Free Guy (2021)

Dunia video game terus berkembang hingga melahirkan berbagai fitur yang canggih. Permainan pun lama kelamaan semakin terlihat nyata bagi para pemainnya. Hal inilah yang terjadi pada permainan Free City pada film Free Guy (2021).

Free City digambarkan sebagai sebuah video game yang sangat populer. Di sana, semua pemain diperbolehkan melakukan apa saja. Pemain bahkan sampai diperbolehkan melakukan hal-hal yang tidak boleh dilakukan di dunia nyata seperti merampok, membunuh, mencuri dan lain-lain. Singkat kata, Free City adalah sama persis dengan Grand Theft Auto hehehehe.

Dalam setiap petualangan, seorang pahlawan tentunya membutuhkan korban, penjahat atau figuran. Disinilah peran NPC (Non Playable Character) dibutuhkan. NPC merupakan karakter-karakter yang dikendalikan oleh komputer agar membuat permainan terasa lebih seru.

Sebut saja Guy (Ryan Reynolds) adalah salah satu NPC dari video game Free City. Setiap hari, setiap saat, Guy dan kawan-kawan NPC-nya melakukan rutinitas yang sama, berulang-ulang. Pada suatu waktu, Guy tiba-tiba memiliki keinginan untuk melakukan hal yang berbeda. Ia bahkan menggunakan kemampuannya untuk menyelesaikan misi-misi yang dilakukan oleh pemain. Seketika, Guy menjadi tokoh video game terpopuler di dunia nyata. Namun tak lama lagi, dunia Guy akan hancur dan ia harus menyelamatkannya.

Pada awalnya, ketika melihat trailer-nya, saya merasa bahwa Free Guy (2021) agak mengada-ada. Namun, ketika saya melihat filmnya secara keseluruhan, semua sangat masuk akal. Alasan mengapa dunia Guy akan hancur dan mengapa Guy seketika memiliki keinginan, sangat logis dan menarik untuk diikuti. Di dunia nyata, di luar Free City, ternyata memang ada perseteruan lain yang melibatkan keserakahan dan penghianatan.

Semuanya dibalut oleh komedi segar yang menghibur. Jadi, Free Guy (2021) tidak terasa terlalu serius dan membosankan. Saya suka dengan penempatan komedi yang tepat pada film ini.

Fakta bahwa Free City dibuat sangat mirip dengan Grand Theft Auto membuat saya dapat lebih relate dengan film ini. Kok bisa? Saya sering bermain video game Grand Theft Auto ketika masih kuliah dulu. Permaian tersebut memang sempat populer dahulu kala. Sampai sekarang pun masih banyak yang memainkan Grand Theft Auto.

Saya pribadi ikhlas memberikan Free Guy (2021) nilai 4 dari skala maksimum 5 yang artinya “Bagus”. Konon film yang satu ini akan ada sekuelnya. Kita tunggu saja ;).

Sumber: http://www.20thcenturystudios.com

Sonic the Hedgehog (2020)

Mayoritas anak tahun 90-an tentunya pernah menyaksikan masa-masa persaingan antara video game Nintendo dan Sega. Kalau Nintendo memiliki Mario Bros sebagai maskotnya, maka Sega memiliki Sonic sebagai maskotnya. Sebagai salah satu pemiliki Sega Mega Drive 2, tentunya saya sudah pernah berkali-kali bermain Sonic The Hedgehog. Permainan tersebut memang bukan permainan favorit saya, tapi banyak kenangan manis tercipta ketika mengingat permainan tersebut di masa lalu :).

Nostalgia yang membuat beberapa milenial yang mungkin sekarang sudah berusia 30-an, ingin melihat versi layar lebar dari sebuah permainan yang pernah dimainkan ketika masih kecil dulu, Sonic the Hedgehog (2020). Film yang seharusnya dirilis pada 2019, terpaksa dirilis pada 2020 karena besarnya komplain fans Sonic. Pada awalnya, penampakan Sonic di filmnya, mendapatkan kritikan pedas dari para fans. Hebatnya, pihak produser dan sutradara memilih untuk mengubah wujud Sonic dan mengundur jadwal rilisnya hinggal awal 2020 lalu. Bagaimana hasilnya?

Penampilan Sonic pada Sonic the Hedgehog (2020) sudah mewakili Sonic versi video game. Sonic seolah hidup dan keluar dari layar TV tabung tempat saya dulu bermain. Ia berhasil ditampilkan sebagai fokus utama pada film tersebut. Pemasalahan dari beberapa film lain yang menggabungkan antara manusia sungguhan dan CGI (Computer Generated Imagery) adalah, dibuat terlalu besarnya peranan karakter manusia hingga perlahan menggeser si tokoh utama yang digambarkan melalui CGI. Untunglah Sonic tidak mengalami nasib yang sama. Peranan Thomas Michael “Tom” Wachowski (James Marsden) disini terlihat sebagai sahabat sekaligus pendamping Sonic. Film ini benar-benar bercerita mengenai Sonic.

Beberapa lokasi pada Sonic the Hedgehog (2020) menggunakan nama lokasi yang dipergunakan pada versi video game nya, tapi tempat kejadian film ini tetap bukanlah dunia ajaibnya Sonic. Sonic (Ben Schwartz) merupakan landak biru berkuatan super. Ia dapat bergerak super cepat dan menggunakan putaran durinya sebagai senjata. Kekuatannya membuat Sunic diburu sejak ia masih kecil. Dengan menggunakan cincin ajaib, Sonic melarikan diri ke dunia lain dan bersembunyi.

Selama bertahun-tahun Sonic berdampar di sebuah desa kecil di daerah Montana. Ia mengamati kehidupan penduduk desa tersebut dari kejauhan hingga Dr. Robotnik (Jim Carrey) datang. Peneliti jenius tersebut menggunakan seluruh peralatan canggih yang ia miliki untuk menangkap Sonic. Jim Carrey berhasil memerankan Dr Robotnik yang egomaniak dan super narsis tanpa akting yang berlebihan. Selama ini Jim Carrey sering tampil dengan akting yang gilanya berlebihan, overacting, sorry para penggemar Carrey di luar sana. Kali ini Carrey berhasil tampil gila tapi tidak overacting, bravo!

Sayang kisah pada Sonic the Hedgehog (2020) terlalu datar dan biasa saja. Sepanjang film, Dr Robotnik mengejar Sonic dan Tom untuk menangkap, meneliti dan mereplikasi kekuatan Sonic. Film ini terlihat sudah berusaha untuk menambahkan warna di dalam ceritanya melalui persahabatan Tom dan Sonic yang semakin tumbuh subur seiring berjalannya waktu. Kemudian ada pula keharuan Sonic akan kehidupan dipersembunyian yang membuatnya tidak memiliki teman. Yaah, sayang itu semua tersemasuk isu yang biasa dan kurang “Wah”.

Saya lebih senang memandang Sonic the Hedgehog (2020) sebagai film penuh nostalgia yang bertujuan untuk menghiburan. Jangan terlalu memperhatikan lubang di dalam jalan ceritanya, sebab akan lumayan banyak hehehehe. Saya rasa Sonic the Hedgehog (2020) layak untuk memperoleh nilai 3 dari skala maksimum 5 yang artinya “Lumayan”.

Sumber: http://www.sonicthehedgehog.com

Warcraft: The Beginning (2016)

Warcraft1

Ketika masih SD dulu, saya sering bermain game komputer yang berjudul Warcraft II: Tides of Darkness. Permainan ini cukup menarik pada masanya karena konsep RTS (Real-time Strategy) masih baru pada saat itu. Dengan didukung dengan grafis dan cerita yang menarik, saya pun sering memainkan permainan ini dan sudah beberapa kali menamatkan Warcraft II: Tides of Darkness dan expansion set-nya :). Setelah berjaya di era 90-an, hadir Warcraft III: Reign of Chaos pada tahun 2002 dengan jalan cerita yang lebih detail dan kompleks. Gameplay-nya mirip seperti Warcraft II: Tides of Darkness, seri ketiga Warcraft ini menghadirkan RTS dengan gtafis yang lebih bagus ditambah lagi mulai diperkenalkannya konsep hero sehingga mulailah muncul nama karakter-karakter seperti Arthas, Thall, Kel’Thuzad, Malfurion dan lain-lain.

Warcraft2

Warcraft3

Bertahun-tahun kemudian, Warcraft: The Beginning (2016), versi film dari permainan komputer masa kecil saya tersebut hadir ke layar lebar. Namun ternyata karakter-karakter Warcraft yang saya kenal sama sekali tidak ada. Loh kok bisa? Warcraft: The Beginning (2016) ternyata dibuat berdasarkan game Warcraft pertama yang hadir pada 1994, Warcraft: Orc & Human. Saya sendiri sempat memainkan permainan ini tapi tidak terlalu lama karena pada saat itu sudah ada Warcraft II: Tides of Darkness yang lebih populer.

Warcraft4

Warcraft5

Di sana dikisahkan bahwa Draenor, dunia bangsa orc, sedang berada diambang kehancuran. Maka dengan dipimpin Gul’dan (Daniel Wu), sepasukan orc pergi ke dunia lain dengan menggunakan gerbang yang dibuka dengan menggunakan Fel. Sebagai sihir hitam yang jahat, membangkitkan Fel membutuhkan pengorbanan berupa nyawa mahluk hidup. Nyawa seolah dijadikan sebagai bahan bakar bagi Fel.

Warcraft16

Warcraft7

Apakah sesatu yang jahat akan dapat melahirkan sesuatu yang baik? Tidak semua orc percaya bahwa menggunakan Fel merupakan solusi bagi masalah yang orc hadapi. Durotan (Toby Kebbell), kepala suku frostwolf, termasuk orc yang kurang yakin bahwa menggunakan Fel untuk mengungsi bukanlah keputusan yang tepat sebab semua bentuk kehidupan yang Fel sentuh akan layu dan mati. Durotan memang ikut menyeberang bersama Gul’dan, namun semakin lama Durotan semakin khawatir akan konsekuensi dari keikutsertaannya pergi ke dunia lain.

Warcraft14

Warcraft22

Dunia lain yang Durotan dan kawan-kawan datangi adalah Azeroth. Di sana terdapat berbagai ras yang sudah lama hidup rukun dan damai. Kerajaan Stormwind yang dihuni oleh ras manusia merupakan kerajaan pertama yang harus berhadapan dengan orc. Penculikan terhadap para penduduk Stormwind yang Gul’dan perintahkan, tentunya membuat hubungan antara orc dan manusia memanas. Apalagi Gul’dan bermaksud untuk membangkitkan Fel dengan mengorbankan penduduk yang diculik tersebut. Diperlukan Fel yang besar untuk membawa seluruh orc dari Draenor ke Azeroth.

Penguasa Stormwind, Raja Llane Wrynn (Dominic Cooper), tidak tinggal diam. Ia mengutus tangan kanannya, Anduin Lothar (Travis Fimmel) untuk menangani masalah ini. Lothar merupakan kesatria terbaik Stormwind dengan jiwa kepemimpinan yang tinggi. Masalah yang kali ini Stormwind hadapi cukup mengkhawatirkan sehingga Lothar didukung pula oleh beberapa individu yang sebenarnya bukan sekutu Stormwind seperti Garona Halforcen (Paula Patton) dan Khadgar (Ben Schnetzer). Garona merupakan kesatria wanita berdarah campuran setengah orc sehingga ia mampu memahami bahasa orc dan bahasa manusia, dimana kesetiaan Garona selalu menjadi tanda tanya bagi Lothar. Khadgar merupakan ahli sihir muda yang mangkir dari pelatihannya di Kirin Tor, padahal ia dianggap sebagai penerus Mediv (Ben Foster). Mediv sendiri merupakan ahli sihir terkuat di Stormwind yang sudah bertahun-tahun menyendiri sampai kedamaian Azeroth terganggu oleh kehadiran Gul’dan dan kawan-kawan. Mediv ikut membantu prajurit-prajurit Stormwind ketika mereka sedang terdesak, namun Lothar tidak percaya juga terhadap Mediv, apa saja yang Mediv lakukan selama bertahun-tahun?

Warcraft6

Warcraft15

Cybernatural

Cybernatural

Warcraft9

Warcraft10

Warcraft23

Cybernatural

Diluar dugaan, Warcraft: The Beginning (2016) ternyata mampu menampilkan jalan cerita yang menarik, variatif dan tidak membosankan. Unsur permainan Warcraft: Orc & Human cukup kental dan terlihat pada film ini, bisa dibilang inilah film berdasar permainan komputer yang berhasir menampilkan sebuah cerita yang baik tanpa menanggalkan unsur permainan yang menjadi dasar pembuatan film tersebut. Sudah jelas Warcraft: The Beginning (2016) bukanlah buatan produser kelas teri seperti Uwe Boll :P, aaahhh para pecinta film dan video games pastilah kenal dengan tokoh yang hobi sekali membuat film dari video game. 

Saya tahu bahwa tokoh-tokoh pada permainan Warcraft 3 dan World of Warcraft memang tidak hadir pada Warcraft: The Begining (2016). Yaaaa iyalaaahh, bukankah film ini memang dibuat berdasarkan permainan Warcraft: Orc & Human yang sudah hadir jauh sebelum Warcraft III dan World of Warcraft lahir? Mau merengek 1000 kalipun yaaa mereka tidak akan hadir, silahkan menangis di rumah masing-masing yaaa :’P. Saya rasa permainan lawas yang hadir pada tahun 90-an masih berhak dibuat versi filmnya, apalagi kalau adaptasinya bagus seperti Warcraft: The Beginning (2016).

Selain cerita, film ini didukung pula oleh special effect yang halus dan memikat, kurang lebih mengingatkan saya pada Avatar (2009). Cara ilmu sihir ditampilkan terbilang keren sehingga karakter Khadgar dan Mediv praktis menjadi tokoh favorit saya pada film ini. Hanya saja saya agak bingung dengan warna kulit orc yang tidak stabil, kadang hijau dan kadang agak kecokelatan, bukankah pada versi video game warnanya hijau? Aaahh entahlah, saya masih tetap dapat menikmati film ini tanpa terlalu terganggu dengan warna kulit orc.

Warcraft11

Warcraft12

Warcraft13

Warcraft8

Warcraft17

Cybernatural

Secara keseluruhan, Warcraft: The Beginning (2016) layak dijadikan sebagai tontonan yang bermutu. Film ini layak untuk memperoleh nilai 4 dari skala maksimum 5 yang artinya “Bagus”. Sayang bagian akhirnya tidak tuntas, sedikit menggantung, yaah judulnya saja ada kata-kata Beginning, entah kapan ada kelanjutannya. Semoga kelanjutan film ini dibuat berdasarkan permainan Warcraft II: Tides of Darkness, hohohoho.

Sumber: http://www.warcraft-movie.co.uk