Valerian & the City of a Thousand Planets (2017)

Saya suka sekali dengan film-film yang mengusung tema perang luar angkasa seperti Trilogi Star Wars. Dengan didukung dengan special effect yang keren, film-film jenis ini hampir pasti saya tonton, tak terkecuali Valerian & the City of a Thousand Planets (2017). Film yang dibuat berdasarkan komik Prancis berjudul Valerian dan Laureline ini terbilang sangat ambisius karena menggunakan banyak sekali special effect terkini. Hal ini dapat dilihat dari bagaimana film ini menggambarkan latar belakang film dengan sangat baik, kecuali ketika mereka mencoba menggambarkan keadaan Planet Mül. Adegan pada Planet tersebut lebih terlihat seperti adegan pada film animasi 3D. Selain itu, saya tidak melihat keanehan lagi pada special effect film ini.

Untungnya, mayoritas peristiwa yang terjadi pada Valerian & the City of a Thousand Planets (2017) adalah pada Kota 1000 Planet, bukan Planet Mül. Sesuai judulnya, Kota 1000 Planet pada dasarnya merupakan pesawat raksasa seukuran Planet yang dihuni oleh berbagai jenis mahluk hidup dari berbagai Galaksi. Pada awalnya pesawat ini dibuat oleh manusia dan memiliki orbit mengelilingi Bumi. Melalui pesawat inilah manusia dapat bertemu dan bersahabat dengan berbagai mahluk luar angkasa yang tersebar. Di dalam pesawat itulah, manusia dan mahluk-mahluk luar angkasa tersebut kemudian menyatukan dan melengkapi ilmu pengetahuan yang mereka miliki. Mereka melengkapi dan memperluas pesawat tersebut sampai akhirnya Bumi memutuskan untuk melepaskan pesawat ini dari orbitnya untuk dapat bergerak bebas. Tak terasa pesawat tersebut sudah seukuran Planet dan menampung ribuan mahluk luar angkasa. Sampai akhirnya pesawat ini disebut Kota 1000 Planet.

Penggambaran Kota 1000 Planet terbilang bagus dan menarik. Saya melihat banyak gambar-gambar indah pada film ini. Imajinasi dan lingkungan yang ada pada film ini terbilang kreatif dan bagus. Adegan aksi pada film inipun terbilang keren dan nampak bagus. Hal yang saya paling suka dari Valerian & the City of a Thousand Planets (2017) adalah adegan aksinya yang kreatif.

Tapi sayang, keunggulan-keunggulan di atas runtuh seketika begitu saya melihat jalan cerita dan karakter utama Valerian & the City of a Thousand Planets (2017). Pada film ini, Mayor Valerian (Dane DeHaan) dan Sersan Laureline (Cara Delevingne) dikirim ke Kota 1000 Planet untuk menyelidiki sebuah kasus yang ternyata berkaitan erat dengan misteri Planet Mül. Sebuah Planet yang entah bagaimana, datanya hilang dari Kota 1000 Planet. Sudah dapat ditebak, terdapat konspirasi besar di antara pejabat teras Kota 1000 Planet.

Hal ini semakin diperparah dengan kurang gregetnya karakter Valerian dan Laureline. Padahal kerangka utama dari film ini sepertinya dibangun dari chemistry diantara kedua karakter utama tersebut. Valerian dan Laureline banyak sekali melontarkan lelucon yang kurang lucu. Keduanya pun sering dihadapkan pada adegan romantis yang sama sekali tidak romantis. Film ini gagal meyakinkan saya bahwa Laureline dan Valerian merupakan pasangan muda yang saling cinta. Film ini juga gagal meyakinkan saya bahwa Valerian merupakan seorang jagoan. Saya sadar bahwa film ini berusaha sekuat tenaga agar Valerian nampak sebagai seorang “bad ass”. Tapi, bukan kesan itu yang saya dapatkan. Akting Dane DeHaan memang cukup memukau pada Chronicle (2012), tapi saya rasa kali ini ia gagal.

Film-film berlatar belakang perang luar angkasa bukan hanya adegan aksi yang memukau dengan dukungan special effect saja. Cerita dan karakter yang ada di dalamnya seharusnya mampu menjadi daya tarik juga bagi film tersebut. Sayang sekali, saya hanya dapat memberikan Valerian & the City of a Thousand Planets (2017) nilai 3 dari skala maksimum 5 yang artinya “Lumayan”.

Sumber: http://www.valerianmovie.com

Iklan

Rush Hour Trilogy (1998, 2001 & 2007)

Rush Hour

Rush Hour (1998) adalah film action comedy yang cukup laris, sampai-sampai dibuat 2 kali sekuelnya yaitu Rush Hour 2 (2001) dan Rush Hour 3 (2007), entah kapan akan ada Rush Hour 4 hehehehe. Ketiga film ini bercerita mengenai kerjasama antara 2 detektif dengan sifat, budaya & latar belakang yang saling bertolak belakang. Detektif kepolisian Los Angeles, James Carter (Chris Tucker), harus bekerja sama dengan inspektur kepolisian Hongkong, Yan Naing Lee (Jackie Chan). Carter adalah seseorang yang humoris, sedikit flamboyan, ceroboh, arogan, cerewet dan banyak bicara. Sementara itu Lee adalah seseorang yang serius, sangat berhati-hati, pendiam dan ahli ilmu bela diri. Selain sifat yang berbeda, latar budaya keduanya pun berbeda. Lee yang orang Timur harus berhadapan dengan Carter yang merupakan warga Amerika keturunan Afrika.

Rush Hour 14

Rush Hour 12

Rush Hour 9

Rush Hour 6

Rush Hour 5

Pada Rush Hour (1998), Carter & Lee harus berhadapan dengan Juntao, seorang bos komplotan pencuri benda-benda bersejarah Cina. Indentitas Juntao pun tidak diketahui sampai penonton tiba pada bagian akhir dari Rush Hour (1998). Latar belakang Rush Hour (1998) adalah Los Angeles, Lee datang ke Los Angeles dan disanalah Lee pertama kali bertemu dengan Carter. Kerja sama Lee & Carter ternyata sukses menyingkap misteri siapakah Juntao itu.

Rush Hour 11 Rush Hour 7 Rush Hour 4

Setelah sukses bekerja sama menangkap Juntao di Los Angeles, Carter & Lee tetap berteman baik dan akhirnya pada suatu hari Carter memutuskan untuk berlibur ke Hongkong sambil mengunjungi Lee. Tanpa diduga, terjadi ledakan bom di gedung Kedutaan Amerika Serikat di Hongkong ketika Carter sedang berlibur. Kejadian ini menyeret Lee dan Carter karena dalang peledakan bom tersebut terkait dengan pembunuhan ayah Lee. Lee bersikeras untuk ikut campur dalam penyelidikan kedutaan tersebut. Sebagai sahabat yang baik, Carter pun ikut membantu Lee sampai pada akhirnya mereka dapat mengetahui siapa sebenarnya pembunuh ayah Lee.

Rush Hour 16

Rush Hour 10

Rush Hour 15

Baiklah, Los Angeles sudah, Hongkong juga sudah, apa lagi? Indonesia? Gak mungkinnn :P. Ternyata setelah Los Angeles & Hongkong, Carter & Lee melanjutkan petualangan mereka di Prancis pada Rush Hour 3 (2007). Kisahnya diawali dengan ditembaknya seorang teman dekat Lee. Lee & Carter bertekad untuk menyelidiki alasan kenapa penembakan tersebut terjadi. Ternyata teman Lee tersebut memiliki informasi mengenai daftar siapa saja pemimpin Triad yang sedang berkuasa. Sebagai organisasi mafia terbesar di Cina, Triad memiliki jaringan sampai Eropa termasuk Prancis. Perburuan Carter & Lee akhirnya membuahkan hasil dengan ditemukannya daftar tersebut, akan tetapi mereka harus berhadapan sepasukan Triad yang dipimpin oleh saudara tiri Lee sendiri. Meski ada dilema di sana, sopasti Carter & Lee berhasil hohohoho.

Rush Hour 2

Rush Hour 8 Rush Hour 3

Dalam prosesnya, banyak konflik yang terjadi antara Lee dan Carter, namun pada akhirnya mereka menjadi sahabat dan rekan yang kompak dan solid. Perbedaan yang ada ternyata dapat menjadi faktor yang saling melengkapi.

Rush Hour 13

Ketiga film Rush Hour berhasil menampilkan film aksi yang dapat mengocok perut penontonnya. Saya suka dengan jalan cerita ketiga film tersebut meskipun tidak banyak kejutan yang terjadi. Aksi yang ditampilkan pun terkadang agak akrobatik tapi masih wajar dan masuk akal. Seperti film-film Jackie Chan lainnya, film ini tidak menggunakan stuntuman sebagai pengganti Jackie pada beberapa adegan yang berbahaya. Saya merasa terhibur dengan Rush Hour Trilogy (1998, 2001 & 2007) dan ikhlas untuk memberikan film-film tersebut nilai 5 dari skala maksimum 5 yang artinya “Sangat Bagus” :).