Avengers: Endgame (2019)

Bulan ini semua mata tertuju pada Marvel Studio yang merilis Avengers: Endgame (2019), sebuah akhir dari sebuah semesta film yang sudah berlangsung sejak 2008 lalu sebagaimana sudah saya jelaskan pada Avengers Infinity War (2018). Disana pulalah sudah saya jelaskan mengenai MCU (Marvel Cinematic Universe) dan batu-batu infinity yang menjadi rebutan pada film-film MCU. Penggunaan batu-batu tersebut mencapai puncaknya pada Avengers Infinity War (2018). Penggunaan satu batu saja sudah menimbulkan banyak masalah. Nah pada Avengers Infinity War (2018), Thanos (Josh Brolin) menggunakan 6 batu infinity sekaligus loh.

Akhir dari film Avengers Infinity War (2018) menyisakan tragedi dan banyak pertanyaan. Akhir dari film tersebut memang mengakibatkan tewasnya sebagian besar superhero pada film-film Marvel yang sebagian besar merupakan anggota Avengers. Nah, pada Avengers: Endgame (2019) inilah para superhero yang tersisa berusaha memperbaiki keadaan. 5 tahun berlalu dan mereka terpaksa harus melanjutkan hidup dengan penuh penyesalan.

Hhhmmm, bagi teman-teman yang mengikuti semua film superhero Marvel sejak 2008 lalu, pasti menyadari bahwa tidak semua superhero Marvel atau MCU hadir pada Avengers Infinity War (2018). Ant-Man (Paul Rudd) dan Hawkeye (Jeremy Renner) absen tanpa alasan yang jelas. Hawkeye ternyata memilih untuk tidak ikut campur dengan urusan Avengers dam memilih untuk menghabiskan waktunya dengan keluarga. Ia pun menjadi tahanan rumah setelah perbuatannya pada Captain America: Civil War (2016). Ulah Thanos pada Avengers Infinity War (2018), membuat Hawkeye berubah menjadi liar dan kejam. Versi gelap Hawkeye ini, kalau di komik namanya Ronin. Entah mengapa, saya lebih suka dengan Hawkeye yang baru ini ;).

Senasib dengan Hawkeye, Ant-Man pun menjadi tahanan rumah dan hidup dengan anak semata wayangnya. Tapi sebagaimana dikisahkan pada Ant-Man and the Wasp (2018), Ant-Man terperangkap di dalam dunia kuantum ketika Thanos menggunakan kekuatan 6 batu infinity. Ant-Man kembali ke dunia, 5 tahun setelah peristiwa pada Avengers Infinity War (2018). Ia datang membawa harapan, sebuah kesempatan kedua bagi para superhero untuk kembali meraih kemenangan. Mereka berencana untuk menggunakan dunia kuantum sebagai gerbang menuju masa lalu. Whah, Avengers mau merubah masa depan? Berbeda dengan film-film lain yang menggunakan perjalanan menembus waktu sebagai salah satu temanya, Avengers: Endgame (2019) memilih untuk mengisahkan perjalanan waktu dengan cara dan pendekatan yang berbeda. Sebuah hal yang kreatif, karena Avengers: Endgame (2019) menganut faham bahwa kita tidak akan dapat mengubah masa depan dengan datang mengacak-acak masa lalu ;).

Lohhh, tunggu sebentar, bagaimana dengan Captain Marvel? Bukankah ia termasuk superhero yang absen pada Avengers Infinity War (2018) dan baru hadir lagi pada Avengers: Endgame (2019)? Di luar dugaan saya, peranan Captain Marvel yang kekuatannya dahsyat seperti Superman, tidak terlalu menonjol di sini.

Well, fokus Avengers: Endgame (2019) ini bukanlah superhero yang film solonya baru satu seperti Kapten Marvel. Fokus film ini adalah anggota tetap Avengers yang sudah lama ada dan menjadi simbol dari MCU selama ini. Sebuah akhir dari perjalanan panjang selama 11 tahun dan 22 film MCU. Saya melihat banyak adegan yang mengharukan pada film Avengers: Endgame (2019), sesuatu yang belum pernah saya alami ketika menonton film superhero.

Selama film ini berlangsung, para anggota Avengers berkelana kembali ke masa lalu yang pernah dikisahkan oleh film-film MCU sebelumnya. Bagi penonton yang sudah menonton semua film MCU sebelum Avengers: Endgame (2019), pendekatan ini penuh nostalgia dan sangat kreatif karena mereka menggunakan latar belakang kejadian-kejadian dari film MCU lain tapi dari sudut pandang yang berbeda :D.

Selain itu, kenyataan bahwa pada Avengers: Endgame (2019) ini tidak ada superhero yang pasti akan selamat. Semua memiliki kemungkinan akan gugur entah bagaimana caranya ;). Sesuatu hal yang membuat saya penasaran sampai akhir, siapa yaaa yang akan gugur lagi? Siapa pula yaaa yang akan hidup kembali? Hohohoho. Akhir dari film ini cukup mengharukan dan di luar perkiraan saya.

Karena Avengers: Endgame (2019) merupakan bagian dari MCU yang terdiri dari berbagai film, tentunya ada beberapa bagian dari Avengers: Endgame (2019) yang asal muasalnya dikisahkan pada film lain di dalam MCU. Tapi saya rasa Avengers: Endgame (2019) cukup komunikatif bagi penonton yang belum menonton semua film-film MCU. Toh semua film yang termasuk MCU memang berkaitan tapi sifatnya berdiri sendiri, jadi bukan film bersambung macam sinetron Indonesia. Kalaupun mau mengetahui hal-hal vital yang menjadi dasar dari Avengers: Endgame (2019), saya rasa penonton awam tidak perlu menonton semua film MCU, mereka cukup menonton atau mengingat peristiwa pada The Avengers (2012), Thor: The Dark World (2013), Captain America: The Winter Soldier (2014), Guardians of the Galaxy (2014), Avengers Age of Ultron (2015), dan tentunya Avengers Infinity War (2018).

Durasi film yang hampir 3 jam sama sekali tidak membuat saya kebosanan di dal gedung bioskop. Film yang satu ini memang memiliki banyak hal yang perlu dan patut untuk dikisahkan. Semua kisah-kisah tersebut didukung dengan special effect dan adegan aksi yang keren. Sayang sekali kalau dilewatkan karena kebelet atau pegal duduk di kursi. Sebaiknya pergilah ke toilet sebelum menonton Avengers: Endgame (2019) :’D.

Saya pribadi ikhlas untuk memberikan Avengers: Endgame (2019) nilai 5 dari skala maksimum 5 yang artinya “Bagus Sekali”. Avengers: Endgame (2019) merupakan akhir sekaligus awal. MCU masih akan terus ada, tanpa kehadiran beberapa tokoh yang selama ini sudah menjadi maskot sinematik terbesar dunia ini. Kita lihat saja, apakah superhero-superhero baru yang belakangan ini diperkenalkan, mampu meneruskan kesuksesan MCU.

Sumber: http://www.marvel.com

Iklan

Ant-Man and the Wasp (2018)

Setelah euforia Avengers Infinity War (2018), Ant-Man and the Wasp (2018) akan menjadi MCU (Marvel Cinematic Universe) berikutnya yang hadir di layar lebar. Entah kenapa Ant-Man memang absen dari Avengers Infinity War (2018). Padahal ia menjadi salah satu superhero berpartisipasi pada Captain America: Civil War (2016), sebuah film MCU tepat sebelum Avengers Infinity War (2018). Hhhmmm, apa yang terjadi dengan Ant-Man pada periode antara Captain America: Civil War (2016) dan Avengers Infinity War (2018)? Saya rasa Ant-Man and the Wasp (2018) akan menjawab pertanyaan tersebut karena film ini mengambil waktu kejadian tepat setelah Captain America: Civil War (2016) dan sebelum Avengers Infinity War (2018).

Ant-Man and the Wasp

Sebagaimana pernah dikisahkan pada Ant-Man (2015), Scott Lang (Paul Rudd) adalah penjahat kelas teri yang dapat berubah menjadi Ant-Man setelah menggunakan kostum buatan Hank Pym (Michael Douglas). Ant-Man memiliki kemampuan untuk mengubah ukuran sebuah objek menjadi lebih kecil atau lebih besar. Pada suatu pertarungan di Ant-Man (2015), Ant-Man berhasil mengubah ukurannya menjadi sangat kecil sekali ke ukuran mikro hingga ia sempat mengunjungi dunia kuantum. Melalui teori kuantun, dijelaskan bahwa seseorang tidak akan mampu keluar dari dunia kuantum ketika ia berhasil menyusutkan tumbuhnya ke ukuran mikro. Scott yang saat ini menggunakan kostum Ant-Man, membuktikan bahwa teori ini salah. Ia berhasil kembali dari dunia kuantum dan mengalahkan Yellowjacket pada saat itu.

Nah, pada Ant-Man and the Wasp (2018), dikisahkan bahwa Scott ternyata membawa sesuatu dari dunia kuantum. Sesuatu yang Pym dan putrinya, Hope van Dyne (Evangeline Lily), dambakan selama 30 tahun terakhir. Semua berawal pada bencana yang terjadi sekitar 30 tahun yang lalu ketika Ant-Man dan Wasp menjalankan misi berbahaya yang menyebabkan terjebaknya Wasp di dalam dunia kuantum. Mengikuti jalan cerita komik Ant-Man tahun 1960-an, pada saat itu Hank Pym adalah Ant-Man dan istri Pym adalah Wasp. Ant-Man dan Wasp kurang kebih memiliki kemampuan yang serupa, hanya saja Wasp memiliki sayap untuk terbang. Kostum Wasp sendiri sebenarnya sudah pernah sekilas diperlihatkan pada bagian akhir Ant-Man (2015).

Ant-Man and the Wasp

Ant-Man and the Wasp

Sesuai dugaan, putri Pym, Hope van Dyke menggunakan kostum Wasp pada Ant-Man and the Wasp (2018). Bersama dengan Ant-Man, ia berusaha membuka portal menuju dunia kuantum dan menemukan ibunya yang sudah 30 tahun terjebak di sana. Perjalanan mereka tidak mudah karena ada pihak-pihak lain yang menginginkan hal tersebut pula.

Kali ini supervillain yang harus Ant-Man dan Wasp hadapi adalah Ghost (Hannah John-Kamen). Berbeda dengan di komik, karakter Ghost kali ini adalah perempuan dan memiliki motif yang tidak terlalu jahat. Walaupun memiliki kemampuan super yang cukup merepotkan Ant-Man dan Wasp, saya rasa Ghost tidak jahat. Iq hanya putus asa dan menghalalkan segala cara untuk bertahan hidup.

Ant-Man and the Wasp

Ant-Man and the Wasp

Ant-Man and the Wasp

Sebenarnya, karakter yang sesungguhnya benar-benar jahat adalah Sonny Burch (Walton Goggins). Tapi ia tidak memiliki kekuatan super apapun. Ia pun bukan bos besar yang berkuasa seperti Dr. Doom, Kingpin atau Lex Luthor. Yaaaah hanya penjahat kelas menengah yang memiliki koneksi ke FBI. Hal inilah yang cukup merepotkan Scott dan kawan-kawan karena status Scott adalah tahanan rumah yang tidak boleh kemana-mana. Setelah Scott ikut membantu pihak Captain America melanggar hukum pada Captain America: Civil War (2016), ia memilih untuk menjalani hukuman asalkan ia dapat bertemu putri semata wayangnya, Cassie (Abby Ryder Fortson). Ini memang berbeda dengan mayoritas superhero pendukung Captain America lainnya yang memilih menjadi buronan.

Ant-Man and the Wasp

Yaaaah, rasanya Ant-Man and the Wasp (2018) memang berbicara tentang keluarga. Hal-hal yang rela dikorbankan agar dapat hidup bersama keluarga. Di sana terlihat hubungan ayah anak yang kompak dan sedikit mengharukan. Semua dibalut dengan berbagai kelucuan dari Scott Lang :D. Unsur komedi pada film ini memang menjadi nilai plus yang sangat besar. Ditambah lagi adanya adegan aksi yang unik dan jarang saya lihat pada film superhero lainnya.

Ant-Man and the Wasp

Ant-Man and the Wasp

Ant-Man and the Wasp

Ant-Man and the Wasp

Ant-Man and the Wasp

Ant-Man and the Wasp

Sayang Ant-Man and the Wasp (2018) banyak menggunakan teori kuantum yang kurang komunikatif. Para karakter protagonis nampak bisa dengan cepat memperoleh solusi melalui teori dan ilmu pengetahuan yang kurang jelas maksudnya. Kalau kita menonton Ant-Man and the Wasp (2018) tanpa mengikuti dan melihat semua hal terkait teori kuantum dan lorong kuantum, film ini sebenarnya terbilang mudah dipahami dan mampu berdiri sendiri, kita tidak perlu menonton film superhero Marvel lain untuk memahami film ini. Meskipun yaaah memang akan lebih seru kalau kita sudah menonton film MCU lainnya, terutama Ant-Man (2015), Captain America: Civil War (2016) dan Avengers Infinity War (2018).

Ant-Man and the Wasp

Jauh berbeda dengan film superhero Marvel terakhir yang saya tonton sebelum menonton film ini, karakter antagonis film ini kurang menggigit. Film ini terasa hampa tanpa adanya tokoh antagonis yang benar-benar “antagonis” dan kuat. Ghost dan Burch gagal mengisi ruang tersebut.

Film ini sebenarnya terbilang bagus kalau dilihat dari sisi aksi dan komedi. Tapi saya pribadi kurang suka dengan alur ceritanya. Selain itu Ant-Man dan Wasp bukanlah superhero yang menurut saya keren. Coba saja bayangkan apabila keduanya menjadi superhero Indonesia, pastilah namanya menjadi manusia semut dan si lalat bukan? :’D. Saya rasa Ant-Man and the Wasp (2018) lebih pantas untuk memperoleh nilai 3 dari skala maksimum 5 yang artinya “Lumayan” ;).

Sumber: https://marvel.com/antman