Avengers Infinity War (2018)

Sejak tahun 2008 sampai sekarang, sudah hadir kurang lebih 18 film-film superhero yang diambil dari cerita buku komik keluaran salah satu perusahaan komik ternama di dunia yaitu Marvel. Meskipun nampak terpisah dengan cerita dan tokoh utama sendiri, semua film tersebut hidup di sebuah alam yang sama, sebuah alam yang biasa disebut Marvel Cinematic Universe (MCU), kecuali film-film X-Men dan Deadpool tentunya. Sepanjang penglihatan saya, meskipun masing-masing film MCU mampu berdiri sendiri, bagian akhirnya jelas dan tidak menggantung, film-film tersebut mampu membuat sebuah jaring cerita yang rapi antara satu dengan lainnya. Jaring-jaring cerita dari semua film tersebut, menyatu menjadi satu pada Avengers Infinity Wars (2018), sebuah film yang sudah lama saya tunggu-tunggu meskipun kurang lebih saya sudah mengetahui cerita versi komiknya :).

Pada dasarnya Avengers Infinity Wars (2018) merupakan kisah mengenai kematian, kehidupan, keputusasaan dan harapan yang dihadapi superhero-superhero MCU. Keperkasaan mereka seakan runtuh ketika bertemu Thanos (Josh Brolin). Dulunya Thanos merupakan penduduk Planet Titan yang saat ini sudah hancur. Ia menganggap bahwa kehancuran Titan disebabnya oleh ketidakseimbangan antara jumlah sumber daya dengan jumlah penduduk. Jumlah penduduk seharusnya dapat dikendalikan. Untuk mencegah agar alam semesta beserta isinya tidak mengalami nasib yang serupa dengan Titan, maka Thanos berniat untuk mengendalikan populasi alam semesta. Apakah yang Om Thanos menginginkan program KB (Keluarga Berencana)? Apakah Thanos itu Duta KB? ūüėõ Oooh tentu tidak, Thanos menginginkan sesuatu yang lebih ekstrim. Ia ingin membunuh separuh populasi alam semesta agar separuh populasi yang tidak ia bunuh, dapat hidup damai tanpa memperebutkan sumber daya. Dari sudut pandangnya sendiri, Thanos merasa bahwa ia melakukan kebaikan dan pengorbanan bagi masa depan alam semesta. Ini sungguh berbeda dengan tokoh antagonis lain yang mayoritas tujuan hidupnya adalah untuk meraih kekuasaan dan kekayaan semata. Tokoh Thanos tidaklah mengecewakan, ia memang pantas untuk menjadi lawan terkuat pada film crossover terbesar tahun ini.

Pada film-film MCU sebelumnya, tersirat bagaimana Thanos berusaha mencari 6 buah batu infinity yang dapat memberikan kekuatan tertentu bagi tuannya. Batu-batu tersebut pun sebenarnya sudah beberapa kali muncul dan menjadi rebutan beberapa karakter MCU. Apa itu batu infinity sebenarnya? Batu infinity merupakan batu yang tercipta ketika alam semesta tercipta. Masing-masing batu memiliki kekuatan penciptaan masing-masing yaitu batu kekuatan, batu pikiran, batu ruang, batu waktu, batu jiwa dan batu realita. Pada film-film MCU sebelum Avengers Infinity Wars (2018), dikisahkan bahwa memegang 1 batu saja sudah dapat memberikan kekuatan super dahsyat bagi pemegangnya. Bagaimana bila ada yang dapat memiliki keenam batunya?

Batu ruang, atau dikenal dengan nama tesseract, adalah batu infinity pertama yang dikenalkan MCU. Batu ini awalnya tersimpan di pedalaman Norwegia sampai pada suatu hari, Pasukan Nazi yang dipimpin Red Skull (Hugo Weaving) menemukannya pada Captain America: The First Avengers (2011). Kemudian batu tersebut menjadi rebutan pada film-film MCU berikutnya hingga akhirnya, batu ini berhasil disembunyikan Loki (Tom Hiddlestone) pada akhir dari Thor: Ragnarok (2017). Sayangnya, pada awal Avengers Infinity War (2018), tesseract berhasil Thanos rebut setelah ia menghancurkan armada Kerajaan Asgard yang sedang dalam perjalanan menuju Bumi. Thanos bahkan mampu membuat Loki, Thor (Chris Hemsworth) dan Hulk / Bruce Banner (Mark Ruffalo) bertekuk lutut padahal Thanos hanya datang dengan menggunakan 1 batu infinity, yaitu batu kekuatan.

Batu kekuatan, atau dikenal dengan nama orb, merupakan batu infinity yang menjadi rebutan pada Guardians of The Galaxy (2014). Batu yang pada dasarnya hanya dapat dikendalikan oleh Star-Lord / Peter Quill (Chris Pratt) ini, berhasil Thanos rebut dari Planet Xandar. Nova Corps yang bertugas melindungi Planet Xandar dan orb nampaknya mengalami nasib yang tragis sebab Thanos nampak sudah memiliki batu kekuatan sejak awal film Avengers Infinity War (2018).

Batu kekuatan sebenarnya bukanlah batu infinity pertama yang Thanos miliki. Sebelumnya, Thanos sempat memiliki batu pikiran yang ditempelkan pada bagian ujung tongkat chitauri. Tongkat ini kemudian Thanos pinjamkan kepada Loki untuk merebut tesseract di Bumi pada The Avengers (2012). Kemudian batu ini mengalami beberapa kali perpindahan kepemilikan sampai pada akhirnya batu ini berada di kening Vision (Paul Bettany) pada Avengers: Age of Ultron (2015). Vision sebenarnya merupakan sebuah super komputer canggih ciptaan Iron Man atau Tony Stark (Robert Downey Jr.). Dengan keberadaan batu pikiran pada Vision, Vision telah mampu berkembang menjadi organisme yang lebih kompleks. Ia bahkan dapat menjalin asmara dengan Scarlet Witch atau Wanda Maximoff (Elizabeth Olsen). Pada Avengers Infinity War (2018) ini, keduanya harus melarikan diri dari kejaran jendral-jendral tangan kanan Thanos yang berusaha mengambil batu pikiran dari kening Vision. Beruntung Captain America / Steve Rogers (Chris Evans), Natasha Romanoff / Black Widow (Scarlett Johansson) dan Sam Wilson / Falcon (Anthony Mackie) datang membantu. Mereka kemudian melarikan diri ke Wakanda, dengan dibantu oleh James “Rhodey” Rhodes / War Machine (Don Cheadle), untuk berlindung di dalam perisai negeri asal T’Challa / Black Panther (Chadwick Boseman) tersebut. Tak lupa sahabat Captain America dari masa lampau, Bucky Barnes / Winter Soldier (Sebastian Stan), sudah menanti pula di Wakanda.

Sementara Captain America dan kawan-kawan melarikan diri ke Wakanda, Hulk / Bruce Banner berhasil melarikan diri dari kapal Asgard yang dihancurkan Thanos. Banner berhasil melakukan teleport ke Bumi dan langsung menemui Iron Man / Tony Stark dan Stephen Strange / Doctor Strange (Benedict Cumberbatch) untuk memperingatkan akan kedatangan Thanos. Tak lama kemudian, mereka bersama dengan Peter Parker / Spider-Man (Tom Holland), harus mempertahankan batu waktu yang ada di dalam kalung mata agamoto milik Doctor Strange. Batu waktu pernah memicu konflik pada Doctor Strange (2016). Warnanya hijau, padat dan membuat pemegangnya mampu memutar waktu ke masa lalu dan masa lampau.

Berbeda dengan batu waktu yang padat, batu realitas atau aether berbentuk seperti cairan yang mengalir di udara. Aether pernah memicu konflik pada Thor: The Dark World (2013). Bangsa Asgard saat itu sudah memiliki dan menjaga batu ruang atau tesseract, sehingga mereka mempercayakan aether kepada Taneleer Tivan / The Collector (Benicio del Toro).

Nah bagaimana dengan batu jiwa? Sepengetahuan saya, batu ini belum pernah muncul atau menjadi rebutan pada film-film MCU sebelumnya. Namun, konon lokasi penyimpanan batu jiwa yang misterius ini sebenarnya sudah diketahui oleh salah satu dari anggota Guardians of The Galaxy. Siapakah itu? Apakah Star-Lord? Drax (Dave Bautista)? Mantis (Pom Klementieff)? Gamora (Zoe Saldana)? Groot (Vin Diesel)? Rocket (Bradley Cooper)? Atau bahkan Nebula (Karen Gillan)? Aaahhhh, saya tidak akan menulis spoiler di sini hehehehe.

Kali ini para pahlawan yang sudah memiliki film solo melalui film-film MCU sebelumnya, harus mencegah usaha Thanos mengumpulkan keenam batu infinity. Pada Avengers Infinity War (2018) ini akan ada beberapa tokoh utama yang berguguran. Kehadiran Thanos memang membawa aroma tersendiri di sini. Karena ketika Thanos muncul, siapapun bisa saja tewas. Tidak ada satu superhero-pun yang aman dari Thanos. Saya lihat, tokoh utama yang tewas di tangan Thanos ada pula yang merupakan tokoh legendaris icon Marvel, sungguh tidak terduga :’D.

Dengan kekuatan yang dahsyat, Thanos begitu ditakuti. Tapi kok kenapa Thanos baru turun tangan pada Avengers Infinity War (2018)? Thanos sudah ada sejak dulu, ia bahkan sudah lama memegang batu kekuatan sebelum Loki menghilangkannya pada The Avengers (2012). Jawabannya adalah karena tewasnya The Ancient One (Tilda Swinton) pada Doctor Strange (2016), Ego (Kurt Rusell) pada Guardians of the Galaxy Vol. 2 (2017), tewasnya Odin (Anthony Hopkins) pada Thor: Ragnarok (2017). Ketiga karakter ini memang sudah uzur namun terkenal akan kekuatannya sehingga Thanos tidak dapat leluasa bergerak. Keadaan semakin menguntungkan bagi Thanos ketika The Avengers pecah kongsi setelah terjadi skandal pembunuhan ayah Black Panther yang melibatkan Winter Soldier pada Captain America: Civil War (2016). Ahhhh, inilah saat yang tepat bagi Thanos untuk maju habis-habisan dengan segenap kekuatan dan prajurit yang ia miliki.

Saya sadar bahwa banyaknya karakter yang hadir, bisa saja membuat penonton kebingungan. Tapi pada kenyataannya, cerita pada film ini sudah dibuat sedemikian rupa sehingga tidak membingungkan bagi teman-teman yang belum menonton film-film MCU sebelumnya. Hadirnya berbagai karakter kuat dalam film inipun, ternyata mampu diramu dengan tepat sehingga menghasilkan satu kesatuan film yang baik dan menghibur. Jadi tidak ada karakter yang tenggelam atau terlalu dominan pada film ini. Saya beberapa kali tersenyum melihat humor-humor yang muncul, film ini tidak terlalu serius dan tidak membosankan. Hal ini patut saya acungi jempol. Sayang akhir dari Avengers Infinity War (2018) seperti belum tuntas dan masih menyisakan beberapa pertanyaan yang mungkin akan terjawab pada film Avengers berikutnya. Saya pun masih mereka-reka memgenai jalur cerita akan diambil oleh film ini. Pada versi komik, pertarungan antara Avenger dan Thanos memang panjang dan terjadi dengan berbagai versi. Entah Avengers Infinity War (2018) akan membawa MCU ke arah versi yang mana, atau justru memiliki versi sendiri yang berbeda?

Jalan cerita yang menarik dan membuat saya penasaran, serta didukung dengan adegan aksi, special affect dan kostum yang mumpuni, tentunya membuat saya ikhlas untuk memberikan Avengers Infinity War (2018) nilai 4 dari skala maksimum 5 yang artinya “Bagus”. Film ini pada dasarnya ada film superhero dengan karakter antagonis sebagai karakter utamanya, sesuatu yang menarik ;).

Sumber: marvel.com/avengers

Iklan

The Fate of the Furious (2017)

Kisah para pembalap jalanan kembali hadir melalui film Fast & Furious kedelapan atau Fast 8 atau F8 atau The Fate of the Furious (2017). Kecuali karakter Brian O’Conner dan istri, kali ini akan kembali hadir sahabat & anggota tim Dominic Toretto (Vin Diesel) yang tersisa dari insiden pada¬†Furious 7 (2015)¬†yaitu Luke Hobbs (Dwayne Johnson),¬†Roman Pearce (Tyrese Gibson),¬†Letty Ortiz (Michelle Rodriguez),¬†Tej Parker (Chris ‘Ludacris’ Bridges) & Ramsey (Nathalie Emmanuel). Anggota tim Dom yang sudah seperti keluarga kali ini harus berhadapan dengan ….. Dom.

Wew, Dominic menghianati teman-temannya sendiri? Pada sebuah misi, Dom memilih untuk berhianat dengan membantu Cipher (Charlize Theron), seorang teroris yang ternyata menjadi dalang pada Fast & Furous 6 (2013) dan  Furious 7 (2015). Teman-teman Dom kini justru mendapatkan bantuan dari tokoh antagonis pada Fast & Furous 6 (2013) dan  Furious 7 (2015), mereka bersatu untuk menghentikan Cipher dan Dom.
Kenapa Dom berhianat? Sayangnya kisah mengenai asal mula kenapa Dom berhianat sudah dikisahkan dari awal film. Alasan utamanya ternyata berhubungan dengan karakter pada Fast Five (2011) yang sekali lagi sudah diungkapkan pada bagian tengah film. Saya rasa sebenarnya The Fate of the Furious (2017) memiliki peluang besar untuk membuat penontonnya penasaran seperti ketika menonton trailer-nya. Sayang sekali peluang tersebut tidak dimanfaatkan dengan baik sehingga sekali lagi film franchise Fast & Furious menjadi film aksi yang mudah ditebak alurnya.

Saya akui adegan aksi yang ditampilkan terbilang ambisius. Di sana saya melihat mobil-mobil berjatuhan, aksi tank baja sampai kapal selam. Semuanya nampak keren dan memukau, tapi rasanya kok film-film franchise Fast & Furious sekarang seperti kehilangan roh awalnya? Bukankah film ini pada awalnya merupakan film mengenai balapan jalanan yang menampilkan mobil-mobil keren dengan aksi yang memukau? Memang sih lawan yang dulu dihadapi hanya kelas penyelundup dan pencuri saja, bukan teroris internasional. Tapi itu rasanya lebih rasional dan lebih asli.

Sekarang, musuhnya memang lebih bombastis, tapi hal itu membuat The Fate of the Furious (2017) tak olahnya seperti film-film Mission Imposible, Bourne dan James Bond. Sudah banyak franchise film yang mengangkat isu bombastuis nan kompleks seperti ini, pasaran. Fast & Furious seperti kehilangan jati diri. Adegan balapan pada The Fate of the Furious (2017) hanya terlihat pada bagian awal film saja demi menunjukkan kepada penonton bahwa tokoh utamanya adalah pembalap jalanan dan film ini layak disebut sebagai bagian dari franchise Fast & Furious :P.

Namun bagaimanapun juga, adegan aksinya terbilang lumayan bagus meskipun saya melihat beberapa adegan rumit tak masuk akal di sana. Jalan ceritanya sedikit banyak masih mampu mengimbangi adegan aksinya sehingga saya tidak mengatuk selama menonton film yang durasinya hampir 3 jam. Yaaa ampun, mau menyaingi durasinya Batman Dark Knigh Trilogi mas?

Secara keseluruhan, film ini masih layak untuk memperoleh nilai 3 dari skala maksimum 5 yang artinya “Lumayan”. Melihat bagian akhir film ini dan besar pendapatannya, saya rasa akan ada film Fast & Furious kesembilan. Entah tokoh Luke Hobbs akan tetap ada atau tidak, melihat perseteruan antara Vin Diesel dan Dwayne Johnson menjelang rilis The Fate of the Furious (2017).

Sumber: http://www.fastandfurious.com

Guardians of the Galaxy Vol. 2 (2017)

Guardian of the Galaxy Vol. 2 (2017) termasuk film 2017 yang tidak akan saya lewatkan. Film ini tentunya akan kembali mengisahkan petualangan sekelompok mahluk luar angkasa yang terdiri dari Star-Lord atau Peter Quill (Chris Pratt), Gamora (Zoe Saldana), Drax the Destroyer (Dave Bautista), Rocket (Bradley Cooper) dan Groot (Vin Diesel). Memang sih tokoh-tokohnya tidak sepopuler The Avengers, tapi kisah The Guardians of the Galaxy tentunya akan tetap menarik diikuti karena kandungan humor yang lebih kental di sana. Selain itu, konon The Guardian of the Galaxy akan bergabung dengan The Avengers juga untuk melawan mega villain Thanos pada film berikutnya yang akan datang, bukan pada Guardians of the Galaxy Vol. 2 (2017) tentunya ;).

Berbeda dengan film superhero Marvel lainnya, Guardians of the Galaxy mengambil luar angkasa sebagai latar belakangnya, yaaa latar belakangnya jadi mirip Star Trek. Tentunya kita akan melihat pesawat luar angkasa, planet dan mahluk-mahluk luar angkasa yang unik. Mirip seperti film pertamanya, penampakan Bumi sebagai latar belakang rasanya hanya secuil saja, yaitu ketika mengisahkan latar belakang Peter Quill.

Masih segar diingatan saya, Guardians of the Galaxy (2014) diawali dengan asal mula Peter Quill atau Star Lord. Ibu Peter adalah manusia biasa yang meninggal dunia karena kanker otak. Kemudian Peter diambil dari Bumi oleh Yondu Udonta (Michael Rooker), pemimpin Ravengers. Ravangers sendiri merupakan sebuah kelompok pencuri, penyelundup dan bajak laut luar angkasa. Di sinilah Peter dibesarkan dan dilatih oleh Yondu sehingga Peter dapat memimpin Guardians of the Galaxy. Yondu selama ini telah menjadi figur ayah bagi Peter, namun tetap saja Yondu bukanlah ayah kandung Peter. Siapakah ayah Peter sebenarnya?

Mirip seperti Guardians of the Galaxy (2014), Guardian of the Galaxy Vol. 2 (2017) diawali dengan Bumi di erah 80-an sebagai latar belakangnya. Untuk pertama kalinya, wujud ayah Peter muncul di sana. Bertahun-tahun kemudian, dalam sebuah pertempuran luar angkasa, Guardians of the Galaxy diselamatkan oleh sosok misterius yang tak lain adalah ayah Peter. Dengan kekuatan dan teknologi yang dimiliki, Ego (Kurt Russell) datang menolong anaknya yang telah lama ia cari. . . . . . Ow ow ow ow tunggu sebentar, lha kok yang muncul malah Ego? Pada versi komik, ayah Peter Quill adalag J’son, raja dari bangsa Spartoi. Sementara itu Ego versi komik adalah sesuatu yang berbeda yaa, rasanya Ego lebih banyak berinteraksi dengan Thor dibandingkan Guardians of the Galaxy. Aahhh apakah Ego sama dengan J’son? Apakah Ego benar ayah Peter? Terlepas dari versi komiknya, Ego yang diperankan Kurt Russell bukanlah raja, melainkan semacam kaum celestial yang memiliki kemampuan penciptaan. Kaum ini bagaikan dewa bagi mahluk-mahluk luar angkasa karena umur dan kemampuannya yang luar biasa. Peter ternyata mewarisi beberapa kemampuan yang Ego miliki. Hanya saja, Peter separuh manusia sehingga ia memiliki hati nurani dan perasaan, hal itulah yang tidak dimiliki Ego sebagai kaum celestial murni.

Mendengar kabar bahwa Peter sudah bertemu dengan Ego, Yondu langsung berangkat menyusul Peter. Dahulukala, Yondu mengambil Peter dari Bumi atas permintaan Ego, namun Yondu tidak mengantarkan Peter kepada Ego. Yondu justru “menculik” Peter karena menurut Yondu, Peter berbakat menjadi anggota Ravangers seperti dirinya. Film Guardian of the Galaxy kali ini mengambil “keluarga” sebagai temanya dengan hubungan antara Peter dengan Ego dan Yondu berada di pusat. Ego, seorang dewa abadi yang maha kuat dan berkuasa, namun tidak pernah ada untuk Peter. Yondu, seorang penjahat yang agak brengsek dan keras, namun selalu ada untuk Peter dengan caranya sendiri. 2 figur ayah yang sama-sama memiliki kekurangan dan keabnormalan, tentunya menjadikan kisah Guardian of the Galaxy Vol. 2 (2017) menjadi semakin unik.

Tidak hanya keluarga Peter, hubungan di dalam keluarga Gamora pun ikut ditampilkan di sini. Nebula (Karen Gillan) yang menjadi salah satu tokoh antagonis pada Guardians of the Galaxy (2014), kini hadir akantetapi sebagai sekutu Peter dan kawan-kawan. Asal mula hubungan benci tapi cinta antara Nebula dan Gamora dikemas dengan apik. Nebula dan Gamora adalah anak dari Thanos, dimana ketiganya saling benci satu sama lain.

Tidak hanya memperoleh Nebula sebagai sekutunya, hadir pula Mantis (Pom Klementieff) sebagai sekutu baru Guardians. Mantis memiliki kemampuan mendeteksi perasaan sekaligus mengubah perasaan mahluk lain, namun Mantis sendiri mempunyai kemampuan bersosialisasi yang buruk. Ketidakmanpuan Mantis bersosialisasi ini sering memancing tawa.

Bak film komedi saya sering tertawa ketika menonton film ini, terlebih lagi ketika melihat tingkah si kecil Groot yang hanya dapat berkata,”I am Groot” :D. Tokoh Guardians favorit saya bukanlah Peter, Gamora, Drax atau Rocket, melainkan Groot :D. Mimik dan tingkah yang lucu tidak mengurangi kontribusi Groot terhadap Guardians ketika bahaya datang. Tubuh yang mungil justru menjadi kelebihan Groot karena diam-diam Groot dapat menyusup ke dalam lorong-lorong sempit, hal yang tak dapat anggota Guardians lainnya.

Saya rasa Guardian of the Galaxy Vol. 2 (2017) berhasil menjadi film yang lengkap. Di sana ada tawa canda, ada tangis yang mengharukan, tak lupa tentunya ada banyak adegan aksi yang apik dengan didukung special effeck yang bagus :). Saya rasa film ini lebih baik daripada film pertamanya.

Guardian of the Galaxy Vol. 2 (2017) tentunya layak untuk memperoleh nilai 4 dari skala maksimum 5 yang artinya “Bagus”. Pada film Marvel kali ini, Stan Lee bukanlah satu-satunya karakter yang sekilas muncul, hadir pula Sylvester Stallone sebagai . . . . aaahhh silahkan tonton sendiri filmnya, bagus kok ;).

Sumber: marvel.com/guardians

xXx: Return of Xander Cage (2017)

Seri ketiga film Triple X atau XXX kembali hadir dengan menampilkan kembali Xander Cage, agen XXX pada film pertama Triple X yaitu XXX (2002). Setelah menghilang pada XXX: State of the Union (2005), Xander Cage (Vin Diesel) kembali menjadi agen XXX pada xXx: Return of Xander Cage (2016). Pada XXX (2002), Cage direkrut oleh Augustus Eugene Gibbons (Samuel L. Jackson) untuk menjadi agen XXX yang tangguh dan mampu menyelamatkan dunia. Posisi Cage sebagai agen XXX sempat tergantikan oleh Darius Stone (Ice Cube) pada XXX: State of the Union (2005). Saya pikir film-film Triple X akan menggunakan agen XXX yang berbeda di setiap filmnya, ahhh ternyata saya salah. Xander Cage (Vin Diesel) kembali dihadirkan pada xXx: Return of Xander Cage (2016), mungkinkah karena nama besar Vin Diesel dianggap mampu mendongkrak pendapatan film ini? Kalau dilihat dari pendapatan sampai saat ini, sepertinya xXx: Return of Xander Cage (2016) memang sudah meraup keuntungan melebihi XXX: State of the Union (2005).

Apakah hanya nama Vin Diesel saja yang diandalkan? Tentu tidak, kali ini XXX harus berhadapan dengan Xiang (Donnie Yen), Serena Unger (Deepika Padukone), Taloon (Tony Jaa) dan Hawk (Michael Bisping) yang telah mencuri Pandora Box, sebuah alat militer canggih yang mampu mengendalikan satelit manapun di angkasa. Untuk memgambil kembali Pandora Box, Cage dibantu oleh Adele Wolff (Ruby Rose), Rebecca “Becky” Clearidge (Nina Dobrev), Tennyson “The Torch” (Rory McCann) dan Harvard “Nicks” Zhou (Kris Wu).

Seperti film-film Triple X sebelumnya, xXx: Return of Xander Cage (2016) menghadirkan banyak aksi, aksi dan aksi di mana-mana, mulai dari yang keren sampai yang berlebihan dan jauh dari akal sehat. Didukung dengan jalan cerita yang klise dan tidak segar, xXx: Return of Xander Cage (2016) seolah menjadi film aksi yang miskin cerita, yaaahhh isinya hanya begitu-begitu saja.

 

Keterlibatan rumah produksi asal Tiongkok memang membawa porsi yang besar bagi aktor-aktor laga Asia untuk unjuk gigi dan memberikan warna baru. Tapi sayang itu belum cukup untuk mendongkrak kualitas xXx: Return of Xander Cage (2016) di mata saya. Saya masih lebih suka dengan XXX: State of the Union (2005) dibandingkan xXx: Return of Xander Cage (2016) meskipun film kedua Triple X praktis hanya mengandalkan nama Ice Cube sebagai pemeran utamanya.

Maaf Mas Xander Cage, film yang menampilkan kehadiran kembali panjenengan hanya mampu memperoleh nilai 2 dari skala maksimum 5 yang artinya “Kurang Bagus”. Kalau teman-teman mau menonton film dengan beberapa aksi akrobatik yang memukau, silahkan tonton xXx: Return of Xander Cage (2016). Tapi kalau mau menonton film aksi dengan alur cerita yang menarik, sebaiknya cari film lain saja :).

Sumber: http://www.returnofxandercage.com

Guardians of the Galaxy (2014)

Guardian Galaxy 1

Satu lagi film dari dunia komik Marvel, diangkat ke layar lebar, Guardians of the Galaxy (2014). Film yang trailer-nya sudah muncul sejak 2013 lalu ini sebenarnya diambil dari komik Guardians of the Galaxy yang terbit pada tahun 1969. Lucunya, karakter-karakter utama yang ada di komik Guardians of the Galaxy tahun 1969, 100% berbeda dengan karakter-karakter utama pada versi film Guardians of the Galaxy. Perbedaan ini tidak mempengaruhi saya sama sekali sebab terus terang saya baru tahu mengenai Guardians of the Galaxy yaa baru-baru ini saja, komiknya belum pernah saya baca sama sekali. Serial komiknya kurang populer bagi saya ;). Walaupun begitu, saya tetap tertarik untuk menonton Guardians of the Galaxy (2014), apalagi setelah film ini mendapat nilai yang bagus dari beberapa rekan saya ;).

Guardians of the Galaxy (2014) menghadirkan petualangan sekelompok penjahat luar angkasa yang awalnya saling bermusuhan. Pada Guardians of the Galaxy (2014), dikisahkan bagimana Star-Lord atau Peter Quill (Chris Pratt), Gamora (Zoe Saldana), Drax the Destroyer (Dave Bautista), Rocket (Bradley Cooper) dan Groot (Vin Diesel) bersatu membentuk Guardians of The Galaxy. Peter Quill adalah manusia separuh alien yang dibesarkan oleh Yondu Udonta (Michael Rooker), pemimpin sekelompok bandit yang bernama The Ravengers. Dengan berbekal informasi dari Yondu, Peter berhasil mencuri sebuah bola misterius dan memutuskan untuk menghianati Yondu dengan kabur dan hendak menjual bola tersebut tanpa persetujuan Yondu.

Guardian Galaxy 15

Guardian Galaxy 5

Guardian Galaxy 7

Guardian Galaxy 18 Guardian Galaxy 17

Guardian Galaxy 21

Akibat ulahnya, Peter diburu oleh berbagai pihak termasuk Gamora, Rocket dan Groot. Rocket & Groot adalah duet pemburu buronan yang handal. Tubuh mungil Rocket diimbangi oleh kekuatan Groot dan kekurang cerdasan Groot diimbangi oleh kecerdikan Rocket.

Guardian Galaxy 26

Guardian Galaxy 24

Sementara itu Gamora adalah anak angkat Thanos yang diutus untuk menolong Ronan the Accuser (Lee Pace), salah satu pemimpin bangsa Kree yang radikal. Ronan dan pengikutnya ingin memusnahkan planet Xandar dan penghuninya. Ronan sangat tidak setuju akan perjanjian damai antara Xandar dan bangsa Kree, maka ia memerintahkan sebagian bangsa Kree yang menjadi pengikutnya untuk menyerang stasiun luar Xandar.

Guardian Galaxy 6

Guardian Galaxy 2

Guardian Galaxy 14 Guardian Galaxy 13

Kurang puas, Ronan ingin Xandar hancur. Demi memenuhi ambisinya tersebut, Ronan bersekutu dengan Thanos, salah satu tokoh antagonis terkuat di dunia komik Mavel. Thanos bersedia membantu Ronan menghancurkan Xandar asalkan Ronan membawa bola misterius yang Peter curi. Thanos mengurus 2 anak angkatnya, Gamora dan Nebula (Karen Gillan), untuk membantu Ronan.

Guardian Galaxy 25

Sayang, aksi kejar mengejar antara Peter, Gamora, Rocket & Groot membuat keempat karakter ini tertangkap Nova Corp, tentara planet Xandar. Di penjara, mereka bertemu Drax the Destroyer, seorang narapidana yang disegani oleh seisi penjara. Drax pada awalnya berusaha membunuh Gamora begitu mengetahui bahwa Gamora adalah kaki tangan Thanos & Ronan. Drax memiliki dendam yang sangat besar kepada Ronan karena istri dan anak Drax dibunuh oleh Ronan. Nah, awal pertemuan yang penuh dengan konflik dan permusuhan ini ternyata dapat membentuk Guardians of The Galaxy yang kompak dan saling menolong.

Guardian Galaxy 11

Guardian Galaxy 19 Guardian Galaxy 10

Guardian Galaxy 23

Guardian Galaxy 8

Diantara semua anggota Guardians of The Galaxy, karakter favorit saya pada film ini bukanlah Peter sang pemimpin atau Drax yang terlihat keren dengan tato-tatonya, melainkan Goot & Rocket. Kompak, lucu dan saling melengkapi adalah nilai plus kedua karakter ini. Cerita pada film ini akan datar kalau tidak ada Groot & Rocket.

Guardian Galaxy 27 Guardian Galaxy 9

Saya menikmati alur cerita Guardians of the Galaxy (2014), alurnya menarik dan berhasil menyuguhkan tontonan yang lumayan seru. Special effect dan kostum yang digunakan pun lumayan bagus. Semua alien-alien digambarkan memiliki anatomi yang seperti manusia yaitu punya 1 kepala, 2 kaki dan 2 tangan. Yang membedakan hanyalah wujud kepala dan warna tubuhnya, cukup sederhana namun tidak terlihat murahan.

Guardian Galaxy 22 Guardian Galaxy 20 Guardian Galaxy 16 Guardian Galaxy 12 Guardian Galaxy 4 Guardian Galaxy 3

Yang saya kurang suka dari Guardians of the Galaxy (2014) adalah soundtrack-nya, semuanya adalah lagu-lagu tahun 70-an, rasanya kok kurang pas dan agak aneh saja. Namun, sebagian orang berpendapat bahwa ini adalah hal yang unik dan keren, jarang-jarang ada film superhero luar angkasa menggunakan lagu-lagu lawas, yaaa beda opini kan sah-sah saja.

Untuk ukuran sebagai film superhero yang baru saya kenal, Guardians of the Galaxy (2014) cukup menghibur saya meskipun tidak terlalu “wow”. Film ini layak untuk mendapat nilai 3 dari skala maksimum 5 yang artinya “Lumayan”.

Sumber: marvel.com/guardians

Fast & Furious 6 (2013)

FF6_1

Fast & Furious merupakan film keenam dari deretan film The Fast & the Furious. Ahhhh tidak terasa The Fast & the Furious sudah sampai 6 film. Sejak penayangan film pertamanya pada tahun 2001 lalu, film ini selalu masuk box office. Ceritanya berkisar pada kehidupan dunia balapan liar yang diselimuti oleh berbagai aksi kejahatan, karakter protagonisnya pun tidak semuanya orang baik-baik.

FF6_6FF6_2FF6_14FF6_15FF6_16Pada Fast & Furious 6 ini, dikisahkan bahwa Dominic Toretto (Vin Diesel), Brian O’Connor (Paul Walker),¬†Gisele (Gal Gadot), Han (Sung Kang), Roman (Tyrese Gibson) & Tej (Ludacris)¬†hidup terpisah setelah mereka berhasil mengalahkan penjahat kelas kakap di Brasil pada film Fast Five (2011). Memiliki kekayaan namun hidup sebagai buronan tidaklah selalu menyenangkan. Peluang bagi Dom dan kawan-kawan untuk hidup bebas, tidak sebagai buronan lagi, muncul ketika Luke Hobbs (Dwayne Johnson) & Riley (Gina Carano)¬†datang dengan sebuah tawaran. Hobbs menawarkan pengampunan penuh atas tindakan kriminal yang dilakukan Dom dan kawan-kawan di masa lalu asalkan mereka berhasil membantu Hobbs menangkap kawanan pencuri yang dipimpin oleh Owen Shaw (Luke Evans). Bagi Dom, tawaran ini bersifat personal karena ternyata Letty Ortiz (Michelle Rodriguez), kekasih Dom yang dikisahkan tewas pada Fast & Furious (2009), masih hidup dan bekerja kepada Shaw.

FF6_10

FF6_4

FF6_8 FF6_9 FF6_7

Tim yang dikumpulkan Shaw terdiri dari 12 orang dengan keahliannya masing-masing, termasuk Letty. Sama seperti tim yang dipimpin Dom, tim ini juga bekerja sama dalam melakukan aksi kriminal. Hanya saja terdapat perbedaan perspektif mengenai definisi tim antara Dom & Shaw. Bagi Dom, tim adalah keluarga, satu untuk semua. Sementara bagi Shaw, tim adalah kelompok yang dapat dibongkar pasang dengan cepat agar efisien. Kalau saya tebak, tim Dom pastilah menang, hanya saja mungkin tidak semua anggota tim Dom selamat & setia ;).

FF6_12

FF6_11

Fast And Furious 6

FF6_5

FF6_13

Kalau saya lihat, jalan cerita film ini berkaitan erat dengan film Fast & Furious (2009), mulai dari musuhnya sampai munculnya tokoh Letty lagi. karakter favorit saya pada film ini bukanlah Dom ataupun O’Connor, tapi Roman, kebodohannya bisa membuat saya tersenyum hehehehe. Seperti saya duga, film ini memiliki banyak adegan kejar-kejaran dengan berbagai kendaraan. Namun, rasanya¬†adegan kejar-kejarannya terbilang biasa saja, mobil-mobil balap yang ditampilkanpun tidak sebanyak film The Fast & The Furious yang pertama & kedua. Adegan berkelahinya lumayan bagus hanya saja ada beberapa yang menurut saya agak berlebihan, ga mungkin bangeddd. Entah kenapa jalan ceritanyapun kurang wow, meski ada sedikit kejutan di bagian akhir film. Menurut saya, film ini layak mendapat nilai 3 dari skala maksimum 5 yang artinya “Lumayan”. Oh yaaa, salah satu aktor pada film ini ada orang Indonesianya looh, namanya Joe Taslim, dia berperan sebagai Jah, salah satu anak buah Shaw yang kalahnya terakhir. Bangga juga, ada orang Indonesia yang bisa kerja bareng aktor Hollywood, semoga yang lain cepat nyusul :).

Sumber: www.thefastandthefurious.com/splashpage/