Pengalaman Membeli Mobil Perdana Kami

Menjelang akhir tahun 2014 lalu saya berniat untuk membeli mobil yang akan saya pergunakan di sekitar Jabodetabek. Karena saya kurang faham akan mesin dan serba serbi tentang mobil, saya berencana membeli mobil baru saja, bukan mobil bekas, takut salah beli, mobil itu bukan barang murah bagi saya. Setiap mobil memiliki waktu pakai masing-masing, mobil bekas sudah pasti usia pakainya lebih tua dibandingkan mobil bekas. Selain itu kita tidak tahu apa saja yang pernah menimpa mobil bekas tersebut, pernah kena banjir, kecelakaan atau lainnya. Sebenarnya semuanya tidak masalah andaikan kita lihai dan faham akan serba serbi permobilan. Bagaimanapun juga, mobil bekas sopasti lebih murah ketimbang mobil baru lhooh.

Setelah memutuskan untuk membeli mobil baru, saya berburu ke dealer-dealer mobil terdekat. Awalnya saya bingung ingin memilih untuk membeli mobil yang seperti apa jenisnya. Kalau dari bentuk, saya pribadi lebih senang dengan mobil jip seperti Toyota Rush, Mitsubishi Pajero dan kawan-kawan. Berhubung pengguna mobil ini nantinya bukan saya seorang saja, melainkan istri saya juga, mobil dengan bentuk jip tidak masuk lagi ke dalam kategori pencarian saya. Maka saya mulai mempertimbangkan fungsi dan harga dalam pencarian mobil ini.

Mobil Pajero

Mitsubishi Pajero

Mobil Pajero Spec1

Spec Pajero

Mobil Pajero Spec2

Spec Pajero

Kalau dilihat dari fungsi dan harga, sepertinya mobil-mobil 3 baris tempat duduk seperti Toyota Avanza, Daihatsu Xenia, Honda Mobilio, Suzuki Ertiga dan kawan-kawan akan lebih cocok bagi saya dan istri saya. Karena di akhir tahun 2014 lalu Toyota Avanza diskon gila-gilaan untuk menghabiskan stok 2014, saya pribadi sangat tergoda untuk membelinya, sayang istri saya kurang senang dengan Toyota Avanza karena bentuknya terlalu pasaran, membosankan dan kurang bagus. Weleh-weleh, entah kenapa saya sedikit setuju juga dengan pendapat tersebut, bentuk Avanza dan Xenia memang sudah lama seperti itu saja, tidak berevolusi.

Mobil Avanza 1

Toyota Avanza

Mobil Avanza 2

Fitur & Spec Avanza Veloz

Hhhhmmmm, kalau begitu mobil apa yah yang kira-kira cocok? Setelah browsing-browsing, akhirnya kami tergoda dengan Chevrolet Spin, mobil 3 baris tempat duduk yang bermesin diesel dengan cc rendah (1,3 cc) dan dirakit di Bekasi. Sayang belakang baru diketahui bahwa pabrik GE (General Motors) yang merakit Chevrolet Spin di Bekasi akan ditutup dan karyawannya terkena PHK semua :(. Terlepas dari tutupnya pabrik tersebut, saya tergoda dengan hadirnya mesin diesel cc kecil, biasanya mesin diesel memiliki cc yang besar, cc besar biasanya lebih boros bahan bakar. Harga mesin diesel sendiri sebenarnya relatif lebih mahal mahal ketimbang mesin berbahan bakar bensin biasa, namun mesin diesel lebih sederhana dan relatif lebih kuat, perawatannya cenderung tidak banyak mengeluarkan biaya, selain itu harga Solar lebih murah dibandingkan harga Premium atau Pertamax. Sayang sekali ketika saya hampir membayar DP ke dealer Chevrolet, saya & istri saya berubah pikiran. Selain harga jual mobil bekas non Jepang biasanya turun drastis dan suku cadangnya pun relatif mahal serta sulit diperoleh, kami memutuskan untuk mengalokasikan sebagian dana yang kami miliki untuk membangun rumah. Terpaksalah kami harus mencari mobil dengan harga yang lebih rendah lagi. Hmmmm bingung lagi deh mau mobil yang seperti apa :(.

Mobil Spin 1

Chevrolet Spin

Mobil Spin 2

Spec Spin

Spec Spin

Spec Spin

Berhubung Nissan March saat itu sedang discount besar juga dan harganya dibawah Toyota Avanza atau Chevrolet Spin, maka saya & istri saya datang ke dealer Nissan untuk test drive dan tanya-tanya. Mulai saat itu kami memutuskan untuk membeli mobil tipe hatchback. Memang sih kapasitasnya terbatas, tapi kalau dipikir-pikir toh kami belum memiliki anak. Kalaupun nanti ada anak, rasanya mobil berkapasitas 4 sampai 5 orang seperti Nissan March masih dapat dipergunakan. Selain itu, kami saat ini masih tinggal di Apartemen yang parkirannya amit-amit penuhnya. Parkirnya relatif sulit karena agak mepet-mepet, lebih praktis kalau menggunakan mobil kecil. Tapi sebenarnya saya pribadi kurang suka dengan bentuk Nissan March sejak awal. Maaf tapi menurut saya bentuknya agak “culun”. Untunglah tambahan disain V di bagian depan Nissan March terbaru memang berhasil memperganteng tampilan Nissan March, meskipun setelah dipikir-pikir, . . . . yaaa tetap kurang ok juga :’D.

Mobil March 1

Nissan March

Mobil March 2

Fitur Nissan March

Mobil March 3

Spec March

Setelah lama berfikir, akhirnya kami memutuskan untuk turun derajat lagi. Kami mulai melihat mobil-mobil tipe termurah dari produsen mobil Jepang terkemuka yang mayoritas dihuni oleh mobil-mobil hatchback mungil dan masuk ke dalam kategori LCGC (Low Cost Green Car). Apa itu LCGC? Teorinya sih LCGC adalah mobil murah ramah lingkungan. Terlepas dari perdebatan politis apakah LCGC benar berguna bagi bangsa dan negara atau tidak, saya tertarik untuk meninjau kemungkinan membeli mobiil LCGC. Mobil yang masuk ke dalam spesifikasi LCGC pastilah mengalami downgrade dibandingkan produk lainnya meskipun sudah memperoleh keringanan pajak dari pemerintah. Sepengetahuan saya, ada 5 mobil LCGC yang saat itu beredar di Indonesia, yaitu Suzuki Karimun Wagon R, Datsun Go+ Panca, Honda Brio Satya, Toyota Agya dan Daihatsu Ayla. Wah wah wah, mau pilih yang mana ya?

Mobil Datsun 1

Datsun Go+ Panca

Mobil Datsun 2

Spect Datsun Go+ Panca

Mobil Karimun 1

Suzuki Karimun Wagon R

Mobil Karimun 2

Spec Karimun Wagon R

Mobil Agya Ayla 1

Toyota Agya

Mobil Agya Ayla 2

Spec Toyota Agya

Brio 1

Honda Brio Satya

Brio 3

Spec Honda Brio

Keenamnya memiliki harga yang beti alias beda-beda tipis, mirip, tak jauh berbeda. Datsun Go+ Panca lebih dahulu tereleminasi karena kasus knuckle dan cakramnya yang berkarat. Walaupun jawaban resmi dari Datsun adalah bahwa komponen tersebut memang tidak dilapisi anti karat tapi Datsun menjamin kekuatan dan umur dari komponen tersebut, saya termasuk orang yang tidak mau mengambil resiko, apalagi Datsun bukanlah merk yang terbilang populer di Indonesia belakangan ini.

Melihat dari bentuk, spesifikasi keamanan dan jumlah silinder, singkat kata akhirnya kami memilih untuk membeli Honda Brio Satya karena Honda Brio Satya memiliki 4 silinder, bentuk yang sesuai dengan selera kami dan fitur keamanan yang relatif lebih lengkap dibandingkan para pesaingnya. Mobil 4 silinder tentunya relatif lebih kuat dan memiliki getaran yang lebih sedikit dibandingkan mobil 3 silinder. Fitur keselamatan Honda Brio Satya pun relatif lebih lengkap dan meyakinkan karena dilengkapi oleh dual SRS airbag, ABS + EBD, pretensioner with load limiter seatbelt & G-CON + ACE.

Brio 4

Exterior Brio Satya

Brio 5

Interior Brio Satya

Brio 6

Interior Brio Satya

Brio 7

Fitur Keamanan Brio

Brio 8

Fitur Keamanan Brio

Kelemahan Honda Brio adalah pada bagian belakangnya yang didominasi oleh kaca, yaahh mirip Honda Civic tahun 80-an. Masalahnya apakah kaca tersebut cukup kuat? Saya percaya bagian belakangnya cukup kuat karena saya melihat demo membanting bagasi belakang Honda Brio dan hasilnya tidak retak atau pecah. Selain itu saya belum mendengar banyak kasus terkait masalah pada bagian belakang “mobil setrikaan” ini.

Brio 2

Bagian Belakang Honda Brio

Oh iya, ada satu lagi kelemahan Honda Brio Satya. Mobil ini dijual oleh dealer Honda yang terkenal pelit diskon atau promo :(. Hal ini sangat kontras bila dibandingkan dengan para pesaingnya. Akhirnya setelah berputar-putar dari 1 dealer Honda ke dealer Honda lainnya, akhirnya kami menemukan sales Honda yang relatif banyak memberikan promo dan diskon dibandingkan sales lainnya. Meskipun bekerja kepada 1 dealer yang sama, setiap sales bisa saja memberikan promo dan diskon yang berbeda-beda lhooo, tergantung orangnya ;).

Setelah test drive, akhirnya kami jadi membeli Honda Brio Satya merah walaupun konon warna mobil selain warna hitam, abu-abu atau putih relatif sulit dijual. Saya bosan dengan mobil warna abu-abu atau putih karena warna mobil saya sebelumnya berwarna abu-abut dan putih. Yah sudahlah, toh kami bukan tipe orang yang bosenan atau gonta ganti mobil. Rencananya mobil ini akan kami pergunakan sampai “habis” masa pakainya, sampai mogok-mogok tak jelas suatu hari nanti :).

Untuk tipe Honda Brio Satya yang kami beli, kami memilih tipe E dengan transmisi manual. Tipe E memang tipe yang paling lengkap dan mahal, tapi itu sebanding karena interiornya memang lebih bagus ketimbang 2 tipe di bawahnya. Pada awalnya kami ingin membeli Honda Brio Satya E yang bertransmisi automatic, tapi melihat jeda harga sekitar 20 juta-an, yaaah lebih baik kami membeli Brio Satya E yang bertransmisi manual saja. Mobil-mobil manual jaman sekarang sudah empuk dan ringan kok perpindahan giginya, tidak seperti mobil-mobil manual jadul yang pernah saya miliki sebelumnya x__x.

Brio 9

Tipe-Tipe Honda Brio

Setelah beberapa bulan mobil tersebut saya pergunakan di jalanan Jakarta yang macet, ternyata bensinnya sekitar 1:11, tidak sehemat yang saya prediksi sih :(. Apalagi kalau saya lihat di manual Honda Brio Satya, kendaraan mungil ini didisain untuk menggunakan bahan bakar RON (Research Octane Number) 90 ke atas padahal saya biasa menggunakan bensin Premium (RON 88). Bahan bakar di Indonesia yang memiliki nilai RON di atas 90 adalah Pertamax (RON 92), Pertamax Plus (RON 95), Shell Super (RON 92), Shell V-Power (RON 95) dan lain-lain, yang pasti harga per liternya lebih mahal daripada Premium :(. Kalau saya tetap menggunakan Premium, maka pembakaran di karburator mobil saya tidak akan optimum karena bahan bakar terbakar tidak pada waktu yang tepat sehingga terjadi detonasi pada mesin yang pada akhirnya akan mengurangi “usia” mesin mobil saya. Kalau mobil ini ingin saya pergunakan kira-kira sampai 4 atau 5 tahun, sebaiknya saya menggunakan Premium saja, toh pemilik setelah saya yang akan terkena dampaknya hehehehe. Tapi kalau saya bermaksud untuk menggunakan mobil ini sampai lebih dari 5 tahun, yaa dengan berat hati sebaiknya saya menggunakan Pertamax dan kawan-kawan :(, … entah … sampai saat ini saya masih menggunakan Shell Super tapi bukan tidak mungkin besok saya pindah ke Premium karena faktor harga.

Walaupun tidak sehemat yang saya prediksi dan didisain untuk menggunakan bahan bakar non subsidi, mobil yang saya beli tersebut ternyata cukup nyaman kalau dipergunakan ke luar kota seperti Puncak. Tidak ada masalah ketika kami bermacet ria di jalanan yang menanjak :).

Setelah seharian dipergunakan, entah di dalam kota atau di Puncak, mobil tentunya harus dicuci. Saya biasa mencuci mobil sendiri, lebih hemat hohohoho. Ketika sedang mencuci mobil tersebut, saya merasakan dan melihat bahwa plat body-nya Honda Brio Satya ini terasa tipis, berbeda dengan Honda New Brio (CBU). Plat Honda Brio Satya memang lebih “kaleng” dibandingkan plat Honda Jazz dulu yang pernah saya kemudikan, yaaah namanya juga mobil LCGC, pastilah berbeda dengan Honda Jazz dan New Honda Brio (CBU) yang tergolong bukan mobil LCGC. Tapi paling tidak ketipisan plat body tersebut ternyata tidak membuat mobil bergoyang ketika mobil kami dilewati bus atau kendaraan besar berkecepatan tinggi ketika kami sedang melaju di jalan tol.

Dari segi penampilan, Honda Brio Satya sama saja dengan Honda Brio Sport (CBU) meskipun harganya jauh berbeda karena Honda Brio Sport (CBU) bukan mobil LCGC dan diimport dari luar. Banyak pemilik Honda Brio Satya yang mengubah stiker belakang supaya mobilnya dikira Honda Brio Sport (CBU). Bah, percuma, setiap saya melihat Honda Brio sopasti itu Honda Brio Satya kecuali kalau warnanya biru atau hijau. Perlu diketahui, warna biru dan hijau hanya dimiliki oleh Honda Brio Sport (CBU), sedangkan warna oranye hanya dimiliki oleh Honda Brio Satya. Sementara itu warna lainnya seperti merah, hitam, putih dan lain-lain dimiliki oleh Honda Brio Satya dan Honda Brio Sport (CBU) hehehehe.

Apapun warnanya, apapun tipenya, semurah apapun harganya, saya bersyukur sudah dapat membeli kendaran dengan jerih payah sendiri. Semoga berkah dan tidak kena baret motor :P. Pendapat saya di atas adalah pendapat saya pribadi, mohon maaf kalau ada yang menyinggung terutama teman-teman yang bekerja di bidang otomotif :).

Sumber: www.chevrolet.co.id, www.toyota.astra.co.id, www.honda-indonesia.com, www.daihatsu.co.id, www.suzuki.co.id, www.nissan.co.id, www.datsun.co.id.

Pemanfaatan Energi Air Untuk BTS Remote Area

Tulisan ini dibuat oleh rekan-rekan saya dari Magister Manajemen Telekomunikasi & Magister Manajemen Tenaga Listrik dan Energi Universitas Indonesia yaitu Irfan K. Putra, Hendra Gunawan & Jakson Harianto J. Sagala untuk memenuhi tugas mata kuliah Pemodelan & Simulasi Lanjut yang wajib dimuat di media massa atau blog. Formatnya sudah saya ubah tapi isinya kurang lebih masih original, selamat menikmati dan semoga dapat bermanfaat 😀

Abstrak Terus meningkatnya harga minyak dunia dan kelangkaan bahan bakar minyak solar berdampak pada pengoperasian BTS di daerah terpencil yang masih menggunakan generator set sebagai pembangkit listrik utamanya. Pemilihan alternatif energi sebagai pengganti BBM solar harus mengacu pada potensi energi terbarukan yang ada didaerah tersebut, teknologinya mudah, dan ekonomis. Dalam makalah ini, akan dijelaskan secara singkat mengenai teori, prinsip kerja, teknologi turbin air, dan aspek-aspek yang diperlu dipertimbangkan dalam perencanaan mikrohidro.

Kata kunci: PLTMH, BBM, turbin, generator set,BTS, debit air, tinggi jatuh, run off river, transmisi, distribusi

Ketergantungan pada energi fossil untuk menghidupkan BTS di remote area yang belum terjangkau jaringan PLN merupakan beban tersendiri bagi operator telekomunikasi. Beban tersebut akan semakin berat bila harga minyak dunia terus merangkak naik dari tahun ke tahun dan terjadi kelangkaan stok bahan bakar minyak (BBM) dipasaran, sedangkan disisi lain, pemerintah tidak memberi subsidi bagi industri yang menggunakan bahan bakar minyak untuk keberlangsungan proses produksinya.

1. PENDAHULUAN

Untuk mengatasi hal ini, maka perlu dicarikan alternatif energi yang harganya relatif murah dan ketersediaannya berlimpah serta terbarukan. Alternatif energi terbarukan yang bisa dimanfaatkan di Indonesia cukup banyak, diantaranya energi matahari, panas bumi, angin, biogas/biomassa, dan air. Menurut hasil survei dari JICA, potensi energi terbarukan di Indonesia yang terbesar adalah tenaga air yaitu sebesar 76.4GW, biomassa/biogas sebesar 49.8GW, dan panas bumi sebesar  29GW. Meskipun energi matahari sangat berlimpah yaitu sekitar 4.8 kWh/m2/day, tetapi efisiensi teknologi solarcell masih berkisar 6-16%. Untuk potensi tenaga angin di Indonesia berkisar 3-6 m/det. Nilai ini masih dibawah rata-rata angin yang dibutuhkan oleh turbin untuk menghasilkan listrik secara optimal yaitu 12 m/det.

Dalam makalah ini akan dibahas pemanfaatan energi air menjadi listrik yang merupakan potensi energi terbarukan terbesar di Indonesia untuk menghidupkan BTS di daerah terpencil.

2. DEFINISI, KLASIFIKASI & FORMULASI

Pembangkit listrik tenaga air pada prinsipnya memanfaatkan tinggi jatuh dan debit air untuk memutar sebuah turbin guna menghasilkan listrik. Berdasarkan kapasitas, pembangkit ini terbagi menjadi beberapa kelompok, yaitu picohydro (kap. ≤1kW), mikrohydro (kap. 1kW – 1 MW), minihydro (kap. 1-100MW), PLTA (kap. ≥100MW). Sedangkan berdasarkan tipe pembangkitan, pembangkit listrik ini terbagi menjadi: tipe reservoir dan tipe conduit/run off river.

Secara umum, formulasi untuk menghitung potensi hidrolik (Ph) adalah sebagai berikut:

Ph = ɳ x 9.8 x Q x h

Dimana:

ɳ = efisiensi turbin ~ 0.6

Q = debit air (m3/det)

h = head/tinggi jatuh

Namun demikian, tidak semua energi potensial yang terkandung pada air jatuh dapat dimanfaatkan karena adanya energi yang hilang akibat gesekan pada saat air tersebut mengalir melalui sebuah saluran sebelum mencapai turbin.

3. PRINSIP KERJA & JENIS TURBIN

Untuk aplikasi BTS yang hanya membutuhkan daya berkisar 1.5-5kW, maka pembangkit listrik yang digunakan adalah mikrohydro dengan tipe conduit atau run off river. Prinsip kerja pembangkit ini adalah mengalihkan sebagian aliran sungai dengan cara membendung sungai tersebut,  untuk dialirkan ke sebuah bak penenang, kemudian air dijatuhkan dari bak penenang melalui sebuah pipa penstock guna memutar turbin yang berada di didalam rumah pembangkit. Turbin tersebut tersambung secara mekanik dengan generator listrik. Listrik yang dihasilkan kemudian ditranmisikan atau didistribusikan melalui kabel ke beban-beban.

Air yang digunakan untuk memutar turbin dialirkan kembali ke sungai, begitu pula air limpahan dari bak penenang dan bendungan, sehingga ekosistem mahluk hidup didalam maupun dipinggiran sungai tetap terjaga meskipun pembangkit listrik mikrohidro ini beroperasi. Menjaga kelestarian hutan di hulu sungai sangatlah penting guna menjamin ketersediaan air sungai yang merupakan sumber energi primer pembangkit ini.

Jenis turbin yang digunakan pada pembangkit listrik tenaga air dikategorikan menjadi dua yaitu: turbin impulse, seperti turbin Pelton, Crossflow, Turgo-Impulse, dan turbin reaction, seperti turbin Francis, Propeller, Kaplan, Tubular. Pemilihan jenis turbin tergantung pada tinggi jatuh dan debit air sungai. Jenis turbin yang sudah dikembangkan di Indonesia adalah tubin crossflow dan propeller. Kedua jenis turbin ini dikenal lebih ekonomis dan mudah dikuasai teknologinya secara lokal.

4. STUDI KELAYAKAN

Sebelum pembangunan mikrohydro dimulai, ada dua hal yang harus diperhatikan yaitu studi teknis yang meliputi pengukuran debit air sungai dan ketinggian jatuh air, pemetaan topografi lokal, jaringan transmisi-distribusi, dan studi non teknis, yang meliputi aspek lingkungan, pemerintah setempat, sosial, dan ekonomi. Kedua studi tersebut sangat menentukan keberlangsungan umur dari pembangkit listrik mikrohydro (PLTMH).

4.1  Aspek Teknis

Pengukuran debit air sungai, idealnya dilakukan minimal satu tahun, dan debit air yang menjadi acuan adalah debit minimal pada bulan-bulan kemarau. Selain data pengukuran debit air yang digunakan, data curah hujan dari badan meteorologi dapat dimanfaatkan sebagai data sekunder atau data penguat.

Untuk jaringan transmisi-distribusi dari rumah pembangkit ke beban sebaiknya tidak melebihi dari 3 km. Semakin jauh jaraknya maka rugi-rugi daya pada jaringan akan semakin besar pula, dan membutuhkan investasi yang tidak sedikit untuk mengatasi hal tersebut terutama pada ukuran dan tipe kabel, tiang listrik dan penyediaan trafo.

4.2  Aspek Non-Teknis

Perijinan pemerintah dan masyarakat setempat terkait dengan penggunaan dan pemanfaatan lahan untuk lokasi PLTMH merupakan tantangan tersendiri dalam studi kelayakan ini. Sosialisasi adalah suatu cara yang terbukti efektif untuk mengatasi tantangan tersebut. Sharing daya listrik yang berlebih dari kebutuhan BTS kepada masyarakat seperti untuk penerangan lampu jalan, rumah ibadah, kantor pedesaan/kelurahan, dan layanan publik lainnya, dapat diterapkan untuk menjaga keberlangsungan pengoperasian PLTMH dalam jangka panjang.

Penggunaan energi air sebagai pengganti BBM solar untuk penggerak generator set yang umum digunakan oleh operator telekomunikasi di daerah terpencil, sangat menguntungkan perusahaan baik secara finansial maupun non-finansial.

Secara finansial, sumber energi primer pembangkit listrik mikrohydro ini hanya menggunakan air yang tersedia melimpah di alam dan tidak perlu mengeluarkan biaya untuk memanfaatkannya selama operasi. Berikut gambaran perbandingan biaya investasi dan operasi antara PLTMH  dan generator set di Sumalata-Gorontalo, yang digunakan untuk menyuplai listrik ke BTS salah satu operator telekomunikasi terkemuka di Indonesia. Biaya pembangkitan listrik dengan menggunakan PLTMH sebesar Rp130.2/kWh, sedangkan generator set sebesar Rp1,071.2/kWh untuk kapasitas 16kW.

Secara non-finansial, pengoperasian PLTMH tidak menghasilkan residu karena tidak ada proses pembakaran didalamnya. Beda halnya dengan generator set, residu yang dihasilkan berupa COx dan SOx dapat mencemari udara dan berakibat pada pemanasan global dalam jangka panjang. Reduksi emisi Karbon yang diperoleh dengan pemanfaatan PLTMH ini adalah 716 tCO2/kWh. Selain itu, suara generator set pada saat beroperasi dapat memicu isu dilingkungan warga sekitar lokasi BTS.

5. KESIMPULAN

Pengoperasian BTS didaerah terpencil dengan menggunakan generator set telah membuat biaya operasional perusahaan telekomunikasi menjadi naik. Apalagi, ditambah dengan harga minyak dunia yang terus berfluaktif dan tidak dapat diprediksi dikemudian hari. Pemanfaatan energi alternatif berupa pembangkit listrik tenaga mikrohidro terbukti mampu mengurangi biaya operasional dilokasi tersebut hingga 87%. Turbin yang digunakan sudah bisa dipabrikasi lokal sehingga memudahkan pada saat pemeliharaan dan perbaikan. Pada fase perencanaan PLTMH, selain aspek teknis, aspek non-teknis berupa lingkungan, pemerintah, sosial dan ekonomi juga perlu diperhatikan untuk menjamin keberlangsungan pengoperasian dari PLTMH itu sendiri.

6. REFERENSI

[1]. Presentasi Telkomsel Go Green, Power System Group, 2011.

[2]. Didi Sukaryadi, “Aspek-aspek penembangan mikrohidro dan implementasinya di Indonesia”, Puslitbangtek Ketenagalistrikan dan Energi Terbarukan, 2008.