Trilogi The Godfather (1972, 1974, 1990)

Godfather0

The Godfather (1972) merupakan film drama kriminal yang dibuat berdasarkan novel karangan Mario Puzo dengan judul yang sama. Kesuksesan The Godfather (1972) melahirkan 2 sekuel yang cukup sukses pula, yaitu The Godfather Part II (1974) dan The Godfather Part III (1990). Trilogi The Godfather pada dasarnya mengisahkan perjalanan hidup keluarga Corleone, sebuah keluarga mafia asal Sicilia yang beroperasi di Amerika Serikat. Saya lihat Trilogi The Godfather banyak bercerita mengenai Michael Corleone (Al Pacino) sebagai tokoh sentralnya.

Godfather1

Pada The Godfather (1972), Michael adalah satu-satunya anak laki-laki Vito Corleone (Marlon Brando) yang tidak berkecimpung di dalam bisnis kotor keluarga Corleone. Vito sendiri merupakan godfather tua yang disegani oleh banyak orang. Namun faktor usia dan semakin liciknya lawan-lawan keluarga Corleone membuat Vito cepat atau lambat harus lengser dari kursi kepemimpinan. Pada The Godfather (1972) inilah dikisahkan bagaimana Michael menjadi pemimpin keluarga Corleone menggantikan Vito.

Godfather1 4

Godfather1 6

Godfather1 5

Godfather1 9

Godfather1 1

Godfather1 3

Godfather2 9

Godfather1 7

Godfather1 2

Berbeda dengan The Godfather (1972), The Godfather Part II (1974) sebenarnya dapat dikatakan sebagai prekuel sekaligus sekuel dari The Godfather (1972). Pada The Godfather Part II (1974) dikisahkan bahwa keluarga Corleone yang dipimpin oleh Michael menghadapi lawan baru yang berani menembaki rumah tempat Michael dan anak istrinya tidur di malam hari. Sebagai kepala keluarga dan pelindung bisnis keluarga Corleone, Michael harus mencari tahu siapa dalang dari penembakan tersebut. Kisah keluarga Corleone di era kepemimpinan Michael disisipi oleh kisah awal mula keluarga mafia Corleone berdiri. Dikisahkan bahwa Vito Andolini kecil terpaksa melarikan diri dari Sisilia ke New York dan merubah namanya menjadi Vito Corleone. Kenapa harus jauh-jauh lari ke Amerika Serikat? Karena ayah Vito bersitegang dengan seorang bos mafia di Sisilia, Italia, maka nyawa Vito terancam. Vito Corleone (Robert De Niro) kemudian tumbuh dan hidup bersama anak istrinya di New York. Di kota itu pulalah ia perlahan-lahan mulai terlibat dengan kegiatan kriminal dan menapaki jalan menjadi seorang godfather.

Godfather2 3

Godfather2 8

Godfather2 6

Godfather2 5

Godfather2 4

Godfather2 1

Godfather2 7

Godfather2 2

Kedua film di atas memberikan cerita mafia yang penuh lika-liku tanpa membuat bosan penontonnya. Selalu ada misteri mengenai siapa yang sebenarnya menjadi lawan Michael. Melihat Michael perlahan tapi pasti menanjak menjadi seorang don yang disegani dengan menghancurkan lawan-lawannya, mampu menjadi tontonan yang menghibur. Ditambah lagi terdapat kisah Vito yang rasanya lebih kharismatik dibandingkan Michael. Dengan didukung akting yang meyakinkan, The Godfather (1972) dan The Godfather Part II (1974) layak untuk memperoleh nilai 4 dari skala maksimum 5 yang artinya “Bagus”.

Ooooooh, tunggu dulu, bagaimana dengan The Godfather Part III (1990)? Film ketiga Godfather yang dirilis sekitar 24 tahun setelah The Godfather Part II (1974)? Pada The Godfather Part III (1990), dikisahkan bahwa Michael sudah tua dan tidak mampu menemukan figur penerus atau suksesor pada diri kedua anaknya yaitu Mary Corleone (Sofia Coppola) dan Anthony Corleone (Franc D’Ambrosio). Melihat persaingan bisnis yang semakin berbahaya, Michael justru menemukan sosok suksesor pada salah satu keponakannya, Vincent Corleone (Andy García). Mirip seperti kedua film terdahulunya, terdapat lika liku bisnis mafia yang penuh kelicikan dan penghianatan di dalamnya.

Godfather3 2

Godfather3 4

Godfather3 5

Godfather3 6

Godfather3 1

Godfather3 3

Tapi terus terang saya tidak terlalu terhibur melihat proses suksesi kepemimpinan dari Michael ke Vincent. Apalagi akting Sofia Coppola terlihat canggung dan agak kaku pada beberapa bagian padahal tokoh yang ia perankan termasuk dominan pada The Godfather Part III (1990). Apalagi entah kenapa kok Mary jadi nampak seperti perempuan “gatel” yaaah, apalagi ketika melihat Vincent, yaaah agak kurang pas saja. Saya pribadi lebih memilih menganggap bahwa kisah Michael tamat di The Godfather Part II (1974). The Godfather Part III (1990) pun hanya layak untuk memperoleh nilai 3 dari skala maksimum 5 yang artinya “Lumayan”.

Sumber: www.thegodfather.com

The Bag Man (2014)

The Bag Man 1

Hari ini, saya baru saja selesai menonton film The Bag Man (2014), film bergenre thriller ini mengisahkan tentang pengalaman 1 malam Jack (John Cusack) di sebuah tempat yang terpencil. Apa tujuan Jack datang ke tempat tersebut? Jack ditugaskan oleh seorang bos mafia, Dragna (Robert De Niro), untuk datang ke sebuah Motel di tempat yang terpencil dengan membawa sebuah tas. Bersama dengan tas tersebut, Jack harus menunggu di kamar nomor 13 hingga Dragna tiba. Menurut kesepakatan, tas tersebut akan ditukarkan oleh sejumlah uang & Jack tidak boleh sekalipun melihat apa isi tas tesebut. Sekilas, misi ini sepertinya akan menjadi misi yang mudah bagi Jack, apa sih susahnya? Hanya menunggu saja.

The Bag Man 2

Well, ternyata pada malam tersebut, Jack bertemu karakter-karakter lain yang diam-diam atau terang-terangan ingin merebut tas yang Jack bawa. Sepanjang malam, Jack bertemu dengan seorang kerdil, negro bermata satu, agen pemerintah, sherif, pemilik Motel berkursi roda & seorang wanita misterius berkostum “ngejreng”, Rivka (Rebecca Da Costa). Apakah mereka semua jahat? Jack sendiri agak bingung & tidak dapat mempercayai siapapun. Walaupun Jack lama kelamaan semakin dekat dengan Rivka.

The Bag Man 5

kinopoisk.ru

The Bag Man 8

kinopoisk.ru

The Bag Man 6 The Bag Man (2014) John Cusack

Sepanjang menonton The Bag Man (2014), saya agak penasaran dengan apa isi tas yang dibawa Jack, namun sayangnya saya menemukan kenyataan yang kurang “wah” dari film ini. Ok memang apa isi tas tersebut tidak terduga oleh saya, tapi apa saya harus bilang “wow” gitu? Saya pun tidak merasakan adanya ketegangan yang harusnya disuguhkan oleh film bergenre thriller. Akting John Cusack & Robert De Niro memang tidak perlu dipertanyakan lagi kualitasnya, namun cerita yang kurang menggigit tentunya membuat hiburan yang The Bag Man (2014) coba suguhkan menjadi kurang nilainya. Olehkarena itulah saya hanya dapat memberikan The Bag Man (2014) nilai 2 dari skala maksimum 5 yang artinya “Kurang Bagus”. Entah sedang bad mood atau tidak, akhir-akhir ini film yang saya tonton kok kurang bagus semua yah :(.

Killing Season (2013)

Killing Season 1

Robert De Niro & John Travolta adalah 2 aktor kawakan dengan segudang penghargaan. Apa yang terjadi bila kedua aktor beken tersebut bermain dalam 1 layar lebar yang sama?Hal inilah yang menarik saya untuk menonton film Killing Season. Killing Season yang pada awalnya berjudul Shrapnel ini, tidak segemerlap film-film lain yang saat ini diputar di bioskop. Killing Season harus bersaing denga The Conjurong, Smurf 2, Wolverine dan lain-lain. Apakah pilihan saya menonton Killing Season adalah pilihan yang tepat? mari kita lihat :).

Killing Season 2 Killing Season 3 Killing Season 4

Killing Season diawali dengan peperangan di wilayah Bosnia pada tahun 90-an. Pasukan Serbia melakukan pembantaian terhadap etnis muslim Bosnia. Pasukan Amerika Serikat datang ke Bosnia untuk menghentikan aksi pasukan Serbia. Di tengah-tengah peperangan, sekelompok pasukan Serbia yang sudah menyerah, dieksekusi oleh sekelompok pasukan Amerika, tidak diceritakan bagaimana akhir dari eksekusi tersebut, yaaaah paling diceritakannya di bagian akhir film ;). Sekitar 18 tahun kemudian, seorang Serbia, Emil Kovac (John Travolta) datang ke Amerika untuk menemui Benjamin Ford (Robert De Niro), seorang mantan tentara Amerika yang menyepi ke pedesaan. Ford sudah mengalami berbagai pertempuran di berbagai negara, namun pertempuran yang dialaminya di Bosnia menyisakan sebuah trauma. Kovac datang mengunjungi Ford dengan membawa dendam masa lalu. Pertemuan tersebut berlanjut pada kerjar-kejaran dan saling siksa antara Ford & Kovac.

Killing Season 5 KillingSeason_Day11_0012.CR2 Killing Season 7

Awalnya saya pikir, saya menonton film action, eeee ternyata saya salah, saya menonton film action drama yang kadar dramanya cukup kental :mrgreen:. Kalau Kovac memang datang ke Amerika untuk membunuh Ford, kenapa tidak langsung tembak saja?? Langsung tembak aja lahhh, tidak pakai banyak cing cong, cape deeehh. Sebaliknya, si Opa Ford juga kenapa tidak langsung tembak dan bunuh saja?? Sebenarnya yang membuat durasi film ini lama adalah karena kedua karakter utama seolah-olah sedang main perang-perangan tapi tidak ingin permainan perang-perangan tersebut berhenti. Mau membunuh orang ko ya ga niat? Di luar kekurangbagusan cerita pada film ini, akting dan kemampuan Travolta berbicara dengan logat Eropa Timur patut diacungi jempol walaupun saya tetap kesulitan menahan kantuk ketika menonton Killing Season…. yawnnnn. Pilihan tontonan film saya kali ini kurang tepat, saya kurang cocok dengan jenis film seperti ini meskipun salah satu teman saya suka dengan Killing Season. Secara garis besar, Killing Season hanya layak mendapat nilai 2 dari skala maksimal 5 yang artinya “Jelek”. Bagi penggemar berat drama atau Travolta atau De Niro, silahkan tonton Killing Season. Tapi kalau menurut saya pribadi, sebaiknya tonton film yang lain saja, hehehe :D.

Sumber: https://www.facebook.com/killingseasonmovie