L.A. Confidential (1997)

L.A. Confidential (1997) sebenarnya sudah lama masuk ke dalam daftar tonton saya. Tapi baru beberapa hari yang lalulah saya sempat menonton film yang katanya sih bagus :). Film ini sering dibanding-bandingkan dengan Chinatown (1974) yang mendapatkan banyak pujian dari banyak kritikus film. Tapi yaaa terus terang, saya pribadi kurang suka dengan Chinatown (1974) v(^_^). Apakah L.A. Confidential (1997) akan mengalami nasib yang sama?

Mirip seperti Chinatown (1974), L.A. Confidential (1997) mengambil latar belakang kepolisian Los Angles lawas, dengan tambahan bumbu kehadiran perempuan penggoda yang dapat mendatangkan malapetaka. Los Angeles di tahun 1950-an sudah menjadi kotanya selebritis. Banyak wanita cantik dan pria tampan datang ke sana untuk berkarir di dunia hiburan. Di balik gemerlap Los Angles, terdapat pula berbagai tindak kriminal yang diorganisir oleh organisasi yang terstruktur.

Di dalam kepolisian Los Angles, terdapat 3 polisi yang berusaha menyelesaikan berbagai kasus kejahatan dengan caranya masing-masing. Tak disangka, pada perjalannya, mereka menemukan fakta yang dapat mencoreng nama baik rekan mereka sendiri. Di tengah-tengah konflik yang ada, hadir wanita penggoda yang diperankan oleh Kim Basinger.

Lynn Bracken (Kim Basinger) muncul di tengah-tengah penyelidikan kasus pembantaian sadis di dalam sebuah restoran. Jack Vincennes (Kevin Spacey), Wendell ‘Bud’ White (Russell Crowe) dan Edmund J. Exley (Guy Pearce) adalah 3 detektif yang secara langsung dan tak langsung, aktif terlibat di dalam penyelidikan. Berbeda dengan film-film detektif lainnya, ketiga tokoh sentral ini bukan partner. Mereka bahkan terkadang tidak saling suka karena masing-masing memiliki motif yang agak berbeda ketika melakukan penyelidikan ini.

Jack merupakan detektif divisi narkoba yang terkenal karena keterlibatannya di dalam sebuah acara TV. Jack memiliki banyak koneksi di dalam dunia hiburan Los Angles dan lebih senang menyelesaikan masalah dengan kecerdikannya. Berbeda denga Jack, Bud merupakan detektif divisi pembunuhan yang tegas, tempramental dan setia kawan. Karena masa lalu Bud yang kelam, emosi Bud sangat mudah tersulut ketika ada wanita yang sedang dalam bahaya. Bud tidak segan-segan melakukan kekerasan dan perbuatan diluar peraturan. Kebalikan dari Bud, Edmund adalah detektif divisi pembunuhan yang sangat ambisius dan taat dengan peraturan. Bagi Edmund, semuanya harus dilakukan berdasarkan peraturan yang ada. Edmund tidak segan-segan untuk menindak tegas rekan sesama detektif yang melanggar peraturan. Inilah yang menjadi awal mula kenapa Edmund dan Bud terkadang saling benci satu sama lain, keduanya memiliki watak dan cara kerja yang bertolak belakang. Jack hadir sebagai polisi cerdik yang mampu membaca situasi dan secara tidak langsung berperan sebagai penengah sehingga Bud dan Edmund tidak terus menerus saling bergesekan. Kevin Spacey tampil dengan gemilang dalam memerankan Jack, rasannya ia layak untuk memperoleh 1 Oscar lagi di film ini :D.

Jalan cerita L.A. Confidential (1997) agak berliku-liku, penonton seolah dibuat tidak tahu kemana arah film ini. Tapi cara penceritaannya terbilang sangat menarik dan jauh dari kata membosankan. Saya menikmati bagaimana ketiga datektif melakukan tugasnya masing-masing, hingga pada akhirnya mereka menemukan fakta akan hubungan antara kasus-kasus yang mereka tangani :D.

Saya rasa, L.A. Confidential (1997) layak untuk memperoleh nilai 4 dari skala maksimum 5 yang artinya “Bagus”. Film ini jaaauuuuuh lebih bagus daripada Chinatown (1974). Bisa dibilang, L.A. Confidential (1997) adalah salah satu film detektif terbaik yang pernah saya tonton.

Sumber: http://www.warnerbros.com/la-confidential

Iklan

Sleepless (2017)

Sekilas Sleepless (2017) terlihat kurang menarik. Pada bagian awal film, penonton seolah digiring untuk menganggap bahwa Sleepless (2017) hanya bercerita mengenai polisi korup yang harus menghadapi segala akibat dari tindakannya. Dikisahkan bahwa Vincent Downs (Jamie Foxx), detektif Kepolisian Las Vegas, mengambil narkoba dari sebuah razia, untuk kepentingan pribadi. Buntutnya, pihak kartel menculik anak Vincent dan menggunakannya sebagai sandera. Vincent diharuskan untuk menebus anaknya dengan sejumlah narkoba yang ia curi. Keadaan semakin pelik ketika Bryant (Michelle Monaghan), detektif provos, ikut melakukan penyelidikan. Bryant mencurigai Vincent sebagai dalang dari beberapa pelanggaran kode etik kepolisian yang terjadi belakangan ini. Terjadilah rangkaian peristiwa kucing-kucingan yang sepertinya sudah sering saya lihat di film-film lain.

Pada pertengahan cerita, terdapat kejutan yang merubah segalanya. Semua opini yang terbangun pada awal cerita, runtuh seketika. Saya sendiri tidak menduga akan hal ini. Wah ternyata keren juga film ini. Sayang, sepertinya penerapan kejutan ini kurang pas sehingga merusak kejutan lain di akhir film. Setelah melihat bagian tengahnya, saya langsung dapat menebak bagian akhirnya seperti apa.

Sleepless (2017) sebenarnya memiliki potensi besar untuk memberikan kejutan-kejutan yang bagus. Eksekusi yang kurang tepat membuat beberapa kejutan yang sudah disiapkan terasa hambar. Beruntung alur ceritanya diselingi oleh beberapa adegan aksi dengan kadar yang tepat sehingga film tidak terlalu membosankan. Saya rasa Sleepless (2017) pantas untuk memperoleh nilai 3 dari skala maksimum 5 yang artinya “Lumayan”.

Sumber: http://www.sleeplessmovie.com

Serial Extra History

 

Extra History merupakan sebuah serial produksi Extra Credits yang mengisahkan mengenai sejarah dari seorang tokoh, sebuah kerajaan, sebuah sistem, sebuah benda dan sebuah peristiwa penting dari seluruh penjuru dunia. Semua ditampilkan dalam bentuk kartun sederhana yang menarik. Tapi jangan harap untuk melihat kartun sekelas kartun-kartunnya Pixar atau Walt Disney yaa. Kartun di sini merupakan kartun sederhana yang informatif. Ditambah dengan narasi yang enak didengar dan santai, Extra History dapat menampilkan potongan sejarah dengan cara yang tidak membosankan.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Memang, karena yang ditampilkan Extra History merupakan potongan, jadi terdapat beberapa hal yang tidak diceritakan. Bagaimanapun juga, penonton Extra History tidak semuanya mahasiswa jurusan Sejarah bukan ;). Detail yang terlalu berlebih atau terlalu kurang, dapat membuat semuanya menjadi membosankan. Dari serial ini, saya memperoleh tontonan santai yang dapat mempertajam pengetahuan saya.

Pada setiap episodenya, terdapat sentilan dan ungkapan yang memancing penontonnya untuk berpikiran kritis. Bukankah sejarah biasanya ditulis oleh pemenang? Mungkinkah ini benar kalau dilihat pakai logika? Terkadang sejarah memang diambil dari sebuah sumber yang mana ditulis berdasarkan sudut pandang sumber tersebut. Jadi, ya memang akan selalu ada sedikit ruang untuk perdebatan.

Terkadang, di sana terdapat pula celetukan mengenai hal-hal yang digambarkan oleh film-film Hollywood terkadang tidak sesuai dengan catatan sejarah. Yaaah, selama ini saya sendiri memang sering menonton film yang kisahnya diambil dari potongan sejarah. Terkadang film-film seperti ini sudut pandang dan kisahnya agak digeser-geser agar lebih menarik. Namanya juga film komersil, bukan film dokumenter ;). Kalau terlalu kaku dengan catatan sejarah, yah nanti tidak laku di bioskop dong.

Nah Extra History sendiri, sebenarnya dapat dikatakan sebagai kartun dokumenter yang bercerita tentang sejarah. Serial ini tentunya tidak hadir di bioskop atau stasiun TV lokal kita. Setelah sempat berpindah-pindah “rumah”, saat ini Extra History dapat ditemukan di patreon, youtube.com dan beberapa saluran TV on-line/off-line luar negeri lainnya. Saya pribadi biasa menonton serial ini di youtube saja, gratis hehehehe.

Sangat jarang saya dapat menemukan sebuah tontonan yang dapat menghibur sekaligus memperluas pengetahuan saya. Serial Extra History layak untuk memperoleh nilai 4 dari skala maksimum 5 yang artinya “Bagus”. Teman-teman yang belum pernah menontonnya, coba tonton episode mengenai Senguku Jidai, itu episode Extra History favorit saya ;).

Sumber: becausegamesmatter.com

Hereditary (2018)

Sejak beberapa pekan yang lalu saya mendapatkan rekomendasi untuk menonton sebuah film horor yang berjudul Hereditary (2018). Karena berbagai kesibukan, akhirnya saya baru dapat menontonnya beberapa hari kemudian. Film ini mengisahkan kehidupan sebuah keluarga setelah kehilangan ibu/nenek mereka. Di sana terdapat Annie Grahan (Toni Collette), pembuat miniatur mini yang baru saja kehilangan ibunya. Terdapat pula 2 anak Annie yaitu Charlie Graham (Milly Shapiro) dan Peter Graham (Alex Wolff). Memimpin keluarga kecil ini, Steve Graham (Gabriel Byrne) sebagai suami dari Annie dan bapak bagi Peter dan Charlie.

Dari awal, keluarga ini nampak muram dan aneh. Mereka harus menghadapi sejarah buruk keluarga Annie yang dilingkupi oleh depresi dan penyakit kejiwaan. Ayah, ibu dan saudara laki-laki Annie mengalami masalah kejiwaan sebelum mereka meninggal. Annie pun beberapa kali tidur sambil berjalan dan tak sadar akan apa yang dia perbuat. Hubungan di dalam keluarga ini agak saling asing antara satu dan lainnya. Rasanya hanya Steve saja yang nampak tegar dan berusaha merangkul agar keluarga ini tetap utuh. Tak heran kalau mereka nampak jarang tersenyum atau bahagia.

Tempo Hereditary (2018) berjalan lambat sekali sehingga saya merasa bosan dengan separuh bagian awal dari film ini. Masalah kejiwaan seakan menjadi topik utama Hereditary (2018). Hal ini membuat Hereditary (2018) nampak seperti film drama tentang orang stres dan gila saja. Loh? Mana horornya? Perlahan unsur horor dari Hereditary (2018) muncur mulai dari pertengahan film. Horor dimunculkan bukan dalam wujud jump scare yang didukung dengan suara nyaring dadakan. Jangan pula berharap akan ada banyak monster-monsteran di sana. Horor yang dihadirkan adalah horor psikologis yang anehnya, dapat membuat saya merinding.

Berbagai peristiwa tragis yang Annie dan keluarga hadapi memang misterius. Penonton diajak untuk menebak-nebak apakah semua ini disebabkan oleh faktor supranatural atau faktor kegilaan semata. Sayang, misteri yang dihadirkan kurang berhasil membuat saya penasaran. Beberapa bagian pada jalan cerita film ini, terbilang membosankan. Saya pribadi hanya dapat memberikan Heriditary (2018) nilai 3 dari skala maksimum 5 yang artinya “Lumayan”.

Sumber: hareditary.movie

Valerian & the City of a Thousand Planets (2017)

Saya suka sekali dengan film-film yang mengusung tema perang luar angkasa seperti Trilogi Star Wars. Dengan didukung dengan special effect yang keren, film-film jenis ini hampir pasti saya tonton, tak terkecuali Valerian & the City of a Thousand Planets (2017). Film yang dibuat berdasarkan komik Prancis berjudul Valerian dan Laureline ini terbilang sangat ambisius karena menggunakan banyak sekali special effect terkini. Hal ini dapat dilihat dari bagaimana film ini menggambarkan latar belakang film dengan sangat baik, kecuali ketika mereka mencoba menggambarkan keadaan Planet Mül. Adegan pada Planet tersebut lebih terlihat seperti adegan pada film animasi 3D. Selain itu, saya tidak melihat keanehan lagi pada special effect film ini.

Untungnya, mayoritas peristiwa yang terjadi pada Valerian & the City of a Thousand Planets (2017) adalah pada Kota 1000 Planet, bukan Planet Mül. Sesuai judulnya, Kota 1000 Planet pada dasarnya merupakan pesawat raksasa seukuran Planet yang dihuni oleh berbagai jenis mahluk hidup dari berbagai Galaksi. Pada awalnya pesawat ini dibuat oleh manusia dan memiliki orbit mengelilingi Bumi. Melalui pesawat inilah manusia dapat bertemu dan bersahabat dengan berbagai mahluk luar angkasa yang tersebar. Di dalam pesawat itulah, manusia dan mahluk-mahluk luar angkasa tersebut kemudian menyatukan dan melengkapi ilmu pengetahuan yang mereka miliki. Mereka melengkapi dan memperluas pesawat tersebut sampai akhirnya Bumi memutuskan untuk melepaskan pesawat ini dari orbitnya untuk dapat bergerak bebas. Tak terasa pesawat tersebut sudah seukuran Planet dan menampung ribuan mahluk luar angkasa. Sampai akhirnya pesawat ini disebut Kota 1000 Planet.

Penggambaran Kota 1000 Planet terbilang bagus dan menarik. Saya melihat banyak gambar-gambar indah pada film ini. Imajinasi dan lingkungan yang ada pada film ini terbilang kreatif dan bagus. Adegan aksi pada film inipun terbilang keren dan nampak bagus. Hal yang saya paling suka dari Valerian & the City of a Thousand Planets (2017) adalah adegan aksinya yang kreatif.

Tapi sayang, keunggulan-keunggulan di atas runtuh seketika begitu saya melihat jalan cerita dan karakter utama Valerian & the City of a Thousand Planets (2017). Pada film ini, Mayor Valerian (Dane DeHaan) dan Sersan Laureline (Cara Delevingne) dikirim ke Kota 1000 Planet untuk menyelidiki sebuah kasus yang ternyata berkaitan erat dengan misteri Planet Mül. Sebuah Planet yang entah bagaimana, datanya hilang dari Kota 1000 Planet. Sudah dapat ditebak, terdapat konspirasi besar di antara pejabat teras Kota 1000 Planet.

Hal ini semakin diperparah dengan kurang gregetnya karakter Valerian dan Laureline. Padahal kerangka utama dari film ini sepertinya dibangun dari chemistry diantara kedua karakter utama tersebut. Valerian dan Laureline banyak sekali melontarkan lelucon yang kurang lucu. Keduanya pun sering dihadapkan pada adegan romantis yang sama sekali tidak romantis. Film ini gagal meyakinkan saya bahwa Laureline dan Valerian merupakan pasangan muda yang saling cinta. Film ini juga gagal meyakinkan saya bahwa Valerian merupakan seorang jagoan. Saya sadar bahwa film ini berusaha sekuat tenaga agar Valerian nampak sebagai seorang “bad ass”. Tapi, bukan kesan itu yang saya dapatkan. Akting Dane DeHaan memang cukup memukau pada Chronicle (2012), tapi saya rasa kali ini ia gagal.

Film-film berlatar belakang perang luar angkasa bukan hanya adegan aksi yang memukau dengan dukungan special effect saja. Cerita dan karakter yang ada di dalamnya seharusnya mampu menjadi daya tarik juga bagi film tersebut. Sayang sekali, saya hanya dapat memberikan Valerian & the City of a Thousand Planets (2017) nilai 3 dari skala maksimum 5 yang artinya “Lumayan”.

Sumber: http://www.valerianmovie.com

Hari Kelima Membawa Bayi Ketika Wisata Bangkok & Pattaya Saat Songkran – Ananta Samakhom, MBK & Suvarnabhumi

Bangkok

Setelah pada Hari Keempat Membawa Bayi Ketika Wisata Bangkok & Pattaya kami menemukan deretan toko yang masih buka di Pertokoan Pratunam. Ternyata hal ini masih membuat istri saya penasaran. Akhirnya, ia berangkat sendiri di pagi hari, sebelum saya dan si kecil bangun tidur, untuk melihat daerah yang semalam kami kunjungi. Dan ternyata ia menemukan banyak sekali toko pakaian yang buka di belakang Indra Square, sebuah area di samping area pertokoan Pratunam. Di sana, model-modelnya bagus dan harganya relatif lebih ekonomis. Bahkan sampai saya menulis tulisan ini, baju-baju yang istri saya beli di sana masih nampak bagus dan tidak ada di Indonesia :D.

Setelah puas belanja, istri saya kembali ke dalam penginapan dan bersiap untuk berjalan-jalan di hari terakhir kami ini. Sebelum menuju Bandara Svarnabhumi, tujuan kali hari ini adalah Ananta Samakhom Throne Hall, Vimanmek Mansion dan bertemu dengan teman istri saya yang tinggal di Bangkok.

Setelah sarapan di penginapan dan membeli bekal makanan halal di 7-Eleven, kami kembali berjalan kaki tapi tidak menuju Stasiun Ratchaprarop. Kali ini kami berjalan ke arah jalan raya untuk mencoba naik tuk-tuk. Tuk-tuk pada dasarnya merupakan bajaj yang lebih panjang dan terbuka. Kami naik Tuk-Tuk dari ujung Jalan Ratchaprarop 9 sampai depan Ananta Samakhom Throne Hall dengan harga yang entah terlalu mahal atau tidak, yang pasti memang akan jauh lebih murah menggunakan kereta hehehehe. Yaaaah pengalaman naik tuk-tuk memang unik dan beda. Tapi, sesuai dugaan, Pak Supir mengajak kami jalan-jalan ke tempat lain. Saya tentunya langsung menolak dengan sopan, jangan ada rasa sungkan menolak kalau naik taksi atau tuk-tuk di Bangkok :D.

Meskipun kompleks Grand Palace yang pernah kami kunjingi pada Hari Ketiga Membawa Bayi Ketika Wisata Bangkok & Pattaya adalah kediaman resmi Raja Thailand, tapi mendiang Raja Bhumibol Adulyadej dan keluarga lebih memilih untuk tinggal di kompleks istana Dusit yang lebih bergaya Eropa. Istana seluas 64749 meter persegi ini selesai dibangun pada tahin 1901 dan telah menjadi kediaman 13 Raja Thailand yang pernah bertahta. Bangunan utama kompleks ini adalah Ananta Samakhom Throne Hall yang dulu dibuka sebagai museum. Bangunan putih ini memang nampak menonjol terlihat dari kejauhan.

Sayang ketika tiba di sana, kompleks Istana Dusit beserta Ananta Samakhom Throne Hall tutup karena hal yang kurang kami fahami. Di sana kami bertemu banyak sekali wartawan yang tidak dapat berbahasa Inggris :’D. Dari penjelasan bahasa tubuh dan isyarat tangan mereka, saya simpulkan bahwa sebentar lagi akan ada deretan anggota kerajaan keluar dari Istana. Kami pun hanya dapat melihat Istana Dusit dari kejauhan karena ada banyak tentara memblokir jalan menuju Istana Dusit. Tak lama kemudian kami melihat deretan mobil-mobil keluar dari Istana. Sumpah ini mobil yang keluar banyak sekali dan seragam semua. Nampak ada 2 atau 3 mobil sedan yang berbeda di tengah barisan. Aaahhh, mungkin ini keluarga kerajaan mau ke warung beli snack :P.

Setelah selesai, wartana dan barisan tentara membubarkan diri. Kami berjalan menuju pagar Istana Dusit dan memperoleh keterangan bahwa Istana Dusit tutup tapi para turis diperbolehkan mengambil gambar dari pagar saja. Beruntung Ananta Samakhom Throne Hall terletak tak jauh dari pagar sehingga ada beberapa spot foto yang lumayan ok di sana. Toh saya memang tidak berniat masuk ke dalam, isinya hanya museum saja sepertinya. Menurut informasi yang saya peroleh, ternyata Istana Dusit masih terus tutup sampai 2018 loh.

Bangkok

Hari itu kami terus berjalan kami menuju Vimanmek Mansion yang konon terletak di kompleks yang sama. Tempat tersebut adalah istana kayu jati terbesar di dunia dan merupakan kediaman raja lainnya yang berfungsi sebagai museum. Bad news, Vimanmek Mansion 100% tidak dapat dilihat karena sedang direnovasi. Semua ditutupi dengan pembatas yang besar-besar.

Istri saya ternyata mendapat pesan bahwa temannya menunggu di Ma Boon Krong Center atau populer dengan nama MBK Center. Karena posisi kami jauh dari Stasiun, maka kami mencari taksi yang dapat mengantarkan kami ke MBK Center. Entah kenapa banyak taksi menolak dengan bahasa Thailand yang kami tak pahami. Semua menolak dalam bahasa Thailand walaupun saya sudah menunjukkan tulisan latin MBK Center , tulisan Thai MBK Center, dan posisi MBK Center di googlemaps saya. Aduh kurang apa lagi yaaa, kenapa kok begini. Setelah hampir 45 menit mencari, akhirnya ada supir taksi yang mampu berbahasa Inggris dan mau mengantar kami. Perjalan sepanjang kurang lebih 6 kilometer tersebut dijalani dengan cepat karena jalanan Bangkok saar Songkran tidak semacet biasanya.

MBK Center merupakan mall yang sempat menjadi pusat perbelanjaan terbesar di Asia pada 1995. Kalau sekarang sih rasanya di Jakarta juga ada yang sebesar ini. Di sana terdapat lebih dari 2000 toko yang menjual aneka souvenir, baju, elektronik, kosmetik, pakaian dan lain-lain. Sama seperti di Pratunam atau Chatucak, ada sedikit tawar menawar di sana. Ruangan dan lorong yang nyaman ber-AC memang menjadi nilai plus tempat ini dibandingkan Pratunam atau Chatucak, tapi belanja di MBK Center rasanya tak jauh berbeda seperti belanja di Mall biasa hehehehe. Kami sendiri membeli buah-buahan kering di sana. Kadang cara menawar di sana adalah dengan membeli lebih banyak. Kami mau beli lebih dari 1 kalau harganya turun, barulah si penjual mau. Tidak hanya belanja, kami pun bersilaturahmi dengan keluarga teman istri saya yang tinggal di dekat Asiatique The Riverfront.

Bangkok

Dari MBK Center, kami kembali ke habitat kami, ….. kembali berjalan ke Stasiun untuk naik kereta :D. Dari Stasiun National Stadium, kami naik kereta jalur hijau muda sampai Stasiun Siam yang ternyata dekaaaaat sekali :P. Dari Stasiun Siam kami naik kereta jalur hijau tua sampai Stasiun Phaya Thai. Dari Stasiun Phaya Thai kami naik kereta jalur merah jambu sampai Stasiun Rachaprarop. Lalu kami berjalan kaki sampai penginapan kemi di Jalan Rachaprarop 9. Hari ini tidak ada tanda-tanda perang air sama sekali, mungkin ini terjadi karena puncak Songkran sudah lewat. Kami benar-benar kering ketika tiba di penginapan.

Kami sampai di penginapan untuk kembali mengatur koper dan barang bawaan. Di sinilah anak kami mulai rewel minta ampun. Perjalanan kami agak tertunda karena hal ini. Sama seperti ketika tiba di Bangkok pada Hari Pertama Membawa Bayi Ketika Wisata Bangkok & Pattaya, kami kembali akan menggunakan kereta untuk mencapai Bandara Suvarnabhumi. Setelah berjalan sampai Stasiun Ratchaprarop, kami naik kereta jalur merah muda menuju Bandara Suvarnabhumi. Di sana, kami langsung check-in dan menunggu waktu boarding. Setelah masuk ke dalam pesawat anak kami kembali rewel. Baru ketika mendarat di Jakarta ia agak tenang.

Bangkok

Bangkok

Perjalanan Bangkok – Jakarta di atas pesawat tersebut terbilang sulit. Kenapa yaaa? Saya rasa ini adalah karena faktor kelelahan dan karena tidak membawa sunblock. Wow, sunblock? Yaaaa, hal yang lupa kami pertimbangkan ketika merencanakan perjalanan ini. Berbeda dengan Singapura, sarana transportasi Thailand belum saling tersambung sehingga kami beberapa kali harus berjalan di bawah teriknya matahari. Mungkin, kulit yang sering terpapar matahari selama beberapa hari tersebut, menimbulkan rasa tidak nyaman yang menumpuk di hari terakhir. Saya akui kami sering sekali berjalan di bawah teriknya matahari untuk pindah Stasiun atau berjalan menuju Dermaga. Tapi ya memang sih, sarana transportasi yang menantang tersebut memberikan petualangan yang tak terlupakan, tapi ternyata ada dampak negatifnya juga. Objek wisata di Thailand pun, banyak yang sifatnya outdoor sehingga kami pun semakin sering terpapar sinar matahari. Parahnya, kami datang bertepatan ketika Songkran tiba. Songkran biasa jatuh pada saat suhu udara Thailand sedang sangat panas sekali. Ketika melihat ke cermin, wajah dan tangan saya nampak seperti terbakar. Pulang dari Thailand kulit kami sekeluarga semakin gosong :’D. Aduhhh, kalau tau begini, dari awal pakai sunblock deh. Yaaah ini pasti akan dijadikan sebagai pembelajaan kami para perjalanan wisata berikutnya. Kami belum kapok dan masih siap untuk kembali berpetualang ke negeri orang. Tapi, nabung dulu yaaaa…. ;).

Baca juga:
Hari Keempat Membawa Bayi Ketika Wisata Bangkok & Pattaya
Persiapan Wisata Thailand 2017
Ringkasan Objek Wisata Bangkok & Pattaya
Bagaimana Cara Naik Kereta di Bangkok?
Bagaimana Cara Naik Chao Praya Express di Bangkok?

Hari Keempat Membawa Bayi Ketika Wisata Bangkok & Pattaya Saat Songkran – Ancient City, Chatuchak & Pratunam

Setelah pada Hari Ketiga Membawa Bayi Ketika Wisata Bangkok & Pattaya kami berkeliling di pusat kota Bangkok, kali ini kami berencana untuk mengunjungi Ancient City atau Mueang Boran yang terletak sedikit di luar Bangkok, tepatnya di Propinsi Samut Prakan. Tujuan wisata ini bukan tujuan wisata yang umum dikunjungi oleh turis Indonesia. Entah di sana ada yang dapat berbahasa Inggris atau tidak. Yaaaah, saya pribadi sebenarnya agak deg-deg-an juga ketika hendak berangkat :’D.

Hari itu kami bangun lebih siang dari biasanya. Tapi masih sesuai itenari karena kami sudah memprediksi bahwa kami akan kelelahan setelah hari ketiga. Setelah sarapan dan membeli bekal, kami meninggalkan penginapan sekitar pukul 10. Perjalanan menggunakan kereta kali ini akan lebih panjang dan rumit karena tujuan kami adalah Stasiun paling ujung yang paling dekat dengan Ancient City. Kalau menggunakan taksi langsung dari penginapan, harganya akan jauh lebih mahal.

Seperti hari-hari kemarin, kami berjalan sampai Stasiun Ratchaprarop dengan penuh hati-hati agar kami tidak terlalu basah terkena air, yang penting anak kami tidak kena siram :D. Kemudian kami naik kereta sampai Stasiun Phaya Thai milik SRT. Setelah berpindah ke Stasiun Phaya Thai milik BTS, kami naik kereta jalur hijau tua sampai Stasiun Siam. Dari Stasiun Siam, kami naik kereta warna hijau muda yang ke arah Bearing karena kami akan turun di Stasiun Bearing. Perjalanan dari Stasiun Siam menuju Stasiun Bearing ini terasa lama dan melewati banyak Stasiun. Semakin lama, gemerlap kota Bangkok semakin memudar, berganti wajah menjadi pertokoan kecil dan perumahan sederhana.

Ketika kami turun dari Stasiun Bearing, kami langsung menemukan taksi-taksi yang berbaris menunggu penumpang. Saya langsung menunjukkan tulisan Mueang Borang dalam tulisan latin dan tulisan Thai. Pak supir langsung mengerti dan mengantarkan kami ke sana dengan menggunakan argo ;).

Mueang Borang atau Ancient City pada dasarnya merupakan Taman Mini Indonesia Indah (TMII) versi Thailand. Objek wisata yang mulai dibangun pada 1963 ini, berupa sebuah taman luas yang berisi sekitar 116 replika berbagai peninggalan Thailand dari era Dvaravati, Khmer, Ayutthaya, Lanna, Sukhothai, Thonburi dan lain-lain. Peninggalan asli dari kerajaan di Thailand sudah rata dengan tanah atau dalam bentuk reruntuhan seperti di Ayutthaya. Memang sih, objek wisata di Ayutthaya itu adalah peninggalan yang asli walaupun dalam bentuk reruntuhan. Tapi saya pribadi lebih tertarik melihat bentuk yang utuh saja walaupun dalam bentuk replika. Toh replikanya dalam bentuk dan ukuran yang sama persis. Pembangunan Ancient City melibatkan banyak ahli sejarah sehingga detailnya tak perlu diragukan lagi.

Bangkok

Bangkok

Bangkok

Ketika tiba di Ancient City, kami langsung membeli tiket yang sudah termasuk tiket naik bus wisata. Di sana terdapat bus wisata yang berhenti di beberapa halte. Kami dapat naik turun sepuasnya di sana. Istana-istana berbagai kerajaan yang ada di sana nampak indah dan cocok sekali untuk spot foto-foto dan bersantai. Tempat ini memang sudah beberapa kali menjadi tempat syuting film atau acara TV.

Bangkok

Masih dalam rangka Songkran, di dalam area Ancient City ini ada beberapa warga lokal yang berkeliling sambil perang air. Tapi mereka tidak menyiram kami ketika melihat ada bayi. Warga lokal memang lebih faham dan taat aturan tidak boleh menyiram bayi disaat Songkran :). Kadang kami memang harus kerja ekstra saja untuk berteriak “baby” ketika mengelilingi Ancient City yang luas sekali.

Bangkok

Bangkok

Bangkok

Bangkok

Bangkok

Setelah berkeliling, kami kembali ke loket depan untuk menyewa mobil golf. Mobil golf disewakan per jam di loket depan dengan memberikan passport sebagai jaminan. Ini merupakan pengalaman baru bagi saya, keliling istana menggunakan mobil golf hehehehe. Asal bisa mengemudikan mobil, pastilah dapat dengan mudah mengemudikan mobil golf ini, gampang kok.

Sayang sekali, setelah sekitar 90 menit mengemudi, mobil golf tersebut mogok di lokasi paling ikonik tapi paling ujung dari Ancient City yaitu Pavilion of the Enlightened. Saya mengelilingi area tersebut dan tidak menemukan petugas atau pengunjung yang dapat berbahasa Inggris. Berbeda dengan semua objek wisata yang kami kunjungi sebelumnya, hampir semua pengunjung Ancient City adalah warga lokal. Supir bus wisata yang saya temui pun tidak dapak berbahasa Inggris. Akhirnya kami naik bus tersebut menuju pintu masuk Ancient City untuk komplain. Kami agak khawatir juga, jangan-jangan kami justru dituduh merusak mobil golf dan harus membayar denda. Pihak pengelola kemudian mengirim teknisi dan ternyata mobil tersebut kehabisan listrik. Mobil golf yang naiki memang menggunakan listrik sebagai bahan bakarnya. Mungkin mayoritas pengunjung rata-rata menyewa selama 1 jam. Nah kami memang berniat menyewa selama 2 jam. Pihak pengelola salah melakukan perhitungan dalam men-charge mobil tersebut. Kami akhirnya mendapatkan permintaan maaf sekaligus pembebasan biaya sewa mobil golf.

Hari sudah siang dan kami pun berjalan keluar untuk mencari taksi. Sesuai itenari, tujuan kami berikutnya adalah Chatuchak Weekend Market. Sama seperti ketika berangkat, kami berniat untuk naik taksi dan kereta. Kami naik taksi dari Ancient City sampai ke Stasiun Bearing. Dari Stasiun Bearing, kami naik kereta jalur hijau muda sampai Stasiun Siam. Dari Stasiun Siam, kami naik kereta jalur hijau tua dan turun di Stasiun Mo Chit.

Dari Stasiun Mo Chit, kami singgah dulu di Taman Chatuchak yang terletak di antara Stasiun Mo Chit dan Chatuchak Weekend Market. Taman tersebut luas dan bersih. Di sana kami istirahat dan menyantap bekal kami. Di sana, anak kami berlari-lari mengejar burung-burung yang berkumpul di area taman. Setelah kenyang dan puas beristirahat, kami berjalan ke arah Chatuchak Weekend Market.

Pada 1983, SRT (State Railway of Thailand) menyumbangkan sebidang tanah di samping Taman Chatuchak untuk dijadikan pasar. Pasar inilah yang yang kemudian berkembang menjadi Chatuchak Weekend Market. Awalnya, pasar ini hanya buka di akhir pekan. Namun karena besarnya jumlah pengunjung, maka pasar ini kemudian buka pula di hari lain. Chatuchak Weekend Market terus berkembang hingga akhirnya menjadi pasar terbesar di Thailand dengan lebih dari 15000 pedagang di dalamnya. Kini, pasar ini menjual barang antik, tanaman, elektronik, buku, baju, kosmetik, makanan kering, hewan peliharaan dan lain-lain.

Sayang, ketika kami tiba di sana, Chatuchack Weekend Market didominasi dengan deretan toko-toko tutup :(. Sama sekali tidak ada perang air di sana. Saya perhatikan toko yang masih buka di sana selama Songkran ini adalah toko alat mandi, pakaian, souvenir, makanan dan minuman kering. Tawar menawar di Bangkok adalah hal yang wajar tapi kadang mereka tidak sesabar orang Indonesia. Mereka bisa marah kalau kita menawar terlalu jauh, jadi ya harus sedikit hati-hati. Setelah berputar-putar, akhirnya di sana kami membeli sabun buah, Nestea Thai Milk Tea, durian kering dan mangga kering. Barang-barang ini sulit ditemukan di Indonesia dan merupakan sesuatu yang khas Thailand. Saya sendiri pada akhirnya ketagihan Nestea Thai Milk Tea ;). Berbeda dari biasanya, menjelang sore, toko-toko tersebut mulai tutup. Yaaah datang ke Thailand di saat Songkran memang kurang pas bagi turis yang doyan belanja. Beruntung kami bukan maniak belanja, jadi tidak terlalu kecewa.

Kami kemudian berjalan menuju Stasiun Mo Chit untuk kembali ke penginapan. Dari Stasiun Mo Chit, kami naik kereta jalur hijau tuan dan turun di Stasiun Phaya Thai. Dari Stasiun Phaya Thai, kami naik kereta jalur merah jambu dan turun di Stasiun Rachaprarop. Sama seperti beberapa hari yang lalukami berjalan melalui jalan tikus yang terhubung ke bagian belakang penginapan.

Setelah menaruh barang belanjaan dan sholat, kami kembali berangkat ke arah pertokan Pratunam untuk belanja. Kali ini kami menemukan sudut Pratunam yang tokonya sudah buka semua :D. Pakaian di daerah ini lebih variatif dan unik. Saya pun membeli pakaian di sini. Setelah selesai belanja, kami kembali pulang ke penginapan untuk mulai membereskan koper karena esok sore akan pulang ke Jakarta.

Baca juga:
Hari Kelima Membawa Bayi Ketika Wisata Bangkok & Pattaya
Hari Ketiga Membawa Bayi Ketika Wisata Bangkok & Pattaya
Ringkasan Objek Wisata Bangkok & Pattaya
Bagaimana Cara Naik Kereta di Bangkok?
Bagaimana Cara Naik Chao Praya Express di Bangkok?