Tomb Rider (2018)

Awalnya Tomb Rider merupakan video game petualangan dan teka-teki keluaran Eidos pada tahun 1996. Kemudian hadir sekuel video game – video game Tomb Rider pada berbagai perangkat dengan perusahaan pengembang yang berbeda. Setahu saya, video game Tomb Rider yang pada awalnya muncul di Sony PlayStation, sudah memiliki lebih dari 16 sekuel sampai saat ini. Pada game ini, tokoh Lara Croft hadir sebagai Indiana Jones versi wanita. Ia berpetualang memecahkan berbagai teka-teki dan misteri yang melibatkan artefak dan legenda kuno. Sesuatu yang kurang dapat digambarkan oleh 2 film Tomb Rider yang dibintangi oleh Angelina Jolie, yaitu Lara Croft: Tomb Rider (2001) dan Lara Croft Tomb Rider: The Cradle of Life (2003). Mampukah Tomb Rider (2018) berbuat lebih?

Tomb Rider (2018) menggunakan kisah pada video game Tomb Rider 2013 keluaran Square Enix. Sama seperti versi video game 2013, Tomb Rider (2018) adalah reboot dari kisah-kisah Tomb Rider sebelumnya. Kali ini Alicia Vikander memerankan Lara Croft muda yang kehilangan kedua orang tuanya. Sejak kematian istrinya, ayah Lara yaitu Lord Richard Croft (Dominic West), menghabiskan banyak waktunya untuk mempelajari mitos-mitos yang penuh misteri.

Salah satu mitos yang Richard dalami sebelum ia menghilang adalah mitos mengenai Himiko. Konon Himiko adalah ratu Jepang pertama yang menguasai Jepang dengan teror dan kegelapan. Hanya dengan sentuhan saja, Himiko mampu memberikan kematian bagi banyak orang. Pada suatu hari, Jendral-Jendral bawahan Himiko memberontak dan berhasil mengubur Himiko jauh di Pulau Yamatai. Keberadaan Pulau Yamatai selalu menjadi misteri yang belum terpecahkan. Konon, ada pihak-pihak yang berusaha mencari kuburan Himiko untuk membangkitkan kembali Sang Ratu tersebut. Ada dugaan bahwa kekuatan Himiko terperangkap di dalam Pulau Yamatai, menunggu untuk dibebaskan ke dunia luar.

Melalui catatan yang Lara temukan di ruangan bawah milik ayahnya, Lara menemukan petunjuk bahwa Richard berhasil menemukan Pulau Yamatai dan lokasi kuburan Hiromi. Lara langsung berangkat ke Hongkong dan menemui Lu Ren (Daniel Wu), kapten kapal Endurance yang dapat mengantarkan Lara ke Pulau Yamatai.

Perjalanan Lara dan Lu Ren penuh bahaya, karena mereka bukan hanya menghadapi ganasnya alam, teka-teki kuno dan jebakan kuburan, mereka harus berhadapan pula dengan sekelompok pasukan bersenjata yang dipimpin oleh Mathias Vogel (Walton Goggins). Vogel ternyata adalah arkeolog utusan Trinity, sebuah organisasi rahasia yang berambisi untuk mengambil dan menggunakan kekuatan Himiko untuk kepentingan organisasi tersebut.

Ahhhh, bagi yang sudah pernah bermain video game Tomb Rider 2013, pasti menyadari bahwa jalan cerita Tomb Rider (2018) sangat mirip dengan jalan cerita video game Tomb Rider 2013. Saya rasa Tomb Rider (2018) berhasil menginterpretasikan video game Tomb Rider 2013 ke dalam layar kaca dengan sangat baik. Para fans video game Tomb Rider tentunya akan puas dengan Tomb Rider (2018).

Karena dibuat berdasarkan sebuah video game, aspek-aspek ketidakmasukakalan tentunya akan terlihat pada Tomb Rider (2018). Akantetapi aspek-aspek tersebut tidak terlalu banyak dan fatal. Tomb Rider (2018) bahkan dapat dikatakan sebagai film Tomb Rider paling realistis yang pernah saya tonton. Lara Croft tidak nampak sebagai jagoan wanita yang super kuat. Berkat akting Alicia Vikander yang bagus, Lara Croft nampak lebih manusiawi ketimbang Lara Croft versi Angelina Jolie. Pada Tomb Rider (2018), Lara dapat merasakan kekalahan ketika bertarung, ketakutan ketika berhadapan dengan bahaya, dan kaget ketika mengambil nyawa orang lain untuk pertama kalinya.

Poin-poin positif di atas semakin berkilau karena dikemas dengan jalan cerita yang lumayan bagus dan tidak membosankan. Memang sih, tidak ada momen wow atau fantastis pada Tomb Rider (2018). Penyelesaian teka-teki yang ada pun tidak terlalu detail, film ini hanya menunjukkan kepiawaian Lara menyelesaikan teka-teki tapi penonton diberitahukan apa yang terjadi di sana. Tapi film ini tetap mampu memberikan suguhan film aksi dan petualangan yang menyenangkan untuk dilihat baik bagi fans video game Tomb Raider maupun bagi teman-teman yang belum pernah tahu apa itu Tomb Rider. Bagian akhir yang membeberkan kenyataan akan Himiko benar-benar cerdas dan berhasil menggabungkan mitos dengan kenyataan sehingga apa yang terjadi pada Himiko menjadi masuk akal.

Kalau ditanya, jelas saya lebih suka dengan Tomb Rider (2018), ketimbang Lara Croft: Tomb Rider (2001) dan Lara Croft Tomb Rider: The Cradle of Life (2003). Tomb Rider (2018) sudah sepantasnya memperoleh nilai 4 dari skala maksimum 5 yang artinya “Bagus”.

Sumber: http://www.tombridermovie.com

Iklan

Atomic Blonde (2017)

Mengambil era menjelang keruntuhan tembok Berlin di tahun 1989, Atomic Blonde (2017) mengisahkan perebutan sebuah daftar nama mata-mata yang aktif beroperasi di Berlin. Konon daftar tersebut mencantumkan pula detail mengenai Satchel, seorang mata-mata yang bekerja untuk KGB/Rusia dan MI6/Inggris. Identitas Satchel lah yang membuat KGB dan MI6 saling bunuh demi daftar tersebut.

MI6 mengirim Lorraine Broughton (Charlize Theron) untuk mengambil daftar tersebut. Di Berlin, Lorraine akan didukung oleh agen MI6 lainnya, David Percival (James McAvoy). Bukannya bekerja sama, Lorraine dan David justru saling adu licik. Keduanya ternyata memiliki agenda dan kepentingan sendiri. Padahal keduanya harus berhadapan dengan agen-agen KGB yang dipimpin oleh Aleksander Bremovych (Roland Møller).

Pada akhirnya, setiap agen bertindak demi kepentingannya masing-masing. Arah dan keberpihakan tokoh-tokoh utama pada Atomic Blonde (2017) dibuat blur demi memunculkan kejutan. Sayang kejutan-kejutan yang berusaha ditampilkan, terbilang mudah ditebak. Sejak awal film pun saya sudah dapat menebak siapa Satchel itu sebenarnya.

Walaupun ceritanya relatif dapat ditebak, Charlize Theron berhasil memerankan seorang agen wanita yang tangguh yang rela menghalalkan segala cara demi meraih keinginannya. Penampilannya cukup meyakinkan lengkap dengan gaya rambut tahun 80-an yang khas. James McAvoy tetap mampu menampilkan akting yang prima seperti yang pernah ia berikan pada film-film lainnya.

Dengan demikian, saya rasa Atomic Blonde (2017) masih layak untuk memperoleh nilai 3 dari skala maksimum 5 yang artinya “Lumayan”. Saran saya, film ini jangan ditonton bersama anak-anak sebab pada film ini ada beberapa hal yang jauh melenceng dari budaya Indonesia.

Sumber: http://www.iamatomic.com

Alien: Covenant (2017)

Sewaktu masih kecil dulu, film-film Alien karya sutradara Ridley Scott berhasil menjadi film favorit saya. Diawali dengan Alien (1978), kemudian diikuti oleh beberapa sekuel yaitu Aliens (1986), Alien 3 (1992) dan Alien Resurrection (1997). Keempat film Alien di atas sama-sama mengisahkan teror di atas kapal atau stasiun luar angkasa oleh sebuah mahluk parasit yang menggunakan tubuh manusia sebagai tempat untuk bertelur. Ellen Ripley (Sigourney Weaver) adalah tokoh sentral keempat film tersebut yang mengawal benang merah kesinambungan jalan cerita antar film.

Alien (1979) dan Aliens (1986) berhasil memberikan tontonan yang menegangkan dengan cerita yang menarik. Jadi tidak hanya kejar mengejar di dalam kapal luar angkasa saja. Ada cerita lain di sana yang membuat kedua film tersebut lebih berkualitas dibandingkan film-film lain di eranya.

Sama seperti kedua pendahulunya, Alien 3 (1992) dan Alien Resurrection (1997) masih mengisahkan petualangan Ripley menghadapi mahluk luar angkasa di lorong-lorong sempit pesawat dan penjara luar angkasa. Sayang sekali, Alien 3 (1992) dan Alien Resurrection (1997) hanya menonjolkan adegan kejar mengejar saja, tiada cerita yang menarik di sana. Saya pribadi lebih memilih untuk menganggap bahwa petualangan Ripley berakhir di Aliens (1986).

Pada tahun 2012, Ridley Scott kembali menghadirkan mahluk luar angkasa yang menjadi lawan Ripley pada Prometheus (2012). Tapi film ini bukanlah sekuel dari Alien (1979), melainkan prekuel. Jadi Prometheus (2012) mengisahkan kisah sebelum Alien (1979). Asal muasal mahluk luar angkasa seolah tidak menjadi topik utama pada film tersebut. Asal muasal manusialah yang justru ditonjolkan pada film tersebut. Pencarian para awak kapal Prometheus terhadap pencipta manusia, justru membawa bencana bagi seluruh awak kapal. Prometheus (2012) jelas lebih menarik ketimbang Alien 3 (1992) dan Alien Resurrection (1997). Kabarnya Prometheus (2012) akan menjadi film pertama bagi trilogi prekuel Alien (1979).

Saya pikir, film setelah Prometheus (2012) akan berjudul Prometheus 2. Ow saya salah besar, Ridley Scott justru memilih judul Alien: Covenant. Alien: Covenant (2017) mengambil peristiwa sebelum Alien (1979) dan sesudah Prometheus (2012). Dikisahkan bahwa kapal luar angkasa Covenant membawa ribuan manusia yang hendak bermigrasi dari Bumi menuju planet lain yang layak untuk ditinggali. Di tengah-tengah perjalanan, terjadi kecelakaan yang membunuh kapten kapal Covenant dan membuat kapal Covenant berhenti sejenak. Ketika para penumpang lainnya masih ditidurkan di dalam kapsul es, para awak kapal dibangunkan untuk memperbaiki situasi. Mereka seharusnya ditidurkan di dalam kapsul es selama puluhan tahun dan akan dibangunkan ketika mereka tiba di Planet tujuan yaitu Origae-6.

Sayangnya, kapten kapal pengganti yaitu Chris Oram (Billy Crodup), memilih untuk mampir ke Planet yang baru terdeteksi ketika para awak kapal sedang memperbaiki Covenant. Planet tersebut nampak mirip dengan Bumi, bersahabat, layak dihuni dan posisinya jauh lebih dekat ketimbang Planet Origae-6. Keputusan Chris berujung bencana karena di Planet misterius yang kosong ini, mereka bertemu dengan David 8 (Michael Fassbender) lengkap dengan bibit mahluk luar angkasa parasit yang pernah hadir pada film-film Alien sebelumnya. David 8 sendiri adalah salah satu awak kapal Prometheus yang selamat pada Prometheus (2012). Di sini akan terungkap apa yang terjadi kepada awal kapal Prometheus yang tersisa setelah Prometheus (2012) berakhir. Sudah pasti, para awak kapal Covenant satu demi satu berguguran.

Uniknya, para awak kapal Covenant merupakan pasangan suami istri sehingga ketika salah satu terancam bahaya atau tewas, maka pengambilan keputusan pasangannya akan terpengaruh. Tennessee Faris (Danny McBride) beberapa kali mengambil keputusan sebagai pilot Covenant dengan dipengaruhi oleh emosi karena ketidakjelasan nasib istrinya yang juga seorang pilot. Chris, sebagai Kapten pengganti pun mengalami shock dan tidak mampu memimpin lagi ketika bahaya dan bencana menimpa istrinya yang berprofesi sebagai ahli Biologi Covenant. Chris sampai harus melimpahkan tampu kepemimpinan kepada Daniels (Katherine Waterston) yang sudah lebih dahulu kehilangan suaminya. Daniels adalah istri dari kapten Covenant pertama yang gugur ketika kecelakaan di awal film terjadi. Seperti film-film Alien sebelumnya, protagonis utama diperankan oleh seorang wanita berambut pendek yang tangguh seperti Daniels. Walaupun Daniels memang nampak lebih tabah dan tangguh, sangat sulit bagi Daniels untuk menyaingi Ellen Ripley, tokoh utama keempat film Alien pertama. Saya rasa tokoh Ripley lebih tangguh dan perkasa :’D.

Sepanjang film, terjadi kerjar mengejar antara awak kapal Covenant dengan mahluk luar angkasa. Pengejaran ini juga berlangsung di lorong-lorong pesawat luar angkasa yang sempit, mirip seperti film-film Alien sebelumnya. Sayang adegan kejar mengejar ini tidak ada gregetnya dan cenderung membosankan.

Hal ini semakin diperburuk dengan tidak adanya misteri atau sesuatu yang dapat membuat saya penasaran seperti pada Prometheus (2012). Awalnya saya berharap Alien: Covenant (2017) mampu memberikan sedikit jawaban akan misteri penciptaan manusia yang belum seluruhnya terungkap pada Prometheus (2012). Pertanyaan besar akan asal mula manusia yang digembar-gemborkan pada Prometheus (2012) seakan menguap tanpa sisa. Apakah ini karena Opa Ridley Scott takut akan kontroversi dan kemarahan dari para pemuka agama?

Ahhhh, Alien: Covenant (2017) benar-benar tidak sesuai ekspektasi saya. Film ini hanya mampu memperoleh nilai 2 dari skala maksimum 5 yang artinya “Kurang Bagus”. Walaupun bagian akhirnya menyisakan beberapa pertanyaan, saya ragu bahwa jawabannya akan muncul pada film Alien berikutnya. Lama kelamaan Alien akan menjadi salah satu franchise film yang bergulir tanpa arah yang jelas.

Sumber: http://www.alien-covenant.com

Pacific Rim Uprising (2018)

Seperti sebagian besar kaum Adam, saya senang menonton film superhero atau robot. Maka, ketika Pacific Rim Uprising (2018) muncul, saya langsung menonton filmnya :). Pacific Rim Uprising (2018) mengambil jalan cerita setelah peristiwa pada Pacific Rim (2013), tapi Pacific Rim Uprising (2018) dapat diperlakukan sebagai film baru yang independen. Teman-teman yang belum menonton Pacific Rim (2013), tidak akan kebingungan ketika menonton Pacific Rim Uprising (2018).

Sebagai pengantar, dikisahkan bahwa dulu, sekelompok mahluk asing mengirimkan monster-monster raksasa yang disebut Kaiju, ke Bumi m Berbedatahunelalui portal-portal yang terdapat di bawah Lautan Pasifik. Kaiju datang membawa kehancuran bagi seluruh penduduk Bumi. Melalui PPDC (The Pan Pacific Defence Corps), umat manusia memberikan perlawanan sengit. Untuk melawan Kaiju PPDC menggunakan robot-robot raksasa yang disebut Jaeger. Untuk mengendalikan sebuah Jaeger, diperlukan minimal 2 orang pilot. Bumi kembali damai setelah para pilot Jaeger, dengan dibantu para ilmuwan, berhasil menutup celah-celah portal di sepanjang Lautan Pasifik sehingga Kaiju tidak dapat menyerbu Bumi lagi.

Pada Pacific Rim Uprising (2018), kejadian di atas sudah berlalu 10 tahun yang lalu. 10 tahun lamanya, Bumi sudah tidak melihat Kaiju lagi. PPDC tetap hadir untuk berjaga-jaga bila pada suatu hari Kaiju hadir kembali di Bumi. Dengan bekerja sama dengan Shao Industries, PPDC memperoleh Jaeger-Jaeger baru yang lebih aman karena pengendaliannya seperti drone, semua dapat dikendalikan dari jarak jauh. Liwen Shao (Jing Tian) dan Dr. Newt Geiszler (Charlie Day) merupakan sutradara dibalik pengembangan Jaeger baru tersebut. Pemahaman Newt terhadap Kaiju dan Jaeger sudah tidak diragukan lagi karena dia dan Dr. Hermann Gottlieb (Burn Gorman) merupakan 2 ilmuwan yang memegang peranan penting ketika Jaeger berhasil menutup celah-celah pintu masuk Kaiju 10 tahun yang lalu. Keduanya sama-sama berhasil masuk ke dalam pikiran Kaiju dan pencipta Kaiju.

Pertempuran terakhir pada Pacific Rim (2013) telah merenggut nyawa para pilot Jaeger termasuk Jendral Stacker Pentecost (Idris Elba). Nama Pentecost harum dan identik dengan kisah heroik Stacker Pentecost dan kawan-kawan. Hal ini terkadang menjadi beban bagi anak kandung Stacker yaitu Jake Pentecost (John Boyega). Sayangnya, konflik dan masalah yang dihadapi Jake terasa hambar karena kurang dieksplotasi dengan baik. Padahal, Jake merupakan tokoh yang paling dominan pada Pacific Rim Uprising (2018). Jake bersama Nate Lambert (Scott Eastwood), mengemudikan Jaeger Gipsy Avenger yang legendaris. Loh, kemana pilot Gipsy Avenger sebelumnya? Bukankah mereka merupakan tokoh protagonis utama pada Pacific Rim (2013)? Yang muncul hanya Mako Mori (Rinko Kikuchi), ia pun hanya muncul sesaat sebagai pejabat tinggi PPDC. Nampaknya Pacific Rim (2013) mengikuti trend film-film sekuel zaman sekarang yang menghilangkan protagonis utama di film pertama dan kembali memunculkannya pada film ketiga … kalau ada :P. Protagonis utama Pacific Rim (2013), Raleigh Becket (Charlie Hunnam), benar-benar menghilang pada Pacific Rim Uprising (2018), ketenaran dan jasanya sama sekali tidak disebutkan. Hanya jasa Pentecost saja yang diagung-agungkan. Mungkinkah ia disimpan untuk film ketiga? …

Karakter-karakter bisa berganti, tapi Jaeger tetap akan selalu ada tentunya. Jaeger akan selalu menjadi magnet bagi film ini. Awalnya saya pikir Pacific Rim Uprising (2018) akan mengisahkan mengenai konflik antara perubahan sistem kemudi Jaeger yang dibawa oleh Shao Indistries. Perubahan yang tentunya akan mempengaruhi cara kerja PPDC, terutama pilot Jaeger.

Setelah saya menonton separuh Pacific Rim Uprising (2018), ternyata Shao Industries memang membawa masalah, tapi tidak diarah seperti yang saya duga. Dengan dibantu oleh pilot-pilot Jaeger junior yang minim pengalaman, Jake dan Nate harus berjibaku menghadapi kekacauan yang disebabkan oleh robot-robot canggih Shao Industries.

Sebagai pilot senior, Jake dan Nate memiliki beberapa murid yang sedang mereka ajar untuk menjadi pilot Jaeger. Amara Namani (Cailee Spaeny) merupakan salah satu murid Jake yang paling menonjol karena pengetahuannya yang sangat luas dan kemampuannya merakit Jaeger sendiri. Bersama-sama dengan Jake, Amara merupakan karakter protagonis yang dominan pada film ini. Masa lalu Amara pun mendapat jatah pada film ini, sebuah masa lalu yang harus Amara hadapi demi melangkah ke depan.

Peperangan yang Amara dan Jake hadapi didukung oleh special effect yang keren. Pertarungan yang melibatkan monster dan robot raksasa tentunya akan menjadi daya tarik yang kuat. Sayang, walaupun jalan ceritanya dibuat sedikit mengecoh, saya relatif lebih suka dengan jalan ceritanya Pacific Rim (2013).

Perubahan karakter utama yang memiliki nasib kurang lebih sama saja, rasanya menjadi sebuah kemubaziran. Jake pada Pacific Rim Uprising (2018) dan Raleigh pada Raleigh sama-sama harus menghadapi kesedihan akibat kehilangan keluarga dekat ketika mengemudikan Jaeger. Keduanya pun sama-sama “memberontak” terhadap kenyataan hidup yang ada.

Meskipun menurut saya kualitas Pacific Rim Uprising (2018) sedikit di bawah Pacific Rim (2013), rasanya Pacific Rim Uprising (2018) masih pantas untuk memperoleh nilai 3 dari skala maksimum 5 yang artinya “Lumayan”. Saya harap film ketiganya bisa lebih bagus lagi ;).

Sumber: http://www.pacificrimmovie.com

Peter Rabbit (2017)

Peter Rabbit

Pada sebuah akhir pekan, saya dan keluarga berniat untuk menonton film di bioskop. Berhubung saat itu Peter Rabbit (2017) adalah satu-satunya yang dapat ditonton bersama anak-anak, kami akhirnya memutuskan untuk menonton film tersebut. Peter Rabbit (2017) dibuat berdasarkan dongeng klasik karya Beatrix Pott. Film ini bukanlah film kartun, tapi lebih mirip seperti Paddington (2014), Peter Rabbit (2017) menggunakan special effect sehingga karakter-karakter binatang dapat nampak hadir dan berinteraksi langsung dengan para aktor/aktris. Saya akui visual pada Peter Rabbit (2017) nampak bagus dan halus. Tapi bagaimana dengan ceritanya?

Peter Rabbit

Peter Rabbit

Peter Rabbit

Mirip seperti pada versi dongengnya, Peter Rabbit (2017) berkisah seputar bagaimana Peter si kelinci (James Corden) pergi mengambil buah dan sayur dari kebun milik petani. Jauh berbeda dengan Paddington (2014), Peter adalah karakter utama yang pemberani, pantang menyerah tapi keras kepala, nakal dan pemberontak. Jangan harap akan menemukan kelinci-kelinci imut yang lembut pada film ini.

Peter adalah anak sulung di keluarganya. Bersama-sama dengan adik dan sepupunya, Peter pergi ke kebun milik Thomas McGregor (Domhnall Gleeson) untuk mengambil sayuran dan buah-buahan. Siapa yang senang kalau hasil kebunnya terus-menerus diambil kelinci? McGregor memasang berbagai jebakan dan penghalang di kebunnya. Peter dan kawan-kawan pun tidak kehilangan akal untuk terus dapat masuk ke dalam kebun milik McGregor.

Peter Rabbit

Perseteruan antara Peter dan McGregor beberapa kali harus terhenti karena kehadiran Bea (Rose Byrne). McGregor dan Bea saling jatuh cinta namun Bea berpendapat bahwa posisi manusia di area tempat tinggal mereka saat ini adalah sebagai pendatang. Kelinci seperti Peter adalah penduduk asli yang tidak seharusnya diusir dan dibiarkan kelaparan. Peter dan keluarganya sudah menjadi teman Bea jauh sebelum McGregor mengenal Bea.

Peter Rabbit

Perseteruan antara Peter dan McGregor yang diperumit dengan kehadiran Bea, terus mendominasi Peter Rabbit (2017). Banyak lelucon fisik yang dangkal di sana, banyak adegan fisik seperti terjatuh atau terpukul. Walaupun yang terjatuh atau terpukul itu adalah Peter, terkadang saya mengamini yang Peter hadapi karena ia memang pantas untuk menerima hal tersebut :’D. Di sini tidak ada yang antagonis atau protagonis, baik Peter dan McGregor terkadang sama-sama menggunakan cara yang kurang baik dengan alasan yang kurang baik pula. Sebuah contoh yang kurang cocok untuk dilihat oleh anak-anak kecil. Meskipun Peter ada di dalam judul film ini, saya tidak menganggap Peter sebagai karakter protagonis utama. Yang saya rasakan adalah terkadang Peter menjadi protagonis, terkadang antagonis. Alasan kenapa Peter melawan, kurang ditampilkan denga kuat sehingga terkadang Peter dan kawan-kawannya nampak seperti sekelompok kelinci nakal.

Peter Rabbit

Peter Rabbit

Peter Rabbit

Peter Rabbit

Peter Rabbit

Peter Rabbit

Terus terang film ini tidak sesuai ekspektasi saya. Saya sendiri hanya dapat memberikan nilai 2 dari skala maksimum 5 yang artinya “Kurang Bagus”. Film ini masih bisa dijadikan hiburan dan termasuk kategori film anak-anak, tapi saya sarankan untuk mendampingi anak-anak kecil ketika menonton film ini bersama mereka. Memang sih, dari versi dongengnya, Peter memang melakukan pencurian, tapi alangkah lebih baik bila karakter dibuat lebih “imut” dan “baik”. Apakah yang Peter lakukan itu benar atau salah dari beberapa sudut pandang, seharusnya dapat lebih ditonjolkan. Film ini justru menonjolkan adegan perseteruan di mana-mana, sayang sekali….

Sumber: http://www.peterrabbit-movie.com

Blade Runner 2049 (2017)

Blade Runner

Blade Runner 2049 (2017) merupakan sekuel dari Blade Runner (1982), sebuah film fiksi ilmiah yang dibuat berdasarkan novel karya Philip K. Dick dengan judul Do Android Dreams of Electric Sheep? Ah judul yang unik ya? Android di sini berarti robot super canggih yang sudah sangat mirip dengan penciptanya yaitu manusia. Dalam Blade Runner (1982), manusia berhasil memproduksi masal replikan, robot super canggih yang memiliki wujud dan kemampuan seperti manusia biasa. Mereka melakukan semua pekerjaan yang biasa manusia lakukan. Semakin lama, ternyata replikan berhasil berkembang sehingga mereka memiliki keinginan, kemauan dan emosi. 3 hal yang membuat replikan semakin mirip, bahkan sama seperti manusia biasa. Pada suatu hari, terdapat 4 replikan dengan kode model Nexus 6 yang memberontak dan melarikan diri. Untuk menangani kasus-kasus seperti ini, dikirim polisi khusus yang disebut Blade Runner. Blade Runner bertugas untuk “mempensiunkan” replikan yang dianggap bermasalah. Kali itu, Rick Deckard (Harrison Ford) ditugaskan untuk memburu keempat Nexus 6 yang melarikan diri. Petualangan Deckard justru membuatnya semakin mengerti apa arti menjadi manusia yang sebenarnya. Deckard pun jatuh cinta kepada seorang replikan model khusus yang dikembangkan oleh pencipta replikan, Dr. Eldon Tyrell (Joe Turkel). Latar belakang Blade Runner (1982) adalah Los Angeles di masa depan, tahun 2019. Lah? tahun 2018 saja belum ada loh itu yang namanya replikan hehehehe. Maklum, Blade Runner (1982) dirilis tahun 1982, saya saja belum lahir itu x_x.

Naaahhh, Blade Runner 2049 (2017), menggunakan latar belakang Los Angeles lebih jauuuuh di masa depan, yaitu sekitar 30 tahun setelah peristiwa pada Blade Runner (1982). Bisnis replikan yang dulu diciptakan oleh Tyrell, kini dikembangkan oleh Niander Wallace (Jared Leto). Wallace mengklaim bahwa ia berhasil mengembangkan replikan model baru yang handal dan mudah dikendalikan. Profesi Blade Runner bahkan dijalankan oleh replikan model baru yang Wallace kembangkan.

Blade Runner

K (Ryan Goosling) merupakan salah satu replikan yang bekerja sebagai Blade Runner. Sehari-hari, K tinggal di apartemen kumuh dengan ditemani oleh Joi (Ana de Armas), pacar virtual K yang setia dan tulus mencintai K. Penggambaran akan percintaan antara K dan Joi, ditambah dengan penampakan keadaan Bumi di tahun 2059, memang terbilang keren. Semua nampak unik dan masuk akal. Berbeda dengan Blade Runner (1982) yang filmnya serba gelap karena didukung oleh special effect tahun 80-an, Blade Runner 2049 (2017) berhasil menampilkan visual yang cantik sekaligus realistis :).

Blade Runner

Blade Runner

Blade Runner

Lalu, apa hubungan antara Blade Runner 2049 (2017) dengan Blade Runner (1982)? Penyelidikan K pada sebuah kasus, membawanya kepada Deckard. K menemukan fakta bahwa ada kemungkinan, kekasih Deckard berhasil melahirkan seorang bayi padahal kekasih Deckard adalah seorang replikan. Kehadiran seorang replikan yang lahir dari seorang replikan lain, merupakan kontroversi yang dapat memicu kembali perseteruan antara manusia dan replikan. K dan beberapa pihak lain, memburu anak Deckard yang separuh manusia, separuh replikan. Serunya lagi, semakin hari, K semakin menemukan petunjuk-petunjuk yang menunjukkan bahwa K kemungkinan merupakan anak dari Deckard.

Blade Runner

Blade Runner

Blade Runner

Blade Runner

Blade Runner

Blade Runner

Blade Runner

Mirip seperti film pendahulunya, Blade Runner 2049 (2017) kembali mengangkat tema kesetaraan dan arti menjadi seorang manusia dan memiliki jiwa. Mungkinkah mesin ciptaan manusia memiliki jiwa? Apa itu jiwa? Sebuah keajaiban? Saya rasa Blade Runner 2049 (2017) termasuk film fiksi ilmiah yang agak “nyeni”, jadi tidak murni hanya sebagai media hiburan saja. Terus terang saya kurang suka dengan Blade Runner (1982) yang dibuat terlalu “nyeni” sehingga terlihat hambar kalau dilihat dari sisi penonton yang haus hiburan. Syukurlah Blade Runner 2049 (2017) berbeda dalam hal ini, sekuel Blade Runner (1982) tersebut masih memiliki daya tarik dari sisi hiburan, tidak hanya mengandalkan special effect saja :).

Blade Runner

Blade Runner

Blade Runner

Blade Runner

Blade Runner

Cerita yang membuat penasaran dan penuh kejutan, ditambah visual yang keren, tentunya merupakan resep yang handal untuk menciptakan sebuah tontonan yang memukau. Sayang oh sayang, semua itu dirusak oleh durasi. Saya rasa tempo Blade Runner 2049 (2017) terlalu lambat. Banyak adegan yang seolah “diam”, memperlihatkan keadaan sekitar atau mimik muka yang tidak banyak berubah. Ini sukses membuat saya kebosanan, mengantuk dan hampir tertidur di depan TV.

Secara keseluruhan, saya rasa Blade Runner 2049 (2017) dapat memperoleh nilai 3 dari skala maksimum 5 yang artinya “Lumayan”. Kalau saya perhatikan, Blade Runner 2049 (2017) sepertinya dapat dikatakan sebagai film pembuka bagi sebuah franchise atau film ketiga. Masih banyak yang dapat di-explore di sana.

Sumber: bladerunnermovie.com

Three Billboards Outside Ebbing, Missouri (2017)

Three Billboards Ebbing

Melihat poster film Three Billboards Outside Ebbing, Missouri (2017), sekilas saya jadi ingat akan film Murder on the Oriont Express (2017), kok ya bisa mirip begitu ya. Apalagi sekilas keduanya mengusung kasus pembunuhan sebagai latar belakang cerita. Akhirnya saya tertarik untuk menonton Three Billboards Outside Ebbing, Missouri (2017) dengan harapan dapat menonton penyelesaian sebuah kasus kriminal yang rumit. Aaahhhh, ternyata saya salah besar ….

Seharusnya saya lebih cermat melihat judul, bukan terpaku dengan salah satu poster iklan filmnya. Sesuai judulnya, kisah pada Three Billboards Outside Ebbing, Missouri (2017) berfokus pada kenapa, bagaimana dan akibat dari dipadangnya 3 buah iklan billboard jumbo di sebuah jalan antar proponsi dekat kota Ebbing, Missouri.

Kecewa akan lambatnya penanganan kasus pembunuhan yang menimpa putrinya, Mildred Hayes (Frances McDormand), memasang 3 buah iklan billboard jumbo di sebuah jalan antar propinsi yang relatif sepi dan sudah jarang dilewati orang. Di tempat itulah putrinya diperkosa dan dibunuh, 7 bulan yang lalu. Billboard yang Mildred pasang, berisi tulisan yang menyudutkan pihak kepolisian kota Ebbing karena wilayah tersebut masih masuk ke dalam wilayah kepolisian kota Ebbing. Tulisan yang Mildred tulis pada billboard-nya adalah “Raped While Dying”, “And Still No Arrests?”, “How Come? Chief Willoughby?”.

Three Billboards Ebbing

Three Billboards Ebbing

Three Billboards Ebbing

3 buah kalimat yang ditujukan kepada kepolisian Ebbing yang dipimpin oleh Bill Willoughby (Woody Harrelson). Rasanya Bill bukanlah karakter antagonis di film ini. Ia adalah kepala polisi yang dihormati oleh penduduk Ebbing karena integritas dan dedikasinya selama ini. Kasus yang menimpa putri Mildred memang terbilang pelik karena tidak ada saksi mata dan jejak DNA yang dapat terlacak di sana. Bill dan pihak kepolisian memang sedang menghadapi jalan buntu, tapi Mildred tidak peduli dan terus menekan pihak kepolisian.

Three Billboards Ebbing

Three Billboards Ebbing

Banyak simpatisan Bill di dalam kota Ebbing, yang menentang perbuatan Mildred. Di dalam kantor polisi, Bill memiliki 1 pengikut setia, yaitu Jason Dixon (Sam Rockwell). Dixon melakukan cara-cara yang kurang baik ketika menghadapi Mildred, cara-cara yang tidak akan di setujui Bill. Apakah Dixon otomatis menjadi antagonis pada Three Billboards Outside Ebbing, Missouri (2017)? Pada 3/4 film berjalan, ya. Tapi selanjutnya terjadi perubahan karena setiap manusia memiliki sisi baik juga.

Three Billboards Ebbing

Three Billboards Ebbing

Three Billboards Ebbing

Three Billboards Ebbing

Di tengah-tengah tekanan dari seluruh simpatisan Bill, terutama Dixon, Mildred tidak bergeming ataupun mundur. Kabar akan penyakit ganas yang menggerogoti Bill pun tidak membuat Mildred menurunkan Billboard-nya, meskipun terlihat emosi yang campur aduk di raut muka Mildred. Mildred tetap keras kepala dan melawan semuanya dengan caranya sendiri. Begitulah cara Mildred menghadapi kesedihan, penyesalan dan kekosongan yang ia hadapi.

Three Billboards Ebbing

Three Billboards Ebbing

Three Billboards Ebbing

Three Billboards Ebbing

Di sinilah saya menyadari bahwa Three Billboards Outside Ebbing, Missouri (2017) bukanlah film misteri atau detektif seperti Murder on the Oriont Express (2017). Three Billboards Outside Ebbing, Missouri (2017) adalah film drama mengenai kehilangan. Jadi jangan harap untuk melihat penyelesaian kasus kriminal yang tuntas dan penuh intrik atau kejutan yaaa. Film ini lebih menitik beratkan pada efek billboard kepada kehidupan Mildred, Bill dan Dixon. Jalan ceritanya cukup menarik dan tidak membosankan. Terkadang saya bahkan sedikit tersenyum melihat komedi hitam dan sarkasme yang dihadirkan film ini. Akting pemeran Mildred tergolong menonjol dan memang pantas memenangkan Piala Oscar. Bagi saya yang kurang suka dengan film drama, Three Billboards Outside Ebbing, Missouri (2017) layak untuk memperoleh nilai 3 dari skala maksimum 5 yang artinya “Lumayan”. Saya yakin para pecinta film drama di luar sana akan memberikan nilai yang jauh lebih tinggi ;).

Sumber: http://www.foxsearchlight.com/threebillboardsoutsideebbingmissouri/