Power Rangers (2017)

Power Rangers

Kalau Amerika memiliki Superman, Iron Man, Thor, Batman, X-Men dan kawan-kawan sebagai superhero, nah Jepang memiliki superhero juga loh. Jepang memiliki Goggle V, Satria Baja Hitam, Gaban, Sharivan, Voltus V dan Megaloman yang sangat populer di era tahun 80-an dan 90-an. Kecuali Satria Baja Hitam, Saya sendiri terlalu kecil untuk menonton dan faham superhero-superhero Jepang yang baru saja saya sebutkan di atas. Mereka hadir pada era jayanya kaset video VHS, whaaaa, VHS? benda apa itu? :P. Satria Baja Hitam populer di era berbayarnya RCTI bukan VHS, jadi yaa saya sudah bukan bayi lagi dan dapat mengikuti jalan ceritanya, meskipun menontonnya menumpang di rumah tetangga :’D. Diantara superhero Jepang tersebut, Goggle V dapat dikatakan sebagai yang paling populer. Saya yang belum pernah sekalipun menonton filmnya saja, sering melihat poster Goggle V dan sempat nonton pementasannya di Senayan hehehehe.

Power Rangers

Goggle V termasuk kedalam kategori super sentai yang terdiri dari 5 orang. 5 orang spesial yang dapat berubah menjadi Goggle V. Nah, sekitar tahun 1993 konsep super sentai ala Goggle V ini berhasil meraup kepopuleran juga di Negeri Paman Sam melalui film seri Power Rangers. Film seri ini sempat pula diangkat ke layar lebar melalui Mighty Morphin Power Rangers: The Movie (1995). Saya sendiri dulu sempat menonton film tersebut di bioskop. Film layar lebarnya terbilang sederhana dan hanya hadir dengan special effect seadanya. Yaah jadi seperti 1 episode film seri yang ceritanya dipanjangkan saja hehehehe. Bagaimana dengan Power Rangers (2017)?

Power Rangers

Power Rangers (2017) bukanlah kelanjutan atau potongan kisah dari film seri atau film layar lebar Power Rangers sebelumnya. Film ini mengisahkan 5 remaja yang secara tidak sengaja memperoleh kekuatan Power Rangers. Titik berat film ini lebih ke arah bagaimana kelima remaja tersebut dapat berubah menjadi Power Rangers dan bekerjasama melawan Rita Repulsa (Elizabeth Banks).

Power Rangers

Rita bermaksud untuk menguasai dunia dengan menggunakan kekuatan Kristal Zeo. Sayang, Power Rangers yang dahulu kala mampu menggagalkan rencana jahat Rita, telah gugur tak bersisa. Dunia memerlukan Power Rangers baru demi kelangsungan umat manusia. Kemudian melalui sebuah peristiwa kebetulan, terpilihlah Jason Scott (Dacte Montgomery) sebagai Ranger Merah, Kimberley Hart (Naomi Scott) sebagai Ranger Pink, Billy Cranston (Ronald Cyler II) sebagai Ranger Biru, Zack Taylor (Ludi Lin) sebagai Ranger Hitam dan Trini Kwan (Rebbeca Marie Gomez) sebagai Ranger Kuning.

Power Rangers

Power Rangers

Berbeda dengan film-film Power Rangers terdahulu, disini kelima tokoh utama tidak dapat dengan mudah berubah menjadi Power Rangers yang sakti mandraguna :’D. Fisik mereka dilatih terlebih dahulu oleh Zordon (Bryan Cranston) dan Alpha 5 (Bill Hader). Apakah latihan fisik saja sudah cukup? Oh tidak mereka berlima harus menjadi satu dengan membuka diri satu sama lain. Hal ini bukanlah hal yang mudah karena kelima remaja ini merupakan remaja bermasalah yang terkena hukuman kelas tambahan di SMA mereka.

Power Rangers

Jason adalah andalan tim football sekolah yang melakukan tindak kriminal sebagai cara untuk lari dari tekanan sebagai seorang bintang yang harus berprestasi dan bersinar, harapan orang-orang terutama ayah Jason sungguh membebani Jason. Kimberly keluar dari tim cheerleader dan dijauhi oleh sahabat-sahabatnya karena masalah cyberbullying. Billy adalah remaja autis yang terkadang menjadi objek pelecehan teman SMA-nya. Zack setiap hari harus merawat ibunya yang sakit keras, itu bukanlah hal yang mudah. Trini . . . hhhmmmm ada apa dengan Trini?

Trini adalah tokoh dari film ini yang sempat menuai kontoversi sebab ia digadang-gadang sebagai seorang lesbian. Ahhh saya rasa itu hanya isapan jempol belaka, itu hanya iklan terselubung agar para pendukung gerakan LGBT semangat 45 menonton Power Rangers (2017). Padahal kalau saya lihat, Trini hanyalah remaja tomboy yang sedang mengalami krisis identitas. Apakah kalau ada remaja perempuan agak tomboy, maka ia dibilang lesbian? Aahhhh yang benar saja. Menurut saya prbadi, tidak ada katakter LGBT pada film ini :).

Power Rangers

Power Rangers

Power Rangers

Power Rangers

Power Rangers

Power Rangers Power Rangers

Saya justru melihat sedikit ketertarikan antara Zack dengan Trini. Selain itu Jason dan Kimberly nampak cukup “dekat”, agak berbeda dengan versi film seri yang saya tonton dahulu kala dimana Kimberly justru “dekat” dengan tokoh Tommy Si Ranger hijau. Ooohh kemanakah Ranger Hijau?

Ranger Hijau memang hanya muncul namanya saja pada film ini. Entah wujudnya seperti apa. Sebenarnya ketidakadaan Ranger Hijau justru membuat film ini nampak lebih seimbang. Masing-masing Ranger memiliki porsi yang relatif sama, meskipun saya lihat Ranger Merah sedikit lebih dominan di sana. Keseimbangan ini memperlihatkan bahwa kerja sama akan membuahkan hasil yang maksimal. Terus terang saya termasuk penonton film seri Power Rangers yang mulai malas menonton filmnya setelah Tommy atau Ranger Hijau hadir. Pada film serinya, Ranger Hijau memiliki kostum yang agak berbeda dan dilengkapi dengan kendaraan tempur yang nampak lebih mengkilap dibandingkan dengan Ranger lainnya. Semuamuanyaaaa serba Ranger Hijau lah pokoknya :(. Entah kenapa sang sutradara nampak berniat sekali mengorbitkan Si Ranger Hijau ini tanpa mempedulikan peranan Ranger-Ranger lainnya. Apakah mereka itu hanyalah tokoh-tokoh figuran? Kenapa kok film serinya tidak sekalian saja berganti judul menjadi Mighty Morphin Green Ranger atau Bang Tommy Jagoan Angel Grove? meehhhh. Semoga Ranger Hijau versi film layar lebar, nantinya tidak terlalu dominan seperti pada film serinya.

Masalah yang dihadapi masing-masing Ranger memang dapat ditampilkan pada Power Rangers (2018), tapi porsi disaat mereka berhasil berubah seutuhnya menjadi Power Ranger lengkap dengan kostumnya, tidaklah banyak, bahkan terlalu sedikit. Padahal kostum Power Ranger kali ini terbilang keren dan realistis, sudah jauh berbeda dengan kostum di film seri yang terlihat seperti mainan anak-anak. Efek spesial pada film ini pun terlihat bagus kecuali untuk bagian pertempuran antara robot raksasa Power Rangers dengan monster raksasa Rita Repulsa, kurang realistis dan kurang halus untuk film keluaran 2017.

Power Rangers

Power Rangers

Dari segi cerita, Power Rangers (2017) termasuk film 2017 yang masih saja melakukan blunder klasik ala Hollywood di mana tokoh antagonis terlalu banyak menyianyiakan kesempatan mengalahkan tokoh protagonis. Rita Repulsa sebenarnya sudah beberapa kali memperoleh kesempatan untuk membunuh Power Rangers, tapi apa yang Rita lakukan? Bukannya membunuh para Rangers, ia justru terlalu banyak bicara dan menggunakan metode pembunuhan yang tidak praktis sehingga Power Rangers dapat meloloskan diri. Rasanya Rita kalah bukan karena kekompakan Power Rangers, Rita kalah karena kebodohannya sendiri.

Power Rangers

Power Rangers

Berkaca dari pengalaman menonton Power Rangers (2017) di atas, rasanya film ini masih pantas untuk memperoleh nilai 3 dari skala maksimum 5 yang artinya “Lumayan”. Oh iya, tokoh Bulk dan Skull yang selalu ada pada film seri Power Rangers tahun 90-an, kali ini absen looh, Tapi keabsenan tokoh Bulk dan Skull ini tidak memberikan pengaruh apapun bagi saya karena kedua tokoh tersebut pada dasarnya memang kurang lucu dan tidak menonjol hehee.

Sumber: www.powerrangers.com

Iklan

Wonder Woman (2017)

Kehadiran “dadakan” Wonder Woman (Gal Gadot) pada Batman V Superman: Dawn of Justice (2016) dengan diiringi musik karya Hans Zimmer, cukup menyita perhatian karena pertarungan dengan iringan musik tersebut terasa keren. Andaikata saya belum menonton Batman V Superman: Dawn of Justice (2016), sudah pasti saya malas menonton Wonder Woman (2017). Terus terang saya tidak suka dengan Wonder Woman setelah bermain Injustice dan menonton Justice League: The Flashpoint Paradox (2013). Di sana, Wonder Woman nampak terlalu emosional dan menyebalkan :(. Apakah Wonder Woman pada Wonder Woman (2017) akan nampak seperti itu? Semoga saja tidak hehehe.

Kisah pada Wonder Woman (2017) diawali dengan sebuah foto masa lalu Wonder Woman atau Diana (Gal Gadot). Pada Batman V Superman: Dawn of Justice (2016), kita memang diperlihatkan foto-foto Wonder Woman di masa lampau. Nah setelah peristiwa pada Batman V Superman: Dawn of Justice (2016), cetakan asli foto tersebut dikirim kepada Wonder Woman. Wonder Woman kemudian mulai bercerita akan masa lalunya, bagaimana ia pertama mengenal dunia manusia. Aaaahhh film Wonder Woman (2017) ternyata mengisahkan asal mula Wonder Woman, bukan kisah setelah pertarungan besar pada Batman V Superman: Dawn of Justice (2016).

Berbeda dengan Superman dan Batman, ternyata tokoh Wonder Woman erat sekali dengan mitologi Yunani. Sejak kecil, Diana atau Wonder Woman, tinggal di pulau Themyscira bersama dengan ibunya, ratu suku Amazon. Pulau Themyscira hanya dihuni wanita dan pulau tersebut selalu diselimuti kabut dan perisai kasat mata sehingga tidak dapat dilihat oleh manusia biasa. Itu adalah anugrah Zeus, raja para dewa Olimpus, kepada suku Amazon yang menghuni pulau Themyscira. Zeus melakukan ini agar suku Amazon dapat tersembunyi dari Ares, dewa perang. Alasan utama kenapa Zeus melakukan ini akan terjawab pada bagian akhir film lho hohohoho.

Tumbuh di tengah-tengah suku Amazon yang perkasa membuat Diana ikut tumbuh menjadi pejuang Amazon yang handal. Namun Diana selalu saja berbeda, seolah ada sesuatu yang lain di dalam diri Diana. Aaahhhh ini juga akan dijelaskan pada bagian akhir film. Saya tidak akan membeberkan spoiler di sini.

Kehidupan Diana dan suku Amazon berlangsung penuh kedamaian sampai Steve Trevor (Chris Pine) terdampar di pesisir pantai Themyscira. Dari mulut Steve, diperoleh informasi bahwa dunia sedang mengadapi perang, terjadi perang di mana-mana. Setting Wonder Woman (2017) memang di era perang dunia pertama di mana terjadi perang antara blok sekutu dan blok sentral. Pada saat itu Steve yang berasal dari Inggris (bagian dari blok sekutu) menemukan informasi bahwa Jerman (bagian dari blok sentral) mengembangkan senjata pemusnah masal padahal sebentar lagi pemimpin Jerman akan menyatakan pernyataan menyerah. Apabila Jerman menyerah, maka dapat dikatakan bahwa perang dunia berakhir dan dunia kembali damai.

Pengembangan senjata pemusnah masal terus dilakukan oleh Jendral Erich Ludendorff (Danny Huston) dan Doctor Poison (Elena Ayala), untuk menggagalkan acara deklarasi pernyataan menyerah Jerman kepada Sekutu. Usaha keduanya membuahkan hasil ketika senjata pemusnah masal yang dikembangkan, telah berhasil dan siap untuk diujicobakan.

Steve dan Diana beserta beberapa rekan Steve, pergi menuju garis depan peperangan untuk menghentikan perang. Steve dan Diana pergi bersama-sama tapi dengan target yang sedikit berbeda. Steve pergi untuk menghentikan rencana Doctor Poison dan Jendral Lodendorff. Sementara itu Diana pergi untuk menemukan dan membunuh Ares. Diana yakin bahwa perang yang terjadi merupakan ulah Ares, Ares mempengaruhi manusia untuk saling bunuh. Apabila Ares mati, maka dunia akan damai tanpa ada bunuh membunuh. Tapi, bukankah setiap manusia sebenarnya memiliki hawa nafsu dan sisi kelam? Konsep kehidupan tersebut nampaknya tidak Diana ketahui sebab sejak kecil Diana memang tidak pernah pergi dari pulau Themyscira. Perjalanan bersama Steve adalah perjalan pertama Diana di luar pulau.

Ketidaktahuan Diana mengenai kondisi dan kenyataan dunia luar berhasil dimanfaatkan dengan baik sehingga mampu membuat saya tertawa. Sangat berbeda dengan film layar lebar superhero DC Comics sebelumnya, Wonder Woman (2017) tidak terlalu kelam dan diselingi oleh beberapa adegan komedi yang lucu. Hal ini didukung dengan baik sekali oleh Christ Pine sebagai pemeran Steve Trevor. Romansa antara Wonder Woman dan Steve pun nampak apik di sana. Jadi di Wonder Woman (2017) tidak hanya aksi bak bik buk saja, ada komedi dan romansa di sana.

Dengan didukung oleh special effect dan kostum yang bagus, adegan aksi pada Wonder Woman (2017) terbilang bagus dan enak dilihat :). Tapi menurut saya adegan aksinya terlihat bagus sekali ketika diiringi oleh lagu tema Wonder Woman karya Hans Zimmer. Ketika lagu pengiringnya diubah ke lagu lain, rasanya agak berbeda. Pertarungan puncak pada Wonder Woman (2017) justru menggunakan lagu pengiring lain yang biasa-biasa saja sehingga pertarungan tersebut terasa seperti antiklimaks.

Semuanya berhasil mendukung sebuah cerita yang nyaman untuk diikuti meskipun memakan waktu sekitar 2 jam. 2 jam? Ya, durasi film ini sekitar 2 jam hohohoho. Tapi jalan ceritanya tetap ok kok, fakta tentang Ares-pun tidak saya duga sebelumnya, ternyata Ares itu . . . . . 🙂

Secara keseluruhan, DC Comics telah melakukan perbaikan kualitas film superhero-nya melalui Wonder Woman (2017). Film ini layak untuk memperoleh nilai 4 dari skala maksimum 5 yang artinya “Bagus”. Penilaian saya ini dibuat terlepas dari kenyataan bahwa pemeran utama Wonder Woman (2017), Gal Gadot, merupakan seorang Israel yang pernah melakukan wajib militer selama 2 tahun. Pemutaran film ini di bioskop ditolak keras oleh pemerintah Lebanon. Yaaahhh, menonton film kan tidak selalu harus di bioskop bukan? Walaupun rasanya Wonder Woman (2017) termasuk film yang lebih bagus kalau ditonton di bioskop ;).
Sumber: wonderwomanfilm.com

The Lego Batman Movie (2017)

Sebagian masa kecil saya dihabiskan dengan bermain Lego di rumah tetangga. Permainan konstruksi tersebut bisanya bisa dibentuk menjadi bangunan-bangunan seperti pertokoan dan pom bensin. Tokoh-tokohnya pun seingat saya hanya pekerja bangunan dan tukang bensin. Sekarang, Lego sudah bermacam-macam variannya. Ada Lego Friends, Lego Superhero, Lego Star Wars, Lego Ninjago dan lain-lain.

Tidak cukup di situ, film-film Lego kemudian bermunculan, baik yang berupa film serial TV maupun film layar lebar. Semuanya mengusung kisah-kisah dengan latar belakang dunia Lego. Tidak hanya dari segi animasi atau gambar saja, tapi di sisi ceritanya pun dibuat sedemikian rupa sehingga aturan dunia yang berlaku adalah aturan dunia Lego, bukan dunia nyata. Tak lupa disisipkan berbagai lelucon sarkasme yang membahas film atau tokoh populer. Hal inilah yang saya temukan pada The Lego Batman Movie (2017).

Pada film Lego terbaru ini, Batman atau Bruce Wayne (Will Arnett) hadir sebagai tokoh utama. Sepanjang film terdapat banyak lelucon sarkasme yang dapat membuat saya tersenyum. Penyelesaian akhirnya pun terbilang logis apabila kota Gotham memang dibangun oleh jutaan kepingan Lego. Penyelamatan kota Lego Gotham yang hanya dapat dilakukan di dunia Lego. Hal ini terbilang cerdas karena dengan begini, akan terdapat pembeda antara film Lego Batman dengan film animasi Batman lainnya.

Apa yang terjadi pada film Lego Batman ini? Dikisahkan bahwa Batman selalu berhasil mengalahlan lawan-lawannya dan menyelamatkan Gotham. Batman selalu menyatakan kepada semua orang bahwa ia kuat, perkasa dan tidak membutuhkan orang lain. Padahal, hidup Batman sebenarnya terbilang kosong, hampa. Batman tidak mau menurunkan perisainya dan mengakui bahwa ia membutuhkan teman seperti Dick Grayson (Michael Cera), Barbara Gordon (Rosario Dawson dan Alfred Pennyworth (Ralph Finnes). Menyelamatkan Gotham memang menjadi tugas Batman, namun sesekali bahkan seorang Batman pun membutuhkan bantuan dan dukungan dari orang-orang terdekatnya.

Uniknya, pada The Lego Batman Movie (2017) dikupas pula hubungan benci-rindu antara Batman dan Joker (Zach Galifianakis). Joker seolah haus akan pengakuan dari Batman. Ia ingin Batman akui sebagai lawan terberat Batman. Sebuah pengakuan yang tak kunjung Joker peroleh hingga Joker melakukan tindakan yang dapat menghancurkan kota Gotham. Hal ini tidak saya temui di film Batman lainnya :).

Berbagai keunikan yang dibumbui oleh berbagai sarkasme memang menjadi keunggulan tersendiri bagi The Lego Batman Movie (2017). Namun saya sendiri sebenarnya tidak terlalu suka dengan jalan ceritanya. Sarkasme yang muncul hanya mampu membuat saya tersenyum, bukan tertawa. Dengan demikian The Lego Batman Movie (2017) layak untuk memperoleh nilai 3 dari skala maksimum 5 yang artinya “Lumayan”.

Sumber: www.legobatman.com

Serial Legion

Setelah beberapa kali memunculkan berbagai karakter komiknya ke dalam serial TV, kali ini Marvel kembali menghadirkan serial superhero yang berkaitan erat dengan X-Men, yaitu serial Legion. Apa kaitan Legion dengan X-Men? Tokoh utama Legion, David Haller (Dan Stevens), adalah kerabat dari salah satu anggota tetap X-Men.

Pada awalnya David tidak menyadari akan kekuatan supernya. Semua peristiwa aneh yang ia alami sejak kecil, didiagnosa sebagai penyakit kejiwaan oleh para dokter. David dirawat disebuah rumah sakit jiwa sampai sebuah insiden terjadi di sana. Seketika itu juga pihak pemerintah dan sekelumpok organisasi mutant misterius, datang mencari David.

Sama seperti pada X-Men, perlakuan pihak pemerintah kepada mutant tidaklah menyenangkan. David akhirnya melarikan diri dari rumah sakit dan berlindung di dalam organisasi mutant misterius yang dipimpin oleh Melanie Bird (Jean Smart). Mereka bermukim di Summerland yang dikelilingi oleh hutan. Di sana David bertemu dengan mutant-mutant lain seperti Sydney Barrett (Rachel Keller), Ptonomy Wallace (Jeremie Harris), Cary Loudermilk (Bill Irwin), Kerry Loudermilk (Amber Midthunder), Oliver Bird (Jermaine Clement) dan lain-lain. Masing-masing memiliki kekuatan yang unik, namun konon kekuatan David lah yang terbesar.

Di Summerland, David mempelajari akan kekuatan supernya. Melanie dan kawan-kawan menduga bahwa diagnosa para dokter jiwa yang memeriksa David, salah besar. Gejala kejiwaan yang David alami adalah kekuatan super David yang belum David pahami. Untuk mahami kekuatannya, David harus menyelami alam pikirannya. Semua ada di dalam pikiran David, alam bawah sadar yang banyak sekali ditampilkan pada serial ini. Terkadang David sendiri tidak dapat membedakan antara khayalan, alam pikiran dan dunia nyata.

Berbeda dengan film superhero Marvel lainnya, serial Legion banyak mengeksplorasi dan menggabungkan dunia alam bawah sadar. Terkadang saya pikir, Serial Legion relatif lebih mirip dengan serial Twin Peaks ketimbang serial Agent of S.H.I.E.L.D. atau Daredevil. Sebuah serial superhero yang unik dengan visual, editing dan jalan cerita yang dibuat sedemikian rupa sehingga penonton tidak terlalu bingung meskipun memiliki cerita yang sebenarnya membingungkan, banyak dunia khayalan di sana.

Pada umumnyanya, saya kurang cocok dengan tipe film yang seperti Legion ini, penuh dunial surealis yang blur dan tak jelas. Seolah membawa saya ke dalam pikiran ajaib si tokoh utama. Tapi untuk Legion, saya dapat menikmati serial ini, menanti siapa lawan utama David sebenarnya. Saya rasa visualisasi Legion patut diacungi jempol. Tidak terlalu menggunakan banyak special effect tapi penempatannya pas sehingga terlihat bagus.

Saya rasa serial Legion layak untuk memperoleh nilai 4 dari skala maksimum 5 yang artinya “Lumayan”. Tapi perlu diingat bahwa serial Legion bukanlah tontonan anak-anal walaupun kisahnya didasarkan dari cerita komik ;).

Sumber: http://www.fxnetworks.com/region-fx

Planet Hulk (2010)

Setelah tampil pada beberapa film layar lebar The Avengers, saya mendengar bahwa Marvel akan menghadirkan film solo Hulk kembali. Film tersebut kemungkinan akan mengambil cerita komik Planet Hulk sebagai latar belakangnya. Namun berita tersebut menghilang dengan sendirinya dan proyek film Hulk semakin hari semakin menghilang, terkubur dengan proyek-proyek film superhero Marvel lainnya seperti Captain America, Guardians of the Galaxy, Black Panther, Thor dan lain-lain. Menjelang rilis Thor: Ragnarok (2017), kata-kata Planet Hulk kembali menggema. Banyak yang meramalkan bahwa cerita Thor: Ragnarok (2017) akan seperti Planet Hulk. Planet Hulk lagi, Planet Hulk lagi, cerita tentang apa itu?

Akhirnya saya memilih untuk menonton Planet Hulk (2010), sebuah film animasi Marvel yang dibuat berdasarkan komik Planet Hulk. Di sana dikisahkan bahwa Hulk (Rick D. Wasserman) diasingkan oleh Iron Man (Marc Worden) dan kawan-kawan karena Hulk dianggap terlalu berbahaya bagi penduduk Bumi. Hulk memang sangat kuat terutama disaat ia sedang marah sekali, nah amarah itulah yang terkadang membuat Hulk hilang kendali.

Pesawat luar angkasa yang mengantarkan Hulk menuju pengasingan, gagal menahan Hulk. Dengan penuh amarah, Hulk mampu merobek-robek pesawat tersebut hingga akhirnya ia terdampar di planer Sakaar. Planet Sakaar sedang dikuasai oleh Red King (Mark Hildreth), seorang raja yang menggunakan pertarungan ala gladiator sebagai hiburannya. Pasukan sang raja menangkap Hulk dan menjadikan Hulk sebagai gladiator di arena berdarah milik Red King. Dengan kekuatan Hulk yang amat besar, sudah dapat ditebak bahwa kemenangan akan selalu memihak Hulk. Tapi ternyata ada karakter dari komik Thor yang terdampar pula di sana. Seorang lawan yang dapat menyamai Hulk.

Di luar arena gladiator, praktis tak ada yang dapat menghalangi Hulk selain Caiera (Lisa Ann Beley). Sayang Caiera berada di pihak Red King. Kenapa kok karakter yang satu ini mampu menandingi Hulk, tidak terlalu dijelaskan padahal dia bukanlah tokoh yang terkenal di dunia Marvel, saya sendiri baru kali ini mengetahui keberadaan Caiera. Pada perkembangan cerita selanjutnya, Caiera melakukan perpindahan dukungan dan pergeseran hubungan dengan Hulk. Perubahan keberpihakan Caiera dapat saya pahami, jelas alasannya. Nah kalau perubahan hubungannya dengan Hulk, itu agak aneh, terlalu instan dan terkesan dipaksakan. Mungkin durasi filmnya kurang lama yah hehehe.

Terlepas dari kelemahan di atas, saya tetap dapat menikmati film ini. Melihat Hulk melawan lawannya satu per satu, tetap mampu memberikan hiburan yang lumayan bagus :D. Memang sih sudah hampir dipastikan Hulk akan menang, tapi proses dan alurnya tidak membosankan untuk dilihat.

Secara keseluruhan, rasanya Planet Hulk (2010) masih layak untuk memperoleh nilai 3 dari skala maksimum 5 yang artinya “Lumayan”. Menonton film ini dapat dikatakan sebagai solusi tepat bagi yang ingin mengetahui mengenai Planet Hulk tanpa harus membaca serial komiknya satu per satu ;).

Sumber: marvel.com/movies/movie/140/planet_hulk

Justice League: The Flashpoint Paradox (2013)

Melihat pembahasan mengenai film seri The Flash musim kedua, saya sering mendengar kata-kata Flashpoint Paradox, aaahhh ternyata itu judul seri komik dan film animasi DC Comics yang cukup populer dengan Flash sebagai tokoh sentralnya, tumben bukan Superman atau Batman hehehe. Biasanya film-film animasi DC didominasi oleh 2 nama tersebut.

Pada Justice League: The Flashpoint Paradox (2013), Batman dan Superman tetap ada kok, judulnya saja mengandung kata-kata Justice League. Tak hanya Flash alias Barry Allen (Justin Chambers), Superman alias Clark Kent (Sam Daly) dan Batman alias Bruce Wayne (Kevin Conroy), hadir pula Wonder Woman alias Diana (Vanessa Marshall), Aquaman alias Arthur Curry (Cary Elwes), Cyborg alias Victor Stone (Michael B. Jordan) dan Green Lantern alias Hal Jordan (Nathan Fillion), wah lengkap juga yahhh. Dikisahkan bahwa Flash dengan dibantu Justice League, berhasil menangkap Professor Eobard “Zoom” Thawne atau Reverse-Flash (C. Thomas Howell) dan beberapa supervillain lain yang ikut mengeroyok Flash. Baik di komik maupun di film, Zoom sering hadir sebagai musuh besar Flash, tak terkecuali pada Justice League: The Flashpoint Paradox (2013).

Setelah Zoom tertangkap, Barry Allen beristirahat dan kemudian terbangun dari tidur pendeknya. Setelah Barry bangun, ia menemukan dirinya berada di dunia yang berbeda. Barry mendadak kehilangan kekuatannya dan semua anggota Justice League mengalami takdir yang berbeda sehingga mereka pun bukan superhero yang Barry kenal. Batman bukanlah Bruce Wayne, Superman tidak dibesarkan oleh keluarga Kent, Hal Jordan tidak terpilih menjadi Green Lantern dan Cyborg menjadi tangan kanan presiden Amerika. Bagaimana dengan Wonder Woman dan Aquaman? Keduanya terlibat cinta segitiga dan perselingkuhan yang mengakibatkan perang besar antara bangsa Amazon dan Atlantis. Dunia yang satu ini diambang kehancuran akibat perseteruan antara kedua bangsa super tersebut. Manusia biasa hanya dapat menonton dan pasrah sebab superhero lain nampak tak berdaya. Di tengah-tengah kebingungan ini, Barry melihat ibunya yang seharusnya sudah meninggal. Pada dunia ini, ibu Barry ternyata masih hidup, aaah ada secercah kebahagiaan di sana.

Bagaimana semua ini bisa terjadi? Barry yakin bahwa Zoom telah pergi ke masa lalu dan mengubah masa lampau sehingga dunia menjadi sekacau ini. Dengan dibantu Batman, Barry berusaha mereplikasi kecelakaan yang merubah Barry menjadi Flash. Barry harus berlari sekencang mungkin, menembus kecepatan cahaya untuk pergi ke masa lalu untuk memperbaiki ini semua. Rencana hanyalah rencana, hal itu tak mudah diraih. Dalam perjalanannya, banyak tokoh-tokoh superhero yang tewas. Beberapa adegannya agak sadis ya bagi anak-anak. Justice League: The Flashpoint Paradox (2013) lebih cocok untuk ditonton oleh orang dewasa meskipun berwujud film animasi atau kartun.

Perbedaan akan nasib para superhero dan supervillain menarik untuk diikuti, beberapa bahkan mencengangkan untuk dilihat. Saya lihat terdapat kesedihan pada hubungan antara Flash dengan ibunya dan hubungan antara Bruce Wayne dengan keluarganya. Jadi film ini bukan hanya film kartun yang sarat adegan pukul-pukulan atau tembak-tembakan saja :). Apalagi terdapat sedikit kejutan pahit pada bagian akhir film ini, asalkan teman-teman tidak membaca sinopsis di beberapa tulisan yang tidak bertanggung jawab yaa. Entah kenapa untuk film yang satu ini, banyak orang memasukkan spoiler ke dalam sinopsis mereka. Sesuatu yang harusnya terungkap di akhir film justru diumbar di sinopsis :P.

Saya rasa Justice League: The Flashpoint Paradox (2013) layak untuk memperoleh nilai 4 dari skala maksimum 5 yang artinya “Bagus”. Ternyata, walaupun sejauh ini film-film DC Comics di layar lebar relatif kalah dibandingkan film-filmnya Marvel, DC Comics mampu menelurkan film animasi yang berkualitas. Ahhh kenapa yang seperti ini tidak saya lihat pada film-film bioskop DC Comics terbaru? ;’)

Sumber: http://www.dccomics.com/movies/justice-league-the-flashpoint-paradox-2013

Logan (2017)

Sejak tahun 2000 sampai 2017 ini, karakter Wolverine alias James “Logan” Howlett (Hugh Jackman) selalu hadir dalam semua film X-Men, baik hanya sebagai cameo ataupun sebagai salah satu pemain utama. Dalam berbagai dimensi dan timeline, anggota X-Men lainnya boleh berganti wujud atau pemerannya, tapi Wolverine selalu hadir dengan diperankan oleh Hugh Jackman. Hal ini terbilang masuk akal karena, seperti Deadpool, kelebihan Wolverine adalah memiliki tubuh yang dapat menyembuhkan luka apapun dengan sangat cepat. Dengan demikian, Wolverine tidak menua dan sudah hidup dalam berbagai zaman sebagaimana yang pernah dikisahkan pada X-Men Origins: Wolverine (2009). Film X-Men Origins: Wolverine (2009) yang menunjukkan asal mula Wolverine tersebut adalah film solo Wolverine pertama. Kepopuleran Wolverine memang melebihi kepopuleran anggota X-Men lainnya sehingga ia memiliki judul komik dan judul film sendiri :).

Namun, seindah apapun itu, semua pasti ada akhirnya. Film solo ketiga Wolverine yaitu Logan (2017) konon akan menjadi akhir dari karakter Wolverine yang diperankan oleh Hugh Jackman. Pada film ini dikisahkan bahwa Wolverine atau Logan hidup dipelarian bersama-sama dengan Professor X (Patrick Stewart). Kedua mutant tersebut sudah menua dan melemah. Kemampuan sembuh dari Logan sudah memudar sehingga ia nampak tua dan tidak bugar. Professor X terkena alzheimer sehingga ia sering mengingau dan kehilangan kontrol atas kekuatannya apabila tidak meminum obat. Mereka hidup di era dimana mutant hampir punah dan anggota X-Men lainnya sudah gugur.

Latar belakang pada Logan (2017) mirip dengan latar belakang pada komik Old Man Logan. Hanya saja pada Logan (2017) tidak dibahas siapa penguasa dunia saat itu, yang ada hanyalah perusahaan jahat bernama Essex yang sekilas sempat muncul pada X-Men: Apocalypse (2016). Pada komik Old Man Logan, dunia dikuasai oleh para supervillain seperti Red Skull, Magneto dan Doctor Doom. Pada Logan (2017), ketiga supervillain tersebut sama sekali tidak disebutkan, semua hanya berfokus kepada Logan yang seolah menunggu mati di tengah-tengah pelarian.

Setelah lama bersembunyi, Logan dan Proffesor X akhirnya terpaksa keluar dari persembunyiannya ketika mereka harus menyelamatkan Laura Kinney atau X-23 (Dafne Keen). Bagi yang sudah membaca komik X-Men era-era tahun 2000-an tentunya sudah tahu siapa X-23 itu. Ia adalah mutant dengan kemampuan yang sama persis dengan Wolverine lengkap dengan kemampuan sembuh dan tulang adamantium.

Terus terang kehadiran Laura yang muda, kuat dan bringas mampu membuat saya semangat lagi menonton Logan (2017). Saya awalnya sedikit malas menonton film ini karena pada bagian awal film, Logan justru nampak lemah dan kehabisan tenaga, apalagi sudah ada pengumuman dimana-mana bahwa Logan (2016) adalah film Wolverine terakhir Hugh Jackman. Saya lihat Hugh Jackman mampu menampilkan sosok Logan yang “terluka” dengan baik. Tidak hanya fisiknya yang melemah, secara mental pun Logan seolah menjadi mutant yang putus asa. Tentunya perlahan Logan berubah karena Laura, anak kecil yang bisa jadi merupakan anak Logan.

Yang saya suka dari Logan (2017) adalah adegan aksinya yang realistis dan bagus, meskipun agak sadis. Aksi, drama dan akting Hugh yang bagus, semuanya diramu dengan baik sehingga Logan (2017) adalah perpisahan yang manis bagi Hugh Jackman. Film ini tentunya layak untuk menperoleh nilai 4 dari skala maksimum 5 yang artinya “Bagus”. Rasanya Logan (2017) termasuk salah satu film superhero keluaran Marvel terbaik yang pernah saya tonton.

Sumber: www.foxmovies.com/movies/logan