Spider-Man: Far From Home (2019)

Pada Spider-Man: Far From Home (2019), setelah seorang superhero besar “pensiun”, Peter Parker / Spider-Man (Tom Holland) seakan menanggung beban berat untuk melajutkan apa yang sudah superhero besar tersebut lakukan kepada dunia. Spider-Man yang pada awalnya hanya superhero remaja lokal, sekarang diharapkan agar dapat ikut serta dalam menghadapi kejahatan yang datang mengancam dunia, bukan hanya lingkungan tempat Spider-Man tinggal.

Tak heran kalau Nick Fury (Samuel L. Jackson) meminta bantuan Spider-Man ketika mahluk-mahluk dari dimensi lain, datang menyerang Bumi. Mahluk-mahluk yang disebut Elemental ini konon sudah memusanahkan Bumi di dimensi lain yang menjadi rumah Quentin Beck / Mysterio (Jake Gyllenhaal). Beck datang dari dimensi lain untuk mencegah Elemental agar tidak ada Bumi lain yang musnah. Spider-Man memang hidup di dunia MCU (Marvel Cinematic Universe) yang mana menganut faham bahwa terdapat banyak dimensi. Jadi, terdapat Bumi lain di dimensi lain, terdapat pula Peter Parker lain di dimensi lain, dan seterusnya.

Melihat kemampuan super yang Beck miliki, Peter semakin yakin bahwa ia tidak pantas menjadi seorang pelindung Bumi, Beck-lah orang yang lebih pantas. Lagi pula, sejak awal Peter pun sebenarnya memilih lari dari panggilan Nick Fury. Peter memilih untuk berlibur jauh dari rumah dibandingkan mengangkat telefon dari Fury. Fury dan S.H.I.E.L.D. harus bekerja keras agar Peter terpaksa ikut serta bergabung melawan Elemental bersama Beck. Sebenarnya disinilah terjadi kelucuan karena Peter yang sedang berlibur ke Eropa dan berusaha memenangkan hati Michelle “MJ” Jones (Zendaya Maree Stoermer Coleman) tapi Fury dan kawan-kawan selalu muncuk untuk “menculik” Peter :’D.

Banyak terdapat humor di mana-mana sehingga adegan aksi yang ditampilkan nampak lebih menghibur. Antagonis pada film inipun sebenarnya tidak terlalu superior, tapi penampakkannya sungguh tak terduga dan sangat menghibur. Untuk menampilkan sebuah hiburan yang baik, ternyata sebuah film superhero tidak harus dengan menampilkan karakter antagonis yang super kuat dan terkenal ;).

Kisah cinta remaja pada Spider-Man: Far From Home (2019) ini pun rasanya lebih menyenangkan dibandingkan cinta-cintaan Spider-Man lainnya. Michelle “MJ” Jones terlihat lebih mandiri dan kuat dibandingkan love interest Spider-Man versi lainnya.

Saya kagum dengan film Spider-Man yang satu ini. Pendekatan yang diambil pada Spider-Man: Far From Home (2019), sungguh berbeda dengan versi komik Spider-Man klasik yang pernah saya baca. Spider-Man di sini tidak terlalu sibuk menghadapi para haters seperti film Trilogi Spider-Man versi Sam Raimi. Kejadiran superhero besar lain yang membuat Spider-Man sebagai penerus pun membuay warna baru bagi Spider-Man remaja versi Tom Holland ini. Spider-Man: Far From Home (2019) tentunya layak untuk memperoleh nilai 4 dari skala maksimum 5 yang artinya “Bagus”. Sampai saat ini, film ini berhasil menjadi film layar lebar Spider-Man terbaik yang pernah saya tonton.

Sumber: http://www.spidermanfarfromhome.movie

Iklan

The Darkest Minds (2018)

Melihat trailer The Darkest Minds (2018), saya kira film ini akan bercerita mengenai mutant, yaaaah paling sejenis X-Men laaah. Ahhh ternyata saya salah besar. The Darkest Minds (2018) ternyata mirip dengan film-film bertemakan remaja berbakat di masa depan yang suram seperti Divergent (2014), The Maze Runner (2014) dan kawan-kawan. Wow, bukankah era film-film seperti ini sudah lewat?

Pada Darkest Minds (2018), dikisahkan bahwa 90% anak di dunia, tewas oleh sebuah penyakit misterius. Sisanya yang selamat, tiba-tiba memiliki kemampuan khusus. Pihak pemerintah yang ketakutan, memasukkan anak-anak yang selamat ke dalam kamp-kamp. Di sana, mereka dibagi ke dalam beberapa golongan sesuai dengan kemampuannya.

Golongan hijau memiliki kejeniusan di atas rata-rata. Golongan biru memiliki kemampuan telekinesis, memanipulasi objek dari jarak jauh.Golongan kuning memiliki kemampuan memanipulasi listrik. Golongan merah memiliki kemampuan memanipulasi api. Golongan oranye memiliki kemampuan memanipulasi pikiran orang lain. Nah, pemerintah memutuskan untuk membunuh semua golongan merah dan oranye karena dianggap terlalu berbahaya.

Ruby Daly (Amandla Stenberg) merupakan golongam oranye yang melarikan diri dari pihak-pihak yang ingin membunuhnya atau memanfaatkan kekuatannya. Dalam pelariannya, Ruby bergabung dengan beberapa anak lain dari golongan yang berbeda. Di sana ada Liam Steward (Harris Dickinson) si golongan biru, Zu (Miya Cech) si golongan kuning dan Chubs (Skylan Brooks) si golongan hijau. Keempat anak dengan kemampuan beragam tersebut, bahu-membahu menghadapi berbagai rintangan.

Saya menikmati setengah awal dari Darkest Minds (2018). Terdapat berbagai masalah dan konflik yang dibangun dengan cara yang menarik. Sayang, pada pertengahan film, semuanya mulai hambar dan membosankan. Terdapat sub-plot tak bermakna di sana. Terdapat pula romansa ABG yang garing di sana. Darkest Minds (2018) pun tak ubahnya seperti duplikat dari Divergent (2014), The Maze Runner (2014) dan kawan-kawan. Hal ini agak mengecewakan, karena Darkest Minds (2018) seharusnya dapat memberikan sesuatu yang lebih segar. Tapi sepertinya saya tidak bisa berharap banyak juga karena belakangan saya baru mengetahui bahwa Darkest Minds (2018) ternyata dibuat berdasarkan sebuah novel remaja dengan judul yang sama. Nampaknya Darkest Minds (2018) melakukan kesalahan tahun rilis, seharusnya film seperti ini dirilis sekitar tahun 2014, dimana film-film dengan tema sejenis sedang meraih popularitas.

Dengan demikian, Darkest Minds (2018) layak untuk memperoleh nilai 3 dari skala maksimum 5 yang artinya “Lumayan”. Jangan kaget kalau akhir dari film ini tidak 100% tuntas karena film-film seperti ini memang diplot untuk memiliki 3 atau 5 film, bukan 1 film.

Sumber: http://www.foxmovies.com/movies/the-darkest-minds

Glass (2019)

M. Night Shyamalan bukanlah sutradara favorit saya. Saya bahkan kurang suka dengan beberapa karyanya. Secara mengejutkan, Shyamalan menghasilkan Split (2017) yang memiliki banyak sekali kejutan di dalamnya, kejutan yang tidak saya duga sebelumnya. Saya pun tentunya tertarik untuk menonton kelanjutan dari Split (2017), yaitu Glass (2019). Apakah Glass (2019) akan lebih baik dari Split (2017)?

Pada bagian akhir Split (2017), dapat diketahui bahwa terdapat 2 orang yang memiliki kekuatan super di atas menusia biasa yaitu Kevin Wendell Crumb / The Horde (James McAvoy) dan David Dunn / The Observer (Bruce Willis). Nah pada Glass (2019), keduanya tertangkap dan dijebloskan ke dalam sebuah rumah sakit jiwa. Ok, kita sudah memiliki The Horde dan The Observer, lalu dimana Glass? Mr.Glass adalah julukan dari Elijah Price (Samuel L. Jackson). Ia pun dirawat di rumah sakit yang sama dengan Kevin dan David.

Berbeda dengan kedua rekannya, secara fisik, Elijah sangat rapuh seperti gelas. Tulang tubuhnya mudah sekali retak dan patah sebagai akibat dari penyakit osteogenesis imperfecta tipe 1 yang ia derita sejak kecil. Kelemahan fisiknya, ternyata diikuti oleh kecemerlangan otaknya. Sayang Elijah menggunakan kejeniusannya untuk melakukan pembunuhan masal. Uniknya, alasan Elijah membunuh adalah untuk mencari dan menciptakan orang-orang berkemampuan seperti superhero di buku komik. Itulah mengapa, Elijah, diterapi bersama-sama dengan David dan Kevin. Ketiganya sama-sama percaya akan keberadaan superhero di dunia nyata.

Di rumah sakit tersebut, semua bukti mengenai kekuatan super David dan Kevin, diperdebatkan oleh Dr. Ellie Staple (Sarah Paulson). Dr. Ellie mencoba meyakinkan bahwa semua itu hanya khayalan saja. Elijah sendiri hanya diam dan jarang merespons apa yang Dr. Ellie katakan. Tapi Glass (2019) memang berbicara mengenai Elijah atau Mr. Glass. Walau nampak lemah dan tak berdaya, Elijah ternyata menyimpan sebuah rencana yang …. pada akhirnya tidak terlalu menarik :P.

Bagian awal dan tengah yang menjanjikan dan sukses membuat saya penasaran, diakhiri dengan sesuatu yang mengecewakan. Memang sih, saya gagal menebak mau dibawa ke mana arah film ini, tapi kejutan yang dihadirkan nampak kurang ok. Padahal jalan ceritanya terbilang menarik loh.

Apalagi akting James McAvoy dan Samuel L. Jackson sebenarnya terbilang bagus pada Glass (2019). Karena akting prima keduanya, akting Bruce Willis sendiri jadi nampak kurang menonjol :’D. Sesuai judulnya, film ini memang panggung bagi Elijah atau Mr. Glass, jadi pusat perhatian bukan pada Bruce Willis atau David Dunn. Samual L. Jackson berhasil memerankan seorang jenius dan ahli taktik. Film ini memang benar-benar filmnya Mr. Glass. Sayang yah sekali lagi, twist di akhirnya yaaaah kurang ok :P.

Secara keseluruhan, kualitas Glass (2019) agak dibawah ekspektasi saya, namun film ini tetap layak untuk memperoleh nilai 3 dari skala maksimum 5 yang artinya “Lumayan”. Saya ragu akan ada film keempat setelah Glass (2019).

Sumber: http://www.universalpictures.com/movies/glass

Dark Phoenix (2019)

Phoenix bukanlah kata yang asing bagi penggemar X-Men diluar sana. Ia merupakan salah satu mahluk terkuat di jagat dunia per-superhero-an ala Marvel Comics. Kekuatan Phoenix sangat dahsyat sampai-sampai ia sering kali membunuh siapa saja yang ada di sekitarnya tanpa pandang bulu.

Baik di buku komik Marvel maupun film-film terdahulunya, kehadiran Phoenix menandakan bahwa akan ada tokoh dari franchise X-Men yang gugur. Hal ini pernah terbukti pada X-Men: The Last Stand (2006). Mayoritas karakter utama X-Men tewas akibat ulah Phoenix. Sayang eksekusi dari sang sutradara pada saat itu terbilang buruk sehingga X-Men: The Last Stand (2006) dapat dikatakan sebagai salah satu film terburuk yang pernah saya tonton. Saya tidak ada masalah dengan gugurnya beberapa superhero dalam sebuah film. Yang menjadi masalah adalah bagaimana mereka tewas dam kisah dibalik itu. Beberapa superhero beken dikisahkan gugur pada Avengers Infinity War (2018) dan Avengers: Endgame (2019), tapi hal tersebut tetap membuat keseluruhan film tetap bagus dan menarik. Franchise Avengers dan MCU justru semakin bersinar setelah kedua film tersebut hadir. Bagaimana dengan X-Men? Franchise X-Men sempat mati suri setelah X-Men: The Last Stand (2006), sampai akhirnya muncul X-Men: Days of Future Past (2014) yang mereboot franchise X-Men sekaligus membatalkan semua kisah yang pernah ada pada telah X-Men: The Last Stand (2006), horeeee :D. Masalahnya, apakah kesalahan yang sama akan berulang kembali?

Phoenix adalah salah satu tokoh terkuat di semesta X-Men. Pada dasarnya ia merupakan transformasi dari Jean Grey (Sophie Turner) yang selama ini memendam sebuah kekuatan yang sangat besar. Karena besarnya kekuatan tersebut, Jean beberapa kali gagal mengendalikan kekuatannya, terutama ketika ia mengetahui beberapa fakta akan masa lalunya yang Proffesor X atau Charles Xavier (James McAvoy) sembunyikan. Terlebih lagi ada pihak lain yang berusaha memanfaatkan kegalauan Jean untuk kepentingan pribadi.

Proffesor X, Mystique / Raven Darkholme (Jennifer Lawrence), Quicksilver / Peter Macimoff (Evan Peters), Beast /Hank McCoy (Nicholas Hoult), Storm / Ororo Munroe (Alexandra Shipp), Cyclops / Scott Summers (Tye Sheridan), Nightcrawler / Kurt Wagner (Kodi Smit-McPhee) dan Magneto /Erik Lehnsherr (Michael Fassbender), harus berjuang agar Jean dapat kembali normal, minimal tidak merusak perdamaian antara mutant dan manusia. Tokoh-tokoh terkenal di atas saja kesulitan bukan main ketika harus berhadapan dengan Jean yang sudah berubah menjadi Phoenix. Bahkan ada anggota X-Men yang gugur pada film ini.

Sayang oh sayang, gugurnya anggota X-Men ini tidak menyisakan emosi atau kesedihan bagi saya. Saya hanya dapat berkata, “Ohhh mati tho, ya udah …”. Tidak ada chemistry pada Dark Phoenix (2019), semua terasa datar. Walaupun saya akui ada beberapa adegan aksi yang keren pada film ini, yaitu pada adegan dimana semua anggota X-Men menggunakan kekuatannya untuk saling melengkapi dan memenangkan sebuah pertarungan. Sayang kok ya hal tersebut semakin menghilang ketika film mendekati bagian akhir. X-Men nampak tercerai berai dan lebih fokus untuk berlari mengejar Phoenix. Padahal, kalaupun sudah bertemu dengan Phoenix, mereka bisa apa? :P. Praktis hanya Proffesor X saja yang memiliki peran besar di sini. Sebagai pengganti sosok ayah bagi Jean, Proffesor X tentunya lebih memiliki peluang untuk menasehati Jean. Wah, bagaimana dengan kekasih Jean, yaitu Cyclops? Bahhh, Cyclops nampak lemah dan tidak berguna hehehehe :P.

Film ini sebenarnya memiliki peluang untul menjadi lebih baik lagi. Materi kisah Phoenix sebenarnya sangat menarik, tapi kok ya eksekusinya seperti ini. Menontom Dark Phoenix (2019) tidal terasa seperti menonton film superhero X-Men karena … mana seragamnya??? Setiap tokoh superhero pasti memiliki seragam atau kostum yang spesifik, nah inilah yang kurang sekali saya lihat pada Dark Phoenix (2019). Mereka lebih sering bertarung menggunakan celana jeans dan t-shirt ketimbang kostum superhero mereka. Selain itu, nama panggilan yang dipergunakan pada film ini, lebih banyak menggunakan nama panggilan manusianya, bukan julukan nama mutant-nya. Proffesor X selalu disebut Charles Xavier, Mystique selalu disebut Raven, Beast selalu disebut Hank, dan lain sebagainya. Aroma superhero kurang terasa kental pada Dark Phoenix (2019).

Yaaaah, mau bagaimanapun juga, saya akui bahwa Dark Phoenix (2019) tetap lebih bermutu ketimbang X-Men: The Last Stand (2006) heheheheh. Dengan demikian, Dark Phoenix (2019) masih layak untuk memperoleh nilai 3 dari skala maksimum 5 yang artinya “Lumayan”. Saya rasa franchise X-Men tidak akan tewas atau mati suri akibat Dark Phoenix (2019) ;).

Sumber: http://www.foxmovies.com/movies/dark-phoenix

Hellboy (2019)

Banyak yang bertanya-tanya apakah Hellboy masuk ke dalam deretan superhero DC Comics atau Marvel Comics? Yah, jawabannya bukan keduanya :P. Dark Horse Comics adalah penerbit dari buku-buku komik Hellboy. Dari buku, superhero yang saty ini sudah 2 kali hadir di layar lebar melalui Hellboy (2004) dan Hellboy II: The Golden Army (2008) yang disutradarai oleh Guillermo del Toro. Walaupun saya tidak terlalu suka dengan kedua film Hellboy tersebut, keduanya mendapatkan sambutan hangat dari para kritikus. Hal ini membawa angin segar bagi film ketiga Hellboy.

Tak terasa 10 tahun berlalu sejak Hellboy II: The Golden Army (2008) dirilis. Film ketiga Hellboy yang sedang digarap, mengalami pergantian sutradara dan pemeran utama. Alih-alih menjadi sebuah trilogi, Hellboy justru mengalami reboot. Hellboy (2019) akan menjadi awal baru bagi franchise superhero yang satu ini.

Berbeda dengan Hellboy (2004), asalmula hadirnya Hellboy (David Harbour) tidak dikisahkan pada bagian awal film. Sejak bagian awal film, Hellboy dikisahkan sudah bekerja pada B.P.R.D. (Bureau for Paranormal Research and Defense) bersama dengan ayah angkatnya, Tevor Bruttenholm (Ian McShane). Sebagai bagian dari B.P.R.D. , Hellboy memburu berbagai hal-hal supranatural yang dapat merusak perdamaian di Bumi. Semua ia lakukan dengan menggunakan kekuatan fisiknya plus pistol di tangan kiri dan tangan tangannya yang sangat keras.

Dari berbagai perkelahian dan konflik yang Hellboy lalui, ia mendapatkan banyak musuh terutama dari kaum monster dan supranatural. Kali ini ia harus berhadapan dengan seorang musuh lama yang berusaha membangkitkan Vivian Nimue Sang Ratu Darah (Milla Jovovich). Siapakah Nimue itu? Ia merupakan seorang penyihir yang konon tidak dapat dibunuh sehingga akhirnya penyihir tersebut dimutilasi dan bagian-bagian tubuhnya disembunyikan di berbagai penjuru dunia. Kehadiran Nimue dahulu dimusuhi oleh manusia karena manusia tidak ingin para monster dapat hidup bebas di permukaan Bumi. Masalahnya, bukankan Hellboy sendiri berasal dari golongan yang manusia anggap sebagai monster? Manusia mana yang tidak takut melihat wujud Hellboy.

Konflik yang Hellboy hadapi kali ini merupakan konflik klasik ala Hellboy. Bagi yang sudah membaca buku komik Hellboy, tentunya sudah mengetahui bahwa Hellboy merupakan campuran antara keturunan raja manusia dan iblis yang lepas dari neraka. Tanduk patah dan tangan keras yang Hellboy miliki bukanlah hal yang sepele. Keduanya merupakan bagian dari sebuah kekuatan dahsyat yang terpendam di dalam diri Hellboy. Banyak yang meramalkan bahwa Hellboy ditakdikan untuk membawa neraka ke Bumi dengan tanduk yang sudah pulih dan tangan kerasnya memegang leher naga yang ia tunggangi. Apakah Hellboy akan tetap menjaga Bumi atau mengikuti ramalan orang lain?

Sebuah pertanyaan yang sedikit banyak sudah dapat ditebak jawabannya :’D. Saya tidak melihat banyak kejutan atau twist pada Hellboy (2019). Jalan ceritanya banyak dibubuhi oleh masa lalu Hellboy yang dikisahkan dengan sangat jelas. Beberapa flashback pada film ini sangat detail dan tidak membingungkan. Saya tidak menemukan masalah di sana, karena tidak semua penonton sudah membaca komik Hellboy bukan?

Bagaimana dengan adegan aksinya? Film superhero komik mana sih yang tidak ada adegan aksinya. Di luar dugaan, adegan aksinya sangat menghibur dan seperti sungguhan karena hadirnya beberapa adegan … sadis. Wow, sadis? Yaaaa, Hellboy (2019) penuh dengan adegan sadis yang tidak pantas untuk disaksikan oleh anak-anak. Pada beberapa bagian aksi dan perkelahian, adegan sadis tersebut memang berhasil menambah keseruan pada Hellboy (2019). Tapi pada beberapa bagian lainnya, saya merasa bahwa adegan sadis pada Hellboy (2019), bukanlah hal yang perlu dan justru membuat saya mual. Sang sutradara sedikit kelebihan dalam membubuhkan adegan gory atau sadis pada Hellboy (2019).

Walaupun adegan sadisnya agak banyak, saya lebih menikmati Hellboy (2019) dibandingkan Hellboy (2004) dan Hellboy II: The Golden Army (2008). Dengan demikian, saya ikhlas untuk memberikan Hellboy (2019) nilai 3 dari skala maksimum 5 yang artinya “Lumayan”. Bisa ditebak bagaimana nilai saya terhadap Hellboy (2004) dan Hellboy II: The Golden Army (2008), sopasti di bawah 3 hohoho.

Sumber: http://www.hellboy.movie

Avengers: Endgame (2019)

Bulan ini semua mata tertuju pada Marvel Studio yang merilis Avengers: Endgame (2019), sebuah akhir dari sebuah semesta film yang sudah berlangsung sejak 2008 lalu sebagaimana sudah saya jelaskan pada Avengers Infinity War (2018). Disana pulalah sudah saya jelaskan mengenai MCU (Marvel Cinematic Universe) dan batu-batu infinity yang menjadi rebutan pada film-film MCU. Penggunaan batu-batu tersebut mencapai puncaknya pada Avengers Infinity War (2018). Penggunaan satu batu saja sudah menimbulkan banyak masalah. Nah pada Avengers Infinity War (2018), Thanos (Josh Brolin) menggunakan 6 batu infinity sekaligus loh.

Akhir dari film Avengers Infinity War (2018) menyisakan tragedi dan banyak pertanyaan. Akhir dari film tersebut memang mengakibatkan tewasnya sebagian besar superhero pada film-film Marvel yang sebagian besar merupakan anggota Avengers. Nah, pada Avengers: Endgame (2019) inilah para superhero yang tersisa berusaha memperbaiki keadaan. 5 tahun berlalu dan mereka terpaksa harus melanjutkan hidup dengan penuh penyesalan.

Hhhmmm, bagi teman-teman yang mengikuti semua film superhero Marvel sejak 2008 lalu, pasti menyadari bahwa tidak semua superhero Marvel atau MCU hadir pada Avengers Infinity War (2018). Ant-Man (Paul Rudd) dan Hawkeye (Jeremy Renner) absen tanpa alasan yang jelas. Hawkeye ternyata memilih untuk tidak ikut campur dengan urusan Avengers dam memilih untuk menghabiskan waktunya dengan keluarga. Ia pun menjadi tahanan rumah setelah perbuatannya pada Captain America: Civil War (2016). Ulah Thanos pada Avengers Infinity War (2018), membuat Hawkeye berubah menjadi liar dan kejam. Versi gelap Hawkeye ini, kalau di komik namanya Ronin. Entah mengapa, saya lebih suka dengan Hawkeye yang baru ini ;).

Senasib dengan Hawkeye, Ant-Man pun menjadi tahanan rumah dan hidup dengan anak semata wayangnya. Tapi sebagaimana dikisahkan pada Ant-Man and the Wasp (2018), Ant-Man terperangkap di dalam dunia kuantum ketika Thanos menggunakan kekuatan 6 batu infinity. Ant-Man kembali ke dunia, 5 tahun setelah peristiwa pada Avengers Infinity War (2018). Ia datang membawa harapan, sebuah kesempatan kedua bagi para superhero untuk kembali meraih kemenangan. Mereka berencana untuk menggunakan dunia kuantum sebagai gerbang menuju masa lalu. Whah, Avengers mau merubah masa depan? Berbeda dengan film-film lain yang menggunakan perjalanan menembus waktu sebagai salah satu temanya, Avengers: Endgame (2019) memilih untuk mengisahkan perjalanan waktu dengan cara dan pendekatan yang berbeda. Sebuah hal yang kreatif, karena Avengers: Endgame (2019) menganut faham bahwa kita tidak akan dapat mengubah masa depan dengan datang mengacak-acak masa lalu ;).

Lohhh, tunggu sebentar, bagaimana dengan Captain Marvel? Bukankah ia termasuk superhero yang absen pada Avengers Infinity War (2018) dan baru hadir lagi pada Avengers: Endgame (2019)? Di luar dugaan saya, peranan Captain Marvel yang kekuatannya dahsyat seperti Superman, tidak terlalu menonjol di sini.

Well, fokus Avengers: Endgame (2019) ini bukanlah superhero yang film solonya baru satu seperti Kapten Marvel. Fokus film ini adalah anggota tetap Avengers yang sudah lama ada dan menjadi simbol dari MCU selama ini. Sebuah akhir dari perjalanan panjang selama 11 tahun dan 22 film MCU. Saya melihat banyak adegan yang mengharukan pada film Avengers: Endgame (2019), sesuatu yang belum pernah saya alami ketika menonton film superhero.

Selama film ini berlangsung, para anggota Avengers berkelana kembali ke masa lalu yang pernah dikisahkan oleh film-film MCU sebelumnya. Bagi penonton yang sudah menonton semua film MCU sebelum Avengers: Endgame (2019), pendekatan ini penuh nostalgia dan sangat kreatif karena mereka menggunakan latar belakang kejadian-kejadian dari film MCU lain tapi dari sudut pandang yang berbeda :D.

Selain itu, kenyataan bahwa pada Avengers: Endgame (2019) ini tidak ada superhero yang pasti akan selamat. Semua memiliki kemungkinan akan gugur entah bagaimana caranya ;). Sesuatu hal yang membuat saya penasaran sampai akhir, siapa yaaa yang akan gugur lagi? Siapa pula yaaa yang akan hidup kembali? Hohohoho. Akhir dari film ini cukup mengharukan dan di luar perkiraan saya.

Karena Avengers: Endgame (2019) merupakan bagian dari MCU yang terdiri dari berbagai film, tentunya ada beberapa bagian dari Avengers: Endgame (2019) yang asal muasalnya dikisahkan pada film lain di dalam MCU. Tapi saya rasa Avengers: Endgame (2019) cukup komunikatif bagi penonton yang belum menonton semua film-film MCU. Toh semua film yang termasuk MCU memang berkaitan tapi sifatnya berdiri sendiri, jadi bukan film bersambung macam sinetron Indonesia. Kalaupun mau mengetahui hal-hal vital yang menjadi dasar dari Avengers: Endgame (2019), saya rasa penonton awam tidak perlu menonton semua film MCU, mereka cukup menonton atau mengingat peristiwa pada The Avengers (2012), Thor: The Dark World (2013), Captain America: The Winter Soldier (2014), Guardians of the Galaxy (2014), Avengers Age of Ultron (2015), dan tentunya Avengers Infinity War (2018).

Durasi film yang hampir 3 jam sama sekali tidak membuat saya kebosanan di dal gedung bioskop. Film yang satu ini memang memiliki banyak hal yang perlu dan patut untuk dikisahkan. Semua kisah-kisah tersebut didukung dengan special effect dan adegan aksi yang keren. Sayang sekali kalau dilewatkan karena kebelet atau pegal duduk di kursi. Sebaiknya pergilah ke toilet sebelum menonton Avengers: Endgame (2019) :’D.

Saya pribadi ikhlas untuk memberikan Avengers: Endgame (2019) nilai 5 dari skala maksimum 5 yang artinya “Bagus Sekali”. Avengers: Endgame (2019) merupakan akhir sekaligus awal. MCU masih akan terus ada, tanpa kehadiran beberapa tokoh yang selama ini sudah menjadi maskot sinematik terbesar dunia ini. Kita lihat saja, apakah superhero-superhero baru yang belakangan ini diperkenalkan, mampu meneruskan kesuksesan MCU.

Sumber: http://www.marvel.com

Captain Marvel (2019)

Wonder Woman (2017) dapat dikatakan sebagai film superhero wanita milik DC Comics yang sukses di pasaran. Bagaimana dengan Marvel Comics? Setelah sukses dengan film-film superhero-nya, kini Marvel merilis film solo superhero wanita pertama mereka, Captain Marvel (2019). Jauh berbeda dengan Wonder Woman yang sudah punya nama, Tokoh Captain Marvel ini terasa asing di telinga saya :’D. Siapa sih Captain Marvel itu?

Pertanyaan tersebut akan terjawab setelah kita menonton Captain Marvel (2019). Film ini mengisahkan asal mula bagaimana Carol Danvers (Brie Larson) berubah menjadi Vars atau Captain Marvel, beserta konsekuensi dari kekuatan super yang Danvers terima.

Sekilas Captain Marvel (2019) memang seperti kisah from zero to hero seorang Carol Danvers saja. Tapi percayalah, film ini berhasil menyajikan semuanya dengan cara yang segar dan berbeda. Saya melihat beberapa alur maju-mundur yang menarik dan mudah dipahami pada Captain Marvel (2019) :). Kekuatan Captain Marvel pun nampak dahsyat dengan dukungan special affect yang mumpuni. Kalau saya perhatikan, kekuatan Captain Marvel ini dapat disetarakan dengan kekuatan Phoenix-nya X-Men atau Supergirl-nya DC Comics.

Akibat kekuatan yang Carol peroleh, ia terjebak di tengah-tengah pertikaian antara bangsa Kree dan Skrull. Semua membawa Carol kembali ke Bumi, tempat dimana ia dulu bekerja sebagai pilot pesawat. Di sana, Carol dibantu oleh Nick Fury (Samuel L. Jackson) yang masih muda dan belum kehilangan salah satu matanya. Loh kok bisa? Captain Marvel (2019) memang mengambil latar belakang tahun 90-an, jauuuuh sebelum semua kejadian pada film-film Marvel Cinematic Universe lainnya terjadi.

Olehkarena itulah beberapa adegan pada film ini menggunakan lagu-lagu yang populer di era 90-an. Berhubung saya tumbuh di era 90-an, hal ini menjadi nilai plus tersendiri. Nuansa tahun 90-an sungguh terasa pada film Marvel yang satu ini.

Diluar dugaan, saya menikmati film superhero tak dikenal ini. Captain Marvel (2019) layak untuk memperoleh nilai 4 dari skala maksimum 5 yang artinya “Bagus”. Cara penyajian yang tepat menjadi nilai plus utama film ini. Saya rasa, Captain Marvel (2019) akan terasa hambar andaikata cara penceritaannya dibuat dengan alur maju yang bisa dipergunakan oleh film-film sejenis.

Sumber: http://www.marvel.com/movies/captain-marvel