Moon Chicken, Flavors of Galaxy

Sebagai salah satu perusahaan kuliner multi-brand cloud kitchen pertama di Indonesia, Hangry terus berinovasi. Sekitar tahun 2020, mereka pun menelurkan brand kelima mereka, Moon Chicken. Mirip seperti produk Hangry lainnya Moon Chicken hanya melayani pesan antar. Semua dapat dipesan dan diantar oleh ojek online. Wilayah layanan Moon Chicken sudah cukup banyak dan tersebar di penjuru Jakarta. Beberapa titik layanannya pun sudan mulai metambah Bekasi, Depok, Tangerang dan Bogor.

Ada apa di Moon Chicken? Pada dasarnya mereka menyajikan ayam goreng tepung yang sudah dilimuri aneka bumbu. Dari berbagai variasi bumbu ayam gorengnya, saya sendiri baru mencicipi ayam bumbu smokey comet, honey galaxy, gonjenun dan samyang byeol.

Ayam bumbu smokey comet tampil kering kemerahan dengan aroma barberque & paprika yang harum. Rasanya tidak pedas tapi justru sedikit gurih. Saya lebih suka menyantap ayam ini tanpa nasi agar rasa bumbunya yang halus tetap terasa utuh.

Ayam bumbu honey galaxy nampak agak basah kecokelatan. Rasanya manis dan ada sedikit aroma bawangnya. Rasa manisnya sangat pas dan enak ketika disantap bersama dengan saus tomat, saus sambal, kulit ayam yang renyah, daging ayam yang empuk dan nasi putih yang hangat. Ayam honey galaxy kurang pas kalau dijadikan cemilan tanpa nasi.

Ayam bumbu gonjenun menggunakan gochujang khas Korea sehingga memilki rasa manis beras. Rasa dan aromanya mengingatkan saya kepada hidangan Korea yang pernah saya santap. Disantap dengan nasi atau tanpa nasi, rasanya lumayanlaah.

Sebagai pecinta mie samyang sopasti saya langsung tertarik untuk mencicipi ayam bumbu samyang byeol. Ayam tersebut memiliki rasa dan aroma samyang buldak yang terasa manis pedas. Tapi pedasnya tidak sepedas mie instant samyang ya, aman untuk lambung. Yang bahaya itu adalah aroma dan rasanya, benar-benar membuat saya ketagihan. Ternyata rasa samyang itu tudak harus pedas luar biasa untuk dapat dinikmati, yummmm, enak sekali rasanya. Ini dia menu favorit saya di Moon Chicken ;).

Apapun bumbunya, saya rasa ada bumbu yang meresap ke dalam dagingnya. Rasa dagingnya tidak polos seperti daging ayam goreng biasa. Daging ayamnya meresap bumbu sehingga rasa dagingnya agak berbeda.

Kelemahan ayam-ayamnya Moon Chicken adalah harus langsung disantap ketika tiba. Karena dilumuri bumbu yang terkadang agak basah, maka kulit ayam lama kelamaan akan kehilangan kerenyahannya.

Dengan demikian, menurut saya Moon Chicken layak untuk memperoleh nilai 4 dari skala maksimal 5 yang artinya “Enak”. Bagaimanapun juga, Moon Chicken adalah salah satu alternatif yang tepat bagi keluarga saya yang sedang isolasi mandiri akibat Covid-19.

Sate Maranggi Aci Kuningan, Sate Spesial di Depan Lapas

Ketika berkunjung ke rumah saudara yang tinggal di Cianjur, saya diajak makan di sebuah warung sate. Lokasinya cukup unik, yaitu di depan Lembaga Pemasyarakatan Klas 2 Cianjur. Tepatnya di Jalan Aria Cikondang No. 70/76, Cianjur, Jawa Barat. Warung tersebut pun tidak memiliki papan nama, jadi dari luar hanya terlihat seperti rumah yang sudah alih fungsi menjadi warung. Berdasarkan informasi dari akang-akang yang makan di sana, warung ini sering disebut Sate Maranggi Aci Kuningan atau sate depan lapas.

Di sana, banyak orang memesan lotek. Lhoh kok lotek? Yah saya jadinya ikut-ikutan saja memesan heheheehe. Lotek terdiri dari aneka sayuran yang disiram dengan bumbu kacang dan taburan kerupuk. Kalau saya lihat sih ini mirip sekali dengan gado-gado yaa. Hanya saja loteknya terasa lebih manis. Lumayanlah.

Kemudian saya memesan menu yang sebagian orang pesan yaitu sate maranggi. Uniknya, sate marangginya biasa disantap bersama-sama dengan sambal oncom dan sambal kacang. Kemudian untuk nasinya kita dapat memesan nasi kuning atau nasi uduk. Paduan rasanya menghasilkan rasa sate yang unik. Terdapat rasa manis dan aroma bumbu yang harum di sana. Sate yang ukurannya jumbo, semakin menambah selera makan di sini. Hanya saja hati-hati kantong bolong sebab harga satenya terbilang mahal, yaaah sesuai ukurannya :’D.

Melihat kunjungan saya di atas, Sate Maranggi Aci Kuningan layak untuk memperoleh nilai 3 dari skala maksimum 5 yang artinya “Lumayan”. Karena sekarang saudara saya sudah pindah tugas ke Sukabumi, entah kapan lagi saya bisa mampir ke sini.

Tek Tek Tek Tok .. Hidangan Segar Koi Teppanyaki Dimasak Langsung di Depan Mata

Saya masih ingat ketika berkunjung ke Kobe Jepang, saya menyantap steak Jepang yang dimasak di hadapan pengunjung. Semuanya sangat mirip dengan bagaimana Koi Teppanyaki menyajikan hidangannya. Kita duduk mengelilingi seorang koki yang memasak di atas plat besi yang besar. Cara memasak seperti itulah yang disebut Teppanyaki, yaaah sesuai judul restorannya dong ya ;).

Saya biasa menemukan cabang Koi Teppanyaki di tengah-tengah mall seperti ITC Fatmawati, Mall of Indonesia, Mall Ambassador, ITC Cempaka Mas, Pondok Indah Mall 2, Kelapa Gading Mall 3, Mall Artha Gading, Plaza Senayan, Senayan City, Emporium Pluit Mall, ITC Permata Hijau, ITC Roxy, Central Park, Mall Taman Anggrek, Mall Summarecon Bekasi, Mall Summarecon Serpong, Mall Alam Sutra, ITC Bumi Serpong Damai, Tha Park Sawangan dan Ruko Emerald Bintaro. Wah banyak juga yaaaa.

Mau makan apa di Koi Teppanyaki? Pada dasarnya di sana kita dapat memesan mie dan berbagai teppanyaki set. Teppanyaki set sendiri terdiri dari nasi, sup miso, toge, pakcoy dan sebuah tipe lauk. Toge, pakcoy dan sebuah tipe lauk dimasak langsung di depan pengunjung dengan menggunakan plat besi sehingga hidangan disajikan hangat dan segar. Tipe lauk yang saya maksud bisa bermacam-macam seperti slice beef, squid, seafood combo, sirloin, tenderloin dan lain-lain. Saya sendiri biasa memesan seafood combo di sana.

Teppanyaki Set Seafood Combo menggunakan udang, cumi dan potongan daging ikan yang dimasak menggunakan sebuah saus kecokelatan. Saus tersebut memberikan rasa gurih yang sangat pas ketika kita santap bersama aneka seafood-nya, nasi, miso, toge dan pakcoy. Wuih rasanya segar dan mantab, benar-benar nagih.

Saya rasa metode memasak langsung di depan pengunjung berhasil menambah nafsu makan. Kemudian cara ini pun menyebabkan hidangan disajikan dengan segar serta hangat. Dengan begitu, Koi Teppanyaki sudah selayaknya memperoleh nilai 4 dari skala maksimum 5 yang artinya “Enak”.

Selamat Ngikan!

Ngikan pertama kali hadir pada 2019 di Jalan Tebet Utara Dalam, Jakarta Selatan. Saya ingat betul pada saat pertama buka, tempat makan yang satu ini menimbulkan antrian panjang. Yah mungkin pada saat itu banyak orang masih penasaran dan cabang Ngikan sedikit sekali. Sekarang Ngikan sudah berkembang pesat dan memiliki berbagai cabang di Jakarta, Bogor, Depok, Tangerang, Bekasi, Semarang, Bandung, Surabaya, Sukabumi, Majalengka, Yogyakarta, Makassar, Pontianak, Palembang dan Bukittinggi. Saya sendiri memilih memesan Ngikan melalui aplikasi online seperti Go Food, Grab Food dan Shopee Food. Toh Ngikan memang menggunakan konsep take away dimana kalaupun makan di tempat, tidak disediakan piring dan perlengkapan makan. Hanya ada meja dan bangku. Kita makan dari kardus packingnya.

Packing Ngikan

Menu dasar yang Ngikan tawarkan adalah ikan nila berbalut tepung crispy dengan nasi liwet dan sambal. Nasi liwetnya sedikit harum namun tidak terlalu terasa apa-apa. Tepungnya ikan nila relatif tebal tapi masih ok-lah, daging ikannya masih terasa. Lalu terdapat pilihan sambal matah, sambal oseng mercon, sambal acar kuning & sambal woku.

Sambal oseng mercon berwarna kemerahan dan memiliki kesan pedassss sekali. Eeeee ternyata semua itu hanya hoax, sambal ini lebih ternyata terasa gurih dan sedikit manis. Pedasnya bagaimana? Ada sih tapi sedikit.

Sambal woku berwarna kehijauan dan memiliki rasa gurih yang khas. Sekilas tercium aroma daun jeruk. Rasanya lumayan ok kalau disantap dengan nasi liwet dan ikan krispy-nya. Rasa dan aroma rempahnya cukup terasa tapi tetap saja berbeda dengan bumbu woku khas Manado.

Sambal matahnya terbuat dari aneka bumbu seperti bawang, cabai, daun jeruk dan minyak serta berwarna kehijauan. Tapi saya lihat sepertinya cabai, minyak dan daun jeruk nampak dominan walaupun aroma daun jeruknya tipis sekali. Sambal yang satu ini merupakan sambal yang paling pedas di Ngikan, tapi pedasnya masih masuk akal yaaa, bukan pedas yang bisa membuat diare :’D. Rasa pedas hangat sambal ini pas sekali ketika disantap dengan ikan krispy yang renyah beserta nasi liwetnya. Sejauh ini sambal matah adalah salah satu sambal favorit saya di Ngikan.

Paket Ngikan Saus Sambal Matah & Paket Ngikan Saus Oseng Mercon
Paket Ngikan Sambal Woku dan Ngikan Salero Padang Plus Keju

Bagaimana dengan sambal acar kuning? Yang pasti warnanya kuning hehehehe, saya belum sempat mencicipinya. Saat ini Ngikan sudah memiliki beberapa menu baru yang polanya sedikit berbeda dengan menu dasar di atas. Diantaranya adalah ngikan salero padang, ngikan pop, nasi lamongan kandas, dan ngikan mie goreng. Saya sendiri baru sempat mencicipi ngikan salero padang saja hehehe.

Ngikan salero padang pada dasarnya terdiri dari ikan nila krispy, nasi putih, daun singkong, kuah gulai, bumbu rendang dan sambal hijau yang biasa ada di restoran padang. Kemudian menu yang satu ini bisa ditambahkan telur, keju, kornet. Kemudian nasi putihnya pun dapat ditukar menjadi nasi liwet pula. Saya pribadi biasa hanya menambahkan keju dan kornet. Bagaimana rasanya? Ngikan salero padang ini tidak pedas tapi kaya akan rasa yang gurih dan harum. Saya suka dengan bumbu gulai dan bumbu rendangnya, keduanya terasa menonjol dalam membuat menu ini terasa enak. Sementara ini, ngikan salero padang merupakan menu favorit saya di Ngikan.

Setelah beberapa kali mencoba beberapa menu Ngikan, rasanya tempat makan yang satu ini layak untuk memperoleh nilai 4 dari skala maksimum 5 yang artinya “Enak”. Packingnya praktis dan aman disantap di masa pandemi. Jangan lupa mencuci tangan yaa kawans.

Surga Bagi Pecinta Pedas, Warung Indomie Abang Adek

Sebagai mantan anak kos, Indomie tentunya menjadi salah satu makanan favorit saya di saat sedang kelaparan tengah malam. Cara membuatnya praktis dan rasanya gurih-gurih sedap. Olehkarena itulah sebenarnya sudah lama saya mau mencicipi Warung Indomie Abang Adek. Sayang lokasinya jauh dari rumah saya. Pada saat itu Warung Indomie Abang Adek hanya buka di daerah Jakarta Barat saja. Tak terasa waktu berjalan, Warung Indomie Abang Adek sudah memiliki banyak cabang, yaitu:

  • Jl. Mandala Utara No. 8,Tomang, Jakarta Barat.
  • Kantin Brata Plaza Telkom, Jl. Letjen S. Parman Kav. 8, Tomang, Jakarta Barat.
  • Green Bay Pluit, Tower H, Lantai Lower Ground, No. 19, Jl. Pluit Karang Ayu, Muara Karang, Penjaringan, Jakarta Utara.
  • Jl. Ir. H. Juanda No. 43, Beji, Depok.
  • Grand Galaxy City, Ruko Grand Galaxy City, Blok RGB No. 97, Jl. Boulevar Raya Timur, Bekasi Selatan, Bekasi.
  • Ruko Taman Harapan Baru, Blok A1 No. 12, Jl. Harapan Baru Raya, Medan Satria, Bekasi.
  • Jl. Sawunggaling No. 4, Dago Bawah, Bandung.
  • Ruko Taman Harapan Baru, Blok A1 No. 12, Jl. Harapan Baru Raya, Medan Satria, Bekasi.
  • Ruko Bintaro Trade Center, Blok A1 No. 3, Jl. Bintaro Utama (Bintaro Sektor 7), Tangerang, Banten.

Bermula dari jualan mi menggunakan gerobak di sekitar Tomang pada 1996. Kemudian Indomie Abang Adek baru mulai menggunakan cabai pada 2002 atas masukan pelanggannya. Masyarakat Indonesia memang gemar makan sambal dan pedas-pedasan. Apalagi kalau ada tantangannya. Semenjak itulah Indomie Abang Adek berkembang dan memiliki cabang di mana-mana.

Saya sendiri makan Indomie Abang Adek tak jauh dari Klinik tempat praktek istri, yaitu cabang Ruko Grand Galaxy City. Kalau hendak memesan menu Indomie-nya, pertama-tama kita memilih jenis Indomie-nya. Mau Indomie goreng, ayam spesial, kari ayam, ayam bawang, atau soto mie. Favorit saya pribadi siy Indomie goreng, tapi semua tergantung selera dan kondisi. Kalau sedang hujan atau batuk, mungkin Indomie rebus lebih enak. Selain itu, kalau sedang lapar berat, kita bisa memesan double alias 2 Indomie. Biasanya sih 1 saja memang terasa kurang, saya biasa memesan double hehehehe.

Kemudian kita memilih tingkat kepedasan, mulai dari pedes sedang (3 cabai), pedes (15 cabai), pedes garuk (50 cabai), pedes gila (80 cabai) dan pedes mampus (100 cabai). Karena saya memiliki asam lambung, maka saya biasa memilih yang pedes sedang atau pedes saja. Pedes mampus tidak saya sarankan kecuali kalau makannya ramai-ramai. Kecuali kalau teman-teman memang mengiginkan tantangan.

Lalu tiba saatnya kita memilih anek topping seperti tempe, tahu, telur, kornet, 3 bakso goreng, keju, otak-otak, sosis, dan lain-lain. Saya pribadi paling suka dengan topping kornet dan telurnya, pilihan klasik hehehehe.

Indomie Goreng Pedes Kornet
Indomie Goreng Pedes Sedang Tahu

Setelah memilih, maka pesanan kita akan dimasak sesuai dengan pilihan. Topping dan cabai ulek ditambahkan ke dalam mangkok Indomie kita. Di dalam mangkok tersebut, tak lupa sudah ada bumbu Indomie. Selain bumbu indomie, biasanya ditambahkan pula minyak bawang dan garam.

Pada dasarnya saya memang suka sekali dengan Indomie, apalagi ditambahkan pedas cabai asli dan topping tambahan. Rasa Indomie tersebut tentu semakin nikmat, yumm. Saya suka dengan masakan warung Indomie yang satu ini dan pasti akan mampir lagi bila ada kesempatan

Saya rasa Indomie Abang Adek layak untuk memperoleh nilai 4 dari skala maksimum 5 yang artinya “Enak”. Oh iya, bagi yang memesan cabai pedes mampus, jangan lupa memesan susu untuk meredakan kepedasan cabai Indomie Abang Adek, kasian kan mulut dan lambungnya ;).

Hadramiah, Hidangan Timur Tengah dengan Cita Rasa Indonesia

Hadramiah merupakan restoran Timur Tengah yang bersih dan rapi namun tidak terlalu besar. Selama bulan Ramadhan saja, saya harus mendaftar 2 sampai 3 hari sebelum kedatangan bila ingin buka puasa di sana. Saya pun beberapa kali akhirnya membawa pulang hidangan Hadramiah untuk berbuka puasa, tidak makan di tempat. Di luar bulan Ramadhan, restoran ini sudah bisa langsung didatangi tanpa acara booking-booking dulu. Saya sekeluarga biasa mengambil tempat lesehannya yang semi privat. Lokasinya cukup luas dan nyaman digunakan bersama keluarga.

Lesehan Semi Privat

Sampai saat ini, Hadramiah dapat ditemukan di Jalan Pramuka No. 64 Jakarta Timur dan Jalan Pahlawan Revolusi No. 32 Jakarta Timur. Wah keduanya tidak terlalu jauh dari rumah saya.

Lalu, memang mau makan apa di Hadramiah? Seperti restoran Timur Tengah pada umumnya, Hadramiah menyajikan nasi kabsah, biryani dan mandhi. Ketiga nasi tersebut hadir dengan rasa yang enak, mantab dan sesuai dengan lidah Indonesia saya. Baiklah mari kita bahas satu per satu. Nasi mandhi-nya berwarna agak putih dengan rasa rempah-rempah yang lembut seperti butter rice, bagi saya pribadi siy rasanya agak tawar. Nasi kabsah-nya berwarna agak kecokelatan dan memiliki rasa yang lebih gurih, ini berasal dari tomat dan bumbu-bumbu khas Timur Tengah. Terakhir, nasi biryani hadir dengan warna kuning dan rasa yang lebih gurih dan hangat dibandingkan nasi kabsah dan mandhi. Pembuatan biryani memang mirip dengan nasi kabsah, hanya saja disana dipergunakan baskom khusus untuk lebih menyerap rempah-rempah. Ini dia nasi favorit saya di Hadramiah.

Nasi Biryani Sada

Untuk menemani nasi biryani favorit saya, saya biasa memesan kambing panggang. Kambing panggang hadir dengan daging empuk dan rasa gurih yang khas, yuummmm, enak sekali. Lelehan bumbu yang membungkus kambing panggangnya tidak pelit. Sambal dan acarnya pun semakin menambah cita rasa hidangan yang saya santap. Yummm, juara deh.

Kambing Panggang

Pemesanan nasi di Hadramiah cukup fleksibel. Saya penah memesan hanya nasi biryani saja lalu kambing panggangnya terpisah. Pernah pula saya memesan sepiring nasi kabsah dan nasi biryani dengan kambing panggang. Semua tergantung anggota keluarga yang ikut ada berapa banyak.

Nasi Kapsah & Nasi Biryani dengan Kambing Panggang

Dengan demikian, saya ikhlas memberikan Hadramiah nilai 4 dari skala maksimum 5 yang artinya “Enak”. Tidak heranlah kalau terkadang restoran ini agak penuh.

Lumpia Bandung Mang Ucup, Street Food with Attitude

Setiap pulang dari acara keluarga, saya sering sekali melewati daerah TPU Layur. Tapi saya sama sekali tidak pernah menyadari keberadaan Lumpia Bandung Mang Ucup yang terletak tak jauh dari TPU, tepatnya di depan Toserba Berkah, Jl. Gurame No. 31, Jati, Pulo Gadung, Jakarta Timur. Seorang rekan istri saya yang memperkenalkan kami kepada Lumpia Bandung Mang Ucup.

Menu dari Lumpia Bandung Mang Ucup cukup sederhana. Ada lumpia basah dan ada lumpia goreng. Kemudian apakah hendak ditambahkan daging sapi, ayam, udang, atau campuran semuanya. Lalu, apakah mau yang pedas atau tidak.

Lumpia basah hadir dengan tekstur kulit lumpia yang lembut. Bengkuang, toge, tahu, telur dan bumbu lain yang ada di dalamnya terasa manis legit dan istimewa :). Favorit saya adalah lumpia basah pedas daging sapi, yummmm, mantab. Lumpia basah ini dapat dikatakan sebagai wajib saya setiap mampir ke Lumpiia Bandung Man Ucup.

Sementara itu lumpia goreng hadir dalam kulit renyah yang tebal dengan isian yang sama dengan lumpia basah. Hanya saja, lumpia gorengnya ditemani oleh saus kacang yang gurih. Paduannya memberikan rasa gurih renyah yang tebal dan tidak pelit. Hanya saja rasa isiannya jadi agak terkubur dan tidak semantab lumpia basah. Lumpia goreng bisa dijadikan alternatif kalau sedang ingin makan yang kriuk-kriuk. Tapi saya pribadi lebih suka lumpia basahnya.

Belakangan saya baru mengetahui bahwa Lumpia Bandung Mang Ucup ternyata sudah memiliki beberapa cabang di tempat lain. Saya bisa melihat ini dari tag line yang tertulis di gerobaknya, “Street Food with Attitude”, gaya euy hehehe. Kita dapat menemukan Lumpia Bandung Mang Ucup tersebat di Jabodetabek seperti di Jalan Bintaro Utama 5 Tangerang, Jalan Manggarai Utara 1 Tebet & Jalan Jati Mahoni Rawamangun.

Lumpia ini berhasil menjadi hidangan pengganjal perut setiap saya pulang dari acara keluarga. Lumpia Bandung Mang Ucup tentunya layak untuk memperoleh nilai 4 dari skala maksimum 5 yang artinya “Enak”.

Nyarap di Pondok Sarapan Pagi Yuk

Bubur ayam, nasi uduk, nasi kuning adalah menu sarapan yang biasa saya santap sehari-hari. Bagi saya, semua sedikit bergeser ketika istri saya hamil anak kedua beberapa tahun yang lalu. Pada suatu pagi yang cerah istri saya mencari ketupat sayur padang di sekitar rumah. Ok, bagi saya yang warga Jakarta, ketupat sayur itu relatif bisalah dicari. Tapi ketupat sayur padang?? @_@. Setelah bertanya kepada beberapa warung terdekat, ternyata selama ini ada restoran ketupat sayur padang yang ramai di sekitar Pondok Kelapa. Lokasinya ternyata tak jauh dari rumah orang tua saya. Tepatnya di Jl. Pondok Kelapa Raya Blok L 10 No. 1, Duren Sawit, Jakarta Timur.

Ternyata, Pondok Sarapan Pagi adalah restoran yang dimaksud. Dari namanya dan wujud restorannya, saya tidak menduga bahwa Pondok Sarapan Pagi menyajikan ketupat sayur padang. Setiap pagi, Pondok Sarapan Pagi sebenarnya dipenuhi oleh pengunjung. Namun posisinya memang membuat hal tersebut tidak terlalu terlihat. Restorannya sendiri nampak sederhana dan bersih. 

Apa yang membuat Pondok Sarapan Pagi ramai? Disana, terdapat ketupat sayur padang atau katupek sayua yang terdiri dari potongan ketupat, gulai paku dan gulai nangka yang ditaburi oleh kerupuk. Rasa rempah-rempah benar-benar terasa, pada hidangan yang satu ini. Bagi saya pribadi, ketupat sayur tetsebut tidak pedas sama sekali. Tapi bagi beberapa orang, hidangan tersebut terasa sedikit pedas.

Kemudian kita dapat meminta lauk untuk mendampingi ketupat sayur. Biasanya ada telur, ayam goreng dan rendang. Saya sekelurga biasa memilih rendang. Rendangnya sih sebenarnya biasa saja. Namun, ternyata bumbu rendang yang gurih, terasa sangat cocok dan menyatu dengan kuah ketupat sayur yang kaya akan rasa rempah-rempah. Tak lupa saya pasti menambah kerupuk untuk menemani hidangan tersebut.

Ketupat Sayur Telur
Ketupat Sayur Ayam
Ketupat Sayur Rendang Telur

Sampai saat ini, Pondok Sarapan Pagi berhasil menjadi salah satu tujuan saya ketika sedang mencari sarapan. Restoran mungil yang satu ini layak untuk memperoleh nilai 4 dari skala maksimum 5 yang artinya “Enak”. Oh yaa, selama bulan Ramadhan, Pondok Sarapan Pagi buka pukul 3 sore. Kalau bukan bulan Ramadhan, Pondok Sarapan Pagi buka di pagi hari.

Sate Lawu, Nikmatnya Sampai di Hati

Setiap berlibur ke arah Tawangmangu, saya dan keluarga sudah beberapa kali mampir ke Sate Lawu. Biasanya kami sampai sana menjelang sore. Restoran yang satu ini hadir di tengah-tengah kabut dan dinginnya daerah sekitar Gunung Lawu. Yah lokasinya memang di bagian atas wilayah wisaya Tawangmangu. Tepatnya di Jl. Baru No. 2, Kramat, Kalisoro, Tawangmangu, Karanganyar, Jawa Tengah. Patokannya adalah persimpangan antara jalan lama dengan jalan baru antara Cemoro Kandang dan Tawangmangu. Selain itu restoran ini sudah memiliki cabang lain di Jl. Bhayangkara Sriwedari Solo dan Assalaam Hypermarket Pabelan Solo.

Saya sendiri belum pernah berkunjung di cabang Solo. Saya hanya pernah berkunjung ke Sate Lawu yang di Tawangmangu saja. Restorannya nyaman dan menyedikan pendopo private untuk lesehan. Sebuah lokasi yang sangat pas untuk makan malam setelah seharian berwisata di Tawangmangu. Bagaimana dengan menunya? Yaaa jelas ada sate ayam dan sate kambing. Selain itu saya dapat pula menemukan gongso wedang dan lain-lain.

Tempat Duduk Lesehan
Bagian Dalam Sate Lawu

Sate kambing hadir dengan nama sate lawu. Tusukan sate hadir di atas hotplate yang hangat. Kemudian cabai, kecap dan bawangnya diberikan terpisah. Tanpa bumbu apapun, daging satenya memiliki aroma yang menggugah selera, tidak ada bau prengusnya. Kemudian terdapat pula rasa juicy dan rasa segar yang halus ketika saya menggigit daging satenya. Memang dagingnya sedikit kenyal, tapi justru itulah yang membua satenya terasa nikmat. Tingkat kekenyalan dagingnya passss. Ditambah bawang, cabai dan cabe, hidangan yang satu ini terasa enak :).

Sate Lawu

Sementara itu, sate ayamnya tidak hadir di atas hotplate. Potongan daging ayam yang matang, dilumuri oleh bumbu kacang yang lumayan kental. Rasa manis dan rasa kacangnya cukup dominan. Lumayan sih, tapi saya jauh lebih suka dengan sate kambingnya. Yah sate ayam ini tentunya dapat menjadi alternatif bagi pengunjung yang kurang suka daging kambing.

Sate Ayam

Ok, selanjutnya saya menyantap sebuah hidangan yang agak asing, gongso daging pedas. Apaan tuhh?? Gongso daging pedas di sini ternyata merupakan potongan daging sate kambing yang disajikan tanpa tusuknya, melainkan dengan kuah manis yang pedas. Aroma merica sangat dominan pada hidangan yang satu ini. Rasa manis dan pedas pada hidangan yang satu ini benar-benar nagih. Bagi saya sendiri, pedasnya masih wajarlah, tidak akan membuat perut mules-mules hehehehe.

Gongso

Dengan begitu, saya ikhlas untuk memberikan Sate Lawu nilai 4 dari skala maksimum 5 yabg artinya “Enak”. Suasananya ok, rasanya pun bisa dibilang ok :).

Wakacao, Pepper Rice Lokal Pertama Indonesia

Pernah makan Pepper Lunch? Ok singkat kata, Wakacao menyajikan menu yang mirip seperti Pepper Lunch, franchise pepper rice asal Jepang. Hanya saja, Wakacao memiliki menu yang lebih sederhana dan 100% masih milik Indonesia. Berawal dari tugas akhir untuk lulus dari Universitas Prasetya Mulya, sekelompok anak muda Indonesia membuka cabang pertama Wakacao di Pasar Modern BSD. Lama kelamaan Wakacao sudah memiliki berbagai cabang di wilayah Jakarta, Tangerang, Bekasi dan Bandung. Selain lokasi yang di Pasar Modern BSD, Wakacao dapat ditemukan pula di Pasar 8 Alam Sutera, Pasar Modern Bintaro, Taman Jajan Bintaro, Pasar Modern Intermoda BSD, Ruko Pasar Modern Paramount, Villa Permata Lippo Karawaci, Mall Artha Gading, Bella Terra, Food Market Sunter, Ruko Grand Galaxy City, Jl. Sultan Tirtayasa Bandung, Jl. Cibadak Bandung, dan Pasar Segar Taman Kopo Indah.

Bagian Dalam
Bagian Dalam Lagi

Wah banyak juga ya. Ada apa sih di Wakacao? Pada dasarnya menu utama Wakacao berupa pepper rice. Nasi dengan lada, seledri, bawang, jagung telur dan daging yang disajikan diatas hotplate. Dagingnya bisa daging sapi, ayam atau ikan salmon. Kemudian bisa pula memesan paket pepper rice yang menggunakan gulai, rendang, balado, atau kari. Tak lupa terdapat pula pilahan untuk menambah topping seperti keju mozzarella, jamur, sosis, dobel daging dan dobel telur.

Salmon Peppr Rice Gulai
Beef Pepper Rice Gulai

Saya pribadi menyantap hidangan Wakacao, sama seperti ketika saya sedang makan di Pepper Lunch. Selagi masih mendidih, hidangannya saya aduk sambil menambahkan cabai, lada, saus madu dan saus bawang. Dengan demikian, hidangan Wakacao akan semakin memiliki rasa yang enak dan tidak kalah dengan Pepper Lunch. Toh, Wakacao sebenarnya memang kw supernya Pepper Lunch. Menu dan deretan pilihan bumbunya sangat mirip sekali.

Saya rasa, Wakacao layak untuk memperoleh nilai 3 dari skala maksimum 5 yang artinya “Lumayan”. Restoran ini dapat dijadikan alternatif bagi teman-teman yang sedang ingin makan pepper rice di atas hotplate yang mendidih :).