Black Widow (2021)

Black Widow merupakan salah satu tim inti kelompok superhero The Avengers yang hampir selalu muncul di film-film MCU (Marvel Cinematic Universe). Sudah sejak lama para fans menantikan film solo Black Widow. Entah apakah ini sudah terlambat atau belum, baru pada tahun 2021 ini Black Widow memperoleh film solonya melalui Black Widow (2021).

Masa kecil Black Widow atau Natasha Romanov (Scarlett Johansson) dihabiskan sebagai bagian dari keluarga mata-mata Rusia. Mereka berpura-pura menjadi keluarga Amerika biasa yang tinggal di Ohio. Setelah misi mata-mata selesai, keluarga tersebut terpecah.

Natasha kecil kemudian dilatih di dalam Red Room oleh Jendral Dreykof (Ray Winstone) untuk menjadi seorang Black Widow. Sekumpulan tentara handal yang sangat terlatih untuk menyelesaikan berbagai misi. Pelatihan yang diberikan sejak kecil, tentunya menjadi Natasha sangat handal. Namun pada akhirnya ia memilih untuk membunuh Dreykof dan membelot menjadi anggota S.H.I.E.LD. untuk kemudian menjadi anggota The Avengers. Sejak saat itu Natasha mengaggap Dreykof dan Red Room sudah musnah.

Bertahun-tahun kemudian, Yelena Belova (Florence Pugh) memberitahu Natasha bahwa Dreykof selamat dan Red Room masih beroperasi secara tersembunyi. Di Ohio dulu, Yelena sempat menjadi adik Natasha dalam keluarga pura-pura mereka. Dari sana, mereka mengumpulkan informasi mengenai Red Room dengan menemui agen yang berperan menjadi ayah dan ibu mereka di Ohio dulu.

Setelah misi menjadi ayah di Ohio selesai, Alexei Shostakov (David Harbour) menjadi Red Guardian, versi Uni Soviet dari Captain Amerika. Pada masanya Red Guardian pun harus berhadapan dengan Captain America.

Sementara itu, figur ibu bagi Natasha & Yelena, Melina Vostokoff (Rachel Weitz) menjabat sebagai ketua tim peneliti Red Room. Selain itu, ternyata Melina pun seorang Black Widow yang dahulu dilatih di Red Room.

Ketika Natasha, Yelena, Alexi dan Melina bertemu, ada nostalgia yang sentimentil di sana. Misi mereka di Ohio adalah satu-satunya kesempatan mereka untuk merasakan bagaimana rasanya memiliki keluarga. Bagi mereka, semua yang terjadi di Ohio terasa nyata.

Seperti menjadi ayah & ibu sungguhan, Melina & Alexei bersedia membantu Yelena & Natasha melawan Dreykof yang dikawal oleh banyak Black Widow. Tak hanya itu, keempatnya harus berhadapan dengan Taskmaster (Olga Kurylenko). Kostum Taskmaster sebenarnya sudah cukup sangar, sayang perannya hanya untuk berkelahi saja. Black Widow (2021) sepertinya kurang memaksimalkan karakter yang satu ini.

Namun, keterlibatan Taskmaster dalam adegan perkelahian, tetap terlihat bagus. Saya suka dengan berbagai adegan aksi pada Black Widow (2021). Semuanya terbilang realistis dan seru untuk ditonton. Apalagi di sana Natasha melakukan taktik perang psikologis yang menjadi keahliannya. Saya benar-benar terhibur di sana.

Ditambah lagi dengan jalan cerita yang cerdas & enak untuk diikuti, Black Widow (2021) semakin banyak memiliki kelebihan. Mirip film-film MCU lainnya, beberapa humor pun diselipkan pada Black Widow (2021) dan hasilnya terbilang pas. Humornya hadir disaat yang tepat sehingga dapat menjadi penyegar di tengah-tengah berbagai adegan aksi yang serius.

Hampir semua peristiwa pada Black Widow (2021), terjadi sesaat setelah Captain America: Civil Wars (2016). Jadi, bagi yang sudah menonton setiap film-film MCU, pasti tahu persis kapan Natasha gugur. Sudah dapat dipastikan Natasha akan tetap segar bugar setelah Black Widow (2021) berakhir. Saya rasa ini bukanlah kejutan. Toh selama ini tidak pernah ada film superhero solo MCU dimana tokoh utamanya tewas pada film solo pertamanya. Jagoan mah menang terus dong.

Saat ini beberapa tokoh utama The Avengers seperti dipensiunkan dengan berbagai alasan. Yah selain kontrak para pemerannya memang habis, MCU membutuhkan penyegaran. Hilang 1, muncul 1, kurang lebih itulah yang terjadi. Captain America baru sudah terlahir melalui Serial The Falcon and the Winter Soldier. Black Widow pun saya rasa mengalami hal yang sama dan Black Widow (2021) berperan untuk memperkenalkan calon Black Widow baru pengganti Natasha.

Saya rasa tidak pernah ada kata terlambat bagi kemunculan film apapun termasuk Black Widow, selama kualitasnya ok. Untuk Black Widow (2021) sendiri, saya ikhlas memberikan nilai 4 dari skala maksimum 5 yang artinya “Bagus”.

Sumber: http://www.marvel.com/movies/black-widow

Serial The Falcon and the Winter Soldier

Avenger merupakan kumpulan superhero ternama dari Marvel Comics dan telah hadir berkali-kali dalam film-film MCU (Marvel Cinematic Universe) yang saling berhubungan. Karakter Falcon / Sam Wilson (Anthony Mackie) dan Winter Soldier / Bucky Barnes (Sebastian Stan) merupakan bagian dari Avenger yang tidak terlalu terkenal. Saya pun tidak berharap banyak ketika Serial The Falcon and the Winter Soldier hadir di aplikasi streaming Disney+.

Seperti film-film MCU sebelumnya, The Falcon and the Winter Soldier tetap dapat dinikmati tanpa harus menonton film-film MCU sebelumnya. Namun, akan lebih nyaman kalau kita mengetahui sekilas mengenai latar belakang karakter-karakter yang ada. Semuanya sudah dikisahkan pada film-film MCU sebelumnya. Dari sekian banyak film-film MCU, rasanya The Falcon and the Winter Soldier berkaitan dengan Captain America: The First Avenger (2011), Captain America: The Winter Soldier (2014), Captain America: Civil Wars (2016) dan Avengers: Endgame (2019). Wah, mayoritas terkait film tentang Captain America / Steve Rogers (Chris Evans) yah. Falcon dan Winter Soldier memang merupakan 2 orang terdekat Captain America. Baiklah, supaya teman-teman tidak perlu menonton teelebih dahulu film-film MCU yang tadi saya sebutkan, saya akan sekilas membahas mengenai latar belakang keadaan Falcon dan Winter Soldier pada film seri ini.

Kita awali dari Winter Soldier atau Bucky Barnes. Ia merupakan sahabat Steve Rogers sejak mereka masih terlibat Perang Dunia Kedua. Keduanya adalah personel militer Amerika Serikat yang pergi melawan Nazi. Steve kemudian menggunakan serum tentara super hingga akhirnya ia menjadi Captain America dengan berbagai kekuatan supernya. Selain berjuang langsung di garis depan, Steve berhasil menjadi maskot dan marketing bagi perjuangan Amerika di Perang Dunia Kedua. Steve tampil sebagai Captain America yang menginspirasi mayoritas penduduk dunia. Perisainya pun menjadi ciri khas Captain America yang melekat sepanjang masa. Semua ini dikisahkan pada Captain America: The First Avenger (2011). Sayangnya, pada film ini dikisahkan pula bagaimana Captain America menghilang dan membeku. Sementara itu Bucky terjatuh dan tidak jelas nasibnya.

Kemudian pada Captain America: The Winter Soldier (2014), dikisahkan bahwa Steve dan Bucky harus berhadapan setelah tidak bertemu selama 70 tahun. Karena kekuatan supernya, Steve dapat dibangkitkan dari fase beku tanpa mengalami penuaan. Sementara itu, Bucky tidak hilang, melainkan menjadi objek percobaan tentara super Nazi. Karena Bucky setengah mesin dan memiliki serum manusia super di dalam darahnya, maka ia pun tetap hidup puluhan tahun tanpa menua seperti Steve. Sayang, Bucky mengalami cuci otak sehingga selama puluhan tahun pula Bucky beraksi sebagai pembunuh profesional yang sangat handal. Ketika berhadapan dengan Bucky, Steve memperoleh bantuan dari Sam Wilson. Di sini, Sam memperoleh kostum dan menjelma menjadi Falcon. Falcon tidak memiliki kekuatan super. Ia memiliki kostum yang dapat membuatnya terbang dengan cepat dan lincah.

Pada Captain America: Civil Wars (2016), Bucky yang mulai insyaf dituduh membunuh pemimpin negeri Wakanda. Insiden ini membuat Avengers terpecah dan saling baku hantam. Semua ini adalah ulah Baron Helmut Zemo (Daniel Brühl) yang sangat anti terhadap konsep manusia super. Zemu ingin memusnahkan semua manusia super yang ada. Menurutnya, manusia super akan memunculkan sebuah supremasi dimana pada akhirnya manusia biasa akan ditindas oleh manusia super. Pada akhirnya, semua rencana Zemo gagal dan ia dijebloskan ke dalam penjara.

Terakhir, pada Avengers: Endgame (2019) dikisahkan bahwa Thanos berhasil memusnahkan separuh populasi alam semesta dengan kekuatan batu-batu infinity. Kemudian, setelah 5 tahun berlalu, Avengers dan superhero-superhero lain, berhasil mengalahkan Thanos dan menghidupkan kembali separuh populasi alam semesta yang sempat Thanos musnahkan. Hal ini disebut “blip” oleh media masa saat itu.

Semua kejadian pada Serial The Falcon and the Winter Soldier terjadi setelah insiden “blip”. 5 tahun bukanlah waktu yang singkat. Banyak sekali perubahan yang terjadi. Sebagian dari warga yang kembali hidup, mengalami berbagai masalah sehingga mereka terlantar dan tidak memiliki rumah. Penanganan yang lambat dan kurang tepat dari pemerintah menghadirkan sebuah ancaman baru yang disebut Flag Smashers.

Flag Smasher adalah sekumpulan anak-anak muda yang telah mencuri serum manusia super dan telah berhasil menyuntikkan serum tersebut kepada diri mereka. Dengan kekuatan super yang Flag Smasher miliki, mereka melakukan berbagai aksi yang dimaksudkan untuk menolong para korban insiden “blip” yang terlantar. Pada awalnya aksi ini mendapatkan banyak simpati dari beberapa lapisan masyarakat. Sayang lama kelamaan cara-cara yang Flag Smasher ambil semakin brutal dan merugikan orang banyak.

Di sini, Falcon dan Winter Soldier hadir berusaha menghentikan Flag Smashers. Falcon masih yakin ada kebaikan di dalam Flag Smashers dan ia berusaha agar Flag Smashers dapat melakukan aksinya dengan jalan damai. Falcon termasuk individu yang hilang selama 5 tahun, jadi ia tahu persis rasanya menjadi korban insiden “blip”.

Sementara itu Winter Soldier hadir dengan berbagai trauma masa lalu dan kekesalan yang dalam terhadap Falcon. Pada bagian paling akhir dari Avengers: Endgame (2019), Steve Rogers / Captain America menyerahkan perisai Captain America kepada Falcon. Secara tidak langsung, hal ini dimaksudkan agar Falcon mengenakan perisai tersebut & menjadi Captain America yang baru. Namun apa yang Falcon lakukan? Ia merasa ragu dan menyerahkan perisai tersebut kepada pemerintah. Winter Soldier merasa bahwa Falcon tidak menghargai Steve Rogers. Hal ini semakin kacau ketika pemerintah dengan seenaknya melantik seorang Captain America baru dan menyerahkan perisai Steve Rogers kepadanya :(.

John Walker (Waytt Russell) dipilih sebagai Captain America yang baru. Film seri ini dengan cerdasnya berhasil membuat saya untuk tidak menyukai karakter Walker Si Captain America Kawe 3 ini. Sejak awal, tokoh ini terlihat kurang pantas untuk menjadi Captain America yang baru. Bukan karena Walker itu orang yang jahat yaaa. Namun dari gerak-gerik dan gayanya, Walker adalah seorang tokoh yang dengan sangat mudah untuk dibenci. Walker yang sangat ambisius pun berusaha merayu Falcon & Winter Soldier untuk menjadi bagian dari tim yang Walker bentuk. Walker berambisi untuk menangkap Flag Smasher demi pengakuan dan keluar dari bayang-bayang Steve Rogers yang fenomenal.

Kecewa dengan keputusan pemerintah, Winter Soldier & Falcon tentunya menolak mentah-mentah tawaran Walker. Mereka lebih memilih untuk berkerja sama dengan Baron Helmut Zemo untuk menghentikan Flag Smashers. Zemo memang seorang kriminal, namun ia sangat menentang keberadaan serum manusia super. Selain itu Zemo memiliki berbagai koneksi yang dapat ia gunakan untuk melacak keberadaan Flag Smashers.

Film seri ini ternyata berhasil menampilkan sebuah kisah yang enak dan menarik untuk diikuti. Kerjasama tim antara Winter Soldier dan Falcon dapat ditampilkan dengan sangat baik. Saya suka dengan bagaimana kedua tokoh utama ini berinteraksi. Masing-masing memiliki masalah yang pada akhirnya akan terpecahkan bersama-sama. Namun, porsi Falcon nampaknya relatif lebih besar ketimbang Winter Soldier.

Adegan aksinya pun ternyata jauh dari kata mengecewakan. meskipun hadir dalam wujud film seri, The Falcon and the Winter Soldier ternyata cukup seru dan menampilkan berbagai aksi yang tidak kalah dengan adegan aksi pada film-film layar lebar MCU. Bukan mustahil apabila dikemudian hari keduanya menghadapi lawan-lawan lain selain Flag Smasher.

Integrasi antara The Falcon and the Winter Soldier dengan beberapa film MCU lainnya pun terjahit dengan mulus. Semuanya tampak menyambung tanpa membuat bingung para penonton baru. Inti dari ceritanya sangat mudah dipahami dan tidak terlalu berbelit-belit. Semua ini sebenarnya terkait transformasi Falcon menjadi Captain America, sesuatu yang sudah dapat ditebak sejak awal. Namun kita semua memang tidak tahu sampai kapan Falcon bersedia menggenggam perisai Captain America. Semua dapat tiba-tiba berubah di MCU. Lalu bagaimana dengan Winter Soldier? ia masih harus terus melawan bayang-bayang akan kajahatan yang ia lakukan ketika masih menjadi pembunuh berdarah dingin.

Bagi para pembaca setia buku komik Marvel tentunya sudah dapat menebak akhir dari The Falcon and the Winter Soldier. Namun kelebihan dari film seri ini memang pada jalan ceritanya, bukan dari akhir ceritanya. Dengan demikian saya rasa The Falcon and the Winter Soldier layak untuk memperoleh nilai 4 dari skala maksimum 5 yang artinya “Bagus”.

Sumber: http://www.marvel.com

Zack Snyder’s Justice League (2021)

Selama ini Zack Snyder telah menjadi tokoh kunci dari terbentuknya DCEU (DC Extended Universe). DCEU sendiri secara singkat dapat dikatakan sebagai kumpulan dari film-film superhero DC Comics yang saling berhubungan. Hubungan-hubungan tersebut tentunya ada kalanya akan dijadikan satu pada sebuah titik. Kalau Marvel Comics memiliki The Avengers, maka DC Comics memiliki Justice League sebagai titik pemersatu DCEU. Justice League adalah sebuah perkumpulan yang terdiri dari berbagai superhero kenamaan yang pernah DC Comics buat. Tentunya versi film layar lebar dari Justice League, seharusnya menjadi perhelatan besar bagi Zack Snyder. Semua hal yang telah ia tanamkan atau sisipkan pada film-film DCEU sebelumnya, akan bertemu kembali pada titik ini. Namun, pada proses akhir dalam pembuatan film Justice League, keluarga Snyder harus menghadapi sebuah musibah. Pada Maret 2017, salah satu anak Snyder dikabarkan melakukan bunuh diri. Hal ini sangat memukul Snyder dan ia memutuskan untuk mundur dari proyek DCEU yang telah lama ia rintis.

Pihak studio terus melanjutkan proyek yang Snyder tinggalkan dan lahirlah Justice League (2017). Film yang satu ini gagal memperoleh sambutan yang meriah dari sebagain besar penonton. Bagi saya sendiri film tersebut yah hanya lumayan saja, tidak terlalu spesial. Agar DCEU dapat terus berjalan, film penting seperti Justice League (2017) diharapkan hadir sebagai film yang spektakuler. Justice League (2017) dapat dikatakan sebagai lambang “kematian” dari DCEU.

Beberapa tahun kemudian, terkuak bahwa hengkangnya Snyder di akhir proses produksi Justice League (2017), membuat film tersebut kurang optimal. Film tersebut dikabarkan agak melenceng dai visi Snyder. Banyak sekali detail yang diubah. Para fans menyuarakan agar pihak studio dan produser berkenan untuk merilis Justice League versi Snyder. Setelah melalui proses yang panjang, hadirlah Zack Snyder’s Justice League (2021).

Tidak tanggung-tanggung, durasi Zack Snyder’s Justice League (2021) adalah 4 jam. Ini jauh berbeda dengan film lepas lain yang rata-rata memiliki durasi rata-rata antara 1,5 jam sampai 2 jam. Dengan durasi sepanjang itu, Snyder’s Justice League (2021) tentunya berhasil memberikan detail yang lebih banyak. Saya lihat porsi The Flash (Ezra Miller) dan Cyborg (Ray Fisher) menjadi jaih lebih banyak. Pentingnya peranan kedua superhero tersebut terlihat menanjak drastis pada Snyder’s Justice League (2021). Padahal secara garis besar, cerita pada Zack Snyder’s Justice League (2021) dan Justice League (2017), tidak jauh berbeda.

Snyder membubuhkan berbagai detail kecil yang membuat Zack Snyder’s Justice League (2021) memiliki keterkaitan yang erat dengan film-film DCEU sebelumnya. Otomatis Snyder mengubah-ubah beberapa bagian cerita. Sebenarnya bagian yang diubah terasa tidak terlalu banyak, tapi memiliki makna yang luas. Kemudian, peranan superhero Justice League lain selain Superman, terasa jauh bermakna pada Zack Snyder’s Justice League (2021). Akhir ceritanya saja lebih memiliki klimaks. Nampak jelas bahwa film ini mampu menunjukkan bahwa semua anggota Justice League memang memiliki peranan masing-masing yang sama pentingnya. Mereka bukan hanya “bantalan” Superman saja. Dari segi cerita, Zack Snyder’s Justice League (2021) jauh lebih berkualitas dibandingkan Justice League (2017).

Apa saja sih yang Snyder ubah? Yang pasti rasio gambar film Zack Snyder’s Justice League (2021) menggunakan rasio 4:3 yang saat ini jarang digunakan film lain. Kemudian warna-warna pada film tersebut dibuat lebih gelap dan kelam. Humor-humor kecil pada Justice League (2017) pun dipangkas habis-habisan. Zack Snyder’s Justice League (2021) lebih banyak menunjukan bagaimana para superhero dan supervillain menggunakan kekuatannya. Tak lupa, peramu musik pada Zack Snyder’s Justice League (2021) dibuat berbeda pula.

Cerita boleh sama, tapi Snyder sukses memberikan rasa yang sangat berbeda pada Zack Snyder’s Justice League (2021). Durasi yang panjang, dipecah ke dalam beberapa Chapter kok. Saya sendiri mengambil istirahat sejenak ketika pertama kali menonton film tersebut. Zack Snyder’s Justice League (2021) sudah selayaknya memperoleh nilai 4 dari skala maksimum 5 yang artinya “Bagus”. Dengan kehadiran film ini, denyut nadi DCEU kembali berdetak ;).

Sumber: http://www.snydercut.com

Serial DC Super Hero Girls

Melalui franchise DC Super Hero Girls, DC Comics berusaha mengumpulkan superhero dan supervillain wanita ke dalam 1 format franchise yang sama. Konsepnya mengikuti Monster High dimana semua karakternya belajar bersama di sebuah sekolah. Kali ini bukan sekolah khusus monster, melainkan sekolah biasa. Inilah konsep yang diangkat oleh serial DC Super Hero Girls versi Cartoon Network yang mulai tayang pada 2019.

Konsep sekolah biasa di Metropolis ini rasanya bisa lebih diterima dan terasa lebih natural. Sangat berbeda dengan DC Super Hero Girls versi webseries yang mulai tayang pada 2015. Wah ada berapa versi DC Super Hero Girls sih? Setahu saya ya hanya 2 itu saja sementara ini. Tapi yang versi tahun 2015 itu terlalu serius dan cerita kurang menarik.

Sementara itu yang versi tahun 2019 ini lebih banyak humornya dan kasusnya lebih banyak intriknya. Kemudian karakter utamanya dibuat sedikit berbeda dari biasanya. Pada DC Super Hero Girls versi 2019 ini kita akan bertemu dengan Wonder Woman (Grey Griffin), Batgirl (Tara Strong), Supergirl (Nicole Sullivan), Green Lantern (Myrna Velasco), Zatanna (Kari Wahlgren) dan Bumblebee (Kimberly Brooks). Wonder Woman hadir sebagai pemimpin yang tegas, namun kurang memiliki pengetahuan mengenai kehidupan manusia modern. Batgirl tampil sebagai tokoh yang super cerdas dan sangat bersemangat, namun sering kali bertingkah konyol seperti anak kecil. Supergirl ditampilkan seperti wanita kuat dari perkampungan di Amerika bagian tengah, ia sering berbuat gegabah dan kurang dapat mengendalikan kekuatan supernya. Zatanna adalah pesulap wanita yang elegan dan modis. Green Lantern kali ini adalah Green Lantern versi Jessica Cruz yang kurang suka akan kekerasan dan sangat peduli terhadap lingkungan hidup. Terakhir, Bumblebee merupakan superhero yang rendah diri padahal kemampuannya tetap bermanfaat bagi teman-temannya.

Seperti film tim superhero pada umumnya, DC Super Hero Girls selalu berbicara mengenai kerjasama dan persahabatan dalam menuntaskan berbagai kasus kejahatan. Karena sebagian besar karakternya wanita, maka otomatis serial inipun berbicara mengenai pemberdayaan wanita.

Kemudian, pembawaan karakter yang unik dan lucu membuat serial ini dapat menghibur penonton anak dan dewasa. Saya pribadi tidak merasa bosan ketika menemani anak saya menonton episode-episodenya.

Dari segi pendidikan, serial ini memang tidak terlalu istiimewa. Tapi dari segi hiburan, serial ini cukup istimewa. Saya ikhlas untuk memberikan DC Super Hero Girls nilai 4 dari skala maksimum 5 yang artinya “Bagus”.

Sumber: http://www.dckids.com/super-hero-girls

Serial Teen Titans Go!

Ketika superhero-superhero beken DC Comics berkolaborasi, mereka membentuk Justice League. Bagaimana dengan sidekick mereka? Bagaimana dengan superhero yang masih baru dan lebih muda? Beberapa berkumpul di Teen Titans. Semua anggotanya merupakan sidekick atau superhero muda yang sudah punya nama tapi tidak terlalu terkenal.

Hadir sudah sejak lama sekali melalui buku komik di tahun 1964, kelompok superhero remaja inipun akhirnya memiliki film serinya sendiri. Dari berbagai versi Teen Titans, kali ini saya akan membahas versi yang paling jenaka, Teen Titans Go!.

Serial yang satu ini lebih menitik beratkan unsur komedinya. Semua tokoh utama Teen Titans Go! tetaplah superhero. Hanya saja, peperangan mereka dalam melawan kejahatan, tidaklah terlalu serius. Mereka lebih senang bergurau dan mengadakan berbagai acara yang lucu. Saya suka dengan bagaimana serial ini melawak. Penonton dewasa dan anak tetap dapat tertawa melihat tingkah kelima tokoh utamanya.

Wah ada siapa saja di Teen Titans Go! ya? Ada Robin (Scott Menville), Cyborg (Khary Payton), Raven (Tara Strong), Starfire (Hynden Walch) dan Beast Boy (Greg Cipes). Terus terang, pada awalnya saya hanya kenal Robin dan Cyborg saja hehehe. Lama kelamaan ternyata tokoh lainnya berhasil memikat hati saya dengan berbagai kelucuan mereka.

Saya rasa serial animasi yang satu ini layak untuk memperoleh nilai 4 dari skala maksimum 5 yang artinya “Bagus”. Pantaslah kalau 2018 lalu, Teen Titans Go! sudah memiliki film layar lebar yang selucu versi serialnya :D.

Sumber: http://www.cartoonnetworkasia.com/show/teen-titans-go

Serial WandaVision

Wanda Maximoff (Elizabeth Olsen) & Vision (Paul Bettany) merupakan karakter superhero Marvel Comics yang tidak terlalu dominan dan belum memiliki film solo. Yah paling tidak hal tersebut benar adanya sampai tahun 2021. Pada tahun inilah keduanya memiliki film seri sendiri melalui Serial WandaVision.

Kedua karakter ini pertama kali hadir pada Avengers: Age of Ultron (2015). Wanda adalah mutant dengan kekuatan seperti seorang penyihir. Pada Avengers: Age of Ultron (2015), Wanda kehilangan satu-satunya keluarga yang ia miliki, yaitu Quicksilver atau Pietro Maximoff. Sementara itu Vision lahir dari perpaduan antara komputer jenius ciptaan Tony Stark dan Mind Stone. Kedua tidak terlihat saling mengenal pada film kedua Avengers tersebut.

Kemudian pada Avengers Infinity Wars (2018) & Avengers: Endgame (2019), Wanda dan Vision hadir sebagai sepasang kekasih. Mind Stone yang membuat Vision dapat hidup, merupakan bagian dari Infinity Stone yang diburu Thanos. Maka dapat ditebak, pada akhirnya Wanda harus kehilangan lagi, orang yang ia kasihi. Hanya saja, saya sebagai penonton tidak terlalu sedih. Kenapa? Kisah cinta Wanda dan Vision terlihat mendadak dan .. yah mereka berdua memang kalah pamor dibandingkan superhero lain yang sudah punya nama besar. Saya sendiri pada awalnya tidak terlalu antusias dengan WandaVision. Saya jauh lebih antusias ketika menonton film layar lebarnya Avengers :).

Well, Avengers: Age of Ultron (2015), Avengers Infinity Wars (2018) & Avengers: Endgame (2019) memang dapat dijadikan sebagai pengantar sebelum menonton WandaVision. Penonton akan merasa lebih nyaman apabila sudah menontonnya terlebih dahulu. Tapi saya rasa itu tidak wajib kok. Film seri WandaVision memang mengambil cuplikan dari film-film Marvel lainnya untuk menjelaskan beberapa hal. Semuanya dilakukan dengan sangat jelas. Jadi tidak perlu khawatir akan kebingungan ketika menonton serial ini.

Kalaupun bingung, pastilah bukan bingung mencari keterkaitan dengan film Marvel lainnya. Serial WandaVision memang disajikan dengan agak unik. Film seri ini disajikan dengan berbagai format yang berbeda. Beberapa diantaranya, WandaVision seolah-olah seperti film komedi situasi lawas. Semua lengkap dengan efek tertawa penonton, setting latar belakang 1 arah dan lain-lain. Setiap episode dari WandaVision, tetdapat sesuatu yang berbeda. Baik dari format dan visual, maupun dari segi cerita. Sesuatu yang jenius dari Marvel Studio.

Entah bagaimana, Wanda dan Vision hidup damai di Kota Westview. Merekan bahkan akhirnya memiliki 2 anak laki-laki. Tak lupa Pietro tiba-tiba kembali hidup dengan wajah yang berbeda. Semua dibungkus dengan gaya komedi situasi Amerika tempo dulu seperti I Love Lucy, Leave It to Beaver, The Honeymooners, The Dick Van Dyke Show, Growing Pains, The Cosby Show dan lain-lain.

Kemudian, perlahan, terkuak keanehan dan misteri pada kehidupan Wanda dan Vision tersebut. Semuanya terus memuncak sampai hadir tokoh-tokoh Marvel lainnya yang menunjukkan bahwa serial ini tetap berada di dalam MCU (Marvel Cinematic Universe). Pada akhirnya semua tetap dapat berhubungan dengan film-film Marvel lainnya. Hal ini berhasil membuat saya terpaku untuk terus menonton episode demi episode tanpa merasa kebosanan. Apalagi terdapat adegan aksi yang tak kalah dengan film layar lebar karakter superhero lainnya. Semuanya tertata rapi dengan kualitas yang tidak murahan.

Teknik penceritaan yang unik ditambah dengan cerita dan adegan aksi yang keren, tentunya membuat WandaVision semakin layak untuk ditonton. Serial ini layal untuk memperoleh nilai 4 dari skala maksimum 5 yang artinya “Bagus”. Sampai saat saya menulis tulisanya ini, WandaVision berhasil menjadi serial terbaik yang saya tonton di awal tahun 2021 ini.

Sumber: http://www.marvel.com

The New Mutant (2020)

Berbicara mengenai The New Mutant (2020), maka kita berbicara mengenai karakter komik Marvel yang sudah ada sejak 1982. Wow, sudah ada dari dulu toh? Tokoh The New Mutant memang pertama hadir pada buku komik terbitan Marvel sebagai spin-off dari X-Men. Otomatis The New Mutant tentunya hidup di dunia yang sama dengan X-Men.

Hanya saja, kisah-kisah The New Mutant sering kali terkait dengan unsur horor. Sebuah pendekatan yang berbeda bila kita dibandingkan dengan X-Men. Tidak mengherankan kalau The New Mutant (2020) memiliki nuansa horor yang cukup kental. Sebuah film superhero dengan nuansa horor, seperti apa ya jadinya?

Dikisahkan, terdapat 5 remaja yang dirawat di sebuah rumah sakit. Tempat tersebut bukanlah rumah sakit biasa karena mereka selalu diawasi dengan sangat ketat dan tidak dapat pergi keluar sesuka hati.

Semua terkait dengan kekuatan super yang kelima remaja tersebut miliki. Mereka dianggap masih kurang matang  dalam mengendalikan kekuatannya. Kekuatan super yang tidak terkendali dapat mendatangkan bencana bagi umat manusia.

Ok, isu ketidakpercayaan kepada mutant terlihat ada di sana. Sah sudah, The New Mutant (2020) memang berada di dunia yang sama dengan X-Men. Namun jauh berbeda dengan X-Men, jalan cerita The New Mutant (2020) lebih fokus kepada teror yang menimpa kelima tokoh utama.

Mereka memperoleh bayangan dan ilusi terkait masa lalu mereka masing-masing. Sebenarnya ini merupakan sebuah perkenalan yang bagus supaya penonton mengetahui latar belakang masing-masing tokoh. Pada awalnya saya dibuat penasaran mengenai apa yang sebenarnya terjadi. Sayang, lama kelamaan saya dibuat tertidur melihat misteri yang mudah ditebak dan horor yang terkesan “nanggung”. Belum lagi bagian akhirnya yang sangat antiklimaks. Selain itu, tokoh yang digadang-gadang sebagai protagonis utama justru tampil “melempem”.

Beruntung The New Mutant (2020) menghadirkan tokoh Illyana Rasputin (Anya Taylor-Joy) sebagai salah satu dari kelima remaja tersebut. Hanya tokoh inilah yang tempil menonjol dan berhasil menunjukkan kepada saya bahwa The New Mutant (2020) merupakan film superhero. Pertarungan yang Illyana tampilkan nampak memukau dan sangat menghibur.

Saya rasa The New Mutant (2020) masih layak untuk memperoleh nilai 3 dari skala maksimum 5 yang artinya “Lumayan”. Informasi tambahan, film ini hadir di tengah-tengah akuisisi 20th Century Fox oleh Disney. Jadwal perilisan yang seharusnya di tahun 2018, menjadi mudur jauh ke tahun 2020. Disney pun sepertinya tak habis-habisnya berusaha menampilkan keberagaman dan ini sangat terlihat pada The New Mutant (2020). Film ini merupakan film layar lebar adaptasi komik Marvel pertama, yang menampilkan pasangan lesbian sebagai tokoh utamanya. Porsinya memang tidak banyak, tapi terlihat jelas. Just info saja bagi teman-teman yang kurang berkenan dengan isu LGBT.

Sumber: http://www.20thcenturystudios.com/movies/the-new-mutants

Old Guard (2020)

Nama Old Guard sudah beberapa kali dipergunakan di dalam dunia militer. Nama inipun sudah beberapa kali dipergunakan sebagai judul film. Namun Old Guard yang kali ini hendak saya bahas merupakan Old Guard (2020) produksi Netflix yang dibuat berdasarkan serial buku komik dengan judul yang sama. Kalau di komiknya sih, Old Guard jelas bukan bacaan yang pantas bagi anak-anak. Selain gambarnya yang sadis, ceritanya pun mengandung konten yang sedikit tabu dan dewasa. Bagaimana dengan versi filmnya?

Tingkat kesadisan Old Guard (2020) jauh di bawah versi komiknya. Film ini lebih memilih untuk menampilkan aksi dan hiburan segar. Jalan ceritanya tidak menbingungkan dan sangat mudah difahami, tapi yaaaaa agak klise yahh. Jalan ceritanya berkisar pada sekelompok prajurit abadi yang dipimpin oleh Andy (Charlize Theron). Mereka sudah hidup ratusan tahun, beberapa diantaranya pernah ikut serta dalam perang salid, perang Napoleon dan lain-lain.

Tapi Old Guard (2020) tidak melihat semuanya dari kacamata Andy dan tentara abadi lain yang sudah berpengalaman. Film ini melihat semua peristiwa yang terjadi dari kacamata Nile Freeman (Kiki Layne), seorang marinir yang baru saja memperoleh keabadian. Tiba-tiba, tubuh Niki dapat sembuh dari berbagai luka yang mematikan. Seketika itu pulalah, keabadian menjadi sebuah misteri yang menarik dari Old Guard (2020). Sayang Old Guard (2020) tidak mengungkap semua misteri yang ada. Mungkin karena hendak membuat sekuelnya?

Yang pasti keabadian tidaklah membuat mereka 100% bahagia. Mirip seperti manusia lain, ada bagian-bagian yang tidak menyenangkan dari kehidupan. Itupun mereka alami, selama ratusan tahun. Permasalahan ini nampaknya hendak digali dan dijadikan sub plot, mendampingi plot utama yang sangat standard dan mudah ditebak.

Uniknya, yang saya paling suka dari Old Guard (2020), adalah bagaimana tokoh antagonis utama film ini tewas. Aaahhh rasanya puas sekali. Tokoh antagonis pada Old Guard (2020) memang terbilang lemah dan seperti tidak bisa apa-apa. Kelebihan yang ia miliki hanyalah kemampuan super untuk bertingkah sangat menyebalkan :’D.

Aksi dan jalan cerita yang standard, sedikit terobati dengan kekalahan tokoh antagonis yang menyebalkan. Dengan demikian, saya pribadi lkhlas memberikan Old Guard (2020) nilai 3 dari skala maksimum 5 yang artinya “Lumayan”

Sumber: http://www.netflix.com/id-en/title/81038963

Serial The Boys

Apa jadinya kalau Superman tidak dterjadiibesarkan di dalam sebuah laboratorium yang dingin dan minim kasih sayang? Apa jadinya kalau Wonder Woman adalah seorang lesbian? Apa jadinya kalau The Flash adalah seorang pecandu? Yaaah, hal-hal unik dan berbeda itulah yang muncul pada Serial The Boys. Di tengah-tengah semakin populernya film seri keluaran Netflix, ternyata Amazon mampu memproduksi film seri seunik The Boys :).

Serial The Boys sebenarnya dibuat berdasarkan buku-buku komik dengan judul yang sama. Sebenarnya komik The Boys sempat menjadi bagian dari DC Comics, sebelum akhirnya transmisgrasi ke Dynamite Entertainment pada 2007. Cerita The Boys memang berkisar pada kisah superhero yang kemampuan supernya memang sangat mirip dengan beberapa karakter superhero keluaran DC Comics. Ada yang memilki kekuatan sama persis dengan Superman, Wonder Woman, The Flash, Aquaman, Stargirl dan lain-lain.

Namun berbeda dengan superhero mainstream ala DC Comics atau Marvel Comics, The Boys justru membahas jalan kelam yang diambil oleh individu-individu berkekuatan super. Biasanya, film-film seperti ini mengisahkan bahwa seseorang yang memiliki kekuatan super, menggunakan kekuatannya untuk memberantas kejahatan. Karakter idealis seperti ini ada juga di The Boys, tapi ia hanyalah salah satu dari beberapa karakter super yang ditampilkan. Sisanya justru memiliki berbagai perangai buruk yang sangat tidak patut tuk dicontoh.

Mayoritas superhero pada The Boys justru ditampilkan dengan lebih logis, mereka nampak sangat manusiawi. Ketika seseorang memiliki kekuatan super dan nampak lebih superior dibandingkan manusia pada umumnya, tentunya berbagai kemungkinan akan muncul. Tidak semuanya memiliki moral yang sangat sempurna dan memiliki hati nurani yang super bersih. Terkadang mereka justru melakukan hal yang tidak patut tanpa sepengetahuan publik.

Pada awal cerita, dunia dikisahkan bahwa terdapat sekumpulan superhero The Seven yang sangat terkenal. Publik mengenal The Seven sebagai superhero yang sangat baik dan bersedia melakukan apapun demi bumi dan umat manusia. Padahal dibalik itu, semuanya hanyalah pencitraan. The Seven bukanlah orang suci, beberapa diantaranya justru busuk dan melakukan berbagai tindakan yang keji dan bejat.

Apa yang busuk tentunya meninggalkan bau. Hal itulah yang terjadi pada The Seven. Pada akhirnya, terdapat orang-orang yang mencium kebusukan The Seven. Orang-orang inilah yang pada akhirnya membentuk The Boys. Perkumpulan The Boys berusaha menjatuhkan The Seven dengan berbagai usaha. Mayoritas The Boys tidak memiliki kekuatan super. Mereka hanya berusaha menggunakan apa yang mereka miliki dengan segala keterbatasan yang ada. The Boys memang melakukan aksinya di luar batas koridor hukum. Tapi sebagain besar dari anggota The Boys bukanlah orang jahat atau tokoh kriminal. Selain itu, mayoritas anggota The Boys pun masih memiliki sifat heroik dan moral yang baik.

Saya suka dengan berbagai keunikan yang The Boys tampilkan. Film seri besutan Amazon ini berhasil mengangkat sisi lain dari superhero dengan caranya sendiri. FIlm ini bukan film superhero atau anti-hero biasa. The Boys berhasil memberikan gambaran, apa yang mungkin terjadi ketika manusia berkekuatan super benar-benar ada di dunia. Semua itu dibungkus tidak hanya dari sisi si manusia super, melainkan dari sisi karakter-karakter manusia biasa.

Saya rasa film seri yang satu ini layak untuk memperoleh nilai 4 dari skala maksimum 5 yang artinya “Bagus”. Film ini cocok untuk dijadikan tontonan bagi teman-teman yang menginginkan sebuah hiburan yang menantang tanpa harus berfikir keras. Alur cerita film seri ini mudah difahami dan tidak terlalu kompleks :).

Sumber: http://www.amazon.com/dp/B07QQQ52B3

Birds of Prey (2020)

Ibarat meraup serpihan DCEU (DC Extended Universe) yang kegagalannya terlihat di depan mata, DC Comics kembali mengumpulkan sekelompok karakter yang tidak terlalu terkenal ke dalam sebuah film layar lebar Birds of Prey (2020). Salah satu tokoh utama film tersebut adalah Harley Quinn (Margot Robbie) yang sebelumnya sudah diperkenalkan pada Suicide Squad (2016), salah satu film DC Comics yang dengan tegas menyatakan bahwa mereka berada di dalam DCEU. Sangat berbeda dengan, Suicide Squad (2016), Birds of Prey (2020) sama sekali tidak mengkaitkan waktu dan kejadian dengan film-film lain yang termasuk ke dalam DCEU. Benang merahnya hanya tokoh Harley Quinn saja.

Sesuai judulnya, Harley Quinn tidak sendirian. Ia harus bekerja sama dengan Dinah Lance / Black Canary (Jurnee Smollett-Bell), Helene Bertinelli / The Huntress (Mary Elizabeth Winstead), Renee Montoya (Rosie Perez) dan Cassandra Cain (Ella Jay Basco). Kelima wanita inilah yang … sepenglihatan saya hanya menjelang akhir film saja bekerjasama dan menyebut diri mereka sebagai Birds of Prey :’D. Sejak awal, Birds of Prey (2020) seolah seperi film solonya Harley Quinn. Harley sangat dominan di sini.

Mungkin semua ini akan berubah bila tokoh DC Comics yang lebih populer, ditampilkan pada Birds of Prey (2020). Kalau di versi buku komiknya, anggota tetap dan awal dari kelompok wanita pemberantas kejaahatan ini adalah Black Canary, The Huntress, Lady Blackhawk dan … Batgirl. Kemana Batgirl? Terdapat lebih dari satu tokoh wanita yang menggunakan kostum Batgirl dan salah satunya adalah Cassandra Cain. Tapi kali ini, Cain hanya tampil sebagai … Cassandra Cain, anak kecil yang berprofesi sebagai pencopet. Tidak ada Batgirl muncul di sana. Poison Ivy dan Cat Women yang kalau di komik sempat bergabung dengan Birds of Prey saja tidak ada di sana. Yang ada hanya Harley Quinn beserta kegilaannya.

Birds of Prey (2020) nampak seperti mengandalkan sekali aksi campur komedi yang Quinn hadirkan. Adegan aksinya sih memang terlihat rapi dan bagus. Tapi lelucon Quinn hanya dapat membuat saya tersenyum saja, tidak tertawa. Sementara tokoh lain seakan hanya menumpang setor muka lalu melakukan adegan aksi dengan serius.

DC Comics adalah penerbit buku komik dan film superhero dan filmnya kali ini praktis hanya menggunakan 1 tokoh saja yang benar-benar memiliki kekuatan super yaitu Black Canary. Sisanya yaaa hanya ahli berkelahi atau menggunakan senjata saja. Tak terkecuali tokoh antagonisnya yaitu Black Mask / Roman Sionis (Ewan McGregor). Saya sendiri bingung untuk apa Mas Sionis menggunakan Black Mask, supaya dibilinag trendi gitu? 😛 Toh identitas dia sebagai Black Mask sudah diumbar-umbar sejak awal film. Topeng tersebut pun tidak memberikan kekuatan apapun.

Terlepas dari beberapa hal di atas, kemasan dan penceritaan dari Birds of Prey (2020) terbilang cukup baik, rapi dan menghibur. Visualnya pun nampak bagus dan keren. Semuan nampak nyaman di mata saya. Quinn yang menjadi fokus utama film ini pun nampak berhasil menarasikan berbagai peristiwa yang ada sehingga penonton dapat mengikuti cerita dengan baik.

Dengan begitu, Birds of Prey (2020) masih dapat memperoleh nilai 3 dari skala maksimum 5 yang artinya “Lumayan”. Saya tak tahu DC Comics akan memasukkan Quinn ke dalam kelompok super apalagi. Suicide Squad sudah, Birds of Prey sudah, next …?

Sumber: http://www.birdsofpreymovie.com