Monster Hunter (2021)

Paul William Scott Anderson adalah sutradara asal Inggris yang sudah beberapa kali membuat film berdasarkan video game. Tanpa saya sadari, Resident Evil adalah salah satunya. Franchise film Resident Evil ternyata sudah beberapa kali menggunakan jasa Anderson, termasuk seri terakhirnya, Resident Evil: The Final Chapter (2016).

Milla Jovovich sebagai pemeran utama film-filmnya Resident Evil, diangkut oleh Anderson ke Monster Hunter (2021). Pasangan suami istri tersebut kembali membuat film berdasarkan sebuah video game besutan Capcom. Saya pernah bermain Monster Hunter di PSP. Selain pakaian dan bentuk monsternya, tidak ada yang menunjukkan bahwa Monster Hunter (2021) merupakan versi film dari video game Monster Hunter. Ceritanya dibuat agak berbeda dan sepertinya ada kesengajaan agar Monster Hunter (2021) dapat melahirkan sekuel-sekuel seperti Resident Evil (2002).

Dikisahkan bahwa Kapten Artemis (Milla Jovovich) dan pasukannya, tidak sengaja masuk ke dalam sebuah dunia lain. Dunia dimana terdapat monster berukuran jumbo di mana-mana, inilah dunia Monster Hunter. Setelah kehilangan semua anak buahnya, Artemis bertemu dengan seorang pemburu yang diperankan oleh Tony Jaa. Sangat klise, kedua tokoh utama, pada awalnya saling serang. Kemudian pada akhirnya mereka harus bekerja sama. Perbedaan antara Artemis dan Sang Pemburu pun dijadikan sebagai bahan humor. Sesuatu yang klise pula, dan gagal. Humornya terbilang garing kering krontang.

Beruntung special effect Monster Hunter (2021) terbilang bagus. Dunia yang dihadirkan pun nampak nyata dan berhasil mendukung adegan aksi yang … biasa, hehehehe. Maaf, tapi tanpa special effect yang mahal, adegan aksinya memang terbilang standard. Special effect adalah yang membuat film ini mampu menghasilkan hiburan ringan yang lumayan bagus.

Cerita dan karakter yang klise yang dangkal, masih terselamatkan oleh berbagai adegan aksi yang mendominasi sebagian besar film. Dengan segala kelebihan dan kekurangannya, Monster Hunter (2021) masih layak untuk memperoleh nilai 3 dari skala maksimum 5 yang artinya “Lumayan”.

Sumber: http://www.sonypictures.com/movies/monsterhunter

xXx: Return of Xander Cage (2017)

Seri ketiga film Triple X atau XXX kembali hadir dengan menampilkan kembali Xander Cage, agen XXX pada film pertama Triple X yaitu XXX (2002). Setelah menghilang pada XXX: State of the Union (2005), Xander Cage (Vin Diesel) kembali menjadi agen XXX pada xXx: Return of Xander Cage (2016). Pada XXX (2002), Cage direkrut oleh Augustus Eugene Gibbons (Samuel L. Jackson) untuk menjadi agen XXX yang tangguh dan mampu menyelamatkan dunia. Posisi Cage sebagai agen XXX sempat tergantikan oleh Darius Stone (Ice Cube) pada XXX: State of the Union (2005). Saya pikir film-film Triple X akan menggunakan agen XXX yang berbeda di setiap filmnya, ahhh ternyata saya salah. Xander Cage (Vin Diesel) kembali dihadirkan pada xXx: Return of Xander Cage (2016), mungkinkah karena nama besar Vin Diesel dianggap mampu mendongkrak pendapatan film ini? Kalau dilihat dari pendapatan sampai saat ini, sepertinya xXx: Return of Xander Cage (2016) memang sudah meraup keuntungan melebihi XXX: State of the Union (2005).

Apakah hanya nama Vin Diesel saja yang diandalkan? Tentu tidak, kali ini XXX harus berhadapan dengan Xiang (Donnie Yen), Serena Unger (Deepika Padukone), Taloon (Tony Jaa) dan Hawk (Michael Bisping) yang telah mencuri Pandora Box, sebuah alat militer canggih yang mampu mengendalikan satelit manapun di angkasa. Untuk memgambil kembali Pandora Box, Cage dibantu oleh Adele Wolff (Ruby Rose), Rebecca “Becky” Clearidge (Nina Dobrev), Tennyson “The Torch” (Rory McCann) dan Harvard “Nicks” Zhou (Kris Wu).

Seperti film-film Triple X sebelumnya, xXx: Return of Xander Cage (2016) menghadirkan banyak aksi, aksi dan aksi di mana-mana, mulai dari yang keren sampai yang berlebihan dan jauh dari akal sehat. Didukung dengan jalan cerita yang klise dan tidak segar, xXx: Return of Xander Cage (2016) seolah menjadi film aksi yang miskin cerita, yaaahhh isinya hanya begitu-begitu saja.

 

Keterlibatan rumah produksi asal Tiongkok memang membawa porsi yang besar bagi aktor-aktor laga Asia untuk unjuk gigi dan memberikan warna baru. Tapi sayang itu belum cukup untuk mendongkrak kualitas xXx: Return of Xander Cage (2016) di mata saya. Saya masih lebih suka dengan XXX: State of the Union (2005) dibandingkan xXx: Return of Xander Cage (2016) meskipun film kedua Triple X praktis hanya mengandalkan nama Ice Cube sebagai pemeran utamanya.

Maaf Mas Xander Cage, film yang menampilkan kehadiran kembali panjenengan hanya mampu memperoleh nilai 2 dari skala maksimum 5 yang artinya “Kurang Bagus”. Kalau teman-teman mau menonton film dengan beberapa aksi akrobatik yang memukau, silahkan tonton xXx: Return of Xander Cage (2016). Tapi kalau mau menonton film aksi dengan alur cerita yang menarik, sebaiknya cari film lain saja :).

Sumber: http://www.returnofxandercage.com