Don’t Let Go (2019)

Di tengah-tengah kesibukan saya di rumah, saya menemukan sebuah film dengan tema yang unik, Don’t Let Go (2019). Film ini mengingatkan saya pada Frequency (2000), sebuah film yang dulu saya tonton bersama orangtua saya. Keduanya sama-sama mengisahkan mengenai komunikasi unik yang terjadi antara 2 orang di jalur waktu yang berbeda. Frequency (2000) berhasil mengisahkan dengan baik, hubungan ayah-anak yang terpisah oleh waktu dan kematian. Apakah Don’t Let Go (2019) berhasil melakukan hal yang sama?

Agak sedikit berbeda, Don’t Let Go (2019) mengisahkan hubungan antara seorang paman dengan keponakannya. Detektif Jack Radcliff (David Oyelowo) kaget bukan main ketika ia menerima sebuah telefon dari Ashley Radcliff (Storm Reid) yang sudah meninggal dunia. Beberapa minggu yang lalu, Jack sendiri menemukan Ashley dan kedua orangtuanya, menjadi korban pembunuhan. Sebuah peristiwa yang membuat Jack stres berat.

Jack seolah memperoleh kesempatan kedua ketika ia menerima telefon dari Ashley. Ashley di masa lalu, dapat berkomunikasi dengan Jack di masa depan melalui sebuah telefon genggam. Keduanya berusaha mengubah masa depan dengan menyelidiki siapa yang membunuh Ashley.

Misteri dan penyelidikan pada Don’t Let Go (2019) memang sangat menarik untuk diikuti. Namun hal ini hanya bertahan sampai separuh film. Don’t Let Go (2019) seakan kehilangan daya tariknya pada pertengahan film. Film ini terasa terlalu bertele-tele dan pelaku kejahatannya sudah mulai terkuak di pertengaham film. Selanjutnya, semua berlangsung dengan sangat klise.

Sayang sekali, Don’t Let Go (2019) sebenarnya memiliki potensi yang besar untuk menjadi sebuah film yang lebih menarik dibandingkan Frequency (2000). Hubungan paman dan keponakan pada Don’t Let Go (2019), terasa kurang memukau. Saya tidak merasakan kekhawatiran yang dalam dari Jack, ketika Ashley dalam bahaya besar.

Terlepas dari beberapa kelemahan yang ada, film ini masih layak untuk memperoleh nilai 3 dari skala maksimum 5 yang artinya “Lumayan”. Masih ok-laaah untuk dijadikan hiburan ringan, film ini tidak terlalu kompleks kok.

Sumber: http://www.dontletgomovie.com

 

Da 5 Bloods (2020)

Beberapa minggu yang lalu, terjadi peristiwa berdarah berbau rasial nun jauh di Amerika sana. Mungkin teman-teman sudah pernah membaca bagaimana kematian George Floyd membuahkan demonstrasi di penjuru Amerika. Kasus tersebut di nilai berbau diskriminasi kepada orang-orang berkulit hitam dan berhasil semakin mempopulerkan gerakan “Black Lives Matters”. Gerakan ini merupakan buah dari diskriminasi rasial warga Amerika berkulit hitam atau Afro-Amerika, yang terjadi sudah sejak lama sekali.

Kehadiran Da 5 Blood (2020) terasa relevan dengan kondisi saat ini. Film karya Spike Lee ini berbicara lantang mengenai diskriminasi yang dialami oleh warga Amerika berkulit hitam di era Perang Vietnam. Spike Lee yang juga merupakan sutradara Amerika berkulit hitam seolah ingin membeberkan berbagai kenyataan pahit yang terjadi pada saat perang Vietnam berlangsung.

Mirip seperti beberapa film Spike sebelumnya, Da 5 Blood (2020) memberikan sedikit cuplikan dan foto terkait kejadian yang benar-benar terjadi. Saya rasa hanya satu atau dua saja yang terlihat sadis, tapi hal itu cukup untuk membuat saya teringat bahwa Da 5 Blood (2020) bukanlah film keluarga.

Aw kenapa film keluarga? Bagian awal Da 5 Blood (2020) membuat saya mengira bahwa film ini hanya akan mengisahkan nostalgia dan kekeluargaan diantara veteran perang Vietnam berkulit hitam. Dikisahkan bahwa terdapat 4 veteran perang Vietnam yang datang kembali ke Vietnam untuk mengambil jasad kawan mereka. Itulah mengapa judul film ini Da 5 Blood. Yang dimaksud dengan 5 Blood ada 5 prajurit Amerika berkulit hitam yang berpuluh-puluh tahun lalu bertempur bersama di Vietnam. Sayang pimpinan mereka gugur, dan keempat prajurit yang tersisa hanya dapat mundur dan menyelamatkan diri.

Belakangan keempat veteran tersebut ternyata memiliki motif lain, yaitu mencari emas batang yang dahulu mereka simpan di tengah hutan. Yaaah, mengambil jasad sekaligus mengambil emas :).

Di sana terlihat bahwa masing-masing individu memiliki masalah masing-masing yang dapat memicu konflik internal. Emas dan harta memang dapat mempengaruhi seseorang. Belum lagi terdapat karakter-karakter lain yang baru berdatangan di pertengahan cerita. Seketika Da 5 Blood (2020) seakan berubah menjadi film petualangan perburuan harta karun yang menguji persahabatan di antara tokoh-tokoh utama.

Diskriminasi dan konflik internal yang mereka alami memang menjadi topik utama Da 5 Blood (2020). Namun saya lihat ada 1 pesan lagi yang film ini coba angkat. Keberadaan ladang ranjau di wilayah bekas perang, masih terus memakan korban. Banyak korban kehilangan organ tubuhnya akibat ranjau. Yang lebih memilukan lagi adalah apabila korbannya merupakam anak-anak kecil yang tak berdosa.

 

Da 5 Blood (2020) berhasil menyampaikan berbagai pesan dengan baik, rapi dan tidak membosankan. Film ini berhasil membuat saya tertarik untuk mengikuti ceritanya sampai habis. Saya rasa pesan yang Spike Lee coba sampaikan, cukup mengena. Banyak hal-hal yang mengenai perang Vietnam yang baru saya ketahui, terutama terkait peranan tentara Amerika berkulit hitam di sana. Film ini layak untuk memperoleh nilai 4 dari skala maksimum 5 yang artinya “Bagus”.

Sumber: http://www.netflix.com/id-en/title/81045635

Sebelum Iblis Menjemput (2018)

May the Devil Take You atau Sebelum Iblis Menjemput (2018) merupakan film horor Indonesia yang megisahkan sebuah bencana akibat pesugihan yang dilakukan oleh Lesmana Wijaya (Ray Sahetapy). Pada awalnya, Lesmana menjelma menjadi seorang pengusaha properti yang sangat sukses. Setelah kematian istri pertamanya, Lesmana menikah dengan seorang mantan artis ibukota, Laksmi Surya (Karina Suwandi). Beberapa tahun kemudian, Lesmana jatuh miskin dan mengalami sebuah penyakit yang misterius.

Lesmana memiliki 4 orang anak. Alfie Wijaya (Chesea Islan) adalah anak pertama Lesmana dari mendiang istri pertama Lesmana. Semetara itu, Maya Wijaya (Pevita Pearce), Ruben Wijaya (Samo Rafael) dan Nara Wijaya (Hadijah Shahab) adalah anak Lesmana dari Laksmi Surya. Hubungan Alfie dengan ayah dan ibu tirinya kurang harmonis. Hal itu sangat terlihat sejak awal film. Saya pikir konflik keluarga ini akan menjadi benang merah cerita Sebelum Iblis Menjemput (2018).

Ternyata semua itu hanya pemanis saja sebab berikutnya, Sebelum Iblis Menjemput (2018) benar-benar hanya mengisahkan teror demi teror yang dialami Alfie dan keluarganya. Teror-teror tersebut berlangsung di sebuah rumah tua milik Lesmana. Usaha Lesmana yang terus merugi membuat keluarga Lesmana menjual berbagai aset Lesmana. tersisa hanya 1 aset Lesmana yang belum tersentuh, sebuah rumah tua di daerah Bogor. Rumah tersebut merupakah satu-satunya properti Lesmana yang menggunakan nama Alfie sebagai pemiliknya. Oleh karena itulah Alfie ikut serta melihat properti Lesmana tersebut. Karina dan ketiga anaknya pun hadir di sana untuk melihat aset-aset Lesmana lain yang kira-kira dapat dijual.

Yaaah, di rumah tersebutlah, berbagai teror datang menimpa, Laksmi, Alfie, Maya, Ruben, dan Nara. Praktis hampir tidak ada misteri di sana. Yang ada hanyalah adegan kejar-kejaran dan bunuh-bunuhan saja. Kenapa semua itu terjadi? Ironisnya semuanya sudah dijelaskan pada awal film, pesugihan Lesmana.

Saya melihat terdapat beberapa adegan sadis di sana. Film ini memang bercerita mengenai teror dari iblis yang seperti datang menagih hutang. Bagi teman-teman yang suka dengan film setan dan monster yang sadis, Sebelum Iblis Menjemput (2018) sopasti merupakan film yang menakjubkan. Saya akui nuansa kelam dan horor dari Sebelum Iblis Menjemput (2018) memang sangat terasa. TMemang sih Sebelum Iblis Menjemput (2018) masih tidak sesadis Macabre atau Rumah Dara (2009), tapi jenis film seperti ini memang bukan film yang terlalu saya suka. Saya lebih suka dengan film horor yang masih mampu memberikan rasa penasaran sampai akhir. Sebuah kejutan dan sedikit drama yang konsisten mungkin dapat semakin menarik perhatian saya.

Maaf seribusatu maaf, Sebelum Iblis Menjemput (2018) tetap hanya dapat memperoleh nilai 2 dari skala maksimum yang artinya “Kurang Bagus”. Semua karena film ini relatif tidak memiliki unsur misteri dan hanya berisi teror saja. Hal ini sudah sering saya lihat pada film-film lainnya. Tapi dibandingkan dengan sebagian besar film horor Indonesia lainnya, Sebelum Iblis Menjemput (2018) tetap setingkat lebih bagus.

Sumber: http://www.netflix.com/id-en/title/81030893

The Boy (2016)

Ketika melihat trailer dari The Boy (2016), saya yakin bahwa film ini adala film setan-setanan. Ahhh paling film ini seperti film Child’s Play (1988) atau Annabelle (2014), boneka kesurupan setan hehehehe. Apakah dugaan saya meleset?

Film ini diawali ketika Greta Evans (Lauren Cohan) datang ke pedesaan nun jauh di sana untuk bekerja sebagai pengasuh anak. Majikan baru Greta tinggal di rumah kuno yang besar sekali. Ahhhh, latar belakang sebuah rumah kuno yang besar dan terletak jauh di pedesaan tentunya sudah menjadi stereotype latar belakang film setan-setanan.

Greta terkejut bukan main ketika ia mengetahui bahwa ia harus mengasuh sebuah boneka yang bernama Brahms. Berhubung Greta sangat membutuhkan perkejaan tersebut dan ia pun memang sedang melarikan diri dari pengalaman buruk di kota, maka Greta menyanggupi pekerjaan aneh ini.

Greta diharuskan memperlakukan Brahms seperti anak-anak pada umumnya, mulai dari memandikan, menggatikan baju, membacakan dongeng dan lain-lain. Berbagai keanehan muncul di sini sebab ternyata Brahms seolah dapat bergerak sendiri ketika Greta sedang tidak memperhatikan.

Keluarga majikan Greta ternyata memang menyimpan sebuah rahasia yang membuat seluruh dugaan saya mengenai The Boy (2016), meleset. The Boy (2016) ternyata memiliki sebuah kejutan yang tidak terduga. Namun eksekusi dari kejutan tersebut kurang ok sehingga semua terasa biasa saja.

Dengan demikian The Boy (2016) memperoleh nilai 3 dari skala makskmum 5 yang artinya “Lumayan”. Potensi yang The Boy (2016) miliki sebenarnya cukup besar. Awalnya saya pikir hal tersebut akan dimanfaatkan lebih jauh lagi pada Bhrams: The Boy 2 (2020). Wew, sebuah sekuel? Atau prekuel? Salah, walaupun memang menggunakan angka 2, menampilkan boneka yang sama, rumah produksi yang sama, sutradara yang sama dengan The Boy (2016). Bhrams: The Boy 2 (2020) lebih baik dianggap sebagai film yang berdiri sendiri. Kenapa? Sebab inti cerita yang dikisahkan oleh Bhrams: The Boy 2 (2020), sangat berbeda dan bertolakbelakang dengan The Boy (2016). Kalau anda sedang ingin menonton film setan-setanan standard yang menteror seorang ibu dan anak kecilnya, yah silahkan tonton Bhrams: The Boy 2 (2020), tidak ada kejutan di sana, hehehehee.

Sumber: stxmovies.com/theboy

Serial Mindhunter

Saya sering menonton film-film detektif, beberapa diantaranya mengisahkan kasus pembunuhan berantai. dimana terdapat beberapa tindak kriminal dengan satu atau sekelompok pelaku yang sama. Pada beberapa film yang saya tonton, penyelidikan pembunuhan berantai, tentunya melibatkan FBI. Lembaga Amerika yang satu ini memiliki istilah dan prosedur tertentu ketika melakukan investigasi. Nah Serial Mindhunter mengisahkan asal mula bagaimana FBI mulai mengembangkan cara dan metode untuk memburu para pembunuh berantai beserta penanganan FBI terhadap berbagai kasus-kasus legendaris.

Semua diawai oleh ketertarikan Agen FBI Holden Ford (Jonathan Groff) terhadap isi pikiran dari seorang pembunuh berantai. Holden percaya bahwa dengan mempelajai perilaku dan pikiran pembunuh berantai yang ada di penjara, FBI dapat mendeteksi dan menangkap lebih banyak lagi pembunuh berantai. Daripada para pembunuh berantai tersebut membusuk di penjara, bukankah lebih baik kalau mereka digunakan untuk menangkap pembunuh berantai lain yang masih bebas di luar sana.

Memulai sesuatu yang tak lazim di zamannya, bukanlah hal yang mudah. Holden memperoleh penolakan dari berbagai sisi. Di sini saya melihat keuletan karakter Holden, sebab ia tetap berusaha mewujudkan idenya dengan berbagai cara.

Setelah melalui proses yang berliku-liku, mimpi Holden perlahan terwujud. Ia bersama dengan Agen FBI Bill Tench (Holt McCallany) dan Proffesor Wendy Carr (Anna Torv), berhasil memperoleh izin untuk mewawancarai beberapa narapidana populer. Dari sana, mereka berhasil membantu pihak kepolisian lokal dalam menghadapi berbagai kasus kriminal.

Mayoritas kasus kriminal yang muncul pada film seri ini dibuat berdasarkan kisah nyata. Pada Mindhunter, penonton akan disuguhkan berbagai tokoh dan kasus kriminal legendaris seperti kasus Edmund Kemper, John Wayne Gacy, Charles Manson, Ted Bundy, Pembunuhan Anak Kecil Atalanta, Sang Pembunuh BTK (Bind Torture, Kill), Montie Ralph Rissell, Shoe-Fetish Slayer, Richard Speck dan lain-lain. Modus operasi sampai ciri-ciri fisik si pelaku utama dari kasus-kasus tersebut ditampilkan dengan sangat mirip seperti aslinya.

Keaslian memang menjadi kelebihan dari Mindhunter, tapi terkadang hal tersebut menjadi sebuah kekurangan kalau dilihat dari sisi hiburan. Karena dibuat berdasarkan kisah nyata, maka beberapa kasus yang disuguhkan oleh Mindhunter terkadang seperti  memiliki akhir yang kurang spektakuler dan mengejutkan. Yaah, kehidupan nyata memang tidak sefantastis cerita karangan manusia bukan?

Film ini ternyata bercerita pula mengenai kehidupan pribadi Holden, Bill, Wendy dan kawan-kawan. Semuanya tentunya berkaitan dengan pekerjaan yang mereka lakukan di FBI. Semua dibuat berkaitan dan kadang menimbulkan konflik internal yang sangat mengena.

Saya pribadi terkadang terkagum-kagum dengan Mindhunter, tapi terkadang saya pun mengantuk kebosanan. Dengan demikian Mindhunter memperoleh nilai 3 dari skala maksumum 5 yang artinya “Lumayan”. Film ini cocok ditonton bagi teman-teman yang tertarik akan sejarah dan menginginkan sebuah film yang terasa asli dan mampu membuat penontonnya berfikir. Oh iya, Mindhunter mengandung beberapa konten dewasa yang tidak pantas ditonton oleh anak-anak.

Sumber: http://www.netflix.com/id-en/title/80114855

Terminator: Dark Fate (2019)

The Terminator (1984) dan Terminator 2: Judgment Day (1991) bisa dikatan sebagai karya James Cameron terbaik yang pernah saya tonton. Sayang, sepeninggal James Cameron, kualitas film-film terminator selanjutnya semakin menurun seperti pernah saya bahas pada Terminator Genisys (2015). Terminator 3: Rise of Machine (2003) dan Terminator Salvation (2009) seakan berusaha meneruskan cerita yang sudah dirangkai pada The Terminator (1984) dan Terminator 2: Judgment Day (1991).

Semuanya mengikuti alur dimana pada suatu masa di masa depan, terdapat sebuh sistem kumputer super cerdas bernama Skynet. Skynet kemudian meciptakan berbagai robot dan mengambil kekuasaan dari manusia. Manusia yang dipimpin oleh John Connor melakukan pemberontakan dan berhasil mengalahkan Skynet. Sebelum benar-benar hancur, Skynet mengirim robot Terminator ke masa lalu untuk untuk membunuh John Connor dan ibunda dari John Connor, Sarah Connor  (Linda Hamilton). Apa saja yang mungkin untuk mengubah masa depan, akan Skynet lakukan. Keempat film pertama Terminator mengajarkan kepada kita bahwa masa depan tidak akan dapat diubah. Kebangkitan Skynet dan kebangkitan kaum pemberontakan pun merupakan sesuatu yang tidak dapat diubah.

Terminator Genisys (2015) benar-benar mengacak-acak segalanya. Film yang satu ini menyampaikan bahwa terdapat masa depan ternyata dapat berubah dan memiliki banyak sekali kemungkinan. Yaaaah, pada intinya sih, film ini dibuat untuk membuka jalan bagi film-film Terminator baru. Bagian akhirnyapun penuh tanda tanya dan seolah ingin membuat para penonton penasaran.

4 tahun berselang dan dirilislah Terminator: Dark Fate (2019). Saya rasa film ini berusaha melakukan hal sama seperti apa yang Terminator Genisys (2015), tapi dengan tidak melanjutkan segala hal yang pernah terjadi pada Terminator Genisys (2015). Hal ini dilakukan kemungkianan karena Terminator Genisys (2015) dianggap terlalu membingungkan. Yaaah, pada Terminator Genisys (2015) masa depan memang seperti dengan mudahnya berubah-ubah dalam hitungan menit, sangat tidak stabil.

Terminator: Dark Fate (2019) mengambil latar belakang setelah kisah pada The Terminator (1984) dan Terminator 2: Judgment Day (1991) terjadi. Sarah Connor (Linda Hamilton) dikisahkan berhasil mengubah masa depan dengan menghancurkan Skynet sebelum mesin super canggih tersebut mampu beroperasi dengan maksimum. Namun anehnya, sebelum benar-benar terhapus oleh sejarah, Skynet di masa depan masih berhasil mengirimkan Terminator ke masa lalu. Terminator T-800 (Arnold Schwarzenegger) akhirnya berhasil membunuh John Connor kecil (Edward Furlong) dan …. berubah totalah masa depan. Tak ada Skynet, tak ada pula John Connor.

Masa depan memang berubah, namun hanya individu atau namanya saja yang berubah. Sebab bencana yang sama ternyata tetap terjadi di masa depan. Pada suatu saat di masa depan, sebuah super komputer bernama Legion berhasil menguasai Bumi dan berusaha memusnahkan umat manusia. Mirip seperti Skynet, Legion pun mengirimkan Terminator ke masa lalu untuk membunuh seseorang yang akan menjadi sangat berbahaya bagi Legion di masa depan.

Legion mengirim Terminator Rev-9 (Gabriel Luna) ke tahun 2020 untuk membunuh Daniella “Dani” Ramos (Natalia Reyes). Entah apa yang akan Dani lakukan di masa depan, lawan Legion pun mengirimkan Grace (Mackenzie Davis) untuk melindungi Dani. Grace adalah tentara yang sebagian tubuhnya sudah diganti dengan mesin.

Rev-9 yang sangat superior, sudah pasti bukan tandingan Grace yang hanya manusia separuh mesin. Tanpa diduga, Sarah Connor (Linda Hamilton) hadir menolong Dani. Sarah yang sudah tidak muda lagi, tampil dengan aneka persenjataan berat. Uniknya, merekapun pada akhirnya membutuhkan bantuan dari 1 lagi karakter ikonik dari franchise Terminator. Yaaaa, sudah pasti Terminator T-800 (Arnold Schwarzenegger) kembali hadir menolong Dani.

Uniknya, T-800 yang hadir kali ini adalah T-800 yang dulu membunuh John Connor. Wow, potensi dari sebuah drama sangat terlihat di sana. Namun entah mengapa, semua terasa hambar dan biasa-biasa saja. Terminator: Dark Fate (2019) memang mengambil segala unsur yang mengkaitkan film tersebut dengan The Terminator (1984) dan Terminator 2: Judgment Day (1991). Namun saya tidak melihat suatu hal yang baru pada Terminator: Dark Fate (2019).

Saya hanya melihat sebuah film aksi yang penuh dengan ledakan dan pukulan dimana-mana. Pengorbanan-pengorbanan yang dimunculkan oleh beberapa tokoh utama pada Terminator: Dark Fate (2019) pun, tidak se-memorable pengorbanan yang terjadi pada The Terminator (1984) dan Terminator 2: Judgment Day (1991).

Saya rasa Terminator: Dark Fate (2019) merupakan film aksi yang cukup menghibur. Namun film tersebut tetap saja masih memiliki kualitas di bawah The Terminator (1984) dan Terminator 2: Judgment Day (1991). Mungkin Opa James Cameron perlu diundang lagi ya. Dengan demikian Terminator: Dark Fate (2019) masih layak untuk memperoleh nilai 3 dari skala maksimum 5 yang artinya “Lumayan”. Terminator: Dark Fate (2019) dan Terminator Genisys (2015) dikabarkan tidak terlalu sukses di tangga Box Office. Saya agak ragu apakah akan ada film Terminator berikutnya…

Sumber: http://www.paramountmovies.com/movies/terminator-dark-fate

Bad Boys for Life (2020)

Bad boys, bad boys
Whatcha gonna do, whatcha gonna do
When they come for you

Ahhh, potongan syair lagu di atas adalah soundtrack dari Bad Boys (1995) yang masih saya ingat sampai sekarang :). Film tersebut merupakan film aksi komedi yang cukup populer di masanya. Namun baru pada tahun 2003-lah hadir sekuelnya, yaitu Bad Boys II (2003). Kemudian saya berfikir bahwa Bad Boys II (2003) adalah yang terakhir. Ternyata saya salah besar. 17 tahun setelah Bad Boys II (2003), ternyata Bad Boys for Life (2020) hadir. Aaaww lama sekali yah :P.

Sama seperti kedua film pendahulunya, Bad Boys for Life (2020) mengisahkan penyelidikan oleh 2 detektif narkoba dari kepolisian Miami, yaitu Marcus Burnett (Martin Lawrence) & Michael Eugene “Mike” Lowrey (Will Smith). Tentunya mereka terus berhadapan dengan kartel narkoba yang berasal dari Amerika Latin. Ledakan dan kerusakan sudah pasti mengikuti Mike dan Marcus. Berbagai aksi heboh yang nyaris mustahil selalu ada pada ketiga film Bad Boys. Saya rasa hal ini bukanlah keunggulan ya. Ledakan demi ledakan yang ditampilkan lama kelamaan terasa agak membosankan. Kehadiran polisi-polisi muda yang sok “bad ass” sama sekali tidak menolong dan hanya seperti hiasan semata hehehehe.

Beruntung adegan aksi mereka diselingi oleh berbagai kelucuan. Gaya Mike yang playboy, flamboyan dan nekat, bertemu dengan Marcus yang lebih senang bermain aman dan sangat family man. Interaksi keduanyalah yang membuat Bad Boys for Life (2020) mampu membuat saya tersenyum seperti ketika saya menonton Bad Boys (1995) & Bad Boys II (2003). Hhhhmmmm, kok hanya tersenyum? Yaah, era 90-an ada era dimana muncul berbagai pasangan detektif jenaka hadir ke layar lebar. Maaf sekali tapi Mike dan Marcus masih tidak selucu Carter dan Lee pada Trilogi Rush Hour hehehehe.

Agak sedikit berbeda dengan Bad Boys (1995) & Bad Boys II (2003), ternyata film ketiga Bad Boys kali ini berusaha menampilkan sebuah misteri. Tidak hanya menampilkan prosedur penyelidikan sebuah kasus narkoba, namun ternyata kasus yang Marcus dan Mike hadapi kali ini berhubungan dengan masa lalu Mike. Sebuah usaha yang bagus sekali, sebab misteri yang disuguhkan sebenarnya memiliki unsur kejutan yang tidak saya duga. Sayangnya, kejutan tersebut dibuat berdasarkan masa lalu yang baru dihadirkan pada Bad Boys for Life (2020), melalui adegan flashback. Bukan melalui sesuatu yang “ditanamkan” pada Bad Boys (1995) atau Bad Boys II (2003).

Bad Boys for Life (2020) cukup menghibur melalui berbagai adegan aksi dan kelucuan yang Mike dan Marcus hadirkan. Oleh karena itu film ini masih layak untuk memperoleh nilai 3 dari skala maksimum 5 yang artinya “Lumayan”. Mengikuti trend yang ada, Bad Boys akan dibuat sebagai franchise film sehingga jangan kaget kalau akan ada film keempat Bad Boys :). 

Sumber: http://www.sonypictures.com/movies/badboysforlife

Serial 13 Reasons Why

Kehidupan remaja bisa jadi merupakan masa indah yang tidak akan terulang kembali. Namun bagi beberapa individu, masa remaja bisa jadi menjadi masa-masa yang kurang menyenangkan. Tekanan-tekanan hidup bagi jiwa muda yang masih labil, dapat membuahkan bencana. Bunuh diri merupakan salah satu hal terburuk yang dapat terjadi. Hal itulah yang menimpa Hannah Baker (Katherine Langford) pada serial 13 Reasons Why.

Uniknya, setelah bunuh diri, Hannah meninggalkan 13 kaset rekaman yang mengungkap alasan kenapa ia melakukan bunuh diri. Ketigabelas kaset tersebut dikirim kepada individu-individu yang namanya disebutkan di dalam kaset tersebut. Mereka harus mendengarkan kaset-kaset tersebut secara berurutan, mulai dari kaset pertama sampai kaset ketigabelas. Semuanya dikirimkan berurutan kepada mereka berdasarkan urutan pembahasan. Berawal mulai dari yang namanya dibahas pada kaset pertama, lalu kaset kedua, kemudian kaset ketiga dan seterusnya.

Clay Jensen (Dylan Minnette) kaget bukan main ketika ia menerima ketigabelas kaset tersebut. Walaupun berat, perlahan ia mendengarkan kaset tersebut dan mendapatkan berbagai kenyataan yang mengharukan. Beberapa teman sekolah Clay pun tiba-tiba menaruh perhatian yang berbeda-beda terhadap Clay. Entah rasa bersalah atau rasa benci, semua iini behasil membuat saya penasaran. Apa sih peranan Clay dalam kematian dan bullying yang Hannah alami.

Berbagai bullying yang Hannah alami ternyata mendorong keputusan Hannah untuk bunuh diri. Hannah mengalami bullying dari yang sebenarnya ringan sekali, sampai berat. Ada beberapa bullying yang sangat sepele loh. Namun, setelah menonton semua episode di musin pertama serial 13 Reasons Why, saya menyadari bahwa sekecil apapun bullying yang seseorang peroleh, hal itu dapat menuntun kepada sebuah tragedi.

Hannah adalah seorang korban bullying dan semua yang ia alami bisa saja terjadi di dunia nyata. Musim perdana 13 Reasons Why berhasil membuat penonton merasa peduli terhadap Hannah. Kematiannya trasa menjadi sebuah tragedi yang mengharukan. Misteri akan alasan kematian Hannah memang menjadi magnet bagi musim perdana 13 Reasons Why. Namun film seri ini berhasil mengisahkan masalah kehidupan dengan baik sekali.

Yah, paling tidak, hal diataslah yang saya lihat pada musim perdana serial 13 Reasons Why. Sudah sepantasnya musim perdana serial ini memperoleh nilai 4 dari skala maksimum yang artinya “Bagus”. Ingat loooh, penilaian saya ini hanya untuk musim perdana saja. Seperti mayoritas serial-serial yang ada, biasanya setiap serial terdiri dari beberapa musim pemutaran. 1 musim pemutaran terdiri dari beberapa episode. Biasanya, mereka semua tetap memilki cerita yang berkesinambungan dengan kualitas yang tidak jauh berbeda.

13 Reasons Why ternyata sangat berbeda. Film seri ini dibuat berdasarkan sebuah novel karangan Jay Asher. 1 buah novel, bukan 2 atau 3 atau 5 novel, hanya 1. Manamungkin materi dari satu novel dapat dibuat menjadi beberapa musim sebuah serial TV. Jadi, cerita pada musim pertama 13 Reasons Why, otomatis dibuat berdasarkan novel tersebut. Lalu bagaimana nasib musim kedua, ketiga dan seterusnya? Semuanya merupakan pengembangan dari kisah pada novel Jay Asher tersebut.

Sungguh mengecewakan, 13 Reason Why musim kedua dan ketiga justru mengisahkan masalah kenakalan remaja yang dihadapi oleh Clay dan kawan-kawan. Serial ini seakan bergeser menjadi serial yang berbicara mengenai kenalakan remaja. Agar masih memiliki hak sebagai bagian dari serial 13 Reasons Why, dikisahkan pula kisah-kisah dari beberapa karakter yang mem-bully Hannah.

Sayang, beberapa karakter yang melakukan bullying terhadap Hannah, seakan memperoleh pembelaan. Kisah latar belakang kenapa mereka melakukan bullying, dibahas satu per satu. Sementara itu episode-episode pada musim kedua dan ketiga 13 Reasons Why ini justru membongkar keburukan dan kelemahan Hannah. Padahal hal tersebut tidak ada di novel dan tentunya tidak pernah ada pada 13 Reasons Why musim pertama.

Apa yang serial ini coba katakan?? Mereka seakan berusaha menenggelamkan simpati bagi korban bulying dan mengangkat simpati bagi para pelaku bullying. Semua yang sudah berhasil dibangun pada episode-episode di musim pertama, seakan sengaja dimusnahkan oleh kisah-kisah pada musim berikutnya.

Inilah alasan utama kenapa saya memberikan penilaian yang jauh berbeda pada 13 Reasons Why musim kedua dan ketiga. jalan cerita dan kualitasnya sangat bertentangan. Ditambah dengan plot yang “berlubang-lubang”, 13 Reasons Why musim kedua dan ketiga hanya layak untuk memperoleh nilai 2 dari skala maksimum 5 yang artinya “Kurang Bagus”. Sampai saat saya menulis tulisan ini, 13 Reasons Why sudah sampai di musim pemutaran yang ketiga. Terus terang saya hanya kuat untuk menonton sebagian episode musim ketinya saja. 13 Reasons Why sebaiknya dianggap tamat saja pada episode terakhir di musim pertamanya.

Semua orang memiliki kekurangan dan kelebihan, baik ia merupakan korban bullying atau pelaku bulying. Hal tersebut tetap tidak dapat dijadikan seagai justifikasi bagi kita sesama manusia untuk saling melukai, apalagi sampai membuat seorang teman melakukan bunuh diri.

Sumber: 13reasonswhy.info

The Poison Rose (2019)

Mengambil latar belakang Los Angeles pada 1978, The Poison Rose (2019) mengisahkan kisah klasik detektif ala Hollywood. Film ini sepertinya mencoba menjadi seperti film-film sejenis Mantese Falcon (1941) atau Chinatown.

Semua bermula ketika Carson Phillips (John Travolta) kembali ke kampung halamannya untuk menangani sebuah kasus. Di kota tersebut ia justru terlibat ditengah-tengah sebuah kasus pembunuhan yang melibatkan anak dari mantan kekasihnya. Tanpa Carson sadari, semua yang ia hadapi ternyata berkaitan dan memberikan sebuah kenyataan yang tidak terduga.

Cerita detektif pada film ini sedikit klise  dengan beberapa kejutan di bagian akhirnya. Kasus yang Carson hadapi memang terasa berputar-putar dan penuh kejutan. Tapi kok anehnya, saya tidak terkejut hehehehe. Lika-liku penyelidikan beserta kejutannya sudah ada di sana. Sayang penyajiannya kurang greget sehingga terasa hambar.

Tema femme fatale, sepertinya memang menjadi judul dan tema film ini. Wanita cantik, menyeret si tokoh utama dalam sebuah masalah. Hal ini mengigatkan saya pada beberapa film noir yang saya tonton. Sepertinya Poison Rose (2019) berambisi menjadi neo noir, tapi hasilnya tidak terlalu spesial.

Secara garis besar, Poison Rose (2019) layak untuk memperoleh nilai 3 dari skala maksimum 5 yang artinya “Lumayan”. Film ini adalah film detektif yang biasa-biasa saja, walaupun bertaburan dengan bintang Hollywood ternama.

Sumber: http://www.lionsgatepublicity.com/home-entertainment/the-poison-rose

 

Ad Astra (2020)

Dari beberapa film luar angkasa yang saya tonton, Ad Astra (2020) merupakan salah satu yang beda dan unik. Film ini mengambil latar belakang dimana teknologi luar angkasa kurang lebih masih seperti teknologi luar angkasa pada tahun 2020. Hanya saja, semuanya sudah diproduksi secara masal dan tersebar di banyak tempat. Bahkan perjalanan Bumi ke planet lain pun sudah dilakukan secara komersial tapi tetap dengan menggunakan teknologi yang masih saya jumpai pada tahun 2020. Bukan menggunakan teknologi super canggih yang belum ada saat ini.

Kemudian adegan pertempurannya terbilang unik. Semua dilakukan di daerah nol gravitasi dengan baju astronot yang tebal dan tidak tahan peluru. Sayang adegan yang keren ini hanya sedikit sekali karena Ad Astra (2020) pada dasarnya merupakan film drama hehehehehe.

Wew, drama? Yaaa! Ad Astra (2020) adalah film drama. Latar belakangnya saja yang agak-agak fiksi ilmiah. Dikisahkan Mayor McBride (Brad Pitt) ditugaskan untuk menyelidiki sumber dari badai elektomagnetik yang mengancam kehidupan di Bumi dan sekitarnya. Tersangka utama dari masalah ini adalah Proyek Lima yang dipimpin oleh Clifford McBride (Tommy Lee Jones). Bertahun-tahun yang lalu, Clifford beserta awaknya dikabarkan hilang bersama dengan Proyek Lima yang mereka kerjakan.

Clifford meninggalkan putra semata wayangnya, Roy McBride. Jadi Roy di sini dikirim untuk menyelidiki proyek yang ayahnya kerjakan. Sayang tidak ada misteri di sana karena pihak pemerintah dikabarkan sudah mengetahui dimana Proyek Lima berada. Status Clifford sesungguhnya pun dijelaskan dengan sangat gamblang tanpa menyisakan sedikitpun misteri di sana. Sangat terlihat sekali bahwa Ad Astra (2020) memang lebih fokus menggali masalah keluarga dan kehidupan. Terkadang, sejauh apapun kita melangkah, masalah kehidupan tetap akan ikut menyertai.

27

Pesan moral dari Ad Astra (2020) memang sangat tegas dan bagus sekali. Special effect yang disajikan pun sukses membangun sebuat atmosfer yang unik. Sayang jalan ceritanya amat sangat membosankan. Saya saja harus minum kopi di tengah-tengah film ini. Tempo yang lambat dan penjelasan yang diumbar sejak awal, terkadang membuat saya kehilangan alasan untuk menonton film ini. Apalagi bagian akhirnya yaaa hanya begitu saja x__x.

Di tengah-tengah kebosanan yang diberikan, Ad Astra (2020) masih mampu memberikan sebuat atmosfer film luar angkasa yang unik denga pesan yang baik. Saya rasa Ad Astra (2020) masih layak untuk memperoleh nilai 3 dari skala maksimum 5 yang artinya “Lumayan”.

Sumber: http://www.adastramovie.com