Pezzo Pizza, A Carnival In Every Bite

Pezzo Pizza mulai berdiri di Singapura pada tahin 2012. Kemudian Pezzo Pizza mulai hadir di indonesia sekitar tahun lalu, kalau tidak salah. Salah satu cabangnya kebetulan terletak tepat di depan Masjid Mall yang biasa saya kunjungi. Berbeda dengan Pizza Hut, Domino Pizza dan Pizza Express, Pezzo Pizza relatif tidak menyediakan fasilitas untuk makan di tempat. Mereka membuka gerai-gerai mungil yang saat ini sudah tersedia di pusat-pusat perbelanjaan seperti Mall Ciputra, Mall Artha Gading, Kuningan City, Kota Kasablanka, Plaza Blok M, Pejaten Village Mall, Mall Kalibata City Square, harmoni Exchange, Plaza Atrium Senen, Cibubur Square, AEON Garden City, Living World, Summarecon Serpong, Mall Ciputra Cibubur, Lippo Mall Puri, Lippo Mall Kemang, Pasaraya Blok M.

Dari beberapa varian pizza yang ada, saya baru mencicipi hola hawaian, supremo, hot chick, chicken delight, pepperoni party dan meat munchers. Wha hampir semua yaaaa hehehee, saya memang pernah membeli banyak pizza di Pezzo Pizza pada waktu ada promo ulang tahun ;).

Hola hawaian merupakan pizza yang terdiri dari chicken ham, chiken Rasher, nanas dan keju mozarella. Rasa nanas yang manis asam ternyata terasa enak ketika dipadukan dengan chicken ham, chiken Rasher dan lelehan keju mozarella. Rasa asin dari keju mozarella dapat dimbangin dengan rasa nanas yang relatif dominan. Walaupun penampakannya nampak kurang menarik, ternyata rasanya pas sekali di lidah, ini merupakan salah satu pizza favorit saya di Pezzo.

Supremo merupakan pizza yang terdiri dari chicken ham, chiken Rasher, salami, pepperoni, bawang, paprika hijau, jamur dan keju mozzarella. Karena sepertinya menu ini terbilang sebagai menu yang paling lengkap, saya pikir rasanya akan seperti super supreme tempo dulu milik Pizza Hut. Ahhh saya ternyata salah, supremo terdiri dari aneka bahan tapi rasa asin dari lelehan keju mozarellanyalah yang justru relatif dominan. rasa paprika hijau dan bawang memang memberikan sedikit rasa yang berbeda apalagi potongannya besar-besar, tapi secara keseluruhan supremo terasa lumayan enak. Rasanya akan sedikit terlalu asin kalau tidak ditambahkan sambal belibis yang tersedia.

Hot chick merupakan pizza yang terdiri dari spicy shredded chicken, saus cabai merah, paprika merah, paprika hijau, keju mozzarella plus lumuran saus cabai di atasnya. Walaupun pada deskripsi di atas banyak menggunakan kata-kata hot, cabai dan spicy, sumpah pizza ini sama sekali tidak pedas bagi lidah Indonesia saya :D. Tapi patut saya akui, pizza hot chick memang lebih terasa berbumbu dibandingkan pizza-pizzanya Pezzo lainnya. Saya merasakan daging ayam empuk yang berbumbu cukup dominan pada hidangan ini. Rasanya ternyata enak juga loh :).

Chicken delight merupakan pizza yang terdiri dari potongan oregano chicken, chicken rasher, bawang, jamur dan keju mozzarella. Potongan ayam yang besar dan banyak membuat rasa ayam menjadi dominan pada pizza ini. Dengan menambahkan sambal, rasa pizza ini akan terasa lebih enak lagi :).

Meat munchers merupakan pizza yang terdiri dari daging cincang, pepperoni, chicken rasher, chicken ham, sosis dan tak lupa, keju mozzarella. Walaupun ada daging ayamnya, ternyata aroma dan rasa daging sapi relatif lebih terasa pada varian pizza yang satu ini :).

Pepperoni party merupakan varian pizza yang isiannya paling sederhana, hanya pepperoni dan keju saja. Tekstur pepperoni yang kasar dan dan aroma daging sapi yang harum, ternyata lumayan enak juga bila bertemu dengan keju dan sambal, yummm :).

Apapun varian rasanya, pizza yang dibuat Pezzo Pizza memiliki adonan roti yang empuk, rasa keju yang kental terasa, topping dengan potongan yang besar dan melimpah, serta porsi potongan yang besar per-potongnya. Karena pizzanya Pezzo Pizza memang dimaksudkan untuk menemani jalan-jalan di Mall atau di rumah, maka 1 potong pizza saja sudah cukup besar untuk mengisi perut, tidak beli per loyang kecil yang bentuknya bundar dan tidak praktis untuk disantap di jalan ;).

Tema karnaval yang penuh kegembiraan nampaknya cocok juga bagi pizza asal Singapura ini. Saya rasa Pezzo Pizza layak untuk memperoleh nilai 4 dari skala maksimum 5 yang artinya “Enak”.

Iklan

The Loft (2014)

Loft bukanlah kata yang lazim saya dengar. Apakah loft itu sama dengan apartemen? Berbeda dengan apartemen, loft merupakan sebuah ruangan terbuka dengan langit-langit tinggi yang biasanya terletak di bagian atas sebuah gedung. Gedung tersebut biasanya merupakan bekas gedung perindustrian atau gedung komersial yang sudah tua. Loft memang biasa digunakan sebagai tempat menyimpan barang, tapi lama kelamaan terjadi pergeseran dimana loft dipergunakan pula sebagai tempat tinggal lengkap dengan sofa dan tempat tidur.

Apa yang terjadi ketika pada suatu pagi, ada mayat wanita tak dikenal tergeletak di dalam loft yang kita miliki? Hal inilah yang dialami 5 orang sahabat pada The Loft (2014). Vincent Stevens (Karl Urban), Dr. Chris Vanowen (James Marsden), Luke Seacord (Wentworth Miller), Marty Landry (Eric Stonestreet) dan Philip Williams (Matthias Schoenaerts) terkejut ketika mereka menemukan sesosok mayat wanita pirang tergeletak di dalam loft yang mereka miliki bersama.

Awalnya, loft tersebut mereka gunakan untuk melakukan hal-hal yang tidak ingin diketahui oleh istri masing-masing. Sudah dapat ditebak, perselingkuhan dan hal-hal negatif lainlah yang 5 sahabat ini lakukan di dalam loft tersebut.

Disinilah mulai timbul konflik mengenai bagaimana mayat tersebut bisa ada di atas ranjang mereka, lengkap dengan borgol dan tulisan latin dari darah? Tuduh menuduh dan saling curiga semakin memanas ketika mereka menemukan fakta bahwa alarm loft sudah dimatikan ketika mereka menemukan mayat, dan pemegang kunci loft hanya mereka berlima saja. Siapakah pelakunya? Salah satu dari mereka? Istri mereka? Selingkuhan mereka? Semua dikisahkan dalam alur maju mundur yang tidak terlalu membingungkan. Ada 3 alur cerita yang ditampilkan secara bergantian, yaitu cerita sebelum mayat ditemukan, ketika mayat ditemukan dan ketika dinterogasi polisi setelah polisi terlibat.

Misteri identitas siapa pelaku dan apa motifnya, cukup membuat saya penasaran. Akan ada perubahan dan kejutan tak terduga sampai akhir film ini berakhir. Tapi jalan ceritanya relatif flat dan sedikit membosankan.

Lucunya, The Loft (2014) ternyata merupakan remake kedua dari Loft (2008). Loft (2008) merupakan film Belgia yang sangat populer dan meraih berbagai prestasi di Belgia. Kemudian Loft (2008) diremake dengan menggunakan wajah-wajah Belanda. Tidak puas sampai di sana saja, dilakukan kembali remake dengan membawa beberapa wajah Hollywood pada The Loft (2014). Sutradara dan cerita pada Loft (2008), Loft (2010) dan The Loft (2014) adalah …. sama x__x, wkwkwkwkwkwk. Yang berbeda hanyalah beberapa pemerannya saja. Nampaknya ada masalah kreatifitas di sana.

Melihat hal-hal di atas, The Loft (2014) masih layak untuk memperoleh nilai 3 dari skala maksimum yang artinya “Lumayan”. Bolehlaaaah dijadikan tontonan di waktu senggang, jangan berkorban sampai ke bioskop hanya untuk menonton film ini yaaa :D.

The Shining (1980)

Banyak orang-orang yang mengalami masa remaja atau dewasa di tahun 80-an, memuji The Shining (1980) sebagai film paling menakutkan di eranya. Film ini dirilis jauh sebelum saya lahir dan saya baru menontonnya beberapa minggu yang lalu. Agak penasaran juga sih, seperti apa ya filmnya.

Pada The Shining (1980), dikisahkan bahwa Jack Torrance (Jack Nicholson) baru saja memperoleh pekerjaan sebagai penjaga Hotel Overlook yang terletak di pengunungan Colorado yang terpencil. Karena alasan ekonomi, hotel mewah tersebut akan tutup selama musim dingin berlangsung, dan akan buka kembali setelah musim dingin berakhir. Tugas Jack di sana adalah memastikan bahwa hotel tetap dalam keadaan baik dan siap beroperasi kembali ketika musim dingin berakhir.

Selama musim dingin berlangsung, semua tamu dan petugas hotel akan pergi meninggalkan hotel tersebut. Jack tidak akan sendirian, ia diperbolehkan membawa keluarganya di sana. Keluarga kecil Jack terdiri dari istri Jack yaitu Wendy Torrance (Shelley Duvall), anak Jack yaitu Danny Torrance (Danny Lloyd), dan Jack sendiri sebagai kepala keluarga. Jack, Wendy dan Danny akan tinggal di dalam sebuah hotel yang mewah, megah, namun terisolasi selama musim dingin, tak akan ada orang lain yang bermukim di dekat mereka. Jalanan dan jalur telefon pun biasanya terputus selama musim dingin. Apakah mereka akan baik-baik saja?

Ooooh tentu tidak :’D. Hotel Overlook ternyata menyimpan sejarah kelam di setiap sudutnya. Perlahan tapi pasti, hotel tersebut mulai mempengaruhi Jack untuk membunuh anak dan istrinya. Sejak awal film, karakter Jack Torrance memang sudah nampak jahat. Jack Nicholson berhasil menunjukkan ini dengan gerakan alisnya yang khas. Opa yang satu ini memang pandai memerankan karakter antagonis. Bertolak belakang dengan Jack, karakter Wendy justru nampak lemah walaupun Wendy pantang menyerah untuk menyelamatkan dirinya dan Danny. Danny sendiri beberapa kali nampak ketakutan tapi tidak berlebih seperti ibunya. Danny justru nampak relatif lebih tenang dan stabil dibandingkan kedua orang tuanya. Belakangan diketahui bahwa ternyata ia memiliki kemampuan supranatural yang pada film ini disebut shining.

Apa itu shining akan dijelaskan dengan gamblang pada film ini. Tapi untuk beberapa hal lain justru dibiarkan menggantung agar para penonton menerka-nerka sendiri. Beberapa fans berat The Shining (1980) bahkan membuat film dokumenter yang membahas makna-makna tersembunyi pada The Shining (1980). Sesuatu yang dianggap omong kosong oleh Stephen King. Pada tahun 1977, Stephen King merilis novel horor berjudul The Shining. Novel inilah yang diangkat oleh Stanley Kubrick ke layar lebar melalui The Shining (1980). Sayang sekali, King tidak suka dengan The Shining (1980). Menurut King, Kubrick menggambarkan Jack sebagai karakter yang terlalu jahat dan Wendy sebagai karakter yang terlalu lemah. Menurut King, seharusnya Jack digambarkan sebagai karakter yang sebenarnya baik dan sayang keluarga, tapi berubah karena pengaruh hotel. Wendy yang terlihat terlalu lemah dianggap kurang logis kalau mampu terus berjuang menghadapi Jack. Untuk poin ini saya setuju dengan Opa King. Tapi bukan berarti The Shining (1980) tidak memiliki kelebihan loh. Kubrick dengan cerdik memodifikasi The Shining (1980) agar filmnya tidak harus menggunakan special affect ala tahun 80-an yang tentunya akan nampak aneh bila ditonton pada tahun 2018. Beberapa adegan horor yang digambarkan King pada novelnya memang sangat sulit untuk ditunjukkan pada versi filmnya karena keterbatasan teknologi saat itu. Dengan demikian, Kubrick memodifikasi beberapa bagian cerita termasuk bagian akhirnya. Mungkin hal ini pulalah yang membuat King tidak suka dengan The Shining (1980). Pada tahun 1997, The Shining sempat dihadirkan kembali dalam bentuk mini seri dan menggunakan cerita yang lebih sesuai dengan keinginan King. Hasilnya? Para penonton lebih suka The Shining (1980) :’D.

The Shining (1980) memang berhasil menghadirkan beberapa kengerian tanpa campur tangan special affect modern. Bagian yang saya anggap paling menakutkan dari The Shining (1980) adalah bagian dimana Danny bersepeda mengelilingi lorong hotel. Cara mengambil gambar dan kondisi lorong hotel yang terang namun sepi, mampu memberikan efek tegang. Kehadiran 2 anak kembar misterius pun dapat mengejutkan walaupun film ini tidak menggunakan teknik jump scare. Ditambah lagi lagu latar belakangnya yang menutut saya agak mengerikan.

Sayang adegan dimana seorang ayah berbalik ingin membunuh keluarganya sendiri sudah beberapa kali saya jumpai pada film horor lain. Jadi, tidak ada yang spesial atau menyeramkan di sana. Penokohan Jack dan Wendy rasanya kurang tepat untuk menghasilkan kengerian sekaligus intrik yang maksimal. Saya lebih suka karakter Jack dan akhir dari Hotel Overlook pada versi novelnya. Untuk hal-hal lainnya, saya tidak terlalu masalah.

Mohon maaf bagi penggemar garis keras The Shining (1980), saya hanya mampu memberikan The Shining (1980) nilai 3 dari skala maksimum 5 yang artinya “Lumayan”. King dan Kubrick tetap sama-sama patut diacungi jempol atas karya mereka :).

Who Am I (2014)

Setelah selama ini sering sekali menonton film-film jebolan Hollywood, kali ini saya menoleh ke arah film-film keluaran Eropa. Apakah ada yang menarik? Saya akhirnya tertarik tuk menonton film yang sudah memenangkan German Movie Awards dan Bambi Awards, yaitu Who Am I – Kein System ist sicher (2014).

Apa arti Kein System ist sicher? Tidak ada sistem yang aman. Ini merupakan moto yang dianut kelompok-kelompok hacker pada Who Am I (2014). Film ini bercerita mengenai kegiatan ilegal hacker-hacker di dunia maya. Dikisahkan bahwa sekelompok hacker di Jerman membentuk CLAY (Clown Laughing at You) yang beranggotakan Benjamin Engel (Tom Schilling), Max (Elyas M’Barek), Stephan (Wotan Wilke Möhring) dan Paul (Antoine Monot Jr.). Tindakan ilegal CLAY awalnya hanya sebatas untuk bersenang-senang dan memprotes pemerintah saja, mereka tidak bermaksud untuk melakukan lebih dari itu.

Berkat kelihaiannya, nama CLAY semakin diakui oleh komunitas hacker. Sayang semua itu terasa hambar tanpa pengakuan dari MNX, hacker ternama yang menjadi idola Benjamin dan Max. Demi memperoleh pengakuan MRX, CLAY membobol data BND (Bundesnachrichtendienst), semacam CIA-nya Jerman. Aksi CLAY ini ternyata membuat salah satu anggota FRI3NDS terbunuh. Wah, apa itu FRI3NDS? Mereka ada kelompok hacker yang bekerja untuk mafia Rusia. Selama ini BND memang sedang memantau sepak terjang FRI3NDS. Insiden ini membuat CLAY dikejar-kejar oleh polisi dan mafia.

Semua kisah pada Who Am I (2014) dipaparkan berdasarkan informasi dari Benjamin di meja interogasi BND. Para penyelidik BND yang jeli kemudian menemukan lubang-lubang pada keterangan Benjamin. Entah disengaja atau tidak, para penyidik mencurigai bahwa sebagian cerita Benyamin adalah kebohongan. Hal inilah yang membuat Who Am I (2014) menarik untuk ditonton. Walaupun jalan ceritanya sedikit datar dan sedikit mirip dengan Serial Mr. Robot, saya melihat beberapa twist atau kejutan pada bagian akhir Who Am I (2014). Twist pada film ini tidak berhenti sampai bagian paling akhir film lho, jadi pastikan tuk menontonnya sampai akhirrrr ;).

Twist yang ada memang banyak dan menumpuk di bagian akhir film, tapi saya merasa agak bosan di bagian pertengahan film. Saya rasa, Who Am I (2014) pantas untuk memperoleh nilai 3 dari skala maksimum 5 yang artinya “Lumayan”.

Mblusuk-Mblusuk di Warung Selat Mbak Lies

Walaupun terletak tak jauh dari rumah mertua saya, baru sekitar bulan lalu saya mampir ke Warung Selat Mbak Lies. Warung ini sudah beberapa kali diliput oleh Stasiun TV dan direkomendasikan oleh Om saya yang pernah tinggal di Solo. Lokasinya ternyata agak “ngumpet” di sebuah jalan kecil, Jalan Veteran, Gang II, Nomor 42, Serengan, Solo.

Bentuk warung yang sudah berdiri sejak 1987 ini, memang agak unik. Seluruh warung dipenuhi oleh -koleksi-koleksi keramik milik Ibu Wulandari Kusmadyaningrum atau Mbak Lies. Pada beberapa bagian keramik, terdapat tanda tangan beberapa artis yang pernah berkunjung. Bagi beberapa pengunjung, dekorasi Warung Selat Mbak Lies dijadikan tempat foto-foto karena keunikannya tersebut.

Bagaimana dengan hidangannya? Sesuai judulnya, pengunjung memiliki selat sebagai hidangan andalannya. Selat berasal dari kata slaatje atau salad, hidangan yang biasa disantap orang-orang Belanda di masa penjajahan. Warga pribumi, ingin meniru hidangan tersebut tapi disesuaikan dengan lidah pribumi sehingga jadilah selat yang berkembang saat ini.

Warung Selat Mbak Lies sendiri menyajikan 2 jenis selat yaitu selat bestik dan selat gelatine. Berdasarkan rekomendasi dari famili saya, pada kunjungan pertama saya, saya mencicipi selat gelatine kuah segar. Hidangan ini terdiri dari potongan wortel, buncis, kentang, telur pindang, rolade daging, mustard, bawang dan selada. Kalau digabung, rasanya agak flat dengan sedikit rasa manis dan gurih di sana. Rolade dagingnya terasa agak dominan dengan rasa gurih yang lumayan enak, selain itu tidak ada yang terlalu spesial di sana. Lidah Jakarta saya mungkin tidak terlalu cocok dengan hidangan khas Jawa Tengah ini :’D.

Mungkin lain kali saya akan kembali ke sana untuk mencici menu lainnya. Sementara ini, saya rasa Warung Selat Mbak Lies layak untuk memperoleh nilai 3 dari skala maksimum 5 yang artinya “Lumayan”. Not bad-laaaah :).

Ready Player One (2018)

Awalnya, Ready Player One (2018) sepertinya bukan termasuk film yang menarik untuk ditonton. Sambutan meriah dari beberapa rekan saya mendorong saya untuk akhirnya ikut menonton film tersebut. Film ini ternyata merupakan karya Steven Spielberg yang diambil dari novel karya Ernest Cline dengan judul yang sama. Kisahnya mengenai perebutan kekuasaan sebuah dunia virtual.

Latar belakang film ini adalah dunia masa depan dimana kemajuan teknologi tidak diiringi oleh kesejahteraan penduduknya. Muak dengan kehidupan nyata, banyak penduduk Bumi mencari pelepas penat di sebuah dunia lain, dunia dimana mereka dapat menjadi apa saja, dan dapat berbuat macam-macam. Dengan menggunakan perangkat Virtual Reality, mereka dapat masuk ke Oasis (Ontologically Anthropocentric Sensory Immersive Simulation), sebuah dunia virtual yang sangat populer dan penuh kebebasan.

Pada dasarnya Oasis merupakan permainan MMOSG (massively multiplayer online simulation game) dimana di dalamnya para pemain seolah memiliki kehidupan baru yang lepas bebas dari kehidupan nyata. Di sana mereka dapat bermain balapan, bertempur, berkelahi, berjudi, berdansa, bersosialisasi, berteman, berpartisipasi dalam berbagai event unik dan lain-lain. Semua terasa amat nyata karena pemain Oasis menggunakan kacamata Virtual Reality dan sensor-sensor di berbagai bagian tubuh mereka. Wah, kalau yang namanya Oasis memang benar-benar ada, saya juga mau ikutan :D.

Oasis diperkenalkan oleh James Donovan Halliday (Mark Rylance) dan Ogden Morrow (Simon Pegg) pada tahun 2025. Beberapa tahun kemudian Morrow memutuskan untuk meninggalkan proyek Oasis. Di tangan Halliday seorang diri, Oasis tetap kokoh dan tidak kehilangan reputasinya sebagai dunia virtual terpopuler di dunia. Oasis tetap menjadi nomor satu bahkan sampai setelah Halliday wafat pada 7 Januari 2040.

Ketika Halliday wafat, seluruh dunia menerima unggahan video yang menyatakan bahwa Halliday telah menanamkan sebuah event super unik di dalam Oasis, sebuah event yang akan mulai ketika Halliday wafat. Whah event apa yah? Para pemain harus mencari 3 buah kunci dengan memecahkan berbagai teka-teki yang terselubung di dalam dunia Oasis. Barangsiapa yang berhasil memperoleh ketiga kunci tersebut, maka ia akan memperoleh 100% kontrol akan Oasis. Sebuah event yang hadiahnya kepemilikan sebuah dunia virtual terpopuler di dunia, aaahh jelas semua orang terpacu untuk memperolehnya.

5 tahun setelah event dimulai, tak ada satupun yang berhasil menemukan kunci pertama. Mengetahui lokasi dan apa teka-teki yang harus dipecahkan saja susahnya bukan main. Semua seakan mustahil sampai seorang pemain bernama Parzival berhasil memperoleh kunci pertama.

Di dunia nyata, Parzival adalah anak yatim piatu bernama Wade Watts (Tye Sheridan) yang hidup pas-pasan bersama bibi dan paman tirinya. Dengan berhasilnya Wade atau Parzival memperoleh kunci pertama, seketika itu pulalah ia menjadi sorotan sekaligus buruan IOI (Innovative Online Industries) yang dipimpin oleh Nolan Sorreto (Ben Mendelsohn). IOI merupakan perusahan IT terbesar kedua di dunia setelah perusahaan milik mendiang Halliday. perusahaan ini ingin menguasai Oasis dan perusahaan milik Halliday dengan memperoleh ketiga kunci Halliday di dalam Oasis. Sorreto dan kawan-kawan rela membayar ratusan pegawai untuk berkelana di dalam Oasis dan memecahkan teka-teki Halliday.

Parzival tidak sendirian di dalam Oasis. Ia memperoleh dukungan dari pemain Oasis dengan nama Aech, Art3mis, Sho dan Daito. Mereka berteman di dunia maya dan belum pernah bertemu di dunia nyata. Namun mereka saling tolong menolong dalam persaingan memperebutkan ketiga kunci Halliday melawan ratusan tentara IOI dan pemain Oasis lainnya, baik di dunia virtual maupun di dunia nyata.

Film ini cukup menarik karena secara teknologi, Oasis bisa saja benar-benar ada dalam beberapa tahun ke depan. Selain itu, budaya pop sangat kental terlihat pada Ready Player One (2018). Tidak hanya teka-teki Halliday saja yang kental akan budaya pop, tapi atribut, musik, pengambilan gambar sampai gerakan karakter dibuat berdasarkan video game atau film yang pernah populer di era 80-an, 90-an dan awal abad 21. Pada Ready Player One (2018) saya dapat melihat bagian dari Back to the Future, The Shining, Jaws, The Irom Giants, The Terminator, Mad Max, Akira, Chucky, Buckaroo Banzai, Mortal Kombat, Alien, Ghostbusters, Godzilla, Speedracer, Batman, The Flash, Thundercats, He-Man, Firefly, Gundam, Kura-Kura Ninja, Tomb Rider, Street Fighter, Halo, Donkey Kong, Pitfall, Centipede dan lain-lain, semuanya tersebar dimana-mana. Ini bagaikan nostalgia karena mengingatkan saya akan video game yang dulu pernah saya mainkan, dan film yang pernah saya tonton ketika masih kecil. Syukurlah Ready Player One (2018) termasuk adil untuk hal ini karena budaya pop yang ditampilkan bukan hanya budaya pop tahun 80-an. Selama ini saya sering melihat budaya pop 80-an yang terus diagung-agungkan, bosan saya :’D. Bagi pecinta budaya pop 80-an garis keras, Ready Player One (2018) mungkin akan nampak hampa dan kurang memiliki unsur nostalgia hehehehehe.

Akantetapi, kalaupun Oasis benar-benar ada, kemungkinan saya hanya akan memainkannya selama sebulan pertama saja. Oasis memang nampak luas dan bebas, tapi dunia virtual pada Ready Player One (2018) ini memiliki 1 peraturan yang tak lazin ditemukan pada video game pada umumnya. Peraturan tersebut adalag, apabila si pemain tewas, maka ia akan kehilangan nilai, koin, avatar, senjata dan semua yang ia miliki. Si pemain akan lahir kembali dengan keadaan seperti awal mula ia baru bermain. Koin nyawa ekstra memang ada sih, tapi amat sangat jarang sekali, hal ini jelas terlihat pada salah satu adegan di Ready Player One (2018).

Adegan-adegan pada film ini berhasil menampilkan sebuah dunia virtual yang berdampingan dengan dunia nyata dengan sangat baik. Adegan aksinya pun terbilang bagus dan memukau. Ditambah dengan jalan cerita yang menarik dan penuh nostalgia bagi banyak orang, Ready Player One (2018) layak untuk memperoleh nilai 4 dari skala maksimum 5 yang artinya “Bagus” ;).

Sumber: readyplayeronemovie.com

Mini Seri And Then There Were None (2015)

Sebelum Murder at the Oriont Express (2017), ternyata novel-novel karya Agatha Christie sudah ada yang terlebih dahulu dibuat filmnya, And Then There Were None (2015) adalah salah satunya. And Then There Were None (2015) pertama kali hadir di stasiun TV BBC One dalam bentuk 3 seri. Berbeda dengan Murder at the Oriont Express (2017), And Then There Were None (2015) memang hanya hadir dalam format mini seri yang biasa diputar di stasiun TV, bukan bioskop.

Saya sendiri hampir tidak mengetahui bahwa And Then There Were None (2015) diambil dari salah satu novel Agathe Chtistie. Judul ini ternyata merupakan modifikasi dari novel Agathe Christie yang berjudul 10 Anak Negro. Karena dianggap rasis, maka judul dan beberapa bagian novel tersebut diubah menjadi And Then There Were None. Saya sendiri membaca novel Agatha Christie dengan judul 10 Anak Negro dan merasa tidak ada unsur rasis di sana. Novel tersebut sama sekali tidak membahas unsur rasial.

Tapi memang di dalamnya banyak menggunakan kalimat negro yang menjadi hal sensitif di negara-negara tertentu. Kata negro banyak digunakan untuk menggambarkan boneka dan puisi terkait pembunuhan berencana di sebuah pulau. Pada And Then There Were None (2015), boneka dan puisi negro digantikan oleh boneka dan puisi prajurit. Judul film inipun menggunakan bagian akhir dari sebuah puisi yang tergantung di setiap kamar di rumah Keluarga Owen. Puisi tersebut menggambarkan bagaimana 10 prajurit mati satu persatu dengan cara yang berbeda.

Pada suatu hari, Keluarga Owen mengundang 8 orang tamu untuk datang dan menginap di rumah mereka. Tak lupa Keluarga Owen sudah menyewa 2 orang pelayan untuk memenuhi kebutuhan para tamu. 8 tamu dan 2 pelayan? Wah total ada 10 orang di sana. Kesepuluh orang yang ada di dalam rumah tersebut, satu per satu menemui ajalnya dengan cara yang berbeda seperti yang disampaikan oleh puisi 10 prajurit yang tergantung di setiap kamar. Setiap ada yang tewas, boneka prajurit yang ada di meja makan, akan hilang. Jadi boneka tersebut seolah-olah melambangkan jumlah orang yang masih hidup. Karena rumah Keluarga Owen merupakan satu-satunya rumah di sebuah pulau terpencil, tak ada satupun calon korban yang dapat meninggalkan rumah. Mau tak mau mereka harus menemukan siapa dalang dari semua ini. Apalagi semua orang yang ada di rumah tersebut tidak saling kenal. Entah apa alasan kenapa mereka diundang untuk dibunuh satu per satu seperti ini. Kemana perginya si tuan rumah? Ternyata, kesepuluh calon korban pun tidak pernah bertemu langsung dengan Keluarga Owen.

Semakin lama semakin terlihat bahwa masing orang di dalam rumah tersebut, pernah melakukan pembunuhan di masa lalu. Pelan-pelan mengetahui dosa masa lampau mereka memang menarik untuk ditonton. Tapi melihat cara mereka tewas, tidaklah menarik karena kok ya kurang dihubungkan dengan bunyi puisi. Padahal petunjuk-petunjuk pada puisi itulah yang membuat cerita ini menarik. Saya tidak melihat ketagangan pada film ini, jalan cerita yang seharusnya menarik, nampak agak hambar. Satu-satunya yang menarik adalah siapa dalang semua ini dan apa motif sebenarnya.

Saya hanya dapat memberikan mini seri ini nilai 3 dari skala maksimum 5 yang artinya “Lumayan”. Bolehlah dijadikan tontonan di sela waktu istirahat. Saya sendiri lebih senang dengan versi novelnya.

Sumber: http://www.agathachristie.com/film-and-tv/and-then-there-were-none