Serial T.O.T.S.

Dalam beberapa kepercayaan kuno, burung bangau sering kali diasosiasikan dengan bayi. Sebenarnya, semua diawali di Jerman ratusan tahun yang lalu. Pola migrasi burung bangau sedemikian rupa membuat burung-burung tersebut ramai melewati Jerman di saat ketika banyak bayi lahir. Maka, muncul mitoa bahwa bayi-bayi tersebut datang dibawa oleh bangau. Dari sana, munculah kisah-kisah fantasi terkait burung bangau yang datang mengantarkan bayi ke rumah-rumah.

Hal inilah yang menjadi latar belakang T.O.T.S. Film seri Disney tersebut berada di sebuah dunia dimana bayi-bayi binatang diantarkan ke orang tua mereka oleh T.O.T.S. (Tiny Ones Transport Service). Bayi-bayi mungil beraneka binatang pertama-tama dirawat dan dipersiapkan terlebih dahulu sebelum akhirnya diantarkan oleh burung-burung T.O.T.S. Semua armada pengantar T.O.T.S adalah burung bangau kecuali pasangan Pip (Jet Jurgensmeyer) dan Freddy (Christian J. Simon).

Pip yang seekor pinguin harus memberikan petunjuk arah yang tepat bagi Freddy si burung flamingo. Keduanya bekerjasama saling menutupi kekurangan di tengah-tengah sebuah pekerjaan yang umumnya dilakukan oleh burung bangau. Di sini penonton diajarkan untuk mau bekerjasama, pantang menyerah dan tidak malu untuk tampil beda.

Selain itu, karena bayi binatang yang T.O.T.S. antarkan sangat beraneka ragam, maka penonton pun memperoleh pengetahuan mengenai ciri-ciri berbagai binatang. Bayi-bayi ini juga tampil lucu dan imut sehingga mampu membuat anak-anak untuk betah menonton serial tersebut. Terlebih lagi, setiap episode T.O.T.S. didampingi oleh lagu-lagu anak.

 

 

 

Hanya saja, konsep bahwa bayi diantarkan oleh burung, tetap membutuhkan penjelasan dari orang dewasa. Kita semua tahu bahwa bayi itu berasal dari rahim ibu, bukan dikirim oleh burung seperti paket JNE :P.

Saya rasa T.O.T.S. layak untuk memperoleh nilai 3 dari skala maksimum 5 yang artinya “Lumayan”. Untuk beberapa waktu, film seri anak ini berhasil menjadi film favorit anak-anak saya loh ;).

Sumber: disneynow.com/shows/tots

Serial The Boys

Apa jadinya kalau Superman tidak dterjadiibesarkan di dalam sebuah laboratorium yang dingin dan minim kasih sayang? Apa jadinya kalau Wonder Woman adalah seorang lesbian? Apa jadinya kalau The Flash adalah seorang pecandu? Yaaah, hal-hal unik dan berbeda itulah yang muncul pada Serial The Boys. Di tengah-tengah semakin populernya film seri keluaran Netflix, ternyata Amazon mampu memproduksi film seri seunik The Boys :).

Serial The Boys sebenarnya dibuat berdasarkan buku-buku komik dengan judul yang sama. Sebenarnya komik The Boys sempat menjadi bagian dari DC Comics, sebelum akhirnya transmisgrasi ke Dynamite Entertainment pada 2007. Cerita The Boys memang berkisar pada kisah superhero yang kemampuan supernya memang sangat mirip dengan beberapa karakter superhero keluaran DC Comics. Ada yang memilki kekuatan sama persis dengan Superman, Wonder Woman, The Flash, Aquaman, Stargirl dan lain-lain.

Namun berbeda dengan superhero mainstream ala DC Comics atau Marvel Comics, The Boys justru membahas jalan kelam yang diambil oleh individu-individu berkekuatan super. Biasanya, film-film seperti ini mengisahkan bahwa seseorang yang memiliki kekuatan super, menggunakan kekuatannya untuk memberantas kejahatan. Karakter idealis seperti ini ada juga di The Boys, tapi ia hanyalah salah satu dari beberapa karakter super yang ditampilkan. Sisanya justru memiliki berbagai perangai buruk yang sangat tidak patut tuk dicontoh.

Mayoritas superhero pada The Boys justru ditampilkan dengan lebih logis, mereka nampak sangat manusiawi. Ketika seseorang memiliki kekuatan super dan nampak lebih superior dibandingkan manusia pada umumnya, tentunya berbagai kemungkinan akan muncul. Tidak semuanya memiliki moral yang sangat sempurna dan memiliki hati nurani yang super bersih. Terkadang mereka justru melakukan hal yang tidak patut tanpa sepengetahuan publik.

Pada awal cerita, dunia dikisahkan bahwa terdapat sekumpulan superhero The Seven yang sangat terkenal. Publik mengenal The Seven sebagai superhero yang sangat baik dan bersedia melakukan apapun demi bumi dan umat manusia. Padahal dibalik itu, semuanya hanyalah pencitraan. The Seven bukanlah orang suci, beberapa diantaranya justru busuk dan melakukan berbagai tindakan yang keji dan bejat.

Apa yang busuk tentunya meninggalkan bau. Hal itulah yang terjadi pada The Seven. Pada akhirnya, terdapat orang-orang yang mencium kebusukan The Seven. Orang-orang inilah yang pada akhirnya membentuk The Boys. Perkumpulan The Boys berusaha menjatuhkan The Seven dengan berbagai usaha. Mayoritas The Boys tidak memiliki kekuatan super. Mereka hanya berusaha menggunakan apa yang mereka miliki dengan segala keterbatasan yang ada. The Boys memang melakukan aksinya di luar batas koridor hukum. Tapi sebagain besar dari anggota The Boys bukanlah orang jahat atau tokoh kriminal. Selain itu, mayoritas anggota The Boys pun masih memiliki sifat heroik dan moral yang baik.

Saya suka dengan berbagai keunikan yang The Boys tampilkan. Film seri besutan Amazon ini berhasil mengangkat sisi lain dari superhero dengan caranya sendiri. FIlm ini bukan film superhero atau anti-hero biasa. The Boys berhasil memberikan gambaran, apa yang mungkin terjadi ketika manusia berkekuatan super benar-benar ada di dunia. Semua itu dibungkus tidak hanya dari sisi si manusia super, melainkan dari sisi karakter-karakter manusia biasa.

Saya rasa film seri yang satu ini layak untuk memperoleh nilai 4 dari skala maksimum 5 yang artinya “Bagus”. Film ini cocok untuk dijadikan tontonan bagi teman-teman yang menginginkan sebuah hiburan yang menantang tanpa harus berfikir keras. Alur cerita film seri ini mudah difahami dan tidak terlalu kompleks :).

Sumber: http://www.amazon.com/dp/B07QQQ52B3

Serial Stranger Things

Film seri Stranger Things merupakan film yang mengambil latar belakang Amerika Serikat di tahun 80-an. Setidaknya dari season pertama sampai season ketiga, saat saya menulis tulisan ini, Stranger Things masih menggunakan Kota Hawkins sebagai lokasi utamanya. Hawkins adalah kota kecil di wilayah Indiana, Amerika Serikat. Semua terasa tenang dan damai sampai pada suatu hari, ada seorang anak yang hilang. Mulai saat itulah muncul berbagai kejadian aneh di kota tersebut.

Ini merupakan misteri yang menarik saya untuk mulai menonton episode-episode awal dari Stranger Things. Awalnya film seri ini seolah hendak menyuguhkan berbagai misteri besar yang kompleks. Ternyata setelah beberapa episode, terkuak bahwa semua hal aneh tersebut terkait dengan eksperimen rahasia pemerintah dan lubang ke dimensi lain. Kemudian cerita berkembang ke arah dimana terdapat masalah perang dingin dengan Uni Soviet dan monter-monster yang hadir dalam berbagai bentuk. Semuanya merupakan plot yang biasa kita temukan pada novel dan film keluaran tahun 80’an. Berbagai masalah tersebut, disuguhkan dengan sederhana dan mudah dimengerti. Ternyata Stranger Things tidak sekompleks yang saya kira. Bahkan lama kelamaan saya merasa bahwa Stranger Things relatif tidak ada misterinya sama sekali.

Lalu, apa daya tarik dari Stranger Things? Film seri ini berhasil membangkitkan nuansa 80-an yang memberikan nostalgia tertentu bagi yang pernah mengalami era 80-an. Tidak hanya musik, kostum dan lokasi saja, tapi cerita yang disuguhkan pun sangat berbau 80-an.

Selain itu, Stranger Things berhasil membangun karakter-karakter yang terlihat nyata dan berkembang dari episode satu ke episode lainnya. Mayoritas dari tokoh utama serial ini adalah anak-anak. Dialog mereka nampak natural seperti dialog anak-anak, tidak disensor atau dibuat oleh orang dewasa. Saya melihat memang ada candaan yang sedikit kasar di sana, tapi bukankah pada kenyataannya hal tersebut memang terjadi?

Saya hanya mengalami bagian ujung dari era tahun 80-an. Saya lebih banyak mengalami era 90-an ketika masih kecil dulu. Maka, nostalgia yang Stranger Things berikan, tidak terlalu berpengaruh bagi saya pribadi. Kenyataan bahwa misteri yang diberikan relatif sederhana pun, terkadang membuat saya berpaling dari film ini. Keberadaan karakter-karakter kuatlah yang membuat saya kembali lagi menonton Stranger Things. Dengan demikian, saya pribadi memberikan Stranger Things nilai 3 dari skala maksimum 5 yang artinya “Bagus”. Film ini sangat cocok bagi rekan-rekan yang menginginkan film misteri ringan bernuansa tahun 80-an.

Sumber: http://www.strangerthingsfilm.com

Serial Mindhunter

Saya sering menonton film-film detektif, beberapa diantaranya mengisahkan kasus pembunuhan berantai. dimana terdapat beberapa tindak kriminal dengan satu atau sekelompok pelaku yang sama. Pada beberapa film yang saya tonton, penyelidikan pembunuhan berantai, tentunya melibatkan FBI. Lembaga Amerika yang satu ini memiliki istilah dan prosedur tertentu ketika melakukan investigasi. Nah Serial Mindhunter mengisahkan asal mula bagaimana FBI mulai mengembangkan cara dan metode untuk memburu para pembunuh berantai beserta penanganan FBI terhadap berbagai kasus-kasus legendaris.

Semua diawai oleh ketertarikan Agen FBI Holden Ford (Jonathan Groff) terhadap isi pikiran dari seorang pembunuh berantai. Holden percaya bahwa dengan mempelajai perilaku dan pikiran pembunuh berantai yang ada di penjara, FBI dapat mendeteksi dan menangkap lebih banyak lagi pembunuh berantai. Daripada para pembunuh berantai tersebut membusuk di penjara, bukankah lebih baik kalau mereka digunakan untuk menangkap pembunuh berantai lain yang masih bebas di luar sana.

Memulai sesuatu yang tak lazim di zamannya, bukanlah hal yang mudah. Holden memperoleh penolakan dari berbagai sisi. Di sini saya melihat keuletan karakter Holden, sebab ia tetap berusaha mewujudkan idenya dengan berbagai cara.

Setelah melalui proses yang berliku-liku, mimpi Holden perlahan terwujud. Ia bersama dengan Agen FBI Bill Tench (Holt McCallany) dan Proffesor Wendy Carr (Anna Torv), berhasil memperoleh izin untuk mewawancarai beberapa narapidana populer. Dari sana, mereka berhasil membantu pihak kepolisian lokal dalam menghadapi berbagai kasus kriminal.

Mayoritas kasus kriminal yang muncul pada film seri ini dibuat berdasarkan kisah nyata. Pada Mindhunter, penonton akan disuguhkan berbagai tokoh dan kasus kriminal legendaris seperti kasus Edmund Kemper, John Wayne Gacy, Charles Manson, Ted Bundy, Pembunuhan Anak Kecil Atalanta, Sang Pembunuh BTK (Bind Torture, Kill), Montie Ralph Rissell, Shoe-Fetish Slayer, Richard Speck dan lain-lain. Modus operasi sampai ciri-ciri fisik si pelaku utama dari kasus-kasus tersebut ditampilkan dengan sangat mirip seperti aslinya.

Keaslian memang menjadi kelebihan dari Mindhunter, tapi terkadang hal tersebut menjadi sebuah kekurangan kalau dilihat dari sisi hiburan. Karena dibuat berdasarkan kisah nyata, maka beberapa kasus yang disuguhkan oleh Mindhunter terkadang seperti  memiliki akhir yang kurang spektakuler dan mengejutkan. Yaah, kehidupan nyata memang tidak sefantastis cerita karangan manusia bukan?

Film ini ternyata bercerita pula mengenai kehidupan pribadi Holden, Bill, Wendy dan kawan-kawan. Semuanya tentunya berkaitan dengan pekerjaan yang mereka lakukan di FBI. Semua dibuat berkaitan dan kadang menimbulkan konflik internal yang sangat mengena.

Saya pribadi terkadang terkagum-kagum dengan Mindhunter, tapi terkadang saya pun mengantuk kebosanan. Dengan demikian Mindhunter memperoleh nilai 3 dari skala maksumum 5 yang artinya “Lumayan”. Film ini cocok ditonton bagi teman-teman yang tertarik akan sejarah dan menginginkan sebuah film yang terasa asli dan mampu membuat penontonnya berfikir. Oh iya, Mindhunter mengandung beberapa konten dewasa yang tidak pantas ditonton oleh anak-anak.

Sumber: http://www.netflix.com/id-en/title/80114855

Serial Peppa Pig

Peppa Pig merupakah salah satu film seri kartun anak yang anak saya tonton di Nickelodeon. Film seri yang berasal dari Inggris ini mengisahkan keseharian Peppa (Lily Snowden-Fine), si anak Babi mungil yang imut. Ia tinggal bersama adik, papa dan mama. Selain itu, Peppa berteman dengan anak-anak dari jenis hewan yang berbeda, mulai dari domba, kelinci, kucing, kuda, gajah, rubah, sampai serigala.

Di sana, serial ini mengajarkan anak-anak untuk belajar bersosialisasi dan menghadapi berbagai masalah yang lazim dialami anak kecil. Masalah-masalah sederhana yang dibahas di sana antara lain seperti tak mau berbagi, tak mau mengalah, ketakutan bertemu teman baru, dan lain-lain.

Peppa hadir sebagai anak kecil dengan segala keterbatasannya. Jadi wajar kalau ia dikisahkan melakukan kesalahan. Kemudian ia memperoleh koreksi dan nasehat hingga ia mampu memperbaiki sekaligus belajar dari kesalahannya.

Namun pada prosesnya, terkadang Peppa nampak bossy dan melakukan beberapa tindakan buruk. Yaah tapi bukan buruk yang sangat parah yah, tindakan buruknya merupakan tindakan buruk yang lazim dilakukan oleh anak kecil yang masih belum paham. Toh pada akhirnya, Peppa pun mendapatkan pelajaran akan perbuatannya.

Itulah mengapa, orang tua tetap harus mendampingi ketika anaknya menonton Peppa Pig. Syukurlah ceritanya tidak bertele-tele dan tidak terlalu membosankan bagi orang dewasa. Durasi per episode yang cukup singkat, membuat saya tidak terlalu jenuh dengan film seri yang satu ini.

Walaupun hadir dengan animasi yang sederhana, film seri anak ini tetap tampil imut dan menarik bagi anak-anak. Apalagi sesekali tokoh dalam Pippa Pig mengeluarkan suara khas dari tipe binatang tertentu. Untuk Peppa dan keluarganya , tentunya sesekali akan ada suara “Ngok! Ngok!”, hehehehehe.

Walaupun sempat memperoleh protes dan dilarang tampil di Australia dan Cina, serial Peppa Pig tetap memperoleh nilai 3 dari skala maksimum 5 yang artinya “Lumayan”. Sepenglihatan saya, tidak ada perkataan atau perilaku yang parah sekali dari Peppa, masih amanlah ditonton anak kecil. Semua yang terjadi di Cina dan Australia adalah karena perbedaan budaya dan pola pikir. Hal yang mas-mas dan mbak-mbak Australia & Cina permasalahkan, tidak menjadi masalah di Indonesia. Saya rasa, selama Peppa tidak berbicara mengenai agama atau LGBT, serial ini pastilah aman untuk diputar di Indonesia.

Sumber: http://www.peppapig.com

Serial Blue’s Clues & You!

Blue’s Clues adalah salah satu acara andalan channel TV Nickelodeon. Acara TV ini sebenarnya sudah ada sejak tahun 1996 dan terus menelurkan episode baru sampai tahun 2006. Kemudian pada tahun 2019, Nickelodeon memutarkan kembali reboot dan peremajaan dari Blue’s Clues, yaitu Blue’s Clues & You!

Mirip seperti pendahulunya, Blue’s Clues & You! Memadukan antara tokoh manusia dengan tokoh kartun/animasi. Bahkan Blue sendiri sebenarnya merupakan anjing biru yang muncul dalam wujud animasi. Pada setiap episodenya, Blue meninggalkan petunjuk untuk Joshua Dela Cruz temukan. Dalam perjalannya, Josh harus memecahkan berbagai teka-teki dan tugas yang berhubungan dengan berbagai ilmu pengetahuan. Semua disajikan dengan rapi, menyenangkan dan mudah dipahami oleh anak-anak.

Serial yang satu ini berhasil memberikan unsur kesenangan bagi anak-anak, sambil memberikan berbagai pelajaran. Tata bahasa dan konten yang ramah anak dan tidak memberikan contoh yang buruk, membuat Blue’s Clues & You! semakin pas untuk ditonton oleh anak-anak. Orang dewasa pun tidak akan terlalu bosan melihat serial yang satu ini sebab teman dan jalan cerita tidak terlalu membosankan. Saya rasa Blue’s Clues & You! sudah sepantasnya untuk memperoleh nilai 4 dari skala maksimum 5 yang artinya “Bagus”. 

Sumber: http://www.nickjr.tv

Serial Top Wing

Top Wing merupakan film seri kartun anak yang mengisahkan petualangan sebuah regu penyelamat di Pulau Big swirl. Sebenarnya sudah banyak film-film kartun anak lain yang temanya mirip seperti ini. Hanya saja, latar belakang lokasi Top Wing mamang membuat Top Wing nampak sedikit berbeda.

Keempat tokoh utama serial ini belajar di Akademi Top Wing. Karena status mereka masih pelajar, maka mereka masih di bawah bimbingan instruktur. Selain itu mereka hanya beroperasi di sebuah pulau tropis yang moyoritas penduduknya adalah unggas.Setiap anggota Top Wings dilengkapi oleh kendaraan canggih untuk menolong siapapun yang membutuhkan.

Penduduk pulau yang bukan manusia dan wilayah operasi yang berupa pulau, membuat pembagian spesialisasi setiap anggota Top Wing agak berbeda. Mereka tidak membagi spesialisasi menjadi polisi, ambulan, pemadam kebakaran, yang pada umumnya saya temukan pada film sejenis. Pembagian yang Top Wing lakukan adalah beradasarkan medan yang dilalui. Di sana terdapat 1 pengemudi kendaraan darat, 1 pengemudi pesawat terbang, 1 pengemudi perahu, dan 1 pengemudi kapal selam.

Kemudian titik berat dari ceritanya adalah kerja sama dan kekompakan tim. Masalah yang dihadapi tidak terlalu sederhana, namun tetap mudah dipahami oleh anak-anak. Mayoritas misi para kadet adalah misi penyelamatan dan memperbaiki sesuatu yang rusak. Bukan melawan penjahat atau menyelamatkan dunia. Tokoh antagonis pada serial ini tidak selalu hadir pada setiap episodenya. Mereka pun tidak jahat mutlak, masih ada kebaikan di sana. Semua digambarkan melalui animasi yang bagus dan menarik. Anak saya yang perempuan saja senang menonton film seri yang satu ini.

Seperti biasa, karakter wanita pada film kartun seperti ini pasti hanya 1. Sayangnya, 1 karakter wanita pada Top Wing, justru nampak sebagai seorang kadet yang relatif lebih sering gagal mendapatkan medali dibandingkan rekan-rekan prianya. Memang sih kendaraannya terbilang yang paling unik, yaitu kapal selam. Tapi ketimpangan dalam hal gender masih sedikit ada pada Top Wing :’). Dari sudut pandang lain, bisa dikatakan pula bahwa satu-satunya kadet wanita dan paling muda di Top Wings memiliki daya juang yang tinggi. Walau tidak berhasil, ia terus mencoba sampai berhasil. Sebuah contoh yang baik bagi para penonton bukan?

Saya rasa film seri Top Wing masih pantas untuk memperoleh nilai 3 dari skala maksimum 5 yang artinya “Lumayan”. Terlepas dari beberapa kelemahannya, Top Wing masih mengajarkan berbagai nilai positif bagi anak laki-laki dan perempuan.

Sumber: http://www.nickjr.tv

Serial Bubble Guppies

Bubble Guppies adalah film seri kartun anak dengan mahluk separuh manusia, separuh ikan sebagai tokoh utamanya. Yaah sejenis putri duyung laaah, hanya saja mereka ini masih anak-anak semua. Mereka senang sekali menari dan bernyanyi di bawah laut. Keingintahuan mereka akan berbagai hal pun sangat besar. Terkadang hal tersebut membuat mereka terlibat dalam sebuah kesulitan. Tak jarang terdapat adegan kejar-mengejar di sana. Tapi semua selalu diakhiri dengan hal yang baik, sebab alasan kejar-mengejarnya bukan untuk saling melukai :D. Di sana terdapat contoh mengenai moral dan perilaku yang baik bagi anak-anak.

Tidak hanya itu, pada setiap episodenya, mereka pun memperoleh pendidikan dari 1 ikan besar. Di sinilah, Bubble Guppies mengajarkan para penonton cilik mengenai berbagai hal seperti huruf, angka warna, binatang dan lain-lain. Semua tokoh utama pada serial ini memang hidup di bawah laut, namun materi ilmu pengetahuan yang diberikan tidak terbatas pada hal-hal yag ada di bawah laut saja. Hal-hal yang ada di darat pun sering sekali dibahas di sana. Sering sekali si guru memberikan pelajaran dan membawa anak-anak berkelana ke mana saja untuk mempelajari semua yang ada di luar lautan biru mereka. Yaah walaupun kalau saya perhatikan, lama kelamaan para tokoh Bubble Guppies ini tiba-tiba dapat berkelana ke daratan hehehe. Beruntung semua itu hadir dalam wujud pelajaran atau dongeng dengan pesan moral tertentu. Jadi penonton pun tidak terlalu peduli kenapa kok mahluk-mahluk laut tiba-tiba dapat berkelana ke daratan.

Wujud tokoh utama yang ceria, lucu, senang bernyanyi dan senang menari tentunya membuat anak-anak kecil tertarik untuk menonton Bubble Guppies. Keberadaan berbagai pelajaran positif pada episodenya, semakin menambah nilai positif bagi film seri ini. Menurut saya, Bubble Guppies layak untuk memperoleh nilai 4 dari skala maksimum 5 yang artinya “Bagus”.

Sumber: http://www.nickjr.tv

Serial Rainbow Ruby

Rainbow Ruby atau 레인보우 루비 merupakan film seri kartun anak yang sedikit mirip dengan Serial Doc McStuffins. Hanya saja, Ruby (Alyssya Swales) tidak hanya dapat merubah menjadi Dokter saja, melainkan profesi lainnya. Di sana, saat Ruby pergi ke kamarnya dan mengenakan payung beserta jaketnya, ia dapat pergi ke Kota Pelangi. Semua mainan yang Ruby miliki seketika itu menjelma menjadi penghuni dan bagian dari Kota Pelangi.

Setiap Ruby menemukan masalah, ia akan membuka koper ajaibnya dan berubah menjadi berbagai profesi yang dapat menyelesaikan masalah tersebut. Profesi yang diperkenalkan disini terbilang detail dan beragam. Ia dapat berubah menjadi dokter, paramedis, koki, tukang roti, penyanyi, penari balet, tukang pipa, arsitek, pemain golf, fotografer, akrobatik, astronot, disainer perhiasan, disainer sepatu, ilmuwan dan lain-lain. Perlengkapan dari berbagai profesi tersebut pun, Ruby perkenalkan dengan cara yang sederhana dan mudah dipahami. Anak-anak dapat belajar mengenai beragai profesi yang ada, bahkan sampai ke profesi yang tidak umum diketahui oleh anak kecil. Jadi anak-anak memiliki lebih banyak pilihan kalau ditanya “Adek cita-citanya mau jadi apa?”. Kalau di jaman saya dulu sih paling jawabannya polisi, tentara, dokter dan presiden saja hehehehehe.

Hanya saja pada 1 atau 2 episodenya, terlihat bahwa Ruby mengarang alasan agar ia dapat pergi ke Kota Pelangi ketika kota tersebut mengirim sinya SOS kepada Ruby. Hal ini mungkin tidak terlalu terlihat sih kalau tidak teliti sebab jarang sekali. Entah ini termasuk white lie atau bukan sebab belum pernah ada penjelasan apakah Kota Pelangi yang Ruby datangi adalah benar-benar kota ajaib atau … apakah selama ini Ruby sedang bermain dan berkhayal bersama mainan-mainan yang ia miliki di kamar.

Terlepas dari kelemahan yang ada, Rainbow Ruby mengajak anak-anak untuk mengenal berbagai profesi dan untuk menyelesaikan berbagai masalah yang ada. Saya rasa film seri yang satu ini masih layak untuk memperoleh nilai 3 dari skala maksimum 5 yang artinya “Lumayan”. Dulu sih film ini dapat disaksikan di TV lokal, tapi setahu saya sekarang film ini dapat ditemukan di media streaming seperti Netflix. Kalau yang di TV Korea, bahasanya saya tidak faham hohohooho.

Sumber: home.ebs.co.kr/RRuby/main

Serial Elite

Sudah lama sekali saya tidak mengikuti film seri berbahasa Spanyol seperti Elite. Yah dahulu kala saya sempat menonton telenovela Amerika Latin berbahasa Spanyol yang sempat populer di Indonesia. Kali ini, saya menonton semacam telenovela, hanya saja kisahnya lebih muda, penuh misteri dan latar belakangnya adalah Spanyol.

Serial Elite mengisahkan kehidupan bebas para remaja yang belajar di Las Encinas, Spanyol. Sekolah Las Encinas adalah sekolah mewah yang sebagian besar muridnya merupakan anak orang kaya. Sedangkan sebagain kecil muridnya merupakan anak miskin yang memperoleh beasiswa. Ok, disinilah unsur telenovela klasik bermain. Kesenjangan antara si miskin dan si kaya terlihat jelas di sana. Kemudian kisah cinta dengan perbedaan status itupun ada di sana. Tak lupa terdapat kisah perselingkuhan di sela-selanya. Klise sekali bukan?

Masalahnya Elite bukanlah telenovela klasik sebab masalah-masalah terkini yang sedikit tabu, diangkat pula dengan sangat vulgar di sana. Elite mengangkat masalah narkoba, AIDS, hamil di luar nikah, diskriminasi terhadap muslim, homoseksualitas, inses, dan lain-lain. Kehidupan murid-murid Las Encinas nampak penuh pesta-pesta saja. Sesekali terlihat mereka belajar, tapi itu jarang sekali. Kalaupun ada karakter yang awalnya baik luar dan dalam, perlahan karakter tersebut akan belok dan terkontaminasi dengan segala keburukan dan kebejatan teman-temannya. Namun ada pula karakter yang pada awalnya terlihat brengsek, lama kelamaan ia justru nampak menjadi karakter yang paling bijak dan setia kawan. Ada pula karakter yang pada awalnya nampak polos dan baik, namun perlahan penonton diperlihatkan bahwa banyak sekali perilaku buruk karakter tersebut yang memicu perselisihan dimana-mana.

Perselisihan dalam percintaan memang menjadi akar masalah di sana. Tapi semua berhasil dimodifikasi dan dikembangkan sehingga nampak menarik. Saya yang bukan pecinta film drama kenapa ikut tertarik menonton Elite? Misteri. Ya, aroma misteri sangat kental terasa ketika menonton Elite. Kebejatan dan kegilan karakter-karakter utamanya tentunya akan menunun mereka ke dalam kasus-kasus kriminal. Yang menarik di sini adalah, terdapat misteri pembunuhan yang menjadi benang merah pada setiap episodenya. Hal inilah yang jarang sekali saya lihat pada film seri berbahasa Spayol lainnya.

Elite memang berhasil  menampilkan sebuah drama remaja yang penuh misteri, putaran dan kejutan di mana-mana. Namun ini bukanlah film yang pantas ditonton oleh remaja. Film Seri ini sangat dewasa, bukan karena adegan dewasanya. Melainkan karena pesan yang dibawa di dalamnya. Mayoritas karakter pada Elite melakukan perbuatan buruk yang sama sekali tidak pantas untuk dicontoh. Saya sendiri yakin bahwa Elite tidak mencerminkan kehidupan remaja Spanyol di dunia nyata. Kebejatan yang ada memang mencengangkan dan mengejutkan, sekaligus mengingatkan saya bahwa ini hanya cerita karangan saja. Ya seburuk-buruknya moral sebuah lingkungan, sepertinya tidak ada yang seperti ini. Kalaupun aja, sepertinya jarang sekali.

Saya tidak tahu akhir dari kisah misteri drama remaja ini tapi saya berharap akhirnya cukup memuaskan. Selama ini, film-film Spanyol yang pernah saya tonton memilki akhir yang kurang pas. Yaaah siapa tahu Elite ini berbeda hohohohoo. Rasanya film seri Elite layak untuk memperoleh nilai 3 dari skala maksimum 5 yang artinya “Lumayan”.

Sumber: http://www.netflix.com/id-en/title/80200942