru bukan orang Jepang, yang dipilih justru wajah Amerika-nya Scarlett Johansson. Hal ini tambah lagi dengan dipergunakannya aktor-aktor non Jepang lain yang mengisi mayoritas peran-peran pembantu utama. Whitewashing benar-benar terasa kental pada film ini. Apakah hal ini dilakukan karena wajah kulit putih Hollywood dianggap lebih komersil? Ah kalau berlebihan seperti ini ya justru agak aneh jadinya hehehe. Selain itu saya tidak melihat karakter yang kuat dari film ini. Seperti jalan ceritanya, tidak ada emosi atau sesuatu yang greget dari tokoh-tokoh yang ada.

Berkat visual, kostum dan aksi yang di atas rata-rata, Ghost in the Shell (2017) masih terselamatkan dan masih dapar memperoleh nilai 3 dari skala maksimum 5 yang artinya “Lumayan”.

Sumber: www.ghostintheshellmovie.com

Independence Day: Resurgence (2016)

Independence Day 1

Masih segar diingatan saya, pada tahun 1996, saya bersama ibu dan almarhum bapak saya menonton Independence Day (1996) di Buaran Theater. Film tersebut termasuk film favorit saya, entah karena memang filmnya bagus, atau karena saat menonton film tersebut, formasi keluarga saya lengkap, tidak ada yang absen :D. Pada Independence Day (1996),  dikisahkan bahwa Bumi diserang oleh mahluk luar angkasa misterius yang berusaha membor inti Bumi. Umat manusia akhirnya menang setelah Kapten Steven Hiller (Will Smith) membombandir pesawat induk mahluk luar angkasa dengan dibantu oleh virus komputer ciptaan David Levinson (Jeff Goldblum). Semua terjadi pada tanggal 4 Juli 1996, hari raya kemerdekaan Amerika Serikat, ahhhh kenapa tidak 17 Agustus yaaa :P.

Pada Independence Day: Resurgence (2016), karakter David Levinson kembali hadir. Tapi Steven Hiller tidak muncul, mungkin karena bayaran aktor pemerannya terlalu mahal? Hehehe, nama Will Smith, pemeran Hiller, memang sedang mencuat ke atas. Maka, pada Independence Day: Resurgence (2016), hadir Hiller yang lain yaitu Dylan Dubrow-Hiller (Jessie Usher), anak Steven Hiller. Sama seperti ayahnya, Dylan Dubrow-Hiller berprofesi sebagai pilot pesawat tempur. Pesawat yang Hller kendalikan dan berbagai senjata milik pihak militer sudah menggunakan teknologi alien yang gagal menguasai Bumi pada 1996.

Independence Day 8

20 tahun setelah kegagalan tersebut, mahluk luar angkasa kembali hadir dengan kemampuan tempur yang lebih canggih, lebih banyak dan lebih besar. Semua persenjataan yang pihak militer Bumi miliki nampak seperti remeh-remeh yang beterbangan tanpa arah x__x. Apakah yang kali ini akan Levinson dan Hiller lakukan? Levinson kembali menggunakan memampuan analisanya dan Hiller menggunakan keahliannya mengendalikan pesawat tempur. Selain Hiller dan Levinson, hadir pula Jake Morrison (Liam Hemsworth), pilot pesawat tempur dengan kemampuan yang menonjol. Namun Jake dan Hiller bukanlah kawan, perseteruan di masa lampau telah merusak persahabatan mereka, mampukah mereka bekerjasama?

Independence Day 3

Independence Day 16

Independence Day Resurgence

Independence Day 15

Saya tidak melihat kejutan atau sesuatu yang baru pada Independence Day: Resurgence (2016). Semuanya nampak biasa dan datar-datar saja :(. Special effect yang disajikan memang terbilang bagus, bencana dan peperangan yang hadir lumayan seru, tapi tetap tidak mampu mendongkrak jalan cerita yang tidak terlalu menarik dan terlalu Amerika. Di sana ditunjukkan bahwa seolah-olah Amerika Serikat merupakan raja dan pusat dari segalanya, padahal kan Bumi itu bukan hanya Amerika saja.

Independence Day 13

Independence Day 5

Independence Day 12

Independence Day 11

Independence Day 14

Independence Day 10

Independence Day 4

Independence Day 9

Independence Day 6

Independence Day 7

Amerika yang mendominasi film ini nampak berbeda karena kehadiran teknologi alien memang membuat keadaan 2016 di film berbeda dengan keadaan 2016 di dunia nyata. Hal ini rasanya tidak mampu memberikan nilai plus bagi Independence Day: Resurgence (2016) secara keseluruhan, bahkan film ini jadi nampak tidak apa adanya dengan cara yang kurang pas. Terus terang saya lebih suka Independence Day (1996) dibandingkan Independence Day: Resurgence (2016). Sayang sekali tapi Independence Day: Resurgence (2016) hanya mampu memperoleh nilai 2 dari skala maksimum 5 yang artinya “Kurang Bagus”.

Sumber: www.warof1996.com

Star Wars: The Force Awakens (2015)

Force Awakens 1

A long time ago in galaxy far far away….

Kalau kata-kata di atas muncul pada bagian awal film yang teman-teman tonton, maka pastilah teman-teman sedang menonton film Star Wars, film fiksi ilmiah legendaris besutan Opa George Lucas. Pada tanggal 18 Desember tahun ini, hadir film layar lebar Star Wars terbaru, Star Wars: The Force Awakens (2015). Film ini dapat dikatakan sebagai Star Wars episode VII karena Star Wars: The Force Awakens (2015) mengambil latar belakang 30 tahun setelah duel antara Darth Vader dengan Luke Skywalker berakhir pada Star Wars Episode VI: Return of the Jedi (1983).

Luke Skywalker (Mark Hamill) menghilang setelah mengalami sebuah tragedi dengan murid yang ia latih. Dengan hadirnya First Order sebagai pengganti Galactic Empire yang dulu Luke tumbangkan, dunia membutuhkan seorang jedi, tentunya Luke adalah yang dicari sebab Luke adalah jedi terakhir yang hidup. Mirip seperti Galactic Empire, First Order dipimpin dan dihuni oleh sith, prajuritnya pun menggunakan seragam stormtrooper ala Galactic Empire. Siapa lawan First Order? Kaum pemberontak yang dipimpin oleh Jendral Leia Organa (Carrie Fisher), saudara dari Luke sekaligus istri dari Han Solo (Harrison Ford).

Force Awakens 2

Force Awakens 8

Kaum pemberontak mengirim pilot terbaiknya, Poe Dameron (Oscar Isaac), untuk melacak keberadaan Luke. Ketika Poe berhasil menemukan sepotong peta yang mampu menunjukkan keberadaan Luke, sepasukan storntrooper yang dipimpin oleh seorang sith, Kylo Ren (Adam Driver), berhasil menangkap Poe. Sebelum tertangkap, Poe berhasil menitipkan peta tersebut pada droid BB-8 yang wujudnya mirip droid R2-D2 pada Star Wars Episode IV: A New Hope (1977). Aaahhhh perjalanan BB-8 selanjutnya pun mirip perjalanan R2-D2 pada Star Wars Episode IV: A New Hope (1977). Dalam perjalanannya BB-8 kemudian bertemu dengan Rey (Daisy Ridley) dan Stormtrooper FN-2187 / Finn (John Boyega). Siapakah kedua mahluk ini? Finn merupakan mantan stormtrooper bawahannya Kylo Ren yang kabur dan berhianat. Sedangkan Rey adalah pengumpul barang-barang bekas dengan masa lalu yang misterius.

Force Awakens 7

Force Awakens 13

Force Awakens 15

Force Awakens 5

Force Awakens 3

Force Awakens 10

Rey & Finn kemudian berencana untuk mengantarkan BB-8 dan peta akan keberadaan Luke kepada kaum pemberontak. Dalam perjalannya mereka bersinggungan Han Solo, Chewbacca (Peter Mayhew) dan Kylo Ren. Tak disangka Rey & Finn semakin terlibat ke dalam petikaian antara First Order dengan kaum pemberontak. Kisah selanjutnya, silahkan tonton sendiri, saya tidak akan menulis spoiler di sini :).

Saya melihat awal kisah Star Wars: The Force Awakens (2015) memiliki banyak kemiripan dengan Star Wars Episode IV: A New Hope (1977). Sebuah pesan penting dititipkan kepada sebuah droid, kemudian droid tersebut bertemu dengan orang-orang yang akan terlibat lebih jauh terkait dengan infromasi yang droid tersebut bawa. Latar belakangnya saja sama-sama gurun, pakaian yang Rey kenakan pun mengingatkan saya akan salah satu karakter utama pada Star Wars Episode IV: A New Hope (1977), aaahhh sepertinya sudah bisa ditebak siapakah Rey sebenarnya.

Force Awakens 16

Force Awakens 9

Petualangan Rey terbilang seru walaupun plotnya benar-benar plot klasik Star Wars, yaitu terdapat peperangan antara kesatria jedi dan kesatria sith. Jedi dapat berubah menjadi sith dan sebaliknya pun sith dapat berubah menjadi jedi karena keduanya sama-sama mengendalikan kekuatan yang disebut the force. Jedi mengambil segala kebaikan yang ada di dalam diri untuk mengendalikan the force, sementara itu sith menjadikan segala kejahatan yang ada di dalam diri untuk mengendalikan the force. Sith dan jedi pada film-film Star Wars biasanya memiliki hubungan kekerabatan yang dekat lhooo, ;). Perkelahian antara sith dengan jedi yang menggunakan pedang laser selalu menjadi daya tarik tersendiri yang membuat saya ingin menonton film Star Wars.

Force Awakens 17

Force Awakens 14

Force Awakens 4

Force Awakens 11

Satu lagi plot klasik Star Wars yang terdapat pula pada Star Wars: The Force Awakens (2015), terdapatnya senjata mutakhir yang mampu menghancurkan planet. Kalau dulu ada Death Star, sekarang ada juga senjata yang mirip seperti itu dan pasti melibatkan pertempuran dengan pesawat-pesawat luar angkasa, yaaah jadulnya saja Star Wars, perang antar bintang :D. Mirip seperti pendahulunya, Star Wars: The Force Awakens (2015) menampilkan pertempuran yang komplet meskipun terdapat banyak “kebetulan yang menyenangkan” pada beberapa bagiannya. Tokoh protagonisnya beberapa kali memperoleh hal-hal yang mereka butuhkan atau mereka cari dengan relatif mudah padahal kalau dipikir pakai logika yaa seharusnya itu susah diperoleh, entah sudah pergi ke dukun mana kok mereka hoki terus yaaa? :P.

Force Awakens 6

Force Awakens 18

Force Awakens 19

Karena Star Wars selalu hadir dalam bentuk trilogi seperti Trilogi Star Wars original dan Trilogi Prequel Star Wars, saya yakin Star Wars: The Force Awakens (2015) akan mampu hadir sebagai awal dari trilogi yang keren. Jangan harap semua lawan Rey akan tewas pada Star Wars: The Force Awakens (2015) karena akan ada film keduanya, hehehehe ;).

Pada film-film Star Wars sebelumnya, Luke Skywalker selalu menjadi tokoh utama yang tak tergantikan. Untuk menggantikan Luke bukanlah hal yang mudah, olehkarena itulah dibutuhkan kisah transisi seperti Star Wars: The Force Awakens (2015). Saya melihat Star Wars: The Force Awakens (2015) menjadi jembatan bagi Luke, Han Solo dan kawan-kawan yang sudah tua untuk pensiun dan digantikan oleh generasi baru yang masih muda dan segar seperti Rey, Finn dan Poe. Saya kurang tahu apakah Opa Lucas dan Opa Abrahams sedang latah atau tidak. Mereka menggantikan peranan Luke menjadi Rey yang perempuan. Sepertinya hal ini dipengaruhi oleh trilogi-trilogi yang sukses dengan mengusung tokoh wanita sebagai tokoh utamanya seperti Trilogi Hunger Games, Trilogi Twilight dan film Divergent (2014) yang belum lengkap menjadi trilogi. Bagi saya pribadi, Luke Skywalker tetap tidak tergantikan dan Star Wars: The Force Awakens (2015) rasanya masih belum sebaik film-film pada Trilogi Star Wars original. Namun bagaimanapun juga, Star Wars: The Force Awakens (2015) berhasil menghibur penontonnya dan mampu mengobati kerinduan penggemar Star Wars akan sebuah kisah baru yang segar. Terlebih lagi kita dapat menyaksikan aksi Iko Uwais, Yayan Ruhiyan dan Cecep Arif Rahman pada film tersebut, meskipun tidak sampai 5 menit hehehehe. Geng Kanjiklub yang mereka perankan serasa hanya “numpang lewat” saja memang. Dengan demikian, Star Wars: The Force Awakens (2015) masih layak untuk memperoleh nilai 4 dari skala maksimum 5 yang artinya “Bagus”. May the Force be with you.

Sumber: www.starwars.com/films/star-wars-episode-vii-the-force-awakens

Jupiter Ascending (2015)

Jupiter Ascending

Awal tahun 2015 ini hadir film Jupiter Ascending (2015) hasil besutan Wachowski bersaudara, sutradara The Matrix (1999) yang merupakan salah satu film favorit saya :). Mirip dengan The Matrix (1999) yang mengisahkan bagimana seorang biasa bertransformasi menjadi seseorang yang luar biasa, Jupiter Ascending (2015) mengisahkan bagaimana Jupiter Jones (Mila Kunis) berubah dari seorang pembersih rumah menjadi salah satu penguasa planet-planet yang di alam semesta.

Jupiter Jones adalah seorang anak yatim yang hidup bersama ibu, om, tante dan sepupunya di Bumi. Jupiter bekerja sebagai pembersih rumah, yaaah kalau di Indonesia istilah kerennya pembantu rumah tangga paruh waktu :’). Nasib Jupiter berubah 180 derajat ketika pada suatu hari ada beberapa mahluk asing berusaha membunuh Jupiter. Beruntung Caine Wise (Channing Tatum) datang menolong tepat sebelum Jupiter tewas. Apa motif dari usaha pembunuhan ini?

Jupiter Ascending 11

Jupiter ternyata memiliki DNA yang sama persis dengan DNA mendiang ibu dari Balem Abrasax (Eddie Redmayne), Kalique Abrasax (Tuppence Middleton) & Titus Abrasax (Douglas Booth). Keluarga Abrasax adalah keluarga bangsawan dari mahluk luar angkasa yang memiliki beberapa planet di alam semesta termasuk Bumi. Tanpa manusia sadari, Bumi ternyata dimiliki oleh mahluk luar angkasa dan manusia ternyata diperlakukan sebagai ternak sekaligus investasi jangka panjang keluarga Abrasax. Pada saatnya nanti, keluarga Abrasax akan menghancurkan kehidupan di Bumi dan menciptakan suatu komoditi yang terbuat dari manusia.

Jupiter Ascending 8

Bumi adalah planet paling berharga yang dimiliki keluarga Abrasax karena padatnya populasi manusia di Bumi. Sebelum keberadaan Jupiter diketahui, Bumi menjadi milik Balem Abrasax. Namun dengan hadirnya Jupiter, Bumi otomatis akan menjadi milik Jupiter karena hierarki DNA Jupiter berada di atas Balem.

Untuk mengklaim Bumi sebagai miliknya, Jupiter harus melalui berbagai proses birokrasi. Selama proses pengangkatan ini berlangsung, Balem, Titus dan Kalique melancarkan berbagai manuver licik dengan tujuan personal masing-masing. Manuver-manuver licik ketiga mahluk tersebut beberapa kali menempatkan Jupiter pada keadaan yang berbahaya. Beberapa kali pula Caine hadir untuk menyelamatkan calon ratu keluarga Abrasax tersebut.

Jupiter Ascending 17

Jupiter Ascending 18

Jupiter Ascending 15

Jupiter Ascending 7

Jupiter Ascending 23

Taktik-taktik licik keluarga Abrasax memang bermacam-macam dan lumayan menarik untuk ditonton, namun tidak terlalu “wah”. Apalagi penyelesainnya pasti bagitu-begitu saja, Caine datang dan semua beressss, solved x__x.

Jupiter Ascending 6

Jupiter Ascending 1

Jupiter Ascending 16

Jupiter Ascending 19

Walaupun jalan ceritanya tergolong biasa dan sedikit membosankan, kostum & special effect yang dihadirkan Jupiter Ascending (2014) termasuk kereeeeen. Mendengar nama Wachowski, saya yakin Jupiter Ascending (2015) pasti menampilkan special effect yang memukau. Sayapun baru minggu lalu menonton Jupiter Ascending (2015) di Studio IMAX XXI 8-). Tidak rugi saya menontonnya di Studio IMAX XXI yang berlayar lebar dan 3D, puassss.

Jupiter Ascending 10

Jupiter Ascending 3

Jupiter Ascending 4

Jupiter Ascending 22

Jupiter Ascending 21

Jupiter Ascending 9

Jupiter Ascending 13

Jupiter Ascending 12

Jupiter Ascending 2

Jupiter Ascending 5

Jupiter Ascending 20

Jupiter Ascending 14

Dengan demikian, Jupiter Ascending (2015) layak untuk mendapat nilai 3 dari skala maksimum 5 yang artinya “Lumayan”. Walaupun Jupiter Ascending (2015) memiliki kelebihan dari sisi special effect, kelebihan tersebut tidak mampu mengangkat penilaian saya. Menurut saya The Matrix (1999) masih menjadi karya terbaik Wachowski bersaudara.

Sumber: http://www.jupiterascending.com