Toy Story 4 (2019)

Kehadiran Toy Story 4 (2019) pada awal tahun ini agak mengejutkan bagi saya. Saya kira, Toy Story akan menjadi sebuah trilogi yang terdiri dari Toy Story (1995), Toy Story 2 (1999) dan ditutup Toy Story 3 (2010). Saya menonton 2 film pertama Toy Story ketika masih sekolah dan merasa tidak ada yang spesial dari kedua film tersebut. Yaaaah memang hubungan emosional mainan dan majikannya banyak ditonjolkan di sana, tapi itu tidak ada apa-apanya dibandingkan Toy Story 3 (2010).

Film ketiga ini tetap mengangkat petualangan kisah sekelompok mainan yang dipimpin oleh Sheriff Woody (Tom Hanks). Majikan Woody dan kawan-kawan sudah beranjak dewasa dan … saatnya untuk mengucapkan selamat tinggal. Di sana, Woody dan kawan-kawan berhasil memberikan ucapan selamat tinggal yang sangat manis dan mengharukan. Toy Story (1995) dan Toy Story 2 (1999) yang awalnya tak terlalu bermakna bagi saya, seketika itu pula menjadi memori yang mengharukan. Bravo Toy Story 3 (2010) !

Ahhh nampaknya kesusksesan Toy Story 3 (2010) membuka jalan lebar untuk menjadikan Toy Story sebagai sebuah franchise yang memiliki banyak film. Toy Story 4 (2019) bisa dibilang sebagai pembuka jalan menuju franchise tersebut. Penutupan yang sudah tersusun rapih pada Toy Story 3 (2010), kembali dibongkar dan digali pada film keempat ini.

Dikisahkkan bahwa, di tangan majikan barunya, Woody kehilangan posisinya sebagai mainan favorit. Ia seperti maina biasa yang tidak terlalu penting. Semua berubah ketika majikan Woody membuat mainan baru dari sebuah garpu. Seketika itu pula garpu tersebut menjelma menjadi mainan dengan nama Forky (Tony Hale). Forky berhasil menjadi mainan favorit sang majikan. Sayang jiwa Forky tetaplah jiwa sebuah garpu sekali pakai yang siap dibuang. Tujuan hidup Forky bukanlah tujuan hidup sebuah mainan. Di sini Woody tidak berusaha untuk merebut posisi Forky. Ia justru berjuang keras agar Forky dapat menjadi mainan favorit yang baik demi kebahagiaan majikannya. Saya melihat berbagai kelucuan di sini, karena tingkah Forky memang agak gila dan konyol :D.

Posisi yang Forky miliki merupakan posisi impian dari semua main di dunia Toy Story. Pada dunia Toy Story, setiap mainan memiliki tujuan hidup untuk bermain bersama majikannya. Sayang tidak semua mainan dapat seberuntung Forky. Hah inilah yang dijadikan topik utama dari Toy Story 4 (2019). Tidak ada karakter yang benar-benar jahat di sana. Yang ada hanyalah perbedaan sikap dari mainan-mainan dalam penyikapi takdir yang menghampiri. Entah sejak awal keluar pabrik gagal menarik perhatian seorang anak pun, atau mulai redup dan ditinggalkan seperti Woody.

Saya kagum dengan karakter Woody yang tetap setia pada tujuan hidupnya walau badai menerpa. Ia seakan rela mengorbankkan apapun demi melihat seorang anak tersenyum bahagia :). Bagamana dengan Woody sendiri? Apakah ia bahagia? Kebahagiaan baru Woody nampaknya ada pada sebuah maninan porselen berwujud wanita cantik, Bo Peep (Annie Potts). Ok, jadi jelas yaaaa, di Toy Story 4 (2019) ini terdapat sedikit romansa antara Woody dan Bo Peep, bukan Woody dan Buzz atau karakter lelaki. Woody dan Bo Peep terlihat sangat heteroseksual, tidak homoseksual atau biseksual sama sekali. Ini mematahkan pengumuman yang mengatakan bahwa Woody akan menjadi karakter biseksual pertama Disney. Yah sepertinya pengumuman tersebut dibuat untuk menarik perhatian kaum LGBT untuk datang menonton Toy Story 4 (2019) di bioskop ya hehehehehehe.

Terlepas dari orientasi seksual karakternya, Toy Story 4 (2019) tetap tidak semengharukan Toy Story 3 (2010). Tapi rasanya Toy Srory 4 (2019) masih layak untuk memperoleh nilai 4 dari skala maksimum 5 yang artinya “Lumayan”. Semuanya terimakasih kepada dan Woody yang sangat bijak dan Forky yang lucu, hehehehe.

Sumber: toystory.disney.com

Iklan

Cloud Atlas (2012)

CloudAtlas1Cloud Atlas adalah film drama fiksi ilmiah yang diambil dari novel David Mitchel dengan judul yang sama. Film ini menceritakan 6 kisah dengan tempat & waktu yang berbeda namun diceritakan dengan bergantian. Keenam cerita tersebut antara lain adalah:

1. Laut Pasifik Selatan, 1849. Adam Ewing (Jim Sturgess), seorang pengacara dari Amerika yang berkunjung ke sebuah pulau dan bertemu dengan seorang budak yang merubah hidupnya.

CLOUD ATLASCLOUD ATLAS2. Skotlandia & Inggris, 1936. Robert Frobisher (Ben Whishaw), seorang musisi bisexual yang bekerja kepada seorang komposer ternama yang licik.

CloudAtlas4CLOUD ATLAS

  1. California, 1973. Luisa Rey (Halle Berry), seorang jurnalis yang berusaha menyelidiki konspirasi pembangunan pembangkit listrik tenaga nuklir.

CloudAtlas6

???????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????

  1. Inggris, 2012. Timothy Cavendish (Jim Broadbent), seorang penerbit tua yang dijebak masuk ke panti jompo oleh saudaranya sendiri.

CLOUD ATLAS

CLOUD ATLAS

5. Neo Seoul, Korea, 2144. Sonmi-451 (Doona Bae), seorang hasil dari kloning yang bekerja di restoran. Pertemuannya dengan kaum pemberontak, membawa Sonmi-451 ke dalam perseteruan antara pemerintah dengan kaum pemberontak yang disebut “Union”.

CloudAtlas11

CloudAtlas10

6. Sebuah pulau di masa depan. Zachry (Tom Hanks) yang dibayang-bayangi oleh halusinasi akan sisi buruknya, berusaha menolong Meronym (Halle Berry) untuk mencapai puncak gunung yang dianggap sakral oleh suku Zachry. Diam-diam, cinta mulai muncul diantara kedua insan ini.

CloudAtlas12

CLOUD ATLAS

Meski didukung oleh sederetan pemain-pemain ternama, film ini kurang memuaskan. Keenam cerita yang ada pada film ini tidak dihubungkan dengan baik sehingga saya merasa seperti menonton film yang di dalamnya ada 6 kisah yang tidak berhubungan antara satu dengan lainnya. Benang merah antara kisah-kisah tersebut kurang terlihat bagi orang awam seperti saya. Menurut saya, film ini hanya layak mendapat nilai 2 dari skala maksimum 5 yang artinya “Kurang Bagus”. Saya tidak merekomendasikan menonton film ini di bioskop, lebih baik lihat DVD-nya saja.

Sumber: cloudatlas.warnerbros.com