Old Guard (2020)

Nama Old Guard sudah beberapa kali dipergunakan di dalam dunia militer. Nama inipun sudah beberapa kali dipergunakan sebagai judul film. Namun Old Guard yang kali ini hendak saya bahas merupakan Old Guard (2020) produksi Netflix yang dibuat berdasarkan serial buku komik dengan judul yang sama. Kalau di komiknya sih, Old Guard jelas bukan bacaan yang pantas bagi anak-anak. Selain gambarnya yang sadis, ceritanya pun mengandung konten yang sedikit tabu dan dewasa. Bagaimana dengan versi filmnya?

Tingkat kesadisan Old Guard (2020) jauh di bawah versi komiknya. Film ini lebih memilih untuk menampilkan aksi dan hiburan segar. Jalan ceritanya tidak menbingungkan dan sangat mudah difahami, tapi yaaaaa agak klise yahh. Jalan ceritanya berkisar pada sekelompok prajurit abadi yang dipimpin oleh Andy (Charlize Theron). Mereka sudah hidup ratusan tahun, beberapa diantaranya pernah ikut serta dalam perang salid, perang Napoleon dan lain-lain.

Tapi Old Guard (2020) tidak melihat semuanya dari kacamata Andy dan tentara abadi lain yang sudah berpengalaman. Film ini melihat semua peristiwa yang terjadi dari kacamata Nile Freeman (Kiki Layne), seorang marinir yang baru saja memperoleh keabadian. Tiba-tiba, tubuh Niki dapat sembuh dari berbagai luka yang mematikan. Seketika itu pulalah, keabadian menjadi sebuah misteri yang menarik dari Old Guard (2020). Sayang Old Guard (2020) tidak mengungkap semua misteri yang ada. Mungkin karena hendak membuat sekuelnya?

Yang pasti keabadian tidaklah membuat mereka 100% bahagia. Mirip seperti manusia lain, ada bagian-bagian yang tidak menyenangkan dari kehidupan. Itupun mereka alami, selama ratusan tahun. Permasalahan ini nampaknya hendak digali dan dijadikan sub plot, mendampingi plot utama yang sangat standard dan mudah ditebak.

Uniknya, yang saya paling suka dari Old Guard (2020), adalah bagaimana tokoh antagonis utama film ini tewas. Aaahhh rasanya puas sekali. Tokoh antagonis pada Old Guard (2020) memang terbilang lemah dan seperti tidak bisa apa-apa. Kelebihan yang ia miliki hanyalah kemampuan super untuk bertingkah sangat menyebalkan :’D.

Aksi dan jalan cerita yang standard, sedikit terobati dengan kekalahan tokoh antagonis yang menyebalkan. Dengan demikian, saya pribadi lkhlas memberikan Old Guard (2020) nilai 3 dari skala maksimum 5 yang artinya “Lumayan”

Sumber: http://www.netflix.com/id-en/title/81038963

Serial The Boys

Apa jadinya kalau Superman tidak dterjadiibesarkan di dalam sebuah laboratorium yang dingin dan minim kasih sayang? Apa jadinya kalau Wonder Woman adalah seorang lesbian? Apa jadinya kalau The Flash adalah seorang pecandu? Yaaah, hal-hal unik dan berbeda itulah yang muncul pada Serial The Boys. Di tengah-tengah semakin populernya film seri keluaran Netflix, ternyata Amazon mampu memproduksi film seri seunik The Boys :).

Serial The Boys sebenarnya dibuat berdasarkan buku-buku komik dengan judul yang sama. Sebenarnya komik The Boys sempat menjadi bagian dari DC Comics, sebelum akhirnya transmisgrasi ke Dynamite Entertainment pada 2007. Cerita The Boys memang berkisar pada kisah superhero yang kemampuan supernya memang sangat mirip dengan beberapa karakter superhero keluaran DC Comics. Ada yang memilki kekuatan sama persis dengan Superman, Wonder Woman, The Flash, Aquaman, Stargirl dan lain-lain.

Namun berbeda dengan superhero mainstream ala DC Comics atau Marvel Comics, The Boys justru membahas jalan kelam yang diambil oleh individu-individu berkekuatan super. Biasanya, film-film seperti ini mengisahkan bahwa seseorang yang memiliki kekuatan super, menggunakan kekuatannya untuk memberantas kejahatan. Karakter idealis seperti ini ada juga di The Boys, tapi ia hanyalah salah satu dari beberapa karakter super yang ditampilkan. Sisanya justru memiliki berbagai perangai buruk yang sangat tidak patut tuk dicontoh.

Mayoritas superhero pada The Boys justru ditampilkan dengan lebih logis, mereka nampak sangat manusiawi. Ketika seseorang memiliki kekuatan super dan nampak lebih superior dibandingkan manusia pada umumnya, tentunya berbagai kemungkinan akan muncul. Tidak semuanya memiliki moral yang sangat sempurna dan memiliki hati nurani yang super bersih. Terkadang mereka justru melakukan hal yang tidak patut tanpa sepengetahuan publik.

Pada awal cerita, dunia dikisahkan bahwa terdapat sekumpulan superhero The Seven yang sangat terkenal. Publik mengenal The Seven sebagai superhero yang sangat baik dan bersedia melakukan apapun demi bumi dan umat manusia. Padahal dibalik itu, semuanya hanyalah pencitraan. The Seven bukanlah orang suci, beberapa diantaranya justru busuk dan melakukan berbagai tindakan yang keji dan bejat.

Apa yang busuk tentunya meninggalkan bau. Hal itulah yang terjadi pada The Seven. Pada akhirnya, terdapat orang-orang yang mencium kebusukan The Seven. Orang-orang inilah yang pada akhirnya membentuk The Boys. Perkumpulan The Boys berusaha menjatuhkan The Seven dengan berbagai usaha. Mayoritas The Boys tidak memiliki kekuatan super. Mereka hanya berusaha menggunakan apa yang mereka miliki dengan segala keterbatasan yang ada. The Boys memang melakukan aksinya di luar batas koridor hukum. Tapi sebagain besar dari anggota The Boys bukanlah orang jahat atau tokoh kriminal. Selain itu, mayoritas anggota The Boys pun masih memiliki sifat heroik dan moral yang baik.

Saya suka dengan berbagai keunikan yang The Boys tampilkan. Film seri besutan Amazon ini berhasil mengangkat sisi lain dari superhero dengan caranya sendiri. FIlm ini bukan film superhero atau anti-hero biasa. The Boys berhasil memberikan gambaran, apa yang mungkin terjadi ketika manusia berkekuatan super benar-benar ada di dunia. Semua itu dibungkus tidak hanya dari sisi si manusia super, melainkan dari sisi karakter-karakter manusia biasa.

Saya rasa film seri yang satu ini layak untuk memperoleh nilai 4 dari skala maksimum 5 yang artinya “Bagus”. Film ini cocok untuk dijadikan tontonan bagi teman-teman yang menginginkan sebuah hiburan yang menantang tanpa harus berfikir keras. Alur cerita film seri ini mudah difahami dan tidak terlalu kompleks :).

Sumber: http://www.amazon.com/dp/B07QQQ52B3

Birds of Prey (2020)

Ibarat meraup serpihan DCEU (DC Extended Universe) yang kegagalannya terlihat di depan mata, DC Comics kembali mengumpulkan sekelompok karakter yang tidak terlalu terkenal ke dalam sebuah film layar lebar Birds of Prey (2020). Salah satu tokoh utama film tersebut adalah Harley Quinn (Margot Robbie) yang sebelumnya sudah diperkenalkan pada Suicide Squad (2016), salah satu film DC Comics yang dengan tegas menyatakan bahwa mereka berada di dalam DCEU. Sangat berbeda dengan, Suicide Squad (2016), Birds of Prey (2020) sama sekali tidak mengkaitkan waktu dan kejadian dengan film-film lain yang termasuk ke dalam DCEU. Benang merahnya hanya tokoh Harley Quinn saja.

Sesuai judulnya, Harley Quinn tidak sendirian. Ia harus bekerja sama dengan Dinah Lance / Black Canary (Jurnee Smollett-Bell), Helene Bertinelli / The Huntress (Mary Elizabeth Winstead), Renee Montoya (Rosie Perez) dan Cassandra Cain (Ella Jay Basco). Kelima wanita inilah yang … sepenglihatan saya hanya menjelang akhir film saja bekerjasama dan menyebut diri mereka sebagai Birds of Prey :’D. Sejak awal, Birds of Prey (2020) seolah seperi film solonya Harley Quinn. Harley sangat dominan di sini.

Mungkin semua ini akan berubah bila tokoh DC Comics yang lebih populer, ditampilkan pada Birds of Prey (2020). Kalau di versi buku komiknya, anggota tetap dan awal dari kelompok wanita pemberantas kejaahatan ini adalah Black Canary, The Huntress, Lady Blackhawk dan … Batgirl. Kemana Batgirl? Terdapat lebih dari satu tokoh wanita yang menggunakan kostum Batgirl dan salah satunya adalah Cassandra Cain. Tapi kali ini, Cain hanya tampil sebagai … Cassandra Cain, anak kecil yang berprofesi sebagai pencopet. Tidak ada Batgirl muncul di sana. Poison Ivy dan Cat Women yang kalau di komik sempat bergabung dengan Birds of Prey saja tidak ada di sana. Yang ada hanya Harley Quinn beserta kegilaannya.

Birds of Prey (2020) nampak seperti mengandalkan sekali aksi campur komedi yang Quinn hadirkan. Adegan aksinya sih memang terlihat rapi dan bagus. Tapi lelucon Quinn hanya dapat membuat saya tersenyum saja, tidak tertawa. Sementara tokoh lain seakan hanya menumpang setor muka lalu melakukan adegan aksi dengan serius.

DC Comics adalah penerbit buku komik dan film superhero dan filmnya kali ini praktis hanya menggunakan 1 tokoh saja yang benar-benar memiliki kekuatan super yaitu Black Canary. Sisanya yaaa hanya ahli berkelahi atau menggunakan senjata saja. Tak terkecuali tokoh antagonisnya yaitu Black Mask / Roman Sionis (Ewan McGregor). Saya sendiri bingung untuk apa Mas Sionis menggunakan Black Mask, supaya dibilinag trendi gitu? 😛 Toh identitas dia sebagai Black Mask sudah diumbar-umbar sejak awal film. Topeng tersebut pun tidak memberikan kekuatan apapun.

Terlepas dari beberapa hal di atas, kemasan dan penceritaan dari Birds of Prey (2020) terbilang cukup baik, rapi dan menghibur. Visualnya pun nampak bagus dan keren. Semuan nampak nyaman di mata saya. Quinn yang menjadi fokus utama film ini pun nampak berhasil menarasikan berbagai peristiwa yang ada sehingga penonton dapat mengikuti cerita dengan baik.

Dengan begitu, Birds of Prey (2020) masih dapat memperoleh nilai 3 dari skala maksimum 5 yang artinya “Lumayan”. Saya tak tahu DC Comics akan memasukkan Quinn ke dalam kelompok super apalagi. Suicide Squad sudah, Birds of Prey sudah, next …?

Sumber: http://www.birdsofpreymovie.com

Bloodshot (2020)

Bloodshot adalah tokoh superhero pada buku komik keluaran Valiant Comics yang sudah hadir sejak 1992. Saya sendiri belum pernah membaca Valiant Comics, popularitas penerbit yang satu ini tentunya berada di bawah Marvel Comics dan DC Comics. Tapi Valiant Comics bersama dengan Bloodshoot memiliki komunitas penggemarnya sendiri yang agak kaget ketika mengetahui bahwa Bloodshot akan diangkat ke layar lebar.

Pada versi komiknya, Bloodshot dikisahkan sebagai tentara super dengan darah yang mengandung robot super kecil berukuran nano. Robot-robot tersebut membuat Bloodshot menjadi super kuat, mampu menyembuhkan diri sendiri, mampu berinteraksi langsung dengan berbagai super komputer dan lain sebagainya. Metode yang Bloodshot lakukan terbilang sadis dan penuh darah. Bagaimana mungkin karakter seperti ini masuk ke layar lebar?

Penyesuaian tentunya dilakukan di mana-mana sehingga Bloodshot (2020) tidak menampilkan adegan yang sangat sadis apalagi gory. Kemampuan Bloodshot atau Ray Garrison (Vin Diesel) pada Bloodshot (2020) sebenarnya tak jauh berbeda dengan versi komiknya. Setelah disergap, disekap dan dibunuh oleh beberapa orang misterius, Ray kembali hidup dengan robot-robot nano di dalam darahnya. Seketika pula Ray dapat menyembuhkan dirinya sendiri, menjadi super kuat dan dapat langsung berinteraksi dengan satelit dan berbagai teknologi canggih lainnya. Nah, mirip sekali dengan komiknya bukan? Hanya sadisnya saja kok yang dikurangi :). Yah tapi para penggemar komik Bloodshot tetap kecewa karena perbedaan ini. Selain itu motivasi hidup Bloodshot pun dinilai agak melenceng.

Baik, kita masuk ke dalam tujuan hidup Bloodshot. Pada Bloodshot (2020) tujuan hidup Bloodshot nampaknya dipacu oleh tragedi yang dialami oleh istrinya. Padahal pada versi komiknya, ikatan atara Bloodshot dan anaknya nampak lebih penting ketimbang apapun. Yah memang sih, motivasi terkait anak tentunya akan lebih mengharukan dan memberikan warna di tengah-tengah ingatan Bloodshot yang agak kabur.

Bloodshot sendiri tidak tahu ingatan mana yang benar dan mana yang salah. Kekuatan Bloodshot memang besar, tapi ia mengalami lupa ingatan sehingga semuanya bisa saja salah atau benar. Saya melihat hal ini sebagai sesuatu yang cukup menghibur karena saya belum menonton trailer Bloodshot (2020) sebelum menonton filmnya :’D. Wow, kenapa trailernya? Trailer dari Bloodshot (2020) merupaka blunder karena trailer tersebut membocorkan inti cerita Bloodshot (2020) beserta semua adegan aksi terbaik pada Bloodshot (2020).

Memang apa sih adegan terbaik Bloodshot (2020)? Tentunya adegan dimana Bloodshot menunjukkan kemampuan robot nano di darahnya. Itu saja sudah dtampilkan pada trailernya. Sisanya hanya adegan aksi superhero yang terlihat standard untuk film keluaran 2020, agak mengecewakan. Apalagi Vin Diesel sepertinya gagal memberikan keunikan bagi karakter Bloodshot. Vin Diesel memerankan Bloodshot seperti ketika ia memerankan karakter Dominic Toretto pada franchise Fast & Furious.Bloodshot (2020) sudah seperti kisah ketika Dominic Toretto berhenti balapan liar dan berubah menjadi superhero :’D.

Ahhh, saya pribadi tidak terlalu masalah dengan perbedaan antara versi komik denga versi filmnya. Jalan cerita terkait ingatan Bloodshot, cukup menghibur bagi saya yang tidak menonton trailer Bloodshot (2020). Adegan aksi Bloodshot lumayan baguslah meski sebagian besar terlihat agak basi ya. Dengan demikian, Bloodshot (2020) masih layak untuk memperoleh nilai 3 dari skala maksimum 5 yang artinya” Lumayan”. Jangan tonton spoiler Bloodshot (2020), spoiler alert. Nah kalau terlanjur menonton spoilernya bagaimana? Tontonlah film yang lain, dari trailerny saja sudah terlihat jalan ceritanya akan dibawa ke arah mana :(.

Sumber: http://www.sonypictures.com/movies/bloodshot

 

Brightburn (2019)

Siapa yang tak tahu Superman. Superhero pembela umat manusia yang satu ini sudah terkenal sejak saya belum lahir. Nah, bagaimana kalau Superman hadir ke Bumi tapi dalam versi yang berbeda, versi yang lebih gelap? Itulah topik utama yang Brightburn (2019) tawarkan. Semoga ini dapat menjadi sesuatu yang menarik dan agak berbeda ;).

Sama persis seperti kisah Superman, pada Brightburn (2019) dikisahkan Tori Breyer (Elizabeth Banks) dan Kyle Breyer (David Denman) adalah sepasang petani yang pada suatu hari menemukan seorang bayi di dalam sebuah kapsul misterius. Kapsul tersebut jatuh dari angkasa, menimpa lahan pertanian milik keluarga Breyer. Pasangan Breyer yang sudah lama tidak memiliki keturunan, langsung mengangkat bayi yang mereka temukan sebagai anak mereka.

Hari terus berganti, tak terasa bayi mungil keluarga Breyer sudah beranjak dewasa. Brandon Breyer (Jackson A. Dunn) tumbuh tanpa mengetahui asal muasalnya. Lambat laun, Brandon mulai menyadari bahwa ia memiliki kekuatan yang besar. Hanya saja cara Brandon menyikapi kekuatan ini, sangat berbeda dengan cara Clark Kent / Superman menyikapi kekuatannya. Di sini digambarkan bahwa kekuatan Brandon sama plek ketiplek dengan kekuatan Superman.

Yaaah Brandon di sini memang merupakan Superman versi jahat. Gambaran akan kasih sayang Kyle dan Tori memang sudah ditonjolkan. Namun entah kenapa sebagian besar nampak hambar dan miskin emosi. Pada awalnya saya melihat kasih sayang Tori sebagai seorang ibu. Tapi semakin lama kasih sayang tersebut terlihat kurang meyakinkan. Usaha untuk menghentikan teror Brandon pun gagal menghasilkan adegan yang mencekam. Saya agak bingung mau dibawa ke mana arah Brightburn (2019). Mau dibilang horor yaaa tidak ada seram-seramnya. Mau dibilang misteri, dimana misterinya???

Disana sungguh tidak ada misteri yang membuat saya penasaran. Kenyataan akan apa dan siapa Brandon sungguh tidak menarik dan basi. Kalau hanya ingin mengisahkan Superman versi jahat, DC Comics sudah memiliki berbagai cerita akan Superman jahat. Yang paling terkenal diantaranya adalah Superman versi Injustice, dimana Superman berubah menjadi jahat ketika Louis Lane dibunuh oleh Joker. Cerita dan alurnya jauh lebih kompleks dan menarik ketimbang Brightburn (2019). Jadi jelas sudah, mengisahkan Superman versi jahat bukanlah sesuatu yang revolusioner bagi saya pribadi hehehehe v(^_^)v.

Di luar ekspektasi saya, Brightburn hanya dapat memperoleh nilai 2 dari skala maksimum 5 yang artinya “Kurang Bagus”. Kalau mau melihat Superman versi jahat lebih baik melihat beberapa produk asli DC Comics seperti Injustice, Superman: Red Son, JLA: Earth 2, Irredeemable dan Infinite Crisis ;).

Sumber: http://www.sonypictures.com/movies/brightburn

Aquaman (2018)

Aquaman (2018) hadir di atas reruntuhan DC Extended Universe yang terpuruk setelah kurang berhasilnya Justice League (2017). Kepergian sutradara dan pemain utama dari DC Extended Universe membayangi khadiran Aquaman di layar lebar. Bagaimanapun juga, Aquaman (2018) sebenarnya bagian dari sederet film-film superhero DC Comics yang pada awalnya akan saling terkait dan membentuk DC Extended Universe. Sayang pendekatan yang terlalu serius dan gelap membuat DC Extented Universe kalah jauh dengan Marvel Cinematic Universe, pesaing mereka. Akankah Aquaman (2018) dapat belajar dari kegagalan dan membuat perbedaan?

Karakter Aquaman atau Arthur Curry (Jason Momoa) kali ini nampak garang dan sangar. Film ini berhasil mengubah citra Aquaman sebagai superhero culun kelas 2. Adegan perkelahian pada Aquaman (2018) sangat menghibur dan cantik. Semua adegan pertarungan nampal jelas karena pertarungan tidak hanya ditunjukkan dari jarak dekat. Semua sudut ditunjukkan, apalagi mayoritas latar belakang film ini adalah lautan yang sangat luas. Pertarungan di bawah laut memang membawa nuansa lain dibandingkan film-film superhero DC sebelumnya.

Tapi kok di bawah laut? Aquaman memiliki kekuatan berkomunikasi dengan binatang laut, berenang super cepat, mengendalikan laut dan kekuatan di atas rata-rata manusia biasa. Ia adalah anak dari seorang manusia biasa dengan ratu Atlantis. Perbedaan asal usul kedua orang tuanya membuat Aquaman seolah “dibuang” dan hidup di permukaan yang kering, tidak di bawah laut bersama bangsa Atlantis. Aquaman di sini adalah seseorang yang memendam amarah dan siap meledak kapan saja.

Kedamaian antara penduduk darat dan penduduk bawah laut terancam ketika adik tiri Aquaman, Orm Marius (Patrick Wilson), berusaha mengadu domba kedua belah pihak demi menyatukan Kerajaan Atlantis dan menjadi raja Atlantis yang baru. Saat ini keadaan Atlantis memang terpecah ke dalam beberapa Kerajaan bawah laut. Belum ada sosok seorang raja yang mampu menyatukan mereka dan membentuk kembali Kerajaan Atlantis yang kuat.

Nah, 2 orang bangsawan Atlantis, YMera Xebella “Mera” Challa (Amber Heard) dan Nuidis Vulko (Willem Dafoe), berusaha membawa Aquaman kembali ke Atlantis untuk menghentikan Orm dan menyatukan kembali Atlantis di bawah 1 kepemimpinan seperti sediakala.

Ahhh di sini sebenarnya terdapat plot from zero to hero yang seharusnya menarik. Sayang jalan cerita yang lebih fokus pada pencarian sebuah senjata super membuat semuanya terasa agak hambar dan mudah ditebak. Terdapat banyak sub-plot yang sebenarnya memiliki potensi untuk memperkaya cerita, tapi kenyataannya hanya terhenti dengan cepat dan tanpa emosi.

Karakter antagonisnya pun seharusnya Orm dan Black Manta (Yahya Abdul-Mateen II) ya tapi kok hanya Orm saja yang muncul dipermukaan. Padahal rasanya Black Manta lebih populer loh di komiknya. Karakter Black Manta gagal tampil menonjol padahal sudah ada amunisi terkait dendam lama antara ia dengan Aquaman. Yaaah, semua karakter antagonis pada Aquaman (2018) memiliki alasan yang klise dalam melakukan kejahatan, ya begitu-begitu saja :’D.

Saya rasa Aquaman (2018) layak untuk memperoleh nilai 3 dari skala maksimum 5 yang artinya “Lumayan”. Film ini tidak menenggelamkan DC Extended Universe, tapi gagal pula membuat franchise tersebut kembali bersinar.

Sumber: http://www.aquamanmovie.net

Spider-Man: Far From Home (2019)

Pada Spider-Man: Far From Home (2019), setelah seorang superhero besar “pensiun”, Peter Parker / Spider-Man (Tom Holland) seakan menanggung beban berat untuk melajutkan apa yang sudah superhero besar tersebut lakukan kepada dunia. Spider-Man yang pada awalnya hanya superhero remaja lokal, sekarang diharapkan agar dapat ikut serta dalam menghadapi kejahatan yang datang mengancam dunia, bukan hanya lingkungan tempat Spider-Man tinggal.

Tak heran kalau Nick Fury (Samuel L. Jackson) meminta bantuan Spider-Man ketika mahluk-mahluk dari dimensi lain, datang menyerang Bumi. Mahluk-mahluk yang disebut Elemental ini konon sudah memusanahkan Bumi di dimensi lain yang menjadi rumah Quentin Beck / Mysterio (Jake Gyllenhaal). Beck datang dari dimensi lain untuk mencegah Elemental agar tidak ada Bumi lain yang musnah. Spider-Man memang hidup di dunia MCU (Marvel Cinematic Universe) yang mana menganut faham bahwa terdapat banyak dimensi. Jadi, terdapat Bumi lain di dimensi lain, terdapat pula Peter Parker lain di dimensi lain, dan seterusnya.

Melihat kemampuan super yang Beck miliki, Peter semakin yakin bahwa ia tidak pantas menjadi seorang pelindung Bumi, Beck-lah orang yang lebih pantas. Lagi pula, sejak awal Peter pun sebenarnya memilih lari dari panggilan Nick Fury. Peter memilih untuk berlibur jauh dari rumah dibandingkan mengangkat telefon dari Fury. Fury dan S.H.I.E.L.D. harus bekerja keras agar Peter terpaksa ikut serta bergabung melawan Elemental bersama Beck. Sebenarnya disinilah terjadi kelucuan karena Peter yang sedang berlibur ke Eropa dan berusaha memenangkan hati Michelle “MJ” Jones (Zendaya Maree Stoermer Coleman) tapi Fury dan kawan-kawan selalu muncuk untuk “menculik” Peter :’D.

Banyak terdapat humor di mana-mana sehingga adegan aksi yang ditampilkan nampak lebih menghibur. Antagonis pada film inipun sebenarnya tidak terlalu superior, tapi penampakkannya sungguh tak terduga dan sangat menghibur. Untuk menampilkan sebuah hiburan yang baik, ternyata sebuah film superhero tidak harus dengan menampilkan karakter antagonis yang super kuat dan terkenal ;).

Kisah cinta remaja pada Spider-Man: Far From Home (2019) ini pun rasanya lebih menyenangkan dibandingkan cinta-cintaan Spider-Man lainnya. Michelle “MJ” Jones terlihat lebih mandiri dan kuat dibandingkan love interest Spider-Man versi lainnya.

Saya kagum dengan film Spider-Man yang satu ini. Pendekatan yang diambil pada Spider-Man: Far From Home (2019), sungguh berbeda dengan versi komik Spider-Man klasik yang pernah saya baca. Spider-Man di sini tidak terlalu sibuk menghadapi para haters seperti film Trilogi Spider-Man versi Sam Raimi. Kejadiran superhero besar lain yang membuat Spider-Man sebagai penerus pun membuay warna baru bagi Spider-Man remaja versi Tom Holland ini. Spider-Man: Far From Home (2019) tentunya layak untuk memperoleh nilai 4 dari skala maksimum 5 yang artinya “Bagus”. Sampai saat ini, film ini berhasil menjadi film layar lebar Spider-Man terbaik yang pernah saya tonton.

Sumber: http://www.spidermanfarfromhome.movie

The Darkest Minds (2018)

Melihat trailer The Darkest Minds (2018), saya kira film ini akan bercerita mengenai mutant, yaaaah paling sejenis X-Men laaah. Ahhh ternyata saya salah besar. The Darkest Minds (2018) ternyata mirip dengan film-film bertemakan remaja berbakat di masa depan yang suram seperti Divergent (2014), The Maze Runner (2014) dan kawan-kawan. Wow, bukankah era film-film seperti ini sudah lewat?

Pada Darkest Minds (2018), dikisahkan bahwa 90% anak di dunia, tewas oleh sebuah penyakit misterius. Sisanya yang selamat, tiba-tiba memiliki kemampuan khusus. Pihak pemerintah yang ketakutan, memasukkan anak-anak yang selamat ke dalam kamp-kamp. Di sana, mereka dibagi ke dalam beberapa golongan sesuai dengan kemampuannya.

Golongan hijau memiliki kejeniusan di atas rata-rata. Golongan biru memiliki kemampuan telekinesis, memanipulasi objek dari jarak jauh.Golongan kuning memiliki kemampuan memanipulasi listrik. Golongan merah memiliki kemampuan memanipulasi api. Golongan oranye memiliki kemampuan memanipulasi pikiran orang lain. Nah, pemerintah memutuskan untuk membunuh semua golongan merah dan oranye karena dianggap terlalu berbahaya.

Ruby Daly (Amandla Stenberg) merupakan golongam oranye yang melarikan diri dari pihak-pihak yang ingin membunuhnya atau memanfaatkan kekuatannya. Dalam pelariannya, Ruby bergabung dengan beberapa anak lain dari golongan yang berbeda. Di sana ada Liam Steward (Harris Dickinson) si golongan biru, Zu (Miya Cech) si golongan kuning dan Chubs (Skylan Brooks) si golongan hijau. Keempat anak dengan kemampuan beragam tersebut, bahu-membahu menghadapi berbagai rintangan.

Saya menikmati setengah awal dari Darkest Minds (2018). Terdapat berbagai masalah dan konflik yang dibangun dengan cara yang menarik. Sayang, pada pertengahan film, semuanya mulai hambar dan membosankan. Terdapat sub-plot tak bermakna di sana. Terdapat pula romansa ABG yang garing di sana. Darkest Minds (2018) pun tak ubahnya seperti duplikat dari Divergent (2014), The Maze Runner (2014) dan kawan-kawan. Hal ini agak mengecewakan, karena Darkest Minds (2018) seharusnya dapat memberikan sesuatu yang lebih segar. Tapi sepertinya saya tidak bisa berharap banyak juga karena belakangan saya baru mengetahui bahwa Darkest Minds (2018) ternyata dibuat berdasarkan sebuah novel remaja dengan judul yang sama. Nampaknya Darkest Minds (2018) melakukan kesalahan tahun rilis, seharusnya film seperti ini dirilis sekitar tahun 2014, dimana film-film dengan tema sejenis sedang meraih popularitas.

Dengan demikian, Darkest Minds (2018) layak untuk memperoleh nilai 3 dari skala maksimum 5 yang artinya “Lumayan”. Jangan kaget kalau akhir dari film ini tidak 100% tuntas karena film-film seperti ini memang diplot untuk memiliki 3 atau 5 film, bukan 1 film.

Sumber: http://www.foxmovies.com/movies/the-darkest-minds

Glass (2019)

M. Night Shyamalan bukanlah sutradara favorit saya. Saya bahkan kurang suka dengan beberapa karyanya. Secara mengejutkan, Shyamalan menghasilkan Split (2017) yang memiliki banyak sekali kejutan di dalamnya, kejutan yang tidak saya duga sebelumnya. Saya pun tentunya tertarik untuk menonton kelanjutan dari Split (2017), yaitu Glass (2019). Apakah Glass (2019) akan lebih baik dari Split (2017)?

Pada bagian akhir Split (2017), dapat diketahui bahwa terdapat 2 orang yang memiliki kekuatan super di atas menusia biasa yaitu Kevin Wendell Crumb / The Horde (James McAvoy) dan David Dunn / The Observer (Bruce Willis). Nah pada Glass (2019), keduanya tertangkap dan dijebloskan ke dalam sebuah rumah sakit jiwa. Ok, kita sudah memiliki The Horde dan The Observer, lalu dimana Glass? Mr.Glass adalah julukan dari Elijah Price (Samuel L. Jackson). Ia pun dirawat di rumah sakit yang sama dengan Kevin dan David.

Berbeda dengan kedua rekannya, secara fisik, Elijah sangat rapuh seperti gelas. Tulang tubuhnya mudah sekali retak dan patah sebagai akibat dari penyakit osteogenesis imperfecta tipe 1 yang ia derita sejak kecil. Kelemahan fisiknya, ternyata diikuti oleh kecemerlangan otaknya. Sayang Elijah menggunakan kejeniusannya untuk melakukan pembunuhan masal. Uniknya, alasan Elijah membunuh adalah untuk mencari dan menciptakan orang-orang berkemampuan seperti superhero di buku komik. Itulah mengapa, Elijah, diterapi bersama-sama dengan David dan Kevin. Ketiganya sama-sama percaya akan keberadaan superhero di dunia nyata.

Di rumah sakit tersebut, semua bukti mengenai kekuatan super David dan Kevin, diperdebatkan oleh Dr. Ellie Staple (Sarah Paulson). Dr. Ellie mencoba meyakinkan bahwa semua itu hanya khayalan saja. Elijah sendiri hanya diam dan jarang merespons apa yang Dr. Ellie katakan. Tapi Glass (2019) memang berbicara mengenai Elijah atau Mr. Glass. Walau nampak lemah dan tak berdaya, Elijah ternyata menyimpan sebuah rencana yang …. pada akhirnya tidak terlalu menarik :P.

Bagian awal dan tengah yang menjanjikan dan sukses membuat saya penasaran, diakhiri dengan sesuatu yang mengecewakan. Memang sih, saya gagal menebak mau dibawa ke mana arah film ini, tapi kejutan yang dihadirkan nampak kurang ok. Padahal jalan ceritanya terbilang menarik loh.

Apalagi akting James McAvoy dan Samuel L. Jackson sebenarnya terbilang bagus pada Glass (2019). Karena akting prima keduanya, akting Bruce Willis sendiri jadi nampak kurang menonjol :’D. Sesuai judulnya, film ini memang panggung bagi Elijah atau Mr. Glass, jadi pusat perhatian bukan pada Bruce Willis atau David Dunn. Samual L. Jackson berhasil memerankan seorang jenius dan ahli taktik. Film ini memang benar-benar filmnya Mr. Glass. Sayang yah sekali lagi, twist di akhirnya yaaaah kurang ok :P.

Secara keseluruhan, kualitas Glass (2019) agak dibawah ekspektasi saya, namun film ini tetap layak untuk memperoleh nilai 3 dari skala maksimum 5 yang artinya “Lumayan”. Saya ragu akan ada film keempat setelah Glass (2019).

Sumber: http://www.universalpictures.com/movies/glass

Dark Phoenix (2019)

Phoenix bukanlah kata yang asing bagi penggemar X-Men diluar sana. Ia merupakan salah satu mahluk terkuat di jagat dunia per-superhero-an ala Marvel Comics. Kekuatan Phoenix sangat dahsyat sampai-sampai ia sering kali membunuh siapa saja yang ada di sekitarnya tanpa pandang bulu.

Baik di buku komik Marvel maupun film-film terdahulunya, kehadiran Phoenix menandakan bahwa akan ada tokoh dari franchise X-Men yang gugur. Hal ini pernah terbukti pada X-Men: The Last Stand (2006). Mayoritas karakter utama X-Men tewas akibat ulah Phoenix. Sayang eksekusi dari sang sutradara pada saat itu terbilang buruk sehingga X-Men: The Last Stand (2006) dapat dikatakan sebagai salah satu film terburuk yang pernah saya tonton. Saya tidak ada masalah dengan gugurnya beberapa superhero dalam sebuah film. Yang menjadi masalah adalah bagaimana mereka tewas dam kisah dibalik itu. Beberapa superhero beken dikisahkan gugur pada Avengers Infinity War (2018) dan Avengers: Endgame (2019), tapi hal tersebut tetap membuat keseluruhan film tetap bagus dan menarik. Franchise Avengers dan MCU justru semakin bersinar setelah kedua film tersebut hadir. Bagaimana dengan X-Men? Franchise X-Men sempat mati suri setelah X-Men: The Last Stand (2006), sampai akhirnya muncul X-Men: Days of Future Past (2014) yang mereboot franchise X-Men sekaligus membatalkan semua kisah yang pernah ada pada telah X-Men: The Last Stand (2006), horeeee :D. Masalahnya, apakah kesalahan yang sama akan berulang kembali?

Phoenix adalah salah satu tokoh terkuat di semesta X-Men. Pada dasarnya ia merupakan transformasi dari Jean Grey (Sophie Turner) yang selama ini memendam sebuah kekuatan yang sangat besar. Karena besarnya kekuatan tersebut, Jean beberapa kali gagal mengendalikan kekuatannya, terutama ketika ia mengetahui beberapa fakta akan masa lalunya yang Proffesor X atau Charles Xavier (James McAvoy) sembunyikan. Terlebih lagi ada pihak lain yang berusaha memanfaatkan kegalauan Jean untuk kepentingan pribadi.

Proffesor X, Mystique / Raven Darkholme (Jennifer Lawrence), Quicksilver / Peter Macimoff (Evan Peters), Beast /Hank McCoy (Nicholas Hoult), Storm / Ororo Munroe (Alexandra Shipp), Cyclops / Scott Summers (Tye Sheridan), Nightcrawler / Kurt Wagner (Kodi Smit-McPhee) dan Magneto /Erik Lehnsherr (Michael Fassbender), harus berjuang agar Jean dapat kembali normal, minimal tidak merusak perdamaian antara mutant dan manusia. Tokoh-tokoh terkenal di atas saja kesulitan bukan main ketika harus berhadapan dengan Jean yang sudah berubah menjadi Phoenix. Bahkan ada anggota X-Men yang gugur pada film ini.

Sayang oh sayang, gugurnya anggota X-Men ini tidak menyisakan emosi atau kesedihan bagi saya. Saya hanya dapat berkata, “Ohhh mati tho, ya udah …”. Tidak ada chemistry pada Dark Phoenix (2019), semua terasa datar. Walaupun saya akui ada beberapa adegan aksi yang keren pada film ini, yaitu pada adegan dimana semua anggota X-Men menggunakan kekuatannya untuk saling melengkapi dan memenangkan sebuah pertarungan. Sayang kok ya hal tersebut semakin menghilang ketika film mendekati bagian akhir. X-Men nampak tercerai berai dan lebih fokus untuk berlari mengejar Phoenix. Padahal, kalaupun sudah bertemu dengan Phoenix, mereka bisa apa? :P. Praktis hanya Proffesor X saja yang memiliki peran besar di sini. Sebagai pengganti sosok ayah bagi Jean, Proffesor X tentunya lebih memiliki peluang untuk menasehati Jean. Wah, bagaimana dengan kekasih Jean, yaitu Cyclops? Bahhh, Cyclops nampak lemah dan tidak berguna hehehehe :P.

Film ini sebenarnya memiliki peluang untul menjadi lebih baik lagi. Materi kisah Phoenix sebenarnya sangat menarik, tapi kok ya eksekusinya seperti ini. Menontom Dark Phoenix (2019) tidal terasa seperti menonton film superhero X-Men karena … mana seragamnya??? Setiap tokoh superhero pasti memiliki seragam atau kostum yang spesifik, nah inilah yang kurang sekali saya lihat pada Dark Phoenix (2019). Mereka lebih sering bertarung menggunakan celana jeans dan t-shirt ketimbang kostum superhero mereka. Selain itu, nama panggilan yang dipergunakan pada film ini, lebih banyak menggunakan nama panggilan manusianya, bukan julukan nama mutant-nya. Proffesor X selalu disebut Charles Xavier, Mystique selalu disebut Raven, Beast selalu disebut Hank, dan lain sebagainya. Aroma superhero kurang terasa kental pada Dark Phoenix (2019).

Yaaaah, mau bagaimanapun juga, saya akui bahwa Dark Phoenix (2019) tetap lebih bermutu ketimbang X-Men: The Last Stand (2006) heheheheh. Dengan demikian, Dark Phoenix (2019) masih layak untuk memperoleh nilai 3 dari skala maksimum 5 yang artinya “Lumayan”. Saya rasa franchise X-Men tidak akan tewas atau mati suri akibat Dark Phoenix (2019) ;).

Sumber: http://www.foxmovies.com/movies/dark-phoenix