Contratiempo (2016)

Contratiempo (2016) merupakan film drama misteri kriminal yang cukup sukses di Spanyol sana. Film ini dirilis pula dengan nama The Invisible Guest (2016) sebagai judul internasionalnya. Kemudian bermunculan remake film Spanyol tersebut di Italia dan India pada Il Testimone Invisibel (2018), Evaru (2018) dan Badla (2018). Kisahnya kurang lebih mirip, yah namanya juga remake hehehehehe.

Kisah dari film tersebut diawali dengan kedatangan Virginia Goodman (Ana Wagener & Blanca Martínez) di kediaman Adrián Doria (Mario Casas). Virgina konon merupakan seorang pangacara hebat yang akan pensiun. Sementara itu, Doria adalah pengusaha sukses yang sedang menjadi terdakwa di sebuah kasus kriminal. Hadir sebagai pengacara kasus tersebut, Virginia menanyakan detail-detail yang Doria ketahui. Di sinilah dimulai cerita flashback dari sudut pandang Doria.

Virginia mendebat dan memberikan berbagai kemungkinan dari kisah versi Doria tersebut. Kita disuguhkan beberapa versi yang mungkin saja terjadi pada kasus kriminal yang menjerat Doria. Perselingkuhan, kecelakaan dan pembunuhan ternyata menjadi bagian yang tak terpisahkan dari kasus yang Virginia hadapi. Sepanjang film, kita dibuat menebak-nebak siapakah pelaku sesungguhnya.

Film ini berhasil memberikan kejutan atau twist yang cukup tak terduga. Ceritanya sangat cocok ditonton bagi para pecinta kisah detektif. Semuanya nampak masuk akal dan mudah dipahami. Hanya saja penyajian dari flashback yang diulang-ulang terkadang nampak membosankan bagi saya pribadi. Dengan demikian, Contratiempo (2016) atau The Invisible Guest (2016) layak untuk memperoleh nilai 3 dari skala maksimum 5 yang artinya “Lumayan”.

Sumber: http://www.warnerbros.es

The Girl on the Train (2016)

The Girl on the Train (2016) merupakan film yang diadaptasi dari novel misteri karya Paula Hawkins dengan judul yang sama. Bagaimana kira-kira kisahnya? Pada film ini dikisahkan bahwa hampir setiap hari, Rachel Watson (Emily Blunt) pulang pergi menggunakan kereta api. Dalam perjalanan tersebut, ia harus melewati rumah penuh kenangan tempat dahulu ia dan mantan suaminya tinggal. Mantan suami Rachel, Tom Watson (Justin Theroux), sekarang tinggal di rumah tersebut bersama Anna Watson (Rebecca Ferguson) dan anak semata wayang mereka. Anak memang dijadikan alasan Tom untuk selingkuh dengan Anna ketika Tom masih menikah dengan Rachel. Ditambah lagi kebiasan mabuk-mabukan Rachel semakin mempertajam tekad Tom untuk bercerai. Aahhh, alasan tetaplah alasan, Tom sudah sukses menjadi tokoh paling brengsek di film ini. Tapi kok ya pemerannya nampak seperi orang yang  serius, pendiam dan kurang gagah. Secara fisik rasanya kurang cocok untuk memerankan tokoh Tom hehehehe.

Di samping rumah tempat keluarga Tom tinggal, terdapat rumah lain yang menarik perhatian Rachel. Di rumah tersebut tinggal pasangan suami istri Scott Hipwell (Luke Evans) dan Megan Hipwell (Haley Bennett). Setiap melewati rumah tersebut, Rachel melihat bagaimana rukunnya pasangan ini meskipun mereka belum dikaruniai anak. Semua terlihat sempurna sampai pada suatu hari Rachel sekilas melihat Megan bermesraan dengan laki-laki lain di rumah tersebut.

Merasa kecewa dan teringat akan kegagalan rumah tangganya plus pengaruh minuman keras, Rachel memutuskan untuk datang ke rumah Megan dan menegur Megan. Rachel ingin mengungkapkan betapa kurang bersyukurnya Megan karena telah dikaruniai keluarga yang sepenglihatan Rachel, nampak bahagia. Aaahhh padahal tidak semuanya nampak seperti apa yang kita lihat dipermukaan. Setiap keluarga dan individu pasti memiliki masalah masing-masing.

Entah apa yang terjadi, Rachel tiba-tiba terbangun di rumahnya dalam keadaan berlumuran darah. Ia tidak dapat mengingat kejadian di saat ia hendak berbicara dengan Megan. Keadaan semakin buruk ketika Megan dilaporkan hilang dan Rachel menjadi salah satu tersangka. Rachel kemudian berniat untuk menyelidiki kasus ini sendirian. Semakin ia menyelidiki latar belakang Megar dan orang-orang sekitarnya, semakin banyak pula rahasia gelap yang terungkap. Rumput tetangga memang belum tentu lebih sehat daripada rumput sendiri.

Kalau dilihat dalam bentuk tulisan, kisah The Girl on the Train (2016) seolah menarik dan bagus. Tapi sayang pengisahannya dalam bentuk film, jauh dari ekspektasi saya. Alur maju mundur yang disajikan terbilang kurang greget dan membuat saya bosan. Melalui alur maju mundur tersebut memang rahasia tokoh-tokohnya semakin terkuak, tapi tetap saja entah bagaimana Girl on the Train (2016) tetaplah membosankan. Akting Emily Blunt dengan raut muka yang melankolis tidak mampu menyelamatkan film ini. Penyelamat film ini justru adalah pada kisahnya yang sebenarnya memang bagus :). Siapa yang bertanggung jawab terhadap hilangnya Megan pun agak di luar dugaan saya :).

Saya rasa Girl on the Train (2016) masih layak untuk memperoleh nilai 3 dari skala maksimum 5 yang artinya “Lumayan”. Sepertinya lebih baik membaca versi novelnya daripada menonton versi filmnya deh.

Sumber: http://www.thegirlonthetrainmovie.com

The Other Woman (2014)

Other Woman 1

Saya dan istri saya baru saja menonton The Other Woman (2014) pada sabtu malam lalu. Awalnya kami datang ke bioskop untuk menonton Spiderman 2 karena melihat film tersebut sudah ada di daftar “now playing” pada aplikasi android 21 Cineplex & Blitzmegaplex. Palsuuuu ternyata palsuuu, Spiderman baru tayang mulai hari rabu tapi tiket sudah bisa dibeli sejak sabtu. Weeehhh payah, yaaa sudah kami memutuskan untuk menonton film yang judul dan sinopsisnya menarik, The Other Woman (2014).

The Other Woman (2014) mengisahkan pertemanan tidak wajar 3 orang wanita. Kenapa tidak wajar? Yaaah biasanya kan orang kenal karena pernah 1 sekolah atau 1 perusahaan, nah ini kenal karena pernah menjalin cinta dengan 1 pria hidung belang yang sama, Mark King ( Nikolaj Coster-Waldau). Mark memiliki seorang istri yang rela berhenti bekerja demi menjadi ibu rumah tangga baik, Kate King (Leslie Mann) namanya. Kate shok, kaget bukan main ketika ia mengetahui bahwa Mark ternyata berselingkuh dengan seorang pengacara yang kaya raya, mandiri dan lebih modis dibanding Kate, Carly Whitten (Cameron Diaz). Carly memutuskan untuk menghentikan hubungannya denga Mark begitu ia mengetahui bahwa Mark sudah menikah. Meski sudah tidak mau bersama-sama dengan Mark lagi, Carly tetap “diganggu” oleh Kate karena Kate tidak memiliki orang lain untuk berbagi selain Carly. Semua teman Kate ada teman Mark juga, Kate hanya memiliki Carly untuk menumpahlan keluh kesahnya. Walaupun awalnya Carly menolak, akhirnya kedua wanita senasib ini menjadi sahabat.

THE OTHER WOMAN Other Woman 3

Cerita The Other Woman (2014) tidak usai sampai di situ saja karena ternyata Mark memiliki selingkuhan lain yang lebih muda dan seksi dibandingkan Kate & Carly, Amber (Kate Upton) namanya. Sama seperti Carly, Amber juga enggan melanjutkan hubungannya dengan Mark begitu tahu kebejatan Mark. Ketiga wanita ini lalu merencanakan aksi balas dendam kepada Mark yang hobi mempermainkan perempuan :D.

Other Woman 4

Other Woman 8 Other Woman 5 AP FILM REVIEW THE OTHER WOMAN A ENT Other Woman 7

Film yang bergenre drama komedi ini mengandung kelucuan-kelucuan yang cukup menghibur, dapat membuat saya & istri tertawa. Bagaimana Carly & Kate berinteraksi serta bagaimana Amber, Carly & Kate membalas dendam cukup lucu dan tidak terlalu slapstic. Namun saya melihat akting Kate Upton seakan tenggelam dibandingkan akting Cameron Diaz dan Leslie Mann. Diaz memang sudah tampak berumur, begitu pula Leslie Mann, namun porsi dialog dan peranan kedua jauh lebih besar melampaui Kate Upton. The Other Woman (2014) seakan mengisahkan pertemanan 2 wanita paruh baya, bukan 3 wanita :’).

Secara garis besar, The Other Woman (2014) cukup menghibur dan layak mendapat nilai 3 dari skala maksimum 5 yang artinya “Lumayan”. Oooh yaa, kabarnya The Other Woman (2014) ini berhasil menggapai puncak box office Amerika looohh meskipun nilai film ini di rottentomatoes.com kurang baik. Well, The Other Woman (2014) cukup pas untuk ditonton bersama pasangan, nah minggu depannya barulah gantian nonton Spiderman 2 hehehehe ;).

Sumber: http://theotherwomanmovie.com/