Captain Marvel (2019)

Wonder Woman (2017) dapat dikatakan sebagai film superhero wanita milik DC Comics yang sukses di pasaran. Bagaimana dengan Marvel Comics? Setelah sukses dengan film-film superhero-nya, kini Marvel merilis film solo superhero wanita pertama mereka, Captain Marvel (2019). Jauh berbeda dengan Wonder Woman yang sudah punya nama, Tokoh Captain Marvel ini terasa asing di telinga saya :’D. Siapa sih Captain Marvel itu?

Pertanyaan tersebut akan terjawab setelah kita menonton Captain Marvel (2019). Film ini mengisahkan asal mula bagaimana Carol Danvers (Brie Larson) berubah menjadi Vars atau Captain Marvel, beserta konsekuensi dari kekuatan super yang Danvers terima.

Sekilas Captain Marvel (2019) memang seperti kisah from zero to hero seorang Carol Danvers saja. Tapi percayalah, film ini berhasil menyajikan semuanya dengan cara yang segar dan berbeda. Saya melihat beberapa alur maju-mundur yang menarik dan mudah dipahami pada Captain Marvel (2019) :). Kekuatan Captain Marvel pun nampak dahsyat dengan dukungan special affect yang mumpuni. Kalau saya perhatikan, kekuatan Captain Marvel ini dapat disetarakan dengan kekuatan Phoenix-nya X-Men atau Supergirl-nya DC Comics.

Akibat kekuatan yang Carol peroleh, ia terjebak di tengah-tengah pertikaian antara bangsa Kree dan Skrull. Semua membawa Carol kembali ke Bumi, tempat dimana ia dulu bekerja sebagai pilot pesawat. Di sana, Carol dibantu oleh Nick Fury (Samuel L. Jackson) yang masih muda dan belum kehilangan salah satu matanya. Loh kok bisa? Captain Marvel (2019) memang mengambil latar belakang tahun 90-an, jauuuuh sebelum semua kejadian pada film-film Marvel Cinematic Universe lainnya terjadi.

Olehkarena itulah beberapa adegan pada film ini menggunakan lagu-lagu yang populer di era 90-an. Berhubung saya tumbuh di era 90-an, hal ini menjadi nilai plus tersendiri. Nuansa tahun 90-an sungguh terasa pada film Marvel yang satu ini.

Diluar dugaan, saya menikmati film superhero tak dikenal ini. Captain Marvel (2019) layak untuk memperoleh nilai 4 dari skala maksimum 5 yang artinya “Bagus”. Cara penyajian yang tepat menjadi nilai plus utama film ini. Saya rasa, Captain Marvel (2019) akan terasa hambar andaikata cara penceritaannya dibuat dengan alur maju yang bisa dipergunakan oleh film-film sejenis.

Sumber: http://www.marvel.com/movies/captain-marvel

Iklan

Spider-Man: Into the Spider-Verse (2018)

Sepanjang tahun 2000-an ini sudah ada 3 jenis Spider-Man yang berkeliaran di Bioskop. Mulai dari Trilogi Spider-Man ala Sam Raimi, Duologi Spider-Man ala Marc Webb dan baru-baru ini Spider-Man ABG hasil kerjasama Sony dan Marvel. Semua Spider-Man di atas masih menggunakan Peter Parker sebagai tokoh utamanya. Tokoh Peter Parker sudah sangat melekat dengan tokoh Spider-Man, terutama bagi pembaca komik Spider-Man tempo dulu seperti saya :D.

Maka, saya pribadi sangat kecewa ketika tokoh Peter Parker “dimatikan” oleh Marvel Comics pada sekitar tahun 2011. Tokoh Miles Morales diangkat sebagai Spider-Man baru yang lebih segar. Marvel memang sedang berusaha mengganti tokoh-tokoh superhero ikonik mereka dengan tokoh-tokoh baru yang lebih muda dan diversity. Hampir semua tokoh-tokoh superhero klasik mereka memang diperankan oleh lelaki kulit putih. Inilah hal yang ingin Marvel ubah. Itulah mengapa Spider-Man barunya digambarkan oleh anak SMA latin berkulit cokelat seperti Miles Morales.

Sebenarnya Marvel dan Sony sudah mulai hendak memperkenalkan Miles Morales pada Spider-Man: Homecoming (2017) dengan menggunakan Spider-Man yang masih SMA dan memunculkan sebagian karakter dari komik Spider-Man Miles Morales. Tapi waktunya mungkin belum dirasa tepat sehingga karakter Peter Parker masih terus dipergunakan.

Nah, pada pergantian tahun ini, Sony dan Marvel merilis film animasi Spider-Man: Into the Spider-Verse (2018) dengan menggunakan Miles Morales (Shameik Moore) sebagai tokoh sentralnya. Dikisahkan awalmula Miles menjadi Spider-Man. Ia pun harus menyaksikan dengan mata kepalanya sendiri, kematian Peter Parker (Chris Pine) :(.

Tak lama, bermunculanlah Spider-Man versi lain dari dunia paralel yang berbeda. Bagi teman-teman yang belum tahu, jadi di dalam dunia komik superhero Marvel dan DC, dikisahkan bahwa terdapat beberapa dunia paralel dimana di dalam masing-masing dunia tersebut, terdapat versi yang berbeda dari setiap individu termasuk Miles dan Peter. Tidak mengherankan kalau muncul Peter B. Parker (Jake Johnson) dari dunia paralel lain. Peter yang satu ini adalah Peter yang hidup di dunia Trilogi Spider-Man ala Sam Raimi. Ia hadir sebagai seorang Spider-Man yang sedang kehilangan motivasi diri karena berbagai masalah yang datang di dunianya.

Di sini Peter B. Parker seolah-olah berperan sebagai mentor bagi Miles. Mereka terpaksa bekerja sama untuk mengembalikan semua Spider-Man, pulang ke dunianya masing-masing. Saya rasa inilah “handover” karakter Spider-Man yang berusaha Sony dan Marvel berikan kepada penontonnya. Peter Parker tewas tapi tidak sepenuhnya tewas karena kan ada Peter lain yang hidup di dimensi lain.

Tidak hanya Peter dan Miles saja, film ini pun menampilkan berbagai versi Spider-Man dari berbagai dunia yang unik. Disana terdapat Gwen Stacy / Spider-Woman (Hailee Steinfeld), Peni Parker / SP//dr (Kimiko Glenn), Peter Porker / Spider-Ham (John Mulaney), Peter Parker / Spider-Man Noir (Nicolas Cage). Semuanya ikut serta membantu Peter B. Parker dan Miles untuk memulihkan dunia paralel yang tercampur ini.

Spider-Man: Into the Spider-Verse (2018) menampilkan adegan aksi yang sesekali ditimpali oleh lelucon yang lucu. Film ini tidak terlalu serius tapi mampu menampilkan suspense oada beberapa adegan perkelahiannya. Memang sih semuanya hadir dalam bentuk animasi atau kartun, tapi animasi pada film ini terbilang unik, pokoknya beda deh dengan animasi atau kartun biasa. Saya yakin penonton dewasa pun akan menikmati film animasi yang satu ini. Sampai saat ini, film animasi inilah film animasi terbaik yang pernah saya tonton.

Saya rasa, Spider-Man: Into the Spider-Verse (2018) sudah selayaknya untuk memperoleh nilai 4 dari skala maksimum 5 yang artinya “Bagus”. Sebuah cara yang apik untuk memperkenalkan Miles Morales :). Tapi tetap saja …. bagi saya pribadi Spider-Man versi Peter Parker adalah yang terbaik, sesuatu yang tidak dapat diubah.

Sumber: http://www.intothespiderverse.movie

Incredibles 2 (2018)

Pada tahun ini, keluarga superhero The Incredibles kembali hadir ke layar lebar. Setelah hampir 14 tahun berlalu, akhirnya The Incredibles (2004) muncul juga sekuelnya. Film animasi tentang keluarga superhero ini tentunya masuk di dalam daftar tonton saya :D. The Incredibles (2004) dulu hadir di era ketika film superhero belum banyak berkeliaran seperti sekarang ini. Film tersebut menyedot perhatian saya dan menjadi salah satu film terbaik di tahun film tersebut dirilis. Apakah The Incredibles 2 (2018) dapat tampil menonjol di tengah-tengah gempuran film-film superhero ikonik dari Marvel dan DC Comics?

Kali ini The Incredibles 2 (2018) kembali mengisahkan kehidupan keluarga superhero yang terdiri dari Mr. Incredibles alias Bob Parr (Craig T. Nelson), Elastigirl alias Helen (Holly Hunter), Dashiell Robert “Dash” Parr (Spencer Fox), Violet Parr (Sarah Vowell) dan Jack Parr (Eli Fucile dan Maeve Andrews). Kelimanya sama-sama memiliki kekuatan super yang unik dan saling melengkapi.

Sayang oh Sayang masalah yang diangkat pada The Incredibles 2 (2018), mirip sekali dengan The Incredibles (2004). Keadaan keluarga The Incredibles di awal film sekuel ini sama persis seperti The Incredibles (2004), aktivitas superhero kembali dilarang karena dianggap menimbulkan banyak kerugian bagi masyarakat. Para superhero dianggap bertanggung jawab terhadap berbagai kerusakan yang terjadi.

Beruntung Winston Deavor (Bob Odenkirk) bersedia membantu membersihkan nama para superhero di hadapan publik. Siapakah Winston itu? Ia merupakan fans superhero yang memiliki kekayaan dan koneksi. Winston merasa bahwa politikus dan media telah berlaku tidak adil dengan menampilkan keburukan-keburukan superhero saja. Ia kemudian meminta Elastigirl untuk menjadi “wajah” baru superhero. Elastigirl akan beraksi sambil diliput oleh media masa. Berbagai acara TV pun dirancang oleh Winston demi memunculkan kebaikan yang Elastigirl berikan kepada masyarakat.

Mr. Incredibles sendiri bertukar peran dengan Elastigirl. Seperti sinetron Dunia Terbalik, Mr. Incredibles tinggal di rumah untuk mengurus ketiga anaknya. Pertukaran peran ini tentunya menimbulkan berbagai konflik yang … sayangnya kurang menonjol.

The Incredibles 2 (2018) menampilkan beberapa masalah sampingan yang menarik untuk dilihat tapi tidak terlalu bermakna dan tidak menunjang masalah utama yang diangkat, semua nampak biasa dan klise. Problematika ala superhero yang muncul sudah beberapa kali dimunculkan pada film-film superhero lain yang belakangan ini muncul.

Terlepas dari beberapa kelemahan di atas, film ini tetap cocok untuk ditonton bersama keluarga karena memberikan pesan moral yang baik dalam bentuk animasi yang enak dipandang dan mudah dipahami :). Jalan ceritanya pun tidak terlalu buruk.

Saya pribadi hanya dapat memberikan The Incredibles 2 (2018) nilai 3 dari skala maksimum yang artinya “Lumayan”. Saya masih lebih suka film pertamanya.

Sumber: http://www.pixar.com/feature-films/incredibles-2/

Ant-Man and the Wasp (2018)

Setelah euforia Avengers Infinity War (2018), Ant-Man and the Wasp (2018) akan menjadi MCU (Marvel Cinematic Universe) berikutnya yang hadir di layar lebar. Entah kenapa Ant-Man memang absen dari Avengers Infinity War (2018). Padahal ia menjadi salah satu superhero berpartisipasi pada Captain America: Civil War (2016), sebuah film MCU tepat sebelum Avengers Infinity War (2018). Hhhmmm, apa yang terjadi dengan Ant-Man pada periode antara Captain America: Civil War (2016) dan Avengers Infinity War (2018)? Saya rasa Ant-Man and the Wasp (2018) akan menjawab pertanyaan tersebut karena film ini mengambil waktu kejadian tepat setelah Captain America: Civil War (2016) dan sebelum Avengers Infinity War (2018).

Ant-Man and the Wasp

Sebagaimana pernah dikisahkan pada Ant-Man (2015), Scott Lang (Paul Rudd) adalah penjahat kelas teri yang dapat berubah menjadi Ant-Man setelah menggunakan kostum buatan Hank Pym (Michael Douglas). Ant-Man memiliki kemampuan untuk mengubah ukuran sebuah objek menjadi lebih kecil atau lebih besar. Pada suatu pertarungan di Ant-Man (2015), Ant-Man berhasil mengubah ukurannya menjadi sangat kecil sekali ke ukuran mikro hingga ia sempat mengunjungi dunia kuantum. Melalui teori kuantun, dijelaskan bahwa seseorang tidak akan mampu keluar dari dunia kuantum ketika ia berhasil menyusutkan tumbuhnya ke ukuran mikro. Scott yang saat ini menggunakan kostum Ant-Man, membuktikan bahwa teori ini salah. Ia berhasil kembali dari dunia kuantum dan mengalahkan Yellowjacket pada saat itu.

Nah, pada Ant-Man and the Wasp (2018), dikisahkan bahwa Scott ternyata membawa sesuatu dari dunia kuantum. Sesuatu yang Pym dan putrinya, Hope van Dyne (Evangeline Lily), dambakan selama 30 tahun terakhir. Semua berawal pada bencana yang terjadi sekitar 30 tahun yang lalu ketika Ant-Man dan Wasp menjalankan misi berbahaya yang menyebabkan terjebaknya Wasp di dalam dunia kuantum. Mengikuti jalan cerita komik Ant-Man tahun 1960-an, pada saat itu Hank Pym adalah Ant-Man dan istri Pym adalah Wasp. Ant-Man dan Wasp kurang kebih memiliki kemampuan yang serupa, hanya saja Wasp memiliki sayap untuk terbang. Kostum Wasp sendiri sebenarnya sudah pernah sekilas diperlihatkan pada bagian akhir Ant-Man (2015).

Ant-Man and the Wasp

Ant-Man and the Wasp

Sesuai dugaan, putri Pym, Hope van Dyke menggunakan kostum Wasp pada Ant-Man and the Wasp (2018). Bersama dengan Ant-Man, ia berusaha membuka portal menuju dunia kuantum dan menemukan ibunya yang sudah 30 tahun terjebak di sana. Perjalanan mereka tidak mudah karena ada pihak-pihak lain yang menginginkan hal tersebut pula.

Kali ini supervillain yang harus Ant-Man dan Wasp hadapi adalah Ghost (Hannah John-Kamen). Berbeda dengan di komik, karakter Ghost kali ini adalah perempuan dan memiliki motif yang tidak terlalu jahat. Walaupun memiliki kemampuan super yang cukup merepotkan Ant-Man dan Wasp, saya rasa Ghost tidak jahat. Iq hanya putus asa dan menghalalkan segala cara untuk bertahan hidup.

Ant-Man and the Wasp

Ant-Man and the Wasp

Ant-Man and the Wasp

Sebenarnya, karakter yang sesungguhnya benar-benar jahat adalah Sonny Burch (Walton Goggins). Tapi ia tidak memiliki kekuatan super apapun. Ia pun bukan bos besar yang berkuasa seperti Dr. Doom, Kingpin atau Lex Luthor. Yaaaah hanya penjahat kelas menengah yang memiliki koneksi ke FBI. Hal inilah yang cukup merepotkan Scott dan kawan-kawan karena status Scott adalah tahanan rumah yang tidak boleh kemana-mana. Setelah Scott ikut membantu pihak Captain America melanggar hukum pada Captain America: Civil War (2016), ia memilih untuk menjalani hukuman asalkan ia dapat bertemu putri semata wayangnya, Cassie (Abby Ryder Fortson). Ini memang berbeda dengan mayoritas superhero pendukung Captain America lainnya yang memilih menjadi buronan.

Ant-Man and the Wasp

Yaaaah, rasanya Ant-Man and the Wasp (2018) memang berbicara tentang keluarga. Hal-hal yang rela dikorbankan agar dapat hidup bersama keluarga. Di sana terlihat hubungan ayah anak yang kompak dan sedikit mengharukan. Semua dibalut dengan berbagai kelucuan dari Scott Lang :D. Unsur komedi pada film ini memang menjadi nilai plus yang sangat besar. Ditambah lagi adanya adegan aksi yang unik dan jarang saya lihat pada film superhero lainnya.

Ant-Man and the Wasp

Ant-Man and the Wasp

Ant-Man and the Wasp

Ant-Man and the Wasp

Ant-Man and the Wasp

Ant-Man and the Wasp

Sayang Ant-Man and the Wasp (2018) banyak menggunakan teori kuantum yang kurang komunikatif. Para karakter protagonis nampak bisa dengan cepat memperoleh solusi melalui teori dan ilmu pengetahuan yang kurang jelas maksudnya. Kalau kita menonton Ant-Man and the Wasp (2018) tanpa mengikuti dan melihat semua hal terkait teori kuantum dan lorong kuantum, film ini sebenarnya terbilang mudah dipahami dan mampu berdiri sendiri, kita tidak perlu menonton film superhero Marvel lain untuk memahami film ini. Meskipun yaaah memang akan lebih seru kalau kita sudah menonton film MCU lainnya, terutama Ant-Man (2015), Captain America: Civil War (2016) dan Avengers Infinity War (2018).

Ant-Man and the Wasp

Jauh berbeda dengan film superhero Marvel terakhir yang saya tonton sebelum menonton film ini, karakter antagonis film ini kurang menggigit. Film ini terasa hampa tanpa adanya tokoh antagonis yang benar-benar “antagonis” dan kuat. Ghost dan Burch gagal mengisi ruang tersebut.

Film ini sebenarnya terbilang bagus kalau dilihat dari sisi aksi dan komedi. Tapi saya pribadi kurang suka dengan alur ceritanya. Selain itu Ant-Man dan Wasp bukanlah superhero yang menurut saya keren. Coba saja bayangkan apabila keduanya menjadi superhero Indonesia, pastilah namanya menjadi manusia semut dan si lalat bukan? :’D. Saya rasa Ant-Man and the Wasp (2018) lebih pantas untuk memperoleh nilai 3 dari skala maksimum 5 yang artinya “Lumayan” ;).

Sumber: https://marvel.com/antman

Deadpool 2 (2018)

Tak lama setelah Avengers Infinity War (2018) dirilis, hadir kembali satu superhero dari komik Marvel, yaitu Deadpool. Kemanakah Deadpool selama Avengers Infinity War (2018) terjadi? Saya rasa sementara ini Deadpool hidup di luar MCU (Marvel Cinematic Universe). Bersama-sama dengan karakter-karakter X-Men dan Fantastic Four, lisensi Deadpool masih dimilliki oleh 20th Century Fox, bukan Marvel Studio atau Sony. Maka sudah pasti Deadpool hidup di alam yang sama dengan X-Men. Seperti pada Deadpool (2016), beberapa karakter X-Men akan kembali hadir pada Deadpool 2 (2018).

Kali ini selain Negasonic Teenage Warhead (Brianna Hildebrand) dan Colossus (Stefan Kapičić), hadir salah satu karakter X-Men yang relatif terkenal, yaitu Cable (Josh Brolin). Cable hadir dari masa depan untuk membunuh Russell Collins (Julian Dennison). Sangat aneh kalau karakter protagonis seperti Cable jauh-jauh datang ke masa lalu untuk seorang Russell. Saat ini Russell hanyalah mutant ABG berbadan tambun yang kesulitan mengontrol emosi karena trauma di masa lalu. Apakah yang akan Russell lalukan di masa depan, sampai-sampai diburu Cable seperti ini?

Deadpool / Wade Wilson (Ryan Reynolds) tidak peduli akan masalah di masa depan, ia tidak tinggal diam ketika melihat nyawa Russell terancam. Deadpool memang awalnya acuh kepada Russell, Deadpool hanya ingin mati. Deadpool sedang depresi berat setelah Vanessa (Morena Baccarin) tewas dibunuh sekelompok mafia yang berniat membunuh Deadpool. Vanessa dan Deadpool sudah lama menjalin cinta dan hendak membuat sebuah keluarga bahagia. Pupusnya impian bersama Vanessa membuat Deadpool beberapakali melakukan usaha bunuh diri yang selalu gagal.

Mirip dengan Wolverine, Deadpool adalah superhero yang mampu menyembuhkan diri sendiri. Kemampuannya untuk sembuh bahkan bisa dibilang melebihi Wolverine. Deadpool dapat tetap hidup walaupun tubuhnya diledakkam dan hancur berkeping-keping @_@. Yaa jelas saja usaha bunuh dirinya selalu gagal. Usaha Colossus dan Negasonic Teenage Warhead untuk memotivasi Deadpool selalu gagal sampai Deadpool bertemu Russell.

Perkenalannya dengan Russell, membuat Deadpool bangkit dari keterpurukan. Ia bahkan membentuk X-Force untuk menyelamatkan Russell. Diantara superhero-superhero konyol yang ada pada X-Force, Domino (Zazie Beetz) adalah yang terkuat dan menonjol. Lucunya, kekuatan domino bukanlah kekuatan super atau kecepatan kilat, melainkan keberuntungan. Domino mampu memanipulasi probabilitis keberuntungan dari setiap aksi yang ia lakukan.

Jangan harap untuk melihat suguhan yang serius pada Deadpool 2 (2018). Pada dasarnya film ini lebih condong ke arah film komedi. Di sana tidak ada karakter yang mutlak jahat, pada akhirnya semua hanya gurauan semata. Deadpool 2 (2018) memang mampu menghadirkan kelucuan di mana-mana. Namun sayang kelucuan yang ada masih berada di bawah ekspektasi saya. Terus terang, Deadpool (2016) lebih lucu dan menarik dibandingkan Deadpool 2 (2018).

Kali ini saya hanya mampu memberikan Deadpool 2 (2018) nilai 3 dari skala maksimum 5 yang artinya “Lumayan”. Oh ya, sebaiknya jangan menonton Deadpool 2 (2018) dengan anak di bawah umur karena ada adegan sadis dan lelucon dewasa di sana.

Sumber: http://www.deadpool.com

Black Panther (2018)

Black Panther

Black Panter adalah salah satu superhero karya Stan Lee dan Jack Kirby yang pertama kali muncul pada salah satu komik Marvel tahun 1966. Sejak awal abad 21, superhero Marvel berkulit hitam ini sudah beberapa kali digadang-gadang akan hadir di layar lebar. Akhirnya, Black Panter atau T’Challa (Chadwick Boseman) mengawali debutnya di layar lebar pada Captain America: Civil War (2016) meskipun porsinya tidak terlalu besar. Sekitar 2 tahun berselang, Black Panter kembali hadir melalui film solonya yang pertama, Black Panther (2018).

Memang sih, awal mula T’Challa dipicu oleh kejadian pada Captain America: Civil War (2016). Tapi saya rasa hal tersebut dapat terjelaskan dengan mudah dah jelas ketika kita menonton Black Panther (2018). Jadi teman-teman yang belum menonton Captain America: Civil War (2016), jangan khawatir akan kebingungan ketika menonton Black Panther (2018). Black Panter (2018) akan menjelaskan asal mula Black Panther lebih mendetail.

Black Panther

Semua diawali ketika sebuah meteor misterius jatuh ke Afrika. Pecahan dari meteor tersebut tertanam di sebuah wilayah yang akhirnya diperebutkan oleh 4 suku yang ada saat itu. Kenapa mereka memperebutkan wilayah yang kaya akan pecahan meteor tersebut? Pecahan meteor itu ternyata membentuk gundukan raksasa logam Vibranium yang dapat memberikan akses kepada senjata dan teknologi yang jauh lebih maju. Peperangan berhenti ketika seorang ahli obat meminum sebuah tanaman khusus yang tumbuh di lokasi jatuhnya meteor tersebut. Ia tiba-tiba memiliki kekuatan dan kecepatan di atas manusia biasa. Dengan menggunakan kostum serba hitam ia membuat 3 dari 4 suku bertekuk lutut dan bersedia mengakuinya sebagai raja. Mulai saat itulah berdiri kerajaan Wakanda dengan seorang Black Panther sebagai rajanya.

Wakanda berhasil memanfaatkan Vibranium untuk membangun kota dan peradaban yang sangat maju. Khawatir akan adanya ancaman dari luar, Wakanda menutup diri dari dunia luar dengan menggunakan perisai di sekitar wilayah mereka sehingga tidak ada bangsa asing yang mengetahui wujud Wakanda yang sesungguhnya. Bagi dunia internasional, Wakanda nampak hanya sebagai negara terpencil yang miskin di benua Afrika.

Black Panther

Black Panther

Black Panther

Black Panther

Selama ini Afrika terkenal akan perang, kelaparan dan kemiskinan. Wakanda hanya berdiam diri di balik perisainya sementara itu negara lain di Afrika menghadapi peperangan dan kemiskinan. Apakah Wakanda akan terus berdiam diri? Bukankah teknologi Vibranium dapat dimanfaatkan untuk menolong umat manusia, bukan hanya Afrika saja? Bagai pisau bermata dua, Vibranium memang dapat dimanfaatkan pula untuk membuat senjata yang dahsyat. Inilah yang menjadi awal mula konfik di dalam keluarga kerajaan Wakanda.

Black Panther Black Panther Black Panther Black Panther

 

Sebagai raja Wakanda sekaligus Black Panther baru, T’Challa mau tak mau harus menghadapi konflik ini. Ia harus menghadapi pihak asing yang hendak mengusai Vibranium untuk maksud yang jahat. Ia pun harus mempertahankan tahtanya dari anggota keluarga kerajaan lain yang hendak memberikan manfaat Vibranium bagi umat manusia tapi dengan cara yang salah.

Black Panther

Black Panther

Black Panther

Black Panther

Black Panther

Black Panther

T’Challa didampingi oleh beberapa karakter wanita yang kuat dan sangat “Afrika” seperti Nakia (Lupita Nyong’o), Okoye (Danai Gurira) Ramonda (Angela Bassett) dan Shuri (Letitia Wright). Nakia merupakan mata-mata Wakanda di dunia luar yang berhasil menarik hati T’Challa. Okoye merupakan pemimpin pasukan khusus kerajaan yang semunya terdiri dari wanita. Ramonda adalah ibu T’Challa yang memberikan nasihat bijak dan semangat bagi T’Challa. Terakhir, Shuri adalah adik T’Challa yang pintar dan memberikan dukungan teknologi kepada Black Panther. Jangan harap untuk melihat wanita non Afrika di film ini, semuanya serba Afrikaaaaaa. Mohon maaf, bagi saya pribadi, tidak ada tokoh wanita utama yang nampak cantik pada film ini, ahhhh padahal bukankah sebenarnya banyak loh aktris kulit hitam yang cantik. Tapi kalau dilihat dari nuansa Afrika yang dibentuk, yap, keberadaan wanita-wanita kuat ini memang berhasil membuat Black Panther (2018) memjadi film superhero Afrika. Sesuatu yang unik dan berbeda dibandingkan film-film superhero Marvel sebelumnya.

Black Panther

Black Panther

Black Panther

Black PantherBlack Panther

Tidak hanya karakter, ternyata kostum dan tarian adat yang ditampilkan Black Panther (2018), memang mengambil daru budaya asli Afrika. Bahkan salah satu kostum yang dikenakan T’Challa suskses meraih popularitas di Indonesia karena mirip sekali dengan baju koko yang biasa dikenakan ke Masjid atau pada hari raya Islam. T’Challa menggunakan baju tersebut ketika duduk di singgasana Wakanda dan ketika bermimpi bertemu ayahnya. Apakah T’Challa memang menggunakan baju koko? Ooooo ternyata tidak. T’Challa menggunakan modifikasi dari baju agbada. Baju agbada merupakan baju yang biasa digunakan oleh lelaki di Afrika Selatan. Hehehehe, tapi yang memang mirip sekali sih dengan baju koko :D.

Black Panther

Sayang, nuansa unik ala Afrika yang dihadirkan Black Panther (2018) tidak disertai dengan cerita yang memikat. Pertarungannya sih ya memang bagus dan sarat akan special effect yang keren. Tapi yaa tetap saja jalan cerita Black Panther (2018) cenderung dapat ditebak arahnya dan kurang ada gregetnya bagi saya pribadi.

Black Panther

Black Panther

Black Panther

Black Panther

Yaaah saya akui saya mungkin lebih suka dengan jalan cerita film solonya Iron Man atau Thor yaaa. Tapi hal ini bukan karena popularitas Black Panther yang menjadi tokoh utama loh. Black Panter tetap mampu tampil sebagai tokoh protagonis dengan berbagai kekuatan yang terlihat keren. Hanya saja ceritanya saja yang sedikit minus hehehehe. Tapi saya tetap tidak setuju juga kalau jalan cerita film ini dikatakan sebagai kisah pengantar menuju film ketiga The Avengers yang menampilkan Thanos. Black Panther (2018) mampu berdiri sendiri sebagai film solo yang solid tanpa embel-embel The Avengers atau Captain America. Dengan demikian, rasanya Black Panther (2018) pantas untuk memperoleh nilai 3 dari skala maksimum 5 yang artinya “Lumayan”. Cocok untuk ditonton bersama keluarga ;).

Sumber: marvel.com/blackpanther

Justice League (2017)

Walaupun saya pesimis terhadap kualitas Justice League (2017), film ini tetap masuk ke dalam daftar wajib tonton saya. Melihat kurang gregetnya Man of Steel (2013)Batman V Superman: Dawn of Justice (2016) dan Suicide Squad (2016), wajar saja kalau banyak orang meragukan kualitas Justice League (2017). Dari beberapa film layar lebar DC superheroes, praktis hanya Wonder Woman (2017) saja yang mampu memperoleh sambutan hangat. Sampai saat ini, film-film superhero Marvel jauh mengungguli film-film superhero DC. Tapi bagaimanapun juga, dulu saya tumbuh ditengah-tengah dominasi komik superhero DC. Nama-nama Superman, Batman, Robin, Wonder Woman, Green Lantern dan superhero DC lainnya jauh lebih populer ketimbang Iron Man, Thor, Hulk dan superhero Marvel lainnya. Saya pun tentunya lebih mengenal kumpulan superhero DC yang tergabung pada Justice League, dibanding kumpulan superhero Marvel yang tergabung pada The Avengers.

Sama seperti Suicide Squad (2016), Justice League (2017) menceritakan keadaan dunia setelah tragedi pada Batman V Superman: Dawn of Justice (2016) terjadi. Hilangnya Superman benar-benar menyisakan lubang yang besar bagi penduduk Bumi. Setelah beberapa kriminal berusaha mengisi lubang tersebut pada Suicide Squad (2016), kini giliran beberapa superhero yang berusaha mengisi lubang tersebut.

Embrio Justice League sebenarnya sudah mulai ada sejak Batman V Superman: Dawn of Justice (2016). Batman atau Bruce Wayne (Ben Affleck) terlihat menyeleksi beberapa kandidat Justice League yaitu Diana Prince atau Wonder Woman (Gal Gadot), Barry Allen atau The Flash (Ezra Miller), Arthur Curry atau Aquaman (Jason Momoa) dan Victor Stone atau Cyborg (Ray Fisher).

Batman adalah perwakilan ras manusia biasa pada Justice League. Batman praktis tidak memiliki kekuatan super, ia hanya memiliki berbagai perlengkapan canggih sebagai alat bantu. Saya lihat Batman pada Justice League (2017) nampak kepayahan ketika harus bertarung bersama anggota Justice League lainnya. Kok ya Batman jadi terlihat lemah begini ya. Iron Man yang sebenarnya tidak memiliki kekuatan super, tidak nampak selemah ini pada The Avengers. Selain itu, sangat aneh kalau Bruce Wayne mengumbar identitas rahasianya sebagai Batman, kepada calon-calon anggota Justice League. Lha sukur-sukur calon tersebut mau bergabung, bagaimana kalau tidak? Identitas Bruce Wayne sebagai Batman sudah dikantongi. Terus terang saya lebih suka Batman versi Christian Bale pada The Dark Knight Rises (2012).

Wonder Woman merupakan ratu bangsa Amazon yang tinggal di pulau Themyscira, sebuah pulau terpencil yang tidak dapat dilihat oleh mata telanjang seperti dikisahkan pada Wonder Woman (2017). Wonder Woman dapat melayang, bergerak sangat cepat, super kuat, serta dilengkapi oleh tali laso kejujuran, gelang sakti, tiara boomerang, perisai dan pedang. Wonder Woman nampak serius, dewasa, cantik dan gagah pada film ini :).

The Flash dapat dikatakan sebagai salah satu superhero favorit saya. Kekuatan The Flash memang hanya memiliki kecepatan super melebihi superhero lainnya, tapi kisah-kisah seputar The Flash selalu dapat digarap dengan apik. Pemilihan Ezra Miller sebagai pemeran The Flash sebenarnya agak mengecewakan yaaa, rasanya kok kurang pantas. Grant Gustin sudah mampu dengan baik memerankan The Flash pada Serial TV The Flash, kenapa kok bukan Grant saja yang memerankan The Flash? Ternyata karakter The Flash pada Justice League (2017) hendak dibuat lebih jenaka dan polos. Berbeda dengan The Flash versi Grant, The Flash versi Ezra ini memang tidak terlalu serius dan mampu memamcing tawa penonton. The Flash kembali berhasil menjadi karakter favorit saya walaupun kostumnya jelek, penuh logam-logam tajam yang aneh.

Aquaman versi komik klasik merupakan karakter superhero DC dengan kostum paling culun. Ia sering muncul dengan rambut kuning, pakaian oranye dan hijau, lengkap menaiki kuda laut yang imut. Yaaahhh, kesan culun tidak terlihat sama sekali pada Aquaman kali ini. Aquaman kali ini tampil lebih garang dengan kostum yang lebih gelap dan rambut hitam yang panjang. Aquaman nampak lebih tempramental dan memendam sebuah kemarahan yang mungkin akan dikisahkan pada film solo Aquaman nanti. Sayangnya karena kekuatan Aquaman berhubungan dengan air, maka peranan Aquaman tidak terlalu signifikan. Kenapa begitu? Jelas saja, karena mayoritas pertarungan dilakukan di darat :’D.

Cyborg merupakan manusia separuh mesin yang dapat terbang, mengendalikan segala perangkat elektronik, memperbaiki diri sendiri dan memiliki berbagai senjata dari tangannya. Sebelum berubah menjadi Cyborg, Vic adalah manusia biasa. Vic kemudian mengalami kecelakaan fatal yang hampir merenggut nyawanya. Ayah Vic, seorang ilmuwan jenius, menyelamatkan nyawa anaknya dengan menggunakan sebuah teknologi kuno yang terdampar di Bumi. Vic tetap hidup, tapi sebagian besar organ tubuhnya sudah digantikan oleh mesin dan komputer pintar. Belakangan diketahui bahwa teknologi yang menyusun Cyborg adalah salah satu dari tiga kotak ibu.

Dahulu kala, Steppenwolf (Ciaran Hinds) dan pasukannya datang ke Bumi bersama-sama dengan 3 kotak ibu. Ia menggunakan kekuatan gabungan dari 3 kotak ibu untuk menguasai Bumi dan mengubah Bumi menjadi planet asal Steppenwolf, Apokolips. Namun Steppenwolf mengalami kekalahan ketika menghadapi kekuatan gabungan dari bangsa manusia, Amazon, Atlantis, Green Lantern Corps dan dewa-dewa Olympus. Steppenwolf berhasil melarikan diri dan meninggalkan ketiga kotak ibu di Bumi. Kemudian penduduk Bumi saat itu sepakat untuk menyimpan kotak ibu di 3 tempat yang berbeda. Bangsa Amazon menyimpan kotak ibu pertama di pulau Themyscira, bangsa Atlantis menyimpan kotak ibu kedua di dasar laut, bangsa manusia menyimpan kotak ibu ketiga di ……. tempat kerja ayah Victor Stone. Dengan memanipulasi kotak inilah Victor berubah menjadi Cyborg.

Kotak-kotak tersebut tidak menunjukkan keanehan sampai Superman .. hilang. Hilangnya Superman dari Bumi memicu ketiga kotak ibu untuk aktif. Hal ini dapat dideteksi oleh Steppenwolf yang langsung datang ke Bumi untuk mengambil ketiga kotak ibu dan kembali menggunakannya untuk menguasai Bumi. Kali ini penghalang ambisi Steppenwolf adalah Batman, Wonder Woman, The Flash dan Aquaman yang bergabung dalam Justice League. Ahhhh, apakah ini cukup? Sayangnya tidak, Justice League membutuhkan anggota lagi untuk meredam Steppenwolf.

Yang agak saya sayangkan dari Justice League (2017) adalah kok ya kenapa keempat anggota awal Justice League nampak kewalahan sekali menghadapi Steppenwolf dan pasukannya. Padahal rasanya Steppenwolf bukanlah tokoh antagonis yang populer di dunia DC Comics. Ia hanyalah paman dari Darkseid yang beberapa kali muncul di komik dalam cerita flashback. Darkseid tetaplah lawan Justice League yang paling populer. Bisa jadi ini merupakan pembuka bagi kehadiran Darkseid di layar lebar.

Seperti film superhero pada umumnya, Justice League (2017) dipenuhi oleh banyak adegan aksi yang didukung oleh efek dan kostum terbaik di eranya. Tapi untuk Justice League (2017), special effect terasa amat banyak dan ada sedikit bagian cukup janggal penempatannya. Beruntung adegan aksinya cukup keren dan film ini lebih memiliki “cerita” dibandingkan Man of Steel (2013) yang isinya hanya pukul-pukulan saja.

Saya lihat Justice League (2017) memiliki suatu momen “wow” yang tidak dapat saya sebutkan di sini karena akan menjadi spoiler. Sayang akhir dari film ini yaaa hanya begitu saja, penyelesaian yang terlalu sederhana dan kurang cerdas. Peperangan melawan Steppenwolf yaaa hanya begitu saja, rasanya peperangan tersebut hanya seperti kisah pelengkap saja.

Terlepas dari beberapa kelemahan yang saya lihat di Justice League (2017), film ini tetap mampu menyuguhkan cerita dan adegan aksi yang bagus. Ditambah dengan beberapa adegan lucu dari The Flash, praktis film ini gagal membuat saya tertidur sepanjang film :). Bagi saya, meskipun kostumnya jelek, The Flash adalah bintang dari film ini :D. Akhir kata, rasanya Justice League (2017) masih layak untuk memperoleh nilai 3 dari skala maksimum 5 yang artinya “Lumayan”.

Sumber: http://www.unitetheleague.com