Tuang Pancake-na Budak Sunda di Soerabi Enhaii

Soerabi Enhaii 1

Selain sate kambing, serabi atau surabi adalah salah satu makanan favorit bapak saya. Surabi sendiri sebenarnya mirip makanan bule yang bernama pancake, kalau di daerah Solo dikenal dengan nama serabi, sedangkan kalau di daerah Jawa Barat dikenal dengan nama surabi. Surabi terbuat dari tepung beras & santan cair yang biasanya dibakar dengan menggunakan tungku tanah liat. Nah, selama ini, surabi di mata saya identik dengan kue manis berbentuk bundar gepeng dengan warna hijau & bagian renyah di bagian pinggirannya serta disiram saus kinca berwarna coklat. Itulah bentuk serabi yang biasa dijual oleh abang-abang dekat rumah saya :).

Surabi yang disajikan di Soerabi Enhaii tentunya tidaklah sama dengan deskripsi saya tadi. Surabi yang disajikan oleh Soerabi Enhaii berbentuk bulat dan memiliki diameter yang besar serta lapisan yang tebal. Ketika masih dalam keadaan polos & belum dibumbuipun, rasa surabinya empuk dan sedikit manis gurih. Kemudian surabi tersebut ditaburi aneka topping mulai dari yang asin seperti kornet, oncom, keju, sosis, ayam, sampai topping yang manis seperti susu, kinca, coklat, strawberry, pisang, kacang, duren.

Soerabi Enhaii 4

Soerabi Cornet Spesial

Soerabi Enhaii 5

Soerabi Durian Coklat Keju

Soerabi Enhaii 6

Soerabi Oreo Keju

Soerabi Enhaii 7

Soerabi Oreo Es Krim Strawberry

Seporsi surabi Soerabi Enhaii hampir cukup memenuhi isi lambung saya, porsinya sedang-sedang saja, yaaa namanya juga surabi, tetap saja lebih kenyang makan nasi, hehehehe. Soerabi Enhaii kadang buka di lokasi yang sama dengan Batagor Ikhsan, Bubur Ayam Barito & Kawa Kopitiam. Konon restoran-restoran tersebut masih 1 manajemen dengan Batagor Enhaii. Saya sendiri baru mencicipi Batagor Kuah & Siomay Batagor di Baragor Ihsan, rasa ikannya tidak terlalu kental, tidak terlalu istimewa rasanya.

Batagor Ihsan 1

Batagor Kuah

Batagor Ihsan 2

Siomay Batagor

Awalnya Soerabi Enhaii buka di Bandung, tepatnya di Jl. Setiabudi, dekat dengan kampus NHI. Kemudian sekarang Soerabi Enhaii sudah berekspansi sampai ke Jabodetabek & Palembang. Setahu saya, Soerabi Enhaii sudah buka cabang di:

  • Jl. Setiabudi No. 137, Bandung, Jawa Barat. (022) 76966333.
  • Jl. Akhmad Dahlan No.22 A, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan. Telp. (021) 7232569 / (021) 739398.
  • Jl. Pemuda No. 18 (depan Lab School), Jakarta Timur. Telp. (021) 4758486.
  • Jl. Margonda Raya No. 477, Pondok Cina, Depok, Jawa Barat. Telp. (021) 29402362 / 29402363
  • Jl. Taman Kencana No.3 Agripark Sempur, Bogor, Jawa Barat. Telp. (0251) 9623 500 / 0878 8898 3500.
  • Jl. H. Zainal Abidin (samping Universitas Teknokrat), Pagar Alam, Lampung, Sumatera Selatan. Telp. (0721) 774999.
  • Jl. Sudriman No. 1 The Hok, Jambi. Telp. (0741) 3007777.
  • Jl. Tasik No. 5 (Kambang Iwak), Palembang, Sumatera Selatan. Telp. (0711) 356382
  • Jl. Batang Kampar No. 3A/3B, Gor H.Agus Salim, Padang, Sumatera Barat. Telp. (0751) 445867.
  • Jl. Hayam Wuruk No. 47, Padang, Sumatera Barat. Telp. (0751) 25747.
  • Jl. Sudirman No. 14 G-H, Pekanbaru, Riau. Telp. (0761) 854014 / 856666.
Soerabi Enhaii 2

Dapur

Soerabi Enhaii 3

Bagian Dalam Restoran

Topping yang kreatif, serabi yang lembut ditambah pelayanan yang cukup cepat merupakan alasan kenapa saya memberi Soerabi Enhai nilai 4 dari skala maksimum 5 yang artinya “Enak”. Kalau orang Amerika punya pancake, Indonesia punya surabi, ayo cintai pancake buatan lokal, heuheuheu.

Iklan

Icip-Icip Sate Afrika H. Ismail Coulibaly yang Unik

SateAfrika1

Kepulan asap barberque yang wangi menarik saya untuk menghampiri salah satu restoran di Kelapa Gading Food City, ternyata restoran tersebut merupakan cabang dari sate Afrika  H. Ismail Coulibaly yang ada di daerah Tanah Abang. Berhubung rumah saya cukup jauh dari Tanah Abang, pertama kali saya mencicipi sate Afrika adalah ketika sate Afrika milik imigran Mali ini sempat hadir di festival Kelapa Gading Food City Arabian Night ketika bulan puasa. Pada fersitval tersebut, saya termasuk orang yang mengantre cukup panjang untuk menikmati sate afrika yang unik tersebut. Jadi, saat ini sate Afrika Pak Ismail ini dapat ditemui di:

  1. Jl. K.S Tubun No.6, Tanah Abang, Jakarta Pusat (di antara Museum Tekstil dan Gedung Indonesia Power).
  2. Gading Food City, Lt Dasar, Blok D # 107, Jl. Bulevar Kelapa Gading Blok M, Kelapa Gading, Jakarta Utara.

Pemilik restoran ini bernama Ismail Coulibaly, imigran asal Mali, Afrika Barat yang sudah membuka usaha ini sejak tahun 1999. Di Afrika, sate Afrika ini bernama diby sokoDiby bisa diterjemahkan sebagai sate dan soko artinya daging, kalau digabung jadi sate daging. Di Mali, daging yang digunakan adalah daging sapi, kambing, domba sampai unta. Pak Ismail sendiri menggunakan daging domba betina yang berusia 1 sampai 2 tahun dengan berat sekitar 20 kg, domba-domba tersebut dipesan langsung dari Cipanas.

SateAfrika2

Sate Afrika

Loco

Loco

Berbeda dengan sate yang kita kenal pada umumnya, sate Afrika tidak menggunakan tusuk sate ataupun bumbu kacang. Daging-daging domba yang masih dalam potongan besar dibakar di atas bara api seperti berberque, kemudian daging-daging tersebut diungkep di dalam panci untuk menghilangkan minyak daging yang berkolesterol. Pak Ismail mengatakan bahwa masakannya tidak berkolestrol atau membuat darah tinggi, meski menurut saya yang namanya daging pasti ada kolesterolnya, mau diperlakukan bagaimanapun juga :P. Sate Afrika ini tidak disajikan dengan menggunakan bumbu kacang ataupun kecap, namun disajikan bersama garam halus, penyedap rasa, irisan bawang bombay mentah serta sambal yang pedas sekali. Dagingnya sendiri terasa empuk, garing dan gurih, mantab deh pokoknya.

SateAfrika5

Sate Afrika & Nasi Goreng

African Drink

African Drink

Yang unik lagi dari sate Afrika adalah teman makan dari sate ini bukanlah nasi, tapi pisang. Pisang? yup betul, anda tidak salah baca dan saya tidak salah tulis :D. Aslinya, sate Afrika disajikan bersama  pisang tanduk yang digoreng tanpa tepung, bernama loco. Agak aneh memang, tapi di Afrika ini adalah hal yang biasa karena orang Afrika biasa memakan pisang sebagai sumber karbohidrat. Bagi yang tidak doyang makan sate Afrika dengan loco tidak usah khawatir karena Pak Ismail juga menyediakan nasi putih dan nasi goreng sebagai teman makan sate Afrika. Saya pribadi lebih cocok kalau makan satenya ditemani oleh nasi, bukan pisang :P. Tapi bagi anda yang pertama kali mencicipi sate Afrika dan ingin merasakan sesuatu yang berbeda, sebaiknya pesan saja sate dan loco, jangan nasi ;). Oh ya, di tempat ini juga ada minuman yang agak aneh, yaitu African drink, rasanya unik, beda dengan minuman-minuman pada umumnya, sepertinya menggunakan sejenis jahe :/. Menurut saya pribadi, secara garis besar, masakan di restoran ini layak mendapat nilai 4 dari skala maksimal 5 yang artinya “Enak”. Selamat mencicipi 😉