Franchise Insidious (2010 – 2018)

Berawal dari kesuksesan Insidious (2010), lahirlah Insidious: Chapter 2 (2013), Insidious: Chapter 3 (2015) dan Insidious: The Last Key (2018). Produser mana yang tidak senang dengan film beranggaran rendah dengan profit setinggi langit. Hal itulah yang terus terjadi pada film-film Insidious. Tak heran kalau akan terus bermunculan film-film Insidious berikutnya. Insidious pun menjelma menjadi sebuah franchise yang terdiri dari banyak film. Sampai saat saya menulis tulisan ini, sudah ada 4 film Insidious yang dirilis dan Insidious: The Last Key (2018) adalah yang terbaru. Jadi kali ini saya akan membahas keempat film Insidious yang sudah dirilis.

Kalau dilihat dari urutan perilisan, memang Insidious: The Last Key (2018) adalah yang paling akhir muncul. Namun, kalau dilihat dari urutan waktu pada jalan ceritanya, film tersebut bukanlah yang terakhir. Beginilah urutan film-film Insidious kalau dilihat dari waktu. Semua diawali oleh Insidious: Chapter 3 (2015), kemudian diikuti oleh Insidious: The Last Key (2018), Insidious (2010) dan diakhiri oleh Insidious: Chapter 2 (2013). Wah acak-acakan yah :’D.

Pada dasarnya, keempat film tersebut mengisahkan kasus supranatural yang dihadapi oleh Elise Rainier (Lin Shaye) dan rekan-rekan. Elise merupakan paranormal handal yang menggunakan kemampuannya untuk menolong. Semua kasus yang ia hadapi berhubungan dengan dunia roh yang pada film ini disebut The Furher. Hanya roh orang-orang tertentu saja yang dapat pergi menuju The Futher. Pintu menuju sangat banyak dan tidak mengenal batasan waktu. Hal inilah yang menjadi daya tarik Insidious.

Supaya sesuai dengan urutan waktunya, mari kita mulai dari Insidious: Chapter 3 (2015) :). Pada awal film, dikisahkan bahwa Elise berhenti dari kegiatan supranatural karena ketakutannya akan sosok yang diramalkan akan menjadi lawan terberatnya. Sebuah sosok yang akan Elise hadapi pada Insidious (2010) dan Insidious: Chapter 2 (2013). Kekhawatiran akan kegagalan dan kematian terus menghantui Elise sampai hatinya tergerak untuk menolong seorang gadis yang mengalami gangguan supranatural. Disinilah awal mula Elise bertemu dengan kedua anak muda yang menjadi rekan barunya. Melalui kasus ini pulalah, Elise memperoleh kepercayaan dirinya kembali untuk terus menggunakan kekuatannya untuk kebaikan.

Kemudian pada Insidious: The Last Key (2018), Elise dan kedua rekan barunya, pergi ke kampung halaman Elise untuk menyelesaikan sebuah kasus. Yang menarik di sini adalah, lokasi kejadiannya adalah rumah masa kecil Elise. Di sini, Elise harus berhadapan kembali dengan masa lalunya yang kelam. Mau tak mau, kasus yang kini ia hadapi, berhubungan erat dengan masalah keluarga Elise.

Uniknya, detail kecil pada akhir dari Insidious: The Last Key (2018) menunjukkan asal mula dari segala bencana yang muncul pada Insidious (2010). Hanya saja, saya sendiri harus mengulang bagian akhirnya untuk mengerti hal tersebut. Inilah salah satu kelebihan dari film-film Insidious. Film yang satu bisa berkaitan dengan cara yang tidak terduga dengan film lainnya.

Hal yang sama pun terjadi pada Insidious (2010) dan Insidious: Chapter 2 (2013). Insidious: Chapter 2 (2013) menjelaskan beberapa kejadian misterius pada Insidious (2010). Kedua film ini memang sangat erat hubungannya karena pada kedua film inilah Elise dan kawan-kawan berhadapan dengan kasus yang sangat berat.

Insidious (2010) dan Insidious: Chapter 2 (2013) mengambil latar belakang setelah kejadian pada Insidious: The Last Key (2018). Kali ini dikisahkan bahwa keluarga Lambert mengalami gangguan supranatural sejak mereka pindah rumah. Kalau mengikuti pola film horor pada umumnya, ya sopasti si korban terus saja ada di rumah tersebut dan menghadapi teror-teror yang ada. Nah, keluarga Lambert melakukan hal yang sangat logis. Mereka langsung pindah rumah. Sayang, teror terus mengikuti mereka dimanapun mereka berada.

Elise dan kawan-kawan pun dipanggil untuk menolong. Sumber dari semua masalah tersebut ternyata merupakan sesuatu yang sangat jahat dan kuat. Sekilas, memang semua nampak klise ya. Akhir dari Insidious (2010) pun seolah membuat film ini mengikuti pola film horor pada umumnya. Semua berubah 180 derajat ketika saya menonton Insidious: Chapter 2 (2013). Kedua film tersebut memang merupakan kesatuan yang saling melengkapi.

Insidious (2010) dan Insidious: Chapter 2 (2013) hadir dengan jump scare dan sound effect ala film horor lawas yang bernada tinggi. Namun semuanya tidal nampak murahan sebab penggunaannya memang untuk bagian-bagian yang penting saja. Sentuhan James Wan sebagai sang sutradara memberikan perbedaan yang sangat nyata. Kedua film yang ia sutradarai ini berhasil memberikan kengerian dengan alur cerita yang tidak membosankan. Rasa penasaran terus menghantui saya ketika menonton film-film tersebut.

Bagaimana dengan Insidious: Chapter 3 (2015) dan Insidious: The Last Key (2018)? Walaupun skrip keempat film Insidious ditulis oleh orang yang sama, keduanya tidak disutradarai oleh James Wan. Sebenarnya, jalan cerita kedua film tersebut memiliki potensi yang besar. Sayang kok eksekusinya terasa sedikit hambar. Misterinya memang masih ada, hanya saja alur ceritanya tidak terlalu ngeri dan ada beberapa bagian yang cukup membosankan. Terus terang kualitas Insidious: Chapter 3 (2015) dan Insidious: The Last Key (2018) berada di bawah Insidious (2010) dan Insidious: Chapter 2 (2013). Bisa jadi, semua karena perbedaan siapa sutradaranya.

Hal-hal diataslah yang membuat saya hanya dapat memberikan Insidious: Chapter 3 (2015) dan Insidious: The Last Key (2018), nilai 3 dari skala maksimum 5 yang artinya “Lumayan”. Sedangkan untuk Insidious (2010) dan Insidious: Chapter 2 (2013), saya ikhlas untuk memberikan nilai 4 dari skala maksimum 5 yang artinya “Bagus”. Kabarnya, film Insidious kelima akan hadir dengan judul Insidious: Death’s Lair. Melihat trend, semakin menurunnya kualitas film-film Insidious, saya ragu apakah film kelima tersebut dapat mengulang kesuksesan film pertama dan keduanya? Kita lihat saja nanti ;).

Sumber: http://www.sonypictures.com

 

Kafir: Bersekutu dengan Setan (2018)

Kafir (2002) adalah salah satu film horor Indonesia yang pernah saya tonton duluuuu sekali. Film yang dibintangi oleh Sudjiwo Tedjo dan Meriam Bellina tersebut berbicara mengenai kisah perjalanan hidup seorang dukun santet. Ceritanya sih sebenanrnya mirip sekali dengan beberapa cerita di sinetron Hidayah yang pernah diputar di TV nasional heheheh. Pada awalnya, Kafir (2002) hendak diremake oleh pihak Starvison. Yah buat apa diremake, lha wong film aslinya saja tidak sampai dapat predikat film legenda kok. Beruntung akhirnya dibuat kisah yang berbeda melalui Kafir: Bersekutu dengan Setan (2018). Film ini memang memiliki judul yang mirip dengan tema yang mirip, tapi ceritanya jauh berbeda loh.

Sudjiwo Tedjo kembali hadir sebagai dukun santet pada film Kafir: Bersekutu dengan Setan (2018). Namun ia bukanlah fokus utama dari film ini. Kali ini dikisahkan bahwa terdapat 1 keluarga yang hidup harmonis dan penuh kebahagiaan. Semua nampak sempurna  sampai si bapak mendadak meninggal dunia dihadapan keluarganya.

Kini hanya ada Sri (Putri Ayudya) beserta kedua anaknya yaitu Dina (Nadya Arina) dan Andi (Rangga Azof). Sesekali kekasih Andi, Hanum (Indah Permatasari), datang ke rumah menemari keluarga yang sedang berduka. Sayang, tragedi belum selesai menghampiri keluarga Sri. Sejak kematian suaminya, keluarga Sri mendapatkan teror-teror dalam wujud yang menyeramkan. Semua terkait santet dan dunia supranatural yang ternyata sudah sejak lama melekat pada keluarga tersebut.

Di sini penonton dibawa ke dalam penyelidikan akan masa lalu keluarga Sri beserta penyebab teror yang mereka alami. Siapa penyebab dan biang keladi dari semua ini dibuat sebagai misteri yang membuat penonton terpaku di depan layar. Sayang sekali saya berhasil menebak siapa biang keladinya sejak pertangahan film, sangat mudah ditebak sih sebenarnya. Namun jalan cerita yang alurnya runtun dan menyenangkan, membuat saya tetap nyaman menonton Kafir: Bersekutu dengan Setan (2018) sampai tuntas.

Nuansa misteri film ini sangat kental melebihi kadar horornya. Praktis tak ada sosok horor utama yang menjadi icon pada film ini. Jangan harap pula terdapat jump scare yang mengagetkan pada film ini. Horor klasik sudah cukup terasa di sana, meski memang tidak terlalu banyak. Latar belakang rumah tua di perkampungan di era tahun 80-an mengingatkan saya kepada Pengabdi Setan (2017). Apalagi terdapat pemutara piringan hitam lagu lawasnya Tetty Kadi yang berjudul Mawar Berduri. Ok, itu memang lagu lawas, tapi tidak semenakutkan lagu lawas yang juga diputarkan pada piringan hitam di Pengabdi Setan (2017).

Yaah, saya pribadi memandang Kafir: Bersekutu dengan Setan (2018) sebagai film detektif di tengah-tengah dunia santet dan perdukunan Indonesia. Saya rasa film ini masih layak untuk memperoleh nilai 3 dari skala maksimum 5 yang artinya “Lumayan”. Inilah film Indonesia terbaik yang diputar pada tahun 2018.

Sumber: klikstarvision.com/page/movie_detail/180/sinopsis/KAFIR

Doctor Sleep (2019)

Pada tahun 2013 lalu, Stephen King merilis Doctor Sleep sebagai novel terbarunya. Novel ini ternyata merupakan sekuel dari novel The Shining yang ia rilis pada 1977 lalu. Waaah, setelah lebih dari 30 tahun, baru ada sekuelnya. Nah, bagaimana dengan versi film layar lebarnya The Shining. Seperti pernah saya bahas sebelumnya, The Shining (1980) yang disutradarai Stanley Kubric dinilai kurang baik oleh Stephen King. Kubric dan King seolah berseteru akan 2 karya mereka yang sama-sama terbilang populer. Wah kalau begitu bagaimana dengan versi film layar lebarnya Doctor Sleep?

Sudah pasti Doctor Sleep (2019) tidak akan disutradarai oleh Kubric. Film tersebut disutradarai oleh Mike Flanagan yang sudah berpengalaman menggarap beberapa film horor dan misteri sebelumnya. Saya pribadi bukan fans berat dari karya-karya Flanagan, Kubric ataupun King. The Shining (1980) pun bukan film horor favorit saya hehehe. Jadi wajar saja kalau saya tidak berharap banyak kepada Doctor Sleep (2019). Saya baru menonton film ini beberapa bulan setelah film tersebut dirilis hohohoho.

Pada The Shining (1980) dikisahkan bahwa Danny Torrance kecil bersama keluarganya, mengalami teror dari mahluk-mahluk penunggu Hotel Overlook. Mereka tertarik sesuatu yang ada di dalam diri Danny. Ia ternyata memiliki kemampuan memanfaatkan kekuatan supranatural yang disebut Danny sebut shining atau sinar sebab kekuatan ini membuat Danny unik dan bersinar bagi mahluk-mahluk tertentu.

Apa yang Danny sebut shining, ternyata memiliki istilah lain bagi orang lain. Steam atau uap adalah nama yang Kelompok True Knot berikan. Kelompok yang dipimpin oleh Rose (Rebecca Ferguson) ini mampu untuk hidup cukup lama dengan memakan uap orang lain. Rose dan kawan-kawan berkelana mencari individu-individu yang memiliki kemampuan supranatural untuk dijadikan makanan. Mereka dengan kejamnya tega memangsa uap dari anak-anak kecil tak berdosa. Menurut Rose, uap dari anak-anak lebih murni dan lezat untuk disantap, apalagi bila ditambahkan dengan bumbu rasa takut dan rasa sakit :'(.

Saya yang sedang memiliki anak-anak kecil di rumah, cukup geram melihat ulah Rose dan kawan-kawan. Jadi merupakan kenikmatan tersendiri bagi saya, melihat mereka “dikerjai” sepanjang Doctor Sleep (2019). Rose melakukan kesalahan besar ketika ia berusaha melacak dan memangsa Abra Stone (Kyliegh Curran), seorang anak dengan uap atau sinar yang sangat besar. Besarnya uap Abra menunjukkan betapa besarkan makanan bagi Rose, sekaligus betapa besarnya punya kekuatan Abra yang harus Rose taklukkan.

Rose pikir, ia dapat menang dengan batuan anggota kelompoknya yang cukup banyak. Namun, Abra yang dianggap masih kurang berpengalaman ternyata mendapatkan bantuan dari Danny Torrance (Ewan McGregor).

Danny sudah dewasa dan masih bergulat dengan trauma yang ia peroleh di Hotel Overlook pada The Shining (1980). Ia melakukan apapun untuk menyelamatkan Abra, bahkan ketika hal ini membuatnya kembali ke Hotel Overlook, sebuah tempat yang memberinya mimpi buruk selama ini.

Keberadaan Hotel Overlook beserta penguninya, memperkuat status Doctor Sleep (2019) sebagai sekuel dari The Shining (1980). Apalagi terdapat pula berbagai adegan populer dari The Shining (1980), dihadirkan kembali dengan cara yang sedikit berbeda. Kemudian beberapa efek dan lagu dari Doctor Sleep (2019), diambil dari The Shining (1980). Hal-hal ini berhasil membumbui Docter Sleep (2019) dengan sebuah nuansa nostalgia.

Horor dan misteri dari Doctor Sleep (2019) memang berada di bawah The Shining (1980). Doctor Sleep (2019) tetap kental akan dunia supranatural ala Stephen King, hanya saja penggarapannya membuat saya seolah seperti menonton film fiksi ilmiah. Apakah ini merupakan hal yang buruk? Tidak bagi saya pribadi. Saya justru senang dengan bagaimana cerita bergulir.

Saya rasa, Doctor Sleep (2019) layak untuk memperoleh nilai 4 dari skala maksimum 5 yang artinya “Bagus”. Saya yang bukan fans beratnya King atau Kubric merasa bahwa sekuel yang satu ini lebih menyenangkan dan menarik untuk ditonton ketimbang film pendahulunya :).

Sumber: http://www.doctorsleepmovie.com

Ratu Ilmu Hitam (2019)

Ketika masih kecil dulu, saya pernah menonton beberapa film Indonesia termasuk film-filmnya Suzzanna. Ratu Ilmu Hitam (1981) adalah salah satu film Suzzana yang masih saya ingat sampai sekarang. Ceritanya cukup sederhana, Murni (Suzzanna) belajar ilmu hitam dan menjadi seorang ratu ilmu hitam setelah Murni kehilangan segalanya. Ia menggunakan ilmu hitam untuk membalas dendam kepada orang-orang yang telah berbuat jahat kepadanya. Film horor lawas tersebut memiliki jalan cerita dan plot yang lumayan menarik dan agak berbeda dengan film Suzzanna lainnya karena cara menceritakan yag lumayan bagus dan terdapat sedikit kejutan di dalamnya.

Lalu, apakah Ratu Ilmu Hitam (1981) sama dengan Ratu Ilmu Hitam (2019)? Sangat berbeda. Sudut pandang penonton pada Ratu Ilmu Hitam (1981) adalah Si Ratu Ilmu Hitam yang diperankan oleh Suzzanna. Sementara itu, sudut pandang Ratu Ilmu Hitam (2019) dipandang dari kaca mata beberapa mantan anak panti asuhan, yang datang bersama keluarga mereka ke Panti Asuhan tempat mereka dulu dibesarkan.

Hanif (Ario Bayu), Anton (Tanta Ginting) dan Jefri (Miller Khan) datang kembali ke Panti Asuhan setelah pemimpin Panti Asuhan tersebut sakit keras dan sepertinya tak lama lagi akan meninggal. Pada awal cerita mereka seolah khawatir akan nasib Panti Asuhan tersebut setelah pemimpinnya meninggal. Apalagi Panti tersebut terletak di tempat yang sangat terpencil. Bagaimana nanti nasib anak-anaknya nanti?

Dibalik semua itu, sebenarnya Hanif, Jefri dan Anton menyimpan sebuah rahasia kelam yang pernah terjadi di Panti tersebut. Sebuah rahasia yang tanpa mereka sadari, dapat mengancam keselamatan semua orang yang ada di sana. Padahal Hanif sendiri datang bersama istri dan ketiga anaknya. Jefri dan Anton pun datang bersama istri mereka masing-masing. Selain itu, Panti Asuhan tidaklah dalam keadaan kosong, terdapat 4 anak panti yang bertugas menyambut Anton dan kawan-kawan. Sementara anak-anak panti lainnya sedang Tamasya naik Bus ke luar daerah.

Teror datang silih berganti menghantui semua orang yang sedang ada di dalam Panti Asuhan tersebut. Semuanya terkait praktek ilmu hitam yang kejam. Siapa dan kenapa? Ok, sejauh ini kalau saya hitung terdapat 12 karakter yang keamanannya terancam. Pertanyaannya, apakah semua karakter-karakter tersebut cukup penting bagi cerita film ini? Sayangnya tidak. Saya rasa Ratu Ilmu Hitam (2019) seolah menampilkan banyak karakter untuk membuat penonton kesulitan menerka-nerka siapa biang keladi dari petaka yang terus berdatangan. Padahal banyak dari karakter-karakter tersebut yang saya sendiri tak ingat namanya. Kalaupun beberapa karakter tersebut tewas, yaaaa sudah tewas saja, kurang penting sih :’D.

Tetap patut saya akui, misteri yang dihadirkan memang membuat saya penasaran sampai akhir film. Meskipun jalan menuju akhir film ini penuh dengan adegan yang agak sadis dan menjijikan. Sisi positifnya, semua adegan sadis tersebut dihadirkan dengan sangat halus dan terlihat nyata. Sisi negatifnya, yaaa saya pribadi kurang suka dengan film-film horor yang menampilkan banyak adegan sadis nan menjijikkan atau sering disebut adegan gory.

Bisa dibilang film-film seperti ini memang menjadi ciri khas dari beberapa karya Kimo Stamboel sebagai sutradara film ini. Dipadukan dengan misteri ala Joko Anwar sebagai penulis Ratu Ilmu Hitam (2019), film ini cukup menghibur walaupun saya kurang suka dengan unsur gory pada film ini. Selain itu bagian akhirnya terasa terlalu cepat dan sederhana. Ratu Ilmu Hitam (2019) layak untuk memperoleh nilai 3 dari skala maksimum 5 yang artinya “Lumayan”. Jelas Ratu Ilmu Hitam (2019) jauh lebih berkualitas dibandingkan mayoritas film horor Indonesia yang hadir hanya dengan memamerkan aurat wanita, efek murahan dan plot cerita yang berlubang dimana-mana x_x. Semoga perfilman Indonesia dapat terus maju dan menelurkan film-film berkualitas lainnya.

Sumber: http://www.rapifilms.com/page/detail/425/ratu-ilmu-hitam

Hellboy (2019)

Banyak yang bertanya-tanya apakah Hellboy masuk ke dalam deretan superhero DC Comics atau Marvel Comics? Yah, jawabannya bukan keduanya :P. Dark Horse Comics adalah penerbit dari buku-buku komik Hellboy. Dari buku, superhero yang saty ini sudah 2 kali hadir di layar lebar melalui Hellboy (2004) dan Hellboy II: The Golden Army (2008) yang disutradarai oleh Guillermo del Toro. Walaupun saya tidak terlalu suka dengan kedua film Hellboy tersebut, keduanya mendapatkan sambutan hangat dari para kritikus. Hal ini membawa angin segar bagi film ketiga Hellboy.

Tak terasa 10 tahun berlalu sejak Hellboy II: The Golden Army (2008) dirilis. Film ketiga Hellboy yang sedang digarap, mengalami pergantian sutradara dan pemeran utama. Alih-alih menjadi sebuah trilogi, Hellboy justru mengalami reboot. Hellboy (2019) akan menjadi awal baru bagi franchise superhero yang satu ini.

Berbeda dengan Hellboy (2004), asalmula hadirnya Hellboy (David Harbour) tidak dikisahkan pada bagian awal film. Sejak bagian awal film, Hellboy dikisahkan sudah bekerja pada B.P.R.D. (Bureau for Paranormal Research and Defense) bersama dengan ayah angkatnya, Tevor Bruttenholm (Ian McShane). Sebagai bagian dari B.P.R.D. , Hellboy memburu berbagai hal-hal supranatural yang dapat merusak perdamaian di Bumi. Semua ia lakukan dengan menggunakan kekuatan fisiknya plus pistol di tangan kiri dan tangan tangannya yang sangat keras.

Dari berbagai perkelahian dan konflik yang Hellboy lalui, ia mendapatkan banyak musuh terutama dari kaum monster dan supranatural. Kali ini ia harus berhadapan dengan seorang musuh lama yang berusaha membangkitkan Vivian Nimue Sang Ratu Darah (Milla Jovovich). Siapakah Nimue itu? Ia merupakan seorang penyihir yang konon tidak dapat dibunuh sehingga akhirnya penyihir tersebut dimutilasi dan bagian-bagian tubuhnya disembunyikan di berbagai penjuru dunia. Kehadiran Nimue dahulu dimusuhi oleh manusia karena manusia tidak ingin para monster dapat hidup bebas di permukaan Bumi. Masalahnya, bukankan Hellboy sendiri berasal dari golongan yang manusia anggap sebagai monster? Manusia mana yang tidak takut melihat wujud Hellboy.

Konflik yang Hellboy hadapi kali ini merupakan konflik klasik ala Hellboy. Bagi yang sudah membaca buku komik Hellboy, tentunya sudah mengetahui bahwa Hellboy merupakan campuran antara keturunan raja manusia dan iblis yang lepas dari neraka. Tanduk patah dan tangan keras yang Hellboy miliki bukanlah hal yang sepele. Keduanya merupakan bagian dari sebuah kekuatan dahsyat yang terpendam di dalam diri Hellboy. Banyak yang meramalkan bahwa Hellboy ditakdikan untuk membawa neraka ke Bumi dengan tanduk yang sudah pulih dan tangan kerasnya memegang leher naga yang ia tunggangi. Apakah Hellboy akan tetap menjaga Bumi atau mengikuti ramalan orang lain?

Sebuah pertanyaan yang sedikit banyak sudah dapat ditebak jawabannya :’D. Saya tidak melihat banyak kejutan atau twist pada Hellboy (2019). Jalan ceritanya banyak dibubuhi oleh masa lalu Hellboy yang dikisahkan dengan sangat jelas. Beberapa flashback pada film ini sangat detail dan tidak membingungkan. Saya tidak menemukan masalah di sana, karena tidak semua penonton sudah membaca komik Hellboy bukan?

Bagaimana dengan adegan aksinya? Film superhero komik mana sih yang tidak ada adegan aksinya. Di luar dugaan, adegan aksinya sangat menghibur dan seperti sungguhan karena hadirnya beberapa adegan … sadis. Wow, sadis? Yaaaa, Hellboy (2019) penuh dengan adegan sadis yang tidak pantas untuk disaksikan oleh anak-anak. Pada beberapa bagian aksi dan perkelahian, adegan sadis tersebut memang berhasil menambah keseruan pada Hellboy (2019). Tapi pada beberapa bagian lainnya, saya merasa bahwa adegan sadis pada Hellboy (2019), bukanlah hal yang perlu dan justru membuat saya mual. Sang sutradara sedikit kelebihan dalam membubuhkan adegan gory atau sadis pada Hellboy (2019).

Walaupun adegan sadisnya agak banyak, saya lebih menikmati Hellboy (2019) dibandingkan Hellboy (2004) dan Hellboy II: The Golden Army (2008). Dengan demikian, saya ikhlas untuk memberikan Hellboy (2019) nilai 3 dari skala maksimum 5 yang artinya “Lumayan”. Bisa ditebak bagaimana nilai saya terhadap Hellboy (2004) dan Hellboy II: The Golden Army (2008), sopasti di bawah 3 hohoho.

Sumber: http://www.hellboy.movie

The Shining (1980)

Banyak orang-orang yang mengalami masa remaja atau dewasa di tahun 80-an, memuji The Shining (1980) sebagai film paling menakutkan di eranya. Film ini dirilis jauh sebelum saya lahir dan saya baru menontonnya beberapa minggu yang lalu. Agak penasaran juga sih, seperti apa ya filmnya.

Pada The Shining (1980), dikisahkan bahwa Jack Torrance (Jack Nicholson) baru saja memperoleh pekerjaan sebagai penjaga Hotel Overlook yang terletak di pengunungan Colorado yang terpencil. Karena alasan ekonomi, hotel mewah tersebut akan tutup selama musim dingin berlangsung, dan akan buka kembali setelah musim dingin berakhir. Tugas Jack di sana adalah memastikan bahwa hotel tetap dalam keadaan baik dan siap beroperasi kembali ketika musim dingin berakhir.

Selama musim dingin berlangsung, semua tamu dan petugas hotel akan pergi meninggalkan hotel tersebut. Jack tidak akan sendirian, ia diperbolehkan membawa keluarganya di sana. Keluarga kecil Jack terdiri dari istri Jack yaitu Wendy Torrance (Shelley Duvall), anak Jack yaitu Danny Torrance (Danny Lloyd), dan Jack sendiri sebagai kepala keluarga. Jack, Wendy dan Danny akan tinggal di dalam sebuah hotel yang mewah, megah, namun terisolasi selama musim dingin, tak akan ada orang lain yang bermukim di dekat mereka. Jalanan dan jalur telefon pun biasanya terputus selama musim dingin. Apakah mereka akan baik-baik saja?

Ooooh tentu tidak :’D. Hotel Overlook ternyata menyimpan sejarah kelam di setiap sudutnya. Perlahan tapi pasti, hotel tersebut mulai mempengaruhi Jack untuk membunuh anak dan istrinya. Sejak awal film, karakter Jack Torrance memang sudah nampak jahat. Jack Nicholson berhasil menunjukkan ini dengan gerakan alisnya yang khas. Opa yang satu ini memang pandai memerankan karakter antagonis. Bertolak belakang dengan Jack, karakter Wendy justru nampak lemah walaupun Wendy pantang menyerah untuk menyelamatkan dirinya dan Danny. Danny sendiri beberapa kali nampak ketakutan tapi tidak berlebih seperti ibunya. Danny justru nampak relatif lebih tenang dan stabil dibandingkan kedua orang tuanya. Belakangan diketahui bahwa ternyata ia memiliki kemampuan supranatural yang pada film ini disebut shining.

Apa itu shining akan dijelaskan dengan gamblang pada film ini. Tapi untuk beberapa hal lain justru dibiarkan menggantung agar para penonton menerka-nerka sendiri. Beberapa fans berat The Shining (1980) bahkan membuat film dokumenter yang membahas makna-makna tersembunyi pada The Shining (1980). Sesuatu yang dianggap omong kosong oleh Stephen King. Pada tahun 1977, Stephen King merilis novel horor berjudul The Shining. Novel inilah yang diangkat oleh Stanley Kubrick ke layar lebar melalui The Shining (1980). Sayang sekali, King tidak suka dengan The Shining (1980). Menurut King, Kubrick menggambarkan Jack sebagai karakter yang terlalu jahat dan Wendy sebagai karakter yang terlalu lemah. Menurut King, seharusnya Jack digambarkan sebagai karakter yang sebenarnya baik dan sayang keluarga, tapi berubah karena pengaruh hotel. Wendy yang terlihat terlalu lemah dianggap kurang logis kalau mampu terus berjuang menghadapi Jack. Untuk poin ini saya setuju dengan Opa King. Tapi bukan berarti The Shining (1980) tidak memiliki kelebihan loh. Kubrick dengan cerdik memodifikasi The Shining (1980) agar filmnya tidak harus menggunakan special affect ala tahun 80-an yang tentunya akan nampak aneh bila ditonton pada tahun 2018. Beberapa adegan horor yang digambarkan King pada novelnya memang sangat sulit untuk ditunjukkan pada versi filmnya karena keterbatasan teknologi saat itu. Dengan demikian, Kubrick memodifikasi beberapa bagian cerita termasuk bagian akhirnya. Mungkin hal ini pulalah yang membuat King tidak suka dengan The Shining (1980). Pada tahun 1997, The Shining sempat dihadirkan kembali dalam bentuk mini seri dan menggunakan cerita yang lebih sesuai dengan keinginan King. Hasilnya? Para penonton lebih suka The Shining (1980) :’D.

The Shining (1980) memang berhasil menghadirkan beberapa kengerian tanpa campur tangan special affect modern. Bagian yang saya anggap paling menakutkan dari The Shining (1980) adalah bagian dimana Danny bersepeda mengelilingi lorong hotel. Cara mengambil gambar dan kondisi lorong hotel yang terang namun sepi, mampu memberikan efek tegang. Kehadiran 2 anak kembar misterius pun dapat mengejutkan walaupun film ini tidak menggunakan teknik jump scare. Ditambah lagi lagu latar belakangnya yang menutut saya agak mengerikan.

Sayang adegan dimana seorang ayah berbalik ingin membunuh keluarganya sendiri sudah beberapa kali saya jumpai pada film horor lain. Jadi, tidak ada yang spesial atau menyeramkan di sana. Penokohan Jack dan Wendy rasanya kurang tepat untuk menghasilkan kengerian sekaligus intrik yang maksimal. Saya lebih suka karakter Jack dan akhir dari Hotel Overlook pada versi novelnya. Untuk hal-hal lainnya, saya tidak terlalu masalah.

Mohon maaf bagi penggemar garis keras The Shining (1980), saya hanya mampu memberikan The Shining (1980) nilai 3 dari skala maksimum 5 yang artinya “Lumayan”. King dan Kubrick tetap sama-sama patut diacungi jempol atas karya mereka :).

Ghostbusters: Answer the Call (2016)

ghostbusters1

Ghostbusters merupakan judul komik yang saya baca ketika masih SD dulu. Disana dikisahkan bagaimana sekelompok ilmuwam menggunakan energi proton untuk menangkap hantu yang mengganggu warga New York. Selain itu Ghostbusters kemudiam hadir pula dalam bentuk film kartun di TV-TV. Ternyata baik Ghostbusters versi komik maupun film seri, keduanya dibuat berdasarkan film layar lebar Ghostbusters (1984) yang menuai berbagai pujian dan berhasil memperoleh nominasi piala Oscar. Kemudian beberapa tahun kemudian hadir sekuelnya yaitu Ghostbusters II (1989).

ghostbusters3Lama tak terdengar suaranya, Ghostbusters kembali hadir ke layar lebar melalui Ghostbusters: Answer the Call (2016). Tapi film ini tidak ada hubungannya dengan kedua film pendahulunya. Ghostbusters: Answer the Call (2016) lebih ke arah reboot sehingga tidak ada yang namanya trilogi Ghostbusters. Karakternya saja berbeda, tokoh utama yang dahulu diisi oleh 4 laki-laki, kini digantikan oleh 4 wanita.

ghostbusters10Dikisahkan bahwa Dr. Jillian Holtzmann (Kate McKinnon), Dr. Erin Gilbert (Kristen Wiig) dan Dr. Abigail “Abby” Yates (Melissa McCarthy) merupakam ilmuwan yang dicibir karena penelitian mereka mengenai hantu. Komunitas ilmuwan tidak menganggap bahwa hantu itu ada dan pantas untuk diteliti sampai pada suatu hari Abby dan kawan-kawan menemukan bahwa terjadi peningkatan kemunculan hantu di kota New York. Dalam perjalanannya mereka bertemu dengan Patty Tolan (Leslie Jones) yang memang tidak memiliki gelar doktoral namun memiliki pengetahuan akan sejarah dan keadaan kota New York. Keempatnya kemudian semakin sering melihat penampakan hantu-hantu di sekitar New York. Ada apa dengan New York? Apakah hantu-hantu ini muncul secara acak dengan tiba-tiba? Tentu tidak, ada seseorang yang memang sengaja membangkitkan hantu-hantu untuk menguasai kota New York.

ghostbusters7ghostbusters17

ghostbusters4

GHOSTBUSTERS

ghostbusters5

ghostbusters16

Abby, Holtzmann, Erin dan Patty akhirnya menggunakan senjata proton dan berbagai senjata modifikasi ciptaan Holzmann untuk menangkap hantu-hantu yang menteror New York. Kemudian mereka pun dikenal dengan nama Ghostbusters. Tak lupa keempat wanita ini merekrut Kevin Beckman (Chris Hemsworth) sebagai sekretaris untuk mengangkat telefon dan memgatur perjanjian dari pelanggan.

ghostbusters6ghostbusters9ghostbusters13ghostbusters11ghostbusters14ghostbusters15 Langkah Ghostbusters dalam menangkap hantu memperoleh perlawanan dari pihak pemerintah yang selalu menutup-nutupi keberadaan hantu-hantu dan selalu mendiskreditkan Ghostbusters di berbagai media masa. Sebuah masalah yang pernah diangkat pula pada Ghostbusters II (1989).

Mirip seperti 2 film pendahulunya, Ghostbusters: Answer the Call (2016) bukan termasuk film horor, genrenya lebih ke arah komedi. Saya beberapa kali tertawa melihat tingkah konyol pada film ini, terutama terkait kebodohan Kevin sang sekretaris :D. Pantas saja judul filmnya menggunakan kata-kata “answer the call” yang memang merupakan pekerjaan Kevin.

Kelucuan-kelucuan pada film ini dibalut dengan kostum dan special effect yang lumayan keren. Pada awalnya saya sempat sangsi akan kualitas adegan action film ini ketika tokoh utamanya diganti wanita semua. Ternyata saya salah sebab Ghostbusters masih mampu menampilkan berbagai keseruan ketika mereka berusaha menyelamatkan New York.

Di luar dugaan saya. Ghostbusters: Answer the Call (2016) ternyata masih layak untuk memperoleh nilai 4 dari skala makaimum 5 yang artinya “Bagus”. Who you gonna call? Ghostbusters! 🙂.

Sumber: www.ghostbusters.com

Serial Constantine

Constantine 1

Constantine adalah tokoh utama serial komik keluaran DC Comics, Hellblazer, yang sempat dibuat film layar lebarnya pada tahun 2005 lalu. Sekarang telah muncul versi film serinya dan pemutaran musim pertamanya di stasiun TV Fox baru saja usai. Akankah ada musim keduanya? Atau akankah Constantine muncul bersama-sama dengan 2 superhero DC Comics yang sudah lebih dahulu hadir di TV seperti Arrow dan Flash?

Entah, yang pasti Constantine pada film seri Constantine tidak diperankan oleh Keanu Reeves seperti pada versi film layar lebarnya. Pada film seri Constantine, John Constantine (Matt Ryan) bekerja sebagai detektif supranatural yang menggunakan kekuatan dan kemampuannya untuk menyelesaikan kasus supranatural, yaaa kurang lebih kasus-kasusnya mirip seperti kasus-kasusnya film seri Grim dan film seri Supranatural. Mulai dari kesurupan, kerasukan, voodoo, arwah penasaran, pemanggilan arwah dan lain-lain. Jangan harap melihat Constantine bertemu tuyul atau pocong yaaa, lawan-lawan Constantine adalah mahluk supranaturalnya bule :D. Cara yang dipergunakan pun lebih ke arah menggunakan mantra dan mencari titik lemah setiap lawan. Constantine hanya manusia biasa yang memiliki pengetahuan luas dalam mengatasi masalah-masalah supranatural dan tidak memiliki kekuatan super seperti Flash atau Superman.

Constantine 8

Constantine 15

 

 

Constantine 6

Constantine 7

Constantine 16

Constantine 19

Constantine 18

Constantine 13

Constantine 11

Dalam melaksanakan tugasnya, Contantine terkadang dibantu oleh tokoh-tokoh lain seperti Zed Martin (AngĂ©lica Celaya), Francis “Chas” Chandler (Charles Halford), Papa Midnite (Michael James Shaw) dan Manny (Harold Perrineau). Zed memiliki kemampuan untuk melihat masa lalu dan kejadian yang sedang terjadi di tempat lain. Chas memiliki kemampuan untuk sembuh dengan secepat kilat, tokoh ini seperti tidak bisa mati. Papa Midnite adalah ahli voodoo yang menguasai berbagai mantra seperti Constantine. Manny adalah malaikat yang awalnya hanya mengamati Constantine saja, tapi lama kelamaan ia justru ikut campur pada berbagai kasus-kasus yang Constantine kerjakan.

Constantine 2

NUP_165540_4201.JPG

Constantine 17

Kawan kadang menjadi lawan dan lawan kadang menjadi lawan. Jadi tokoh-tokoh di atas tidak selalu menjadi lawan atau teman bagi Constantine. Itulah yang saya suka dari film seri Constantine meskipun kasus-kasusnya tidak terlalu menarik.

NUP_165267_1429.JPG

Constantine 20

Penampakan Constantine versi film seri ini lebih menyerupai dengan penampakannya di dalam komik. Untunglah tidak semua kelakuan amoral Constantine versi komik tidak diangkat di film seri Constantine. Constantine pada film seri digambarkan sebagai seorang perokok yang gemar mabuk-mabukan dan main perempuan, kalau versi komiknya? Lebih amoral lagi, kurang cocok bagi budaya bangsa Indonesia , cie ciee kok jadi nasionalis begini? :’P.

Constantine 3

Constantine 9

Constantine 14

Sebenarnya saya lebih senang dengan superhero yang benar-benar memiliki kekuatan super, tapi secara keseluruhan film seri Constantine lumayan menghibur dan layak untuk memperoleh nilai 3 dari skala maksimum 5 yang artinya “Lumayan”.

Sumber: http://www.dccomics.com/tv/constantine

Constantine (2005)

Constantine1

Constantine (2005) mengisahkan bagaimana John Constantine (Keanu Reeves), sang pengusir setan dan iblis, menyelidiki kasus bunuh diri saudara kembar identik dari Detektif Angela Dodson (Rachel Weisz). Penyelidikan John terhadap kasus bunuh diri ini ternyata berhubungan dengan sebuah rencana besar yang dapat menghancurkan keseimbangan antara dunia, neraka dan surga.

Constantine3

Constantine13

Constantine6

Constantine9

Constantine2

Setan? Iblis? Constantine (2005) itu film horor ya? Bukan, Constantine (2005) adalah film bergenre supranatural action thriller yang diadaptasi dari komik Hellblazer yang diterbitkan oleh Vertigo Comics, anak perusahaan DC Comics. John Constantine yang menjadi karakter utama komik tersebut memang dilahirkan dengan kemampuan untuk melihat dan berinteraksi dengan malaikat dan setan. Merasa stres dengan kemampuannya, John sempat melakukan dosa besar yang membuat John divonis untuk tidak akan masuk surga. Lucifer, raja neraka, berjanji akan datang sendiri untuk menjemput jiwa John ketika John meninggal nanti.

Constantine8

Constantine4

Constantine12

Constantine5

Constantine7

Constantine11

Constantine14

Constantine10

Nah, masa lalu John inilah yang pada akhir film Constantine (20015), John pergunakan untuk mempertahankan keseimbangan antara surga, dunia dan neraka. Cerdasss, saya suka dengan Constantine (2005) karena bagian akhirnya yang cerdas, kadang kita tidak perlu sekuat Superman untuk menang ;). Selain itu, alur ceritanya tidak membosankan, special effect-nya pun lumayan ok. Saya rasa Constantine (2005) layak untuk memperoleh nilai 4 dari skala maksimum 5 yang artinya “Bagus” :).

Seventh Son (2014)

Seventh Son 1

Diambil dari novel The Spooks’s Apprentice karangan Joseph Delaney, Seventh Son (2014) hadir di bioskop-bioskop pada akhir tahun 2014 dan awal tahun 2015. Pada Seventh Son (2014), dikisahkan perseteruan antara manusia dengan mahluk-mahluk supranatural yang jahat di era kerajaan Eropa dahulu kala.

Di antara bangsa manusia yang hidup di masa tersebut, terdapat kesatria-kesatria yang mengabdikan hidupnya untuk memburu & memusnahkan mahluk-mahluk supranatural jahat yang mengganggu kehidupan manusia. Semua kesatria-kesatria tersebut merupakan anak ketujuh dari anak ketujuh. Menjadi anak ketujuh dari anak ketujuh merupakan syarat mutlak untuk bergabung. John Gregory (Jeff Bridges) adalah salah satu kesatria yang baru saja mengangkat Tom Ward (Ben Barnes) sebagai muridnya. Tom memang masih sangat muda namun Tom bukan anak ketujuh dari anak ketujuh biasa. Tom lain dari yang lain, ia memiliki kemampuan-kemampuan khusus yang tidak dimiliki Gregory. Dari mana ia memperoleh kekuatannya akan kita diketahui pada bagian akhir Seventh Son (2014) ;).

Seventh Son 8

Seventh Son 5

Seventh Son 13

Seventh Son 9

Kali ini Gregory & Tom memiliki misi untuk membasmi Malkin (Julianne Moore), penyihir jahat paling kuat yang dulu pernah Gregory tangkap. Sekarang Malkin berhasil meloloskan diri dan mengumpulkan kembali para pengikut setianya untuk membalaskan dendamnya kepada Gregory dan umat manusia.

Seventh Son 11

Seventh Son 12

Seventh Son 6

Seventh Son 7

Bagi Malkin, perseteruannya dengan Gregory bersifat sangat pribadi karena mereka berdua memiliki sejarah yang panjang. Malkin menghalalkan segala cara untuk membunuh Gregory. Untuk memudahkan usahanya, seorang mata-mata dikirim untuk memata-matai Gregory dan Tom. Mata-mata yang merupakan keponakan Malkin, Alice Deane (Alicia Vikander), berhasil merayu Tom. Tom jatuh cinta kepada Alice meskipun Tom mengetahui siapa Alice sebenarnya, cinta memang buta ;). Perjalanan Gregory & Tom menuju sarang Malkin semakin sulit dengan hadirnya Alice.

Seventh Son 4

Sebenarnya Seventh Son (2014) memiliki beberapa elemen kejutan, suatu hal tak terduga yang belakangan baru diketahui, tapi sayang eksekusinya kurang greget sehingga semuanya nampak datar-datar saja. Untunglah terdapat kelucuan-kelucuan dari Jeff Bridges yang terkadang mampu menghilangkan rasa bosan saya. Special effect yang ditampilkan pun lumayan bagus, begitu pula dengan adegan perkelahiannya. . . yaaaa lumayanlaaah.

Seventh Son 2

Seventh Son 14

Seventh Son 10

Dengan demikian, Seventh Son (2014) hanya dapat memperoleh nilai 3 dari skala maksimum 5 yang artinya “Lumayan”. Ini di luar ekspektasi saya, sebelum menonton Seventh Son (2014), saya pikir film ini akan memperoleh nilai 4 dari saya.

Sumber: www.seventhson-film.com/ww/